Akhirnya saya mendapatkan kekuatan untuk menulis bagian tergaje dalam fanfiksi ini u.u
Hint pairing bertebaran di mana-mana! ...yah, pairing yang saya suka, 'sih. Maaf, ya, bias saya jadi kelihatan. *dilempar bata*
Title: Saint Seiya: 17 Agustus Arc
Warnings: OOC, hint of slash, italic abuse, OCs
Disclaimer: karakternya punya Masami Kurumada dan Shiori Teshirogi, ide-idenya punya saya dan kumpulan fans Saint Seiya di Twitter.
.
.
.
Saint Seiya: 17 Agustus Arc
Chapter 4: Ini Lomba atau Apa?
.
.
.
Jangan tanya bagaimana caranya—tapi kini lapangan di Colloseum sudah digubah hingga bentuknya menyerupai lapangan sepak bola, lengkap dengan gawang dan garis-garis daerahnya. Penonton riuh, bukan hanya karena mereka berteriak member dukungan kepada tim favorit mereka masing-masing, tetapi mereka juga tertawa gembira menertawakan para pemain futsal yang sudah berganti dengan kostum mereka: daster.
Daster yang dikenakan oleh setiap peserta sengaja tidak memakai corak dan warna yang sama. Modelnya juga berbeda-beda—ada yang lengan panjang, lengan pendek. Dan beberapa daster ada yang robek-robek untuk menyesuaikan ukuran tubuh si pemakai (baca: duo Taurus).
Shion mengerling ke seberang lapangan, ke pos tim Hades. Ia bisa melihat Kagaho mengernyit tidak suka sambil memandang daster bercorak batik dengan warna merah darah yang diberikan Pandora. Inginnya tertawa, tapi ia bernasib kurang lebih sama. Daster berwarna keemasan dengan motif bunga-bunga di tepiannya.
Norak.
Dua tim dipanggil untuk memasuki lapangan. Wasit dalam lomba futsal ini, Seiya dan Shiryu, ikut masuk ke dalam lapangan dengan mengenakan kostum wasit dan membawa bola sepak yang sudah didesain khusus untuk tahan terhadap gempuran cosmo. Karena mereka yakin bahwa dalam lomba inipun para Saint, Marina, dan Spectra akan menggunakan teknik-teknik bertarung mereka agar dapat memenangkan pertandingan.
Dua tim yang akan bertanding pertama kali adalah tim Gold Saint dari abad 20 dan tim Spectra. Kakak beradik Aio, Aldebaran, Saga, dan Milo terpilih untuk mewakili kamerad-kameradnya, sementara tim lawan terdiri dari Violate, Aiacos, Rhadamantys, Aspros, dan—tentu saja—Kagaho.
Shion bisa melihat, meskipun Kagaho akan segera bertanding dalam hitungan detik, tapi pria itu masih sempat-sempatnya mengerling ke arah Dohko, yang tengah menonton dari pinggir lapangan bersama para pengawas lainnya, dan tersenyum ke arah sang Libra. Yang diberi senyuman juga membalas dengan cengiran ramah, membuat Shion makin keki.
"Shion, kenapa wajahmu tertekuk begitu?"
Menoleh ke samping, domba dengan bulu hijau itu baru menyadari bahwa sosok rupawan yang memiliki rasi sepasang ikan berenang itu kini berdiri di sebelahnya.
"Ah, tidak…"
"Akui saja. Kau sedang merasa jengkel karena suatu hal, 'kan? Kelihatan, lho."
Sang Aries menaikkan sebelah alisnya. Tumben-tumbennya Albafica menunjukkan rasa pedulinya secara bebas begini. Apa pria jelita ini baru terbentur sesuatu, ya?
"Kalau mau cerita, akan kudengarkan. Mumpung kau belum bertanding."
"Albafica..."
"Hm?"
"Kenapa kamu tiba-tiba jadi terbuka begini?"
Pria dengan surai kebiruan itu mengerjap. Ia diam sejenak, untuk kemudian menjawab, "Aku memang... bukan tipe yang mau membuka diri dalam situasi normal. Tapi karena kulihat kamu sedang ada masalah dan yang lain tidak menyadarinya, jadi kupikir..."
Kini giliran Shion yang mengerjap. Apa yang dia lihat di pipi sang Pisces itu rona merah...?
"Albafi—"
PRIIIIIIITTTTT—!
Perhatian kedua Gold Saint itu teralihkan ketika mendengar bunyi peluit panjang tanda pertandingan pertama selesai. Selama itukah mereka mengobrol, hingga tidak menyadari bahwa tim Spectra berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 4-1? Rasanya mereka hanya mengucapkan beberapa kalimat saja… atau mungkin karena selama mengobrol tadi mereka kebanyakan diam? Entahlah.
"Hei, Shion! Ayo ke lapangan!" Mereka mendengar suara Sisyphus memanggil sang Aries, maka Albafica mendorong punggung Shion agar lekas melangkah pergi.
"Dipanggil, tuh. Selamat berjuang, ya."
Shion tersenyum tipis dan mengangguk, sebelum melangkah pergi meninggalkan Albafica, mengikuti teman-teman satu timnya—Sisyphus, El Cid, Hasgard, dan Defteros—memasuki lapangan untuk melawan tim Marina—Kanon, Baian, Io, Krishna, dan Isaac. Peluit kembali dibunyikan untuk menandakan dimulainya pertandingan kedua, dan sorak sorai penonton terus membahana.
Mari kita lihat kondisi di tim Hades.
Sementara kamerad-kameradnya menikmati waktu istirahat sembari menunggu giliran mereka untuk kembali bertanding di babak final, Kagaho malah asyik menonton pertandingan antara tim Gold Saint abad 18 dan tim Marina. Lumayan alot, tapi sang Bennu tahu bahwa pertandingan itu akan dimenangkan oleh Shion dan kawan-kawannya.
"Kau sepertinya sedang senang, Kagaho."
Kagaho melirik ke sebelahnya. Junjungannya juga asyik menonton pertandingan itu. Ia tak mengalihkan pandangannya dari gerakan pemain-pemain di lapangan ketika ia melanjutkan, "Seperti sedang menunggu-nunggu saat untuk bertarung dengan seseorang."
"… Anda benar, Hades-sama."
"Dengan si domba?"
Dewa-nya ini bisa membaca pikirannya, ya? Ia tidak perlu repot-repot menjawab, 'sih, jadi tidak masalah.
"Aku tidak masalah jika kau ingin bertaruh dengan siapapun," sang Dewa membetulkan posisi duduknya dan menyeringai tipis, "Tapi kau tahu apa yang akan kulakukan jika kau sampai kalah dengan tidak terhormat melawan anak buah keponakanku itu, Kagaho?"
Kagaho tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada sosok Raja Dunia Bawah Tanah di sampingnya, menanti penjelasan dari Hades. Namun penjelasan itu tidak didapatkannya, karena peluit tanda pertandingan kedua telah selesai berbunyi nyaring. Wasit menyatakan tim Gold Saint dari abad 18 sebagai pemenang.
"Jadi, aku akan melawan Defteros lagi, huh..." Aspros mendengus jengkel. Kenapa, 'sih, Gemini itu ditakdirkan untuk bertarung satu sama lain?
"Jangan sampai kalian kalah dan mengotori nama baik kita," Pandora member wejangan kepada para pemain futsal tim Spectra.
"Tidak usah khawatir, Pandora-sama," Rhadamantys mengangguk mantap.
Sementara di kubu Gold Saint dari abad 18, para pemain tidak mendapatkan wejangan apa-apa dari siapapun—bahkan dari Sasha sekalipun. Setelah mereka mengelap keringat dan meneguk air minum untuk melepas dahaga seusai pertandingan, dewi mereka yang mulia itu menyunggingkan senyum terbaiknya seraya berkata,
"Berjuang dan nikmatilah pertandingan berikutnya juga."
Kalimat sederhana itu sudah cukup untuk membakar semangat mereka.
Dua tim finalis memasuki lapangan setelah waktu istirahat habis. Bahkan orang awam sekalipun bisa melihat aura semangat yang menguar dari tubuh masing-masing peserta. Seiya dan Shiryu yang menjadi wasit sampai takjub dibuatnya.
Tidak butuh waktu lama setelah kick off bagi tim Spectre dan Kagaho langsung menggiring bola hingga ke depan gawang. Begitu cepatnya sampai-sampai semuanya menganga kaget. Tapi yang berdiri menghadang di depannya adalah Hasgard, bekas lawannya pada Holy War di abad ke-18.
"Jebol pertahananku kalau kau bisa, Kagaho," ujar sang banteng, menyeringai penuh percaya diri sementara tubuh besarnya menghalangi pandangan Kagaho akan gawang.
Sang Bennu mendecak ketika dirasakannya Sisyphus dan El Cid bersamaan mencoba merebut bola di antara kakinya. Kagaho mengelak menggunakan clive turn ketika El Cid ingin merebut bola dari arah samping dan melompat untuk menghindari tackle Sisyphus. Selagi masih berada di udara, Kagaho menaikkan cosmo-nya dan melepaskan tembakan. Percaya atau tidak, bola yang ditendang olehnya terbakar cosmo hingga menyerupai teknik Corona Blast miliknya.
Wajah Hasgard nyaris saja terkena Corona Blast Shoot (?) itu dengan telak, jika saja Shion tidak mengaktifkan Crystal Wall miliknya. Bola berapi itu terbentu dengan dinding transparan dan api yang menyelimutinya padam seketika. Ajaibnya, bola tersebut tidak meledak atau apa, namun tetap dalam keadaan normal (karena sudah dibuat khusus untuk tahan dengan gempuran cosmos).
Bola yang terjatuh ke tanah itu segera di tangkap oleh Hasgard dan dilemparkannya ke depan, yang langsung disongsong oleh Defteros di garis depan. Sementara Kagaho tampak tak terpengaruh dengan sorak sorai penonton yang menyemangati perebutan bola antara dua Gemini dan tetap diam di posisi ia melancarkan teknik menembak yang ampuh tadi. Tatapannya terarah pada Shion, yang memang ditempatkan di lini pertahanan untuk membantu Hasgard. Sang domba sendiri balas menatap sambil tersenyum menantang.
Sepertinya pertandingan ini akan berlangsung alot.
…Dan karena penulis tidak mampu mendeskripsikan adegan pertarungan di lapangan bola antara pemain-pemain futsal berbadan kekar yang mengenakan daster ala ibu-ibu rumah tangga, mari kita loncat ke akhir pertandingan.
PRIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTT—!
Pertandingan final itu selesai dengan skor 1-0, kemenangan untuk tim Gold Saint. Kedua tim bermain dengan mempertaruhkan seluruh jiwa raga dan kebanggaan diri, hingga menghasilkan bola sepak yang terus menerus dioper dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Sangat jarang bola itu bisa mencapai mulut gawang.
Adalah Sisyphus yang berhasil mencetak satu angka, yang membawa kemenangan bagi timnya. Dengan memanfaatkan celah yang diberikan oleh Violate selaku penjaga gawang dan juga ketajaman matanya dalam hal membidik, bola yang dilapisi oleh cosmos Sisyphus meluncur masuk ke dalam gawang beberapa detik sebelum peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan. Sungguh kemenangan yang manis.
Sementara pertandingan untuk menentukan juara ketiga antara tim Gold Saint abad 20 dan tim Marina berlangsung, Dohko menghampiri Kagaho yang sudah keluar dari lapangan.
"Kerja bagus," cengirnya bangga. Tapi ketika dilihatnya bahwa Kagaho tidak tampak senang dengan pujiannya, ia menambahkan, "Jangan bersedih meskipun kau kalah, Kagaho. Lagipula… kalau kau memang menginginkan sesuatu dariku, meskipun kau kalah, akan kukabulkan, 'kok."
Iris hitam sang spectre berkilat penuh harapan, dan meski ia tak mengatakannya, Dohko mengerti tatapan itu berarti 'benarkah?'. Sang Libra mengangguk santai, menganggap bahwa apa yang diinginkan oleh Kagaho mudah untuk dipenuhi. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Kagaho akan menarik lengannya agar mendekat, dan mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Dohko.
Speechless.
Menjauhkan bibirnya dari milik Dohko, Kagaho menyeringai tipis. Bisa dirasakannya hangat nafas sang Bennu ketika membisikkan kata "terima kasih" tepat di telinganya, bahkan setelah Kagaho berjalan menjauh, kembali kepada rekan-rekannya.
"Dohko!"
Teriakan Shion membuat Dohko tersadar dari state of shock. Domba hijau itu melihat semua yang dilakukan Kagaho, dan hal itu membuatnya naik pitam. Inginnya ia menghajar Kagaho saat itu juga, tapi mengetahui bahwa jika ia melakukannya hal itu hanya akan membuat Dewi-nya kerepotan, maka ia menahan diri dan menyeret Dohko menjauh dari tempat itu.
"Apa kubilang: kau tidak usah dekat-dekat dengan dia!"
"Tapi, Shion—"
"—tidak ada tapi-tapian! Kau tidak boleh mendekatinya lagi, Dohko!"
"Kenapa?"
"Karena aku cemburu, tentunya!"
"Apa?"
Baru setelah berjalan beberapa langkah, Shion sadar apa yang telah diucapkannya. Pipinya kontan bersemu kemerahan, dan karena salah tingkah, ia segera melepaskan pegangannya pada lengan Dohko dan berjalan menjauh.
"Lu-lupakan saja!"
"Hah? Kenapa tiba-tiba minta di—"
"Kubilang, lupakan!"
Dohko tidak terima, tentu saja. Maka dari itu, ia terus mengejar Shion untuk meminta penjelasan, sementara sang Aries terus berjalan menjauh dengan langkah cepat, berusaha kabur dari serbuah pertanyaan sang Libra. Sasha dan juga para Gold Saint-nya menyaksikan peristiwa tersebut, dan tiba-tiba saja sang Dewi Perang kembali berceletuk polos.
"Ternyata Shion dan Bennu Kagaho menyukai Dohko, ya?"
Ucapan Sasha itu diikuti sorak sorai dan tepuk tangan riuh dari pendukung tim Gold Saint abad 20, yang akhirnya berhasil menjadi juara ketiga dalam lomba futsal tersebut.
.
.
.
"Lomba keenam: merias dengan mata tertutup! Di sini, tiap tim harus menyediakan 4 orang peserta untuk ditutupi matanya sementara mereka merias wajah pemimpin mereka!"
"APA?"
Seruan terkejut itu datangnya dari Hades dan Poseidon. Mereka tidak menyangka pada akhirnya mereka harus turut serta dalam rentetan perlombaan yang konyol ini. Apalagi, mereka harus didandani? Yang benar saja!
Zeus menyeringai puas melihat ekspresi horor di wajah kedua kakaknya. "Kalau kalian mau protes, silahkan saja. Tapi kalian akan didiskualifikasi dan kehilangan kesempatan untuk menambah poin," jelasnya kalem.
Saat itu juga, Hades dan Poseidon ingin menikam adik bungsu mereka itu dengan senjata mereka masing-masing.
Tapi apa boleh buat. Dua bersaudara itu memutuskan untuk tidak mundur dari lomba satu ini. Poseidon pasrah karena ia harus mendapatkan setidaknya 2 poin agar tidak menjadi tim yang nilainya paling sedikit. Hades terus maju karena ia memang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan poin lagi. Mereka rela mengorbankan wajah mereka untuk dirias oleh anak buah mereka.
Setelah semua persiapan selesai, Shaina dan Marin selaku pengawas untuk lomba kali ini menggiring keempat tim ke dalam lapangan yang sudah kembali seperti sedia kala. Pemimpin dari masing-masing tim duduk di kursi yang telah ditentukan. Anggota tim mereka diperintahkan untuk berdiri membentuk 4 baris di depan para pemimpin.
"Jadi nanti secara bergiliran kalian akan maju dan mengaplikasikan alat kosmetik yang kalian pegang kepada wajah pemimpin kalian yang sedang duduk ini," Shaina menjelaskan. "Tentu saja mata kalian ditutup, dan kalian dituntut untuk melakukannya dengan baik dan benar!"
Beberapa peserta menelan ludah karena mereka tidak terbiasa menyentuh peralatan make-up, sementara beberapa yang lain tetap tenang. Marin membagikan peralatan berdandan—lipstik, bedak, maskara, dan blush on—pada tiap peserta, masing-masing satu jenis saja. Jika ingin diruntut, maka seperti ini:
Albafica, Aphrodite, Pandora, dan Seraphina memegang lipstik.
Cheshire, Dégel, Shaka, dan Tethys mengurus soal bedak.
Mu, Shion, Sorrento, dan Thanatos bertugas memakaikan maskara.
Asmita, Hypnos, Orphee, dan Saga yang akan menambahkan blush on.
Sekali lihat juga bisa dimengerti bahwa lomba yang satu ini akan mengundang banyak gelak tawa, baik dari para penonton di tribun, para panitia penyelenggara, maupun rekan satu tim mereka sendiri. Keempat dewa dan dewi yang didandani hanya bisa pasrah.
Meski mereka akan protes jika merasa ada yang salah.
"Tethys! Jangan terlalu banyak memoles bedaknya!"
"… A-ah… pelan-pelan memakaikan maskaranya, Thanatos…!"
"Asmita, saya rasa blush on-nya sudah cukup…"
"Hati-hati memakaikan lipstick itu padaku, Pandora."
"… Aphrodite, sepertinya lipstiknya berleb—uf, Shaka, tolong jangan tiba-tiba membedaki saya."
"Sudah cukup, Orp—fuh! Bah! Orphee, sudah cukup!"
Hingga akhirnya pengawas lomba menyatakan waktu untuk mendandani sudah habis.
Enam belas peserta dari keempat tim membuka penutup mata mereka dengan hati-hati dan perasaan was was. Bagaimana hasil kerja mereka?
Mereka terdiam begitu pandangan mereka mendarat pada empat sosok yang masih duduk pada tempat mereka masing-masing.
Hening selama beberapa saat, hingga…
"Pft—"
"Jangan tertawa, Sorrento!" Poseidon langsung menghardik anak buahnya itu. Ia tidak tahu bahwa wajahnya tercoreng lipstick di sana-sini, blush on meronakan bagian yang salah, dan maskara membuat segalanya lebih berantakan.
"Uhm…" Sasha menatap anak buahnya yang memiliki berbagai macam variasi mimic—ada yang menahan tawa, ada yang malu, ada yang merasa bersalah, dan ada yang datar-datar saja. "Bagaimana?"
"Anda ingin jawaban jujur, Athena-sama?"
"Tentu saja, Dégel."
"… penampilan Anda saat ini…cukup berantakan karena ulah kami. Mohon maaf yang sebesar-besarnya."
"… Ah. Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mau jujur."
Sasha ingin segera kabur dari lapangan dan menyambar handuk untuk membersihkan wajahnya.
"Lihat apa yang kau lakukan, Saga," Aphrodite mendesis jengkel. "Kau terlalu banyak memakaikan blush on! Jadinya menor begitu, 'kan?"
Saga menelan ludah, benar-benar merasa bersalah sehingga akhirnya ia membungkuk dalam-dalam di hadapan Dewi-nya. "Maafkan saya, Athena-sama!"
Saori tertawa kecil. "Tidak apa…" Ia melirik riasan-riasan lawannya. Sasha memang yang paling berantakan, dan Poseidon lumayan bagus—meski wajahnya yang memakai maskara jadi tampak aneh. Namun yang membuatnya paling tercengang adalah paras Hades setelah selesai diberi make-up.
"Hades-sama…" Pandora menahan napas.
"… Jangan katakana kalau riasanku lebih parah daripada riasan keponakanku yang dari abad ke-18," nada suara Hades mengancam.
Thanatos buru-buru menggeleng. "Justru sebaliknya. Dandanan Anda paling rapi sehingga Anda jadi…"
"Jadi...?"
"Jadi kelihatan cantik," Hypnos mengakhiri kalimat adiknya yang terputus.
Hades terdiam, tapi matanya membelalak lebar mendengar ucapan sang Dewa Tidur.
Pada akhirnya keempat pemimpin itu diberikan masing-masing satu cermin agar dapat melihat wajah mereka sendiri-sendiri. Selama beberapa saat, tidak ada reaksi apa-apa dari mereka hingga…
Cermin yang dipegang Poseidon pecah.
Sasha dan Saori menertawakan refleksi mereka masing-masing.
Hanya Hades yang diam terpaku karena wajahnya benar-benar dijadikan secantik perempuan.
"Ahem."
Sebelum Poseidon bisa menarik trisulanya dan mencabik-cabik anak buahnya, Shaina, dengan menggunakan toa milik regu pengawas, menginterupsi. "Kami sudah selesai mendiskusikan siapa yang memenangkan lomba ini. Harap dengarkan baik-baik."
Spontan saja semua mata tertuju kepada sang Saint Opiuchus. Shaina dengan kalem mulai membaca kertas berisi hasil keputusan dewan pengawas. "Pemenang ketiga adalah tim Gold Saint abad 20 yang dipimpin Athena Saori. Pemenang kedua adalah tim Gold Saint abad 18 yang dipimpin Athena Sasha, dan pemenang pertama adalah tim Spectra yang dipimpin oleh Hades."
Gaduh sorak sorai para penonton yang bergembira mengakui kemenangan jagoan mereka masing-masing. Semuanya tampak senang, kecuali tim Marina. Pemimpinnya, Poseidon, geram bukan main dan memutuskan untuk langsung kembali ke posnya, diikuti oleh anak buahnya. Begitu tiba di sana, tanpa perlu melihat sekeliling lagi ia menyambar handuk kecil yang disodorkan seseorang dan menggunakannya untuk melap wajahnya.
"Tidak usah marah-marah begitu, 'kan, Poseidon?"
Gerakan tangannya yang mengusap-usap wajahnya agar bersih dari segala jenis kosmetik terhenti seketika begitu mendengar suara yang familiar itu. Mendongak dengan ragu-ragu, biru safirnya membelalak lebar ketika dugaannya ternyata tepat.
"Amphitrite, apa yang kau lakukan di sini?"
Yang dipanggil Amphitrite hanya tersenyum. "Aku, 'kan, termasuk panitia penyelenggara juga. Tidak tahu, ya?"
Poseidon diam. Malu karena ternyata sedaritadi istrinya melihatnya didandani dengan konyol oleh anak buahnya. Tapi kemudian ia teringat sesuatu.
"Kalau kau di sini, apa itu artinya 'dia' juga di sini?"
"Kalau definisi 'dia' milikmu sama dengan milikku, maka, ya, dia juga datang," balas sang dewi lautan dengan tenang.
Sesungguhnya, Poseidon tidak perlu bertanya macam-macam, karena jika ia peduli untuk melihat ke arah pos tim lain, maka ia akan menemukan sosok seorang dewi berada di antara tim Spectra. Bukan, bukan Pandora, melainkan istri dari Hades, yang hidupnya sudah seperti elektron yang berpindah-pindah dari kutub yang satu ke kutub yang lainnya dalam teori polarisasi.
"Persephone...?"
Ya, sang Ratu Dunia Bawah Tanah, Persephone, kini sudah berada di dekat suaminya. Ia tersenyum, bukan karena senang bisa melihat Hades lagi, tapi karena mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa saat itu juga ketika melihat wajah Hades dari dekat.
Tapi Hades bisa melihat bahwa istrinya itu ingin sekali tertawa.
"Tertawalah kalau kau mau," ia menghela napas pendek dan hendak mengambil handuk yang disodorkan oleh Rhadamantys ketika Persephone memeluknya sambil tertawa lepas. "...Kenapa tertawanya harus sambil memelukku?"
Suara tawa sang dewi memelan dan ia mendongak melihat wajah suaminya sambil tersenyum lebar. "Hm? Memangnya aku tidak boleh memelukmu? Sekalian melepas rindu."
Hades terdiam selama beberapa saat setelah mendengar perkataan Persephone, yang diucapkan dengan nada tak bersalah, sebelum pada akhirnya menundukkan kepalanya agar poni panjangnya menutupi wajahnya, yang kini berubah kemerahan karena tersipu malu.
"Lakukan sesukamu…"
.
.
.
Skor sementara:
Sampai sekarang tim Hades sukses mempertahankan posisinya dengan 15 poin. Tim Gold Saint dari abad ke-18 unggul satu angka dari tim Gold Saint dari abad ke-20, yaitu dengan perolehan nilai 8 poin dan 7 poin untuk masing-masing tim. Dan tentunya, tim Poseidon kalem menjaga 3 poin yang mereka miliki.
.
.
.
Bersambung...
