Sempat webe mengerjakan chapter ini karena anak-anak fans Saint Seiya di Twitter dan YM bergalau ria... *jedukin kepala ke bantal*

Title: Saint Seiya: 17 Agustus Arc

Warnings: OOC, hint of slash, italic abuse

Disclaimer: karakternya punya Masami Kurumada dan Shiori Teshirogi, ide-idenya punya saya dan kumpulan fans Saint Seiya di Twitter.

.

.

.

Saint Seiya: 17 Agustus Arc

Chapter 5: Dan Mereka Masih Berlomba

.

.

.

Hari yang melelahkan ini hampir berakhir. Tinggal 4 lomba, setelah itu besoknya akan ada acara penutupan sekaligus hari hukuman bagi tim yang kalah. Bisa dilihat bahwa Poseidon mulai stress karena timnya yang menjadi tim paling sedikit mendapatkan poin, sehingga sang Dewa Lautan member wejangan secara mendalam kepada anak buahnya.

"Dengan tiga lomba terakhir ini, kita setidaknya harus bisa melampaui salah satu dari dua tim Gold Saint!"

"Ya!"

"Jangan sampai kita mendapatkan juara terakhir!"

"Ya!"

"Kalau kita sampai kalah dan mendapatkan hukuman, sepulangnya kita ke Atlantis, kalian akan kuberi hukuman…"

Semuanya menelan ludah, cemas akan hukuman macam apa yang akan diberikan Poseidon.

"…mengepel seluruh reruntuhan Atlantis sampai kering!"

Sepertinya junjungan para Marina yang satu itu sudah terlalu stress sampai-sampai memberikan ancaman hukuman yang tidak masuk akal seperti itu.

.

.

.

"Aku… nggak jadi ikutan, deh."

Deathmask mengernyit heran memandang sahabatnya yang kadang-kadang suka kemayu itu. "Kenapa tiba-tiba jadi ketakutan begitu? Kamu duluan, lho, yang ngajakin untuk ikut balap bakiak ini."

"Iya, tapi…"

"Tapi?"

"TAPI AKU NGGAK TAHU KALAU BAKIAKNYA DILUMURIN GETAAAAAAAAAAH!"

Camus dan Shura yang menjadi rekan satu tim mereka dalam lomba kali ini hanya bisa menghela napas. Ampun, deh. Kenapa, 'sih, Saga membuat mereka berempat mengikuti lomba ini?

Ya, lomba ke-7 hari itu adalah lomba balap dengan menggunakan bakiak yang sudah dilumuri getah. Pada awalnya, semua mengira bahwa lomba itu hanyalah lomba dengan menggunakan bakiak biasa. Apa daya Hermes membisikkan rencana iseng kepada Zeus dan dalam sekejap cara berlomba dirubah. Dasar Olympians jahil.

Namun tentunya bukan hanya tim Gold Saint abad 18 yang memiliki seorang anggota pengeluh.

"Manigoldo, dengar…"

"Tidak."

"Mani—"

"Aku tidak mau melakukan lomba konyol ini bersama kalian."

"Manigoldo, berhenti bersikap keras kepala!" El Cid mulai frustasi berusaha meyakinkan si kepiting.

"Hal seperti ini tidak penting," Manigoldo berkilah, "Baiknya kau minta saja Shion atau siapa untuk menggantikanku!"

Sisyphus, yang juga berusaha membujuk Manigoldo, menambahkan, "Kalau kau tidak ikut lomba ini, kau akan membuat Pope Sage kesal dan menghukummu, kau tahu, karena lari dari tugas."

"Che, seperti pak tua itu bisa membuatku—"

"Kau mau membuat ayahmu itu sedih?"

Manigoldo terdiam. Ia mendelik marah kepada Sisyphus, yang tersenyum puas. Sudah jadi rahasia umum bahwa, meskipun sering membantah dan segala macamnya, Manigoldo menganggap Sage sebagai ayahnya sendiri. Sama seperti Albafica kepada Lugonis, maupun Shion kepada Hakurei. Dan rekan-rekan mereka tak jarang memanfaatkan hal itu untuk membuat ketiga orang tersebut menyerah jika mereka bersikap keras kepala.

Sementara tim Gold Saint menangani perusuh mereka masing-masing, tim Poseidon dan tim Hades mencoba memperkuat rasa kerja sama di antara mereka. Pasalnya, orang yang disertakan dalam lomba kali ini agak…abstrak. Apa jadinya ketika Unity dikumpulkan dengan Io, Orphee, dan Sorrento? Atau Aspros, Rhadamantys, Lune, dan Cheshire yang diperintahkan untuk berkerja sama?

"Kenapa aku harus bekerja sama dengan kalian?" Aspros mengeluh. Ya, dia ingin kembali di antara sahabat-sahabatnya sesama Gold Saint dari abad ke-18. Apa daya begitu tiba di era ini, ia diperintahkan dewinya untuk menjadi bagian dari tim Hades.

"Kalau tidak mau kau bebas mengundurkan diri," jawab Lune kalem.

"Dan disiksa oleh Pandora-sama!" Cheshire menambahkan.

"Hmph. Aku tidak takut dengan perempuan itu," mantan Saint Gemini itu melirik ke arah Pandora dengan tatapan dan seringai meremehkan.

"Kalau dia balik menyiksa adikmu?"

Aspros terdiam. Ia berbalik dan mendelik tajam ke arah Cheshire, membuat sang Spectre kabur ke belakang Rhadamantys, berlindung dari aura membunuh yang dikeluarkan oleh Aspros. Lune yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala sementara Rhadamantys tidak bereaksi apa-apa.

"Hei, bisa coba akur, tidak? Lihat, tuh, tim Marina tenang sekali," ucap Lune, menunjuk ke kelompok yang dimaksud.

Yeah, ternyata tim Marina adalah tim paling anteng di antara keempat tim yang ada. Unity dan Io bersama-sama mendengarkan permainan dua kamerad mereka, dan setelah itu mengobrol satu sama lain untuk mempererat tali persaudaran. Asyik, ya?

Namun segala aktivitas mereka segera terhenti dan fokus mereka tertuju kepada dua pengawas lomba kali ini—Chameleon Juné dan Phoenix Ikki. Mereka menjelaskan peraturan lomba secara singkat—yang kurang lebih sama dengan peraturan pada lomba balap karung—kemudian memerintahkan para peserta untuk segera mengenakan bakiak yang sudah disediakan. Aphrodite mau tidak mau harus menurut, karena Shura mengancam akan memotong semua mawar di kebunnya seusai acara ini.

"Bersedia… siap… yak!"

Aba-aba telah diucapkan, dan keempat tim mulai berjuang untuk menyesuaikan irama langkah kaki mereka dengan rekan satu tim mereka selagi mengabaikan rasa lengket dan licin pada telapak kaki mereka.

Baru beberapa langkah dan tim Gold Saint abad 18 dan tim Spectra sudah jatuh terjerembab ke depan, membuat mereka saling tumpuk menumpuk seperti bukit manusia.

"El Cid, cepat bangun! Kau itu berat!"

"Aku tahu, Manigoldo. Tidak usah berteriak!"

"Gah! Kenapa juga harus aku yang paling depan?"

"Jangan banyak protes, Aspros. Cheshire, Lune, cepat bangun."

"S-siap, Rhadamantys-sama!"

Sementara 2 tim lainnya maju dengan mulus…oh, tidak juga, 'sih. Beberapa langkah setelah dua tim sebelumnya terjatuh, tim Gold Saint abad 20 juga ikut terjatuh karena Aphrodite terpeleset saat akan menghentakkan kakinya bersamaan dengan rekan-rekannya, membuat mereka terjatuh ke samping.

"Aduuuuh… makanya aku nggak mau main yang kayak gini…"

"Berisik, ikan! Cepat bangun!"

Dan karena sesuai peraturan: tim yang terjatuh harus mengulang dari awal; maka tim Gold Saint abad 20 berada di posisi terakhir, sementara tim Gold Saint abad 18 dan tim Spectra mulai menyusul tim Marina yang jauh memimpin di depan.

"Kiri, kanan, kiri, kanan…" Unity yang berada paling depan menggumamkan aba-aba bagi rekan-rekannya. Mereka bisa melihat bahwa garis akhir sudah di depan mata.

Penonton bersorak makin riuh menyemangati sementara keempat tim saling kejar mengejar. Beberapa kali ada yang terjatuh sehingga terpaksa mengulang dari awal, tapi pada akhirnya yang keluar menjadi juara adalah…

"MENAANGG!" Io berseru gembira setelah akhirnya ia dan teman-temannya mencapai garis finish. Mereka kontan berpelukan layaknya Telletubbies.

Setelah itu, yang menyusul berikutnya adalah tim Gold Saint abad 20. Tim Gold Saint abad 18 dan tim Spectra gugur karena mereka jatuh tiga kali, tak mampu berjuang hingga akhir. Beruntung bagi mereka karena junjungan mereka masing-masing ternyata memaklumi kekalahan ini. Poseidon sendiri bersorak kegirangan karena akhirnya timnya bisa mendapatkan 3 poin lagi.

"Tapi belum cukup untuk melampaui tim Gold Saint, 'sih..." Seraphina menggumam pelan dari belakang, tak terdengar oleh Julian.

.

.

.

Dan akhirnya mereka tiba di lomba kedelapan: tarik tambang. Bisa dilihat bahwa keempat tim sangat bersemangat. Mereka mengenakan cloth/scale/surplice mereka masing-masing, karena kita tahu bahwa yang terpenting dalam tarik tambang adalah kekuatan. Bahkan keempat dewa yang memimpin tim ikut memakai God Cloth mereka. Terasa sekali semangat pertarungannya.

Yang pertama kali akan bertanding adalah tim Gold Saint abad 18 melawan tim Marina.

Sebuah tali tambang khusus yang disediakan oleh panitia penyelenggara telah dibentangkan agar bisa diraih kedua kubu. Di tengah-tengah terdapat sebuah kolam lumpur—jangan tanyakan bagaimana cara mereka meletakkan kolam lumpur itu di sana dalam selang waktu yang singkat—sehingga jika salah satu tim kalah kuat tenaga tarikannya, maka tim itu akan terseret masuk ke dalam kubangan lumpur.

Sasha, meskipun telah dilarang, mengambil posisi paling depan pada barisannya. Ia ngotot, karena ia pemimpin, maka ia yang akan menarik di bagian paling depan. Anak buahnya tidak bisa protes, dan pada akhirnya berjejer sesuai keinginan di belakang sang Dewi.

Julian melakukan hal yang sama, hanya saja Seraphina berada tepat di belakangnya. "Karena kami berdua sama-sama Poseidon," ia beralasan. Lagi, para Marina tidak bisa menolak permintaan junjungan mereka dan berbaris di belakang dengan teratur.

Kedua tim siap memegang tali, berhadap-hadapan, dan ketika peluit tanda agar mereka mulai menarik tambang dikumandangkan, 24 cosmo kuat terbakar dengan kekuatan penuh. Yang melihat mereka hanya bisa terpukau melihat berbagai macam warna aura menerangi lapangan Colloseum, sementara para peserta yang tengah bertanding mati-matian berusaha menyeret lawan mereka ke dalam kubangan lumpur.

"Namamu... Julian Solo?" Sasha berceletuk, sementara ia berjuang keras menarik tali tambang.

"Benar. Dan namamu Sasha," balas Julian, setengah acuh tak acuh, masih berkonsentrasi pada tali dalam genggamannya.

"Ya. Julian Solo, maafkan aku, tapi kau akan kalah."

"Ap—"

Athena dari abad ke-18 itu membakar cosmo-nya hingga mencapai indra ke-7. Para Gold Saint-nya yang melihat hal tersebut, ikut menyalakan aura mereka lebih kuat lagi. Dan ketika Sasha berteriak lantang, "Tarik!", maka tak terelakkan lagi bahwa tim Marina tertarik jatuh ke dalam kolam lumpur di depan mereka.

Sasha tersenyum puas seraya berhenti mengalirkan cosmo-nya. "Karena kerja sama di antara kami lebih kuat daripada kerja sama di antara timmu."

.

.

.

Setelahnya adalah pertandingan antara tim Gold Saint abad ke-20 dengan tim Spectra. Sama seperti tadi, kedua pemimpin regu memilih untuk berada di posisi paling depan barisan. Dan sama seperti tadi juga, cosmo mereka terbakar dengan hebatnya begitu peluit dibunyikan. Tarik menarik tambang tak terelakkan. Bergantian kedua tim nyaris terseret masuk ke dalam lumpur. Ya, hanya nyaris.

"Kau keras kepala seperti biasanya, keponakan," tutur Hades, membakar cosmo-nya lebih dan lebih.

"Bisa kukatakan hal yang sama tentangmu, Paman," balas Saori sembari tersenyum menantang.

Aura pertarungan di antara kedua Dewa berkobar semakin hebat, menyebabkan semangat anak buah mereka masing-masing ikut tersulut. Kobaran cosmo yang tak kalah hebat dari pertandingan sebelumnya dipertontonkan, membuat mereka yang menyaksikannya kembali terpukau.

"Sepertinya kekuatan mereka seri, eh?" Sage berkomentar dari pinggir lapangan.

Dohko, yang berdiri di sebelahnya, tertawa sopan. "Begitulah. Tapi…"

"Tapi?"

"Saya rasa, sama seperti tim Poseidon tadi, rasa kebersamaan dan persaudaraan mereka tidak begitu kuat."

"Oh?"

Baru saja sebentar mereka berbincang-bicang, peluit kembali dibunyikan bersamaan dengan bunyi sesuatu masuk ke dalam lumpur. Begitu menoleh, Dohko dan Sage bisa melihat bahwa akhirnya Saori dan timnya berhasil menyeret Hades dan anak buahnya ke dalam kubangan tanah cair itu. Gadis itu bersorak senang bersama dengan Gold Saint yang ia pimpin.

"Nah," Dohko tersenyum puas melihat wajah Dewa Kegelapan yang berlumuran lumpur di tengah lapangan sana, "Apa kubilang?"

Sage hanya tertawa.

.

.

.

Ada jeda beberapa menit yang diberikan bagi keempat tim untuk beristirahat dan memulihkan cosmo mereka sementara tim pengawas mengecek kondisi tambang. Di saat seperti ini mereka mulai memikirkan ide licik karena mereka tahu kekuatan lawan mereka imbang dengan kekuatan mereka sendiri, dan mereka sangat ingin menang.

Misalnya diskusi di antara tim Gold Saint abad ke-20…

"Tapi bukankah kita tidak boleh memakai teknik yang bisa melukai lawan?"

"Ya, pakai yang tidak melukai lawan, dong, Saga bodoh."

"Bilang apa, kamu, Kanon?"

"Ng… gak, nggak bilang apa-apa, 'kok."

"Kamu ngapain di sini? Bukannya kamu anggota tim Poseidon, ya?"

"Terus? Aku, 'kan, masih Saint Athena juga!"

Aiolos dan Shura terpaksa turun tangan untuk melerai si kembar.

Sementara situasi di tim Marina...

"Mau pakai cara licik, milord?"

"Ya. Kalian tentu tahu, kalau kita tidak memenangkan pertandingan yang ini, berarti harus memenangkan pertandingan berikutnya, yaitu joget berpasangan."

"Anda yakin sekali saya dan adik saya akan kalah di lomba itu, Lord Julian."

"Maaf, Lady Seraphina. Tapi sebuah kekuatan yang tidak bisa kau bayangkan sepertinya akan berperan banyak dalam pertandingan itu."

"Dan kekuatan macam apa yang kau maksud?"

"Fangirl's power of bias."

Seraphina hanya bisa mengerjap bingung. Unity yang berada di sebelahnya, menepuk bahu sang kakak dan menggeleng, meminta agar wanita berparas rupawan itu mengabaikan ucapan Julian yang mulai melantur kemana-mana.

Dan kondisi di tim Spectra

"Kalian mengerti tugas kalian masing-masing?"

Sebelas orang anak buah Hades mengangguk pasti, paham dengan perintah yang diberikan oleh junjungan mereka. Sang Dewa Underworld tersenyum puas.

"Tapi, milord, apakah benar tidak apa-apa? Kita—"

"—tidak boleh melukai peserta lain, ya. Tapi apa yang akan kita lakukan tidak akan melukai mereka."

"Dan seandainya kita dinyatakan curang karena rencana ini?"

"Tidak ada ruginya. Poin yang kita raih, toh, melebihi grup lain."

"Hm..."

"Kau tidak mempercayaiku, Pandora?"

"B-bukan begitu, milord! Saya percaya pada Anda sepenuhnya!"

Hades menyeringai lebar. "Baguslah," ia menoleh ke arah Poseidon yang masih menyusun siasat dengan para Marina-nya. "Kita buat adikku yang satu itu menyesal telah setuju untuk mengikuti rencana Zeus ini."

Terakhir, di pos Gold Saint abad ke-18…

"…"

"…"

"Sasha-sama?"

"Ya, Sisyphus?"

"Kita… tidak menyusun strategi apa-apa?"

"Tidak. Untuk apa? Sebaiknya kita gunakan waktu ini untuk mengistirahatkan diri."

"Itu benar, Paman! Ayo kita tidur-tiduran sebentar!"

Sisyphus memandang keponakannya sejenak sebelum ber-facepalm ria melihat sang singa muda sudah asyik tidur-tiduran di sebelah Kardia, yang telah seenaknya menjadikan paha Dégel sebagai bantal tidur. Sepertinya mereka memang tidak ada niatan untuk bertindak licik di sesi final nanti.

.

.

.

Bagian final akhirnya dimulai. Kedua tim Gold Saint memegangi sisi tambang masing-masing dengan erat, tak sabar menunggu peluit ditiup. Ketika akhirnya bunyi nyaring peluit diperdengarkan, dimulailah pertandingan final itu.

Yang paling pertama beraksi mencoba menjatuhkan musuh adalah Mu. Domba berbulu sewarna lembayung itu menggunakan kemampuan telekinesisnya untuk membuat para Gold Saint dari abad ke-18 melepaskan pegangan mereka pada tali tambang dan melemparkan mereka menjauh. Tapi tentu saja usaha ini digagalkan oleh Shion yang jauh lebih berpengalaman dari Mu dan sukses mematahkan serangan tersebut.

Berikutnya, Saga mencoba memindahkan leluhur-leluhur mereka itu dengan teknik Another Dimension. Usahanya tidak terlalu gagal. Ia berhasil memindahkan Regulus, El Cid, Sisyphus, dan Albafica ke tempat lain, membuat tim Gold Saint abad 20 bisa sedikit menarik lawan mereka mendekati kubangan lumpur. Sang Pope-wannabe berhenti hanya karena Defteros geram dan ikut menggunakan jurus yang sama, mengirim Saga keluar Colloseum.

Manigoldo yang geram, tanpa persetujuan dari Sasha mengirimkan beberapa orang dari tim lawan ke Underworld—Mu, Aldebaran, Saga, Aiolia, Aiolos. Deathmask sendiri ikut naik pitam, dan keduanya saling melancarkan jurus, menyebabkan mereka sama-sama terlempar ke wilayah kekuasaan Hades.

Shaka sebenarnya tidak ingin melakukan tindakan curang seperti kamerad-kameradnya, tapi apa boleh buat, Milo dan yang lain, yang berada di belakangnya, mendesaknya untuk melancarkan jurus ilusi kepada lawan mereka. Sukses besar, karena semuanya spontan mematung, trauma akan ilusi menyeramkan yang dikerahkan oleh Shaka.

Kini hanya Asmita dan Sasha, yang berhasil menahan serbuan ilusi itu, yang masih memegangi tali tambang. Mereka semakin lama semakin terseret ke dalam kubangan lumpur.

"Athena-sama…"

"Ya, Asmita."

"Maaf, tapi bertahanlah sendirian sebentar."

"…Aku mengerti."

Asmita melepaskan pegangannya pada tambang, memaksa Sasha untuk mengobarkan cosmo-nya agar bisa menahan diri supaya tidak terseret. Saint yang indra pengelihatannya telah terenggut itu segera melancarkan jurusnya, membalas Shaka, dan berhasil membuat semua orang dari tim Gold Saint abad 20 pingsan, kecuali Saori dan Shaka.

Keadaan berimbang. Tinggal 2 orang yang tersisa. Karena tidak bisa memakai trik apa-apa lagi, yang bisa mereka lakukan hanyalah satu: menyalakan cosmo mereka dan berjuang dengan mengandalkan itu saja.

Penonton tidak henti-hentinya mengelu-elukan nama jagoan mereka, memberi semangat. Para panitia penyelenggara ikut-ikutan berisik menyemangati—kecuali Zeus, yang kebingungan ingin mendukung yang mana, karena keduanya sama-sama putrinya. Tim pengawas bereaksi lain sendiri. Mereka memasang wajah H2C alias harap-harap cemas. Ada apa gerangan?

Jawabannya datang seketika.

Karena tak sanggup menahan kekuatan dari kobaran cosmo dua orang Dewi Perang dan dua orang Manusia yang Paling Dekat dengan Tuhan, tali tambang itu putus. Anehnya lagi, bukannya terjungkal ke belakang karena mereka saling tarik menarik, keempat orang itu malah terhempas ke depan, menyebabkan keduanya masuk ke dalam kolam lumpur yang berada di antara mereka. Tak terelakkan lagi seluruh tubuh mereka berlumuran lumpur.

"…"

"…"

"…"

"..."

Keempatnya saling tatap, melihat sosok satu sama lain yang dikotori tanah lunak dalam keheningan. Hingga…

"…pft."

"Ahahahaha!"

Tawa Sasha dan Saori pecah. Mereka bukan menertawakan satu sama lain, melainkan menertawakan kekonyolan diri sendiri, yang tadi sempat-sempatnya terbawa suasana serius. Mereka teringat bahwa acara lomba ini diadakan sebagai hiburan. Kenapa juga mereka harus serius?

Shaka dan Asmita yang mengawal mereka hanya bisa tersenyum geli, terkena aura positif yang dikeluarkan junjungan mereka masing-masing. Satu persatu kawan mereka terbangun dan (bagi yang terlempar ke tempat lain) kembali ke arena, lalu ikut tertawa.

Dohko menggaruk pipinya yang tidak gatal. Bibirnya melengkung membentuk senyum geli, sementara ia bertanya kepada Sage, "Sekarang bagaimana? Mau diulang?"

"Tidak usah saja," sahut sang Cancer, memandang sang dewi dari era asalnya dibantu berdiri oleh Shion dan Sisyphus. "Sepertinya tidak apa-apa kalau sekali ini saja pertandingannya kita buat seri."

Pria berdarah China yang berdiri di sebelahnya mengerjap beberapa kali, sebelum tertawa renyah. "Aku setuju, Sage-sama."

.

.

.

Dan tibalah pertandingan penentuan pemenang kedua dan ketiga dari lomba tarik tambang. Ya, pemenang kedua dan ketiga, karena tim Gold Saint dari abad ke-18 dan abad ke-20 sama-sama menjadi pemenang pertama.

Tim Hades dan tim Poseidon memasuki lapangan. Pemimpin masing-masing regu tampak penuh percaya diri. Zeus, adik bungsu mereka, menyeringai penuh antusias ketika kedua kakaknya itu mulai memegang tali tambang—yang baru, tentunya—bersama dengan anak buah mereka masing-masing. Sang pemimpin para Dewa tak sabar ingin melihat pertarungan seperti apa yang akan ditunjukkan oleh mereka berdua.

PRIIIIIIIIIIIIT!

Peluit baru dibunyikan, tapi sebagian besar Marina sudah terlempar. Julian terkaget-kaget, namun segera menemukan akar permasalahannya.

"Griffin Minos!"

Benar. Judge dengan surai keperakan itu tengah asyik menggerakkan jemarinya, memainkan Cosmic Marionette andalannya. Karena sebagian besar tenaga sudah dihempaskan, mudah saja bagi tim Hades untuk menarik tali tambang hingga Poseidon dan anggota timnya jatuh ke dalam kolam lumpur.

Para Spectra yang menonton di tribun kontan bersorak riuh, member selamat atas kemenangan pihak yang mereka dukung tersebut. Di sisi lain, pendukung tim Poseidon memprotes keras, menyatakan bahwa Minos menggunakan tekniknya itu curang. Mereka lupa bahwa para peserta diperbolehkan menggunakan keahlian mereka masing-masing asal tidak melukai lawan, dan para pengawas sendiri tidak mau repot-repot mengingatkan tentang peraturan tersebut.

"Dasar… licik!" Julian menggerutu sementara ia berusaha membersihkan wajahnya dari lumpur.

Hades menyeringai lebar. "Tidak juga, saudaraku sayang. Aku hanya meminta anak buahku untuk memanfaatkan kekuatan mereka."

"Gr…"

"Sepertinya lomba-lomba ini tidak menguntungkanmu karena diadakan di darat, hm?"

"Apa maksudmu?"

"Kau, 'kan, terbiasa berada di dalam laut. Mungkin karena itu kau jadi kikuk dan ceroboh begini di atas daratan."

Kanon dan Unity harus menahan Poseidon agar tidak melemparkan trisula kebanggaan sang Dewa lautan ke arah kakak sulungnya yang mencintai kegelapan itu.

.

.

.

Skor sementara:

Dengan kokoh tim Hades mempertahankan posisinya dengan 17 poin. Tim Gold Saint dari abad ke-18 dan ke-20 juga masih bersaing ketat―masing-masing memiliki 11 poin dan 12 poin. Tim Poseidon? Masih di posisi terakhir dengan 7 poin.

.

.

.

Bersambung...