Saya masih hiduuuupp! *sebar confetti* Yang mau nabok ataupun ngebantai saya tahan dulu. Tunggu sampai chapter depan selesai. Kalau sekarang diapa-apain nanti ceritanya nggak selesai-selesai, kasian karakternya.
Yak, kembali kita saksikan kelanjutan lomba yang diadakan untuk menyiksa karakter Saint Seiya ini. Yuk, mari.
Title: Saint Seiya: 17 Agustus Arc
Warnings: OOC, hint of slash, italic abuse, lebay-bordering-gaje
Disclaimer: karakternya punya Masami Kurumada dan Shiori Teshirogi, ide-idenya punya saya dan kumpulan fans Saint Seiya di berbagai macam socmed. Lagu-lagu yang tercantum di sini milik Rhoma Irama, Rita Sugiarto, Erna Sari, Chrisye, Anang, Lissa, Fransoa, Melinda, Trio Macan, dan Kyary Pamyu Pamyu.
.
.
.
Saint Seiya: 17 Agustus Arc
Chapter 6: Akhirnya lombanya selesai juga
.
.
.
"Isaac?"
Isaac menoleh, menemukan Sorrento berjalan mendekatinya. Sang Siren heran melihat kameradnya satu itu berada di pojokan, seperti sedang mengerjakan sesuatu. Dan setelah didekati, ternyata Isaac sedang…
… memeras kain pel.
"… Kamu ngapain?"
"Ngapain?" Isaac mencemplungkan kain di tangannya ke dalam ember—yang entah dia dapatkan darimana—berisi air berbau karbol. "Sudah jelas, 'kan? Latihan memeras kain pel!"
"Buat apa pakai latihan segala?"
"Biar teknik mengepelku membaik."
Sorrento melongo. "Hah?"
"Iya! Kalau kain pelnya nggak diperas dengan baik, kotoran yang melekat pada kain saat mengepel lantai bisa terbawa lagi, jadi lantainya bakal kotor lagi! Kalau begitu, nggak bakal kelar-kelar ngepel Atlantis!"
Usai menjelaskan dengan penuh semangat begitu, sang Kraken melanjutkan kembali sesi latihannya, mengabaikan Sorrento yang terdiam di belakangnya, menatap punggung lelaki dengan rambut hijau jingkrak itu dengan tatapan iba.
Sebegitu pasrahnya…?
.
.
.
Sejumlah Bronze dan Silver Saints tampak mondar-mandir mempersiapkan lomba berikutnya. Para panitia lomba berada di tempat duduk mereka, mengobrol dengan satu sama lain atau diam memandangi kelompok-kelompok yang akan bertanding. Salah satu yang diam tak bersuara adalah Amphitrite. Ratu Lautan itu fokus menatap pos grup Poseidon, seolah dengan begitu ia bisa mendengar apa yang sedang didiskusikan suaminya dengan para Marina Generals.
"Dewi Amphitrite?"
Amphitrite menoleh memandang Zeus, yang duduk di sebelahnya. "Ya, milord?"
"Kau takut suamimu dan kelompoknya kalah?"
Sang dewi diam tak menyahut. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Amphitrite tahu betul bahwa Zeus tahu apa jawaban yang akan ia berikan dari raut wajahnya. Dan kalau ekspresinya tidak cukup jelas, raja dari para dewa dan dewi Olympus itu bisa saja membaca apa yang sedang ia pikirkan.
"Tidak usah khawatir, Amphitrite."
Kali ini yang bersuara adalah Dewa di sebelahnya—Dionysus. Ia meraih beberapa helai rambut Amphitrite dan memainkannya di antara jari-jarinya, lalu berkata, "Raja kita yang satu ini sudah mempersiapkan kejutan yang akan membuat lomba ini lebih menarik. Benar, bukan, Zeus-sama?"
Zeus tersenyum penuh arti. "Tunggu saja."
.
.
.
"Maaf menunggu lama. Lomba ke-9, lomba joget berpasangan, akan segera dimulai!"
Sorak sorai ramai datang dari tribun penonton. Kolam lumpur yang sebelumnya disediakan untuk lomba tarik tambang telah hilang—sekali lagi, jangan tanya bagaimana cara mereka melakukannya. Di keempat sudut lapangan telah disiapkan masing-masing satu loudspeaker ukuran super besar. Sebuah meja penuh peralatan music mixing diletakkan di dekat tribun di mana para dewa-dewi Olympus menonton. Ikki berada di belakang meja tersebut, mengenakan headphone dan berlagak seolah-olah dia adalah seorang DJ yang bekerja di kelab malam.
"Silahkan pasangan dari tiap kelompok untuk masuk ke dalam arena!" seru Shun, yang memegang toa dan menangani lomba yang satu ini.
El Cid dan Sisyphus meninggalkan pos kelompok mereka, diiringi teriakan "Jangan kalah!", "Semangat!", "Hati-hati!" dari kamerad-kamerad mereka. Mu dan Shaka membungkuk hormat pada junjungan mereka sebelum memasuki arena, juga diiringi sorakan penyemangat dari Gold Saint lainnya. Hanya doa dan dua patah kata "Selamat berjuang" dari Kanon yang menguatkan keinginan Seraphina dan Unity untuk menang. Tidak ada pertukaran kata apa-apa di tim Spectra untuk Aiacos dan Violate, tapi keduanya dipenuhi semangat untuk memenangkan lomba yang satu ini.
Setelah keempat pasangan itu berkumpul di lapangan, empat orang pengawas lomba—Juné, Marin, Shaina, dan Yuzuriha—mendekati mereka. Mereka mengarahkan para pasangan ke posisi yang sudah ditentukan. Selagi para pengawas itu bekerja, Shun menjelaskan aturan lomba:
"Keempat pasangan ini akan berjoget mengikuti alunan musik yang akan dimainkan oleh DJ kita hari ini, Phoenix Ikki." Shun tersenyum gugup saat menyebut nama kakaknya itu. "Dan selama berjoget, sebuah balon akan diletakkan di antara dahi para pasangan. Balon tersebut tidak boleh terlepas dari dahi mereka dan jika nyatanya terlepas, maka pasangan tersebut dinyatakan gugur. Tim yang bertahan terakhir akan mendapat skor tertinggi."
"Jadi... kami harus berjoget sambil menatap lekat pasangan, begitu?" Mu sedikit panik saat Shaina berusaha membuat balonnya tetap diam di antara kepala sang Aries dan partnernya.
"Begitulah," wanita berambut hijau itu menyeringai usil. "Yah, sebenarnya boleh saja sih kalian melihat ke arah lain, tapi hati-hati dengan langkah kalian. Intinya, fokus saja agar balon kalian tidak jatuh."
"... Hei, Kak."
"Ya, Unity?"
"Meskipun kita memenangkan pertandingan ini, skor tim kita tidak akan melampaui skor tim lain, 'kan?"
Seraphina tersenyum tipis. Memang benar; perolehan skor tim mereka saat ini hanyalah 7 poin. Memenangkan lomba yang satu ini akan membuat mereka mendapatkan 10 poin, tapi dibandingkan skor kelompok lain, mereka tetaplah di posisi terakhir, yang artinya mereka akan mendapatkan hukuman. Tidak ada yang bisa diperbuat selain pasrah...
"Tenang saja, kalian masih punya kemungkinan untuk lepas dari hukuman, 'kok."
Kakak beradik itu menoleh ke arah Yuzuriha, yang ditugaskan untuk meletakkan balon di antara dahi mereka. "Karena ini lomba terakhir di mana sistem nilai diberlakukan, Dewa Zeus mengubah sedikit peraturannya agar lebih... menarik."
"Selain itu!" suara toa Shun seolah melanjutkan ucapan Yuzuriha. "Untuk pertandingan ini, nilai yang dihadiahkan dilipatgandakan tiga kali! Artinya, pasangan yang paling lama bertahan akan mendapatkan tambahan 9 poin! Artinya lagi, tim yang berada di posisi paling bahwa dalam total perolehan skor memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan mereka!"
Sorak sorai penonton semakin ramai. Zeus tersenyum puas, merasakan antusiasme penonton. Poseidon dan timnya terlihat kaget, namun mensyukuri kesempatan yang diberikan oleh raja dari para dewa itu dan kini mulai bersorak menyemangati wakil tim mereka. Hanya Hades yang tampak tak terlalu senang karena kemungkinan tim Poseidon untuk menjadi pihak yang kalah mengecil.
"Baiklah, apa semuanya sudah siap? Kalau sudah... MUSIK!"
Mengikuti aba-aba adiknya, Ikki mulai menyalakan lagu.
"Begadang jangan begadang~ kalau tiada artinya~"
Sejumlah Saints / Marina / Spectra yang tidak ikut bertanding jatuh ala gag comic.
"IKKI, KENAPA MALAH LAGU DANGDUT!?" Seiya, salah satu di antara Saints yang melakukan sliding-head-first, memprotes keras.
Yang ditanyai malah cuek. Maklum, segala suara diredam oleh headset yang ia kenakan. Sang DJ dadakan malah asyik menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti irama lagu yang dibawakan si Raja Dangdut.
"Ampun, deh, kenapa mesti lagu dangdut..." Aiolia geleng-geleng kepala, memasang wajah eneg karena melihat Mu dan Shaka berjoget dengan awkward-nya di lapangan.
"Eh, kenapa? Lagunya asyik, 'kok!" Shura ikut menggoyangkan kepala, menikmati lagu. Semuanya sweatdrop mendengar komentar sang Capricorn.
"HELLO! HELLO! HELLOOOO~! Yang, yang, yang... digoyang-goyang, yang~!"
"Dégel, ada kantung kertas, nggak?"
"Tidak. Untuk apa, Kardia?"
"Pengen muntah denger lagunya..."
"Ya ke toilet sana."
Sisyphus menatap lurus ke arah kakinya, berharap tidak tersandung apapun, sambil berjoget dengan canggung. "Erh, repot juga, ya... hahaha."
"Fokus saja, Sisyphus," ujar El Cid kalem, meskipun sebenarnya ia sudah ingin melancarkan Excalibur ke arah loudspeaker terdekat.
"Kelakuan si kucing garong~ kalau lihat mangsa mengeong. Main sikat, main embat, mangsa yang lewat~"
Penonton mulai tertawa-tawa menyaksikan hebohnya lomba. Pasangan dari kedua tim Gold Saints benar-benar merasa canggung dan wajah mereka berubah semerah apel karena diteriaki "Ayo, goyangnya yang lebih heboh!", "Terus digoyang, mas-mas sekalian!", "Aduh itu mukanya udah deket banget kalian ciuman aja sekalian!".
Harap abaikan teriakan terakhir.
"Darah manisku, kau selalu di dalam impianku~"
"Oke, setidaknya yang ini lebih normal," Unity menghela napas lega saat lagu berganti menjadi Darah Manis oleh Chrisye.
"Perasaanku saja, atau lagunya memang lagu lawas semua?" Lune menggumam sambil memasang pose berpikir.
"Biar lagu lawas tapi tetep asyik!" Cheshire berseru riang, ikut menggerakkan kakinya sesuai irama.
"Benar ku mencintaimu... tapi tak begini~ Kau khianati hati ini... kau curangi aku~"
"Sampai lagunya Anang juga!" Kanon ber-facepalm ria.
Namun, beberapa rekan-rekannya sesama Marina Generals tidak merasakan hal yang sama dengannya. Sorrento, Orphee, dan Io mengangkat tangan mereka, membentuk tanda silang sambil ikut menyanyikan lirik lagu Separuh Jiwaku Pergi. Yang lainnya hanya bisa menatap ketiganya dengan ekspresi campur aduk, bimbang antara ingin mengiba atau menertawakan mereka.
Sementara, ada insiden kecil di lapangan. Violate yang tidak hati-hati dengan langkahnya tersandung batu dan oleng. Aiacos refleks menangkap sang Behemoth sebelum jatuh ke tanah. Balon mereka jatuh, namun mereka sepertinya tidak terlalu peduli.
Karena posisi wajah mereka sangat dekat. Kira-kira jarak antara hidung mereka hanya 10 cm dari satu sama lain.
Dan bukannya segera berdiri dengan benar, mereka malah berlama-lamaan berada di posisi itu. BGM-nya pas untuk adegan romantis, 'sih.
"WOI, JANGAN MESRA-MESRAAN DI SITU, WOI!" Yato meneriaki mereka.
"IYA! PUASA, TAUK! PUASA!" Tenma ikut berteriak.
"Mereka, 'kan, nggak puasa..." Teneo menimpali, meskipun ia juga agak tidak sreg karena terlalu lama melihat pasangan dari tim Hades itu mesra-mesraan.
Lagu berganti setelah para pengawas lomba berhasil mengusir Aiacos dan Violate dari lapangan.
"Dasar kau, keong racun. Baru kenal, sudah ngajak tidur~"
"That's it! I'm out of here!" Kardia berteriak histeris dan berlari meninggalkan posnya saat lagu tersebut berkumandang.
Dégel menghela napas melihat tingkah sahabatnya itu. Ia melirik ke arah Seraphina dan Unity, yang tengah berjoget ala Sinta dan Jojo, lalu bergegas berlari menyusul Kardia. Rasanya ia tidak bisa menonton dua kakak beradik itu karena berbagai alasan...
"Kalau saya kaya, aduh aduh aduh... Mau beli mobil, satu mobil baru, pake roda besar. Tempat duduk kuliiit"
"Oh, ini lagu dari bule asal Perancis yang jadi terkenal di Indonesia, itu, 'kan?"
Camus menolak berkomentar apa-apa. Ia tahu teman-temannya sedang menatapnya, tapi ia tidak mau menanggapi mereka. Lebih baik diam dan melupakan fakta bahwa ada seseorang dari negara asalnya yang mau bernyanyi senorak itu.
"El Cid."
El Cid mendengar Sisyphus memanggilnya, tapi tidak menatap wajah partnernya itu. Bisa-bisa ia menjadi canggung dan kehilangan ritmenya. "Apa?"
"Maaf, tapi... aku sudah tidak tahan lagi..."
"A—o, oi! Sisyphus!"
Tubuh Sisyphus terhuyung jatuh. Ia pingsan dengan wajah menghijau. Sepertinya mendengarkan lagu-lagu Indonesia yang super 'unik' itu membuatnya benar-benar lelah secara mental. Balon milik mereka jatuh dan keduanya dinyatakan gugur.
"Cinta satu malam, oh indahnya. Cinta satu malam, buatku melayang~"
"Sudah kuduga lagu ini juga bakal masuk," Rhadamantys menggelengkan kepalanya.
"Ho~ ternyata kamu suka lagu-lagu dangdut Indonesia, ya?" Minos menyeringai usil.
"Bukan aku saja, tahu."
Sang Wyvern menunjuk ke arah 'para pejabat' tim mereka—Hades, Hypnos, Pandora, dan Thanatos. Sekilas, keempatnya terlihat duduk dengan kalem memperhatikan jalannya pertandingan. Namun jika dilihat lebih dekat, tubuh mereka menunjukkan sedikit reaksi atas alunan musik yang memenuhi Coliseum. Pandora menggoyangkan jempolnya, kedua Dewa Kembar menggerak-gerakkan kepala mereka mengikuti irama, dan Hades sendiri sepertinya ikut bernyanyi dengan suara super pelan.
Minos hanya bisa sweatdrop. Siapa sangka banyak yang suka dangdut di kelompok mereka?
"Iwak peyek! Iwak peyek! Iwak peyek, nasi jagung! Sampek tuek, sampek nenek, trio macan tetap disanjung~"
Irama lagu semakin dipercepat, para peserta yang tersisa makin kewalahan menyesuaikan tarian, apalagi mempertahankan balon di antara dahi mereka. Tapi baik Mu dan Shaka maupun Seraphina dan Unity tidak mau menyerah begitu saja. Mereka berkonsentrasi penuh agar tidak terjatuh atau mengalami kecelakaan lain yang dapat menyebabkan mereka digugurkan lebih dulu daripada yang lain.
"Kepalaku pening kebanyakan mendengarkan lagu dangdut..." Hyoga memasang pose madesu, komplit dengan aura-aura suram.
"Hoi, kapan selesainya, 'nih?" Shiryu menyumpelkan kapas ke kupingnya. Meskipun ia sudah memakai penyumbat telinga, tapi tetap saja suara musik yang keluar dari empat loudspeaker ukuran jumbo mencapai gendang telinganya.
"Tenang... paling sebentar lagi ada yang gugur karena..." Ikki menyeringai, siap mengganti lagu, "... lagu ini!"
"PONPON way way way, PONPON way PON way PONPON, way way PONPONPON, way way PON way PON way way!"
Dan sesuai dugaan, ada satu pasangan yang jatuh karena kaget. Pasangan itu adalah pasangan Mu-Shaka. Mu jatuh ala gag comic, meski ia tidak sendiri—sebagian besar penonton, peserta lomba yang berada di luar lapangan, para pengawas lomba, juga para panitia melakukan aksi konyol itu karena tidak menyangka lagu tersebut akan dimainkan.
"KENAPA MENDADAK KYARY PAMYU PAMYU!?" Saori dan Poseidon berteriak bersamaan.
"Cih, padahal lagi asyik-asyiknya..." Hades merutuk pelan.
Ikki bersikap masa bodo. Ia terus memainkan lagu itu sampai Sage menggeplak kepalanya dengan harisen karena ternyata daritadi sang Cancer sudah memerintahkan DJ serampangan itu untuk mematikan musiknya.
Hasilnya, tim Poseidon berhasil mendapatkan 9 poin, melepaskan diri dari posisi rawan. Tim Saori mendapat 6 poin dan tim Sasha mendapat 3 poin, sementara tim Hades tidak mendapatkan poin karena gugur paling awal.
Atas kesuksesan ini, Poseidon dan anak buahnya bersorak ramai. Beberapa menangis terharu, bahagia karena tidak lagi khawatir harus mengepel Atlantis sampai kering. Hades dan Zeus menatap illfeel sang Dewa Lautan sambil sedikit meratapi nasib karena memiliki saudara seperti itu.
.
.
.
Beberapa menit setelah lomba ke-9 berakhir, akhirnya tiba saatnya lomba terakhir. Lomba yang tidak bisa disebut lomba karena tidak ada kata menang dan kalah dalam lomba yang satu ini. Lomba yang memang sudah menjadi ciri khas dari lomba 17 Agustusan. Yap, panjat pinang.
Namun, jika biasanya lomba ini menggunakan pohon pinang yang sudah ditancapkan di tanah dan dilumuri oli dan pelumas, yang satu ini berbeda. Karena pesertanya adalah manusia-manusia near superhuman yang kemampuannya di atas manusia rata-rata, panitia telah menyiapkan sesuatu yang pas untuk dipanjat: pilar Poseidon.
Sekarang pilar tersebut sudah berdiri menjulang di dalam Coliseum—jangan bertanya!. Tentunya bukan pilar yang asli. Hanya dibuat menyerupai salah satu pilar yang menjaga lautan di Bumi. Meski hanya tiruan, tingginya bukan main-main. Siapapun yang mencoba mendongakan kepala untuk melihat puncaknya akan disapa cahaya matahari dan sakit leher. Maksudnya, pilar itu begitu tinggi sampai-sampai tidak terlihat puncaknya. Beberapa orang malah curiga bahwa pilar itu tidak memiliki puncak dan ucapan Zeus bahwa hadiah yang bisa diambil di puncak pilar itu sebenarnya bohong.
"Nah, tunggu apa lagi? Ayo mulai memanjat!" titah pengawas lomba kali ini, Seiya.
"Ngomong-ngomong, ini daftar hadiah yang disediakan di atas sana," Shiryu membagi-bagikan kertas memo berisi daftar hadiah kepada tiap ketua tim. "Tiap tim hanya boleh mengambil maksimal tiga barang dari atas sana."
Keempat grup membentuk kerumunan mereka masing-masing, riuh mendiskusikan mau mengambil apa dari puncak pilar.
"Jadi… kita mau mengambil apa?" Sasha memperlihatkan daftar hadiah yang ia pegang kepada anak buahnya.
"Terserah Athena-sama saja," jawab Sisyphus. "Tapi kalau bisa, jangan benda berteknologi tinggi."
"Eh? Kenapa? Aku mau mini compo!" Kardia memprotes, namun langsung dijitak oleh Dégel.
"Bisa gawat kalau ada barang yang seharusnya belum diciptakan pada jaman kita terbawa saat kita pulang nanti."
"Kalau begitu, pilihannya jadi semakin sedikit…" Shion ikut membaca kertas memo tersebut. "Kita bisa mengambil buku-buku dan..."
"Kitchen knife set," pinta Aldebaran saat matanya menangkap nama benda itu di antara deretan barang-barang lainnya. "Yang saya miliki sekarang ini mulai terasa tidak enak digunakan, jadi..."
"Baiklah, jadi sepeda gunung, kitchen knife set..." Saori menandai barang-barang yang dikehendaki Saint-nya. "Apa lagi?"
"Anggur Loraine." Poseidon tersenyum lebar. "Satu kotak penuh, katanya. Cukup untuk jangka waktu lama."
"Apa Anda tidak akan dimarahi istri Anda?" Seraphina iseng bertanya.
"Tidak masalah. Amphitrite sendiri lumayan menyenangi minuman anggur. Dia seorang wine sommelier[1] yang baik, kau tahu?"
Pandora tampak menandai beberapa barang di daftar milik tim Hades. Setelah selesai, ia menoleh kepada junjungannya. "Begitu saja sudah cukup, milord?"
Setelah Hades mengangguk, wanita berambut hitam itu menyerahkan kertas memo di tangannya kepada Rhadamantys. Menggenggam kertas itu dengan erat, Rhadamantys lalu mengerahkan cosmo-nya dan melesat terbang menuju puncak pilar. Tindakannya ini membuatnya mendapatkan perhatian banyak orang, karena ia yang paling pertama memulai mencoba mencapai puncak pilar.
"Akhirnya ada juga yang mulai," Ikki menengadah, mencoba melihat sejauh mana Rhadamantys terbang.
"... Ngomong-ngomong, aku baru sadar kalau yang bisa terbang sambil memakai zirah itu berasal dari tim Spectra semua," Shun melirik Aiolos dan Sisyphus yang cloth-nya memiliki bagian sayap tapi tidak bisa digunakan untuk terbang.
"Aku juga bisa terbang!" celetuk Seiya, tak terima karena merasa dilupakan.
"Iya, tapi punyamu itu 'kan dipakai pada saat-saat tertentu," balas Hyoga kalem.
"Ah, yang lainnya kelihatannya sudah selesai berdiskusi, tuh," ucap Shiryu, yang menyadari bahwa tiap tim tidak lagi berkerumun mengitari pemimpin masing-masing. "Kira-kira mereka mau pakai cara apa, ya? Apa pakai psikokinesis-nya Mu dan Shion?"
Dohko, Hakurei, dan Sage tertawa pelan mendengar celotehan para Bronze Saints, membuat kelima pemuda itu kaget, malu, sekaligus bingung. "Kalian ini," sang Libra memulai setelah meredakan tawanya, "apa sudah lupa kalau ada cara yang lebih praktis daripada terbang apalagi telekinesis?"
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Dohko, tiga orang Gemini dari tiga kelompok berbeda bersamaan meneriakkan nama salah satu teknik mereka.
"ANOTHER DIMENSION!"
Udara bergetar kala ruang dimensi terbelah oleh kekuatan ketiga Gemini—Defteros, Kanon, dan Saga. Ya, mereka menggunakan jurus mereka sendiri untuk berpindah ke puncak pilar.
"Aha. Benar juga, ya," Ikki terlihat sedikit kecewa karena keempat tim tampaknya tidak memiliki kesulitan dalam proses mencapai puncak, di mana hadiah-hadiah disediakan. "Harusnya kita larang mereka untuk menggunakan jurus, supaya lebih seru."
"Kalau seperti itu bisa-bisa halaman cerita ini habis dipakai mereka untuk membahas cara memanjat pilar tanpa menggunakan jurus apapun," Hakurei menimpali.
Shun memiringkan kepalanya sedikit, terlihat bingung. "Tapi kenapa tim Spectra tidak pakai jurus itu juga? Di tim mereka, 'kan, ada Aspros!"
"Tebakanku dia menolak menggunakan kekuatannya untuk membantu mereka," Sage terkekeh. "Khas dia."
Beberapa menit berselang semenjak trio Gemini dan Rhadamantys bergerak ke puncak pilar. Mereka yang tidak sibuk mengambil hadiah—para peserta yang tersisa di bagian dasar, para pengawas lomba, para panitia, dan juga seluruh penonton lainnya—mengobrol dengan satu sama lain tentang berbagai macam hal, santai menunggu wakil mereka kembali sambil membawa hadiah dari atas sana. Namun kedamaian itu berlangsung singkat, karena tiba-tiba saja terdengar suara ledakan-ledakan yang membuat semua orang mengalihkan perhatian mereka ke atas.
"Itu..." Marin memicingkan matanya, mencoba melihat apa yang terjadi nun jauh di atas sana. "Wyvern dan... Gemini Defteros?"
"Benar."
Sekali lagi udara di sekitar mereka berputar dan Saga muncul. Melihatnya yang agak kerepotan membawa begitu banyak barang—sepeda gunung, laptop, sekotak knife set, sebuah peti berisi sejumlah anggur yang didobel fungsinya menjadi wadah sebuah dress, buku kamus, netbook, dan ponsel Android—beberapa rekannya spontan membantu membawakan barang-barang tersebut.
Usai mengucapkan "trims" pelan dan kedua tangannya terbebas dari segala macam beban, Saga menatap Sasha dan Julian bergantian. Ia tahu apa yang hendak dikatakan oleh keduanya. "Defteros dan Kanon sedang baku hantam dengan Rhadamantys di atas sana. Penyebabnya sepele, 'sih... tapi, tenang saja. Barang yang kalian inginkan sudah kubawa turun."
"Oh... terima kasih, Gemini," Sasha tersenyum lembut, yang membuat pipi Saga sedikit merona merah.
"Lalu? Hal sepele apa yang kau maksud itu?" Julian mengernyit heran, meskipun ia tidak memandang Saga melainkan menengadahkan kepalanya, memperhatikan langit yang dipenuhi asap hasil ledakan jurus-jurus.
"Memperebutkan hadiah."
Perhatian mereka kembali teralihkan kala Hades angkat suara dan masuk ke dalam percakapan mereka. Dewa dengan surai hitam itu berjalan mendekati peti anggur yang diletakan di tanah, tak jauh dari barisan pengawas lomba. Ia menatap apa-apa saja yang ditumpuk di dalamnya, benda-benda yang membuat anggur yang disimpan di dalam kotak kayu tersebut tak terlihat.
"Gaun ini," Hades masih terus menatap ke bawah, "hanya disediakan satu, bukan?"
"A—ah, ya, benar," Shaina, yang berdiri paling dekat dengan peti tersebut, mengangguk. "Semua barang yang ada di daftar hanya disediakan satu buah."
Hades mendengus—atau malah tertawa dari hidung? Ia berbalik dan menatap Sasha sambil berkata, "Kau sudah memiliki banyak pakaian. Untuk apa memilih untuk mengambil gaun?"
Sasha tampak sedikit ragu, apakah lebih baik ia menjawab pertanyaan si 'paman' atau tidak. Namun belum sempat ia bicara, Saori tiba-tiba saja menjawab untuknya,
"Bukankah wajar bagi seorang gadis untuk menginginkan sebuah gaun yang indah, Paman? Bagaimanapun juga, kami ingin terlihat cantik dalam berbagai macam pakaian."
Dewa bawah tanah itu memutar bola matanya secara imajinatif mendengar jawaban keponakannya yang berasal dari abad ke-20. Diam sejenak, ia kemudian menoleh kembali ke arah pengawas lomba. "Well? Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat lerai peserta yang bertengkar di atas sana itu."
.
.
.
"—dan, juara umum dari perlombaan ini adalah..." Zeus berhenti sejenak untuk memberi kesan dramatis, "Tim Gold Saints abad 20!"
Saori bergerak maju ke depan mendekati 'ayah'-nya untuk menerima piala, diiringi gemuruh tepuk tangan para penonton. Banyak dari mereka yang mengelu-elukan namanya sementara Zeus menjabat tangannya, memberi selamat.
Setelah Saori melenggang pergi, kembali ke kumpulan anak buahnya, Zeus kembali mengumumkan dengan suara toa-nya: "Kelompok yang mendapat perolehan nilai terendah adalah tim Gold Saints abad 18. Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, grup ini akan menerima hukuman, yang akan dilaksanakan besok."
Sasha tersenyum tipis dan berulang kali mengatakan "tidak apa-apa, bukan masalah" sementara prajurit-prajuritnya tidak berhenti meminta maaf karena menganggap kekalahan ini adalah kesalahan mereka. Zeus kemudian menyatakan bahwa perlombaan resmi berakhir. Segera setelahnya, penonton berangsur-angsur meninggalkan tempat duduk dan pengawas lomba bergerak untuk membereskan segala macam atribut perlombaan.
Setelah segala tetek bengek itu berakhir, sebuah pesta besar-besaran untuk merayakan suksesnya perlombaan berskala besar pertama yang diadakan di Sanctuary digelar. Yang boleh menghadirinya hanyalah para panitia, pengawas lomba, dan peserta lomba. Gelak tawa terdengar tak henti-hentinya semenjak pesta dimulai. Semuanya—baik para Saints, Mariners, maupun Spectres—saling mengobrol dan bersenda gurau dengan satu sama lain. Memang ada sedikit pertengkaran, namun tidak sampai baku hantam.
Mari kita tengok keadaan di salah satu sudut ruang pesta. Kakak beradik asal Bluegaard tampak asyik bercengkerama dengan Poseidon dan Amphitrite selama beberapa saat, sebelum pasangan suami istri itu pergi untuk mengobrol dengan yang lainnya. Seraphina mengangkat tangan untuk menutupi mulutnya ketika ia menguap kecil, dan hal itu tidak luput dari pengelihatan adiknya.
"Kak, sebaiknya kau kembali ke kamar sekarang. Bisa-bisa kau ambruk kalau menemaniku terus," Unity menatapnya cemas.
Sang kakak tertawa pelan, sedikit merasa bersalah karena sudah membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya. Well, harus diakui ia sedikit mengantuk dan malam sudah mulai larut, jadi tidak ada salahnya meninggalkan ruang pesta sekarang. "Aku mengerti. Nikmati pestanya, Unity."
"Ya... oh, sebentar, Kak."
Seraphina, yang baru saja membalikkan badan, menoleh ke arah adiknya. Sang Sea Dragon tampak melambai ke arah seseorang, seolah memanggil seseorang itu untuk mendekat. Setelah dilihat lagi, rupanya ia melambai ke arah Dégel. Saint Aquarius itu berjalan mendekati sahabatnya dengan pandangan penuh tanya, namun sebelum bisa mengutarakan pertanyaannya, Unity keburu mendorongnya bersamaan dengan Seraphina kea rah pintu keluar.
"Antarkan Seraphina kembali ke kamarnya, oke? Dia sudah kecapekan tuh."
"Oh... tentu saja."
"U-Unity! Aku bisa sendiri!" Seraphina sedikit panik karena adiknya itu sengaja membuatnya berduaan dengan Dégel.
Tapi Unity menggeleng tegas. "Tidak. Ini tempat asing, Kak. Sebaiknya kau diantar Dégel saja, oke?"
Gadis asal Bluegaard itu menghela napas. Tidak ada pilihan lain; ia pasrah saja diantar Dégel ke kamarnya, yang tidak begitu jauh dari bangunan tempat pesta berlangsung. Selama beberapa saat keduanya sama-sama diam, tidak berani membuat topik pembicaraan apapun. Mereka sama-sama belum menyiapkan hati untuk dibiarkan berdua saja. Meski begitu, saat Seraphina menyadari bahwa pria di sampingnya itu tengah menenteng sebuah paper shopping bag di satu tangan.
Ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apa itu, Dégel?"
"Apa?" Ksatria es itu spontan berhenti karena tidak menyangka akan ditanyai. Ia melihat ke benda yang ditatap Seraphina dan langsung mengerti. "Ah, ini... gaun." Perlahan pipinya mulai merona seraya melanjutkan kalimatnya dengan suara pelan, "Gaun untuk Anda, Seraphina-sama."
"Untukku?"
Dégel mengangguk lalu menyodorkan tas kertas tersebut. Seraphina menerima dan melihat isinya—sebuah evening gown berwarna biru lavender yang penuh dengan renda manis. Ia merasa pernah melihat gaun itu di suatu tempat...
"Tunggu sebentar... bukankah ini gaun yang diambilkan Gemini Defteros saat lomba tadi?"
"Benar."
"Kalau begitu, ini milik Dewi Athena," Seraphina menyerahkan kembali tas berisi gaun tersebut. "Aku tidak bisa menerimanya."
"Bukan begitu," Dégel menolak menerima tas itu lagi. "Memang tim kami yang mengambil gaun itu, tapi Athena-sama mengijinkan kami untuk memilih barang yang kami inginkan dari daftar hadiah. Dia tidak ada niat untuk mengambil apapun untuk dirinya sendiri. Dan karena saya lihat ada gaun di daftar itu, makanya aku meminta untuk diambilkan. Saya merasa gaunnya akan pantas Anda kenakan dan firasat saya ternyata benar. Tadinya saya ingin menyerahkannya pada Anda besok pagi..."
Keduanya kembali diam dan saling menatap selama beberapa saat, lalu segera memalingkan wajah saat merasakan wajah sendiri menghangat. Ada jeda lama yang hanya diisi dengan bunyi rerumputan dan daun-daun di pohon bergemeresak dihembus angin malam. Kali ini, yang memecah keheningan itu adalah Dégel.
"Kalau Anda memang tidak menginginkannya, bisa saya kembalikan pada Athena-sama."
"Eh? Ah, tidak usah," Seraphina berganti memeluk tas kertas itu, seolah-olah melindunginya dari tangan Dégel—padahal Saint Aquarius itu tidak membuat gerakan apapun. "Kalau memang tidak masalah bagimu dan Athena-sama, aku terima. Terima kasih, Dégel."
Ucapan terima kasih yang diiringi senyuman lebar yang luar biasa manis itu kembali membuat wajah Dégel memerah untuk ketiga kalinya malam itu. Tapi ia tetap ingat untuk bersikap sopan, sehingga segera setelah ia menguasai diri lagi, ia membalas senyum Seraphina dan berkata, "Sama-sama, Seraphina-sama."
"Oh, dan... Dégel?"
"Ya?"
"Sudah kubilang kau harus berhenti menggunakan bahasa sopan dan panggil aku tanpa embel-embel kehormatan kalau kita berdua saja, 'kan?"
Dégel mengerjap beberapa kali, sebelum kemudian kembali tersenyum—meski kali ini lebih rileks.
"Baiklah, Seraphina."
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
[1] Wine sommelier: ahli wine, pandai dalam menentukan kualitas sebuah wine dan mencocokan wine dengan makanan yang disiapkan.
