Makasih banyak yang udah menyempatkan diri untuk me-review! Sini kucium satu-satu :3

Title: Saint Seiya: 17 Agustus Arc

Warnings: OOC, hint of slash, italic abuse, lebay-bordering-gaje

Disclaimer: karakternya punya Masami Kurumada dan Shiori Teshirogi, ide-idenya punya saya dan kumpulan fans Saint Seiya di berbagai macam socmed.

.

.

.

Saint Seiya: 17 Agustus Arc

Chapter 7: Penyiksaan

.

.

.

Esok paginya, Pope Hall disulap menjadi ruang rapat. Empat dewa-dewi sudah berkumpul bersama anak buah mereka masing-masing—para peserta lomba tempo hari—untuk melakukan musyawarah tentang hukuman apa yang pantas diberikan untuk tim yang kalah. Sasha dan para Saint-nya waswas memikirkan keputusan macam apa yang akan dihasilkan pada rapat ini.

"Jadi," Hades yang mulai bosan karena baik saudara maupun keponakan-keponakannya tidak ada yang mau mulai berbicara, "ide seperti apa yang kalian punya?"

"Aku, 'sih, inginnya mengultimatum mereka untuk menjadi anak buahku."

Komentar Poseidon itu membuat para Gold Saint dari abad ke-18 mengernyit tak senang dan siap melancarkan jurus masing-masing kea rah sang Dewa Lautan. Beruntung Sasha segera menghentikan mereka dengan membalas, "Itu terlalu berlebihan."

Poseidon menyeringai tipis, puas karena berhasil mengisengi kelompok yang satu itu. Saori Cuma bisa geleng-geleng kepala, lalu memutuskan untuk mengambil alih tugas memimpin rapat. Keempat dewa-dewi itu mulai berdiskusi dengan teratur, mengajukan usulan-usulan seperti membuat para Saint menari (usulan Hades, yang diduga diutarakan karena dia ingin coretikutcoret melihat mereka berjoget diiringi musik dangdut lagi), membuat masakan khas negara masing-masing (segera ditolak begitu Albafica menyeletuk pelan, "kalau kalian mau makan rizogalo beracun, 'sih, tidak masalah"), dan lain sebagainya.[1]

Para anak buah yang bosan dan masa bodoh karena tidak diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat mereka akhirnya malah mengobrol satu sama lain demi mengusir rasa suntuk.

"Ngomong-ngomong, Dewa Zeus sama yang lainnya ke mana, deh? Kok bukan mereka yang menentukan hukuman buat tim yang kalah?" Milo bertanya.

"Katanya, 'sih, dia sama panitia lainnya udah balik ke Olympus..." sahut Aiolia.

"Kok, nggak bertanggung jawab banget, kayaknya. Habis selesai pidato, nonton kita dipermaluin gara-gara ikut lomba-lomba aneh, ngasih pidato lagi, terus langsung pulang, gitu, nggak minta maaf atau bilang terima kasih?" Aphrodite menggerundel pelan.

"Iya, tuh. Mereka nggak nitip pesan ke pengawas lomba, ya?" dahi Regulus berkerut.

"Kalau mereka memang titip pesan, palingan guruku atau Pope Sage sudah ada di sini untuk menyampaikannya pada kita," jawab Shion kalem.

"Eh iya, mereka berdua ke mana?" Kanon menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak menemukan sosok para pengawas lomba di dalam ruangan.

"Kemarin malam waktu pesta, 'sih, bilangnya dapat hadiah voucher ke pemandian air panas Thermopylae, sebagai pengganti honor karena sudah mau jadi pengawas dan repot-repot, begitu," Defteros menjelaskan.

"Terus yang lainnya juga dapat tiket ke taman bermain atau ke tempat-tempat hiburan lainnya, makanya mereka nggak ada di sini," Saga menambahkan.

"Pantesan tadi pagi aku lihat Roushi turun dari Acropolis bareng para Bronze Saints. Kukira mereka mau jalan-jalan pagi aja, eh ternyata..." Aiolos geleng-geleng kepala.

"Oh, ngomong-ngomong soal Dohko," Hasgard ikut berbicara, "waktu ngobrol semalam dengannya, dia bilang Dewa Zeus dan lainnya sengaja membiarkan Athena-sama dan yang lain untuk menentukan hukuman sebagai semacam permintaan maaf karena sudah menertawakan kita habis-habisan kemarin."

"Apa, 'tuh, minta maafnya, 'kok, dengan cara menghukum tim yang kalah!" Mu mendesis sebal. Dia agak tidak rela gurunya serta inkarnasi kawan-kawannya harus menerima penderitaan tambahan. Atas simpatinya itu, Shion menghadiahinya sebuah elusan di kepala, yang sukses membuat rambut ungu si domba muda sedikit berantakan.

"Sebenarnya nggak masalah, 'sih," Deathmask nimbrung ke dalam pembicaraan mereka, "soalnya asyik ngeliat mereka ngelakuin hal-hal yang malu-maluin! Myowahahaha!"

"Hoi, Cancer yang di sana!"

Rombongan Gold Saints itu spontan menghentikan percakapan mereka yang ngalor ngidul dan menoleh kea rah asal suara. Adalah Thanatos yang berseru sambil tadi. Manigoldo nyaris balas menyentaknya karena mengira Thanatos hendak mengajak ribut, namun ia segera menyadari kalau sang Dewa Kematian tengah menatap tajam reinkarnasinya, Deathmask. Ia terlihat tidak terlalu senang.

"Suaramu mengganggu rapat! Mentang-mentang kalian tidak menyumbang ide maupun pendapat, jangan seenaknya ribut!" hardiknya.

Diomeli begitu, bukannya introspeksi diri, Deathmask malah membalas, "Ih, sensi! Yang lain nggak ada yang protes, 'kok! Kamu aja yang sewot!"

"Sebenarnya, Cancer, aku juga tidak senang mendengar suaramu yang volumenya kelewat besar itu," Hades angkat suara. Ia mengetuk-ngetuk meja kayu yang digunakan untuk rapat ini, seolah dengan melakukannya ia bisa menjaga agar kontrol dirinya tidak lepas. "Kusarankan kau diam atau aku terpaksa membuat salah satu keponakanku di sini bersedih." Diam sejenak, dewa dengan surai hitam itu menambahkan dalam bentuk gumaman, "Meski sebenarnya tidak masalah, 'sih."

"Sudahlah, Paman," Saori menyela sebelum pertengkaran bodoh itu menjadi lebih serius. "Toh hukumannya sudah ditetapkan."

"Serius? Kok cepet banget?" Kardia kaget. Maklum, daritadi dia konsentrasi mengikuti obrolan ngalor ngidul kawan-kawannya dan bukannya memperhatikan rapat keempat dewa-dewi.

Sasha tertawa kecil. "Diputuskan kalau kita boleh memilih melakukan tiga macam hukuman dari daftar yang disediakan. Iya, daftar. Dewa-dewi yang lain tidak bisa memutuskan satu hukuman yang benar-benar mereka sukai, jadilah Seraphina-sama mengusulkan supaya semua ide hukuman ditampung dan kita diijinkan untuk memilih tiga dari semua ide itu."

"… Firasatku nggak enak," Albafica menggumam pelan.

"Lalu… mana daftar yang dimaksud?" Sisyphus bertanya mewakili teman-temannya.

Seraphina, sang sekretaris dan notulis rapat dadakan, mengoper sebuah kertas catatan kepada Sasha. Sang dewi balas memberikannya pada Sisyphus, dan anak buahnya segera mengitari sang Sagittarius untuk melihat apa yang tertulis di sana.

.

.

.

DAFTAR HUKUMAN:

1. Mengepel seluruh tangga Sanctuary sambil telanjang dada

2. Lompat kodok dari kuil Aries sampai kamar Pope lalu kembali lagi

3. Merayu Lizard Misty

4. Membotaki kepala

5. Berdandan crossplay dan melakukan cabaret

6. Mengenakan kostum maid dan melayani para partisipan lomba yang lain seharian penuh

7. Melakukan adegan rate M sambil direkam

8. Mendengarkan Shaka berceramah sambil duduk bersimpuh selama 4 jam non stop

.

.

.

Daftar tersebut sukses membuat mulut para Saint menganga lebar dan mengundang tawa para Marina dan Spectra.

"... Kok nggak ada yang mendingan sama sekali..." El Cid berkomentar pertama kali.

Defteros mendengus pelan, "Lompat kodok bisa dibilang ringan, tuh. Tapi dijamin kita bakal lumpuh selama beberapa saat."

"Aku nggak mau yang nomer empat!" Kardia histeris memegangi rambutnya, seolah-olah ada seseorang yang membawa gunting atau mesin cukur rambut di sana yang siap membabat habis surai biru keunguannya yang indah.

"Yang nomer tiga juga jangan," ucap Albafica dengan suara sedikit bergetar. Ia merinding membayangkan harus merayu Saint yang—menurut cerita Dohko—paling kemayu itu.

"Ini pasti ada campur tangan fujoshi," Shion menuduh. Bukan tanpa alasan, 'sih. Habisnya, tidak terbayang kalau salah satu dari tiga dewa-dewi itu mengusulkan agar mereka melakukan poin delapan.

... oke, bukannya tidak mungkin, sebenarnya. Tapi bukan waktunya membahas hal itu.

"Jadi... mau pilih yang mana?" Regulus menatap senior-seniornya.

Hasgard mengelus-elus janggutnya. "Kalau memang mau yang ringan, 'sih, berarti nomer dua, delapan, dan... antara yang nomer satu dan nomer enam, ya?"

"Kok nomer lima nggak diikutsertakan?"

"Kamu mau pakai baju perempuan, Regulus?"

"... Nggak, 'sih."

"Berarti memakai baju maid juga dicoreng, dan," Sisyphus melirik kawan-kawannya, "sisanya tinggal ngepel dengan telanjang dada."

"E-eh!?"

Para Gold Saints kontan menoleh ke arah asal suara—Sasha. Wajah gadis itu berubah warna menjadi semerah tomat. Matanya membesar, merefleksikan rasa kaget dan sedikit ketakutan. Anak buahnya menatapnya keheranan, ingin bertanya kenapa sang dewi tiba-tiba berteriak seperti tadi, namun ucapan Asmita menjawab pertanyaan tersebut.

"Athena-sama juga harus menjalani hukuman karena beliau termasuk bagian kelompok yang kalah, bukan?"

...

"OH IYA!" Wajah Regulus ikut-ikutan memerah. Bukan hanya dia saja, sebenarnya. Seluruh kamerad-kameradnya ikut memakai ekspresi yang sama saat menyadari apa yang akan terjadi kalau mereka melakukan hukuman 'mengepel sambil bertelanjang dada'. "Paman! Aku mau, deh, pakai baju cewek!"

El Cid mengangguk. "Crossplay ataupun memakai baju maid tidak masalah."

"Nggak!" Manigoldo memprotes dengan lantang. "Ogah pake baju cewek! No!"

"Manigoldo, kamu tega ngebiarin Athena-sama menunjukkan auratnya demi menuruti keinginan kita?" Sisyphus berusaha agar tetap kalem.

"Iya, gue tega. Lagian, aurat apaan? Biasanya juga pakai gaun tipis terus pamer dada, ampe kelihatan belahannya lagi!"

"MANIGOLDO!"

Jadilah para Saint itu bertengkar untuk menentukan ulang hukuman yang mereka ambil, yang sekiranya tidak akan menyulitkan baik junjungan mereka maupun diri mereka sendiri. Sementara pria-pria itu cekcok, kelompok Marina dan kelompok Spectra asyik menonton dan sesekali tertawa cekikikan kala terjadi sesuatu hal yang lucu; misalnya saat Manigoldo dimarahi, atau Regulus bertanya polos dan membuat senior-seniornya kelabakan.

Singkat cerita, mereka akhirnya mencapai kata mufakat.

"Jadi... kalian akan mendengarkan ceramah dari Virgo Shaka, merayu Lizard Misty, dan memakai baju maid untuk melayani peserta lomba yang lain. Benar begitu?"

Sasha mengangguk, lalu melirik rekan sesama dewa dan dewi-nya. Poseidon menyembunyikan wajahnya dengan cara berbalik menghadap ke tembok, tapi dilihat dari cara bahunya bergerak naik turun, sudah jelas bahwa ia masih berusaha menghentikan tawanya. Hades menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi mulut dan sebagian besar wajahnya, tapi seringainya yang selebar kucing Cheshire tidak bisa disembunyikan. Saori tersenyum biasa, tapi tampaknya ia juga mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa.

Sungguh, penderitaan kelompok abad ke-18 ini rasanya berat sekali...

.

.

.

Hukuman pertama: Mendengarkan Shaka berceramah dhamma selama 4 jam non stop sambil duduk bersimpuh.

Kelompok yang kalah dikumpulkan di kuil Virgo untuk menerima ceramah dari si pemilik kuil, Shaka. Dua belas orang itu duduk manis, menunggu Shaka yang duduk bersila di depan mereka untuk memulai ceramah. Sebagian dari mereka waswas, berharap mereka bisa menjalani hukuman ini dengan selamat.

"Sabbam Rasam Dhammaraso Jināti, Sabbam Ratim Dhammaratī Jinatiti." Reinkarnasi Asmita tersebut mulai berbicara setelah yakin suasana benar-benar hening. "Rasa Kebenaran mengalahkan segenap rasa lainnya. Kegembiraan dalam Kebenaran mengalahkan segenap kegembiraan lainnya. Dhammapada, bait ke-345."

Sepuluh menit pertama...

"... Bagaimana bisa merasakan kesejukan Dhamma, cara untuk meraih dan menikmati kabahagiaan hidup itu sendiri tidak diketahuinya..."

Suasana tenang dan khidmat. Belum ada reaksi apa-apa dari

Dua puluh menit kemudian...

"... Karena tidak pernah tersentuh oleh siraman air Dhamma sedikitpun, maka dapat kita bayangkan betapa panasnya pikiran manusia..."

Kardia, Manigoldo, dan Regulus mulai bergoyang-goyang dari posisi duduk mereka.

Sejam kemudian...

"... Tiga mara penggoda yang menyamar atau menyerupai wanita-wanita cantik adalah wujud dari keindahan materi yang dapat membuat orang terlena dan terbuai. Tetapi..."

El Cid menguap lebar, namun buru-buru menutup mulutnya saat melihat tanda-tanda Shaka akan membuka mata.

Dua jam berlalu sejak dimulainya ceramah...

"... orang yang memberikan argumentasi demikian, apakah bukan dengan melimpah ruahnya materi sehingga seseorang dapat memuaskan nafsu-nafsu keinginannya dan di situlah rasa bahagia dapat diperoleh? Karena, ibarat orang..."

Defteros dan Hasgard mulai mengantuk dan nyaris kehilangan kesadaran. Beruntung Shion dan Sisyphus, yang duduk di belakang mereka, segera membantu keduanya agar tetap terjaga.

Tinggal sejam sebelum ceramah berakhir...

Sasha terhuyung, jatuh bersandar di bahu Asmita yang ada di sebelahnya. Para Gold Saints panik, bimbang apakah harus tetap diam di tempat atau membangunkan sang dewi sebelum kena marah Shaka. Sang Virgo, yang memberi ceramah, menghentikan ceramahnya selama beberapa detik sebelum kembali berbicara.

Selalu ada pengecualian untuk titisan Dewi Athena.

Beberapa detik menjelang waktu habis...

"... Oleh karena itu, marilah kita memahami dan menghayati Dhamma, agar kita selalu hidup bahagia. Berkeyakinan pada Dhamma nan agung. Tanpa nafsu, tenang dan penuh bahagia. Berkeyakinan pada Sangha nan agung. Ladang pembuat jasa yang tiada bandingnya."

Begitu Shaka mengakhiri ceramahnya, sontak para Gold Saints menghela napas panjang. Beberapa malah membaca hamdalah atau puji-pujian syukur lainnya. Asmita membangunkan Sasha dan tersenyum kalem saat gadis itu terbangun dengan wajah memerah, malu karena telah membiarkan dirinya sendiri tidur beralaskan bahu si ksatria buta.

"Kalau sudah selesai, ayo kita segera ke tempat pelaksanaan hukuman selanjutnya," tukas Albafica seraya berdiri dan merenggangkan badan.

"Tunggu sebentar!" Kardia, Manigoldo, dan Regulus berteriak bersamaan, membuat rekan-rekan mereka menoleh. Ketiganya masih duduk bersimpuh di tempat awal.

Dégel mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa kalian? Ayo, berdiri."

"Itu dia masalahnya," Kardia mendesis tak senang. Protesnya dilanjutkan oleh Regulus dengan nada setengah merengek, "Kita nggak bisa berdiri gara-gara kesemutan! Bantuin, Pamaaaaan!"

Sisyphus menepuk jidatnya. Susah, punya keponakan di usia muda sepertinya...

.

.

.

Hukuman kedua: Merayu Lizard Misty.

Sebelas orang pejantan tangguh yang namanya harum karena status mereka sebagai Gold Saint dan jasa mereka dalam Perang Suci abad ke-18, berkumpul di salah satu sudut kuil Virgo. Tiga dari mereka—Hasgard, Regulus, dan Kardia—tampak memeluk rekan terdekat mereka sambil menangis.

Ya, menangis.

"Oi, udah dong nangisnya! Disuruh Saori-sama ke Pope Hall, tuh!"

Pelaku kejahatan yang menyebabkan tiga orang ksatria yang telah disebutkan di atas menangis berjalan keluar dari arah taman Twin Sala, yang menjadi tempat hukuman kedua. Ya, dialah Misty, (sepertinya) satu-satunya orang yang sanggup membuat para Saint gemetar bahkan menangis karena ngeri. Kardia dan Regulus makin beringsut di dalam pelukan Dégel dan Sisyphus, mata mereka menatap benci Misty. Ditatap seperti itu, sang Silver Saint hanya bisa sweatdrop.

"Lho, ini pada kenapa, 'nih?"

Suara yang amat sangat familiar itu membuat Shion menoleh ke arah pintu masuk kuil. "Dohko, 'kok, di sini?"

Dohko berjalan mendekati kawan-kawannya dan Misty sambil tetap memasang ekspresi bingung. "'Kok pertanyaannya begitu? Capek-capek abis pulang dari nganterin bocah-bocah buat naik bis di Athens, eh, bukannya disapa 'selamat datang' malah dikasih pertanyaan dingin begitu. Sakiiiiiiit hati ini!"

Kamerad-kameradnya sweatdrop berat. Dohko kesambet apa mendadak ngomongnya jadi seperti itu?

"Mereka nggak kenapa-kenapa, 'kok, Dohko," akhirnya Sasha yang memutuskan untuk menjawab. "Hanya... kelelahan setelah menjalani hukuman."

"Hukuman? Memang apa hukumannya?"

"Mereka mesti ngegombalin moi," giliran Misty yang menjawab. [2]

"Serius?" Dohko sumringah. Tak pernah terbayang olehnya seperti apa gaya kawan-kawannya, yang notabene lebih sering ngobrol tentang bertarung, bertarung, dan bertarung. Bahkan El Cid dan Manigoldo yang berasal dari dua negara yang terkenal akan kemampuan para kaum Adam-nya untuk memikat hati wanita juga jarang mengungkit-ungkit topik tentang perempuan. Sampai-sampai ia sempat mengira kalau semua Saint berjenis kelamin laki-laki itu gay, meskipun tuduhan itu dipatahkan kala sejarah mengaitkan mereka dengan Seraphina of Bluegaard dan Crane Yuzuriha.

Misty terkikik pelan. "Dua rius, Roushi! Sampai kaget, lho, ternyata mereka lumayan jago ngegombal."

"Wah, cerita dong!"

"Ah, daripada cerita, mending kita nonton bareng rekamannya, deh!"

Mata Defteros membelalak lebar. "Rekaman? Tadi kita direkam?"

"Iya, dong. Kapan lagi bisa ngeliat Gold Saints ngegombal? Makanya Pisces sama Siren ngebantuin moi buat ngerekam semuanya."

"Hoi, jangan ngomong-ngomong, dong!"

Yang barusan berbicara adalah Aphrodite. Androgini satu itu mengintip keluar dari balik tiang bersama Siren Sorrento. Mereka sama-sama memegang handycam. Kelihatannya mereka daritadi asyik merekam sosok para Gold Saints yang pundung di pojok kuil Virgo.

"Maaf, ya, soalnya ini perintah Poseidon-sama," Sorrento tersenyum tipis.

"Dan sebelum kalian ngomong, nggak, daku nggak bakal memusnahkan rekaman ini, nggak peduli kalian mau nyembah-nyembah macam apa juga!" tambah Aphrodite, yang diakhiri dengan tawa ala tokoh antagonis di film-film.

"Kenapa kita harus menyembah ke kamu kalau kita bisa menghabisi nyawamu?" Albafica tersenyum sadis, mengeluarkan mawar andalannya entah dari mana.

Sisyphus sweatdrop. "Kalem, Albafica, kalem. Itu reinkarnasimu, lho."

"Masa bodo'. Lebih baik saya reinkarnasi jadi ikan daripada jadi manusia macam dia."

Misty tiba-tiba tertawa, membuat semua orang menatapnya dengan tatapan 'OMG-apa-akhirnya-jadi-gila?'. Setelah ia berhenti, barulah ia berkata, "Sudah kuduga kalian tidak akan membiarkan kami memiliki rekaman itu... tapi kami sudah memprediksi hal ini dan memanggil seseorang untuk mengatasinya!"

Belum sempat satupun dari mereka menanyakan maksud ucapan Misty, tiba-tiba saja kesebelas Gold Saints yang tertekan jiwanya itu merasakan sesuatu mengikat tubuh mereka. Albafica, yang pernah merasakan hal yang sama, langsung mengerti.

"Griffin Minos...!"

"Iyaaa? Kamu manggil aku, sayang?"

Minos mendadak muncul dari balik tiang. Juga. Dan ia tidak sendiri—Balron Lune bersama dengannya. Albafica dan Shion mengerutkan dahi, sama-sama tidak senang melihat kedua Spectra itu di hadapan mereka, namun tidak mengatakan apa-apa. Lune hanya tersenyum sinis melihat ekspresi di wajah sang Saint Aries, sementara Minos tertawa pelan dan berkata,

"Kamu merengut begitu makin manis, deh, yang."

Kalau saja Minos berjalan lebih dekat lagi dan tangannya tidak terikat benang sialan yang dikendalikan Minos, Albafica akan mempersembahkan ratusan mawar (beracun) pada sang Griffin.

"Minos-sama, sebaiknya kita cepat-cepat membawa mereka untuk menjalani hukuman ketiga. Hades-sama dan yang lainnya pasti sudah tidak sabar menunggu," tegur Lune, secara tidak langsung meringankan penderitaan Albafica dari keharusan mendengarkan gombalan-gombalan Minos.

"Aku tahu, Lune. Nah, mari, tuan-tuan Gold Saints sekalian. Anda juga, Dewi Athena."

Menggerakkan jarinya, kesebelas Gold Saints ia buat agar berjalan mengikuti dirinya dan Lune keluar dari kuil Virgo. Keduanya sama sekali tidak memedulikan protes dan sumpah serapah yang diutarakan beberapa dari prajurit-prajurit loyal Athena itu. Sasha menghela napas panjang sebelum berjalan menyusul, meninggalkan Dohko dan ketiga androgini di sana.

"Nah, karena sekarang sudah sepi... yuk kita edit rekamannya!" ajak Sorrento senang.

"Yuk! Ah, Roushi ikut, yuk! Daripada nggak ada kerjaan," Aphrodite menawari.

Dohko tersenyum tipis dan mengangguk. Lumayan, bisa menjadi orang pertama yang melihat hasil rekaman teman-temannya menggombali Misty.

.

.

.

Hukuman ketiga: Melayani para partisipan lomba yang lain seharian penuh sambil mengenakan seragam maid.

Bayangkan betapa malunya para Gold Saints abad ke-18 ketika mereka masuk ke dalam Pope Hall, yang dijadikan tempat pelaksanaan hukuman ketiga, sambil mengenakan kostum French maid.

Bayangkan betapa malunya mereka saat puluhan pasang mata menatap mereka dari ubun-ubun sampai ujung kaki dibalut dalam busana serba hitam plus apron putih berenda.

Bayangkan betapa malunya mereka saat satu persatu mereka yang berada di dalam ruangan itu mulai tertawa, bersiul, dan berteriak jahil seperti "Kalian seksi banget!", "Coba rok mininya dipendekin lagi biar lebih hot, gitu!", "Pasang pose moe moe kyun, dong!", dan lain sebagainya.

"Hei, ayo mulai bergerak dan layani kita!" seru Poseidon sambil menyeringai lebar. "Makanan sama minumannya sudah disediakan di sebelah sana jadi kalian tinggal mengambil kalau kita minta, gampang, 'kan?"

'Gampang gundulmu!' umpat para Gold Saints berbarengan. Dalam hati, tentunya.

Sasha tertawa gugup. "Sudahlah, ayo kita mulai saja. Toh hanya sampai tengah malam nanti."

"Tengah malam?" Hades tertawa pelan. "Seharian bukan berarti sampai tengah malam sa—ouch!"

Kalimat sang Dewa Underworld terhenti karena keponakannya yang berasal dari abad ke-20 menginjak kakinya—ya, mereka berdua dan Poseidon duduk mengitari meja yang sama. Saori melempar senyum inosen ke arah pamannya yang satu itu sebelum menyatakan, "Iya, hanya sampai tengah malam. Silahkan dimulai."

Hades sebenarnya ingin mengutuki Saori, namun perhatiannya teralihkan saat Shion tiba-tiba mendekatinya dan menunjukkan senyum termanis yang bisa ia usahakan.

"Mau pesan apa, tuan?"

Suasana menjadi hening. Alasan utamanya adalah karena tidak ada yang menyangka bahwa Shion akan bergerak duluan dan langsung mengincar Hades, apalagi dia memberikan servis plus yaitu memasang pose imut saat menanyakan pesanan sang dewa. Bahkan Shion sendiri tidak percaya bahwa ia baru saja melakukan hal tersebut.

Tapi, bukan Hades namanya kalau ia speechless hanya karena hal begitu. Seringainya melebar sembari tangannya menangkup dagu Shion, mendekatkan wajah sang Aries dengan wajahnya.

"Kalau memesan kamu, boleh?"

Senjata makan tuan. Karena aksinya itu malah Shion yang speechless.

Kesampingkan insiden itu. Setelahnya Sasha dan anak buahnya mulai bergerak melayani semua orang yang ada di dalam aula besar itu. Beruntung jumlah mereka ada 12 orang, jadi tidak terlalu merepotkan. Beberapa kali sempat terjadi keributan karena beberapa dari mereka diperlakukan dengan senonoh (*uhuk* diusap *uhuk* bokongnya *uhuk*) tapi tidak sampai terjadi adu teknik bertarung.

Di tengah-tengah berjalannya proses hukuman itu, pintu aula terbuka dan Aphrodite, Dohko, Misty, dan Sorrento masuk ke dalam ruangan. Keempatnya menunjukan cengiran lebar dan puas, yang membuat sebagian besar dari penghuni ruangan penasaran kenapa mereka terlihat begitu bahagia.

"Oh, akhirnya kau datang juga, Aphrodite," Saori tersenyum seraya beranjak dari tempat duduknya. "Apa sudah kalian selesaikan?"

"Sudah, Athena-sama," sahut Aphrodite, yang segera menghampiri Saori dan menyerahkan sebuah kaset video. "Ini, silahkan."

Senyum di wajah dewi perang yang satu itu semakin melebar. Ekspresi serupa ditunjukkan oleh Hades dan Poseidon, juga beberapa anak buah mereka. Sasha dan anak buahnya sendiri memasang mimik wajah horor karena mereka bisa menebak apa yang direkam oleh kaset video itu. Sisanya, yang tidak tahu menahu tentang apa yang dilakukan Aphrodite, Misty, dan Sorrento beberapa jam yang lalu, hanya bisa diam kebingungan.

Dengan tepukan jarinya, tirai yang ada di bagian belakang ruangan mendadak tersingkap membuka, memunculkan sebuah layar televisi besar dan sebuah mesin pemutar kaset video yang sudah tersambung ke televisi tersebut. Entah sejak kapan benda-benda itu ada di sana, yang jelas Saga dan Shion kaget dibuatnya. Saori berjalan mendekati dan mengutak-atik mesinnya sebentar. Setelah selesai, ia menyalakan layar kemudian berbalik menghadap anak buah dan tamu-tamunya.

"Hadirin sekalian," ia memulai, "maaf sebelumnya saya melarang kalian pergi ke kuil Virgo untuk menonton acara hukuman kedua. Sebagai gantinya, saya persembahkan video ini dengan harapan Anda puas."

Setelah berbicara seperti itu, ia kembali ke tempat duduknya untuk ikut menonton. Aphrodite, Misty, dan Sorrento mengambil tempat duduk masing-masing sambil cekikikan. Dohko memilih untuk duduk di kursi kosong di dekat junior-juniornya yang kalem—Aldebaran, Mu, dan Shaka.

"Lho, Roushi, 'kok sudah pulang? Tidak jadi jalan-jalan bareng pengawas lomba lainnya?" Aldebaran iseng bertanya.

Tapi Dohko malah mengangkat jari telunjuk ke bibirnya, mengisyaratkan pada Aldebaran untuk diam. "Ssh, ngobrolnya nanti saja, ya."

Perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan segera tertuju ke arah layar televisi. Tampaknya video tadi berisi sebuah film singkat... yang dibuat oleh Aphrodite dan kawan-kawan. Musik latar bergaung sementara opening yang menunjukkan nama-nama mereka yang melakukan video editing ditunjukkan. Setelah beberapa saat, pemandangan taman Twin Sala muncul.

Adegan dimulai.

.

.

.

Giliran pertama, Aries Shion.

Misty tampak kesulitan menahan tawanya saat lelaki yang ia kenal sebagai pemegang status tertinggi dalam jajaran Saint Athena berdiri di hadapannya dengan ekspresi gugup dan pipi merona. Meski begitu, Misty sabar menunggu Shion mulai berbicara.

Setelah dua menit lewat, pria asal Jamir itu menghela napas. "Lizard Misty."

"Iya, Pope?"

"Lepasin cloth kamu, sekarang."

Misty mengerjapkan matanya beberapa kali—bukan, bukan karena dia kelilipan. "... Ih, Pope Shion ganjen nyuruh moi buka-buka di sini!"

Shion memasang wajah datar, tapi terlihat jelas bahwa ia sedang menahan diri untuk tidak melempar benda keras dan besar terdekat ke arah Misty. Tidak diberi respon yang berarti, Misty malah salah tingkah dan tertawa gugup.

"Bercanda, Pope. Emang kalau moi beneran ngelepas cloth di sini, vous mau apa?"

"Aku mau bertanya pada cloth-mu tentang sejarah hidupmu dan mencari tahu apakah ia akan menerimaku menjadi pendamping hidupmu, menjadi orang kedua yang akan melindungimu."

Misty terdiam. Matanya melebar kaget. Benarkah yang mengatakan kalimat tadi adalah Aries Shion yang itu?

.

Giliran kedua, Taurus Hasgard.

Kali ini ada jeda yang saaaaaangat lama antara kemunculan Hasgard di layar dengan dimulainya proses rayu-merayu. Misty sampai bosan menunggu, jadi dia menyempatkan diri untuk mengikir kuku tangannya dan membetulkan make up. Ketika akhirnya sang Kerbau berbicara...

"Kamu..."

"Moi kenapa?"

"... cantik."

Hening lama. Misty mengira Hasgard akan melanjutkan dengan kalimat-kalimat romantis atau apa, jadi ia diam menunggu dengan sabar. Tapi setelah tiga menit lewat dan lawan bicaranya tidak mengatakan apa-apa lagi, ia bertanya, "Ng... gitu aja?"

"I-iya."

Misty facepalm. Kamera sedikit bergetar. Sepertinya si kameramen—entah Aphrodite atau Sorrento—terpeleset ala gag comic saking syoknya karena inkarnasi Aldebaran itu tidak bisa mengusahakan kalimat romantis apapun.

.

Giliran ketiga, Gemini Defteros.

"Hei," Defteros mencondongkan tubuhnya agar dapat melihat Misty dari jarak yang lebih dekat. "Kamu... kalau dilihat dari dekat ternyata mirip iblis, ya. Jangan-jangan, kamu iblis, ya?"

"Sembarangan! Maksudnya moi jelek, gitu?" Misty mulai ngamuk.

"Eits, bukan gitu... kalau kamu iblis beneran, 'kan, kita cocok karena sama-sama iblis."

Misty yang ingin mengamuk jadi terdiam. Entah dia harus kembali marah atau senang karena dibilang cocok jadi pasangan makhluk ganteng macam Defteros.

.

Giliran keempat, Cancer Manigoldo.

"Yo, Lizard Misty!" Sang kepiting berjalan mendekati targetnya dengan santai.

"Yo juga, Cancer Manigoldo!" sahut Misty. Agak aneh juga, 'sih, karena rasanya seperti berbicara dengan Deathmask.

Manigoldo mengambil tempat duduk di sebelah Misty, yang tengah berteduh di bawah salah satu pohon Sala. Misty tidak keberatan. Toh, tidak ada larangan untuk mendekati target saat melancarkan gombalan.

"Sanctuary abad ke-20 beda banget, ya, sama abad ke-18."

"Iya, gitu? Perasaan kata Pope Shion sama aja."

"Beneran! Ada satu tempat baru yang nggak ada di abadku. Kamu mau nemenin aku dan nunjukin jalan aman ke sana nggak?"

"Hm... boleh aja, 'sih. Emang vous mau ditemenin ke mana?"

"Ke hatimu."

Misty nyengir. Gombalan standar, tapi lumayan, lah. Samar-samar suara gumaman Aphrodite melatari adegan tersebut.

"Inkarnasinya Angie boleh juga ternyata..."

.

Giliran kelima, Leo Regulus.

Singa muda itu masuk ke dalam jarak pandang kamera sambil menangis. Lebih tepatnya, 'sih, berpura-pura menangis.

"Misty! Kamu mesti tanggung jawab!"

Misty memasang mimik wajah kaget. "Hah? Kenapa? Moi, 'kan, nggak ngehamilin vous!"

Kamera suskes menangkap perubahan ekspresi sesaat Regulus. Dari sedih menjadi jijik lalu kembali sedih lagi. "Emang nggak, tapi..."

"Tapi?"

"Tapi gara-gara ketemu kamu mataku jadi aneh! Dari yang bisa ngeliat kekuatan musuh-musuh aku, sekarang Cuma bisa ngeliat sosok kamu seorang!"

Kamera bergetar lagi, dan sepertinya ada suara "Buh!" keras. Seperti seseorang yang hendak tertawa tapi langsung sadar kalau ia tidak boleh melakukannya jadi segera ditahan dengan menutup mulut dengan tangan, begitu. Kalau ditanya siapa yang mengalaminya, 'sih... sudah jelas siapa, 'kan?

.

Giliran keenam, Virgo Asmita.

Misty melengos. Sebenarnya ia sudah menduga kalau giliran Asmita adalah yang paling lama. Tapi ia juga punya harapan kalau Asmita akan segera berkata kalau dia menyerah karena tidak bisa memikirkan kalimat rayuan apapun, sehingga mereka bisa segera berpindah ke giliran selanjutnya.

Namun, apa yang terjadi?

Begitu memasuki taman dan tiba di hadapan Misty, ia langsung duduk bersila, seperti sedang meditasi. Apa yang kau harapkan dari inkarnasi Virgo Shaka?

"Oooi! Situ disuruh ngegombalin saya, 'nih!" seru Misty frustasi setelah 10 menit berlalu dalam keheningan.

Asmita masih bergeming.

"Aduuuh... khusyuk amat. Oi, jangan meditasi di sini!"

"Siapa bilang saya meditasi?" Lelaki buta itu akhirnya menyahut.

"Eh, ternyata... hehehe, maaf. Terus, kalau bukan bermeditasi, 'kok, vous duduk bersila sambil diam begitu?"

"Saya hanya sedang memikirkan kalimat untuk merayu kamu..."

"Oh... yaudah, sok atuh, diutarain."

"Tapi saya tidak bisa memikirkan satu kalimatpun... bayang-bayang wajahmu memenuhi otak saya dan suaramu yang indah tidak berhenti bergaung di telinga saya."

Misty mengerjap. Bukan, bukan karena kaget Asmita ternyata bisa menggombal, tapi karena kalimatnya itu. Memangnya Asmita tahu wajahnya seperti apa, ya?

.

Giliran ketujuh, Athena Sasha.

Tampak sang Dewi dan Misty duduk bersama di bawah pohon Sala. Sasha tengah merajutkan sebuah gelang bunga untuk Misty, sementara pria berwajah cantik itu mengamati gerak-gerik si gadis. Rasanya damai kalau memandang wajah titisan dewi perang itu.

"Sudah jadi!" Sasha berseru senang lalu membantu Misty memakai gelang tersebut.

"Terima kasih, Sasha-sama," ucap Misty setelah yakin gelangnya tidak akan jatuh.

"Sama-sama," gadis berambut ungu itu tersenyum lebar sambil menatap lurus mata Misty. "Misty, apa kamu senang dilahirkan seperti ini? Maksudku, dilahirkan dengan takdir sebagai seorang Saint?"

"Hm? Tentu saja senang, Athena-sama. Bekerja untuk Anda—atau lebih tepatnya, reinkarnasi Anda—adalah kehormatan besar."

"Kalau aku... aku tidak senang. Aku lebih memilih untuk lahir menjadi air mata."

Misty mengerjap bingung. "Air mata?"

Sasha mengangguk. "Karena aku ingin lahir dari matamu yang indah, hidup di pipimu yang manis, dan mati di bibirmu yang menggoda."

...

Untuk pertama kalinya, pipi Misty merona merah. Maklum, baru kali ini dia menerima gombalan dari seorang perempuan. Biasanya, 'kan, dia yang menggoda perempuan (dan laki-laki).

.

Giliran kedelapan, Scorpio Kardia.

"Bersiaplah untuk mati, Lizard Misty!"

Sesaat, Misty melupakan kemungkinan bahwa kalimat itu mungkin saja bagian dari cara Kardia menggombal. Wajar, 'sih, kalau dia lupa. Pasalnya, Kardia benar-benar terlihat seperti ingin membunuhnya. Ia bahkan mengambil ancang-ancang dan meningkatkan cosmo untuk melancarkan jurus, yang membuat rekan-rekannya (ya, Sasha dan Gold Saints lain ikut menonton sambil menunggu giliran) panik.

"Kardia! Hentikan!" Shion berseru. Ia dan Sisyphus siap berlari ke arah sang kalajengking kalau-kalau Kardia terbukti serius ingin membunuh Misty.

"Diam kalian! Biarkan aku membunuh si kunyuk satu ini dengan seluruh kekuatanku... supaya aku bisa ikut mati setelahnya, supaya aku dan dia sehidup semati!"

...

Hening. Tidak ada yang bergerak selama beberapa menit, hingga akhirnya...

"DÉGEEEEEEEEEEEELLLLLL!" Kardia berlari ke arah sahabatnya itu sambil menangis, yang tentunya membuat semua orang lebih kaget dari sebelumnya. "GUE GA MAU TAU CARANYA, TAPI TOLONG BUAT GUE AMNESIA! GUE EMOH NGINGET PERNAH NGOMONG KAYAK GITU KE MAKHLUK JEJADIAN MACAM DIA!"

"Heh! Seenaknya aja ngatain moi makhluk jejadian!"

Adegan ditutup dengan Sasha dan Shion yang mencoba menenangkan Misty yang ingin mencakar wajah Kardia dan Dégel yang geleng-geleng kepala sambil mengelus kepala sang Scorpio, seolah-olah mencoba menenangkan seorang anak kecil.

.

Giliran kesembilan, Sagittarius Sisyphus.

"Permisi, Lizard Misty..." Sisyphus menyapa dengan senyum ramah, padahal dalam hatinya sudah ketar-ketir merasa tidak enak karena sebentar lagi ia akan menggombali lawan bicaranya.

"Mau ngomong apaan?" balas Misty jutek. Dia masih kesal karena dihina secara blak-blakan oleh Kardia.

"Mm... mau nanya aja, lihat panah saya nggak?"

"Nggak, tuh!"

"Lho, 'kok, aneh, ya?"

"Aneh apanya?"

"Tadi saya menembakkan panah cinta ke kamu sambil berharap supaya kamu bisa jatuh cinta sama saya... ternyata nggak kena, ya?"

Misty diam menatap Sisyphus. Yang ditatap masih tetap tersenyum lembut. Di saat seperti ini, Misty benar-benar menyayangkan fakta bahwa dia tidak dilahirkan sebagai seorang perempuan...

.

Giliran kesepuluh, Capricorn El Cid.

"Lizard Misty."

Misty, yang mulai kelelahan karena sesi rayu-merayu yang berlangsung lebih lama dari dugaannya ini, menjawab seadanya. "Ya?"

"Tahu nggak, Athena-sama sering menyuruh kami, para Gold Saint, untuk apel. Tapi aku selalu menolak datang."

"Kok gitu? Kamu, 'kan, Gold Saint, harusnya setia dan selalu menjawab perintah Athena untuk apel, dong."

Sebenarnya, 'sih, Misty sudah bisa menebak bagaimana gombalan El Cid akan berakhir, tapi dia tetap merespon sambil berharap bahwa semuanya cepat selesai.

"Memang. Tapi aku lebih memilih ngapel di hati kamu."

... tuh, 'kan.

.

Giliran dua dari terakhir, Aquarius Dégel.

Ah, Dégel. Inkarnasi dari Camus, yang notabene berasal dari negara yang sama dengannya. Ingin, deh, mendengar pria ganteng satu itu berbicara, lalu kalau ternyata Dégel juga bisa berbahasa Perancis, mungkin mereka bisa mengobrol banyak.

"Misty."

Misty hanya menggumam 'hmm' pelan untuk menjawab sapaan lelaki di hadapannya itu.

"Kenapa kamu dekat-dekat ke saya begini?"

"Ya habisnya vous duduk di samping moi yaudah~"

Memang, Dégel mengikuti jejak Manigoldo dan Sasha yang memilih untuk duduk sambil melancarkan gombalan mereka meski, tidak seperti keduanya, ia mencoba duduk sambil menjaga jarak. Namun, mau apa dikata, sang Lizard ikut menggeser posisi duduknya agar mereka bisa berdekatan tiap kali Dégel mencoba menjaga jarak.

Sang Aquarius menghela napas panjang. "Tolong jaga jarakmu dengan saya."

"Lho, kenapa mesti? 'Kan, moi jinak, nggak bakal ngegigit," Misty cekikikan.

"Oui, mais..." Dégel mengalihkan pandangannya, berakting malu-malu. "Toi est drôlement bonne. Quand tu me regardes comme ça, je fonds." [3]

...

"OI, MAKHLUK JEJADIAN, JANGAN SEENAKNYA MELUK DÉGEL!"

.

Giliran terakhir, Pisces Albafica.

Albafica tersenyum. Ya, dia tersenyum. Tumben sekali, bukan?

Yah, mana mungkin dia tidak tersenyum melihat penampilan Misty yang berantakan setelah sempat beberapa detik adu jotos dengan Kardia?

"Apa senyum-senyum?" Misty bertanya jutek, merasa dihina.

"Ah, tidak... hanya berpikir kalau kita cocok."

"Kenapa berpikiran begitu?"

"Karena warna rambutku biru dan warna rambutmu kuning keemasan."

Misty mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti. Albafica, masih tersenyum, melanjutkan, "Warna biru itu melambangkan kesetiaan cinta kita pada satu sama lain, sementara warna kuning menunjukkan bahwa kisah cinta kita akan selalu bahagia."

Sang Silver Saint melongo heran. "Kamu beneran inkarnasinya Aphrodite, 'nih?"

.

.

.

Rekaman tersebut berakhir dengan beberapa komentar-komentar gaje Aphrodite dan Misty yang diiringi irama musik yang sama gajenya. Tapi tidak ada satupun yang peduli dengan hal itu karena sebagian besar dari mereka sudah terlalu lelah untuk menonton credit roll. Lelah karena tertawa terbahak-bahak, pastinya.

Sementara yang lain berusaha mengatur nafas dan meredakan sakit perut karena terlalu banyak bertawa, para Gold Saints yang menjadi korban keusilan Athena Saori itu kini tengah meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk lutut. Malu. Ingin menangis. Siapa, 'sih, yang tidak merasa down kalau berulang kali ditertawakan karena dipermalukan secara terang-terangan? Sasha sendiri Cuma bisa tersenyum canggung. Mau bagaimana lagi? Dia, 'kan, tidak bisa mengatur kelakuan reinkarnasinya.

Saori kembali berdiri di dekat layar televisi. "Bagaimana? Apakah kalian puas?"

"Bangeeet!" sahut sebagian yang masih kuat bersuara. Sisanya hanya mengangguk mengiyakan atau mengacungkan jempol tangan atau bahkan jempol kaki.

"Bagus. Nah, tujuan saya menunjukkan video ini ke Anda sekalian, selain untuk meminta maaf, adalah untuk meminta saran kalian."

"Saran?" Seraphina, yang akhirnya berhasil mengontrol kecepatan nafas dan jantungnya, bertanya.

"Benar." Saori tersenyum licik. "Berhubung waktu berkunjung tamu-tamu dari abad ke-18 masih tersisa beberapa hari lagi, saya berpikir untuk membuat video lain lagi, dibintangi oleh mereka tentunya. Menurut kalian, tema apa yang bagus untuk video itu?"

Cheshire langsung mengangkat tangan, lalu memberikan pendapatnya setelah mendapatkan perhatian Dewi Athena. "Parodi iklan-iklan tertentu aja! Macam parodi iklan L-M*n atau apa, gitu."

"Jangan! Mending sinetron pendek aja!" tukas Io.

"Atau video klip! Jumlah mereka pas buat bikin boyband!" tambah Orphee.

Suasana kembali ramai sementara mereka saling mengajukan ide mereka masing-masing. Keberadaan Sasha dan anak buahnya di ujung lain ruangan terlupakan. Mereka diam tak bersuara, terlalu syok karena mendengar Saori hendak mengeksploitasi daya jual mereka. Hingga akhirnya Manigoldo angkat bicara dan ikut memberikan ide, meskipun idenya itu hanya didengar oleh kamerad-kameradnya karena memang ditujukan kepada mereka.

"Bunuh diri bareng-bareng, yuk?"

.

.

.

Tamat

.

.

.

[1] Rizogalo: rice pudding-nya Yunani. Albafica Gaiden belum diterjemahin ke bahasa yang saya mengerti jadi kalau misalnya di sana dijelasin Alba berasal dari negara mana, ya... maaf aja, saya, 'kan, ga tau -,-

[2] French pronoun: saya baca di Wiki katanya si Misty asalnya dari Perancis, jadi daripada make logat banci ala Indonesia (eike, yey... malah mau saya tulis ijk, je soalnya asal katanya itu dari bahasa Belanda) mending sekalian aja saya kasih logat Perancis (moi, vous) XD

[3] Oui, mais... Toi est drôlement bonne. Quand tu me regardes comme ça, je fonds: Ya, tapi... kamu terlalu seksi. Kalau kamu menatap saya seperti itu, bisa-bisa saya meleleh. Agak nggak nyambung? Memang, soalnya harusnya pakai bahasa Inggris hehe. Seksi di sini maksudnya 'hot', makanya Dégel bilang dia bakal meleleh, begitu.

.

.

.

Maaf, ujung-ujungnya garing. Biasa, saya nggak pinter mengakhiri chapter / fic.

Anyway, sekali lagi makasih banyak yang udah ngereview, yang udah nyemangatin buat update dan juga yang udah nge-fave apalagi nge-follow fanfiksi aneh ini. Juga yang udah rela saya gangguin sama banyak hal dalam proses pengerjaan fanfiksi ini. You know who you are.

Review baik itu berupa pujian, kritik ataupun saran ditunggu.

Oh, dan... yang mau ngehajar saya kemarin siapa, tuh? Sini silahkan hajar saya. Tapi lawan kakek saya dulu. *ngumpet di belakang Dohko*