DISCLAIMER

Meiko, Kagamine Len & Rin © Crypton Future Media, Inc.

GUMI © Internet Co., Ltd.

Storyline by Shigeru Blackrose

Art © Haruma on Pixiv


CHAPTER II

The Phone Call


Ya Tuhan. Aku berharap aku tidak pernah membaca ramalan sial itu.

Dengan nafas tertahan, Len akhirnya meraih ponselnya di saku hoodie-nya. Sulit baginya untuk menolak permintaan saudari kembarnya meski sebenarnya ia enggan untuk melakukannya. Ia pun mulai mencari nama Miku di daftar kontaknya dan segera menghubunginya tanpa basa-basi.

"Haloo?"

"Miku-nee!" sahut Len sedikit lega mendapatkan sebuah respons dari lawan bicaranya. "Lama sekali! Kau dimana? Kami sudah menunggumu selama sejam lebih, tahu!"

" . . . Araa, Len-kun?" sahut sebuah suara wanita dewasa—kedengarannya dia mabuk—dari seberang sana. "Ini—hik—dengan Meiko. Kau mau sakee—hik?"

Len terdiam sejenak, lalu melihat layar panggilannya.

"Haloo? Len-kun? Ada apa—"

Tut. Tut. Tut.

"Kok dimatikan sih?" protes Rin. "Setidaknya kau bisa memberikan handphone-nya padaku kalau kau nggak mau ngomong."

"Salah sambung," jawab Len memalingkan muka, berusaha untuk tidak terlihat merona. "Efek kekhawatiran yang berlebihan, mungkin."

Rin sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu—karena menurutnya Len terlihat sangat konyol setiap kali mengarang alasan—namun saudaranya itu berhasil menyikutnya agar ia tak tampak begitu memalukan. Len tidak ingin mendapatkan masalah lebih besar dari ini.

Pemuda itu berdehem sambil memastikan bahwa kali ini ia menghubungi orang yang benar, lalu sekali lagi menekan tombol panggil. Suasana sempat hening sejenak, sebelum akhirnya sebuah suara di seberang menjawab nada sambung.

"Halo, Miku di sini. Aku sedang sibuk, tapi kau bisa meninggalkan sebuah pesan untukku setelah bunyi 'biiip'."

"Bagaimana?" tanya Rin penasaran. "Apa katanya?"

"Tidak bisa," ujar Len menggelengkan kepalanya. "Terhubung ke kotak suara."

"Coba lagi," desak Rin antusias. "Mungkin ia sedang ke kamar mandi."

Kembali hening.

"Halo, Miku di sini. Aku sedang sibuk, tapi kau bisa—"

Len memutuskan panggilan sebelum pesan otomatis itu berakhir karena kesal. "Lagi-lagi," keluhnya. "Sebenarnya dia ngapain sih? Setidaknya jika sekiranya ia akan datang terlambat, ia kan bisa memberitahu kita dulu lewat SMS."

Rin menyandarkan dirinya ke pohon sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya dan menghela nafas lelah. "Apa kita ke sana sendiri saja ya . . . "

"Memangnya kau tahu dimana studio itu?"

"Sama sekali tidak," balas Rin tak terdengar begitu bersemangat. "Kalau aku tahu, pasti sudah dari tadi aku memintamu untuk mengantarkanku ke sana."

Saat Len akan memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya karena tak tahu harus berbuat apa lagi, benda itu pun mengeluarkan suara yang amat nyaring, mengejutkan Rin yang sedang asyik mengunyah permen karet rasa jeruknya. Ia nyaris tersedak hebat, beruntung permen itu tidak tersangkut di dalam kerongkongannya.

"Mou, Len! Bisakah kau kecilkan volume MP3 Player-mu sedikit?" Rin mendengus. "Untung permen karetku tidak tertelan karena kaget! Kau mau membunuhku?"

"Salahmu sendiri mudah sekali terkejut oleh hal-hal begini. Lagipula aku tidak sedang memutar musik, kok. Ini nada dering handphone -ku," balas Len tanpa ekspresi, menunjukkan layar ponselnya yang berkelap-kelip tanda adanya panggilan masuk pada saudarinya lalu mengangkatnya segera. "Ya, halo."

"Len?" tanya sebuah suara di seberang sana. "Ini dengan Len, kan?"

"Begitulah," jawab Len tak ingin bertele-tele. "Siapa ini?"

"Ya ampun, tolong jangan katakan padaku kalau kau lupa denganku," suara itu terdengar cukup kecewa."Masa' kau sama sekali nggak menandai suara sahabatmu sendiri?"

Len kembali melihat layar panggilannya.

"Ah—ahahaha, mana mungkin aku lupa denganmu, Gumi," balas Len dengan tawa yang tampak jelas dibuat-buat. "Aku tadi hanya bercanda, kok."

"Len no baka," sindir Rin memecahkan balon permen karetnya. "Makanya, lihat-lihat dulu dong siapa yang menelpon sebelum mengangkatnya. Memalukan."

"Cerewet ah," gerutu Len kesal, lalu kembali pada lawan bicaranya di telepon. "Maaf, maaf. Tadi ada sedikit gangguan. Ada perlu apa menelponku?"

"Sebenarnya bukan sesuatu yang penting," balas Gumi, "apakah kau sempat bertemu dengan Miku hari ini?"

Len mengerutkan keningnya. Ada sedikit kecurigaan tersirat dari raut wajahnya, tetapi ia memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu. "Tidak. Kita malah sedang berpanas-panas ria di Central Park menunggunya. Yah, semacam janji temu begitulah. Memangnya ada apa dengan Miku-nee?"

"Oh . . . Ya sudahlah kalau begitu. Mungkin ia sedang beristirahat di apartemennya karena kecapekan. Trims deh"

"Tunggu, tunggu dulu," potong Len, kali ini dari suaranya ia terdengar benar-benar serius. "Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa yang terjadi dengan Miku-nee?"

Rin tampak sangat penasaran dengan pembicaraan itu, jadi ia menempelkan telinganya ke ponsel kembarannya agar dapat mendengar perbincangan itu lebih jelas.

Sementara itu, Gumi terdengar masih menimbang-nimbang apakah ia harus bercerita pada si kembar atau tidak. Pembicaraan itu sempat menjadi sunyi untuk beberapa saat, tetapi tak lama kemudian ia akhirnya memutuskan untuk berbicara.

"Um, begini, aku sedang merapikan partitur-partitur lagu yang baru ditulis oleh Miku di ruang audio, lalu tiba-tiba aku mendengar semacam suara teriakan dari dalam ruangannya. Kupikir ia membutuhkan bantuan, jadi aku segera meninggalkan pekerjaanku dan bergegas ke sana. Setelah kuketuk pintunya, tidak ada jawaban. Malah aku berpikir itu hanya semata-mata perasaanku saja. Sayangnya, saat kucoba untuk masuk dan melihat keadaan, pintunya malah terkunci."

"J-Jangan-jangan, Miku-nee tersedak permen dan pingsan di dalam ruangan tertutup," tuduh Rin asal-asalan dengan wajah gugup.

"Hei, hei. Itu tidak mungkin, kan?" ujar Len pada saudarinya dengan ekspresi tak percaya. "Jangan samakan Miku-nee denganmu dong. Ia tidak seceroboh kau."

"Sembarangan. Aku nggak ceroboh kok! Aku hanya sedikit . . . terlalu bersemangat." Rin mengakui. "Lagipula, aku 'kan cuma menebak. Kenapa kau tiba-tiba jadi sewot begitu?"

Len memutar matanya, berusaha mengabaikan komentar Rin. Ia benar-benar malas beradu mulut dengannya, karena hal itu hanya akan menguras tenaga dan pikirannya dengan sia-sia. Ia pun kembali memfokuskan dirinya pada pembicaraan telepon itu.

" . . . Lalu? Kau sudah mencoba membuka pintunya dengan kunci serep?"

"Makanya dengarkan dulu ceritaku seutuhnya," jawab Gumi menarik nafas panjang. "Sekarang aku sedang mencari kunci serep itu, tetapi berdasarkan pengamatanku lewat jendela kecil di pintu, di ruangan itu memang tidak ada siapa-siapa. Hanya tumpukan kaset lagu dan tumpukan kertas partitur di atas mejanya. Aku juga mencari-cari kemungkinan ia berada, tetapi aku tidak bisa menemukannya di manapun. Padahal, kunci mobilnya masih tersimpan di ruang audio."

"Intinya, Miku-nee menghilang."

"Kurasa begitu."

Len menoleh ke arah kembarannya dengan senyum memaksa. "Rin, sedikit kabar buruk untuk kita berdua."

"Eits. Jangan berkata apa-apa karena aku sedang mencoba membaca pikiranmu, kembaranku yang cakep," sela Rin sambil memejamkan kedua matanya. "Aku berani bertaruh rencana kita gagal total karena Miku-nee tidak bisa datang. Dan itu berarti pengorbanan kita selama satu jam tadi menjadi sia-sia."

"Yah, memang tepat, tetapi situasinya sepertinya lebih buruk dari itu," Len melangkah menuju motornya, masih tetap berhubungan dengan temannya lewat telepon. "Gumi, bisakah kau memberitahuku alamat studio musik kalian? Aku dan Rin akan segera ke sana sekarang."

"Akan kukirim via SMS—" Gumi menghentikan kata-katanya, lalu seketika nada bicaranya berubah menjadi panik. "—Uhm. Len? Kalau kau ingin kemari, kurasa kau harus sedikit lebih cepat."

"Ada apa? Kau bertemu dengan Miku-nee?"

"Tidak, tetapi kau mungkin harus melihat ini secara langsung. Aku khawatir Miku dalam bahaya."

Pembicaraan itu terputus sebelum Len sempat bertanya, namun pemuda itu tahu ia harus segera bertindak. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kakak sepupunya itu—walaupun itu hanya hipotesa belaka. Ia pun segera meraih helm kuningnya yang terkait di setir motor dan mengenakannya, lalu menaiki motornya diikuti oleh Rin yang tampak khawatir.

"Pegangan yang kuat, Rin. Aku akan sedikit ngebut."

.

.

.

TO BE CONTINUED


AUTHOR'S NOTE

Finally, chapter 2 is out!

Pertama-tama, terimakasih buat teman-teman yang udah ngasih support ke Shigeru, akhirnya ini chapter kelar juga ヽ(;▽;)ノ *yangtentunyamakingejeuhuk

Nggak banyak yang mau Shigeru omongin—soalnya Shigeru emang ga jago ngomong dan ga tau apa yang mesti diomongin—jadi to the point aja: makasih buat kalian yang masih ngikutin fanfic ini ( ´ ▽ ` )ノ. Shigeru Blackrose, signing out!