Kuroko no Basket - Fujimaki Tadatoshi

Fifteen

Enjoy the show!

"Minggu ini sekolah kita akan mengadakan festival penyambutan murid baru, yang sudah menjadi tradisi untuk Teikou setiap tahunnya. Tetsuya-sensei akan menjadi pembina pada festival tahun ini, kita harus membantunya." jelas seorang pemuda berambut merah dengan bola mata yang berbeda warna. Merah dan emas. Namanya Akashi Seijuurou. Ketua OSIS di SMA Teikou, yang resmi menjabat kedudukan tersebut saat perkenalan kemarin. Entah apa yang ia lakukan sehingga seluruh anggota OSIS yang terdiri dari siswa kelas dua itu memintanya untuk menjadi pemimpin mereka. Mungkin karena aura kepemimpinannya, atau aura mengintimidasinya. Entahlah, hanya Tuhan dan mereka yang tahu.

Hari ini, si pemilik rambut berwarna merah itu mengadakan rapat kecil-kecilan bersama teman-teman satu SMPnya itu. Tapi entah kenapa, yang mendengarkannya hingga akhir hanya si mantan wakil OSIS di SMP Teikou, Midorima Shintarou. Si pemilik surai hijau dan mengenakan kacamata itu sibuk memperhatikan dan mencerna setiap kata-kata yang ia ucapkan. Sedangkan yang lainnya sibuk dengan pekerjaan tidak penting mereka. Si pirang, Kise Ryouta, sedang sibuk berbicara dengan managernya dengan wajah dan mata yang berbinar. Akashi hanya dapat menangkap beberapa kata yaitu, hadiah, Kurokocchi, spesial. Lalu satu-satunya pria berkulit gelap diantara mereka, Aomine Daiki, malah tertidur dengan pulasnya. Ingatkan Akashi untuk kembali melempari si pemalas itu dengan gunting-gunting koleksinya. Lalu yang terakhir, satu-satunya yang tingginya mencapai dua meter, Murasakibara Atsushi sibuk dengan camilan yang baru saja di berikan oleh guru mereka saat makan siang.

Si surai merah hanya menghela nafas sebelum berdehem cukup keras untuk menarik perhatian mereka kembali padanya. "Kita akan membagi tugas, siapa saja yang berhak membantu Tetsuya-sensei. Kumpul kembali disini saat pulang sekolah." tambahnya sebelum berdiri dan berjalan kembali ke kelas. Keempat siswa lainnya hanya mengangguk dan beranjak ke kelas mereka masing-masing.

Aomine mengacak helaian rambut biru tuanya dengan tangan kanannya. Ia menguap tanpa peduli untuk menutup mulutnya dengan telapak tangan atau sapu tangan. Dengan setengah mengantuk dan berjalan dengan berat hati, ia menuju kelasnya. Sekarang pelajaran dari Izuki Shun. Sejujurnya, ia sangat ingin membolos dari pelajaran itu. Izuki lebih banyak membuat lawakan yang amat sangat tidak lucu dari pada mengajar materi yang seharusnya diajarkan hari itu. Tapi, ia sudah berjanji pada Kuroko, atau Tetsu-sensei untuk tidak membolos. Aomine tidak tega untuk menolak atau mengingkari janjinya. Ia tak tega melihat wajah kecewa yang ditunjukkan guru tercintanya itu. Belum selesai acara berpikir tentang guru kecil nan manisnya itu, seseorang menabraknya dan seketika ia membuka matanya.

Warna biru muda memenuhi jarak pengelihatannya. Tetsu-sensei. Pikirannya berteriak dan tangannya menjulur untuk menarik guru mungil itu kepelukannya sebelum si pria berambut biru muda itu menyentuh lantai keras. "Kau tak apa, Tetsu-sensei?" tanya Aomine pada gurunya. Ia berusaha cuek, namun, pipinya terasa panas karena ia sedang memeluk gurunya, ralat, guru terfavoritnya. Setelah ia mendapat respon yang tidak lain adalah anggukan, ia melepaskan pelukannya dan menatap, menunduk, ke arah guru bimbingan konseling itu.

"Pelajaran sudah dimulai, Aomine-kun." Kuroko menatap muridnya itu dengan wajah datar, namun matanya menunjukkan sedikit kekecewaan. Ia menduga bahwa muridnya akan membolos kelas lagi. Namun ia tersenyum saat muridnya mendengus kesal dan segera berlari menuju kelas. Setidaknya, iya tidak perlu menggunakan puppy eyes-nya lagi untuk membujuk semua murid yang akan membolos. Mungkin tidak semuanya, hanya lima murid spesial yang amat sangat dekat dengan guru bersurai biru muda itu. Mata berwarna sapphire-nya menerawang koridor sekolah yang kini sepi karena seluruh murid berada di dalam kelas. Ia pun menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi pengelihatannya dan bergegas menuju ruang guru. Menjadi pembina untuk festival penyambutan murid baru itu sangat sibuk dan melelahkan. Ia harus mengelilingi sekolah untuk membuat proposal, meminta guru pengawas dan seksi keamanan untuk menandatangani selembar surat itu. Lalu, belum lagi ia harus meminta pengawas sekolah mempersiapkan perlengkapan yang harus ada pada sabtu ini. Memfotokopi brosur dan undangan untuk tamu penting.

Beruntung sekali, Kuroko adalah salah satu guru yang teliti dan ulet dalam pekerjaannya. Kalau tidak, bisa saja ia harus mengulang semua pekerjaan yang menguras tenaga itu. Dari awal. Dan Kuroko tidak mau itu, bisa-bisa ia pulang kerumah dalam keadaan remuk. Entahlah, membayangkannya saja sudah membuat guru itu lelah dan pusing. Namun, tanpa sepengetahuan Kuroko, ada lima murid dengan rambut bagai pelangi yang siap membantunya. Well, semoga saja mereka tidak membuat kekacauan. Tapi, tenang saja, selama ada tuan gunting, mereka tidak akan berani melakukan kesalahan.


Fast forward ke hari dimana festival penyambutan murid baru berlangsung. Stand makanan dan pernak pernik bertebaran disana sini. Masih pagi buta, memang. Tetapi guru dan murid yang terlibat dalam penyambutan diwajibkan untuk mempersiapkan segalanya dari jam empat pagi. Ya, sedikit dari mereka yang benar-benar bekerja. Sebagian hanya tidur atau makan sarapan, dan makanan yang harusnya dijual pada saat festival. Kuroko bukanlah salah satu dari mereka. Pagi-pagi buta seperti ini, dia sudah harus melatih kakinya dengan berlari memutari sekolah hanya untuk mengambil barang dari gudang dan meletakkannya di halaman sekolah. Sudah lima putaran ia berlari dan sekarang ia merasakan kakinya keram dan tangannya kebas. Ia mendudukkan diri di dekat salah satu stand makanan yang masih kosong itu sambil mengumpulkan kembali oksigen yang terbuang saat ia berlari.

Belum selesai ia menarik nafas, sekelebat warna kuning menghampirinya dan seketika, tubuhnya yang sudah tidak bertenaga itu terjatuh ke tanah bersama dengan si pemilik rambut pirang yang baru saja memberikannya pelukan maut. Ia mengernyit saat tangannya sudah tak dapat lagi ia rasa. "Kise-kun, tolong lepaskan aku." pintanya dengan nada menyuruh. Ia sedang tidak ingin mati apalagi dengan pelukan maut salah satu muridnya. Ia melihat Kise, cemberut dengan mata berkaca, dan segera saja ia mengelus rambut pirang murid manjanya itu. "Kenapa kau disini?" tanyanya bingung dan penasaran. Walaupun sebenarnya, ia sudah mengetahui jawaban yang akan dilontarkan si kepala pirang.

"A-aku ingin bertemu Kurokocchi-sensei." Benarkan? Pasti itu jawabannya. "Aku juga ingin membantu!" tapi tambahan dari jawaban itu membuat Kuroko terbengong. Muridnya ingin membantunya? Sebenarnya, Kuroko tidak memerlukan bantuan itu. Oke, mungkin sedikit. Tapi Kise harus bersiap untuk upacara penyambutan sebelum festival dimulai. Dan itu lebih penting dari pada membantunya disini. Pagi buta pula. Pasti Kise masih mengantuk karena jadwal pemotretan yang padat. Si pirang itu model yang sedang naik daun, jadi lebih baik muridnya yang satu itu mementingkan istirahat dan karirnya, juga sekolahnya dari pada membantu Kuroko.

Kuroko mendesah pelan, hampir tak terdengar. Ia mendudukkan dirinya disamping si pirang. "Terima kasih, Kise-kun. Tapi itu tidak perlu. Lebih baik kau istirahat di kelasmu." ujar pemuda berambut biru muda itu pelan. Kakinya yang keram mulai terasa sakit. Matanya terbelalak saat si pirang menggenggam tangannya yang mati rasa dan membuat gerakan seakan memijat telapak tangannya. Ia dapat melihat Kise tersenyum senang saat ia tak menunjukkan penolakan terhadap apa yang lakukan padanya. Ia balas tersenyum dan Kise menariknya kedalam sebuah pelukan.

"Sudah baikan, Kurokocchi-sensei?" ujar si murid sambil membenamkan hidung mancungnya ke gumpalan rambut biru muda milik si guru. Matanya berbinar senang saat guru tercintanya mengangguk sekali. "Kalau Kurokocchi-sensei merasa pegal, serahkan saja padaku! Akan kupijat sampai pegalnya hilang!" ucapnya antusias dan Kuroko hanya tertawa pelan.

"Terima kasih, Kise-kun."


Sekarang, waktunya menghias aula yang akan dipakai untuk upacara penyambutan. Kuroko kesulitan membawa tangga lipat yang lebih berat darinya itu. Dan juga lebih tinggi. Ia menghela nafas lega saat ia berhasil meletakkannya pada satu sisi ruangan dimana ia harus menghias tempat itu. Ia melebarkan tangganya dan menyangganya agar aman dan ia tidak terjatuh. Ia mengambil kardus berisi banner yang sengaja ia letakan disana sebelum mengambil tangga lipat. Segera saja ia menaiki tangga itu dan mengaitkan satu tali pada paku yang mencuat di sisi ruangan itu. Dengan hati-hati, ia melangkah turun namun kakinya terpeleset saat menginjak tiga tangga teratas.

"Tetsuya-sensei!"


Cliff hanger. Yo.. Vanilla di mari. Mint ga bisa online karena lagi patah hati. That's the one of serious case, dude. Dia ga pernah nge-down parah sebelumnya. Andaikan saya disana, pasti saya udah tinju dia karena OOC. Mint harusnya tuh periang cool jutek gitu. Ya tapi mau gimana lagi. Namanya pacarnya ilang ga ada kabar udah beberapa hari, orang jga pasti was was. *sigh*

Buat Mint, kalo dia bisa liat ini, don't let that person took away your life, bro. No matter how important that guy/girl to you, It's worthless if he/she just threw you away like a trash. Move on!

Dedicated for Mint :

* Taylor Swift - We Are Never Ever Getting Back Together

* Katy Perry - Part Of Me

Buat yang lagi nge-down dan patah hati, wajib denger lagu diatas. Hidup itu ga cuma cinta, guys. Kalaupun putus, masih banyakorang diluar sana yang nunggu kalian.

Sekian racauan saya.

Reviews?