*hepi liat jumlah review QvQ*
Replies for Reviewers!
HXN: ahahaha, pokoknya itu keluarga Sun udah nista semua, deh! XD
Oh, kalo soal trio-nya Lu Xun, dia masih punya 2 lagi kok, kalo sama Xiao Qiao+Sun Shang Xiang kan Trio Nista, masih ada lagi, salah satunya ada Gan Ning+Ling Tong, tapi nanti aja yah, ntar jadi spoiler, dong... Xp
Ah, iya, di Wei mereka ngomongnya lebih sopan2, tapi cuma kalau kaya Cao Pi gitu dia ngomong sopannya nggak ke semua orang :p
Pasti muncul dong! Mereka bakal dinistain abis2an! Xp
Iya, ntar Liu Bei+SSX bakal ketemu, terus... tunggu aja ya~ Xp
Makasih yaaaa~ 3
Yukimura-kun: kyaaa, ada Yukimura~~ XD Apa kabar itu si Mitsunari? X3
hahaha, ini Bao Sanniang lagi dalam tahap denial bahwa dia itu suka sama Guan Suo; kalo naksir kakak angkatan kan lebih keren... :D
ooh, tenang, mereka pasti dinistain (terutama dong zhuo)! XD
Makasih banyak buat repiu-nyaaaa~~~ 3
maryskess: waaah, iya, aku udah liat penpikmu, tapi sayang, aku nggak suka OC sama sekali... :(
ahaha, iya, Lu Xun terlalu imut sampe enak buat disiksa (what the?!)
Makasih ya repiu-nyaaa~ :DD
Saika Tsuruhime: kyaaa, senangnya situ senang~! XD
hahaha, iya tuh, secara senyumnya abang Zhao Yun kan harus 'kinclong', wong dia poster boy... XD
Iya, Ma Dai pasti muncul juga kok bareng sodaranya~ :D
Lu Xun terlalu imut sampe minta disiksa... Xp
Yah, Gan Ning kan pamalesan, kalo palaknya duit harus beli makanan sendiri lagi nantinya, males dia, jadi sekalian aja palak makanan langsung Xp
Makasih buat repiu-nya yaaaa~~ 3
Yurianna Shan L: ahahaha! mereka hobinya kan kabur dari kejaran yang berwenang! XD
Hajar warnet?! O.o nggak, nggak, paling ngerampok warteg... Xp
Ahaha, nih Wei ada di bawah, tapi lagi kurang lucu nih... ^^;;
Makasih banget repiu-nyaaaa~~~ 3
Chapter 2: AADS (Ada Apa di Sekolah?)
Shu sudah, Wu sudah, yuk sekarang kita intip bangunan mewah yang didominasi warna biru yang merupakan IPMA Wei...
Di halaman dalam sekolah, di mana rumput jenis mewah dan mahal menutupi seluruh permukaan tanah bak permadani yang empuk dan lembut, tampak ratusan murid berderet rapi di sana dengan seragam biru mereka, berbaris sesuai kelas masing-masing. Di antara barisan mereka yang membentuk 'U' besar itu, tampak sebuah podium besar yang megah berlapis emas dengan ukiran burung phoenix. Dasar Wei, pamer kerjaannya...
"Jadi anak-anak, kalau ada di antara kalian yang berbuat kriminal, AKAN SEGERA SAYA BAWA KE KANTOR POLISI SEBERANG!" seru orang yang sedang berbicara di atas podium tersebut dengan semangat, suaranya bergema karena mic yang dipakainya berjarak super dekat dengan speaker audio 8 Gh.z (yaelakh). Murid-murid hanya meringis.
"Pak Cao Ren ini apa-apaan, sih?" Zhen Ji, salah satu murid perempuan di dalam barisan kelas 11 menggerutu. Murid-murid cowok di sekitarnya sibuk mengagumi penampilannya yang bagai model walau ia sedang memakai seragam sekolahnya. Cantik, seksi, anggun, gemulai... Memang cocok jadi bunganya sekolah, deh! Tapi dengan sekilas tatapan tajam dari seorang murid cowok yang berdiri di samping Zhen Ji, semua murid cowok langsung mengembalikan tatapannya ke sosok besar yang masih teriak-teriak dengan semangat di depan, merinding ketakutan. "Dari tahun kemarin dia melulu yang buka upacara penerimaan! Padahal dia cuma polisi nyasar dari seberang, bukan guru sini!"
"Nggak cuma tahun kemarin, tahun sebelumnya juga, kok," bisik murid yang berdiri di belakang murid cowok di sebelah Zhen Ji tersebut, yang ternyata sudah kelas 12. Biar dikira muda dia nyelip di barisan kelas 11 kali yak. "Pak Cao Ren pasti ngabisin 30 menit pertama upacara dengan ancaman-ancaman kalau kita jadi kriminal."
"Paman Ren saudara ayahku," murid cowok di sebelah Zhen Ji – yang dengan sukses membuat cowok-cowok yang tadi sempat menatap Zhen Ji dengan tatapan nista kebelet pipis karena ketakutan – menjelaskan sambil memeluk bahu gadis itu dengan penuh kasih sayang tapi juga arogan, seakan ia memamerkan bahwa ia bisa memeluk gadis tercantik di Wei itu dengan bebas. "Wajar kalau ayahku ngasih waktu buat dia, se-nggak penting apapun omongannya. Lagian bener kata Xu Huang, tiap tahun dia pasti nongol ngomongin soal 'lu-berani-macem-macem-gue-bawa-ke-penjara-biar-tau-rasa' sebelum upacara mulai. Kamu SMP-nya nggak di Wei sih, jadi nggak tahu soal ini, ya..."
"Aaah, aku nggak sabar lihat ayahmu, Cao Pi~" komentar murid cowok lain yang sedang berdiri di sisi lain Cao Pi. Murid ini berseragam biru seperti siswa lainnya, tidak seperti Cao Pi yang mengenakan seragam putih yang menandakan statusnya sebagai ketua OSIS, tetapi gayanya yang lemah gemulai dan wajah yang cantik membuat nyaris semua orang salah paham ia adalah transgen― ups, maksudnya seorang gadis cantik. "Beliau kan keren banget~ Kya~ Kayak anaknya juga~" Ia menusuk-nusuk pipi Cao Pi dengan gemas.
"Agh, jangan deket-deket gue, ah, Zhang He!" seru cowok yang akrab dipanggil Zihuan itu jijik sambil mendorong Zhang He menjauh. "Sheeen, tolongin akuuu..."
"Hush, Zhang He! Jangan pegang-pegang pacarku!" Zhen Ji ikut mendorong Zhang He, nggak sudi ada orang yang megang-megang muka Cao Pi selain dirinya.
Xu Huang, yang sedang berdiri di belakang Cao Pi, tertawa pelan. Dasar anak-anak tukang ribut, nih... Mana ada yang hobi PDA, pula... Bukan, bukan Palakin Duit Anak-anak, tapi Public Display of Affection, alias tukang pamer pacaran!
Sementara itu, di baris lain, tepatnya di barisan kelas 12 tampak seorang murid yang sedang asyik menyantap beberapa siomay sekaligus sementara murid-murid yang berdiri di dekatnya berusaha mengambil jarak sejauh mungkin, mengelap bagian tubuh/baju mereka yang kena cipratan saus siomay atau remah-remah siomay pakai tissue antiseptik, atau menyemprotkan parfum/eau de toilette (asli, yang satu botolnya harganya sekitar sejutaan, dan bukan yang abal-abal kayak yang dijual di pinggiran Glodok!) karena terganggu dengan bau campuran daging udang, bawang putih, dan saus kacang. Namun, seorang pemberani malah melangkah ke dekat murid yang masih asyik makan tersebut.
"Xu Zhu," suara lembut nan baik itu memanggil nama murid yang memiliki badan bulat (secara harafiah) itu. Yang menengok dengan mata berbinar-binar malah bukan sang pemilik nama, tapi belasan murid perempuan yang ada di sekitar mereka. Uhuk, maklum, selain suaranya lembut, mukanya juga enak dilihat... "Jangan makan terus... Kamu mengganggu yang lain, lho... Ini udah plastik ke-13, masa sarapanmu belum cukup?"
"Guo Jiaaa," rengek Xu Zhu, sekitar mulutnya penuh saus kacang. "Tapi aku lapaaaar... Aku masih masa pertumbuhaaaan... Kalau nggak makan, nanti aku pingsan di sini..."
'Kayaknya cadangan makanan di tubuh lu nggak kurang, deh!' gerutu semua murid lain di situ dalam hati sambil menatap tubuh Xu Zhu dengan kesal. Guo Jia cuma bisa meringis.
"Tapi nanti Pak Mengde sedih lho kalau lihat kamu melanggar peraturan sekolah gini...," katanya, mengeluarkan kartu As yang pasti langsung berpengaruh sama Xu Zhu. Seketika murid berbadan besar itu menghentikan keasyikannya mengunyah. Matanya langsung berkaca-kaca. Ia menoleh pada murid berambut pirang ala iklan cat rambut itu, lalu menggenggam bagian depan seragam cowok itu dengan sedih.
"Aku... aku bikin Pak Cao Cao sedih...?!" seru Xu Zhu, mengundang perhatian murid lainnya, tapi untung Cao Ren masih asyik dengan dunianya sendiri, kalau nggak bisa-bisa Xu Zhu diseret ke kantor polisi seberang. Ia mengguncang-guncang tubuh Guo Jia yang jauh lebih kurus darinya itu. "Yang bener aja, Guo Jiaaa! Masa siiih! Nggak mauuu!"
"M-m-ma-makanya-nya... k-k-kam-kamu... b-ber-hennn-ti-ti-ti... m-ma-kkan...," Guo Jia berusaha ngomong walau goncangan di tubuhnya belum berhenti dan bahkan menguat karena sekarang Xu Zhu lagi nangis heboh. "X-Xu Zhuuu... aku mual nih digoncang-goncang giniii..."
"Ma-maaffff...," Xu Zhu makin sedih, tapi bukannya berhentiin goncangannya tapi malah makin kuat. "Maafin aku, Guo Jiaaaaa..."
Guo Jia cuma bisa pasrah walau mukanya udah membiru karena sarapan tadi pagi (bola-bola daging kepiting campur sirip hiu, sup bola-bola daging campur, puding buah segar, dan teh hitam panas, hmmm~) lagi dikocok-kocok di dalam perutnya dan terancam keluar lewat atas alias dimuntahin. Niat sucinya biar Xu Zhu nggak ganggu murid lainnya malah jadi bikin dia hampir muntahin sarapan mewahnya... Apa boleh buat, setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan...
Setelah diteriakin selama 30 menit nggak kurang nggak lebih, akhirnya murid-murid bisa bernafas lega saat Cao Ren turun dari podium dengan wajah seolah seperti seorang anggota parpol selesai pemilu, dan murid-murid cewek bersorak gembira melihat sosok kepala sekolah yang gagah serta wakilnya yang nggak kalah berkharisma menaiki podium dengan gaya cool. Sekarang keadaannya mirip konser boyband, deh, heboh!
Di samping sang kepala sekolah Wei yang elegan dan berkharisma itu, berdirilah sang wakilnya, Pak Wakasek Xiahou Dun, yang menatap kehebohan di depannya dengan tatapan dingin dan tajam. Dengan kalem tapi tegas, pria paruh baya dengan setelan jas berwarna biru tua rapi itu mengangkat tangannya, dan seketika keadaan menjadi hening kembali. Setelah mengangguk pada wakilnya, sang kepala sekolah, Pak Kepsek Cao Cao pun siap membuka kata sambutannya setelah berdeham pelan.
"Murid-murid sekalian."
Beberapa murid perempuan asmanya kambuh, dan beberapa mengidap asma dadakan.
"Selamat pagi dan selamat datang saya ucapkan pada kalian semua di pagi hari pada semester baru ini."
Beberapa murid perempuan lainnya kejang-kejang.
"Saya harap kalian semua bisa belajar dengan baik dan membawa nama Wei menjadi yang terdepan, mengalahkan tetangga-tetangga kita."
Tubuh-tubuh murid perempuan yang pingsan mulai bergelimpangan.
"Sekian sambutan dari saya, semoga di semester baru ini, dan semester-semester selanjutnya dapat memajukan kita semua."
Saat Cao Cao sudah turun dari podium, lapangan rumput yang empuk itu sudah agak kosong, dengan tim PMR sedang sibuk mengurusi murid-murid perempuan yang terkena efek dari pidato penuh kharisma dari Cao Cao (termasuk di dalamnya adalah Zhang He, tapi Zhen Ji juga Cai Wenji sebagai pengecualian). Cao Pi hanya geleng-geleng kepala.
"Lagi-lagi Ayah bikin keonaran paling heboh; dasar Hero of Chaos... aku lagi deh yang kena sisanya," katanya sambil menghela nafas, lalu ia segera berbalik menghadap murid-murid lainnya, rambut ekor kudanya yang hitam mengkilap berkibar di belakang tubuhnya yang terbalut seragam putih itu. "Perhatian semuanya!" serunya lantang, dan seketika semua murid berhenti berkegiatan dan memperhatikannya. "Petugas PMR! Bawa semua murid yang kondisinya buruk ke ruang kesehatan, dan beberapa murid cowok, bantu mereka! Sisanya yang tidak membantu kembalilah ke kelas, pelajaran akan segera dimulai! Jangan ribut, dan jangan keluyuran ke mana-mana, kalau ada yang keluyuran, akan di-skors!"
Walau kesal, tapi semua murid mematuhi perintah Cao Pi dan mulai berjalan masuk ke gedung sekolah mereka, sementara beberapa murid lainnya membantu PMR mengangkut tubuh-tubuh tak berdaya ke ruang kesehatan. Cao Pi memang berkuasa di sekolah itu, baik karena kharismanya, maupun karena statusnya sebagai anak kepala sekolah. Zhen Ji hanya bisa menatap Cao Pi dengan mata berbinar-binar, sementara Cai Wenji cuma geleng-geleng kepala. Sementara itu, Guo Jia yang harusnya ketua OSIS malah ikut diangkut tim PMR gara-gara dia masih mual-mual gara-gara goncangan dahsyat Xu Zhu.
Begitulah, pagi di Wei dipenuhi oleh gelimpangan murid-murid perempuan yang pingsan/kejang-kejang sehingga agak menghambat proses belajar-mengajar.
Lalu, bagaimana situasi di Jin? Mari kita tengok...
Berbeda dengan Wei yang upacara penerimaannya sangat singkat, padat, dan menghasilkan banyak korban, upacara pembukaan di Jin memakan waktu sangaaaaaat lama...
"—demi kejayaan sekolah tercinta kita ini, kita harus selalu mengusahakan yang terbaik, apapun itu caranya, nggak halal sekalipun boleh, demi mencapai tujuan bersama kita, dan manfaatkan semua kesempatan yang ada dengan cara yang paling menguntungkan tetapi kalau sampai merugikan lebih baik ditinggalkan! Fuahahahahaha! Tujuan itu harus diusahakan dengan berbagai cara yang pintar dan gunakan taktik terbaik, utamakan diri sendiri baru orang lain, tapi kalau apa boleh buat harus rugi, usahakan kerugian itu dipindahkan ke orang lain—"
Demikian kilasan pidato ngaco tak lain tak bukan dari sang kepala sekolah sendiri, Pak Sima Yi, yang juga merangkap sebagai kepala mafia keluarga Sima (jadi wajar juga ya kalau pidatonya ngawur). Pidatonya juga sangat egois, berhubung Sima Yi ini tak lain tak bukan adalah mantan Wakasek dari IPMA Wei, tapi ternyata dia malah bangun sekolah sendiri juga. Namun, walau panjang, siswa-siswa Jin tetap memperhatikan dengan penuh konsentrasi mendengarkan wejangan dari sang kepala sekolah (beberapa ada yang sekalian ngeliatin sang kepsek muda dan tampan itu). Mereka memang rajin-rajin, juga sangat hormat pada guru-guru mereka. Mungkin karena itulah, walau sekolah mereka tergolong jauh lebih muda dari ketiga sekolah lainnya, tetapi mereka memiliki prestasi hampir menyamai sekolah lainnya.
Di baris depan, tampak tiga murid yang memiliki aura berbeda dari murid-murid lainnya. Bisa dibilang mereka memiliki hubungan darah paling dekat dengan sang kepsek yang sedang asyik berkicau di depan podium hall pertemuan sekolah itu. Murid-murid lain pun tampak agak segan untuk dekat-dekat dengan mereka; seakan mereka adalah keturunan bangsawan penting dari sebuah kerajaan... mungkin.
"Yuanjiii, aku bosaaaan...," rengek salah satu dari ketiga murid 'berbeda' itu. Badannya yang besar dan berisi, dengan wajah tampan dan rambut coklat ikal berantakan, tampak kurang cocok mengeluarkan rengekan barusan. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu seorang gadis mungil yang sedang duduk tenang di sebelahnya. "Tiap hari juga aku dengerin ceramahan kayak gini di rumaaaaah..."
"Dengarkan saja, Zishang," Wang Yuanji, sang gadis berambut blonde yang diikat rapi dengan seragam tak kalah rapi, menjawab dengan nada datar. Tenang, dia bukan pengidap OCD – Obsessive Compulsive Disorder – alias gila kerapian itu, kok. "Kamu kan calon Ketua OSIS tahun ini, harus kasih contoh yang baik."
"Tapi aku bosaaan...," rengek Sima Zhao lagi. Sebuah jitakan yang tidak terlalu lembut mendarat dengan manis di kepala Sima Zhao. "Aduh! Kak Shi! Apa-apaan sih!"
"Berisik," kata Sima Shi, sang kakak, berkomentar datar dari sebelah Wang Yuanji. Gadis itu tetap berwajah datar, tapi ia mendengus geli, membuat Zhao makin berkoar-koar.
"Yuanji! Tega-teganya ngetawain akuuu!" seru Sima Zhao lebay. "Kau lukai aku dengan sikapmu~!"
Sima Zhao mulai nyanyi-nyanyi nggak jelas, mau nggak mau menarik perhatian murid lainnya. Seorang 'murid' berbadan besar dengan gaya The Rock yang duduk di belakang cowok berambut coklat itu berdeham pelan.
"Tuan Zhao...," kata Deng Ai memperingatkan. "Ayah Tuan melihat ke sini, lho."
"Huuuuh?" Sima Zhao menatap ke arah podium; dan ternyata benar, saudara-saudara, tatapan Sima Yi yang tajam bagai cakar elang itu sedang menatap anak bungsunya dengan tatapan 'kalo-nggak-diem-ntar-pulang-nggak-gue-kasih-kue-stroberinya' sementara mulutnya masih berpidato dengan lancar. "Hyaaa, Ayah nyeremin! Kak Shi, kalau kue stroberinya diambil Ayah lagi, gimana dooong!"
"Urusan lu," kata Sima Shi acuh tak acuh, dingin, dan cuek seperti kaktus (hah?).
"Kalau tak salah, calon Ayah Mertua bilang, kalau calon Kakak Ipar tidak berhasil mendiamkan Zishang, maka persediaan bao zhi di rumah keluarga Sima akan dikurangi," celetuk Wang Yuanji kalem. Ya, Wang Yuanji ini sudah jadi tunangan resmi Sima Zhao, dan ada isu-isu mereka bakal langsung nikah lulus SMU. Tiba-tiba, hawa dingin mencekam bagaikan ada maling lewat (?) keluar dari tubuh Sima Shi.
"Zishang," kata sang kakak mengancam – sebetulnya nggak ada perubahan dari nadanya, tapi entah kenapa rasanya lebih mengancam daripada tadi; mungkin karena sekarang tiba-tiba ada jangka-super-tajam di tangannya? "Pokoknya KALO SAMPE bao zhi gue kurang SEBIJI aja, kuku lu juga berkurang SEBIJI!" Dasar anak mafia, ancamannya juga nyeremin abis...
"Hieee!" Sima Zhao meluk Wang Yuanji yang masih kalem adem ayem layaknya peuyeum, ketakutan-nyaris-ngompol. "Yuanjiii, Kak Shi juga nyeremiiin..."
"Calon Kakak Ipar kan anak ayahmu," sahut Wang Yuanji, diam-diam merasa geli melihat pacarnya bagai teripang yang menempel di batu karang. "Wajar kalau sama-sama nyeremin."
"Zishang! Diem nggak lu!" ancam Sima Shi lagi, mengacung-acungkan jangkanya. Dengan takut, Sima Zhao bersembunyi di balik tubuh Wang Yuanji yang kecil. Puas melihat adiknya itu sudah diam sekarang, Sima Shi memasukkan jangkanya ke balik blazer seragamnya layaknya sebuah pistol. Kemudian, mereka kembali mendengarkan ceramah sang ayah di depan. Puas dengan kerja anak sulungnya, Sima Yi pun tidak memberikan tatapan menakutkan lagi pada Sima Zhao.
Sementara itu, di pojokan belakaaaaaaang banget, tampak dua murid yang lagi asyik sendiri, dan mereka lolos dari tatapan tajam Sima Yi karena mereka berjongkok di belakang barisan murid-murid lainnya. Mereka tak lain tak bukan adalah Zhong Hui dan Xiahou Ba. Zhong Hui sedang asyik dengan PSP di tangannya, main Patapon (heh?), sementara Xiahou Ba dari tadi menarik-narik lengan seragam seniornya itu.
"Kak Zhong Hui! Balikin PSP-ku, dong!" rengeknya sedih. "Aku juga mau maiiiiin..."
"Diem lu!" sergah Zhong Hui sambil mengibaskan tangannya sehingga pegangan Xiahou Ba terlepas. "Gue nggak punya PSP nih, masa lu nggak mau minjemin gue bentaran aja! Gue kakak kelas lu! Gue labrak baru tau rasa!"
"Tapi tapi tapi... batrenya mau abiiis...," rengek murid kelas 10 yang berambut coklat muda itu. "Minimal bayar lah, Kak..."
"Lu minta bayaran sama gue?!" seru Zhong Hui bete.
"Tapi aku bawa PSP-nya itu emang buat disewain...," kata Xiahou Ba lagi. "Aku udah susah-susah pinjem gratis dari Boyue buat seminggu ini biar bisa tambah uang jajan..."
"Ini punya si orang gagal itu?!" seru Zhong Hui jijik, seketika ia memegang PSP di tangannya dengan ujung jari dan ujung jempol. Baginya, orang yang pindah sekolah itu termasuk 'orang gagal', apapun alasannya.
"Jangan gitu dong, Kak...," juniornya itu sedih. "Boyue baik, kok... Dia sering banget minjemin duit buatku yang sering kere ini... Maklum, Ayah jarang kasih duit jajan gara-gara sering beli anak panah..."
"Huh... gue nggak sudi megang barang punya orang itu...," gerutu murid kelas 12 yang berambut ikal coklat dengan kunciran kecil dengan pita turquoise sutra. "Tapi gue males beli PSP sendiri..." Ia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan selembar tissue, lalu kembali main setelah melapisi tangannya dengan tissue. Xiahou Ba kembali merengek sementara Zhong Hui mengacuhkannya. Kasihan, kasihan, baru hari pertama masuk Xiahou Ba udah dipalak senior...
Kemudian, pidato kepala sekolah pun terus berlangsung sampai jam pelajaran hari itu habis... (kok Sima Yi nggak habis suara ya ngomong selama itu?)
-pulang sekolah, di ruang guru ST Shu...
"Suamiku Kongming, bagaimana hari pertama ini?" Yue Ying, sang guru matematika merangkap guru pembimbing ekstrakurikuler keterampilan itu menanyakan suaminya sambil memijit-mijit bahu sang suami. Mereka sedang duduk bersama di ruang guru ST Shu yang masih sepi; mungkin guru-guru lain masih di kelas. Zhuge Liang sendiri mengipas-ngipas dirinya dengan santai, kumisnya yang seperti lele melambai-lambai halus.
"Melelahkan," komentarnya lelah. "Anak baru nggak ada yang bisa diharapkan. Masa nggak ada yang tahu ada berapa jumlah provinsi di Cina ini!" Guru geografi itu menghela nafas panjang. "Memang cuma Boyue yang bisa diandalkan... Bahkan Zilong pun kalau bukan pelajaran olahraga atau kewarganegaraan itu cuma murid rata-rata..."
"Jiang Wei?" gumam Yue Ying. "Tadi waktu aku kasih quiz dadakan di kelasnya, cuma dia sendiri yang bisa dapat 100..."
"Tuh kan!" Zhuge Liang langsung heboh sendiri. "Si sekolah Wei itu bodoh, nggak bisa lihat potensi hebat kayak dia! Malah dibuang-buang!"
Yue Ying cemburu soalnya suaminya malah memuji-muji si murid unggulan itu setinggi langit. 'Padahal gue kan lebih pinter dari dia...,' pikir Yue Ying bete. 'Kok cuma dia yang dipuji-puji! Kalo cuma nyebutin nama-nama hutan, gunung, sungai, dll di Cina mah gue juga bisa!' Yue Ying, saking cemburunya, lupa bahwa Jiang Wei cuma murid, sementara dia adalah guru; mana mungkin dibandingkan!
"Lagi-lagi ngomongin soal Jiang Wei," sebuah suara baru muncul di ruangan itu, menghentikan ode untuk seorang Jiang Wei dari Zhuge Liang. "Dia memang murid kesayanganmu ya, Kongming!"
"Ah, Pak Xuande," Zhuge Liang diam-diam merasa malu ketahuan lagi heboh sendiri.
"Tapi menurutku Zilong lebih oke, lho!" Liu Bei, sang kepala sekolah, ikut membanggakan murid kesayangannya. "Dia jago banget di pelajaran kewarganegaraan! Selain itu, dia juga sangat kuat, dia bisa olahraga apapun dalam jangka waktu lama! Kemarin waktu pesta olahraga, dari lomba lari sampe lomba makan kelereng ( #%#$?! Memangnya debus?) Zilong bisa menang semua!"
"Nggak ada yang bisa ngalahin kehebatan anak gue!" seru Zhang Fei, ikut nimbrung, sementara badannya masih basah oleh keringat. Dasar guru olahraga. "Olahraga oke, otak oke, muka cakep! Kurang apa coba si Xing Cai?!"
"Guan Ping sama Guan Suo tetep yang paling oke, dong," Guan Yu juga ikutan masuk, tapi lebih kalem daripada saudara angkatnya, Zhang Fei. "Ping sama Suo sama-sama jago bela diri, dan Ping sering berjasa dalam sejarah perdemoan, dan tau kan, Suo dulu ketua OSIS waktu SMP?"
"Kalau kamu, say?" tanya Zhuge Liang pada istrinya. "Murid kesayangan kamu siapa?"
"...um," Yue Ying tampak ragu. "...Wei Yan?"
Seketika ruang guru menjadi sepi krik-krik. Zhuge Liang menatap istrinya tak percaya.
"Kamu suka sama murid yang nggak jelas makhluk apaan itu?!" seru sang wakil kepala sekolah nggak terima. "Yang bener ajaaa?! Dia kan nggak tahu adat! Masa pakai baju nggak senonoh ke sekolah! Mana dia udah nggak naik kelas selama 5 tahun lagi!" (kok nggak dikeluarin dari sekolah, ya?)
"Itu bukan baju nggak senonoh, suamiku sayaaang," Yue Ying berusaha sabar sama suaminya yang pikirannya udah ke mana-mana itu. "Itu baju gulat! Masa nggak tahu!"
"...oh," sekarang Zhuge Liang yang tampak malu.
"Kongming kan tontonannya cuma berita sama National Geographic, ya," sindir Zhang Fei sambil nyengir.
"Eh! Enak aja! Aku tahu kok sekarang Anang lagi bareng Shantika!" sanggah Zhuge Liang, berusaha menunjukkan pengetahuannya di bidang yang lagi ngetren. Zhang Fei langsung ngakak sementara Guan Yu batuk-batuk mencurigakan.
"Umm, Ashanti, Kongming, bukan Shantika," Liu Bei berdeham pelan.
"M-maksudnya itu!" seru Zhuge Liang agak malu. "Aku juga tahu di bioskop lagi ada Pacman, the Yellow Knight Rises!"
"...Batman, Kongming...," gumam Liu Bei lagi, berusaha meralat kekacauan Zhuge Liang. Zhang Fei makin puas ketawanya dan batuk-batuk Guan Yu makin hebat sementara Zhuge Liang makin memerah.
"Udah ah, jangan gangguin Kongming lagi," Yue Ying menjitak Zhang Fei.
"Tapi tentu," Liu Bei mengeluarkan senyum mautnya. "Murid yang manapun tetap murid ST Shu, mereka semua berharga, dan tentu mereka semua memiliki potensi masing-masing yang nantinya akan membanggakan sekolah kita, dan membawa ST Shu menjadi yang terbaik untuk kita semua!"
Seperti biasa, kata-kata hangat dan tulus Liu Bei itu membuat semua guru tersenyum. Begitulah, sang kepala sekolah yang penuh dengan kebenaran dan ketulusan, selalu bisa membuat orang lain mengikuti jalannya dengan sukarela. Hidup!
Bersambung dulu, yaaa~ :D
Seperti biasa, review biar makin semangat ngetiknya~~ X3
