A.N.: Yippiiiii, new chapter! :DDD
Maaf ya, akhir-akhir ini author lagi hectic sama lomba yang lagi diikutin... ; - ; Maaf jadinya kalo lama apdetnya... ( _ _ )
Ngomong-ngomong, di chapter sebelumnya, ada kebodohan yang ditulis author! Dikatakan bahwa Cao Pi itu ketua OSIS, padahal dia belom jadi ketua! Guo Jia yang masih jadi ketua, Cao Pi belum! Tapi dia udah sok-sok jadi ketua, soalnya dia emang wakilnya Guo Jia... Maafkan kebodohan saia, ya... ; - ;
BTW, yang penting ini chapter yang baru! :DD
semoga pada suka, ya~~~ :DDDD
Happy reading~! ;D


Replies for reviewers:

HXN: Iya, nggak suka OC... ^^;; Lho, kok jadi benci kamu? Nggak dong! . Pastinya others bakal muncul dong! Nih di chapter ini beberapa others udah mulai muncul! XD En pasti, SSX pasti ketemu Liu Bei, tenang~~~ Hmm, aku udah buat kok penpik SW kok, tapi males aja publish-nya... :p Hahaha~ Makasih yaaaa~ 3

Saika Tsuruhime: *hepi liat review-annya Tsuruhime-san* 3
Iyaaa, abis kostum DLC-nya Cao Ren polisi sih, jadi kubuat dia jadi polisi nyasar! XD Abis Cao Cao mempesona banget, jadi Zhang He ikutan pingsan (refer to Cao Cao kan punya banyak istri tuh, dan di game juga ada cewek yang bilang Cao Cao keren abis, jadi... :D)
Sima Yi: "Huh, gue kan emang keren! Kalo cuma ngomong 5 jam non-stop aja mah, gue bisa!" (somse, ceritanya, walau yang disombongin ga mutu *disabet kipas*)
Sima Shi: "Eh, lu kate gue mau makan bao zi sembarangan?! Bao zi gue khusus dipesen tau!" (somse juga kaya babenya :p *disabet bao zi-eh, pedang)
Shu:
Zhuge Liang: "Hmm, saya menganggap Jiang Wei seperti anak sendiri... Abis, anak2 saya nggak ada yang sejenius dia..." (ada di kisah asli The Romance of Three Kingdoms :p)
Liu Bei: "Iyalah! Zilong paling hebat! Lebih hebat dari anak saya sendiri!" (Eh?! Ayah durhaka, nih!)
Zhang Fei: "Siapa dulu dong ayahnya!" *bangga*
Guan Yu: "Nggak, Suo sih nggak pernah ikutan demo... Dia anak baik... Tapi dia jago bela diri, tentunya... Kemarin dia nggak sengaja bikin orang masuk RS gara2 salah tangkap, kirain maling ternyata orang cuma kebelet pipis jadi lari2 di mall..." (waduh...)
Yue Ying: "Wei Yan itu anak baik! Dia selalu berusaha keras! Sayang nggak ada yang ngertiin dia, bahkan suamiku aja nggak bisa ngerti!" *sedih*
Ehehehehehehe, makasih banyak lho buat review-nya, saia suka banget bacanya~~~~ 3

black roses 00: Ahahaha, iya kaaan! :D Lu Xun sih, tampang imutnya minta disiksa... Xp
Ahahaha, karena Cao Cao terlalu mempesona, jadinya siswi2 pada klenger liatnya... Xp
Iya, Jin kaga bener, apalagi kepseknya aja udah paling nggak bener gitu... :p
Ruang guru lain juga dikasih liat kok, nih di bawah chapter ini ada! :D
Makasih repiunya, yaaa~ #

Kaien-Aerknard: Hahahahhaha! XD *ambil popcorn, liat perdebatan Aerknard-san sama Guo Jia*
Iya, kerjaan Liu Bei kan senyum2, nggak heran senyuman mautnya bisa bikin Shu bersatu padu dengan kuat... (wut?)
Zhuge Liang: "Sebagai strategist ulung, kerjaan saya bukan nonton kaya gituan..." *sok jenius*
Oh-ho, itu udah pasti ada event yang melibatkan langsung ke4 sekolah ini! tenang, pasti bakal heboh+seru! XD
Ehehehe, makasih ya buat repiunyaaa~ :DDD

SSXLOVER: Oh-ho, makasih bro! Bagus deh kalo situ suka! :DD
Nih, udah apdet lagi~ Makasih lho buat repiunya~~~ 3

Yukimura-kun: Maklum, masa kecil Liu Bei kan kurang bahagia, jadi dia ga tau jenis2 permainan lomba gitu... (*disabet twin sword-nya Liu Bei*)
Hahahah, kan yang penting ada yang bagus dari Zilong, dan dia murid teladan yang disukai guru2, jadi nggak masalah kan kalo nilai matematikanya agak jeblok? Xp
Okeee, makasih ya repiunyaaa~ :D

On with the story~!


Chapter 3-1: Jadi, Gue Musti Bilang 'Wei', Gitu?!

Cao Ren menghela nafas panjang. Zhang Liao memuntir-muntir kumis ala Prancis-nya dengan tenang. Xiahou Dun bertopang dagu dengan malas. Xiahou Yuan mengupil panjang-pendek (eh?). Mereka duduk berjajar dengan rapi di depan sebuah meja besi besar warna hitam di ruangan berwarna hitam kelam dengan lampu pijar 5 watt berwarna merah (lha... kayak ruang ramal dukun, yak?). Tatapan tajam mengancam menatap mereka satu per satu, tajam dan mesum— maksudnya, menusuk.

"Kalian ngerti nggak perbuatan kalian udah merugikan?!" suara berat menggelegar itu memecah keheningan di ruangan itu. Seketika tikus yang lagi asyik makan di pojok ruangan itu langsung kabur ketakutan keluar ruangan. Sosok besar, tegap, gagah, dan berisi itu berdiri sambil menggebrak meja. Seragam polisi warna hitamnya menambah kesan menyeramkan dari orang tersebut. Sayang, bagi keempat orang tadi itu topi dan kacamata hitam yang dipakai pria itu mengurangi daya seramnya. Pertama, ruang gelap gini pake kacamata item itu jadi bikin dia kayak pengen nutupin bintit di matanya. Kedua, itu apa-apaan masang antena kecoa warna merah segede gaban gitu di topinya?! Buat mecut orang, apa? Namun bentakan sang inspektur menghentikan cekikikan tersembunyi keempat orang tadi dengan segera. "JAWAB!"

"Iyaaa...," jawab mereka serempak, cuma buat si inspektur yang terkenal killer dan kadang suka nembak orang dengan 'nggak sengaja' itu senang aja. Nggak kena jantung atau kepala, kok. Cuma nyerempet-nyerempet tangan, kaki, atau kalau lagi sial yaaaa paling kena perut atau pantat... nggak parah kok, nggak...

"Gue nggak heran kalau harus nangkep bocah-bocah berandal dari Shu atau Wu itu; tapi guru-guru dari Wei?!" Lu Bu, sang Inspektur Kecoa— uhm, Killer, itu berteriak heboh. "Terus lu, lagi! Cao Ren! Lu salah satu polisi di sini, malah bikin onar?!"

"Tenang, Sayang," seorang polwan yang sangat cantik dan seksi segera menenangkan Lu Bu. Dia memakai seragam polisi biasa, tapi entah kenapa kok kalau dia yang pakai jadi mirip girband dari Korea, ya? Ia memegangi lengan sang inspektur dengan lembut. "Jangan marah-marah gitu... Nanti darah tinggi kamu kumat lagi... Nanti malem aku nggak kasih kamu makan es krim vanila campur tiramisu pake topping whipped cream, karamel, sama ceri lagi, lho."

'Wadeuh, garang-garang makanannya es krim, cuy!' batin keempat tersangka, berusaha menahan tawa sambil menatap sang polwan dengan tatapan nista. Bisaaaa aja ni kecoa; kecoa-kecoa gitu dapet istri mantep abis!

"Iya, iya, Diao Chan sayang," Lu Bu seketika melembut seperti rambut afro dikasih Herb*l Ess*nces – eh kok jadi iklan? Lanjut... "Aku tenang, deh. Tapi abis ni orang-orang pada kaga tau umur! Udah tua, keriputan gini, masiiiiih aja bikin onar!" Tiba-tiba gaya ngomong Lu Bu jadi manis kekanak-kanakan dan manja (kok jadi pengen muntah, ya?)

"Yang bikin onar bukan kita, tau!" Bete, Xiahou Dun angkat suara. Tidak seperti biasanya, sang wakasek IPMA Wei itu tampak agak berantakan. Blazer sutra biru tuanya tak kelihatan, dan kemeja putihnya yang nggak pernah nggak wangi itu tampak kotor oleh debu, dan dasi sutra biru tuanya bahkan tiba-tiba pindah tempat ke kepala Xiahou Yuan. Udah jadi kucel, belom makan pecel, suasananya bikin kecel (baca: kesel), lagi! Uuuuh, cebel! Dalam hati seorang chibi Xiahou Dun lagi meronta-ronta dengan gemas.

"Ta, tapi, Kak Dun...," Xiahou Yuan berusaha menghentikan omongan saudaranya itu.

"Diem, Yuan!" kata Xiahou Dun kesal sambil mendelik.

"Dun, Tuan Cao Cao udah pesen—" Zhang Liao berusaha menambahkan.

"Iye, gue tau Mengde pesen bakmi ayam pake siomay sama es jeruk buat ntar siang! Tapi mana bisa beli kalo kita ada di sini?!"

"Bukan itu, dodol, maksud gue—"

"SIAPA YANG DODOL?! Lu tuh, kumis lu kaya dodol gagal!"

"LU NGEHINA KUMIS GUE?! Kaya kumis lu kebagusan aja! Lu pernah liat nggak semut iring-iringan di pohon mati?! Nah ntu, kumis lu tuh kaya gitu!" Maklum, di kebon belakang rumah Zhang Liao ada banyak pohon pisang, jadi dia hafal ada apa aja di deket pohon.

"Sialan lu! Tau nggak, ini trend terbaru masa kini, tau! Lu aja yang nggak tau fashion!"

"Pesyen? Apa itu pesyen?! Playstation jenis baru?!"

"ARGH! Kuping tu dikorek, biar lubangnya guna!"

"Ini kok mereka malah jadi berantem sendiri ya, Ren? Gimana ini?"

"Saya nggak ngerti..."

"Terus, terus! Gue suka liat orang berantem!"

"Lah, ini polisi malah hepi liat mereka berantem! Gimana, sih!"

"Fengxian sayang, mau dibawain popcorn sama gula-gula kapasnya?"

"Diao Chan sayang tau aja, deh! You know me so well~"

"Astaganaga, ada tabrakan bus ya di luar?!"

"Itu suara Lu Bu nyanyi, Yuan..."

Ruangan interogasi itu pun yang awalnya mencekam malah berubah jadi pasar; semuanya saling teriak-teriak nggak karuan. Sebetulnya ada apa ya, sampai Cao Ren, Zhang Liao, Xiahou Dun, dan Xiahou Yuan ada di kantor polisi? Yuk kita cek...

Pagi itu, pagi cerah yang biasa di gedung IPMA Wei yang indah dengan warna biru menterengnya. Jenis-jenis pohon mahal bertebaran di sana-sini, dari pohon palem, beringin, pinus, apapun deh! (sebenernya author nggak tau jenis pohon mahal itu apa aja...) Lalu, di depan pintu gerbang raksasa sekolah itu, tampak mobil-mobil mewah berjajar di depan sekolah, dan murid-murid dengan seragam mereka yang rapi turun dari tiap-tiap mobil sambil berjalan angkuh sebelum bergabung dengan teman-teman mereka (beda banget sama sekolah tetangga – ST Shu maksudnya – yang sangat 'merakyat'; murid-muridnya kalau nggak jalan kaki, naik sepeda, naik becak, ya naik kuda – eh, maksudnya andong).

Dari salah satu mobil mewah berwarna biru tua metalik berjenis sedan, tampak seorang gadis cantik yang langsing dan anggun turun dari sana. Pakaiannya sopan dan rapi, dengan rok lipit ungu tua hampir mencapai lutut, blazer biru tua yang disetrika rapi, rambut lembut indah habis creambath dengan pita biru muda di kepala, stocking hitam dan sepatu boots hitam seragamnya, Cai Wenji siap menjalani hari yang baru di sekolah. Tersenyum lebar pada dunia, ia pun melambaikan tangan pada supirnya yang telah mengantarnya itu.

'Pagi yang baru di sekolah!' pikirnya senang. 'Senangnya hatiku~ Bertemu teman-teman semua~'

"Eh, ada Nona Cai!" sapa seseorang, membuat Cai Wenji berhenti nyanyi-nyanyi sendiri di dalam hati – untung nggak nyanyi sendirian keras-keras, kalau nggak pasti diliatin anak-anak satu sekolah. Gadis itu tersenyum lebar pada orang yang menyapanya itu.

"Selamat pagi, Pak Jia Xu," sapanya sopan. Jia Xu mengangguk-angguk.

"Selamat pagi," balasnya dengan nada bicara ala Bang Rhoma Irama. Jangan salah, Jia Xu ini penggemar berat sang Raja Dangdut, sampai-sampai cara ngomongnya pun mirip banget! "Nona Cai kelihatan senang sekali pagi ini! Ada apa gerangan?" (jangan lupa, harus dibaca dengan logat Rhoma Irama!)

"Ah iya, Bang Rhoma— eh, maksud saya, Pak Jia Xu," Cai Wenji tertawa malu karena salah ngomong. "Habis bisa ketemu teman-teman, jadi saya senang."

"Ah, baik, baik, saya mengerti," Jia Xu mengangguk-angguk lagi. Seragam petugas kebersihannya tampak rapi dan bersih seperti biasa – walau wanginya seperti aroma Sup*r Pel yang lavender itu sih – dengan sapu gagang panjang andalannya di dalam genggaman seperti biasa. Di kepalanya tampak sehelai handuk putih yang berfungsi sebagai bandana. Belum ada murid yang tahu ada apa di balik bandana handuk itu. Misteri Sorban Handuk, kalau kata murid-murid Wei.

"Pak Jia Xu lagi apa di depan gerbang sekolah begini?" Cai Wenji balas bertanya. Jia Xu nyengir.

"Sebetulnya, Nona Cai, jangan dikatakan pada siapa-siapa," Tiba-tiba ia berbisik. "Tapi Pak Cao Cao memberikan saya tugas yang sungguh sulit dan mulia!"

"Wah!" Cai Wenji bersemangat mendengarnya. Asyik nih! "Disuruh apa, Pak?"

"Rahasia, lho ya," bisik Jia Xu dengan nada misterius. Cai Wenji mengangguk-angguk dengan semangat. Saat ini ia sedang membayangkan dirinya sendiri sebagai seorang agen rahasia yang akan menjalankan misi negara bersama seorang... petugas kebersihan sekolah. Tapi Cai Wenji menghargai semua profesi kok, jadi nggak masalah! "Jadi... sebetulnya... saya itu..."

"Hmm, hmm," Cai Wenji mendorong Jia Xu untuk melanjutkan.

"...disuruh untuk menggeledah para murid kalau-kalau ada yang membawa benda-benda yang bisa mengganggu proses belajar-mengajar di sekolah!"

"Ooh!" Cai Wenji kagum akan tugas mulia itu. "Misalnya apa, Pak?"

"Misalnya—" tiba-tiba Jia Xu menegakkan tubuhnya, mengambil sapunya, lalu segera melesat ke belakang Cai Wenji berdiri. "OI, TUAN XU HUANG! SINIIN KAGA TU KOMIK!"

"Ha?!" Xu Huang, yang baru aja sampai dan tinggal kurang 5 cm dari gerbang sekolah, kaget berat saat sebatang sapu mencegatnya. Komik Hamtaro yang sedang dibacanya otomatis terjatuh dari tangannya karena terlalu kaget.

"Komik ini saya sita!" kata sang petugas kebersihan sekolah tegas sambil memungut komik tersebut, sementara Xu Huang menatap Jia Xu dengan berbinar-binar.

"Ya ampun, pagi-pagi bisa lihat Guru Jia Xu beraksi!" seru Xu Huang bahagia. "Kalau gitu besok-besok bawa komik lagi, ah! Jurus pedang sapu Guru Jia masih keren seperti biasa, Guru!"

"Eh, jangan panggil saya 'Guru'," Jia Xu memuntir-muntir kumisnya dengan ekspresi sok cool. Ia memutar-mutar sapunya dengan lincah dan penuh gaya. "Saya ini cuma seorang tukang bersih-bersih setia Pak Cao Cao."

"Tapi Guru," tiba-tiba murid kelas XII itu meniru belalang sembah di lantai batu sekolah, menyembah pada Jia Xu. "Selama ini saya ikut klub kendo, hanya Guru Jia yang jurus-jurusnya paling indah dan mematikan! Kenapa Guru tidak pernah mau menerima saya jadi murid di aliran 'Pedang Sapu' Guru? Apa saya kurang cukup kuat?" Ia memegang kepalanya yang terbungkus handuk putih seperti Jia Xu. "Lihat, bahkan saya sudah menirukan maskot Guru; Misteri Sorban Handuk!"

"Ah, Tuan Xu Huang," Jia Xu menggeleng-geleng. "Aliran 'Pedang Sapu' tidak untuk orang-orang dari kelas elit seperti Anda. Hanya untuk orang-orang jelata seperti saya inilah yang cocok." Dan Jia Xu kembali berbicara seperti Rhoma Irama. "Sudahlah, Tuan Xu. Lanjutkanlah perjalanan Anda menggalang ilmu, biarkan saya melanjutkan tugas saya di sini; menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan belajar Anda dan teman-teman Anda."

"...baik, Guru. Saya tetap menganggap Anda sebagai Guru!" Dan Xu Huang berlari ke dalam gedung sekolah dengan terharu. Jia Xu menghela nafas, sementara Cai Wenji bertepuk tangan selesai menonton drama silat itu. Ah, jadi ingat tontonan waktu SD, 'The Legend of Condor Heroes', yang ada Yoko sama Bibinya itu, lho!

"Begitulah, Nona Cai," sang Misteri Sorban Handuk itu kembali mendekati Cai Wenji. "Tugas saya ini sangat berat. Kalau salah, nanti bisa berdampak buruk pada para murid."

"Keren, Pak Jia Xu—"

"HOOOI, TUAN ZHANG HE! SINIIN TU MAKE UP!"

Dan Jia Xu melanjutkan kembali tugasnya yang mulia; merebut kotak make up yang sedang dipakai Zhang He sambil jalan. Kehebohan tak terelakkan lagi, yang berakhir dengan cetakan sapu di pipi Zhang He, lipstick ungu tua tersangkut di lubang hidung Jia Xu, dan sang murid berambut panjang berlari masuk sekolah sambil menangis sedih.

"Wah, Pak Jia... Itu... itu hidungnya... nggak apa-apa...?"

"Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Hm! Bisa-bisanya bawa make up ke sekolah! Terlalu!" Walau Jia Xu tidak mempersoalkan kenapa murid cowok yang bawa make up.

"Ngomong-ngomong, Pak Jia, itu ada bulu mata palsu nempel di pipi Bapak—"

"TUAN CAO PI! TABLET-NYA SAYA SITA!"

Tapi Cao Pi, berstatus beda dari murid lainnya, nggak terima diperlakukan begitu oleh seorang tukang bersih-bersih sekolah. Siapa dia; beraninya membentak Pangeran Sekolah?!

"Apaan sih, Jia Xu?!" serunya sebal saat Jia Xu menarik tablet di tangannya. Tablet baru nih! Nggak boleh dipegang sembarang tangan! "Lepasin! Lu kayak kaga pernah lihat tablet aja sih!"

"Ini tugas dari ayah Tuan!" Jia Xu nggak mau kalah. Sekarang keadaannya sudah seperti tarik tambang. Di belakang mereka tampak murid-murid lain sweatdrop. Cewek-cewek fans club-nya Cao Pi pengen banget bantuin pangeran mereka, tapi mereka juga nggak berani kalau lawannya Jia Xu dan 'pedang sapu'nya... Bisa-bisa rambut mereka 'disisir' pake tu sapu!

"Tugas apaan, sih! Kaga bener lu ah!" Cao Pi makin bete. Pagi yang menyebalkan! Udah harus bangun pagi, tadi lagi-lagi Cao Ren nongol di rumahnya pake celemek pink pengen masakin sarapan buat dia, Zhen Ji hari ini nggak masuk sekolah gara-gara sakit, ini lagi tukang sapu nggak jelas! "Gue lagi twitter-an sama Shen! Jangan ganggu!"

"Nggak bisa! Pokoknya barang yang bisa mengganggu kegiatan belajar harus saya sita!" Jia Xu masih nggak mau kalah. Nggak peduli Cao Pi anak kepala sekolah, yang ngasih perintah kan kepala sekolah sendiri!

"Lho, ada apa ini!" Sang kepala sekolah itu sendiri tiba-tiba sudah ada di belakang Cao Pi. Mereka berangkat ke sekolah bareng, ternyata. Wajar sih, karena mereka ayah dan anak. Seketika, murid-murid perempuan di sekitar mereka langsung heboh sendiri.

"Ah, selamat pagi, Pak Cao Cao!" sapa Jia Xu hormat.

"Ayah! Ini si tukang sapu udah gila! Pecat aja!" kata Cao Pi sebal.

"Sebentar, ini ada apa sebetulnya?" Cao Cao masih nggak ngerti dengan 'tarik tambang' di depannya ini. "Kenapa kamu tarik-tarik tablet-nya Zihuan, Jia Xu?"

"Sesuai perintah Bapak kemarin, untuk menyita barang-barang yang dibawa murid yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran!" lapor Jia Xu sigap. Cao Cao ingat dia memerintahkan itu, tapi tampak agak ragu karena sekarang Cao Pi menatap sang Ayah kesal.

"Udah, Mengde," sebuah tangan menepuk bahu Cao Cao. Sang wakilnya juga sudah berdiri di sana. "Sekali-sekali kasih pelajaran buat anak ini. Jangan dimanjain terus. Dan gimana dengan karismamu kalau kamu ngalah terus sama anak ini?"

Cao Pi makin bete sama Xiahou Dun yang jelas-jelas sentimen sama dia. Apaan sih! Cuma gara-gara nilai matematikanya agak jeblok, tapi bukan alasan guru matematika yang nyebelin ini jadi sentimen, dong! Dan yaa... memang beberapa kali Xiahou Dun memergokinya main HP saat pelajaran, sih, tapi...

"Ah, kamu bener juga, Yuanrang," Cao Cao mengangguk pelan. "Aku nggak boleh main anak emas. Zihuan, kasih tablet kamu ke Jia Xu. Nanti pulang kamu ambil lagi."

"Argh! Ayah!" gerutu Cao Pi bete, tapi apa boleh buat, ia melepaskan tablet-nya itu, seketika membuat Jia Xu terbang ke belakang. 'Grrr, awas aja, Xiahou Dun! Jia Xu!' Cao Pi mengutuk-ngutuk dalam hati. Begitulah, Cao Pi nggak pernah memanggil guru dengan embel-embel. Dasar, terlalu 'sopan'.

Tapi, tentu saja Cao Pi nggak menyerah gitu aja melihat tablet kesayangannya yang bahkan ia bawa tidur di malam hari (eh, kok nggak rusak?). Dalam otaknya ia sudah menyusun rencana-rencana jahil bin nista yang akan merepotkan semua guru di Wei. Tentu saja dia tak kalah dari ayahnya sang Hero of Chaos, ia akan menjadi Son of Chaos! Yeah!


-Sementara itu, di ruang guru Wu...

"Pak Sun Jian! Ini pesanan Anda, silakan dinikmati~!"

Sun Jian, yang sedang bertandang ke ruang guru, langsung sumringah melihat sosok raksasa memasuki ruang guru tersebut sambil membawa sebuah nampan berisi makanan-makanan enak. Guru-guru lain yang ada di sana pun menyambut sang 'ibu' kantin dengan sorak sorai heboh.

"Ah, Gongfu! Akhirnya!" seru Sun Jian senang, dan seketika meja pertemuan di ruang guru penuh dengan makanan enak. Seperti biasa, setiap seminggu sekali Sun Jian pasti mengadakan acara makan enak bareng antar guru untuk mengeratkan hubungan kekeluargaan mereka (yang tentu disambut senang oleh guru-guru lainnya). Mentang-mentang terlalu kaya, nih...

"Wah! Ada hakao!" Ding Feng semangat, lalu langsung meraup sepiring penuh hakao dengan satu tangan. Bete, Lu Meng langsung memarahi sang guru keterampilan agar menyisakan untuk yang lain. Sementara itu Zhou Tai memasukkan butir demi butir onde-onde dengan cepat dalam diam ke mulutnya. Sun Jian tertawa melihat tingkah para gurunya itu.

"Pak Sun Jian, silakan makan...," kata Zhou Yu sang wakasek dengan sopan. Bisa dibilang ia yang termuda dalam ruangan itu. Maklum, guru Fisika itu sempat melompati beberapa kelas waktu ia masih SD, SMP, dan SMU, dan akhirnya ia lulus kuliah usia 17 tahun (a.n.: beneran ada lho yang kayak gini di Indonesia! Tahun 2009 kemarin ada seorang mahasiswa kedokteran UGM lulus pada usia 17 tahun... bukti nyata!), dan dengan kejeniusannya, ia menjadi wakasek termuda di AK Wu (selain karena dia memang akrab dengan keluarga Sun... ehem, itu lain cerita) di usia 21 tahun. Karena ia cuma berbeda 3 tahun dengan anak sulung Sun Jian, ia dan Sun Ce memang sudah bersahabat sejak kecil dan sampai sekarang pun hubungan persahabatan mereka tak terputus, bahkan walau Zhou Yu jabatannya adalah wakasek dan Sun Ce masih murid saat ini.

"Ayo Gongjin, kamu juga makan yang enak!" seru Sun Jian semangat sambil menepuk punggung Zhou Yu 'agak' keras. Kepseknya semangat banget gini, jelas ya sekolahnya juga isinya semangat-semangat semua.

"Te-terima kasih, Pak Sun...," katanya setelah menahan batuk.

"Ngomong-ngomong, gimana murid-murid setelah seminggu ngajar, nih?" tanya Sun Jian pada guru-guru di hadapannya. Semua langsung berbicara dengan semangat (dan mulut penuh makanan, jadi suasananya agak menjijikkan).

"Seperti biasa, anak-anak Wu ini jago banget bikin keterampilan kayu!" lapor Ding Feng semangat. "Terutama bikin kapal-kapalan! Kemarin Gan Ning berhasil bikin kapal bajak laut di dalam botol kaca!"

"...bersemangat... semuanya sangat olahragawan...," Zhou Tai sang guru olahraga menambahkan. Walau penampilannya preman abis, tapi dia adalah guru olahraga, jangan salah! Memang, Sun Jian ini dalam merekrut guru nggak pandang bulu atau penampilan, deh. "...terutama Sun Ce, Sun Quan, dan Sun Shang Xiang... mereka sangat ahli olahraga..." Sun Jian bangga mendengar anak-anaknya berprestasi.

"Tapi karena terlalu bersemangat jadi banyak yang terluka," Lian Shi menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebagai guru UKS, dia tahu betul siapa saja yang terluka. Dan banyak sekali murid-murid Wu yang terlalu bersemangat sampai melukai diri sendiri. "Dan sekarang yang paling sering ke UKS karena terluka adalah Sun Quan dan Xiao Qiao. Tapi luka-luka mereka tidak ada yang benar-benar gawat, kok."

"Maaf jadi merepotkanmu, ya, Lian Shi," Sun Jian mengangguk pada wanita seksi itu. Lian Shi tersenyum padanya.

"Lalu mereka juga menghabiskan jatah makanan mereka dengan cepat," Huang Gai menambahkan. "Pasti kelebihan tenaga mereka itu karena jatah makanan mereka yang terlalu banyak, Pak Jian."

Sun Jian tertawa. "Kan bagus, Gongfu! Mereka masih muda, memang harusnya semangat!"

"Tapi mereka juga nggak bisa diam di kelas!" Lu Meng protes. "Terutama Gan Ning dan Ling Tong! Mereka terus saja bikin keributan di kelas! Apalagi saat saya menerangkan proses reproduksi, Gan Ning terus saja nyeletuk hal-hal nggak senonoh! Mana mereka mulai bawa-bawa Boyan ke dalam kelompok heboh mereka, lagi..." Guru Biologi itu menghela nafas lelah.

"Xiao Qiao juga terus-menerus membuat keributan di kelas...," Zhou Yu geleng-geleng kepala. "Sepertinya untuk urusan ilmu-ilmu pasti di AK Wu ini hanya Sun Quan dan Lu Xun yang bisa diandalkan..."

Sun Jian tertawa lagi. "Tidak apa-apa! Kan memang kegunaan kita sebagai guru di sini adalah untuk membimbing mereka, dari tidak bisa menjadi bisa!" Ia menoleh pada Zhou Yu. "Sudah terbukti pada Bofu kan; Gongjin selalu mengajarinya dengan penuh kesabaran, sampai akhirnya dia bisa naik kelas dengan nilai bagus padahal waktu SMP nilai fisikanya nggak pernah tuntas!"

Sun Jian, dengan semangat kebapakannya, selalu bisa membuat guru-guru yang lain mengangguk-angguk setuju. Memang, itulah yang selalu mengikat seluruh penghuni AK Wu dengan erat; semangat kekeluargaan.


Begitulah, ceritanya bersambung dulu yaaa... Tenang, di chapter selanjutnya, kenakalan Cao Pi dan penyebab para guru Wei ada di kantor polisi akan terkuak semuanya! XD

Oh ya, juga, di tiap penutup chapter akan ada pembicaraan di ruang guru masing-masing sekolah, stay tune, ya! :D

Juga, review dan kritik sangat diterima, lho~~~ 3