Jarang tersenyum bukan berarti tak bisa tersenyum. Tak pernah menangis bukan berarti tidak bisa menangis. Percaya belum berarti meyakini. Takut belum berarti tak memiliki keberanian. Sama seperti halnya diriku. Bukan karena aku tak bisa tersenyum, menangis, percaya, atau pun takut. Tak ada hal yang benar-benar memotivasi untukku. Hanya saja … tak pernah ada yang mengajariku untuk merasakan hal tersebut. Aku bukanlah seorang pengidap akrofobia yang tak pernah berpijak di tempat yang tinggi menjulang. Aku pun ingin berada di tempat yang tertinggi. Merasakan bagaimana rasanya menatap dunia luas dari tempat tertinggi.
Terkadang aku bertanya-tanya kenapa jiwa ini tak pernah memiliki perasaan seperti halnya orang lain. Apakah jiwaku sudah alah? Sudah tak bisa menerima akuisisi dari luar? Atau mungkin jiwaku tak lagi berfungsi sebagai aksis tubuhku. Haruskah aku terus menghadapi hal yang ada dengan sebuah logika? Sepertinya kedua tangan dan kaki ini sudah tidak mampu lagi untuk mengampu kehidupan ini. Namun … aku tak ingin menyerah kepada kehidupan ini. Kalau pun kehidupanku masih panjang … aku ingin mewarnainya dengan perasaan yang baru. Bukan hanya sebuah perasaan yang menggambarkan kesunyian dalam hatiku.
Mungkinkah rasa lelah yang mengandam perasaanku? Rasa lelah ini bagaikan anestesi yang terus mengikis kesadaranku. Menyuruhku untuk tetap bermimpi dan tenggelam dalam dunia hayalan. Aku bukanlah seorang pemimpi. Aku ingin membuatnya menjadi kenyataan. Karena jika aku terus bermimpi … kenyataan akan semakin aksa dari pandanganku. Aku tidak ingin mimpi menutup kedua mataku. Aku ingin membuka kedua mataku. Namun kenapa setiap aku ingin membuka mata yang ada hanyalah pandangan gelap yang begitu kelam.
Apa mata ini masih terhalang oleh sesuatu? Dan aku akan berakhir menjadi seorang penunggu.
Sosok yang akan melepaskan ikatan ini. Ikatan kain penutup mata ini.
Disclaimer: Ryohgo Narita
Rating: M
Warning: YAOI, TYPO(S), FREAK, OOC, Made by a NEWBIE
Pairing: Shizuo Heiwajima & Izaya Orihara
.
.
Blinker
Second page
.
.
Keheningan perlahan mengikis ruangan yang penuh dengan aura-aura yang begitu menekan. Gerakan yang tak terlalu menonjol semakin menambah aura kelam yang begitu menyengat. Seakan-akan wisa dapat menyemprot dari segala arah ketika ada yang angkat bicara. Dua sosok yang saling berjauhan tetap tak bergeming di tempat. Menanti siapa yang lebih dulu memecah keheningan yang semakin lama semakin berlarut.
"Kau…."
"Kau..."
Dan keheningan berbalik arah saat keduanya berbicara secara bersamaan. Entah merasa tegang atau sedikit canggung keduanya kembali terdiam dan menunggu suara kedua yang akan memulai pembicaraan. Namun yang ada hanyalah keheningan yang begitu memekakkan pikiran. Ingin rasanya membanting sesuatu agar suasana menjadi ramai. Ingin rasanya berteriak untuk menghilangkan suasana yang seperti kuburan ini. Ingin rasanya mem—
"Maaf soal yang tadi. Aku tidak tahu kau sedang berdiri di depan pintu saat itu." Dan akhirnya sosok berambut pirang itu sudah mau berbaik hati membanting keheningan yang ada. Dia tampak menengok sedikit ke arah pria berambut hitam yang sedang memainkan ujung bajunya. "Hei! kau mendengarkanku, bukan?" sosok itu hanya mengangguk tanpa berniat menatapnya balik. Shizuo menghela napas berat sembari membaringkan dirinya pada ranjang tempatnya duduk. Dia menatap punggung pria tersebut dengan bingung. "Apa kau seorang tunawicara?" tak ada jawaban yang didapatkan Shizuo. Dia mendudukkan dirinya dan menghadap ke sosok yang sedang membelakanginya tersebut. "Shizuo. Heiwajima Shizuo. Selamat datang di kamar ini." Shizuo mengutuk perkataannya barusan. Sejak kapan dia mejadi seramah ini terhadap orang lain? Dan sejak kapan dia menjadi banyak bicara seperti tadi.
"Izaya. Orihara Izaya. Dan terima kasih telah menerimaku di kamar ini." Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Izaya. Bosan dengan keheningan itu, Izaya berbalik dan menghadap Shizuo dengan lekat. Dia bukanlah sosok pendiam. Seorang Izaya selalu tersenyum. Err, lebih tepatnya menyeringai. "So, Shizu-chan, apa kau sudah lama tinggal disini?"
Shizu-chan?
"Ck! Flea! Jangan memanggilku sok akrab seperti itu. Kau menyebalkan dan ya, aku sudah lama disini. Sekitar dua tahun lebih," jawabnya sembari menegakkan tubuhnya. Dia menatap tidak suka ke arah Izaya. Shizuo menyisir rambutnya dengan kasar menggunakan jari-jarinya. Tatapan lelah tampak tergambar di wajahnya.
"Eh, kenapa? Itu nama yang cocok untukmu. Bukankah kita akan sekamar? Kita pasti akrab dan dekat. Right, Shizu-chan?" Izaya tersenyum ke arah Shizuo yang memasang tampang sangat terganggu dengan panggilannya dan Izaya sangat mengetahui hal tersebut. Namun apa dikata, Izaya akan terus saja memanggilnya seperti itu.
'TWITCH'
"Tutup mulutmu yang tak pernah berhenti bergerak itu atau aku akan menyobeknya malam ini juga?" Shizuo menatap Izaya dengan tajam. Sepertinya hari-harinya akan semakin sulit jika harus sekamar dengan orang yang keras kepala seperti Izaya. Dan Shizuo kembali mengerang kesal saat Izaya hanya menatapnya dengan senyuman lebarnya. "Hish! Merepotkan! Cepat tidur, aku sudah lelah berbicara denganmu."
"Hahaha, Shizu-chan kawai~" ucap Izaya sembari memeluk bantal yang ada di dekatnya. Izaya hanya mengangguk dan bangkit dari duduknya. "Jangn melihat! Aku akan ganti baju."
"Ganti di kamar mandi!"
"Aku malas Shizu-chan~ dan jangan mengintip oke~?"
Shizuo hanya mendecih kesal sembari membalikkan badannya untuk memunggungi Izaya. Izaya tersenyum dan mulai membuka bajunya. Dia tampak mencari pakaian yang akan dipakaianya untuk tidur di dalam kopernya. Sepertinya besok dia harus merapikan semua pakaian ini. "Aku bilang jangan mengitip Shizu-chan~"
"Kau tahu sendiri jika orang dilarang maka akan semakin besar rasa penasaran untuk melanggarnya," ucap Shizuo sembari kembali memunggungi Izaya. Dia menghela napas lelah sembari menutup wajahnya dengan bantal yang digunakannya. Izaya hanya tersenyum tipis.
Hening.
Hening.
Hen—"
"Arrggh! Kalau sudah selesai cepat bilang! Aku ingin berbalik dan menyamankan posisi tidu—" ucapan Shizuo terputus saat dia melihat Izaya sudah tertidur dengan pulas. Dia menghela napas lelah sembari tersenyum tipis.
'PLAK'
Shizuo menampar kedua pipinya dengan kuat. "Ke-kenapa aku tersenyum?" tanyanya bingung seraya kembali memunggungi Izaya dan mencoba memejamkan matanya. Dan dia tidak bisa memejamkan matanya. Shizuo kembali membalikkan badannya. Namun sedetik kemudian dia bangkit dari tidurnya. "APA YANG KAU LAKUKAN?" teriaknya dengan nyaring. Matanya menatap kesal pada sosok yang sedang berdiri di hadapannya.
"A-ku tidak bisa tidur. Aku belum bisa menyesuaikan diri. Bo-boleh aku tidur di sebelahmu?"
"Kembali ke tampat tidurmu!"
"But, Shizu-chan~"
"Kembali-sekarang-juga!"
"No! Aku tidak bisa tidur."
"Fine! Jangan banyak bergerak!" ucap Shizuo pada akhirnya sembari bergeser sedikit untuk memberikan ruang untuk Izaya tidur. Izaya tersenyum tipis dan merebahkan dirinya dengan perlahan.
Hening.
Hening.
Hening.
"Um, Shizu-chan, bisa geser sedikit?"
Shizuo bergeser.
"Um, sedikit lagi."
Shizuo kembali menggeser tubuhnya sedikit.
"Shizu-chan?"
"APA LAGI?" Shizuo tidak habis pikir dengan sosok yang sedang berbaring di sebelahnya tersebut. Entah sudah berapa banyak dia mengalah dengan sosok baru yang membuatnya stress tersebut. Shizuo mendudukkan dirinya dengan kasar. "Kalau kau tidak ingin sempit, kembali ke ranjangmu dan biarkan aku tidur dengan tenang!" Izaya hanya menggeleng saat mendengar ucapan Shizuo barusan. "Diam dan tidur, mengerti?" Izaya mengangguk mengerti saat Shizuo mengatakan hal tersebut.
Shizuo menghela napas lelah sembari memejamkan matanya. Tak sadar, Shizuo membalikkan tubuhnya dan saat ini wajahnya sedang berhadapan dengan Izaya. Izaya yang pada saat itu belum tertidur hanya mampu membulatkan matanya saat merasakan napas Shizuo yang begitu dekat dengan wajahnya. Wajah Izaya memerah sempurna saat menyadari betapa dekat wajah mereka sekarang.
'BRUAK'
Izaya menendang Shizuo dengan kuat sehingga menyebabkan Shizuo jatuh dari ranjangnya tersebut. "Eh, go-gomen!"
"TIDUR!"
"Ba-baik!"
Dan setelah acara kecil-kecilan tersebut, akhirnya Shizuo dapat tidur dengan tenang. Sementara Izaya, setelah kejadian muka memerah tadi, entah kenapa dia menjadi semakin berdebar ketika bagian tubuh Shizuo tak sengaja bersentuhan dengan tubuhnya. Poor Izaya yang susah untuk memejamkan mata.
-VargaS. Oyabun-
Bias-bias sinar matahari tampak menerobos masuk ke dalam ruangan yang cukup tenang di sebuah dorm besar. Izaya tampak menggeliat tak nyaman saat wajahnya disapa oleh cahaya sang mentari yang sudah membumbung di ufuk wetan. Perlahan-lahan kedua kelopak pucat itu mulai bergerak. Izaya tampak mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya sekitar. Dia bangkit dan mendudukkan dirinya pada ranjang tersebut.
'TRAK'
Izaya mengerutkan keningnya bingung saat mendengar suara tersebut. Dia bangkit dari duduknya dan menuju sebuah dapur kecil yang ada di dalam kamar tersebut. Beruntung kamar di asrama ini memiliki sebuah dapur disetiap kamar. Matanya memicing tajam saat melihat Shizuo sedang meletakkan dua piring pancake dengan sirup jeruk di atasnya. "Shizu-chan, sedang apa?"
"Apa kau tunanetra? Kau tidak lihat aku sedang menyiapkan makanan?" tanya Shizuo sembari meletakkan dua gelas susu pada meja kecil yang ada di dapur tersebut. Dia melihat Izaya yang sedang menatap makanan tersebut dengan datar. "Aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Kalau kau mau makan saja dan jika kau tidak menyukainya silahkan ambil makanan di kantin di bawah." Shizuo mendudukkan dirinya dengan perlahan dan mulai memotong pancake tersebut. Matanya memperhatikan Izaya yang menarik kursi dan mendudukkan dirinya.
Izaya tersenyum lebar ke arah Shizuo. "Tentu saja aku akan memakannya. Ini buatan Shizu-chan, kan~?" Izaya tampak memotong pancake tersebut dan mulai menyantapnya. Shizuo memperhatikan Izaya dengan lekat. "What's the matter, Shizu-chan?" tanyanya sembari meletakkan pisau dan garpunya. Izaya menatap Shizuo dengan lekat.
"Tidak. Cepat habiskan makananmu. Aku akan mengajakmu berkeliling hari ini."
"Ha'i~"
Shizuo meletakkan piringnya pada wastafel dan masuk ke dalam kamar mandi. Shizuo menutup pintu di belakanganya dengan pelan. Dia menghela napas berat sembari menatap wajahnya yang terpantul di cermin. "Ke-kenapa aku merasa memperhatikannya begitu manarik? Apa ada yang salah dengan mataku. Ha—ah, sepertinya aku hanya kurang istirahat," ucap Shizuo sebelum membasuh wajahnya. Dengan cepat dia mengeringkan wajahnya dan keluar dari tempat tersebut. "Kau sudah selesai? Ayo cepat!"
Izaya mengangguk mengerti dan segera mengikuti Shizuo.
.
.
.
Saat ini mereka sudah berada di gedung utama. Shizuo berjalan beriringan dengan Izaya. "Ini adalah ruangan kesenian dan yang di depannya adalah ruang olahraga." Shizuo melihat Izaya hanya mengangguk dan sesekali menengok ke dalam ruangan-ruangan tersebut. "Dan yang ini adalah ruangan kesehatan. Ruangan yang berwana biru muda itu merupakan ruangan untuk beristirahat." Shizuo terus menjelaskan ruangan yang dilaluinya satu per satu. Sementara Izaya hanya sesekali tersenyum sembari berjalan dengan kedua tangannya tergenggam di belakang.
"Ini ruangan terakhir, ruangan untuk bimbingan bahasa asing. Dan kau lihat tiga gedung besar yang ada di sana?" Shizuo tampak menunjuk tiga buah gedung yang dibangun bersebelahan. "Gedung yang di sebelah kanan adalah gedung khusus untuk laboratorium dan penelitian, yang di tengah gedung khusus untuk ekstrakulikuler, dan yang terakhir adalah kantin sekolah. Sedangkan tempat khusus belajar dan mengajar ada di gedung depan. Gedung tempatmu pertama kali masuk. Kau mengingatnya?" Izaya mengangguk dan tersenyum ke arah Shizuo.
"Shizu-chan?"
"Hm?"
"Apa mereka teman-temanmu?" Izaya tampak menunjuk ke arah dua orang pria yang sedang melambaikan tangannya ke arahnya. Shizuo hanya mengangguk dan membawa Izaya ke dua orang tersebut.
"Perkenalkan, yang berkacamata ini adalah Shinra dan ini Kadota," ucap Shizuo sembari menunjuk temannya satu per satu. "Dan kenalkan ini teman sekamarku, Izaya."
Mereka bertiga tampak bergantian berjabat tangan sebelum akhirnya Shinra angkat bicara. "Bagaimana malammu? Kau tahu, Shizuo itu sangat berbahaya untuk orang sepertimu!" ucapnya sembari tersenyum mengejek ke arah shizuo.
"Eh? Benarkah? Semalam aku tidur seranjang dengannya?"
Hening.
Hening.
Hening.
"WHAT?" baik Shinra maupun Kadota menatap Izaya dengan tatapan tak percaya. "Kau dan Shi-shizuo? Wo-woah! Itu benar-banar keajaiban! Kau tahu, nyawaku pernah hampir terbang saat aku mencoba mengambil bantal yang ada di ranjangnya!"
"Hei! kau mengambilnya dan ingin membuangnya keluar jendela, tentu saja aku marah!"
"Dan aku pernah duduk di ranjangnya dan dia hampir saja melemparku keluar jendela!"
"Itu karena kau menumpahkan kopi pada spreiku! Hentikan percakapan konyol ini! Aku hanya membantunya untuk menyesuaikan diri!"
Shinra menatap Izaya dengan bingung. Matanya memicing tajam saat menyadari sosok itu hanya diam dan menunduk. Shinra menundukkan kepalanya dan menatap Izaya dengan lekat. "Heee? Kenapa kau bersemu merah?" tanyanya tak percaya sembari tertawa kecil sementara Kadota hanya mampu menghela napas maklum.
"Oi! Flea! Ada apa denganmu?"
"A-ah tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit kepanasan. Bisa kita kembali ke kamar?" Shizuo mengangguk dan melambaikkan tangan singkat pada Shinra dan Kadota.
-VargaS. Oyabun-
Izaya menyandarkan kepalanya pada jendela yang ada di kamarnya. Dia menatap ke arah Shizuo yang sedang berbaring di ranjang dengan lekat. "Shizu-chan? Kenapa kau tak pernah tersenyum?" tanyanya sembari mendekat ke arah Shizuo dan mendudukkan dirinya di lantai tepat di sebelah ranjang Shizuo.
"Aku tidak suka dan tidak mau menyukainya." Shizuo menjawab pertanyaan Izaya tanpa menatap Izaya sedikit pun. Dia menutup matanya menggunakan punggung tangan kanannya sembari menghela napas lelah.
"Kau akan cepat tua Shizu-chan~" Izaya mencoba mengganggu Shizuo. Dengan perlahan dia bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi Shizuo. "Atau kau mempunyai masalah yang membuatmu sulit untuk tersenyum?"
Mata Shizuo membulat.
"Apa kau takut jika hal tersebut kembali membayangimu? Apa kau masih merasa bersalah. Atau mungkin ka—"
'BUGH'
Izaya membulatkan matanya tak percaya saat tiba-tiba Shizuo menariknya dan membanting Izaya ke ranjangnya. Izaya menatap Shizuo yang sedang berada di atasnya. Kedua tangan Shizuo berada di sisi kanan dan kiri kepalanya. "A-apa yang kau lakukan, Shizu-chan?"
"Aku bertanya-tanya kenapa orang baru sepertimu mulai mencampuri urusanku. Apa yang kau tahu tentang diriku? KAU HANYA ORANG BARU! Jangan-pernah-mengatakan-hal-seperti-tadi." Shizuo mendekatkan wajahnya ke wajah Izaya dan berbisik di telinga Izaya. "Atau kau akan menderita."
Izaya membulatkan matanya saat Shizuo menempelkan bibirnya tepat di pinggir bibir Izaya. Izaya tidak tahu siapa yang berbicara saat itu. Karena suara Shizuo begitu berat dan serak. "Kau mengerti itu, Izaya-kun?" Izaya hanya mengangguk dan mencoba mendorong tubuh Shizuo. Namun Shizuo memegang kedua tangannya dengan erat. "Jangan coba-coba untuk memberontak."
Izaya menatap datar langit-langit kamar mereka. Sedetik kemudian dia menyeringai tipis. "I got you, Shizu-chan~" batinnya sembari menyeringai.
BERSAMBUNG….
Terima kasih bagi yang telah mengikuti fanfic ini.
Saa, Mind to Review?
