Tubuh ini masih kecil dan tak pernah bisa untuk melakukan hal-hal yang pasti. Kedua tangan mungil ini seharusnya membuat sesuatu dengan bentuk yang lucu dan menggemaskan. Seharusnya kedua tangan ini bermain dengan pasir pantai yang putih dan berkilau saat diterpa cahaya bulan. Seharusnya hati ini masih polos tak ternoda. Namun, semua itu hanyalah hayalan semata. Semua itu hilang dari pandanganku. Lenyap dari kedua retina mataku saat tubuh kecilku tak lagi bertindak sesuai dengan yang aku inginkan.

Semua senyum hangat dan afeksi itu tinggallah ucapan semata. Senyuman empat makhluk ciptaan Tuhan yang terbingkai figura berwarna putih itu hanyalah lukisan semata. Semuanya lenyap tergenang cairan merah pekat yang mengucur deras. Tergenang dan menutupi senyuman itu. Melenyapkan semua goresan pena yang membentuk kata keluarga yang utuh. Bukan niat untuk melukai. Bukan niat untuk menghancurkan kebersamaan ini.

Hanya saja … pikiran dan hati ini tak pernah kuat melihat sosok itu selalu terluka. Kau selalu merusak senyuman yang terukir di wajahnya. Menorehkan luka baru yang tak terlihat mata. Membuatnya kembali menatapku dengan senyuman yang kembali membuat hatiku sakit. Senyuman kesedihan itu. Kedua netra ini sudah tak sanggup lagi untuk mengalami hal itu berkali-kali bak roda yang terus berputar. Sudah cukup kau melukainya … dan membuatnya menderita.

Biarkan aku yang menggantikannya. Meskipun aku mengatakan hal itu … kau tak pernah peduli dan selalu menyingkirkanku dari hadapanmu. Kau tak menyukainya dan kau menyiksanya. Jiwa yang lelah sudah tak mampu berpikir secara jernih lagi. Pikiranku sudah penuh dengan hal-hal yang jahat dan dendam. Kini … biarkan kami hidup bahagia tanpa belenggumu. Keluarkan kami dari penjara hidupmu. Biarkan aku yang menjaganya.

Kuberikan kado terindah dalam hidupmu.

Lukisan merah indah yang melekat dalam jiwamu.

Biarkan aku yang menanggung semua kesalahan ini.

Biarkan kain penutup mata ini terikat erat di kepalaku.

Tolong … biarkan aku seperti ini.

Disclaimer: Ryohgo Narita

Rating: M

Warning: YAOI, TYPO(S), FREAK, OOC, and MANY MORE

Pairing: Shizuo Heiwajima & Izaya Orihara

.

.

Blinker

Third page

.

.

Keheningan melanda ruangan yang berbau manis tersebut. Menyisakan deru napas dua makhluk ciptaan Tuhan yang saling beradu satu sama lain. Tatapan mata yang tajam itu kini melembut seiring digerakannya kedua tangannya untuk tak lagi menindih sosok yang ada di bawahnya. Bangkit dari tempat tidur itu sembari merapikan pakaian yang dikenakannya. Langkah kecil dan pelan tercipta di kedua kaki jenjang itu. Membuat jarak yang cukup jauh antara dirinya dan sosok berambut hitam tersebut.

Langkahnya terhenti. Tubuh itu tersandar pada pintu yang sedang tertutup. Kedua mata yang tertutup rapat seakan-akan tak berniat untuk kembali melihat keadaan yang tercipta sekarang. Putus asa seakan-akan menguasai organ tubuh berwarna kemerah-merahaan yang tersembunyi di balik perutnya. Tubuh itu bergetar seperti menahan perasaan yang membuncah. Namun yang terjadi selanjutnya sangatlah berbeda dari keadaan yang ada.

Sosok bermata madu itu membuka lebar kedua matanya dan menatap sosok yang sedang menatapnya lekat. Dia tersenyum … sangat tipis. "Jangan. Aku tidak mau melukai lagi," ucapnya sembari keluar dari ruangan tersebut. Begitu lirih untuk cukup didengar oleh sosok berambut hitam tersebut.

Izaya bangkit dari tempat tidur tersebut dan mendudukkan dirinya. Kepalanya tertunduk sangat dalam. "Ternyata … memang dia," batinnya sembari tersenyum miris.

Izaya segera berdiri dan berjalan menuju sebuah lemari pendingin kecil dan memasukkan kepalanya ke dalam freezer yang ada. Entah apakah kegiatan itu dapat mendinginkan kepalanya atau malah sebaliknya. Selang beberapa saat, Izaya menarik kepalanya dan mengambil sekaleng minuman dan membukanya dengan pelan. Dia tersenyum tipis sembari menatap ke arah sebuah figura putih yang berisikan sebuah foto dengan empat sosok yang sedang tersenyum. Foto yang terasa begitu hangat saat dipandang.

.

.

.

Shizuo mendudukkan dirinya pada sebuah bangku taman yang ada di belakang asramanya. Matanya terpejam dan wajahnya terlihat begitu tertekan. Seakan-akan sedang berpikir keras. Helaan napas berat meluncur dari bibir tipisnya. Dia menatap ke arah langit dan melihat begitu banyak kepingan tata surya yang berkilau. Bintang. Entah mengapa benda itu begitu cantik jika dipandang dengan seksama. Terlihat kecil, namun memiliki cahaya yang tiada habisnya.

"Aku ingin kau menjadi seperti bintang. Memiliki cahaya sendiri dan terus bersinar dengan cerah. Kautahu … aku berhutang banyak padamu."

'TES'

Shizuo menutup kedua matanya menggunakan punggung tangan kirinya. Tidak boleh. Dia tidak boleh membuang-buang air matanya seperti ini. Bukankah dia pernah merasakan hal yang lebih menyakitkan daripada ini. Dia harus bertahan dengan kehidupan yang begitu luas. Dia hanya perlu melihat, mendengar dan merasakan. Melihat semua kejadian yang ada di hadapannya dengan kedua matanya. Mendengar semua ucapan yang ditujukan untuknya. Merasakan semua perasaan yang orang lain berikan kepadanya.

"Aku merindukannya."

-VargaS. Oyabun-

Suasana pagi yang menyelimuti kesegaran yang ada tampak begitu lembut. Stratus yang seakan-akan menyentuh permukaan bumi seakan-akan ikut menghiasi pagi yang begitu indah ini. Kesejukan yang diciptakan oleh seribu tetesan embun tampak membuat zamin di sekitarnya menjadi begitu lembab. Makhluk Tuhan begitu bervariasi. Semuanya melengkapi bumi yang begitu fana ini. Menghiasi setiap detik yang ada dengan gerakan-gerakan aktif mereka.

Deklinasi masih tetap menunjukkan arah utara seperti biasanya. Menandakan bahwa tidak ada yang salah dengan hari ini. Namun kejadian sebaliknya tampak memayungi ruangan yang sedang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kebiasaan yang cukup aneh.

"Aku hanya mengantar teman sekamarmu yang semalam menyelinap masuk ke dalam kamarku. Apa kalian berkel-aw!" pria dengan rambut hitam yang mengenakan kacamata itu tampak memegangi kepalanya dengan kuat. "Kenapa kau memukulku?" tanyanya pada sosok bermata madu yang sedang menatapanya dengan malas.

"Minggir, aku mau berangkat kerja."

Keempat orang yang ada di sana tampak terdiam dan memandang sosok bermata madu tersebut dengan tatapan bingung. "Ini weekdays dan sekolah dimulai beberapa menit lagi," ucap seorang pria yang memakai ikat kepala sembari menggaruk lehernya yang tidak gatal. Sepertinya dia sendiri bingung dengan sikap teman lamanya ini. "Shizuo, cepatlah. Kita bisa telat."

Shizuo hanya mampu mengangguk dan bergegas untuk bersiap-siap.

"Dasar bodoh~"

Shizuo berbalik dan menatap Izaya dengan lekat. "Apa kau bilang? Dasa kutu!"

"Aku hanya bercanda Shizu-chan~"

"A-apa kau bilang?"

Dan?

.

.

.

"Ini hari pertama di bulan ini kalian sekolah dan kalian telat! Lihat berapa lama kalian telat untuk masuk kelas!"

Lalu?

Ketiga sosok tak bersalah itu hanya memandang kesal ke arah dua orang yang telah menyebabkan ini semua. Karena omongan tadi pagi … Izaya dan Shizuo berakhir dengan adu mulut yang tentu saja dimenangkan oleh Izaya. Sepertinya hal itu lebih baik daripada mengingat kembali kejadian semalam. Tanpa disadarinya sendiri, Izaya tersenyum tipis.

Berdiri di tengah lapangan sepertinya bukan hal yang terlalu buruk untuk menyambut hari pertamanya bersekolah di sekolah besar ini. Izaya sendiri tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Dia lebih tertarik dengan pria bermata madu yang saat ini sedang berdiri dengan tampang kesalnya. "Suatu kehormatan bagiku dapat melihat tampang itu darimu Shizu-chan~ hehehe." Izaya tersenyum mengejek ke arah Shizuo sembari berpindah tempat—mengantisipasi duluan.

"Cih! Kau membuat suasana semakin panas, sialan! Kau mau berkelahi lagi! Silahkan!" Shizuo tampak menurunkan tangannya dari pelipisnya—sebelumnya dia sedang hormat sembari menghadap bendera Jepang.

"He-hei! Hentikan!"

"Minggir Shinra! Aku ingin menyobek mulut besarnya itu! Mulut itu yang selalu menngeluarkan kata-kata tak senonoh!" Shizuo menyingkirkan Shinra dari pandangannya dan hendak menarik Izaya sebelum …

'DOR'

'PRANG'

… sebuah peluru yang bukan merupakan peluru palsu menembus kaca yang ada di belakang mereka.

"Tuhan, ampuni dosaku," ucap Dotachin sembari terus hormat menghadap bendera Jepang. Mukanya menyiratkan ketenangan yang sangat dibuat-buat. Jauh di dalam lubuk hatinya … Dotachin sedang berteriak ketakutan akibat peluru tersebut. Walker sendiri hanya mampu terdiam di tempat.

Lalu?

Mereka kembali ke tempat masing-masing sembari hormat dengan tegaknya.

"Bergerak lagi dan peluru ini tidak segan-segan menembus kalian. Satu berbuat salah … lima yang akan mati," ucap seorang guru wanita berambut hitam panjang yang Indah, Namie-san atau yang lebih dikenal dengan Bakenamie. Bakemono Namie. Monster Namie. Hanya segelintir murid yang berani mengucapkan kata-kata tersebut di belakang guru wanita yang terkenal berdarah dingin tersebut. "Masih mau bertaruh denganku?"

"TIdak!" jawab mereka serentak tak terkecuali Izaya dan Shizuo. "Yang bergerak akan tidur di luar!" teriak Shinra menambahi. Hal tersebut kembali membuat mereka hanya mematung di tempat.

Dua jam.

Empat jam.

Sampai pelajaran terkahir telah selesai … yang merupakan akhir mereka untuk tak lagi berada di tengah lapangan tersebut. Terhuyung kembali menuju kamar masing-masing. Dimana Dotachin harus bersenang hati menyeret Shinra yang sudah tak mampu untuk berjalan. Entah apa dia pantas memiliki cita-cita sebagai seorang dokter jika begitu saja dia sudah tak mampu berjalan. Cukup malang nasib Walker yang harus berjalan sendiri menuju kamarnya—karena dia memang tidur sendiri saja.

Lebih malang lagi nasib Izaya yang harus melihat seorang pria yang sedang terlihat seperti mengesot di belakangnya.

"Ini semua karena aku tidak minum susu pagi ini," batin Shizuo sembari mencoba bangkit dan terus berjalan menuju kamarnya. Dia mendelik kesal ke arah Izaya yang sedang menahan tawanya.

'GREP'

"Aaa!" Izaya terkejut saat seseorang memegang sebelah kakinya. Dia menatap Shizuo yang sedang tertawa dengan sinis. "Hahaha lucu sekali, bodoh!" ucap Izaya sembari masuk ke dalam kamarnya. Shizuo hanya tersenyum tipis dan mengikuti Izaya dari belakang.

Tanpa berniat untuk membersihkan diri, Shizuo merebahkan dirinya di atas ranjang berukuran satu orang tersebut. Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa kaku dan tidak enak. Membiarkan ranjang empuk itu memanjakan punggungnya yang seakan-akan hancur berkeping-keping.

"Shizu-chan, mau mak-eh?" Izaya menatap Shizuo dengan lekat. Senyuman tipis terukir di bibirnya saat melihat Shizuo sudah tertidur dengan pulas. Izaya menghela napas lelah sembari mengambil ponselnya dan menekan beberapa digit angka.

"Dia sedang tertidur. Saat ini keadaannya baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir untuk saat ini."

[Apa kau memperhatikan ada tingkah aneh yang diperlihatkannya atau mungkin dia terlihat sedang banyak pikiran, tertekan mungkin?]

"Masalah yang ada masih terlalu kecil untuk memancing emosinya. Kau hanya perlu menunggu sebentar lagi~"

[Baiklah kalau begitu. Kuserahkan padamu.]

Izaya menutup ponselnya dan kembali menatap Shizuo. Dengan perlahan dia mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Shizuo. "Sepertinya ada seseorang yang tak ingin membuatmu melupakan masa lalu kelammu. Semoga kau mampu bertahan~"

-VargaS. Oyabun-

Shinra menatap Dotachin dengan lekat sembari memainkan makanan yang ada di hadapannya. "Kau memperhatikan Izaya, kan? Dia sepertinya tidak asing bagiku. Sekan-akan aku sudah mengenalnya sejak lama. Tapi … aku lupa pernah bertemu dimana dengannya," ucap Shinra sembari menghela napas lelah.

Dotachin melepas kain yang menutupi rambutnya dengan perlahan dan balik menatap Shinra. "Kau berpikir yang sama denganku, huh? Aku juga merasa begitu. Aku merasa bahwa keberadaannya di sekitar kita seakan-akan tak terasa seperti sosok yang baru. Melainkan sosok yang sudah lama bersama kita." Dotachin menguap lebar sembari bersandar pada pintu lemari pendingin. Dia memijat lehernya yang tampak sangat lelah setelah seharian menatap bendera.

"Apa Shizuo merasakan hal yang sama seperti kita? Tapi … yang masih membuatku bingung adalah kejadian semalam. Saat Shizuo menyelinap masuk ke dalam kamar. Kau memperhatikan sorot matanya. Mata itu sama dengan mata yang pertama kali memandangku. Kosong dan dingin. Seakan-akan dia kembali menjadi sosok yang pendiam dan menutup diri. Kira-kira apa yang terjadi dengan Shizuo dan Izaya, ya?" Shinra memperbaiki letak kacamatanya dan bangkit dari duduknya. Dia meletakkan piring kotornya dan mencucinya dengan cepat. Shinra tampak terdiam dan menundukkan kepalanya. "Apa Shizuo akan kembali?"

"Jaga ucapanmu. Dia sudah berusaha menjadi sosok yang sekarang. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Mungkin semalam dia hanya sedang kelelahan." Dotachin kemudian bangkit dari duduknya dan merebahkan dirinya pada ranjang kecil miliknya. Matanya menatap langit-langit kamar itu dalam diam.

"Apa kau tidak bisa menerimanya dengan baik? Dia hanya ingin berteman denganmu, sialan!"

"Aku … tak butuh teman."

"Apa katamu, hah?"

"Aku tak tahu apa itu teman."

Dotachin memejamkan matanya dengan erat, "Jangan sampai terulang," batinnya sembari mencoba untuk tidur dan melupakan semuanya.

Pagi itu suasana masih sangat dingin. Hujan semalaman membuat udara terasa begitu dingin dan seakan-akan membekukan napas. Rintik-rintik hujan masih setia menghiasi udara yang tak terlihat mata. Deru mesin mobil terdengar begitu nyaring melintasi sebuah gerbang besar yang terpampang jelas di pinggir jalan raya tersebut. Sebuah mobil berhenti tak jauh dari gerbang tersebut. Tak lama kemudian seorang pria keluar dari mobil mewah itu.

Mata yang terlihat begitu sendu dan kosong itu menatap ke arah bangunan besar yang ada di hadapannya.

"Aku ingin kau menjadi seperti bintang. Memiliki cahaya sendiri dan terus bersinar dengan cerah. Kautahu … aku berhutang banyak padamu."

Dia menatap mobil yang membawa sosok yang sangat disayanginya itu dengan tajam. Mata itu begitu gelap dipenuhi oleh amarah dan dendam. "Fake smile," ucapnya sembari menarik koper yang ada di tangan kanannya. Membiarkan rintik hujan membasahi tubuhnya. Kaki itu terus melangkah memasuki sebuah ruangan besar yang penuh dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi.

"Hahaha kita akan mencari teman yang banyak. Oke, Kadota?"

Dia menggenggam gagang pintu itu dengan kuat. "Teman, huh? Kurasa aku tak membutuhkannya." Sosok itu membuka ruangan itu dan berjalan menuju sebuah meja besar yang berada di dekat pintu masuk tersebut. "Aku ingin peta gedung ini," ucapnya sembari menatap gadis berkaca mata dengan rambut hitam pendek yang ada di hadapannya dengan datar. "Terima kasih."

Gadis tersebut hanya mengangguk kaku sembari tersenyum tipis.

Sosok itu menutup pintu di belakangnya dengan perlahan dan membuka peta yang baru saja diterimanya. Dia kembali menggulung peta tersebut saat sudah mengetahui letak ruangan yang akan dikunjunginya. Kakinya terus melangkah membawanya menuju sebuah ruangan yang cukup besar. Ketukan kecil diberikannya pada pintu tersebut. Dia kemudian membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. "Selamat pagi. Maaf mangganggu."

"Tidak apa-apa. Aku sudah menunggu Anda … Shizuo-san."

Shizuo membuka matanya dan mendudukkan dirinya. Dia menoleh ke samping dan mendapati Izaya sedang tertidur pulas. Shizuo tampak menarik napasnya dengan dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Tangannya berusaha meraih ponselnya. "Aku kembali membenci sekolah ini," ucapnya sembari menatap datar pada foto yang ada di layar ponselnya. "Kau tak pernah membiarkanku melupakan masa lalu itu, huh? Seharusnya aku tak melihat matamu saat aku membunuhmu. Kesalahan kecil yang bodoh," Shizuo menyeringai tipis sembari terus memandangi foto yang ada di layar ponselnya tersebut.

Apakah Shizuo kembali?

BERSAMBUNG...