Previous Chap :
Dari ekor mataku kutatap dirinya yang masih fokus dengan mikroskop. Sempat kukira dia akan mengatakan hal yang sama ke Hinata, tapi ternyata aku malah dibuat kaget oleh tingkahnya. Dengan tenang dan tanpa tatapan sinis, ia menatap mata Hinata, lalu menjelaskan perlahan. "Kau harus tau dulu pengertian dasarnya—" Lalu penjelasan dari Kakashi-sensei tidak lagi kudengar karena sekarang aku sudah merutukinya dalam hati.
Apa-apaan guru baru itu! Aku punya salah apa sih sama dia!
.
.
Sakura's POV
Sepulang sekolah, aku langsung melempar tas sekolahku ke kasur dan dengan cepat aku duduk di depan meja belajar. Besok aku ada ujian tes masuk universitas Konoha. Universitas yang sudah sejak dulu almarhum orangtuaku inginkan untuk aku menimba ilmu di sana. Karena aku sudah belajar dari berminggu-minggu yang lalu, hari ini aku cukup mengulang hafalan saja. Terlalu rajin? Biarlah, aku benar-benar ingin mendapatkan nilai yang terbaik untuk tidak menggagalkan harapan terakhir orangtuaku itu.
Aku harus berusaha!
Dengan pandangan serius aku mulai membuka halaman depan buku catatan kelas 10 sampai 12 yang sudah kurangkum, dan membacanya dengan tekun. Tapi ketika jam menunjukkan bahwa ini sudah sore, tiba-tiba saja ada suara televisi yang mulai menggangguku. Suara yang sangat terdengar jelas dari kamar sebelah, si guru baru. Kuputuskan agar mengabaikannya dan terus fokus ke tulisan-tulisan yang ada di buku. Mungkin dalam beberapa menit lagi suara itu akan hilang dengan sendirinya.
Tapi sampai malam menjelang, suara mengganggu itu tetap terdengar dan membuatku semakin tidak bisa konsen belajar. Diawali dengan menarik nafas, aku mengusapkan kedua telapak tanganku ke wajah—frustasi.
Sumpah, guru itu memang membuatku kesal setengah mati!
Duk duk duk!
Dengan kencang aku pukuli tembok yang adalah asal suara itu. Biasanya kalau ada tetangga yang terlalu semena-mena, kita yang merasa terganggu hanya tinggal ngetuk tembok kamar atau pintunya, lalu yang berisik itu pasti akan mengerti. Tapi sepertinya orang di kamar sebelah ini malah tidak menanggapi ketukanku. Aku mencoba sabar untuk tidak berteriak. Mungkin ia tidak mengerti aturan yang ada di apartemen ini sehingga harus dinasihati dengan lisan.
.
.
.
HATE YOU ALWAYS
"Hate You Always" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]
Romance, Drama, Hurt/Comfort
AU, OOC, Typos, etc.
(kakashi beriris onyx dan dia ngga pake masker)
.
.
SECOND. Malu Plus Kesel
.
.
Tok tok tok.
Setelah ketukan ketiga, pintu yang di depannya bertuliskan 'Hatake' itu terbuka. Menampakan Kakashi-sensei yang sedang melihatku dengan tatapan malasnya.
Orang tersebut masih mengenakan baju kerjanya sebagai guru, tapi yang sekarang terlihat lebih berantakan dan kusut. Dia tidak memakai jasnya, dasi yang tergantung di lehernya hilang entah ke mana, dan beberapa kancing teratasnya sudah terbuka. Ditambah rambut perak yang menantang gravitasi itu juga semakin acak-acakan. Sepertinya ia sedang tertidur sebelum aku mengetuk pintu kamarnya.
"Malam, sensei." Sapaku penuh penekanan.
"Malam, Haruno." Ia hanya menyenderkan kepalanya di pintu—menungguku untuk berbicara lagi.
"Apa sensei tau kalau aku ada ujian tes masuk universitas pada besok pagi?"
"Ya, lalu?" Jawabnya santai, membuatku urat di dahiku berkedut kesal.
Orang ini memang minta dihajar!
"Matikan TV sensei!" Bentakku dengan emosi sambil menantap mata onyx-nya.
Sejak kalimat perintah tadi terucap, matanya semakin menajam—seakan tidak suka. Lalu ia sedikit menyingkir dari pintu masuk kamarnya dan bersikap seakan memperbolehkanku masuk. "Matikan sendiri kalau kau mau. Tidak baik menyuruh orang yang lebih tua."
Kali ini aku menautkan kedua alisku. "Dan tidak baik juga untuk menyuruh muridmu masuk ke daerah pribadimu malam-malam seperti ini. Kau bisa dicap pria mesum!"
"Aku hanya menawarkan. Kau bisa menolak bila tidak mau." Walau masih memakai wajah malas, ia mulai menaikkan sudut bibirnya. Sepertinya ia senang karena rencananya untuk membuatku kesal itu berhasil.
"Tolong matikan TV sensei..." Kali ini aku sedikit memperlembut suaraku—mencoba untuk tidak membuat orang di depanku ini semakin senang. "Aku ingin belajar... kau membunuh waktu berhargaku."
"Sudah kubilang matikan sendiri, apa kau tidak dengar?" Nadanya yang kian mengeras membuatku tersentak. Aku sengaja memperlembut nada bicaraku, tapi ia malah membalasku dengan nada keras. Menyebalkan!
Dengan membalas tatapan sinisnya aku pun menabrak bahu Kakashi-sensei untuk menerobos masuk ke kamarnya. Aku tidak menaruh peduli dengan suasana kotor khas laki-laki itu dan langsung menuju televisi yang adalah sumber suara berisik. Lalu aku menurunkan volume suaranya yang sudah kelewat besar itu dan mematikannya. Setelah suasana hening itu terasa, aku menghela nafas lega. Tapi, saat aku akan berbalik untuk keluar, hidungku malah menabrak sesuatu yang ternyata adalah dada bidang Kakashi-sensei–yang entah sejak kapan tepat di belakangku.
Karena kaget dengan sosok itu, aku pun mundurkan selangkah sambil memegangi hidungku yang sakit. "Ukh, se-sensei...! Kenapa tiba-tiba ada di belakangku!"
Tapi saat aku melihatnya dengan sedikit mengadahkan wajah—karena dia lebih tinggi dan dari jarak yang sedekat ini—mata onyx-nya menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan dan ia semakin mendekat. Sedikit membuatku takut. Bagaimanapun juga ini adalah kamarnya. Kamar seorang pria asing. "Mi-Minggir..." Lirihku sambil menunduk, tidak ingin melihat matanya yang jadi menakutkan itu.
Ia tidak minggir seperti apa yang kukatakan, dan malah melakukan hal yang sebaliknya, yaitu semakin mendekati wajahku dengan cara menunduk—mempersempit jarak wajah kami masing-masing.
Menyadari wajah yang semakin mendekat itu, aku merasakan sensasi geli di aliran darahku. Perutku tiba-tiba menjadi keram, wajahku memanas dan semakin menunduk. Entah kenapa aku merasakan tenaga marah-marahku yang biasanya hilang seketika. Dan wajahnya semakin mendekat dan mendekat... karena perasaan malu atau sesuatu yang tidak ingin kupikirkan lebih, aku pun memejamkan mataku. Pasrah dengan semua.
Suasana mendadak hening dan hanya terdengar suara degup jantungku yang masih belum beraturan.
"Haruno, kau menginjak buku milikku."
"Eh?" Dengan kaget aku membuka kelopak mataku dan menemukan Kakashi-sensei sedang membungkuk untuk menarik sasuatu yang sedang kuinjak.
Masih dengan posisi membungkuknya, ia mengadahkan wajah, melihatku dengan sebuah seringai–yang terlihat senang dengan misinya yang lagi-lagi berhasil. "Apa kau mengira aku akan melakukan hal 'aneh' kepadamu, hm?"
Astaga! Termometer kemarahanku sudah mencapai puncak! Orang ini... mengerjaiku!
Dengan wajah yang masih seperti kepiting rebus—dikarenakan menahan malu—aku langsung berlari melewatinya dan keluar dari ruangan itu. Sesampainya di kamar, aku langsung menyender di pintu dan meringsut ke lantai. Mencoba untuk menetralkan kinerja jantung yang sudah menjadi tidak normal sesudah keluar kamar terkutuk di sebelah.
"Uuuh! Memalukann!"
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Normal POV
Di saat matahari sudah mulai menampakkan diri, burung-burung yang sudah bangun dari tadi sedang menyanyi di atas atap apartemen. Suasana begitu damai, sampai...
"AAAAAAHH—!"
Jeritan itu langsung membuat burung-burung pada berterbangan karena kaget."—Sial! Aku kesiangan!"
Suara itu akhirnya disusul oleh suara berisik dari kamar yang bertuliskan 'Haruno' itu.
Setelah beberapa saat, seorang gadis berambut pink—yang tumben lagi berantakan—berlari dengan tergopoh-gopoh ke lantai bawah apartemen. Lalu ia menuju tempat ia biasa memarkirkan sepedanya dan menaruh barang-barang dengan asal ke keranjang sepeda. Bersama selembar roti tawar yang baru digigit duakali olehnya, ia langsung mengendarai sepedanya dengan kecepatan ekstra.
Gadis bernama Sakura itu menelan bulat-bulat roti yang belum sepenuhnya ia kunyah sampai halus, lalu berteriak di sela kayuhan sepedanya yang cepat. "Ya, ampunn! Bagaimana bisa kesiangan padahal pagi ini ada ujian masuk universitaaaass!?"
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Saat sudah sampai ke halaman parkir sepeda di sekolah, Sakura sengaja tidak mengambil tas sekolahnya dari keranjang sepeda. Ia hanya membawa tempat pensil serta kartu ujian tes masuk. Sambil berlari menuju lantai atas—di mana tes itu akan berlangsung—Sakura dengan buru-buru memakai kaos kakinya yang belum terpasang.
Bukan hanya sibuk dengan kaos kakinya, tali sepatu yang belum sempurna ia ikat itu juga masih terus terseok-seok di lantai. Ikat pinggangnya masih tergulung rapih di tangan, bahkan ada tiga kancing kemeja Sakura yang masih terbuka, membuat pemandangan indah bagi junior lelaki yang sempat melihatnya—karena sudah pasti semua anak kelas tiga ada di lantai empat.
"Haruno. Berhenti."
Kerja tubuh Sakura berhenti dalam serentak. Ia yang saat ini berada di tengah tangga menuju lantai tiga langsung menoleh cepat ke arah belakang—asal panggilan tadi terdengar. "Suara itu..." Geramnya dulu baru kemudian menolehkan wajahnya ke belakang. Membagi wajah seramnya ke orang yang sudah berdiri di sana.
Karena bel masuk sudah terlewat sampai berpuluh-puluh menit yang lalu, tidak heran koridor dan tangga menjadi sepi. Dan hal itu membuatnya yakin kalau yang memanggilnya adalah dia seorang. Kakashi.
Dengan kedua tangan yang telah dimasukan ke jas putih lab-nya, ia menghampiri Sakura yang sedang memandangnya dengan tatapan penuh emosi. Tapi orang yang sepertinya tidak menaruh peduli itu hanya berdiri di hadapan Sakura dalam diam.
"Rapi sekali penampilan murid teladan yang selalu dibanggakan di ruang guru..." Ujarnya, ironi.
Sakura berdecak malas. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan orang yang membuatnya terlambat seperti ini. Ya, Sakura memang sudah mengecap Kakashi sebagai dalang ia terlambat. Karena sesudah dari kamar Kakashi, ia terduduk di depan pintu untuk merutuki gurunya itu. Lalu tanpa sadar ia tertidur dengan posisi itu sebelum menyetel alarm. Dan inilah hasilnya.
"Mau apa?" Jawabnya ketus. "Aku tidak punya banyak waktu!"
Sesudah kena marahan Sakura, Kakashi tersenyum sambil memperhatikan penampilan murid kelas tiga itu. Wajahnya memerah dan dipenuhi peluh karena mengayuh sepedanya habis-habisan, rambut pink yang halus itu berantakan. Dia kelelahan, tapi mata emerald Sakura terus menantang onyx-nya dengan penuh amarah.
'Sesak...'
Tiba-tiba suara itu terngiang di pikiran Kakashi. Entah kenapa satu kata tadi cukup menimbulkan sensasi aneh di tubuhnya. Kakashi yang merasakan sensasi itu hanya berdecak dalam hati, entah kenapa hal itu membuat emosinya berantakan.
"Kalau sensei tidak menjawabku, aku lebih baik pergi!" Sakura memunggunginya, berniat melanjutkan perjalanannya ke atas. Tapi sebelum ia melangkahkan kakinya ke anak tangga lain, sikunya sudah keburu ditarik dengan kasar oleh pria berambut perak itu.
"Harusnya aku yang marah." Kali ini pandangan matanya sangat berbeda dari sebelumnya, dan sempat menggentarkan Sakura yang tadi berniat membalas. "Aku guru di sini."
Tanpa peduli apa pun, Kakashi menyeret gadis pink itu ke depan cermin yang terpajang di tembok sebelah tangga. Lalu ia berdiri di belakang Sakura. Sakura menatap cermin ukuran besar yang bisa memuat cerminan seluruh tubuhnya—dari ujung sepatu sampai kepala—dengan tatapan bingung. Lalu Kakashi yang berdiri di belakang Sakura itu memegang kedua bahunya dari belakang dengan masing-masing tangannya. Dengan perlahan mata onyx-nya menatap mata emerald yang ada di cermin.
"Apa yang salah dengan penampilanmu hari ini?" Tanyanya.
Sakura yang masih sedikit kesal itu hanya memperhatikan penampilannya sendiri dari cermin, mengoreksi semua yang ia pakai hari ini. Saat melihat ke arah cermin, matanya terbelalak kaget. Ia baru menyadari semua. Penampilannya memang kusut, tapi apa yang ia kenakan jauh lebih kusut lagi. Pita dasinya miring, kerah kemejanya ada yang tegak, kemeja dan rok kusut—karena belum sempat disetrika—dan terlebihnya lagi tiga kancing atasnya terbuka.
Dengan wajah yang semerah tomat, Sakura tergesa-gesa membetulkan kancingnya sampai tertutup. Kesan manis memang tercipta dari tingkah Sakura, tapi sepertinya tidak mempan untuk Kakashi. Untuk saat ini. Setelah selesai, Sakura hanya bisa menunduk malu, dan membiarkan Kakashi melanjutkan pembicaraannya, masih dengan nada sinis. "Dan satu lagi... rokmu kependekan."
Kontan Sakura langsung melihat roknya. Rok yang panjangnya lebih dari 5 cm di atas lutut itu tidak ada yang salah—selain kusut—dan mungkin sedikit lebih naik gara-gara Sakura belum membenarkan roknya sehabis bersepeda.
"Tapi rok ini memang sesuai ketentuannya. Dan yang lain masih banyak yang lebih—"
"—Jangan bandingkan dengan orang lain. Aku sedang melihatmu, Haruno." Potong Kakashi dengan cepat, dan hal itu membuat raut wajah Sakura ditambah dengan merah lagi. Tapi kali ini merah karena menahan kesal. "Apa kau pikir kakimu itu menarik sampai kau memakai rok sependek itu?"
"Ap—kyaa!"
Sebenarnya Sakura sudah kesal setengah mati dengan kata-katanya dan membuatnya ingin memukul wajah gurunya itu, tapi emosinya tertunda karena sudah tergantikan kekagetan saat ada gerakan tangan seseorang yang menarik roknya ke atas.
Membuat rok yang asal mulanya di pinggang menjadi di perut dan dengan otomatis hal itu membuat lingkar roknya berada di perut—dan ujungnya menjadi 15 cm di atas lutut. "Kalau kau bilang rok teman-temanmu lebih pendek. Kau mau memamerkan kakimu seperti teman-temanmu seperti ini?"
Plak!
Setelah suara tamparan itu, Sakura sedikit menjauh dari Kakashi dan kali ini menatap langsung matanya dengan tatapan bingung, malu dan kaget yang tercampur. Ia benar-benar tidak mengerti gurunya itu.
"Apa? Bukannya kata-kataku tadi benar?" Sambil memegangi pipinya ia membalas tatapan Sakura dengan tatapan sinis.
Sakura pun menatapnya pandangan yang susah dijelaskan karena dia juga sudah tidak mengerti gurunya itu, lalu berlari menuju lantai atas dan meninggalkan Kakashi sendiri. Kakashi Hatake... seorang pria yang dalam satu waktu sekaligus, bisa membuatnya merasakan perasaan aneh dan kesal menjadi satu. Sedangkan guru biologi baru itu hanya menyenderkan punggungnya ke cermin dan menyeringai.
"Kau kehilangan banyak waktu dan pastinya pikiranmu kacau karena memikirkan perbuatanku. Nah, bagaimana kau bisa lulus tes itu?"
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Chap dua update! Sebenernya sih ini tuh fict Hurt/Comfort yang bakalan ada Romance, tapi kayaknya untuk Romance masih agak lama... jadi harap bersabar yaa :))
Ohiya, minna mohon doanya ya, besok aku UN :'(
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Tyas, Rizu Hatake-hime gak login, Lhyn hatake, Ayano Hatake, No name, Ellechi, Moist fl, CuteGirlNamedMarsha, ririrea, Lollytha-chan, Ryu Akino-kun Yamato Aizawa, Nay Hatake, Fire Knight17, OraRi HinaRa, reyo-Hatake
.
.
Pojok Balas Review :
Kenapa Kakashi jadi jahat kayak gitu? Apa ada hubungannya sama masa lalu? Hehe, sebenernya masih rahasia, tapi aku kasih jawabannya iya dulu deh. Aku sih berharap Kakashi ngga beneran sensi sama Sakura, kalopun iya pasti ada alasan yang jelas. Alesan yang jelas, ya... hmm, tapi di kerangka aku alasan Kakashi super ngga jelas banget. Nanti juga tau kok. Sebenernya Kakashi di chap 1 tuh sakit atau mabuk sih? Di sana Kakashi sakit, kalo mabuk bakal lain cerita :|
.
.
Next Chap :
"Ternyata murid kesayangan guru-guru ada di luar, ya...?"
"Kau ma-mau apa, sensei?"
"Ya, impianku hancur... karena sensei brengsek sepertimu."
"Kau murid yang pintar dan ini hadiah untukmu."
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
