Previous Chap :
Sakura pun menatapnya pandangan yang susah dijelaskan karena dia juga sudah tidak mengerti gurunya itu, lalu berlari menuju lantai atas dan meninggalkan Kakashi sendiri. Kakashi Hatake... seorang pria yang dalam satu waktu sekaligus, bisa membuatnya merasakan perasaan aneh dan kesal menjadi satu. Sedangkan guru biologi baru itu hanya menyenderkan punggungnya ke cermin dan menyeringai.
"Kau kehilangan banyak waktu dan pastinya pikiranmu kacau karena memikirkan perbuatanku. Nah, bagaimana kau bisa lulus tes itu?"
.
.
Sakura's POV
Bersama nafas yang terengah-engah, akhirnya aku sampai juga ke lantai empat—tempat di mana tes ujian masuk Universitas dilaksanakan. Sambil menghela butir-butir keringat yang tersisa di leher dan dahi, aku melihat nomor ruangan yang tertera di kartu tes yang sedang kupegang erat.
Sakura Haruno. 0170. Ruang H.
Mataku terbelalak kaget saat melihat deretan informasi tadi. Ruangan H. Siapa pun juga tau seberapa killer guru yang menjaga ruangan itu, bisa dibilang kegalakannya menyandingi Anko-sensei dan Ibiki-sensei.
Dia adalah Asuma Sarutobi.
Aku menelan ludah sewaktu pintu ruangan sudah terpampang di hadapanku. Aku dapat membayangkan bagaimana ia menunjukkan urat di dahinya kalau ia melihatku yang terlambat hampir 20 menitan. Ah, atau mungkin lebih parah dibandingkan hanya sebuah wajah marah... aku lebih yakin ia akan lebih emosi dan membentakku di depan umum. Sambil memejamkan mata erat-erat, kukumpulkan keberanian menggunakan cara menghirup udara banyak-banyak lalu mengetuk pintu. Dengan menunduk kucoba membuka pintu dan melangkahkan kaki ke dalam ruangan.
. . .
Hening.
Bersama gerak takut-takut kuangkat wajah dan melihat ke puluhan pasang mata yang menatapku, termasuk mata menyeramkan yang persis ada di meja guru—Asuma-sensei. Sekarang pria berjenggot dan bertampang super sinis itu memberikanku sorotan ketidaksukaannya. Ia berdiri dan berjalan mendekatiku dengan kedua tangan yang terlipat di dada.
"Haruno..." Ia memberhentikan langkahnya pas di hadapanku. Mau tidak mau aku harus menatap kedua matanya. "Kau pikir jam berapa sekarang?"
"Ja-Jam 07.27—"
"KELUAR SEKARANG!" Berbarengan dengan bentakan berintonasi tinggi itu, tidak tanggung-tanggung Asuma-sensei memukul pintu—membuat suara pukulan menggema kencang dan membuat seluruh penghuni ruangan H tersentak kaget.
Dengan mengigit bibir bawah, kubiarkan saja wajahku menunduk semakin dalam—sekalian menyembunyikan mataku yang sudah berkaca-kaca. Walau tebakanku benar soal ia yang akan membentakku di depan umum, aku tetap saja masih tidak siap. Karena inilah momen pertamakalinya aku dimarahi Asuma-sensei yang notabene guru terkiller di Konoha SHS. Dan... aku tidak mau lagi hal ini terjadi.
Apalagi dalang dari semua adalah... Kakashi-sensei.
.
.
.
HATE YOU ALWAYS
"Hate You Always" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]
Hurt/Comfort, Romance, Drama
AU, OOC, Typos, etc.
(kakashi beriris onyx dan dia ngga pake masker)
.
.
THIRD. Guru Brengsek
.
.
Setelah bentakan Asuma-sensei, masih dengan jantung yang berdegup kencang karena kaget, aku memundurkan langkah, keluar dan menutup pintu sampai sosokku menghilang dari pandangan mereka. Sesudah di luar, aku berdiri sekaligus menyender di tembok sebelah pintu yang sudah tertutup untuk menenangkan pikiran. Aku mengambil nafas dalam-dalam, lalu aku menahannya beberapa detik sampai akhirnya kuhembuskan perlahan.
Lalu... sekarang bagaimana?
Apa aku tidak bisa ikut ujian tes?
Padahal aku kan sudah belajar sungguh-sungguh hanya untuk ini...
Ya, hanya untuk ini...
'Nanti Sakura beruniversitas di sana, ya? Okaasan dan Otousan ingin melihatmu belajar di sekolah itu...'
Deg!
Aku refleks melempar tempat pensil dan kartu tesku ke lantai. Tubuhku langsung lemas menahan sesak.
Kami-sama, aku tidak bisa mengabulkan harapan terakhir orang tuaku...
Di saat yang sama aku merasakan air mata—yang entahlah sejak kapan—memenuhi pelupuk mata sudah mau tumpah dari tempatnya. Aku mengadah cepat, tetap tidak mengizinkan air bening itu mengalir. Tapi ternyata usahaku untuk tidak menangis terus gagal, malah aku merasakan banyaknya aliran air mata yang sudah mengalir ke pipi dan menetes ke leher tanpa kuminta. Suara yang juga sudah kutahan dengan cara menggigit bibir bawah juga masih saja meloloskan isakan kecil yang sedikit berhasil kukecilkan volumenya.
Kini hanya tempat pensil berserta kartu tesku di lantai menyaksikanku dari bawah yang sedang menangis dengan meremas kain rokku. Karena aku baru sadar kalau aku masih ada di sekolah, kucoba untuk menahan tangis sambil meringsut ke lantai.
Ini salah Kakashi-sensei...
Ini semua salahnya...
Tidak.
Bukan semua salahnya...
Ini salahku juga.
Kalau ini semua salah Kakashi-sensei, kenapa aku tidak cuek saja saat ia menyetel suara maksimum di televisinya?
Terus kenapa aku tidak lari meninggalkannya saat ia mencegatku di tangga?
Baka...
"Hn?"
Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuyarkan lamunanku, dan digantikan dengan suara jantungku yang berdegup kencang—degup kemarahan. Aku menunduk dalam-dalam, tidak ingin terlihat sediki pun olehnya. Tapi aku malah mendengar suara langkahnya yang semakin dekat ke arahku yang sedang teduduk pasrah di depan ruangan tes.
Tep.
"Ternyata murid kesayangan guru-guru ada di luar, ya...?"
Sekarang kakinya sudah tepat di depanku.
"..."
Melihatku yang tidak bergerak sama sekali untuk meresponnya, ia berjongkok, menyamakan tingginya denganku. Aku yang masih memilih untuk menahan rutukkanku hanya terdiam dan tidak menolehkan wajah—paling tidak sampai orang ini berdiri dan berjalan menjauh.
Awalnya aku hanya diam untuk lebih fokus merasakan suasana hening di sekitar, tapi tiba-tiba saja jemarinya menyentuh daguku dan mengangkatnya. Aku sempat terkejut, namun cepat-cepat kutahan wajahku agar tidak menghadapnya. Karena dia masih memaksaku, aku menepis tangannya. Tapi ia malah lebih kuat menarik wajahku dengan kasar dan membuat leherku terasa sakit. Mau tidak mau sekarang wajahku berada di hadapannya persis walau pandangan mataku tetap memandang ke arah samping. Tapi karena aku masih bisa melihat rambutnya yang perak, kepalan tanganku mengencang.
"M-Mau apa...?" Aku berdesis, namun cepat-cepat aku menggigit bibir bawahku lagi untuk mencegah pecahnya tangis yang sudah susah payah kutahan di depannya. Karena tak ada jawaban, bahuku mulai bergetar dan rasanya air mataku juga sudah kembali meluncur membentuk sungai di pipi. "Kau ma-mau apa, sensei?"
Lagi-lagi dia tidak menjawab—membiarkan isakkanku yang menjawab pertanyaanku sendiri—lalu mendadak ia menyeringai.
Kali ini isakkan tangisku mulai terdengar semakin keras. Air mataku juga semakin banyak keluar sampai tetesan-tetesannya menjatuhi tangannya—yang ada di dagu dan pipiku. Aku lemparkan tatapan tajam kepadanya yang sedang menatapku. "KAU MAU APA, HAH!?"
Sudahlah Sakura... ini bukan semua salahnya...
"Uhk, hiks..."
Terlambat, akibat emosi yang keburu tinggi ini tangisanku semakin susah diredakan. Aku sudah mencoba untuk membuang semua kekesalanku padanya, tapi rasanya sulit.
"Baru pertama kali dimarahin Asuma-sensei, ya?"
Mendengar kalimatnya, aku semakin terisak. Air mataku turun tanpa berhenti di depannya. Wajahku memerah, keringat serta air mata membasahi pelipis, pipi sampai leherku.
Dan dia masih tidak kasihan padaku?
Aku memang tidak berharap untuk dikasihani olehnya...
Hanya saja, aku ingin dia tau apa yang sedang kurasakan sekarang...
Tapi kenapa dia mengatakan hal itu di saat seperti tadi...?
Perkataannya benar-benar membuatku sakit hati....
Apa...?
Apa alasannya dia berbuat seperti ini padaku?
"Kau menangis seakan hidupmu hancur..."
Semua ini memang bukan salahnya...
Tapi ada sebagian besar yang adalah kesalahannya!
Aku memejamkan mataku untuk menumpahkan semua air mataku yang tersisa di pelupuk mata, dengan berani aku langsung menepis tangannya di wajahku dan kutarik kerah kemejanya. Kini wajahnya sangat dekat denganku. Mungkin bila aku berjarak sedekat ini dengan cowok mana pun sudah pasti aku akan malu, tapi nama Kakashi Hatake sudah kucoret. Kubuang perasaan deg-deg-an atau apapun bila di dekatnya.
Orang ini brengsek.
Dia memancingku untuk marah seperti ini.
Dan dia berhasil. Sangat berhasil.
"Ya, impianku hancur..." Aku menatap matanya yang juga sedang menatapku. "Karena guru brengsek sepertimu."
Ia tidak tampak terkejut atau marah mendengar kalimat tadi, ia malah semakin memperlebar seringainya—membuatku semakin marah. Dan kurasakan punggung jemarinya mengelus pipiku yang masih memerah dan basah karena menangis. Aku merasakan sentuhannya seperti sengatan listrik, tapi perasaan benciku lebih besar.
"Coba katakan hal itu sekali lagi..." Bisiknya. Dekat, sangat dekat.
Aku merasakan hembusan nafasnya, aku merasakan poninya yang menyentuh keningku, aku merasakan kulit tangannya yang menyentuh pipiku, dan aku merasakan ujung hidungnya yang sempurna menyentuh hidungku. Posisi kami memang sangat bahaya. Dilihat dari mana pun posisi ini seperti Kakashi-sensei yang sedang mencium bibirku, dengan aku yang menarik kerahnya.
Bila ada orang lain yang sekarang melihatku bersama guru brengsek ini, mungkin aku akan dicap duluan sebagai 'murid penggoda' karena memang akulah yang menarik kerahnya dan mendekatkan wajahku dengannya.
Tapi aku tidak perduli.
Toh kenyataannya aku tidak sedang menciumnya dan ia pun juga tidak menciumku.
Hanya saja jarak kami yang terlalu dekat...
Dan aku marah...
Juga dia yang menggodaku.
"Kau... brengsek!" Desisku lagi sambil mendorongnya, membuatnya sedikit menjauh dari hadapanku.
"Kuhargai itu."
Dia menyeringai, lalu berdiri sambil membenarkan kerah kemejanya yang kusut olehku. Mata onyx-nya menatapku dengan pandangan yang menghina. Setelah ia selesai dengan kegiatan membenarkan kemeja, ia langsung membuka pintu ruangan H dan memasuki ruangan itu.
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Normal POV
Asuma melirikkan matanya ke arah pintu untuk melihat siapa yang baru saja datang ke kelas jagaannya. Setelah tau Kakashi yang baru masuk, dengan padangan tidak peduli ia kembali fokus mengedarkan pandangan ke siswa-siswinya agar tidak ada orang yang mencontek.
"Asuma, ternyata kau masih punya sisi baik juga, ya?"
Asuma menoleh ke Kakashi yang kini berada di sebelahnya. "Apa?"
Kakashi tersenyum biasa sambil menyender di tembok papan tulis, tidak lupa lipatan tangannya di dada. "Kau tidak memberikannya tes ujian masuk itu karena akan mengadakan tes susulan untuknya, kan?"
Sedikit penjelasan dari Kakashi langsung membuat Asuma mengerti. Kakashi pasti sedang membicarakan tentang murid yang tadi ia suruh keluar—Sakura Haruno. Tapi ia hanya mengedikkan bahunya, seakan sudah tau pilihannya itu benar. "Ya, dia tidak akan sempat mengerjakan kalau waktunya sudah terpotong banyak."
"Suruh dia mengerjakan soal tes itu sekarang."
Nada berbeda yang dikeluarkan Kakashi langsung membuat Asuma mengernyit. Tampaknya ia bingung dengan perubahan sifat Kakashi yang sedikit lebih ke arah negatif. "Dia murid yang pintar, aku tidak ingin dia gagal masuk tes hanya karena tidak sempat mengerjakannya semua soal."
"Tapi aturan tetaplah aturan..."
Asuma menghela nafas, kalimat yang dikeluarkan Kakashi benar. "Hh, terserahlah... ada perlu apa ke sini?"
"Meralat soal biologi..." Senyumannya muncul di saat ia menunjukkan kertas kecil yang ia pegang.
.
.
~zo : hate you always~
.
.
"Haruno."
Di saat Sakura masih termenung di sebelah pintu, Asuma mendadak keluar dan tentu saja langsung membuat Sakura sontak menghapus air matanya dan berdiri tegak, meskipun masih dengan menundukan kepalanya.
"I-Iya, A-Asuma-sensei?" Suara Sakura begetar, tampaknya ia masih shock gara-gara hal tadi. Tapi Asuma tidak peduli, itulah resikonya menjadi murid dari seorang Asuma Sarutobi. Berbuat salah, harus dimarahi. Lagipula ia memperlakukan hal itu ke semua muridnya, bukan seperti Kakashi yang hanya berbeda terhadap gadis pink ini.
"Apa kau sanggup mengerjakan soal tes ujian masuk dengan waktu yang tersisa?"
Mata emerald Sakura membulat sempurna, cepat-cepat ia mendongakkan wajahnya yang bersinar ke gurunya itu. "Sa-Sanggup, sensei! Aku akan berusaha!"
"Baiklah, tarik meja dan bangkumu keluar ruangan dan kerjakan di sini." Asuma memberikan selembar kertas soal dan kertas jawaban ke tangan Sakura.
"I-Iya! Te-Terimakasih Asuma-sensei, sungguh!" Dengan senyuman lebar ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Karena tidak ingin lebih membuang waktu, ia langsung menuju ke dalam kelas untuk melakukan apa yang Asuma perintahkan.
"Hn, nanti Kakashi akan memberikan ralatan sesudah dia keluar." Jelasnya di saat Sakura sudah mulai mengerjakan tugasnya di luar.
"Iya!"
Lalu ia memasuki ruangan tanpa menutup satu bilik pintu agar masih dapat mengawasi Sakura juga.
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Setelah beberapa saat ia mengerjakan soal, Kakashi keluar ruangan. Tapi bukannya menyamperinya untuk memberitahukan soal yang diralat, ia malah begitu santai melewati Sakura. Awalnya Sakura tidak ingin mencegat laju jalan Kakashi, tapi mau bagaimana lagi, ia butuh keterangan di mana saja soal yang barusan diralat olehnya agar ia dapat menjawab soal itu dengan benar.
"Sensei..." Panggilnya dengan nada terpaksa. Karena Kakashi seakan tidak mendengarnya, ia kembali mengulangi. "Sensei!" Sakura menghela nafasnya, ia sudah tau kalau Kakashi memang sengaja mengacuhkannya, karena hal itu Sakura akhirnya berdiri dari kursi dan menarik siku Kakashi.
"Aku minta soal yang diralat—"
"Apa telinga yang ada di sana itu hanya pajangan? Tadi kan aku sudah meralat di depan kelas."
Mendengar jawaban dari Kakashi, Sakura melepaskan tangannya. Ia tau gurunya itu membencinya...
'Tapi tolong tidak untuk saat ini...'
"Maaf, aku tidak mendengarnya." Sakura semakin panik saat Kakashi akan benar-benar pergi. "Kumohon, sensei... ini untuk nilaiku!"
Sakura membungkukan tubuhnya dalam-dalam—ia memohon dengan sopan ke Kakashi—tidak peduli dengan sifatnya yang sempat kasar. Tapi bukannya guru itu mengerti atas keinginannya untuk lulus, orang itu malah sama sekali tidak memberhentikan langkah dan terus berjalan meninggalkannya.
Sakura menegakkan badannya lagi, lalu menatap punggung Kakashi dalam diam. Tapi tidak terasa, matanya langsung berkaca-kaca. Dengan kasar ia menghapus sisa air matanya dan menghirup udara banyak-banyak sebelum ia kembali duduk di kursi untuk mengerjakan soal yang harus ia selesaikan dalam waktu yang hanya tinggal sedikit.
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Menggunakan salah satu tangan yang menopang wajah dan kacamata bacanya, Kakashi mengoreksi tugas yang sudah dikerjakan para murid dari beberapa kelas. Bersama pena bertinta merahnya ia membulatkan nomor yang salah dengan pandangan mata yang malas—seakan sudah mengantuk—padahal masih banyak tugas yang menumpuk.
Lalu tangannya berhenti berkerja ketika ia lihat sebuah nama di salah satu kertas putih muridnya...
Sakura Haruno. XII-A. 170.
Kakashi membalik kertas itu dan melihat isinya. Perlahan sebuah seringai tampak di wajah malasnya saat melihat ada beberapa soal yang belum diisi. Dan ia tau penyebab yang membuat muridnya yang satu itu tidak menyelsaikan tugasnya.
Ya, rencananya berhasil.
Ia mengoreksi nilainya dan nilai itu berakhir di angka 8.47.
"Untuk lulus ujian ini murid harus mencapai nilai 8.5 dengan catatan setelah dibulatkan..." Gumamnya sendiri. "Kau murid yang pintar... dan ini hadiah untukmu."
Lalu ia pun mencoret lembaran kertas itu.
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Saguru Mayama. 0169. - 8.9 - Lulus
Sakura Haruno. 0170. - 8.4 - Tidak lulus.
Sanada Katou. 0171. - 6.3 - Tidak lulus.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Eh, di sini aku ada yang ngaco loh. Aku ngga tau gemana caranya ujian tes masuk universitas, jadinya aku gunain aja cara masuk tes SMA. Ya kan mungkin aja sama. Ngomong-ngomong yang jadi rata-rata kelulusannya ngasal. Hehe. Terima kasih ya bagi semua yang udah doain aku sukses UN! Semoga nilai kita semua (bagi readers dan reviewers yang sedang ujian maupun ngga) bagus-bagus!
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
vvvv, Ellechi, Haruno blingermpv, Just ana g login, Lhyn hatake, Putri Luna, garoo, Ayano Hatake, Rizu Hatake-hime, cherrysasusaku, Lollytha-chan, AmaYuu, Skyze Kenzou, Nay Hatake, OraRi HinaRa, Violet7orange, azalea.
.
.
Pojok Balas Review :
Kakashi punya masalah apa sama Sakura? Hal itu bakal dibahas sebentar lagi hehe. Ceritanya sama seperti pengalamanku sendiri Wew, sama doong... tapi aku yang dibenci gurunya #JDENG. Kalo aku punya guru kayak Kakashi, aku ga tahan deket-deket dia deh. Tau tuh Kakashi... berani amet ya gituin Sakura? #plak. Kakashi ga terlalu cocok jadi peran antagonis. Iya sih, abis kadang muka serius Kakashi di komik tuh bikin feel cool yang gemanaa gitu hehe. Apa nanti ada pihak ketiga yang nyempil? Uhm, belom kepikiran sih... pengennya full KakaSaku, tapi terserah readers juga. Kirain Kakashi mau narik rok saku kebawah. Walaah itumah udah lain rated haha. Romance-nya kerasa dikit banget. Iyaa... kayaknya chap-chap ini aku sengaja buat hurt dulu.
.
.
Next Chap :
"Oh, iya, daripada urusin dia, katanya pengumuman tes masuk universitas sudah dipajang di mading..."
"Pasti sensei mengurangi nilaiku!"
"Kau menuduhku?"
"Apa sensei tidak bisa menghargaiku sedikit saja! Paling tidak jangan membuangnya seperti itu!"
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
