Previous Chap :
Masih dengan memandang mata Sakura yang terpejam, ia menyentuhkan dahinya ke dahi Sakura yang berkeringat akibat menangis—membuatnya dapat merasakan deru nafas memburu muridnya sendiri. Dilihatnya bibir gadis itu, warnanya senada dengan kelopak bunga sakura—soft pink yang terlihat lembut. Tapi, karena sudah beberapa kali digigit oleh gigi rahang atas sang pemilik, warnanya tampak berubah menjadi merah merekah. Masih dilatarbelakangi oleh suara isak tangis pemilik bibir itu, ia bergerak seakan ingin mengeliminasi jarak di antara mereka.
Lalu di saat hidung mereka saling bersentuhan, Kakashi semakin mendekatkan bibirnya ke sesuatu yang dari tadi ia perhatikan. Tapi saat bibir tipis miliknya hampir bertemu pasangan yang serupa, Kakashi seperti tersentak dan langsung menjauhkan wajahnya—seakan baru sadar dengan apa yang akan ia lakukan. Sambil mendengus kesal, ia mengatupkan rahangnya keras-keras—tampak tersiksa menahan suatu perasaan dari dalam dirinya.
Entahlah apakah ada arti dari semua itu.
Setelah menenangkan diri, ia berbisik ke telinga Sakura—menjawabnya pernyataan yang sempat tertunda dengan nada pelan. Bahkan saking dekatnya, Sakura sampai dapat merasakan bibir dingin Kakashi yang menyentuh kulit telinganya.
"Aku juga sangat membencimu, Haruno."
.
.
Normal POV
Mendengar kalimat yang baru saja diutarakan langsung oleh gurunya, Sakura hanya bisa menunduk—tak lain untuk menutupi wajahnya yang sudah berlinangan air mata dan memerah karena emosi. Sakura sudah berkali-kali mencoba untuk melepaskan cengkraman kuat Kakashi, tapi pria itu tetap saja tidak mau melepaskannya dengan mudah. Kakashi hanya menatap wajah Sakura. Ia tidak berbicara atau memberikan komentar apa-apa.
Sadar tidak bisa terlepas dari Kakashi, Sakura pun mengadah. Bersama mata yang basah ia memandang kedua mata onyx gurunya.
"Lepaskan aku..." Dengan suara bergetar ia berkata. "Cepat lepaskan aku!"
Kali ini Sakura memberontak. Dirinya yang sudah kacau tak mampu lagi untuk memikirkan etikanya di depan orang yang satu ini. Seluruh permukaan wajahnya terasa lengket, dahi serta pelipisnya sudah dipenuhi oleh bulir keringat dan tubuhnya bergetar karena menahan kesal.
"Kau tidak dengar, hah! Lepaskan tanganku sekarang juga!"
Sakura menggeram, sedangkan Kakashi terdiam.
"Cepat lepaskan! Dasar guru sialaaan—!"
Set.
Terlepas. Ya, bahkan sebelum kalimat Sakura yang tadi benar-benar selesai, pria itu sudah melepaskan kedua genggamannya secara mendadak. Dan karena begitu tiba-tiba, Sakura bahkan sampai terdorong tiga langkah ke belakang. Tapi, mungkin saja hal itu Kakashi lakukan karena sebelumnya ia sempat melihat daun pintu labnya bergerak—tanda akan ada seseorang yang akan masuk.
Cklek.
"Apa yang sedang terjadi di sini?"
Di detik itu pula ruangan biologi dibuka oleh seorang kepala sekolah Konoha Senior High School, Tsunade Senju. Wanita itu memang tidak sempat melihat kronologi tentang apa yang sempat berlangsung di ruangan tersebut. Namun, ada satu kalimat yang tadi tidak sengaja terdengar di telinga wanita itu...
Di bagian 'dasar guru sialan'. Ya, hanya kalimat tersebutlah yang ia dengar.
Oleh karena itu, tanpa menaruh curiga negatif ke Kakashi yang masih tenang di bangkunya, Tsunade langsung melirik sinis ke arah Sakura—yang menurutnya bertindak tidak sopan karena telah menghina guru.
"Bisa kau jelaskan keributan ini, Haruno-san?"
Merasa tersudut, Sakura pun menghentak pergi sembari menahan isak tangisnya. Dilewatinya begitu saja kepala sekolah yang paling ia hormati itu. Sepeninggal Sakura, Kakashi langsung merapikan buku-bukunya dan berdiri—ia masih tidak mau menunjukan ekspresi apapun.
"Kakashi, ada apa tadi?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya murid yang protes karena nilai." Pria itu tersenyum tipis.
.
.
.
HATE YOU ALWAYS
"Hate You Always" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]
Romance, Hurt/Comfort, Drama
AU, OOC, Typos, etc.
(kakashi beriris onyx dan dia ngga pake masker)
.
.
FIFTH. Karena
.
.
Setelah berada di luar ruang Kakashi, sembari menghapus air mata yang masih mengalir, Sakura berlari. Ia menelurusi lantai atas gedung sekolah untuk bisa ke lantai dasar lagi. Berhubung ini belum masuk jam pelajaran, Sakura memilih untuk mengacuhkan bel masuk yang akan berdering lima menit lagi. Ia mau pulang. Sesaat ia melewati orang-orang di sela lariannya, banyak dari mereka—yang melihatnya menangis—menduga Sakura sedang patah hati. Tapi sebenarnya bukan itu. Hanya Kakashi dan Sakura sendiri yang tau.
Sakura menuruni tiap anak tangga di sekolah dengan terburu-buru. Dia lewati kantin dan juga gerbang sekolah yang belum sepenuhnya tertutup. Tanpa pikir panjang, Sakura berlari keluar. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan penjaga sekolah yang melarangnya keluar gerbang sebelum jam pulang.
Tapi Sakura terus berlari, sampai akhirnya para penjaga tadi tak lagi mengerjarnya. Ia sempatkan diri untuk berhenti sejenak dan mengisi tenaganya yang terkuras karena kelelahan. Air mata serta keringatnya masih terus keluar, membiarkan wajahnya basah sampai adanya bertetes-tetes air bening yang menjatuhi aspal yang dipijaknya.
Lalu gadis berambut merah muda itu mengadahkan wajah, melihat jalanan yang ada di depannya. Di ujung jalan pertigaan sana—entah kebetulan atau apa—dilihatnya Sasori yang menduduki motornya yang terparkir di pinggir cafe. Bersama rokoknya, pria berambut merah itu sedang bercanda dengan kedua gadis asing yang sedang duduk di meja luar cafe.
Sepertinya sehabis mengantarnya ke sekolah, kakaknya itu belum pulang dan memilih untuk nongkrong di sana. Tapi tampaknya Sasori sudah akan pergi. Jadi sebelum Sasori men-starter motornya, Sakura sudah keburu berlari lagi ke arahnya. Ia terus mengayunkan kedua kakinya sampai akhirnya ia langsung memeluk Sasori dari belakang.
Brukh!
Sasori tersentak—tentu saja. Tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Untungnya, dia sempat menahan motor dan tubuhnya yang terdorong dengan cara bertopang pada kakinya. Kalau tidak ia yakin akan terjungkal. Awalnya Sasori berniat marah, tapi saat ia mengetahui bahwa orang itu adalah Sakura, adik kandungnya, emosinya mencair seketika.
"S-Sa-Sasori-nii..." Lirih Sakura sambil terisak.
"Sakura, kau kenapa...?"
Di posisinya, Sasori benar-benar terkejut saat mendapati keadaan adiknya yang seperti ini. Apalagi ketika menyadari sudah banyak linangan air mata yang terus mengalir dari pipi Sakura sampai bertetes-tetes. Berhubung dia jarang sekali menyaksikan Sakura menangis, Sasori juga tidak tau sekarang ia harus berbuat apa. Merasa dekapan Sakura padanya serta tangisan yang tak kunjung berhenti, Sasori menghela nafas. Ia memang belum tau kenapa Sakura sampai sebegininya, tapi ia pun balas memeluk adiknya itu, mencoba menenangkannya.
"Jangan nangis, Sakura. Kau kuat..." Bisiknya menenangkan.
Sedangkan, terdapatlah sesosok guru berambut perak dari Konoha High School yang tengah mengamati salah satu muridnya dari depan gerbang. Walaupun jauh, ia tetap bisa melihat di mana Sakura berada—di dalam pelukan seorang pria yang pernah ia temui juga di depan apartemen si Haruno.
Bersama sepasang mata berwarna onyx-nya, ia perhatikan kedua manusia itu.
Wajah Kakashi datar, tapi tatapan sinis tercetak jelas di raut yang ditampilkannya.
Memang, itu hampir sama dengan semua pandangan yang sering ia berikan saat menatap Sakura. Namun kali ini ada arti lain yang terasa.
"Tsch..."
Sampai akhirnya Kakashi memalingkan wajahnya dan berbalik menuju sekolah.
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Sakura's POV
Besoknya, hari masih menunjukan bahwa sepanjang pagi ini langit akan terus berwarna biru—tanpa tambahan awan yang mengambang di bawahnya. Tidak akan mendung ataupun hujan. Pagi ini dijamin akan selalu cerah. Itulah berita cuaca Tokyo yang kudengar di berita. Namun walaupun cerah, diriku masih tetap suram. Aku jadi pendiam dan malas tersenyum. Tentu saja itu karena hawa sesak yang terus kurasakan—karena Kakashi-sensei—masih terus bersemanyam di diriku.
Sesudah berada di depan sekolah, berbeda dengan hari-hari biasanya, aku tampak lesu—tidak lagi semangat. Sasori yang mengantarkanku lagi ke sekolah pun hanya bisa memasang wajah bingungnya padaku—karena aku memang sama sekali tidak bercerita apa-apa tentang insiden kemarin kepadanya. Tapi aku sudah berjanji kepada Sasori kalau aku akan cepat kembali lagi seperti dulu kalau sudah melupakan masalah tersebut. Jadi, yang Sasori lakukan hanyalah mendukungku lewat kata-kata.
"Sakura..."
Sebelum aku melenggangkan kakiku untuk berjalan ke gerbang sekolah, Sasori memanggil. "Jangan lupa tersenyum, ya..." Kakakku yang berwajah baby face itu tersenyum lembut.
Aku pun menghela nafas panjang dan membalas senyumannya. "Terimakasih, Niisan."
"Hn... sampai jumpa."
Setelah Sasori pergi, aku melangkahkan kakiku dengan gontai ke sekolah. Untungnya yang benar-benar tau bahwa aku kemarin menangis itu hanyalah Sasori seorang, dan tentu saja... Kakashi. Si pelaku utama yang membuatku seperti ini. Soalnya aku tidak ingin menceritakan hal itu ke mana-mana—bahkan ke Ino ataupun Tenten.
Setelah sampai ke kelasku, mendadak aku dibuat heran. Di ruangan ini, tas masih terjejer rapih di meja masing-masing. Bedanya orangnya saja yang pada menghilang.
Tidak mungkin aku salah ruangan, kan?
Aku kembali mengecek buku catatan yang tertulis lengkap semua susunan jadwal pelajaran. Dan rasanya saat mencocokan mata pelajaran pertama dengan kelas—yang ada di hadapanku—tetap sama. Lalu semua orang memangnya ke mana?
"Sakura!" Panggilan Ino yang begitu mendadak membuat aku yang sedang berpikir menjadi tersentak. Kupandangi sahabat pirangku itu. "Kemarin kenapa kau mendadak menghilang?"
Aku hanya tersenyum kikuk. "Perutku sakit, jadi aku pulang..."
Tentu saja aku berbohong.
"Ckck, calon dokter tapi kok sakit sih?" Ia berjalan mendekatiku sambil tertawa penuh canda. "Dan tumben sekali kau telat..." Katanya sambil menggeleng pelan. Ino tarik tanganku agar dapat mengikutinya. "Sekarang, ayo kita ke atas. Lagi ada pengarahan untuk Ujian Nasional tuh."
Dengan perlahan aku mengangguk, dan menyetarakan kecepatan langkahku dengan Ino.
. . .
Saat memasuki hall di lantai teratas, kedua mataku melihat semua penghuninya—yang merupakan angkatanku—sedang menaruh kefokusannya kepada seorang guru yang sedang berdiri di podium. Orang itu tengah memberikan kalimat motivasi agar semua murid dapat menjalani ujian akhir dengan nilai terbaik. Aku menghela nafas. Bosan rasanya ketika acara seperti ini terus-terusan saja diulang oleh pihak sekolah. Jadilah aku hanya mengikuti Ino, dan duduk di bangku yang masih kosong di bagian belakang.
Berhubung suasana di dalam ruangan luas ini sedang sepi—tidak ada siapapun yang berbicara selain sang guru—Ino belum berani untuk berbicara mengajakku ngobrol seperti kebiasaannya. Tentu saja itu karena hall ini dapat menggemakan suara sekecil apapun, sehingga mudah bagi mereka—para guru—untuk mengetahui kalau ada murid yang membicarakan hal lain.
Oleh sebab itu, kami semua terdiam dan mendengarkan guru bernama Iruka itu menyelsaikan seluruh kalimatnya. Untungnya, kegiatan ini sudah hampir selesai karena kedatanganku yang cukup terlambat.
"—Kami harap kalian bisa menyimpulkan beberapa pesan yang kami sampaikan untuk kalian nantinya. Terima kasih."
Iruka-sensei menyudahi topik pidatonya, yang kemudian disambut dengan tepuk tangan. Setelahnya, Tsunade-sensei menggantikan Iruka-sensei untuk menempati podium...
"Setelah ini, ada pengumuman penting bagi kalian..."
Suara itu sedikit banyak membuat siswa-siswi di sekitar menjadi bergerak risih memperbaiki posisi duduknya. Masalahnya, kalau sang kepala sekolah sudah memegang mic, biasanya dia yang paling lama sendiri berceramah dibandingkan guru lain.
Sambil menghela nafas berat, Ino menyimak dengan malas, sedangkan aku tidak. Aku hanya memandangi tanganku yang saling bertautan di atas kedua pahaku dengan tatapan kosong. Sejak kemarin-kemarin, beban pikiranku menambah. Dan tampaknya hal itu sama sekali tidak menyisakan celah untuk menyimpan semua nasihat Tsunade-sensei yang akan dilontarkan olehnya.
"Kalian sudah mau lulus, jadi lebih baik jangan buat-buat masalah lagi..." Itulah inti yang terdengar dari Tsunade-sensei. "Terutama sama guru." Di tempatnya, tanpa kusadari ternyata diam-diam Tsunade-sensei melirik ke arahku yang sedang tidak memperhatikannya. Dengan kesal ia melanjutkan. "Guru itu yang ngajarkan kalian tentang semuanya. Kadang kami memang menyebalkan, namun itu semua hanya untuk kebaikan kalian nantinya. Karena itu, jagalah kesopanan kalian. Kalian akan sukses karena kami, dan kami pun tidak meminta imbalan apa-apa selain dihargai."
Ino sedikit mengernyit. "Kenapa Tsunade-sensei tumben-tumbenan membicarakan hal yang tidak penting seperti itu sih?" Ia lontarkan pertanyaan itu kepadaku, namun lagi-lagi aku tidak mengubrisnya. Aku terlalu sibuk akan kekosonganku sendiri.
Hampir lima menit terlewat dengan nasihat-nasihat yang menjelaskan kalau mereka—semua siswa-siswi—harus berbakti kepada guru, tanpa pengecualian. Tapi secara mendadak dan sama sekali tidak disangka... di detik itu, Tsunade pun memanggil namaku lewat microphone.
"Haruno."
"—!"
Mendengar nama margaku dipanggil, sontak saja aku tersentak. Dan segera kudongakan wajahku. Bersama detakan jantung yang berdetak kencang, kutatapi Tsunade-sensei yang masih berdiri di podium. Dia memandangku sinis. Tapi aku tidak mengerti, dan aku pun mengedarkan pandangannya ke sekitar, memandangi semua orang yang sedang melihat ke arahku.
Ya, satu angkatan.
Dimodali dengan meneguk ludahnya sendiri, aku menjawab. "I-Iya...?"
"Berdiri, dan minta maaf dengan Kakashi-sensei."
Suara tenang tersebut langsung membuatku sedikit menelan ludahku sendiri. Aku tentu saja sedang terkejut, terutama saat ada sebuah nama 'Kakashi' di kalimat perintahnya yang tadi. Aku berpikir sebentar. Apakah yang dimaksud oleh Tsunade-sensei adalah... aku harus meminta maaf ke...
Guru itu?
Kakashi-sensei?
Tanpa bertanya lagi, akhirnya aku berdiri.
"Sekarang kau ke ruang guru, dan renungilah kesalahanmu."
Aku menggigit bibir bawah saat merasakan ratusan pasang mata sedang melihat ke arahku. Aku malu. Aku tidak suka dengan keadaan ini. Semuanya... tampak mendesakku seorang diri. Saat aku baru akan berjalan, banyak bisikan-bisikan kecil terdengar. Semuanya bertanya tentang apa yang terjadi padaku. Bahkan sudah ada yang menduga-duga secara asal.
Aku takut.
Dan tanpa memperdulikan yang lain, aku langsung berjalan ke arah pintu. Sesudah aku keluar dari hall, dengan menghela nafas panjang aku menyenderkan punggungku ke pintu yang sudah tertutup. Tak terasa saat kupejamkan kedua mata, air mataku kembali menetes.
Kenapa akhir-akhir ini aku menjadi cengeng, sih?
Dengan kasar, kuhela nafas lagi sekaligus mengusap wajahku yang sedikit basah oleh air mata. Lalu aku pun berdesis kesal. Sebenarnya, aku masih ingin menangis. Menangis karena menahan malu yang baru saja kudapatkan. Lagipula, kenapa Tsunade memanggilku di depan angkatan seperti tadi?
Dan mendadak, aku teringat oleh satu hal. Kemarin, orang yang datang ke lab biologi dan memergoki diriku bersama Kakashi-sensei adalah Tsunade-sensei. Setelah aku pergi, bisa saja Tsunade-sensei bertanya pada Kakashi-sensei tentang apa yang baru saja kami lakukan—yang mungkin saja karena teriakanku yang terdengar sampai ke luar.
Jadi ini pasti ada hubungannya dengan Kakashi-sensei...
Pasti dia telah menyebarkan gosip aneh tentang diriku.
Pasti Kakashi-sensei-lah yang meminta aku dipanggil seperti tadi.
Pasti.
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Normal POV
Ruangan biologi. Itulah ruangan yang sedang dihuni oleh guru muda yang bernama Kakashi Hatake. Dia sedang terduduk di bangkunya, tak lupa bersama kacamata yang masih bertenger di hidungnya. Lalu, saat ada seseorang yang sudah berdiri di depannya sejak semenit yang lalu, Kakashi menutup kamus kantong kecil biologi yang sering ia baca dan ditaruhnya ke atas meja. Masih dengan muka datarnya, Kakashi memindahkan pandangannya ke seorang siswi didikannya.
Sakura Haruno.
Seperti dugaannya, mata gadis itu sembab dan sedikit basah karena air. Tampaknya sebelum Sakura mendatanginya, ia sudah bersusah payah menghilangkan bekas-bekas tangisannya dengan cara mencuci muka—tapi, bagi Kakashi itu tetap tidak berhasil.
"Siapa suruh kau ke sini?"
Sakura tidak menjawab. Kakashi menghela nafasnya pelan dan menutup kamus kecil yang sempat ia baca. Dia menyenderkan punggungnya ke kursi, lalu menatap Sakura yang masih belum sudi membalas pandangannya.
"Apa yang mau kau katakan?"
Tentu saja Kakashi tau apa yang menyebabkan Sakura menangis dan ke ruangannya. Pasti karena sang kepala sekolah. Bila ditanya kenapa Kakashi bisa tau alasan Sakura ke sini, jawabannya karena ia sendirilah yang meminta Tsunade memanggilkan Sakura kepadanya.
"Jika tidak ada yang akan kau katakan, lebih baik kau keluar dari ruanganku."
Lagi-lagi tak ada yang bersuara.
Akhirnya Kakashi memilih untuk mengacuhkan Sakura yang masih berada di hadapannya. Pria itu kembali mengambil bukunya dan membacanya seolah-olah Sakura sudah pergi dari ruangannya. Kemudian, lama-lama Sakura mengangkat sedikit dagunya agar ia dapat melihat guru tersebut. Dimodali dengan meneguk ludahnya sendiri, Sakura membuka kedua belah bibirnya.
"Sensei..."
"Hm?"
Masih dengan kefokusannya ke lembaran demi lembaran yang ada di mejanya, Kakashi menjawab dengan gumaman. Sakura menelan ludah. "Aku disuruh Tsunade-sensei."
Gerakan pulpen Kakashi berhenti sejenak. "Untuk apa?"
"Minta maaf." Kali ini Sakura menjawab cepat.
Salah satu sudut bibir Kakashi naik satu mili—itu tidak dapat dilihat oleh Sakura. "Kalau begitu.. katakan sekarang."
Mendadak suasana hening. Bahkan detikan jam yang terpasang di dinding sudah tak lagi terdengar. Semuanya seperti itu untuk seolah-olah kalimat Sakura nantinya—yang merupakan sebuah permnataan maaf itu akan terdengar—walaupun ia berbisik mati-matian. Sakura membuka kedua belah bibirnya—akan mengutarakannya. Namun suaranya tidak keluar... atau lebih tepatnya tidak sudi ia keluarkan.
Dua menit pun terlewat, Kakashi yang awalnya diam menunggu langsung menghela nafas malasnya. Kedua iris onyx-nya kembali menatap perkerjaannya yang ada di meja. "Haruno, kau mengganggu waktuku. Jika tidak ada urusan lagi, silahkan keluar—"
"Aku..."
Tepat di kata yang dikeluarkan terakhir oleh Kakashi, Sakura akhirnya menjawab. Pandangan pria itu kembali ke Sakura yang masih menunduk. "Aku..." Sakura sedikit menaikan wajahnya, lalu balas menatap kedua mata Kakashi. Tapi sesaat guru tersebut mengira gadis berambut merah muda itu akan meminta maaf, nyatanya Sakura malah menggebrak meja Kakashi dengan kedua tangannya. "Aku tidak sudi!" Bantahnya dengan sebuah bentakan. "Aku benar-benar tidak sudi mengatakan maaf padamu!"
Kakashi tidak kaget dengan bentakan tadi, tapi kalimat tadi membuat Kakashi menatap mata emerald Sakura yang sudah kembali berkaca-kaca. "Untuk apa aku yang meminta maaf! kaulah selalu jahat padaku!" Tanpa sadar sebutir air mata menjatuhi meja milik Kakashi. "Aku hanya ingin diperlakukan sama olehmu seperti murid-murid lainnya!"
"Memperlakukanmu sama seperti yang lain?" Pria itu mendengus geli. Sangat terlihat oleh Sakura bahwa Kakashi menertawakannya. "Untuk murid kurang ajar sepertimu?"
Walaupun air matanya semakin mengalir deras, Sakura tetap tidak mau kalah. Ia tarik kedua kerah kemeja milik Kakashi dan menariknya. "Dengar, ya! Aku bukan murid yang kurang ajar! Tapi... kau! Kaulah yang membedakanku dari yang lain! Kau! Dasar guru pilih kasih—!"
Brukh!
Kali ini, mendadak Kakashi juga menarik kerah Sakura sampai muridnya itu tercondong ke depan. Bahkan salah satu tangan Sakura harus terlepas dari kerah Kakashi agar dapat menahan dirinya agar tidak terangkat ke meja Kakashi—karena meja tersebut masih menghalangi jarak di antara mereka.
Bukan lagi halnya seperti kemarin, Kakashi tidak lagi mengeluarkan senyuman sinisnya. Pria itu mengeluarkan tatapan tajam yang begitu menusuk. Bukan hanya itu, karena posisi Sakura yang sekarang sedikit membuatnya tidak bisa bergerak, Kakashi menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil dagu Sakura agar mereka bisa berpandangan.
"Aku membeda-bedakanmu dari yang lain?"
Sakura seakan berhenti bernafas saat Kakashi mengeluarkan suara dinginnya.
"Baguslah kalau kau sadar—karena itu memang benar." Ia menyeringai. "Kau mau tau kenapa?"
Sakura sedikit menunduk saat ia merasakan wajah Kakashi mendekat. "Aku dendam padamu."
"A-Apa—?"
"Kau masih ingat kenapa orang tuamu meninggal, eh?" Tanyanya. "Kecelakaan, iya kan?"
Merasa orang tuanya dibahas, Sakura memberanikan diri untuk menatap mata Kakashi. "Ke-Kecelakaan?
"Ya! Kecelakaan! Karena kedua orang tua bodohmu itu tidak bisa menyetir, mereka menabrak kakakku, keluarga satu-satunya yang kupunya, Shizune!" Kakashi membentaknya. "Jadi, kau mengerti kenapa aku bisa membencimu, kan!?"
Sakura pun membalas tatapannya dengan pandangan nanar, susah payah ia menghapus bayangan ketika neneknya memberitahu kabar buruk itu kepadanya yang masih berumur 12 tahun. Waktu di mana ia masih bisa menghabiskan masa kecil terakhirnya bersama orang tuanya.
Tapi setitik air mata bening meluncur dari kelopak matanya, tak bisa lagi tertahan.
Sakura mencoba memegang tangan Kakashi yang masih menariknya agar wajah mereka berdekatan. Lalu ia pun mencoba mendorongnya. Tapi hasilnya nihil, kekuatan Kakashi terlalu besar. "Lepaskan aku.." Lirihnya, memilih untuk memohon.
"Tidak akan."
"LEPASKAN AKU!" Sakura melakukan perlawanan. Ditatapnya kedua onyx yang berada tepat di hadapan manik matanya. "Itu hanya kecelakaan! Takdir tuhan! Bukan karena aku, maupun kedua orangtuaku! Aku saja bisa menerimanya sekalipun aku jadi sebatang kara! Lalu kenapa kau tidak!?"
Mendengar kalimat itu, Kakashi tersentak. Sakura menjawab dan meneriakinya dengan apa yang sering ia pikirkan—bahwa kecelakaan itu hanya takdir—namun terus saja ia elak. Kakashi hanya ingin marah ke pelaku yang menyebabkan kakaknya meninggal. Di saat Kakashi terdiam dan tidak membalas perkataaanya, mulailah Sakura mendorong Kakashi sampai pria itu melepaskannya.
Kali ini Sakura membiarkan linangan air mata membekas di pipinya. "K-Kau pikir..."
"Kau pikir hanya kau yang bersedih kehilangan kakakmu?" isaknya sambil mencengkram kerah milik Kakashi. "Aku kehilangan kedua orang tuaku! Dua orang yang paling kusayangi di dunia ini!"
Deg.
Kakashi terbelalak. Apalagi saat ia melihat kedua mata emerald Sakura yang tajam seakan menusuknya. Dilepaskannya kerah pria itu, dan Sakura pun melenggang pergi. Setelah gadis itu menghilang, Kakashi yang masih membeku di tempatnya pun perlahan-lahan memalingkan wajah. Dia hembuskan helaan nafas kasar sambil menyisir poninya ke belakang.
"..."
Tampaknya ruangan ini selalu menyediakan kenangan buruk untuk Sakura dan juga bagi guru itu.
Entahlah mengapa.
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Semenjak kejadian kemarin, sudah hampir dua minggu Kakashi tidak lagi kelihatan di Konoha Senior High School. Sebenarnya Sakura biasa saja, ia malah menjalani tiap pelajaran biologi dengan damai sesudah dihadirkannya lagi guru pengganti.
Tapi berbeda dengan Sakura, teman-temannya yang lain malah merasa kehilangan. Setiap pelajaran biologi, pasti ada yang mengeluh karena mereka lebih senang diajar Kakashi. Bahkan, masih saja terdengar gosip-gosip kecil yang mengabarkan alasan Kakashi sudah tidak mengajar lagi. Ada yang mengatakan kalau pria itu dikeluarkan, tapi ada yang mengatakan kalau Kakashi mengambil cuti—libur sementara.
Dan tampaknya bahasan tentang Kakashi berlangsung sampai bel istirahat berbunyi. Sakura, Ino dan Tenten sedang berada di kantin. Ino dan Tenten dengan seru membahas Kakashi, tapi Sakura hanya memasangkan headset iPod ke masing-masing telinganya agar tidak mendengar berita tentang guru yang paling ia benci itu.
Sakura menghindari semua obrolan tentangnya. Ia tidak suka kalau guru itu dicari-cari semua pesosok sekolah. Sampai akhirnya Sakura sudah sampai ke kamar flat-nya. Gadis merah muda itu duduk di meja belajarnya dan mencoba untuk kembali mengulang pelajaran hari ini. Tapi, saat ia sedang berkonsentrasi, pikirannya tak terfokus.
Sakura menghela nafas.
Ya, walaupun Kakashi bertempat tinggal tepat di sebelah kamar flat-nya—entah Kakashi sedang terlibat masalah berupa utang, kebocoran gas atau apapun—ia sama sekali tidak mau peduli. Namun... tiga minggu terlewat cepat, dan Kakashi pun sama sekali belum menunjukan dirinya di sekolah.
Jujur saja, Sakura tidak khawatir padanya. Ia hanya penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Kakashi. Kata Ino, Kakashi tidak dipecat ataupun dikeluarkan dari sekolah, tapi orang itu absen—menghilang begitu saja tanpa adanya informasi sama sekali. Mungkin dia sakit? Oke, sudah saatnya membuyarkan lamunan.
Masalahnya, ini sudah ketigakalinya Sakura memikirkan Kakashi sampai terbengong-bengong. Padahal ia tau kok bahwa Kakashi masih hidup di sampingnya—dapat didengar dari suara pintu yang kadang terbuka dan tertutup. Sakura semakin penasaran.
Diletakkannya pena yang hampir sejam ia pegang, lalu ia mendekatkan dirinya ke tembok—karena itulah dinding yang membatasi kamarnya dengan Kakashi. Ia mencoba menempelkan kupingnya ke dinding. Dia mendengarkan segala frekuensi kecil yang dapat tertangkap oleh telinganya. Dan... hanya ada dua hal yang ia dengar. Suara air dari keran serta suara batukan khas pria.
Kedua mata Sakura membulat.
"Dia... kenapa?"
Mendadak sebuah perasaan tidak enak menyelimuti ruang hati Sakura.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Gila, chap ini aku sama sekali ngga ngerasain feel-nya. Mungkin karena aku emang udah ngabaiin fict ini selama setahun lewat, kali ya? Tapi, apa masih ada yang inget fict ini? :/
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Akira Raikatuji, piratePrincess, Nay Hatake, Mokochange, elflameshawol, Lollytha-chan, Seiffer, AmaYuu, OraRi HinaRa, N. S Kittie, Dr. Kimchie, Azaela Ungu, caejoong, Mamehatsuki, AyameHyuga, Just ana g login, Mikaela Williams, kaka-koi cherry, Putri Luna, garoo, Crimson Fruit, Elva Anjani, mikana uchiha, yola hatake, minatsuki heartnet, Nanairo Zoacha, jonghoshinoxxxsai, gamekyu Hatake, Mumut Cherry, Hara-namii, echy, bluemaniac, Yui Akiaka, Aokie CassiEast AKTF, Mysunshine-hatake, Phouthrye Mitarashi15, Chitya Hatake, Hatake Fuji, Haik hata, Reachel, Hasegawa Nanaho, setia biru, Misty.
.
.
Pojok Balas Review :
Gregetan sama Kakashi. Haha, aku juga :) Kakashi sebenernya suka atau benci sama Sakura? Di sini sudah terjawab, kan? Kasihan Sakura. Iyaa. Aku nangis baca chap 4. Maaf kalo chap 5 ini ngga kerasa emosinya. Kakashi jahat tuh keren. Iyaap. Harusnya ada pihak ketiga yang berhati lembut. Kalo pairing KakaSaku, kadang aku suka bingung sama pihak ketiganya. Jadi lebih baik ngga usah pake hehe. Gemana caranya Kakashi dan Sakura bisa saling suka kalo begini? Scene-nya sudah kupersiapkan kok :) Di ending chap 4, Kakashi mau nyium Sakura? Apa yaa. Aku mending ngehindar daripada ketemu guru kayak Kakashi. Bener banget. Jadi ngerasa Sakura di-bashing. Maaf yaa... tapi ini bukan angst kok. Ada saatnya Sakura tersenyum bersama Kakashi :) Ada scene Kakashi cemburu? Hm... nanti aku mau make Sasori sih, tapi masih bingung mau kayak gimana.
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
