Previous Chap :
Masalahnya, ini sudah ketiga kalinya Sakura memikirkan Kakashi sampai terbengong-bengong. Padahal ia tau kok bahwa Kakashi masih hidup di sampingnya—dapat didengar dari suara pintu yang kadang terbuka dan tertutup. Tapi Sakura semakin penasaran.
Diletakkannya pena yang hampir sejam ia pegang, lalu ia mendekatkan diri ke tembok—karena itulah dinding yang membatasi kamarnya dengan Kakashi. Ia mencoba menempelkan kupingnya ke dinding. Dia mendengarkan segala frekuensi kecil yang dapat tertangkap oleh telinganya. Dan... hanya ada dua hal yang ia dengar. Suara air dari keran serta suara batukan khas pria.
Kedua mata Sakura membulat.
"Dia... kenapa?"
Mendadak sebuah perasaan tidak enak menyelimuti ruang hati Sakura.
.
.
Normal POV
Keesokan harinya, Sakura yang baru saja selesai mengenakan baju seragam akan siap-siap berangkat pagi. Pertamanya, ia berjalan dulu ke depan sebuah kamar—yang biasa digunakan Sasori jika dia sedang menginap—dan mengetuknya sebanyak tiga kali.
"Sasori-nii... kau ada di kamar?"
Tok tok tok.
"Sasori..." Panggilnya lagi. Berhubung tidak ada jawaban, Sakura pun membuka pintu itu dan melihat ke dalam dari selanya. Dan ternyata kamar itu kosong, mungkin kakaknya sedang menginap di rumah temannya. Karena pagi ini Sasori belum pulang, tampaknya ia harus menaiki sepeda ataupun berjalan kaki ke sekolah. Oke, Sakura memilih opsi kedua—berjalan kaki. Selain jarak flat ini ke sekolah bisa dibilang cukup dekat, suasana pagi ini terasa sangat sejuk. Sayang jika dilewatkan sebegitu cepat jika menaiki sepeda.
Setelah mengambil tasnya, Sakura menyempatkan diri untuk melihat jarum jam di dinding kamar. Sekarang masih jam 05.12. Ia rasa itu masih terlalu pagi jika ia berangkat sekarang—mungkin nantinya ia cuma sendirian di dalam kelas.
Drukh!
Mendadak, suara tadi membuat Sakura menoleh. Karena ia tidak tau dari mana suara itu berasal, gadis bermarga Haruno itu segera memeriksa barang-barangnya, takutnya ada yang jatuh. Namun, saat Sakura akan memeriksa perabotan di dapur, suara itu kembali terdengar.
Prang!
Kali ini bukan suara benda jatuh, melainkan benda pecah. Tapi, oleh sebab itu sekarang Sakura yakin bahwa suara-suara tadi bukan berasal dari flat-nya, melainkan flat Kakashi yang berada tepat di sebelahnya. Sakura pun menghela nafas panjang. Dia putuskan untuk keluar dari flat dan melirik sebuah kamar yang terdapat papan nama yang tertulis 'Hatake' di sana. Jujur saja, Sakura heran. Di saat warga sekolah mengira Kakashi absen—tidak masuk sekolah—nyatanya pria itu masih ada di flat-nya. Tapi... memangnya dia sedang apa?
Awalnya, Sakura mendekati pintu itu dan berniat mengetuknya. Namun, ia urung ketika kembali memikir peristiwa-peristiwa yang menguras kesabarannya semenjak ia bertemu dengan Kakashi. Terutama saat Kakashi mengatakan secara langsung alasan kenapa orang itu bisa membencinya—tentang masa lalu.
Sakura menghela nafas.
Mereka kan sedang bermusuhan. Lalu untuk apa dia datang?
Sakura berdecak sedikit, lalu berbalik untuk berjalan ke sekolah.
Lagi pula... Kakashi pasti baik-baik saja, kan?
.
.
.
HATE YOU ALWAYS
"Hate you Always" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]
Romance, Drama, Hurt/Comfort
AU, OOC, Typos, etc.
(kakashi beriris onyx dan dia ngga pake masker)
.
.
SIXTH. Sakit?
.
.
Lab biologi. Itu adalah ruangan yang ada di hadapan Sakura. Tentu saja karena sekarang adalah hari di mana pelajaran biologi berada di jadwal pertama pembelajaran kelasnya.
"Ohayou, Sakura..."
Sambutan ramah terdengar ketika Sakura baru saja melangkah masuk. Yang tadi itu Ino dan Tenten, kedua sahabat yang sedang tersenyum kepadanya. Sakura mencoba untuk menaikan kedua sudut di bibirnya juga. Ia taruh tasnya ke meja, lalu Sakura menghampiri mereka yang sedang berkumpul di meja depan.
"Ck, ck. Senyumanmu hari ini maksa banget."
Sakura tertawa. "Iya, ya?"
Ino mengangguk. "Tapi maklum aja deh, soalnya sejak dipanggil oleh Tsunade-sensei di hall itu kan kau jadi sering memasang wajah spooky kalau masuk ke lab ini."
"Ah, tidak juga. Aku semangat kok."
"Sudahlah, tidak perlu pura-pura..." Tenten menaruh pipinya ke lipatan tangan yang ada di atas meja. "Tapi sebenernya aku masih penasaran loh tentang masalahmu yang dulu itu. Memangnya kenapa kau sampai bisa disuruh Tsunade-sensei untuk minta maaf ke Kakashi-sensei sih?"
Sakura mengerjap sebentar. Ia lupa bahwa dirinya sama sekali belum pernah menceritakan apapun kepada Ino ataupun Tenten tentang perselisihannya bersama Kakashi. "Jangan terlalu dipikirkan. Itu bukan apa-apa kok."
"Ahh, masa kami tidak tau apa-apa tentang masalahmu? Kau anggap aku dan Tenten sebagai sahabat atau bukan, hah?" Ino mengerucutkan bibirnya. "Seharusnya kalau ada masalah, kau langsung cerita ke kami. Dasar payah..."
"Masalahnya kan sudah lama sekali... jadi aku pikir tidak perlu lagi diungkit-ungkit. Lagipula kalian juga tidak bertanya."
"Waktu itu kami diam aja karena khawatir kau akan marah jika ditanya."
Sakura tersenyum lembut. Dia memang mempunyai sahabat yang baik-baik. "Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya masalah sepele. Aku kan pernah marah-marah ke Kakashi-sensei perlihal nilaiku. Tsunade-sensei tau hal itu dan jadinya dia marah." Kilahnya. Sebenarnya hal itu benar, tapi ia persingkat dengan sedemikian rupa, agar Ino dan Tenten tidak bertanya lagi.
"Ha? Benarkah?"
Tenten berpikir sebentar. "Lalu, bagaimana? Apa jangan-jangan Kakashi-sensei dipecat karena masalah kalian itu?"
"Kayaknya tidak ada hubungannya. Aku yang bersalah, lalu kenapa dia yang dipecat? Tidak mungkin, kan?"
"Iya sih. Jadi, sekarang Kakashi-sensei bagaimana?" Tenten yang antusias bertanya langsung disenggol oleh Ino.
"Sstt, kau tau sendiri kan kalau Sakura itu tidak suka sama Kakashi-sensei? Jangan tanya ke dia dong..."
"Ehh... gomen. Tapi kan bisa aja Sakura tau."
Sakura memalingkan wajah. "Sudah, sudah..."
Kriiing.
Mendadak, bel berbunyi. Mereka bertiga pun segera kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Kemudian, seorang pria dewasa—yang dikenal oleh murid sekelas bernama Yamato—datang. Lalu menempati bangku guru yang berada di depan kelas.
"Pagi, semua. Sekarang saya yang akan mengajarkan pelajaran biologi, menggantikan Kakashi-sensei yang tidak masuk."
Bagi seluruh siswa-siswi yang ada di kelas, sebenarnya sudah tidak asing lagi kalau ada guru lain yang mengajar mereka. Masalahnya semenjak Kakashi tidak pernah datang lagi ke sekolah tanpa meninggalkan kabar, pengajar materi biologi memang sering digantikan oleh bermacam-macam guru, termasuk Yamato-sensei—seorang guru biologi yang seharusnya hanya mengajar kelas 10.
"Oh, ya. Dengan sedikit tambahan, saya akan mengajar kalian... mulai hari ini dan seterusnya."
Kali ini, sontak saja semua murid di kelas terkejut. Ada salah satu siswi yang memberanikan diri untuk bertanya. "Apa sensei akan mengajar terus sampai kita lulus?"
Yamato mengangguk. "Ya, benar sekali."
"Memangnya Kakashi-sensei sudah keluar, ya?"
"Sepertinya ia masih menjadi guru sekolah ini. Tapi karena sudah tidak ada kabar lagi darinya, mungkin dia akan dikeluarkan—apabila masih absen sampai minggu depan."
Serentak, semua murid—terutama siswi-siswi—mendesah malas. Mereka tentu saja tidak ingin guru tampan seperti Kakashi meninggalkan sekolah ini hanya karena masalah absensi. "Kenapa tidak dicari ke rumahnya saja?"
"Kami tidak tau alamatnya."
"Masa tidak ada di biodata guru?"
"Dulu ia sempat lupa mengisi."
Di saat murid-murid lain berbisik-bisik kecewa, Sakura—yang termasuk mendengarkan semua kalimat Yamato—hanya terdiam. Ia tau tempat tinggal Kakashi. Pria itu tinggal tepat di sebelah flat-nya. Tapi ia sama sekali tidak ada rencana untuk memberitahukan pihak sekolah.
Untuk apa juga?
Sakura menghela nafas. Ia sebenarnya 'sedikit' khawatir dengan keadaan Kakashi—yang entahlah sedang kenapa. Tapi...
Sakura memejamkan mata, dan berusaha agar melupakan apa yang ada dipikirannya.
"Tinggalkan topik yang tadi, dan siap-siap belajar. Sekarang, lebih baik kalian membuka buku paket halaman 103. Kita akan mengulang bab itu."
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Sakura's POV
Sesampainya di depan bangunan yang kusebut flat, aku menghentikan laju langkah kakiku untuk sementara waktu. Aku mengadah, menatap kamarku yang berada di lantai tiga—dari jumlah total lima lantai di flat ini. Dengan malas, kuseret telapak kakiku untuk maju dan menaiki tangga.
Cklek.
Sebelum aku masukan kunci ke dalam lubang pintu, kudengar suara pintu ruangan sebelah yang terbuka. Aku tersentak, tentu saja. Siapa tau itu Kakashi yang barusan keluar dari kamarnya, kan? Tanpa berpikir dua kali, aku langsung mundur dan menoleh ke samping agar dapat melihat sosok tersebut.
Ya, ternyata benar. Itu Kakashi Hatake—pria berambut perak yang akhir-akhir ini terus dicari oleh pihak sekolah. Tapi kali ini, ia lain dari biasanya. Kakashi keluar dengan mengenakan masker putih yang setengah menutupi wajah pucatnya. Aku berniat bertanya kepadanya, tapi aku menahan hal itu terjadi. Hanya iris matakulah yang terus memperhatikannya sampai-sampai manik matanya juga menemuiku.
Kami berpandangan sebentar, tapi ia segera memfokuskan pandangannya lagi menjadi lurus ke depan—untuk berjalan. Ia pun melewatiku tanpa suara. Tidak, sebenarnya ada suara. Tapi di telingaku, suara yang nyaris tidak terdengar itu menyerupai engahan nafas khas orang sakit.
Kurasa... dia benar-benar sedang tidak sehat.
Aku pun berbalik dan memanggilnya. "Sensei..." Ia tidak menjawab, dan terus berjalan dengan langkah pendeknya. "Kakashi-sensei..." Sekarang aku berupaya mengikutinya. Entah kenapa aku jadi cemas ketika melihat dia yang tampaknya sudah kesulitan berjalan. Masalahnya, kan bisa saja dia terjatuh apabila menuruni tangga. Jadi sebelum ia benar-benar turun, aku langsung menyerobotnya dan berdiri tepat di depannya. "Kakashi-sensei!"
Kakashi menatapku singkat. "Minggir."
Aku menggeleng. "Kau terlihat tidak sehat. Sensei sakit, ya?"
"Iya, lalu kenapa? Minggir!"
"Mau apa ke bawah?" Aku sedikit memberanikan diri untuk mendorong tubuh Kakashi menjauhi tangga. Rasanya seram sendiri saat melihat seseorang sepertinya akan mendekati tangga yang curam.
"Beli obat."
"Aku ada obat di flat-ku. Nanti kuantarkan kepadamu."
Kakashi pun berdecak dan langsung menepis tangan serta tubuhku yang menghalanginya. "Kubilang minggir ya miggir!"
Tiba-tiba saja kurasakan diriku terlempar olehnya sampai membentur dinding.
"Ah, i-ittai..."
Melihatku yang meringis kesakitan sambil memegang bahu, Kakashi sedikit menunduk. Nafasnya semakin berhembus tak beraturan. Mungkin dia menyesal. Lalu, ia pun kembali mengeluarkan suara dengan nada yang lebih rendah. "Sudah kubilang jangan halangi aku."
Aku menggeleng dan kembali menutupi jalan menuju tangga. "Tidak mau."
Mata Kakashi mengernyit kesal, bibir di balik masker itu berniat mengutarakan kalimat lagi. Namun, hal itu tidak sempat terjadi karena tubuhnya oleh dan sangat kelihatan sekali bahwa kesadarannya setengah menghilang. Kedua kakinya terlihat lemas dan dia pun terjatuh.
"Aa! Se-Sensei—!"
Brukh!
Untungnya aku sempat menahan kemejanya dan membuat Kakashi tidak jatuh—dengan kepala yang duluan menghantam lantai. Tapi Kakashi-sensei pingsan. Kuletakan punggung tanganku ke dahinya. Dan hasilnya... gila. Bisa-bisanya dia memaksakan diri keluar flat dengan suhu tubuh yang sangat panas seperti ini. Dengan menggeleng pelan, aku pun mencoba untuk membangkitkan diriku sendiri, lalu membantunya untuk berdiri juga. Tampaknya aku harus merawat orang ini...
. . .
Setelah sampai di kamar Kakashi-sensei—melalui kunci pintu yang kutemukan di sakunya—aku melihat keadaan kamar yang benar-benar jauh dari kata rapi. Bahkan di depan lemari dapur, terdapat banyak piring maupun gelas yang pecah di ubin lantai.
Aku berdecak prihatin. Pertamanya, aku menyalakan lampu dan menutup pintu. Bersama salah satu tangan Kakashi-sensei yang kusengajakan melingkari leherku, aku membawa pria itu ke kamarnya. Perlahan, kurebahkan dia ke permukaan kasur. Dan saat aku tidak sengaja menyentuh dada Kakashi-sensei, aku tekejut. Basah. Nyatanya dia sudah berkeringat sampai kemejanya basah kuyub.
Aku menghela nafas. Aku memang belum menjadi dokter, tapi semoga saja pengetahuan tentang apa yang harus kulakukan saat ada orang demam bisa sedikit berguna. Jadi apa yang kulakukan sekarang adalah... mengganti bajunya.
Tapi... uhk, demi apa?
Masa iya aku menggantikan bajunya?
Sambil menahan nafas karena malu, aku mencondongkan tubuh kepadanya dan membuka maskernya. Setelah itu, kancing-kancing di kemejanya. Ketika sebagian dari dada bidang berwarna pucat Kakashi-sensei terekspos di depanku, aku sempat membeku di tempat. Kupandangi lagi Kakashi-sensei yang sedang sakit. Tidak tau kenapa, pipiku memanas, ada sesuatu hal aneh yang menjalari di sel-sel darahku.
Cepat-cepat aku memejamkan mata dan menggeleng. Tidak ingin terlalu lama melihatnya, aku segera melemparkan baju basah Kakashi ke keranjang pakaian kotor. Kuelap keringat yang tersisa di tubuhnya, lalu memakaikannya kaus berbahan ringan yang dapat menyerap keringat—yang kebetulan kutemukan di lemarinya.
Selesai menggantikan baju, aku berniat mengambil obat dari flat-ku yang ada di sebelah. Tapi saat aku bangkit, mendadak ada sebuah telapak tangan panas yang mencengkram pergelangan tanganku.
"Aku tidak butuh bantuan..." Katanya—masih dengan terengah serta kedua kelopak mata yang susah payah ia buka. "Lebih baik kau pergi, dan jangan pernah balik lagi ke sini."
"Sudahlah. Aku jarang mendapatkan pasien sungguhan. Jadi, serahkan semuanya padaku. "Setelah aku mengucapkan hal itu, Kakashi-sensei terdiam. Aku pun melepaskan tangannya dan... tersenyum. "Tidurlah. Biarkan aku yang merawatmu..."
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Karena tidak bisa menemukan sesuatu yang bersih dari dapur milik Kakashi-sensei, akhirnya aku memasak di flat-ku sendiri. Tentu saja untuk membuat makanan untuk orang sedang sakit di ruangan sebelah. Selesainya mengaduk bubur di panci kecil, kumatikan kompor dan menuangkan bubur hangat itu ke sebuah mangkuk. Bersama nampan, aku membawakan makanan serta minuman ke kamarnya. Sesampainya di sana, aku menggeser sebuah bangku ke sebelah ranjang Kakashi-sensei, sehingga aku dapat duduk.
Kulihat dia. Kini Kakashi-sensei sedang memejamkan mata, dan menghadapkan wajahnya ke arah tembok—berlainan dengan arahku duduk. Kubuka tutupan mangkuk dan mengambil sendok.
"Sensei... bangun sebentar, kau harus makan dan minum obat..."
Tidak ada jawaban.
"Sensei..."
"..."
"Kakashi-sensei!"
"Berisik." Tiba-tiba saja Kakashi berkomentar.
Aku mengernyit. "Tidak boleh berkata seperti itu kepada orang yang sedang merawatmu, sensei. Cepat bangun..." Dia lagi-lagi tidak menjawab. "Sensei, jangan seperti anak kecil!"
Dengan berdecak, akhirnya Kakashi-sensei memutarbalikan tubuhnya menghadapku. Aku menatap langsung wajahnya yang masih merah karena demam. Di saat ini, Kakashi tidak mengerluarkan suara lagi. Ia hanya memandangi kedua irisku yang juga sedang memandangnya—singkatnya, kami saling bertatapan. Lima detik terlewat di keheningan, aku menelan ludah. Buru-buru kupalingkan wajah dan kembali ke niatan awal; menyuruhnya makan.
"Nah, sekarang sensei makan dulu."
Kusendokkan bubur putih itu, lalu kutiup sebentar. Setelah terasa lebih hangat, kudekatkan ke bibir Kakashi-sensei. Tapi bukannya menuruti permintaanku untuk makan, Kakashi malah membuang muka.
"Ayolah makan..." Bujukku. "Paling tidak lima sampai tujuh sendok saja, yang penting perutmu terisi."
"Aku tidak mau makan." Nadanya kembali mendingin.
Aku menurunkan sendok, lalu mencelupkannya lagi ke mangkuk bubur. "Memangnya kenapa? Kau tidak suka bubur, ya?"
"Sudahlah." Kakashi menyela dengan suara beratnya. "Tidak usah berpura-pura baik di depanku."
"Eh?"
Kakashi memandangku. "Jangan bertingkah seolah-olah kau melupakan hari kemarin—saat terakhir kali kita bertemu."
"Tentang apa?"
"Tentang alasan... kenapa aku membencimu."
Di detik itu, aku langsung mengingat semua perilaku buruk Kakashi-sensei yang pernah ia tunjukan hanya kepadaku. Dimulai dari mengabaikanku, mengurangi nilai, sampai membuatku disuruh kepala sekolah untuk meminta maaf. Menyadari hal-hal tadi, aku tidak lagi berbicara.
"Karena itu, lebih baik kau keluar."
"Tapi—"
"Keluar."
Aku tersentak dan memilih untuk menahan laju suaraku lagi. Kuputuskan untuk berdiri dan segera menuruti kalimatnya. "Oke, aku keluar. Tapi tolong jangan lupa makan dan minum obatnya." Usai menutup pintu kamarnya, aku pun keluar. Hanya saja sebelum aku benar-benar pergi dari sini, kutatapi terlebih dulu semua perabotan yang ada di kamar Kakashi-sensei.
Berantakan...
Tapi, mungkin aku bisa membersihkan segala kekacauan yang ada di sini...
. . .
Tidak terasa sudah berjam-jam aku membereskan barang-barang Kakashi-sensei yang ada di flat-nya. Dimulai dari pakaian, cucian dapur, lantai juga karpet yang kotor, piring berserakan dan lain-lain. Sampai akhirnya aku selesai. Kuikat plastik berisi sampah yang lumayan besar, lalu kudorong ke sudut ruangan untuk nantinya dibuang. Aku pun berdiri tegak dan berkacak pinggang. Sembari menghela nafas kupandangi flat ini yang sudah rapi tanpa noda.
Sekarang selesai.
Dengan tersenyum aku segera mencuci tangan dan berniat keluar. Namun lagi-lagi aku terhenti saat akan mau keluar. Entah karena apa, aku ingin memeriksa keadaan Kakashi-sensei yang ada di kamar dulu. Kubuka sedikit pintu yang tidak terkunci itu, lalu aku mengintip dari celahnya agar dapat melihat. Dan ternyata, kini Kakashi-sensei sudah tertidur dengan lelap di atas kasur.
Aku memasuki kamar itu, dan memeriksa ke nampan yang sebelumnya kuberikan kepadanya. Ternyata bubur buatanku telah dia makan sampai habis tak tersisa. Tidak lupa juga dengan obat yang menyertainya. Rupanya Kakashi-sensei mengikuti segala perkataanku. Tapi bukannya langsung keluar—seperti rencana awal yang hanya ingin sekedar memeriksa Kakashi—aku malah kembali duduk di bangku yang terletak di sebelah ranjangnya.
Saat kulihat wajah tentramnya itu, aku jadi merasa... bahwa dia bukanlah orang yang jahat.
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Normal POV
Beberapa jam kemudian, Kakashi merasa terganggu karena adanya sinar dari cahaya lampu kamar yang menerpa permukaan wajahnya. Dia yang sebelumnya tertidur itu langsung mengernyit karena kesilauan. Ia pun mencoba untuk membuka mata dan mengerjap pelan. Setelah ia menampilkan iris onyx-nya yang kontras, dia pandangi langit-langit ruangan yang berada di atasnya.
Ia mencoba meletakan punggung tangannya ke dahi—sekedar memeriksa suhu tubuhnya sendiri. Kakashi sadar bahwa kepalanya jadi lebih ringan dibandingkan kemarin-kemarin. Tentu karena sebelumnya ia sedang sakit. Intinya, hari ini ia sudah kembali sehat—mungkin.
Baru saja Kakashi akan membangunkan tubuhnya agar posisinya berubah terduduk, tiba-tiba saja tangannya tidak sengaja menyenggol bahu seseorang. Ia menoleh, lalu terbelalak saat ia menemukan Sakura yang sedang tertidur di bangku sebelah ranjangnya—dengan setengah badan yang terdapat di atas kasur juga. Gadis itu melipat kedua tangan di sana agar menjadi senderan wajahnya.
Tentu saja semua orang tau seberapa tidak enaknya jika tidur di posisi seperti itu.
Kakashi terdiam saat melihat kedua mata Sakura yang masih terpejam rapat. Deru nafasnya tenang, itu bisa dilihat dari gerak tubuhnya. Lalu, akhirnya pun Kakashi menyingkap selimut, dan turun dari ranjang. Ia mendekati Sakura. Tanpa menimbulkan suara, ia ambilnya salah satu tangan Sakura, lalu Kakashi taruh ke pundaknya. Dia angkat tubuh mungil itu ke gendongannya dan barulah ia rebahkan tubuh Sakura ke permukaan kasur yang empuk.
Setelah itu, ia selimutkan Sakura sampai sebatas dada.
Saat ia melihat jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul 03.04 pagi.
Dipandanginya lagi Sakura yang masih lengkap berseragam sekolah. Ia ingat Sakura memang membawa ia ke flat-nya, tapi Kakashi tidak habis pikir bahwa orang itulah yang merawatnya sampai sembuh seperti ini. Kakashi keluar kamar dan melihat ke sekitar ruang tengahnya. Anehnya... semuanya menjadi rapi. Tidak ada lagi cucian baju yang menumpuk, piring kotor dan lantai yang lengket.
Sepertinya semua sudah dibersihkan oleh Sakura seorang. Entahlah kapan.
Kakashi pun menghela nafas.
Kembalilah dia lagi ke kamar, lalu ia duduk di bangku di mana Sakura tadinya terduduk. Sekali lagi, dia perhatikan lekat-lekat wajah Sakura yang tenang. Dulu ia sangat membencinya, hanya karena alasan klasik—menyalahkan kematian kakaknya ke anak ini. Bahkan saking bencinya, ia rela pindah kota ke sini untuk menjadi guru Sakura agar dapat balas dendam.
Ya, ia sempat berhasil. Berkali-kali ia membuat Sakura menangis.
Tapi... lain di dalam hatinya, ia juga merasa salah. Sebenarnya tidak pantas semua kekesalan hatinya dia lampiaskan ke Sakura. Terutama karena kalimat gadis ini—ketika mereka berdebat di lab biologi—tentang sesuatu yang membuatnya terpukul agar dapat tersadar. Ia ingat di mana Sakura mengatakan bahwa kecelakaan yang dialami kakaknya adalah takdir Tuhan. Bukan salah dia, atau siapapun.
Lalu akhirnya tangan Kakashi bergerak, membelai helaian rambut Sakura.
Kalau saja Sakura tau... bahwa dulu mereka saling mengenal...
Kira-kira apa yang dikatakan Sakura? Padahal selama ini ia sudah berbuat hal yang tidak baik kepadanya.
Sentuhan tangan Kakashi bergerak turun, mencoba untuk mengelus pipi mulus Sakura. Tapi, tiba-tiba saja Sakura melenguh pelan dan menggerakan kepalanya agar menghadap ke arah berlainan. Kakashi menghentikan niatannya, dan segera berdiri menjauh. Namun sesuatu menahan langkahya.
"Kakashi-sensei?"
Suara lembut itu terdengar.
"Kau sudah bangun?"
"..."
"Sensei sudah sehat, ya?"
"..."
"Sensei. Hei, Kakashi-sensei..."
Kakashi tidak memedulikan suara tadi.
"Ah, dasar menyebalkan. Sudah bagus aku merawatmu. Kenapa kau sama sekali tidak mau berterima kasih, eh?" Sakura membangkitkan tubuhnya lalu memberikan pandangan sinis walaupun matanya masih setengah terbuka oleh kantuk.
Kali ini, Kakashi menoleh kepadanya lalu berjalan mendekati ranjang.
"Kenapa kau marah?" Kata pria berbadan tegap itu. "Aku tidak minta kau ke sini."
"Tapi—"
"Jadi untuk apa aku bilang terima kasih kepadamu?"
Sakura terdiam saat kembali melihat pandangan mata dari iris onyx Kakashi. Tapi, tiba-tiba saja jantung Sakura berdegup kencang saat menyaksikan Kakashi mencondongkan wajahnya kepada ia yang sedang tertegun di ranjang. "Dibandingkan itu, seharusnya kau juga perhatikan di mana posisimu berada terlebih dulu."
"Eh?
"Kau tidak kaget kau terbangun di tempat tidurku, hm?"
Sontak saja Sakura memandang ke bawah, ke selimut yang masih membungkus tubuhnya. Ia pun memandangi lagi Kakashi sembari menelan ludah. Muka cantiknya berubah resah.
"Ah... i-iya, ya. Se-Seingatku... tadi aku tidur... di kursi."
"Lalu?"
"Lalu kenapa? Kenapa kau menanyakan hal itu?" Mata Sakura bergerak tidak tenang. "Apa jangan-jangan kau melakukan... sesuatu... padaku?"
Kakashi terdiam saat mendengar pertanyaan polos Sakura. Ia memang ingin membuat Sakura sadar, bahwa seharusnya ia cemas saat terbangun di atas kasur milik pria. Tapi saat ditanyakan seperti tadi, mendadak Kakashi menjadi aneh sendiri. Suasana yang tadinya sempat hening selama beberapa saat pun diakhiri oleh helaan nafas seorang Kakashi Hatake.
"Tidak. Aku sama sekali belum menyentuhmu."
"Oh..." Sakura tersenyum lembut. "Baguslah."
Rahang gigi Kakashi mengeras, saat melihat senyuman—yang baginya sangat cantik itu—tepat di hadapannya, ada sesuatu hal yang seperti bocor di dalam dirinya; pertahanan untuk tidak menyerang gadis itu...
Ck.
"Ya, tapi sekarang akan—"
Sontak saja, Sakura merasakan ada sesuatu yang menabrak permukaan bibirnya. Sakura terbelalak dan langsung meletakan tangannya ke dada Kakashi yang mendempetnya. Di saat ia menyadari ada lumatan dari Kakashi, entah kenapa ia hanya bisa memejamkan mata dan memundurkan tubuhnya, bahkan ia baru sadar bahwa punggungnya kembali menghantam kasur.
Kakashi menaiki ranjang, semakin meniban Sakura agar dapat menciumnya. Dan pada awalnya itu semua membuat Sakura terbuai, tapi saat mengingat status mereka berdua yang adalah guru dan murid, Sakura memalingkan wajah, mencoba untuk melepaskan bibir Kakashi darinya.
"Sensei! Hentikan!"
Kakashi enggan melepaskan Sakura. Sebuah perasaan yang waktu masa kecilnya dulu pernah tertanam di hatinya kembali terbuka—yang dulunya sempat ia tutup karena perasaan benci. Karena itu tanpa mengacuhkan jeritan Sakura, Kakashi semakin memaksa agar Sakura agar tetap menghadap kepadanya. Suara Sakura terbenam, hanya ada suara decapan lidah maupun belahan bibir yang bertemu.
Sakura memalingkan wajah dan mencoba mendorong Kakashi. Di saat Kakashi melihat mata Sakura yang berkaca-kaca itulah sebuah perasaan bersalah merasuki hati pemuda bermarga Hatake tadi. Ia hampir membuat Sakura menangis—lagi. Setelah itu Sakura langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Pergi." Katanya. "Sebaiknya kau pergi dari pada kau menungguku melakukan hal yang lebih parah kepadamu."
Dengan kedua pipi yang memerah, Sakura menuruni ranjang dan segera keluar dari flat Kakashi. Dia masuki flat-nya yang berada di sebelah, lalu ia tutup pintu kamar flat-nya dengan bantingan. Sakura tidak sedang marah. Ia hanya... shock.
Sedangkan Kakashi masih di ruangannya. Ia berdecak pelan.
Ia jadi menyesal telah mencium Sakura—orang yang selalu ia jahati.
Tapi dalam satu sisi, ia merasa puas. Karena ada 'sebuah perasaan' yang terkubur dari dalam dirinya yang sempat terealisasikan oleh pristiwa tadi.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Hai. Ngga kerasa aku udah nge-hiatus-in fict ini kelamaan. Tapi jangan khawatir, karena aku udah ngebuat chap 7-nya sampai selesai. Jadi keep reading, ya. Chap depan tamat kok hehe.
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
nana-chan, Guest, Amoret Spes, Endah Pinkupanpu, Haruno Erna Chan, Just Ana, Hatake Fuji, Hasegawa Nanaho, Fantasi Liar, Misty, Narchambault, senayuki-chan, Reiki Kikkawa, Nara Kazuki, Nanairo Zoacha, Guest, Princess Psykhe, Guest, Mauree-Azure, Guest, Guest, Shin Ryecchan, Kiki RyuEunTeuk, minatsuki heartnet, Lvy, Yuki Hattori, Guest, OraRi HinaRa, Chippa, Akasuna no ei-chan, TREK-TwinStrife, garlic, Sarah mong, Sakusasu 4ever, Ladychibby, sariani-muslimah, Kei, Mizumori Fumaira, Aokie cassieast aktf, garoo, Echy AppleBlue, Chintya Hatake-chan, Tinta Hitam, Sakura-kun, Chikuma Yafa-DamselFly.
.
.
Pojok Balas Review :
Aku masih inget fict ini. Terima kasih. Feel-nya ngga kerasa. Haha, gomen. Kalau aku punya akun, aku mau nge-fave dan nge-alert fict ini. Terima kasih. Sebenernya buat akun FFn itu gampang loh. Kalo aku punya guru kayak Kakashi, pengen kukasih bom. Bener banget. Aku kesel sampe nangis sama Kakashi. :) Chap 6 Sakura ngerawat Kakashi, ya? Iya. Soal alesan Kakashi benci Sakura, Kakashi yang salah. Iya, memang. Semoga Kakashi cepet insyaf. Semoga penyesalan Kakashi udah terlihat di chap ini. Update berikutnya jangan tahun depan, ya? Yosh. Kenapa Kakashi ngga jadi cium Sakura? Di chap ini udah kesampean kok. Bikin Kakashi cemburu, ya? Kayaknya sekarang udah ngga bisa deh. Kakashi sakit apa? Demam? Flu? Kanker? Cuma demam haha.
.
.
Next Chap :
"Niisan... ada sesuatu yang mau kutanyakan kepadamu."
"Apa kau tidak ingat bahwa dulu kau dan Kakashi itu sangat dekat?"
"Kakak dari Kakashi meninggal karenaku? Lalu Ayah dan Ibu... juga meninggal karenaku?"
"Aku juga sayang padamu, sensei."
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
