Tentang Masa Depan, Natal dan Keajaiban
Disclaimer: Katekyou Hitman Reborn (c) Akira Amano
Pairing: D18
Rating: PG-13
Warning: Shounen-ai, OC yang memegang peranan cukup penting.
Summary: Kehadiran seorang anak kecil dari masa depan mengubah pandangan Hibari tentang kehidupan.
Saat Hibari Kyouya melangkah masuk ke kediamannya, Kusakabe Tetsuya dengan segera menyambutnya. Laki-laki yang sudah setia mengikuti Hibari semenjak di Namimori-chuu itu berhenti di depan pintu saat dia melihat sosok seorang anak kecil di sisi Hibari.
Anak kecil itu terlihat sangat mirip dengan Hibari, mungkin dengan pengecualian terhadap rambutnya yang agak ikal dan matanya yang berwarna hazel. Satu hal lagi yang sangat membedakan anak kecil itu dengan Hibari: Sebuah senyuman riang yang terpasang di wajah anak itu.
Walaupun Kusakabe sendiri tidak mengenali anak kecil yang sangat mirip dengan Hibari itu, tapi nampaknya hal itu tidak berlaku pada pihak kedua karena, saat dia melihat Kusakabe menyambut mereka di depan gerbang kediaman Hibari, Viero dengan segera memanggilnya dengan riang.
"Tetsu-jisan*!" teriak Viero sambil berlari ke arah pria yang memiliki gaya rambut yang sangat khas itu.
Kusakabe hanya bisa terbengong saat Viero memeluknya dengan sangat erat. Dia menatap ke arah Bossnya dengan tatapan bertanya yang hanya dibalas dengan sebuah alis yang terangkat dan seringai kecil yang menunjukkan bahwa Hibari jelas-jelas merasa terhibur melihat kebingungan Kusakabe.
"Erm, senang bertemu dengan anda...?" Kusakabe menatap ke arah anak kecil yang masih memeluknya itu.
"Viero! Namaku Viero! Aww, kau juga tidak mengenaliku, Tetsu-jisan?" Viero cemberut dan terlihat kesal.
"Ah, maafkan saya. Apakah seharusnya saya mengenali anda, Viero-san...?" Kusakabe bertanya dengan ragu-ragu. Dia masih tidak yakin siapa anak kecil ini, tapi melihat kemiripannya dengan Hibari, dia bisa menebak bahwa sudah seharusnya dia memanggil Viero dengan sebutan –san, sama seperti caranya memanggil Hibari.
Tanpa Kusakabe sangka, perkataannya membuat Viero tertawa kecil dan hal itu benar-benar membuat Kusakabe terkejut. Melihat Viero tertawa bagaikan melihat suatu keajaiban karena wajah anak itu yang benar-benar mirip dengan wajah Hibari.
"Tentu saja tidak! Aku justru akan merasa curiga kalau kau mengenaliku, Tetsu-jisan! Aku Hibari Viero, umurku 5 tahun! Hibari Kyouya adalah ayahku dan aku datang dari masa depan!" ujar Viero dengan kepolosan seorang anak kecil.
Jawaban Viero kontan membuat Kusakabe semakin bingung, tapi sebelum percakapan aneh antara dua orang ini bisa berlanjut, Hibari Kyouya angkat bicara.
"Viero, jangan menahan Tetsu dari tugasnya."
Viero tersentak dan dengan segera melepaskan pelukannya. Dia terlihat benar-benar bersalah saat dia tersenyum ke arah Kusakabe. "E he he, benar juga. Maafkan aku, Tetsu-jisan." Ucap anak kecil itu.
Kusakabe, yang masih benar-benar kebingungan, hanya bisa menjawab, "Ah, tidak apa-apa, Viero-san."
Kemudian Viero berlari menyusul Ayahnya yang sudah terlebih dulu berjalan lebih jauh ke dalam kediamannya sendiri. Seperti biasa, Hibari nampak tidak peduli dia telah meninggalkan anaknya sendiri tanpa pengawasan selain Kusakabe.
Viero sendiri nampak tidak terlalu peduli atas perlakuan ayahnya itu, kemungkinan besar karena dia sudah sering diperlakukan seperti itu di masa depan.
.0.
Viero melihat-lihat ke sekelilingnya. Rumah Ayahnya itu tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di masanya. Hanya saja, di sini belum ada bingkai foto yang memajang foto-fotonya waktu bayi. Bukan hal yang aneh, tentu saja, mengingat secara teknis, Viero belum ada. Bahkan dia masih belum direncanakan sama sekali.
Anak kecil itu benar-benar tenggelam dalam pikirannya, dia bahkan tidak sadar saat Hibari berhenti dan berbalik ke arahnya, menyebabkan Viero menabrak kaki Hibari dan akan terjatuh kalau saja Hibari tidak menahan tubuhnya.
"Aduh," ringis Viero sambil mengusap pipinya yang telah menabrak lutut Hibari. "Maaf, Ayah. Aku tidak melihat ke depan ..." gumamnya lagi.
Hibari hanya mengangkat alisnya tanpa kata-kata. Dia kemudian bertanya, "Dimana kamarmu, Viero?"
Kusakabe, yang telah mengikuti mereka sejak tadi, terlihat kebingungan atas pertanyaan Hibari. Lagipula, bukankah Viero baru saja tiba? Tentu saja dia belum memiliki kamar tidur sama sekali. Kenapa Hibari menanyakan hal itu?
Di luar dugaan Kusakabe, wajah Viero terlihat mencerah sebelum dia menjawab pertanyaan Hibari dengan ceria, "Dua kamar setelah kamarmu, Ayah!"
Kamar yang disebutkan oleh Viero saat ini adalah kamar tamu yang kadang-kadang ditempati oleh Romario setiap dia datang mengunjungi bersama sang Don Cavallone. Kamar itu memang tidak terlalu besar dan pantas dijadikan kamar untuk seorang anak kecil seperti Viero.
Hibari hanya mengangguk sebelum berkata, "Pergi dan istirahat di sana, Viero. Kita akan bicara setelah makan malam."
"Bicara?" Viero memiringkan kepalanya, terlihat bingung atas perkataan Hibari.
Hibari mengerjap untuk sesaat. Tindakan Viero itu mirip sekali dengan seseorang yang telah sangat Hibari kenal dan hal itu membuat kecurigaannya bertambah. Walaupun demikian, bahkan seorang Hibari Kyouya tidak bisa berkilah dan mengatakan bahwa Viero tidak manis saat dia melakukan hal itu dan itu menyebabkan Hibari tersenyum kecil sebelum mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala anak kecil itu.
"Tenang saja, aku tidak akan menggigitmu sampai mati." Hibari hanya setengah bercanda, tentunya.
Viero menyengir lebar ke arah Ayahnya. "Kecuali jika aku nakal dan mengacaukan pekerjaan Ayah, aku tahu!"
Kusakabe hanya bisa termangu mendengar perkataan Viero sedangkan Hibari menyeringai puas.
"Kau benar-benar anakku," ujarnya. Jika ada sedikit nada bangga di dalam perkataan itu, hanya beberapa orang sajalah yang dapat mendeteksinya.
.O.
Makan malam hari itu berlangsung dengan agak berbeda dari biasa. Kali ini, makan malam itu dilalui dengan obrolan ringan yang selalu dimulai oleh Viero. Kusakabe yang biasanya akan makan di ruangan yang terpisah dari Kyouya, hari ini ikut duduk bersama dua orang yang nampaknya merupakan Ayah dan anak itu.
Untuk mengatakan Kusakabe merasa canggung berada di sana adalah suatu hal yang bodoh. Kusakabe memang telah menemani Hibari sejak dia masih di SMP, tapi tetap saja dia tidak akan bisa merasa terlalu dekat dengan Bossnya yang memang terkenal dingin dan cuek itu. Tapi, kehadiran Viero nampaknya sangat membantu karena anak kecil itu selalu mengajak Kusakabe mengobrol dengan riang.
Dengan adanya Viero, suasana makan malam yang biasanya sangat sunyi itu sedikit berubah. Bahkan Hibari sendiri sesekali ikut menyatakan pendapatnya atas apa yang dikatakan Viero dan dari percakapan mereka, baik Hibari maupun Kusakabe dapat mengetahui dengan jelas bahwa Viero termasuk anak yang pintar.
Tanpa terasa, mereka pun telah selesai makan malam. Kusakabe mengangguk kepada Hibari dan Viero sebelum membereskan piring-piring kotor mereka dan mengundurkan diri dari ruangan itu. Dia tahu dengan pasti bahwa Hibari ingin berbicara secara privat ke anaknya itu.
Setelah Kusakabe keluar dari ruangan dan meninggalkan mereka berdua di sana, Hibari dengan segera menatap ke arah Viero dengan tatapan yang jauh lebih serius daripada sebelumnya. Viero yang nampaknya mengerti bahwa percakapan dengan Ayahnya ini adalah hal yang serius pun terlihat lebih tenang daripada sebelumnya.
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat dan hanya menatap satu sama lain. Viero memiliki sebuah senyuman kecil di wajahnya sedangkan Hibari hanya memandang mata hazel Viero dengan lekat.
Setelah beberapa saat berada dalam kesunyian, akhirnya Viero tidak dapat menahan dirinya untuk berkata, "Ayah? Apa yang mau Ayah bicarakan denganku?" dia memang tidak pernah suka berada dalam kesunyian untuk jangka waktu yang lama. Viero dapat berdiam diri jauh lebih lama dari anak-anak seumurannya karena Ayahnya memang tidak terlalu suka dengan keributan ataupun pembicaraan tanpa arti, tapi Papa Viero justru memiliki sifat yang berlawanan dengan Ayahnya itu dan nampaknya sifat Papanya itu menurun ke Viero.
Hibari mengangkat alisnya, tapi pandangan matanya tidak berubah, tetap tenang tanpa ada tanda kekesalan di sana. "... Viero," dia memulai. "apa kau memiliki bukti bahwa kau benar-benar anakku yang berasal dari masa depan?"
Mungkin, bagi seorang anak kecil, perkataan itu akan terdengar sangat kejam dan dingin. Hibari pada dasarnya mengatakan bahwa dia tidak mengakui Viero sebagai anaknya. Untungnya, Viero tahu kalau ini hanya sifat dasar Ayahnya. Menjadi seorang Presiden sebuah organisasi yang berkutat di bidang informasi dan pengembangan teknologi mengharuskan Hibari untuk bersifat sangat hati-hati atas kemungkinan mata-mata yang menyelinap masuk ke dalam lingkungannya dan bahkan seorang anak kecil pun dapat digunakan sebagai mata-mata.
Atau, Viero membatin dengan perasaan lucu, Ayah memang benar-benar seperti yang Papa bilang... para-no-id.
Apapun alasannya, Viero sudah menduga kalau Hibari akan menanyakan hal itu kepadanya dan, untungnya, Papa dan Paman Tsuna juga sudah mengantisipasi pertanyaan Ayahnya itu jadi Viero hanya mengeluarkan sebuah surat dari saku celananya dan memberikannya kepada Hibari.
Hibari mengambil surat itu. Alisnya terangkat saat dia melihat cap dengan insignia Vongola yang menyegel surat itu. Tanpa kata-kata, Hibari membuka surat itu dan matanya memindai isi surat tersebut dengan cepat dan cermat.
Surat itu ditulis oleh Tsuna di masa depan dan, pada dasarnya, surat itu mengatakan bahwa untuk mengantisipasi kecurigaan Hibari, di dalamnya sudah dilampirkan akte kelahiran Viero yang, sayangnya, tidak tertulis nama 'suami' Hibari di masa depan. Di dalam surat itu juga dilampirkan hasil pemeriksaan golongan darah Viero yang menunjukkan bahwa Viero memiliki golongan darah yang sama dengan Hibari. Ada juga hasil pemeriksaan DNA yang jelas-jelas menunjukkan bahwa Viero memiliki kekerabatan terdekat dengan Hibari. Semua bukti yang menunjukkan bahwa Viero adalah anak dari Hibari telah terlampir di dalamnya.
Kemudian, Hibari membaca, Sawada Tsunayoshi di masa depan juga memberitahukan bahwa Viero hanya akan berada di masa ini selama satu minggu dan bahwa pada saat satu minggu itu selesai, yaitu bertepatan dengan hari Natal, akan ada seseorang yang datang untuk menjemput Viero pulang.
Setelah selesai membaca surat itu, Hibari melipatnya kembali dan menatap Viero. "Apa waktu satu minggu yang tertulis di sini memiliki arti tertentu, Viero?" tanyanya.
"Umm, Papa bilang, aku tidak boleh terlalu lama berada di masa ini, Ayah. Katanya, kehadiranku di sini bisa menyebabkan perubahan yang besar di masa depan. Jadi, aku hanya boleh berada di masa ini selama satu minggu, tidak lebih. Papa bilang, bahkan hanya dengan waktu satu minggu itu saja, sudah akan terjadi perubahan yang cukup besar di masa depan."
Hibari mengangkat alisnya. Nampaknya, siapapun Papa dari Viero, pria itu memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai teknologi Mafia dan efeknya pada alur waktu. Apa yang dikatakan Viero benar. Kedatangannya ke masa ini jelas akan memengaruhi masa depan. Besar kemungkinan, Hibari tidak akan sampai ke masa depan Viero. Masa depan yang akan dialami oleh Hibari, kemungkinan, adalah suatu paralel dari masa depan Viero.
"Papamu nampaknya mengetahui cukup banyak mengenai masalah ini, Viero." Hibari berkomentar secara ambigu.
Viero tersenyum lebar ke arah Ayahnya itu, merasa senang karena Papanya telah dipuji. Suatu hal yang, menurut Papanya, sangat jarang terjadi. "Tentu saja! Papa sangat pintar, walaupun dia tidak terlihat begitu. Lagipula, Papa harus mengetahui hal-hal semacam ini, Ayah!"
"Oh?" Hibari bergumam, sebuah seringai kecil di wajahnya. Mungkin Viero akan kelepasan bicara dan memberikannya petunjuk mengenai 'Papa'nya itu karena terlalu bersemangat.
Viero membalas seringai Hibari dengan sebuah seringai kecil juga yang membuat Hibari sedikit terkejut karena hal itu membuat Viero terlihat semakin mirip dengannya.
"Aku tidak akan bicara lebih jauh mengenai Papa, Ayah. Aku sudah janji akan memegang rahasianya." Anak kecil itu membalas dengan riang.
Hibari hanya menatap Viero untuk beberapa saat dan Viero membalas tatapannya itu dengan tenang, walaupun beberapa orang tidak akan berani beradu mata dengan Hibari sama sekali. Kemudian, seringai Hibari melebar sebelum dia tertawa kecil. Viero mungkin merupakan anak kecil paling menarik yang pernah ditemui olehnya.
"Baiklah, kau boleh menyimpan rahasiamu itu, Viero," Hibari dengan tenang mengambil cangkir tehnya dan meneguk teh itu sebelum melanjutkan, "Kita akan lihat sejauh mana kau bisa menjaga rahasia itu dariku."
Viero menyengir lebar. "Nampaknya permainan kita akan menyenangkan, Ayah!"
Hibari hanya menyeringai ke arah anak kecil yang nampaknya memang benar-benar anaknya itu. "Mungkin." Ujarnya ringan. "Sekarang kembali ke kamarmu dan beristirahatlah. Kita akan berlatih besok pagi."
.0.
Glossarium :
*jisan = Paman dalam bahasa Jepang.
