Tentang Masa Depan, Natal dan Keajaiban
~Bagian Ketiga~
sebuah fanfiksi dari Katekyou Hitman Reborn (c) Akira Amano
Pairing: D18
Perhatian: Shounen-ai, BL, OC yang memegang peranan penting, hints character death.
Summary: Kehadiran seorang anak kecil dari masa depan mengubah pandangan Hibari tentang kehidupan.
Jika seseorang mencari Hibari Kyouya pagi itu, mereka akan mendapatinya di dalam ruangan khusus yang memang sengaja dia bangun sebagai bagian dari gedung megah Foundation dimana dia akan dapat berlatih sesuka hatinya tanpa harus khawatir mengenai barang-barang yang mungkin akan dihancurkannya.
Bukan hal yang biasa, memang, bagi Hibari untuk berada di sana, tapi kali ini mereka akan menemukan suatu pemandangan yang sangat tidak biasa.
Hibari Kyouya tidak berada di ruang latihan itu sendirian, tapi 'lawan'nya kali ini bukan orang biasa. Saat ini, Hibari terlihat sedang berdiri dengan posisi siaga sementara matanya yang hitam menatap lawannya dengan tajam.
Lawan Hibari kali ini adalah seorang anak kecil berusia tidak lebih dari lima tahun yang memiliki wajah persis seperti Hibari sendiri tetapi dengan mata hazel yang terlihat terang karena determinasi anak itu untuk bertarung.
Ya, Hibari sedang bertarung dengan Viero, anaknya sendiri yang datang dari masa depan dan baru berumur 5 tahun.
Semua orang yang melihat hal itu mungkin akan merasa terkejut saat mereka melihat bahwa Hibari sama sekali tidak memberikan Viero kelonggaran. Dia tetap memperlakukan Viero sebagaimana dia akan memperlakukan musuh-musuhnya yang jelas-jelas berusia lebih tua dan lebih profesional dari anak kecil itu.
Viero sendiri sama sekali tidak keberatan diperlakukan seperti itu oleh Ayahnya. Papanya selalu bilang bahwa Ayah hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Viero dan untuk melakukan hal itu, dia tidak akan membiarkan dirinya sendiri memberikan kelonggaran saat dia melatih Viero.
"Apa kau sudah menyerah, Viero?" Hibari berkata dengan nada mengejek. Dia masih berada dalam posisi siaga, tapi dia nampak tidak berkeringat sedikit pun sementara Viero sudah terengah-engah dan terlihat kelelahan.
Keras kepala adalah salah satu sifat yang Viero warisi dari kedua orang tuanya, sayangnya. Jadi, sudah tentu Viero hanya menyipitkan matanya mendengar ejekan Ayahnya itu dan berusaha berdiri dengan bertumpu dengan kedua tonfa kecil yang diberikan oleh Hibari.
Kedua tonfa itu mungkin memang lebih kecil dari kedua tonfa yang dipakai oleh Hibari, tapi tetap saja tinggi kedua tonfa itu mencapai tinggi tubuh Viero.
Walaupun demikian, saat Viero memasang posisi siaga, jelas terlihat bahwa anak kecil itu sudah terbiasa bertarung dengan menggunakan kedua tonfa itu. Genggamannya terlihat mantap dan tepat di lempengan besi tersebut dan panjang tonfa itu terlihat tidak mengganggunya sama sekali.
Kemudian Viero berlari menerjang ke arah Hibari, yang hanya tersenyum menyindir dan tidak memasang posisi bertahan sama sekali, sebelum mengayunkan tonfanya secara vertikal, berusaha untuk mengenai wajah, atau setidaknya dagu, Hibari.
"Hoo, kau menyerang dari arah yang cukup bagus." Hibari berkomentar sambil menarik tubuhnya ke belakang untuk menghindari ayunan tonfa Viero. Kemudian, dia mengangkat tangan kanannya dan mengayunkan tonfanya sendiri ke arah Viero.
Tonfa Hibari sudah pasti akan mengenai kepala Viero dan mungkin saja melukainya dengan sangat parah kalau anak kecil itu tidak menunduk tepat pada waktunya dan kemudian mengayunkan tangan kirinya yang masih memegang tonfa ke arah perut Hibari.
TRANG!
Tonfa Viero beradu dengan tonfa Hibari yang digunakan oleh pria yang lebih tua itu untuk melindungi perutnya. Viero menatap kesal ke arah Ayahnya itu sedangkan Hibari hanya menyeringai puas sebelum menendang perut Viero dengan keras.
"Gah!" Viero terhempas ke belakang dan terjatuh di atas lantai yang, untungnya, tidak sekeras lantai-lantai pada umumnya. Kedua tonfa Viero tergeletak di sisi tubuhnya dan dia meringkuk sambil memegangi perutnya.
Hibari tidak mengurangi kekuatannya sama sekali saat menendang Viero. Anak kecil itu sudah pasti akan mendapatkan memar yang sangat parah setelah ini.
Viero dapat mendengarkan suara langkah kaki Ayahnya berjalan mendekati sosoknya yang masih meringkuk di lantai itu. Air mata mulai menetes di sisi mata Viero karena rasa sakit yang dirasakannya. Dia tidak ingin menangis, tapi, terkadang, saat dia bertarung dengan Ayahnya itu, Viero tidak dapat membendung air matanya.
Seseorang – Hibari – mengangkat tubuh kecil Viero dengan lembut, membiarkan kedua tonfa anak itu tetap tergeletak di lantai, sebelum menggendong Viero dengan hati-hati. Viero membuka matanya yang nampak buram karena air mata dan memandang tepat ke arah mata hitam Ayahnya yang terlihat sedikit melembut.
"Hentikan tangisanmu itu, Viero." Hibari memerintah, tapi suaranya tidak sedingin biasanya, sambil menghapus air mata yang jatuh di pipi Viero.
"M-maaf, Ayah," Viero terisak sebelum membenamkan wajahnya di dada Hibari sambil mengambil beberapa nafas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Hibari tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri terdiam di sana sambil menggendong Viero dan mengelus punggung Viero dengan pelan. Kedua tonfa Hibari telah berada di tempat mereka yang terikat di kedua kaki bagian atas Hibari.
Pria itu memandang ke arah sosok kecil di tangannya yang masih menangis pelan dan, walaupun Hibari tidak akan menunjukkannya, dia tidak bisa tidak merasa sedikit kagum serta bangga kepada Viero. Hibari tidak akan mengatakan ini secara vokal, tapi dia yakin Viero adalah anak kecil tertangguh yang pernah dilihatnya, para bayi Arcobaleno itu tidak diperhitungkan.
Hibari masih berdiri sambil menggendong Viero saat pintu ruang latihan itu terbuka. Mata hitam Hibari dengan segera bergerak menuju ke arah para pendatang baru yang ternyata adalah Reborn, Tsuna dan Kusakabe.
Hibari mengangkat alisnya saat dia melihat wajah terkejut Tsuna—kemungkinan besar karena Hibari menggendong Viero dengan sangat lembut—sebelum beralih ke arah Reborn yang menyeringai kecil.
"Kusakabe Tetsuya, aku sudah bilang tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke ruangan ini sampai aku keluar." Mata Hibari memicing dan dia baru saja akan mengambil tonfanya sebelum dia mengingat bahwa dia masih menggendong Viero.
"Ciaossu, Hibari." Reborn berkata dengan tenang.
Hibari hanya mengangguk sedikit sebagai balasan kepada sapaan Reborn. Dia kemudian menurunkan Viero dengan hati-hati. "Pergi ke ruanganku, Viero. Bersihkan dirimu dan istirahat." Perintahnya. Hibari tahu bahwa Tsuna dan Reborn tidak datang ke sini untuk menanyakan kabarnya ataupun melihat keadaan Viero.
Viero menatap ke arah Hibari, sebelum berpaling ke arah Reborn dan Tsuna. Mata Viero, yang persis seperti mata Hibari, terlihat menyipit. Reborn, yang menjadi sasaran tatapan tajam itu, hanya menyeringai kecil tanpa merubah ekspresinya sedangkan Tsuna sama sekali tidak bisa menatap mata Viero.
Alis Viero bertaut. Dia tidak suka ini. Dia tahu Paman Tsuna dan Reborn pasti memiliki satu urusan penting dengan Ayahnya. Kemungkinan besar tentang sebuah misi baru. Wajah Viero terlihat semakin murung dan anak kecil itu mendengus kesal.
Hibari mengangkat alisnya saat dia mendengar dengusan Viero dan, dengan suara yang lebih dingin dari sebelumnya, dia bertanya, "Kenapa kau masih di sini, Viero?"
Viero bergidik sedikit saat dia mendengar pertanyaan Ayahnya itu. Dia tahu Hibari tidak suka jika Viero tidak menuruti perintahnya. Dengan sebuah helaan nafas, Viero akhirnya mengangguk kecil sebelum berjalan keluar dari ruangan itu.
Kusakabe segera menyambut Viero saat anak itu melangkah keluar dari ruangan latihan. Viero hanya membalas sapaan Kusakabe dengan sebuah senyuman tipis. Dia sedang sangat kesal saat ini. Dia tahu apa yang akan dikatakan oleh Paman Tsuna kepada Ayahnya, tapi Viero tidak dapat mencegah hal itu.
Viero meyakinkan Kusakabe bahwa dia bisa berjalan menuju ruangan Hibari sendirian dan meminta pria itu untuk tetap di ruang latihan menemani Ayahnya. Kusakabe, walaupun sedikit heran, hanya mengangguk dan menuruti perkataan Viero.
Sesampainya di ruangan Hibari, yang hanya memiliki satu meja besar sebagai meja kerjanya dan tiga buah sofa yang nyaman serta sebuah meja kaca panjang, Viero segera melemparkan diri ke atas sofa yang didesain untuk tiga orang. Anak kecil itu mendengus, di dalam hati merutuk Ayahnya yang sangat keras kepala.
Viero memutuskan, sebagai balasan untuk Ayahnya, untuk tidak membersihkan dirinya. Dia akan segera tidur sambil menunggu Ayahnya selesai berbicara dengan Paman Tsuna. Ada satu alasan mengapa Viero merasa sangat gelisah saat ini dan, jika dia bisa, ingin rasanya Viero meneriakkan kepada Paman Tsuna dan Reborn konsekuensi dari tindakan mereka nantinya.
Papa selalu berkata bahwa Viero harus menyimpan semua informasi penting mengenai masa depan sebagai rahasia. Viero sudah berjanji kalau dia akan menjaga rahasia itu.
Di saat Viero sudah akan tertidur, dia memang merasa lelah setelah latihannya bersama Ayahnya, tiba-tiba saja sebuah lagu yang sudah sangat Viero kenal—yang entah kenapa selalu dia hubungkan dengan lagu pengantar tidur—terdengar di dalam ruangan itu, membuat Viero tersentak bangun.
Dengan sebuah kerutan di antara alisnya, Viero berusaha mencari sumber suara itu. Dia akhirnya menemukannya di atas meja kerja Hibari. Sebuah telepon genggam berwarna hitam yang sedang bergetar dan berbunyi, menyanyikan lagu hymne Namimori yang memang merupakan nada dering Hibari dari sejak dia masih SMP.
Viero mengambil telepon genggam itu dan melihat ke arah layarnya.
Kata "Idiot." Terpampang di layar yang menunjukkan identitas si penelepon.
Viero tidak tahu siapa yang disebut sebagai idiot oleh Ayahnya, tapi dia tahu kalau Hibari tidak akan memasukkan nomor seseorang yang tidak penting di telepon genggamnya.
Anak kecil itu berpikir sejenak sebelum menekan tombol 'Ok' dan menjawab telepon itu.
"Kyouya!" Sebuah suara terdengar dari telepon itu. "Kau benar-benar mengangkat teleponku!" Suara tawa yang hangat dan sangat familiar bagi Viero. "Aku tidak akan menyangka kau akan mengangkat teleponku! Selama ini kau selalu mengabaikannya! Ternyata minggu natal memang memberikan sebuah keajaiban ya?"
Viero terpaku. Dia tahu dengan baik siapa penelepon yang disebut sebagai "Idiot" oleh Ayahnya itu. Air mata tergenang di mata Viero. Dia tahu dia, kemungkinan besar, akan bertemu dengan orang ini, tapi tetap saja itu tidak dapat membuat Viero menahan rasa harunya.
"Hey, Kyouyaaa~? Kenapa kau diam saja? Apa harus aku yang berbicara panjang lebar? Aku sudah menceritakan kegiatanku seharian ini, apa kau tidak bisa melakukan hal yang sama kepadaku? Kyouya, kau masih di sana tidak? Hey! Jangan bilang kau hanya mengangkat telepon ini lalu meninggalkannya di atas meja sementara kau pergi untuk tidur siang!" Dino Cavallone terdengar tersinggung.
Mendengar perkataan Dino itu, Viero tidak bisa menahan sebuah tawa kecil yang lepas dari bibirnya, membuat Don Cavallone itu terdiam saat mendengar suara tawa anak kecil membalas perkataannya.
"...Kyouya?" Dino memanggil dengan nada bingung. Apa mungkin Kyouya terkena sesuatu yang seperti Bazooka 10 tahun dan kembali menjadi anak kecil...? Suara tawa anak kecil itu terlalu riang untuk seorang Hibari Kyouya.
"Bukan, maaf, tapi Ayah sedang berbicara dengan Paman Tsuna dan Reborn. Dia meninggalkan telepon genggamnya disini." Viero menjawab dengan ringan.
"..." Keheningan menjawab pernyataan Viero dan anak kecil itu mulai khawatir kalau dia sudah mengatakan sesuatu hal yang salah saat Dino angkat bicara lagi, "Ayah?"
"Umm!" Viero mengangguk walaupun dia tahu Dino tidak akan bisa melihatnya. "Namaku Hibari Viero! Hibari Kyouya adalah Ayahku!" jawabnya tanpa merasa bersalah.
"..." Lagi-lagi Dino terdiam dan, kali ini, keheningan itu berlangsung dengan cukup lama sebelum akhirnya sebuah tawa yang terdengar dipaksakan mencapai telinga Viero. "Begitu ya? Kalau begitu, salam kenal, Viero. Aku Dino Cavallone." Ujar pria itu.
"Salam kenal... Paman Dino." Viero nampak agak enggan untuk memanggil Dino seperti itu. "Ne, apa ada yang bisa kusampaikan kepada Ayah, Paman Dino?"
"Ah! Sebetulnya aku hanya menelepon Kyouya karena iseng saja, sih..." Dino mengakui sambil tertawa pelan. "Tapi mungkin kau bisa menyampaikan kepada Kyouya kalau aku akan segera datang ke Jepang, Viero?" tambahnya.
"Paman Dino akan datang ke Jepang?" Suara Viero terdengar senang saat dia menanyakan hal itu, membuat Dino sedikit terkejut.
"Ya, kalau sempat." Jawab Dino yang masih sedikit bingung atas antusiasme yang diberikan oleh anak kecil itu saat mendengar perkataannya. Mereka belum pernah bertemu sama sekali, jadi Dino tidak mengerti mengapa Viero bisa terdengar begitu ingin bertemu dengannya seperti itu.
Mungkin Dino memang tidak mengerti, tapi ada alasan kenapa anak itu sangat senang mendengar dia akan datang ke Jepang. Dino akan mengerti... suatu saat nanti. "Baiklah, akan aku katakan pada Ayah!" ujarnya dengan bersemangat. "Apa kau akan datang sebentar lagi? Aku rasa Ayah akan pergi untuk menjalankan misi sebentar lagi..." suara anak itu sedikit melemah.
Lagi-lagi Dino terdiam. Anak kecil yang sedang berbicara dengannya sekarang sepertinya mengetahui sesuatu yang lebih dari apa yang orang lain tahu. Permasalahannya sekarang hanya satu: Siapakah anak itu dan benarkah dia adalah anak dari Kyouya? Dino sudah 10 tahun mengenal Kyouya dan, setahunya, pria itu tidak pernah dekat dengan siapapun, terlebih seorang wanita.
Memutuskan untuk menanyakan hal itu langsung kepada Kyouya nantinya, Dino menjawab pertanyaan Viero. "Hmm, aku rasa paling cepat aku akan datang nanti malam. Apa menurutmu Kyouya masih belum akan berangkat untuk misinya, Viero?"
Viero memiringkan kepalanya sejenak. "Aku tidak tahu." Dia menjawab dengan ragu-ragu. "Mungkin sebaiknya kau berbicara dengan A-" suara pintu ruangan yang terbuka membuat Viero menghentikan perkataannya untuk menatap ke arah Hibari yang baru saja memasuki ruangan itu. "Ayah!" Wajah Viero berseri saat dia melihat ayahnya, terlihat sangat berlawanan dengan Hibari yang menautkan kedua alisnya, nampak sedang sangat kesal.
"Kau berbicara dengan siapa, Viero?" Tanya Hibari tanpa basa-basi sambil berjalan mendekati anak kecil itu. Oh, dia sudah melihat telepon genggamnya di tangan Viero dan Hibari benar-benar tidak ingin anak kecil itu berbicara dengan orang yang tidak seharusnya.
"Paman Dino." Jawaban Viero membuat Hibari merasa sedikit lega. Well, setidaknya Bucking Horse bodoh itu tidak akan mencelakakan Viero. "Aku rasa dia ingin berbicara denganmu, Ayah." Lanjut Viero.
Hibari memutar bola matanya pelan. "Tentu saja dia ingin berbicara denganku." Dino selalu ingin bicara dengan Hibari setidaknya satu kali setiap harinya. Pria berambut hitam itu mengacak-acak rambut Viero dengan lembut sebelum mengambil telepon genggamnya dari tangan Viero.
"Ya?"
Hening sejenak sebelum sebuah suara desahan nafas menjawab pertanyaan Hibari dan Dino menjawab dengan pertanyaan, "Kau punya anak, Kyouya?"
Mata hitam Kyouya melirik ke arah Viero saat dia mendengar pertanyaan Dino. Dia tahu percakapan mereka akan menjadi panjang dan, mungkin, bermasalah. Dino bukanlah seseorang yang bisa menerima jika 'kekasih'nya berselingkuh dengan orang lain.
Ya, mungkin mengejutkan, tapi Dino Cavallone dan Hibari Kyouya memang sudah menjadi sepasang kekasih semenjak tiga tahun yang lalu. Jujur saja, Dino adalah satu-satunya orang yang bisa menarik perhatian Hibari, walaupun tetap butuh waktu lebih dari 2 tahun bagi Hibari untuk menyadari perasaannya terhadap Don Cavallone itu.
Tidak ingin Viero mendengarkan percakapan mereka jika memang akan berakhir dengan pertengkaran, pria itu melangkah keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke arah ruangan yang sudah disiapkan sebagai 'kamar' pribadinya.
Setelah menutup pintu ruangan itu, Hibari berjalan menuju futon yang tersedia di sana dan merebahkan tubuhnya. Dia agak takjub dengan kenyataan bahwa Dino tidak berkata apa-apa selama dia berpindah tempat. "...Cavallone?" Mungkinkah Dino sudah memutuskan pembicaraan mereka?
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kyouya. Apa yang kau lakukan?" Respon dari Dino nyaris membuat Hibari menghela nafas lega. Dia tidak akan mengakui hal ini, tapi dia benar-benar tidak ingin terjadi pertengkaran di antara dia dan Dino saat ini hanya karena Viero. Tidak saat dia harus menjalankan misi yang berbahaya sebentar lagi.
"Nampaknya, Viero itu anakku."
"Apa kau yakin?" Bahkan dari telepon saja, Hibari bisa mendengar keraguan dan kecurigaan di dalam nada suara Dino. Sebuah senyum tipis muncul di wajah Hibari. Nampaknya Dino akhirnya memakai otaknya untuk memikirkan sesuatu.
"Hn. Dia menunjukkan kepadaku surat-surat yang membuktikan bahwa dia adalah anakku." Jawab Hibari sambil menutup matanya pelan. Dia agak lelah hari ini.
Dino terdiam lagi dan jika permasalahan yang mereka bicarakan tidak terlalu serius, Hibari pasti sudah menggodanya soal itu. "Siapa ibunya, Kyouya?"
"Tidak tahu." Kyouya menjawab dengan singkat dan jujur.
"Tidak ta-" terdengar suara helaan nafas yang berat dari Dino sebelum pria itu angkat bicara lagi. "Ah, sudahlah, lupakan saja." Dia melanjutkan. "Aku akan datang ke Jepang hari ini, Kyouya."
"Oh?" Ada sedikit nada terkejut di dalam suara Kyouya dan pria itu bangkit ke posisi duduk di atas futonnya. "Aku kira kau sibuk sampai satu bulan ke depan."
"Begitulah," Dino tertawa sedikit. "Aku diminta datang ke Jepang oleh anakmu itu. Lagipula, dia bilang kau diberi misi oleh Tsuna. Kurasa memang sebaiknya aku menemuimu dulu sebelum kau pergi. Tidak apa-apa, 'kan?"
"Kalaupun kujawab apa-apa, kau tidak akan mendengarkan dan tetap datang, bukan, Cavallone?"
"Ha ha. Benar juga, sih." Dino mengakui dan Kyouya dapat membayangkan sebuah cengiran polos di wajah Don Cavallone itu saat ini.
"Hm. Kapan kau sampai?"
"Aku baru bisa berangkat malam ini setelah menyelesaikan semua pekerjaanku jadi mungkin aku akan sampai sekitar 6 jam lagi." Terdengar suara kertas-kertas yang dikumpulkan, diikuti dengan sebuah helaan nafas dari Dino. "Sungguh, kadang aku merasa tugas-tugas ini tidak pernah selesai."
Bibir Kyouya terkulum membentuk sebuah seringai tipis. "Itu karena kau pemalas." gumamnya.
"Aku bukan pemalas!" Dino membantah dengan sedikit nada merajuk. "Aku selalu menyelesaikan tugas-tugas yang Romario berikan dalam satu hari."
"Hm. Setelah Romario memaksamu untuk duduk di meja kerjamu dan tak boleh keluar dari kantormu dengan alasan apapun." Ada nada menggoda di dalam suara Kyouya.
"Ukh. Tetap saja aku menyelesaikannya, 'kan..." Dino berkilah. "Kau mengerti sekali keseharianku, ya, Kyouya." Dia balas menggoda kekasihnya yang lebih muda itu dengan sebuah tawa kecil.
"Hanya karena kau selalu mengeluh padaku mengenai keseharianmu." Kyouya menjawab dengan singkat sebelum melanjutkan, "Aku lelah, Cavallone." Terjemahan: Aku ingin tidur siang, jadi berhenti meneleponku. Bye.
"Ah, baiklah. Aku akan bertemu denganmu nanti, Kyouya." Dino terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan dengan nada lembut, "Ti amo, Kyouya."
Seringai di wajah Kyouya kembali. "Hm. Sampai jumpa, Cavallone." ujarnya sebelum memutuskan percakapan mereka.
-0-
Dino Cavallone mengetuk pintu rumah Hibari Kyouya dengan sebuah perasaan yang sulit untuk digambarkan. Di satu sisi, dia merasa senang karena akan bertemu dengan kekasihnya itu lagi, tapi di sisi lain, dia juga merasa khawatir karena adanya satu hal yang tak biasa di kediaman Kyouya saat ini.
Dan satu hal itu... membukakan pintu rumah Kyouya untuknya.
"Paman Dino!"
Dino bahkan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berkedip sebelum sebuah bayangan berwarna hitam melompat ke arahnya, secara otomatis menubruknya dan membuat pria berambut pirang itu terhuyung ke belakang. Untung saja Romario ada bersamanya, kalau tidak Dino pasti sudah jatuh dengan sempurna saat ini.
Kedua tangan Dino sudah bergerak secara otomatis untuk menahan agar tubuh kecil yang sekarang berada di pelukannya itu tidak terjatuh dan mata hazelnya akhirnya bergerak untuk menatap sosok yang menabraknya tadi.
Dua bola mata hazel yang nyaris identik dengan matanya balas menatap Dino dengan hangat.
Untuk sesaat, Dino dapat merasakan jantungnya berdetak dengan lebih cepat.
"Paman Dino! Kau datang!" Anak kecil itu berujar dengan nada senang, tersenyum lebar ke arah Dino.
"A-ah. Aku sudah bilang aku akan datang, 'kan?" Dino membalas sambil tertawa kecil walaupun dia masih sangat bingung. Dengan hati-hati, dia menurunkan anak kecil itu dan barulah dia dapat mengamati sosok anak itu dengan seksama.
Kemiripan antara anak itu dengan Kyouya membuat nafas Dino tercekat. Dia yakin kalau anak ini benar-benar anak dari kekasihnya itu. Satu-satunya hal yang berbeda hanyalah bola mata beriris hazel yang dimiliki oleh anak itu.
Dino menelan ludah dan membuka mulutnya, baru saja akan menanyakan sesuatu, saat sebuah suara memotong perkataannya.
"Viero. Jangan berlari di dalam rumah untuk menerjang tamuku."
Hibari Kyouya berkata dengan nada sedikit kesal sambil berjalan keluar dari rumahnya dan menghampiri Dino serta Viero.
"Ah! Maaf, Ayah." Viero berkata dengan nada sesal sembari menoleh ke arah Kyouya. Nampaknya dia benar-benar merasa menyesal telah membuat Ayahnya marah.
"Ha ha. Tidak apa-apa, 'kan, kalau hanya sekali ini, Kyouya?" Dino angkat bicara sambil tertawa kecil sebelum Kyouya bisa memarahi Viero lebih lanjut. "Jadi kau Viero, hmm?" pertanyaan kedua ditujukan kepada anak kecil itu.
"Terus memberikannya alasan untuk mengulangi hal yang sama dan dia akan tumbuh menjadi anak manja, Cavallone." Kali ini Kyouya memberikan tatapan kesalnya ke arah Dino yang hanya tersenyum menanggapi kekesalan kekasihnya itu.
Viero menoleh ke arah Dino, kembali tersenyum. "Umm! Aku Hibari Viero, senang bertemu denganmu, Paman Dino!" ujarnya sambil membungkuk, mengingat tata krama yang telah diajarkan oleh Ayahnya itu di masanya.
Viero, huh...? Nama itu jelas-jelas bukan nama Jepang, lebih seperti nama Eropa. Apakah mungkin Ibu Viero berasal dari Eropa?
Menangguhkan pertanyaan-pertanyaan yang hadir di benaknya saat ini, Dino tersenyum sambil mengelus-elus kepala Viero. "Kau anak yang sangat sopan, ya, Viero." pujinya.
"Tentu saja. Dia itu anakku, Cavallone. Apa kau kira aku tidak akan mengajari anakku sendiri sopan santun?" Hibari membalas perkataan Dino dengan sebuah tatapan tajam.
"Woah, aku tidak berkata seperti Kyouya!" Bantah Dino dengan cepat. "Apa kau tidak akan mengizinkanku masuk, hmm? Sudah malam dan di luar lumayan dingin, lho, Kyouya." Ditambah lagi, Dino sebenarnya merasa mengantuk akibat perbedaan waktu antara Itali dan Jepang.
Kyouya hanya menatap Dino dengan tatapan tajam yang sama untuk beberapa saat sebelum dia akhirnya mendengus pelan. "Hmph. Viero, masuklah duluan." ujarnya kemudian.
Viero mengangguk. "Umm, baiklah." gumamnya sebelum melangkah melewati Kyouya untuk masuk ke dalam rumah lagi, sesekali melemparkan pandangan khawatir ke arah dua orang dewasa yang masih berdiri di depan pintu rumah itu.
Setelah memastikan Viero sudah masuk ke dalam rumah, Kyouya akhirnya mengalihkan perhatiannya kepada Dino dan berjalan mendekati pria berambut pirang itu sebelum memberikan sebuah ciuman hangat kepadanya.
Dino membalas ciuman Kyouya dengan antusias, kedua tangannya bergerak untuk memeluk tubuh ramping pria itu mendekat. Selang beberapa saat dan akhirnya Dino melepaskan ciuman mereka itu. Dia menatap lembut ke arah Kyouya.
"...Kita harus bicara, Kyouya." Tentang Viero, darimana anak itu berasal dan apakah Kyouya juga memiliki teori yang sama dengan Dino mengenai anak itu.
"...Ya." Kyouya menyetujui sebelum mencium Dino dengan lebih lembut kali ini.
Banyak yang perlu mereka bicarakan, tapi setidaknya hal itu bisa menunggu sampai mereka berada di balik pintu kamar Kyouya. Untuk saat ini, mereka hanyalah dua orang kekasih yang ingin melepas kerinduan satu sama lain.
-O-
