Tentang Masa Depan, Natal dan Keajaiban
~Bagian Keempat~
sebuah fanfiksi dari Katekyou Hitman Reborn (c) Akira Amano
Pairing: D18
Perhatian: Shounen-ai, BL, OC yang memegang peranan penting, hints character death.
Summary: Kehadiran seorang anak kecil dari masa depan mengubah pandangan Hibari tentang kehidupan
A/N: Cerita ini tadinya akan masuk ke dalam status Hiatus/Discontinue karena saya sudah lama tidak berkecimpung di fandom KHR dan gaya penulisan saya di sini masih sangat … menyedihkan. Saya melanjutkan cerita ini karena review dari Lulu-san. Saya tak yakin masih ada yang ingat dengan cerita ini, tapi semoga masih ada yang menikmatinya.
"Jadi, apa kita bisa memulai pembicaraan kita sekarang, Kyouya?"
Perkataan itu terlontar dari mulut Dino setelah mereka berada di dalam kamar Hibari. Sang pemilik kamar sendiri baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan sebuah yukata berwarna hitam yang memang merupakan pakaian tidurnya.
"..." Hibari tidak menjawab pertanyaan Dino, hanya melirik ke arahnya melalui sudut mata dari tempatnya berdiri. Dino terduduk di atas futon Hibari, kedua manik berwarna hazel menatap sosok Hibari dengan tajam sementara kerutan samar tampak di antara alisnya. Hibari jarang sekali melihat ekspresi seperti itu dari Dino saat mereka sedang berdua.
"Kau tidak menyukai Viero?" Hibari akhirnya bertanya seraya berjalan mendekati Dino dan berhenti di hadapan pria yang masih terduduk itu.
"Bukan begitu. Aku hanya-!" Dino mendesah pelan sebelum mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang Hibari dan menariknya mendekat. "Kau melihat apa yang kulihat di dalam diri anak itu, kan? Mata itu—" mata hazel yang sama dengan apa yang Dino lihat setiap harinya di cermin. "Apa mungkin ..."
"Cavallone." Hibari memotong perkataan Dino sebelum dia bisa berkata lebih lanjut, membuatnya mendongakkan kepalanya untuk menatap kekasihnya yang lebih muda.
"Hm?"
"Jangan mempermasalahkan hal yang mungkin benar atau salah." Tangan Hibari bergerak untuk menggenggam rambut pirang Dino dengan lembut. "Teorimu bisa jadi benar, tapi kita tidak punya apapun yang bisa membuktikan hal itu. Karena itu, tidak usah mempermasalahkannya."
Dino terdiam untuk beberapa saat sebelum dia mengerang pelan dan membenamkan wajahnya di perut Kyouya. "Argh, tetap saja aku penasaran, Kyouya," Dino mengerang pelan. "... lagipula, hanya membayangkan kalau orang lain adalah papa Viero membuatku kesal." Lanjutnya dalam gumaman.
Hibari tertawa kecil. "Tidak ada orang lain yang bisa menarik perhatianku sepertimu. Tenang saja."
"Sungguh?"
Mendengar pertanyaan Dino yang terkesan tidak memercayainya membuat Hibari memutar bola matanya ringan. "Sampai sekarang aku belum pernah berhubungan seks dengan orang lain kecuali denganmu, Cavallone." Nada suara Hibari benar-benar datar saat dia mengatakan hal itu.
Mata hazel Dino terlihat senang saat dia kembali menatap Hibari. Seulas senyum hangat dan lembut yang biasa Hibari lihat di wajah Dino akhirnya membias sekali lagi. Hibari tidak bisa menahan diri untuk membungkukkan tubuhnya dan mencium pria yang lebih tua itu dengan lembut.
"Kau terlalu banyak khawatir. Apa mungkin karena pengaruh umur?" Seringai di wajah Hibari mempertegas ejekan yang dia berikan.
"Hey! Aku masih muda, Kyouya!" Dino memprotes dengan nada merajuk, walaupun dia tidak terlihat terlalu kesal mengingat Hibari masih berada di dalam pelukannya. "Jahat sekali kau menyinggung umurku ..."
"Merasa tidak percaya diri karena umurmu yang jauh lebih tua dariku, Cavallone?" Seringai Hibari semakin merekah.
Dino hanya tertawa kecil, karena dia tahu dengan pasti Hibari tidak serius dengan pertanyaannya. "Mana mungkin. Aku justru senang aku lebih berpengalaman darimu. Aku bisa mengajarimu... banyak hal karenanya." Bisiknya seraya menciumi leher Hibari yang jenjang dan putih.
"Hoo?" Hibari mengangkat alisnya, skeptis, walaupun dia juga merengangkan lehernya untuk memberikan lebih banyak akses untuk Dino. "Apa yang akan kau ajarkan kepadaku malam ini kalau begitu, sensei?" suara Hibari saat mengatakan 'sensei' lebih tepat disebut sebagai sebuah dengkuran, membuat rambut-rambut halus di tengkuk Dino meremang.
"Oh, ada banyak sekali yang akan kuajarkan kepadamu, Kyouya ... Banyak sekali."
Setelahnya, Dino benar-benar berusaha untuk 'mengajari' Hibari tentang apa yang diketahuinya, hanya saja tidak dengan kata-kata dan, sudah tentu, dalam sikap yang hanya bisa dilakukan oleh seorang kekasih kepada pasangannya.
-O-
Keesokan harinya, Dino membuka mata hanya untuk menemukan bahwa sisi futon yang tadinya ditempati oleh Hibari sudah kosong dan mulai dingin, tanda bahwa pria berambut hitam itu sudah bangun dan bersiap-siap lama sebelum Dino terbangun.
Masih sedikit terdisorientasi, Dino bangkit ke posisi duduk di atas futon Hibari dan mengusap matanya, mengusir kantuk yang masih menggelayutinya pelupuknya. Dia melihat ke sekelilingnya dan tidak dapat menemukan sosok Hibari Kyouya sama sekali.
"... Hm." Sang Don Cavallone menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menduga-duga kemana perginya sang kekasih hatinya. Untungnya, selang beberapa lama, pintu geser yang menghubungkan kamar Hibari dengan koridor rumahnya terbuka dan kemudian sosok sang Guardian of Cloud dari Vongola itu masuk ke dalam ruangan.
Wajah Dino dengan segera mencerah saat dia melihat sosok kekasihnya yang sudah berpakaian dengan sangat lengkap. Hibari mengenakan jas berwarna hitam yang melapisi kemeja berwarna ungu tua dan celana bahan hitam standar yang memang biasa digunakan oleh para mafia saat menjalankan misi.
Secara keseluruhan, sosok Hibari Kyouya saat ini benar-benar menunjukkan statusnya sebagai sang Cloud Guardian dari Vongola. Bahkan Vongola gear yang berada di tangan Hibari seolah bersinar, seakan-akan Roll sudah tidak sabar untuk keluar dari tempat peristirahatannya dan menghancurkan beberapa sarang herbivora-herbivora bodoh yang sudah membuat pemiliknya marah.
Dino bangkit berdiri dari futon Hibari saat pria berambut hitam itu datang. "Sudah mau pergi, Kyouya?" dia bertanya sambil tersenyum tipis.
Hibari hanya mengangguk menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya walaupun dia lalu berjalan ke arah Dino untuk memberikan sebuah kecupan kecil di bibir Don Cavallone.
Tangan Dino secara otomatis terangkat dan melingkarkan diri di pinggang Hibari saat mereka berciuman, menahan pria itu di tempat. Dia memperdalam ciuman mereka sesaat, mengeksplorasi bagian dalam mulut Hibari dengan lidahnya sebelum melepaskan pria yang lebih muda.
"... Jaga Viero untukku, Cavallone," Hibari berkata dengan nada pelan, bibirnya masih menyentuh bibir Dino saat dia berbicara.
"Tentu." Dino tersenyum, menangkap bibir Hibari dalam sebuah ciuman kecil lagi. "Berapa lama kau akan pergi, Kyouya?"
Hibari mengangkat bahunya pelan, masih tidak berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Dino. "Tidak tahu."
Alis Dino bertaut. Jawaban yang Hibari berikan benar-benar khas pria berambut hitam itu sehingga Dino tidak dapat berkata apa-apa, kecuali "Apa misi ini berbahaya?" Nada khawatir yang ada di dalam suara Dino dengan jelas dapat terdengar oleh Hibari.
Kekhawatiran Dino membuat Hibari tersenyum tipis. "Aku akan baik-baik saja, Cavallone. Aku tak pernah gagal menyelesaikan misi yang diberikan kepadaku." Hibari menjawab dengan pasti.
Dino tertawa kecil, walaupun sorot matanya saat menatap Hibari masih menunjukkan kekhawatiran. "Kau benar, tapi bukan berarti hal itu tidak mungkin terjadi. Lagipula ... aku selalu khawatir setiap kau menjalankan misi yang berbahaya seperti ini." Dia mendesah pelan sambil mengelus pipi Hibari.
Hibari tidak menjawab perkataan Dino karena dia tahu pria itu benar.
"... Aku tidak akan mati, Cavallone. Tidak semudah itu." Bisik Hibari sambil menatap Dino dengan lekat.
Pria yang lebih tua itu tersenyum tipis. "Aku tahu, Kyouya. Aku tahu. Buon fortuna kalau begitu, amore mio," jawabnya. Dia lalu memberikan sebuah kecupan kecil ke kening Hibari. "Tolong berhati-hati dalam misimu."
Sebuah tawa kecil yang ditujukan untuk mengejek menjawab perkataan Dino. "Aku tak butuh kata-kata itu," balas Kyouya seraya menatap Dino dengan tatapan tajam. "Jaga Viero selama aku pergi, Cavallone." Sebuah perintah, bukan permintaan.
Alis Dino terangkat saat dia mendengar perkataan itu sekali lagi terlontar dari bibir Hibari. Sudah dua kali Hibari mengajukan permintaan yang sama. "Kau benar-benar menganggap anak itu istimewa, huh?" Bisik Dino, tanganya terulur untuk mengusap pipi Hibari dengan lembut.
"Apa kau bermaksud untuk mengatakan kau tidak akan merasa begitu terhadap anakmu sendiri, hm?"
Sebuah helaan napas dan senyum tipis menjawab pertanyaan Hibari. "Aku tak tahu. Aku tak punya anak, Kyouya." Dino setengah menggoda.
Hibari mengerutkan alisnya dan memukul dada Dino dengan ringan sebagai balasan. "Kau tahu apa maksudku, Kuda Bodoh." Gumamnya kesal sebelum melepaskan diri dari pelukan Don Cavallone itu.
Dino hanya terkekeh dan mengacak rambutnya sendiri. "Ya, aku mengerti," ujarnya. "Baiklah, aku akan menjaga Viero. Apa menurutmu lebih baik jika aku membawanya kembali ke Itali?"
"Kau sudah harus kembali ke Itali?"
"Sebenarnya tidak, karena aku juga baru saja sampai. Kalau kau sedang sibuk menjalankan misi, aku tidak punya hal yang menarik di Jepang." Sebuah cengiran lebar hadir menemani jawaban itu.
Hibari mendengus. "Kau bisa menemui Sawada Tsunayoshi kalau sebegitu senggangnya. Aku yakin dia akan senang mendapat kunjungan dari 'Kakak'nya." Ada sebuah ejekan yang sangat jelas terdengar di dalam nada suara Hibari saat dia mengatakan hal itu.
Sayangnya, untuk Dino yang sudah mengerti Bahasa Hibari Kyouya dengan sangat baik, dia dapat menangkap makna tersirat di dalam perkataan Hibari itu. "Kau ingin aku tetap di Jepang selama aku menjaga Viero, Kyouya?"
Sang Awan Vongola tak menjawab untuk beberapa saat dan keheningan dari pria itu sudah dapat membuat suatu tanda peringatan di dalam diri Dino menyala. Bangkit dari futon, pria berambut pirang itu berjalan menghampiri kekasihnya sebelum memeluknya dari belakang.
Dino meletakkan dagunya di bahu Kyouya seraya menatap wajah pria yang lebih muda itu. "Ada apa?" tanyanya dengan suara lembut.
Mata hitam Hibari balas menatap Dino, tapi pria itu tidak berkata apa-apa. Walaupun begitu, Dino dapat melihat dengan jelas perang emosi di dalam bola mata hitam itu dan dia tahu hal terbaik yang bisa dia lakukan saat ini adalah diam dan menunggu Hibari mengatakan apa yang mengganggu pikirannya.
Hibari Kyouya adalah seseorang yang menempatkan harga diri di atas segalanya. Hal itu membuatnya tidak akan dapat mengutarakan segala sesuatu yang mungkin akan menunjukkan suatu kelemahan dan karena itulah seseorang harus sangat sabar dalam menghadapai sang Skylark satu ini.
Kesabaran Dino dalam menghadapi Hibari, sampai saat ini, masih belum dapat dikalahkan oleh siapapun.
Sekarang pun, pria berambut pirang itu dengan sabar menunggu kekasihnya berbicara sambil sesekali mengelus perut Hibari hanya karena dia tidak bisa tidak melakukan sesuatu saat pria itu berada sedekat ini dengannya.
Kesabaran Dino terbalas beberapa saat kemudian saat sebuah helaan napas pelan keluar dari bibir Hibari. Don Cavallone itu tersenyum tipis dan membenamkan wajahnya di pundak Hibari hanya agar pria itu tidak dapat melihat sinar kemenangan di mata hazel Dino.
"Viero—dia akan kembali ke masanya saat hari Natal."
Jawaban yang akhirnya Hibari berikan sedikit tidak terduga. Dino mengangkat wajahnya sebelum bergumam, "Hmm. Kau ingin menemuinya sebelum dia kembali ke masanya?"
Hibari mendengus dan Dino dapat membayangkan hadirnya sebuah kerutan di antara alis Hibari, seolah mengatakan betapa bodohnya Dino telah berpikiran Hibari akan merasa sesentimentil itu. Tentu saja dia tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan di balik perbuatannya.
"Menurut surat yang diberikan oleh Sawada di masa depan, akan ada seseorang yang datang untuk menjemput Viero nantinya. Orang itu ... mungkin saja pria yang disebut sebagai papa oleh Viero."
"... Ah." Tentu saja Hibari ingin bertemu dengan pria misterius itu. Lagipula, kalau perkataan anak kecil itu benar, dia adalah suami Hibari di masa depan. Nampaknya, Hibari—atau setidaknya Hibari di masa depan—juga sangat mencintai pria itu sampai-sampai dia bersedia memiliki anak bersama dengannya.
"Lagipula," Hibari melanjutkan dengan nada yang lebih ringan. "Viero harus kembali menggunakan mesin waktu yang ada di Mansion Vongola. Jika kau membawanya pergi ke Itali, dia tidak akan bisa pulang."
Dino tertawa kecil. Alasan-alasan yang diberikan oleh Hibari memang masuk akal dan, mungkin, memang merupakan bagian dari alasan mengapa dia tidak ingin Dino membawa Viero kembali ke Itali. Walaupun demikian, tetap saja Dino mengetahui kekasihnya itu dengan sangat baik untuk mengetahui bahwa ada secercah rasa sayang di dalam diri Hibari yang membuatnya tidak ingin Viero kembali ke masanya tanpa bertemu dengannya untuk terakhir kali.
Sebuah perasaan sayang yang besar terhadap pria ini tiba-tiba membara di dada Dino dan dia tidak bisa tidak memberikan sebuah kecupan lembut di leher Hibari, tepat di bawah telinganya. "Oh, Kyouya. Baiklah, aku akan tinggal di Jepang." Bisiknya.
"Pastikan kau kembali dari misimu sebelum hari natal, Kyouya. Kita akan melewati natal tahun ini bersama."
-O-
Setelah percakapan itu, Hibari pergi tak lama kemudian. Dino, yang sekarang hanya berempat bersama dengan Viero, Kusakabe dan Romario, memandang sosok kekasihnya yang perlahan semakin menjauh di dalam sebuah sedan hitam sebelum menghela napas dan, dengan sebuah senyuman lebar, berbalik menghadap ke arah Viero dan mengumumkan bahwa dia akan mengunjungi Mansion Vongola.
Viero dengan segera meminta Dino untuk mengajaknya serta karena, sungguh, dia akan mati bosan jika ditinggal di rumah Ayah yang sangat besar ini dan, tentunya, Dino tidak mau hal itu terjadi, 'kan?
Tertawa dengan cara anak kecil itu membujuknya, Dino mengacak rambut Viero sebelum menggendongnya. Dia merasa sangat terbiasa bertindak seperti itu kepada Viero, seperti dia sudah pernah melakukannya sebelumnya. Sangat sering.
Memutuskan untuk mengabaikan perasaan melankolis aneh yang datang saat itu, Dino memerintahkan Romario untuk menyiapkan mobilnya dan kepada Kusakabe untuk menjaga rumah Hibari untuk sesaat hingga saatnya dia kembali menuju Foundation untuk bekerja.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Romario untuk menyiapkan mobil Dino dan sebuah limusin berwarna hitam kemudian berhenti di depan gerbang rumah Hibari, siap mengantarkan Don Cavallone itu ke tujuan yang dia inginkan.
Dino menunggu sampai Viero sudah masuk ke dalam mobil sebelum naik dan menutup pintunya. Romario duduk di kursi penumpang bagian depan dan supir mereka mengangguk hormat ke arah Dino melalui kaca spion depan.
Anggukan itu dibalas dengan sebuah cengiran dari Dino dan perkataan, "Mansion Vongola, Reno." Sebelum limusin itu melaju dengan mulus, nyaris tanpa suara.
Dino menoleh ke belakang saat mobilnya mulai berjalan menjauh, mematri pemandangan kediaman Hibari di mata dan ingatannya, sebelum memejamkan mata dan mendesah kecil.
'Jaga dirimu baik-baik, Kyouya.'
-O-
Sawada Tsunayoshi baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang terakhir saat dia mendengar suara seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Mengangkat kepalanya, intuisi yang dia miliki sudah memberitahunya siapa seseorang yang ada di balik pintu tersebut.
Tsuna tersenyum, tipis namun tetap tulus, sebelum mempersilahkan tamunya untuk masuk dengan sebuah ucapan singkat, "Silakan, Dino-san."
Dino terkekeh pelan seraya memasuki ruangan kerja Tsuna. "Ciao, Tsuna." Dia memberikan sebuah cengiran khas dirinya ke arah don yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu.
"Selamat siang, Dino-san." Tsuna membalas dengan sebuah senyuman hangat. Sebuah senyuman yang, Dino bersyukur, tidak berubah dari sejak saat sebelum dia diangkat menjadi seorang don. "Apa ada yang bisa aku bantu hari ini?" lanjut pria yang lebih muda itu seraya memberikan gestur kepada Dino untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.
"Hey, memangnya aku tak boleh mengunjungi adikku tersayang kecuali jika aku ada urusan?" Dino bertanya dengan wajah yang sedih, membuat Tsuna tertawa kecil melihat kelakuan pria yang jauh lebih tua darinya itu.
"Bukan begitu maksudku. Hanya saja, aku merasa bahwa kunjunganmu kali ini... bukan hanya kunjungan biasa," Sang Don Vongola menjelaskan, melipat kedua tangannya di pangkuannya dengan elegan. "Aku merasa ada hal yang ingin kau bicarakan denganku."
Dino menatap Tsuna yang masih tersenyum untuk beberapa saat sebelum menghela napas pelan. Dia mengambil tempat duduk di sofa yang berada di depan Tsuna dan bersandar sebelum menjawab, "Terkadang aku membenci intuisimu itu, Tsuna," Tentu saja dia tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. "... Kau benar. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu."
Senyuman Tsuna tidak berubah. "Percaya padaku, kau bukan orang pertama yang mengatakan hal itu. Lalu, apa yang ingin kau bicarakan, Dino-san?"
Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Tsuna sementara Dino memikirkan cara untuk memulai percakapan. Tsuna dengan sabar menunggu Kakaknya itu memilih kata-kata dan setelah beberapa menit berlalu, Dino akhirnya angkat bicara.
"Aku akan tetap di Jepang selama Kyouya menjalankan misinya kali ini. Dia memintaku untuk menjaga Viero."
"Ah, jadi kau sudah bertemu dengan Viero? Aku sedikit terkejut melihat kemiripannya dengan Hibari-san saat pertama bertemu dengannya." Tsuna menanggapi dengan sebuah senyuman tipis.
"Ha ha. Ya, aku bisa mengerti. Dia memang benar-benar mirip dengan Kyouya." Kecuali mata hazel dan senyuman itu. "Apa kau percaya dengan ceritanya yang menyatakan kalau dia berasal dari masa depan?"
Tsuna menghela napas pelan. "Ini akan terdengar sedikit aneh, tapi aku benar-benar percaya Viero berasal dari masa depan. Bukan hanya karena dia muncul dari mesin waktu yang sedang kami kembangkan, tapi aku memiliki ... suatu perasaan familiar saat melihatnya. Seolah ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya."
Perkataan Tsuna membuat Dino teringat akan perasaan melankolis yang hadir di dirinya saat dia menggendong Viero.
"... Lagipula, kurasa Hibari-san pasti sudah mengusir Viero jika dia tidak mempercayai hal itu. Kau paling mengenal Hibari-san, Dino-san. Apa kau kira dia tidak akan meminta bukti bahwa Viero adalah anaknya?" lanjut Tsuna.
Dino tersenyum. "Yah, kurasa kau benar. Mengingat betapa paranoidnya Kyouya, aku yakin dia pasti sudah memikirkan kemungkinan bahwa Viero adalah mata-mata dari sejak dia bertemu dengannya." Lagipula, jika Viero memang mata-mata, rasanya tak mungkin Hibari akan sepeduli itu kepadanya. "Aku dengar Viero akan pulang saat hari natal nanti? Kyouya bersikukuh akan menyelesaikan misinya sebelum natal hanya untuk melihat Viero pulang."
Untuk pertama kalinya semenjak kedatangan Dino, senyuman Tsuna menghilang dan dia terlihat sedikit tidak nyaman. Hal ini, tentu saja, disadari oleh Dino.
"... Sesulit itu misi yang kau berikan kepadanya?" Ada sebuah senyuman tipis di wajah Dino saat dia menanyakan hal itu. Dia tahu Tsuna sering merasa tidak enak apabila dia memberikan misi yang sulit kepada Hibari, walaupun memang Hibari sanggup melakukannya, dan pada dasarnya perasaan itu hadir karena dia tahu mengenai hubungan Dino dengan Hibari.
"Um, aku tak bisa membicarakan detail misinya, Dino-san," Tentu saja. "Hanya saja ... misi ini memang sedikit ... berisiko. Walaupun begitu, aku yakin Hibari-san akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik."
Dino terdiam untuk beberapa saat. "... Tentu saja. Ini Kyouya yang sedang kita bicarakan. Dia tidak mungkin gagal melaksanakan misinya." Dia akhirnya menanggapi dengan sebuah tawa kecil. "Aku harap dia akan segera pulang." Tanpa terluka sedikit pun. Kalau bisa. "Aku sudah merindukannya."
Tsuna tersenyum, lembut dan menenangkan. "Hibari-san sudah berjanji kepadamu kalau dia akan pulang sebelum Natal, kan? Setahuku, dia tidak pernah mengingkari janjinya."
"Memang. Dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang tak akan dia tepati." Dino menyetujui sambil tersenyum mengingat kekasihnya itu. "Ah, nampaknya aku sudah terlalu lama berada di sini. Terima kasih untuk percakapannya, Tsuna."
Tsuna ikut bangkit dari tempat duduknya saat Dino berdiri. "Kapanpun kau membutuhkannya, Dino-san. Sudah cukup lama kita tidak bercakap-cakap seperti ini." Ujarnya seraya mengulurkan tangan.
Dino menjabat tangan Tsuna dengan pasti sambil menyengir lebar. "Yah, pekerjaan. Aku yakin kau bisa mengerti penderitaanku sekarang, hmm?" dia terkekeh. "Aku akan berada di Head Quarter Cavallone hingga natal. Aku harap kau akan mengunjungiku sesekali."
"Tentu saja, saat aku luang." Tsuna menanggapi.
"Akan kutunggu kalau begitu." Dengan kata-kata itu, Dino berjalan keluar dari ruang kerja Tsuna.
-O-
