Tentang Masa Depan, Natal dan Keajaiban
~Bagian Kelima~
sebuah fanfiksi dari Katekyou Hitman Reborn (c) Akira Amano
Pairing: D18
Perhatian: Shounen-ai, BL, OC yang memegang peranan penting, hints character death.
Summary: Kehadiran seorang anak kecil dari masa depan mengubah pandangan Hibari tentang kehidupan
Head Quarter Cavallone yang berada di Jepang memang tidak semegah Cavallone mansion yang berada di Itali, tapi tidak bisa juga disebut kecil. Di dalam bangunan mewah tersebut terdapat setidaknya dua puluh orang anggota Cavallone dan keluarga mereka. Mereka memang sengaja tinggal di sana, untuk mengurus tempat itu sekaligus mengontrol kegiatan dunia bawah tanah yang ada di Jepang.
Walaupun kecil, tapi ada satu hal yang cukup menarik di Head Quarter Cavallone: sebuah lapangan pacu yang cukup besar dan juga kandang-kandang kuda lengkap dengan kuda-kuda pacuan yang sangat cantik dan gagah.
Di lapangan kuda itulah Dino Cavallone sekarang berada, memegang tali kekang seekor kuda jantan berwarna hitam yang terlihat sangat menawan. Don Cavallone itu memakai pakaian santai, sebuah polo-shirt berwarna putih dan celana bahan broken white lengkap dengan sepatu boots berwarna sama dengan celana bahannya.
Tidak jauh di belakang Dino, Viero berjalan mengikutinya. Tangan kanan anak itu juga memegang tali kekang seekor kuda kecil berwarna hitam dan bermata biru yang terlihat tenang. Wajah Viero berseri-seri dan dia terlihat sangat bersemangat.
Dino tertawa kecil melihat antusiasme si bocah. "Kau terlihat bersemangat sekali, Viero." Komentar pria berambut pirang itu.
"Tentu saja! Ini pertama kalinya aku akan belajar menunggang kuda!" Viero menjawab sambil memberikan sebuah senyuman lebar ke arah Dino.
"Baguslah kalau kau senang," Dino tertawa. "Nampaknya Alden juga sudah menyukaimu, hmm?" Dia mengindikasikan kepada kuda kecil yang sedang dibawa oleh Viero.
Seolah mengerti dia sedang dibicarakan, Alden mendengus pelan dan menyundulkan sisi wajahnya ke pipi Viero, membuat anak kecil itu tertawa girang. "Ha ha! Dia kuda yang baik sekali, Paman Dino! Baik dan cantik!"
Tawa Dino lepas sekali lagi. "Cantik? Alden itu jantan, Viero. Aku tak yakin dia akan senang jika kau sebut cantik. Mungkin Ayahnya justru akan marah." Pria itu menepuk leher kuda yang sedang dia pegang seraya berkata demikian. "Ya, Ciel?"
"Kuda yang Paman Dino pegang itu ayah Alden?" Viero bertanya dengan nada ingin tahu, kepalanya yang kecil dimiringkan seperti anak anjing, membuat Dino tersenyum karena dia seperti melihat Hibari sedang melakukan hal itu.
"Yup!" Dino mengangguk sambil menyengir. "Dia kuda kesayanganku di sini. Alden itu turunan kuda pacuan terbaik, aku yakin dia pasti tumbuh menjadi kuda yang gagah!"
"Begitu? Tapi Alden terlihat sangat tenang dan lembut. Apa dia bisa berlari kencang dan melewati rintangan berbahaya, Paman Dino?" Ada nada kekhawatiran di suara Viero saat dia menanyakan hal itu, tangannya membelai surai Alden dengan lembut.
Dino tersenyum. "Jangan khawatir. Untuk saat ini, Alden masih kecil, jadi dia hanya bisa berlari. Nanti, saat dia sudah agak besar aku yakin dia pasti akan bisa melewati rintangan seperti apapun. Ayahnya juga seperti itu."
"Wao. Paman Dino benar-benar sayang pada Ciel dan Alden, ya?"
"Begitulah," Dino terkekeh. "Aku sudah merawat Ciel dari sejak dia masih seekor bayi kuda, lebih kecil dari Alden saat ini. Jadi, tidak heran jika aku menyayanginya, kan? Ah, kita sudah sampai!" serunya saat dia dan Alden akhirnya sampai ke lapangan pacu.
"Pakai helm-mu, Viero. Aku tidak mau kau jatuh dan melukai kepalamu di sini," Dino mengenakan helmnya sendiri yang sudah dibawakan oleh Romario. Ya, anak buah Dino tetap mengikuti mereka ke sini. Kalau tidak begitu, bukan tak mungkin don Cavallone itu akan terjatuh dari kudanya, tak peduli seberapa jinaknya Ciel.
Menuruti perkataan Dino, Viero mengenakan helm hitamnya dengan erat. Dia tahu betapa sakitnya terjatuh dari kuda dan, kalau bisa, dia tidak ingin mengalami hal itu. Walaupun begitu, lebih baik berhati-hati daripada celaka, kan?
"Bagus." Dino memuji saat Viero sudah mengenakan helmnya. "Sekarang, akan kuajarkan kau cara menaiki kuda." Dia berjalan ke arah Alden, menepuk leher kuda kecil itu dengan sayang, untuk mengecek pelananya sudah terpasang dengan ketat namun nyaman.
Viero melihat apa yang dilakukan Dino dengan mata berbinar seolah dia ingin memasukkannya ke dalam ingatan.
"Hmm, baiklah. Sekarang, ikuti petunjukku, Viero." Dino berkata saat dia sudah puas dengan pemasangan pelana Alden. "Berdiri di sisi kiri Alden, pegang surai dan tali kekangnya dengan tangan kirimu. Jangan terlalu keras, bisa-bisa Alden justru lari jika kau memegangnya terlalu keras." Dia memperingatkan.
"Umm!" Viero mengangguk. Wajah kecilnya nampak serius saat dia melakukan apa yang Dino arahkan. "Begini?" dia bertanya setelah memegang surai dan tali kekang Alden dengan pelan.
"Ya, begitu. Pintar." Dino tersenyum. "Sekarang, ini bagian yang agak susah," Dino memperingatkan. "Letakkan kaki kirimu ke pijakan pelana sebelah kiri, ya, begitu—" dia mengamati dengan hati-hati saat Viero melakukannya, mengawasi keseimbangan anak kecil itu dan juga ketenangan Alden. "—selanjutnya, ayunkan kaki kanan dan tubuhmu ke atas tubuh Alden—hati-hati."
Viero mencoba melakukan apa yang Dino arahkan, tapi suatu saat, dia mencengkeram surai Alden dengan terlalu kuat di bawah konsentrasinya, membuat kuda kecil itu mendengus dengan keras dan meronta pelan. Hal itu membuat Alden terkejut dan, secara refleks, melepaskan pegangannya. Anak itu akan segera terjatuh kalau saja Dino tidak segera menangkapnya.
"Woaah! Nyaris saja, ya?" sang don Cavallone tertawa kecil. "Tadi sudah cukup baik. Kau mau mencoba lagi?" Dino bisa saja menggendong Viero ke atas tubuh Alden, tentu, tapi menurutnya, akan lebih baik jika anak itu mencoba naik dengan usahanya sendiri.
Wajah Viero menunjukkan determinasi saat dia mengangguk. "Aku mau mencoba sekali lagi! Tadi salahku, aku menggenggam rambut Alden dengan terlalu kuat. Pasti sakit..." dia mengelus leher Alden. "Maaf, ya."
Alden mendengus pelan dan menyundulkan kepalanya ke pipi Viero lagi dengan lembut, seolah mengatakan "Tidak apa."
Melihat interaksi antara Alden dan Viero, Dino tidak bisa tidak tersenyum tipis. Memang benar, Alden termasuk ke dalam kuda yang jinak dan mudah dekat dengan siapapun, tapi bahkan Dino bisa menyadari bahwa ada ikatan tersendiri di antara Viero dan kuda itu.
"Baiklah, sekali lagi!" Viero berseru dengan bersemangat sambil kembali melakukan langkah-langkah yang Dino tunjukkan tadi. Kali ini, anak kecil itu memberikan perhatian kepada genggamannya di surai Alden dan, setelah bersusah-payah, akhirnya Viero dapat memosisikan dirinya di atas tubuh Alden.
"A-aku bisa! Aku berhasil, Paman Dino!" Sebuah senyuman yang sangat cerah hadir di wajah Viero saat dia mengatakan hal itu kepada Dino.
Dino tertawa kecil. "Bagus sekali, Viero!" dia bahkan tidak perlu memalsukan rasa bangga yang hadir di dalam suaranya. "Sekarang coba perintahkan Alden untuk berjalan. Pelan-pelan saja, jangan terlalu cepat."
Dino mengawasi saat Viero melakukan arahannya dan, dengan senyuman, berjalan kembali ke arah Ciel yang menunggu dengan sabar. "Hey, maaf membuatmu menunggu, Ciel," gumamnya lembut seraya mengelus surai kuda itu. "Sudah siap berlari, hmm?"
Ciel meringkik menanggapi perkataan Dino, membuat sang Don Cavallone itu tertawa sebelum dia, dengan mudah, mengayunkan tubuhnya sendiri ke atas tubuh kuda hitam itu. Dino membungkukkan tubuhnya sampai dia bisa menyentuh leher Ciel dengan lembut dan berbisik, "Ayo."
Hanya dengan satu bisikan itu dan tubuh gagah Ciel pun mulai berlari, dengan kecepatan sedang, pada awalnya, sebelum semakin lama semakin cepat hingga akhirnya melakukan gallop. Dino memegang tali kekang Ciel dengan pasti, sebuah senyuman puas hadir di wajahnya saat dia merasakan terpaan angin di wajahnya.
Dia mengelilingi lapangan pacu itu sekali, sebelum mengarahkan Ciel ke bagian lapangan yang memiliki palang rintang dan membawa kuda hitam itu melompat-lompat lincah melewati setiap rintangan yang dia hadapi. Tak satupun palang rintang yang terjatuh dari tiangnya.
Dino tertawa lepas saat menunggangi Ciel. Cara tubuhnya bergerak seolah menyatu dengan gerakan tubuh kuda itu yang berlari dengan lincah. Don Cavallone itu terlihat benar-benar sangat senang saat ini.
Viero menatap sosok Dino yang sedang menunggangi Ciel dengan pandangan takjub. Ini pertama kalinya dia melihat Dino berkuda dan dia benar-benar kagum. "Woah! Kau lihat itu, Alden? Paman Dino dan Ayahmu terlihat benar-benar hebat di sana! Suatu saat nanti kita juga harus bisa seperti itu, ya?" gumamnya.
Alden meringkik, menyetujui perkataan Viero, sebelum berjalan dengan tenang lagi mengitari sisi lapangan pacu itu.
-O-
Waktu berlalu dan tanpa dirasa malam pun telah menggantikan posisi siang. Matahari tenggelam dan beristirahat sementara Bulan keluar dari tempat persembunyiannya, menggantikan posisi Sang Surya untuk memberikan seberkas penerangan ke dunia, walaupun dengan sinar pinjaman.
Dino sendiri sudah berada di tempat tidurnya yang nyaman. Dia menanggalkan pakaian sehari-harinya, memilih untuk tidur hanya dengan menggunakan sebuah T-shirt dan celana panjang. Kelelahan karena aktivitasnya seharian ini menemani Viero mulai menguasainya dan dia pun merebahkan diri dengan sebuah helaan napas yang panjang.
Menatap ke arah langit-langit tempat tidurnya, Dino tidak bisa tidak tersenyum tipis mengingat satu hari yang dia lewati bersama Viero.
Setelah berkuda bersama, mereka kembali ke Head Quarter untuk makan siang dan Dino mengundurkan diri untuk bekerja sementara Viero bermain dengan anak buahnya. Melewati hari bersama Viero benar-benar terasa menyenangkan, mungkin karena anak itu memberikan suatu keceriaan yang sudah jarang didapatkan di Mansion Cavallone.
Walaupun menyenangkan, tapi menghabiskan waktu bersama anak kecil yang sangat enerjik, dan mengerjakan tugas-tugasnya, juga sangat melelahkan. Jadi, bukan hal yang aneh jika tak butuh waktu yang lama bagi Dino untuk terlelap setelah dia memejamkan matanya.
Tidur Dino terganggu. Dia tidak tahu berapa lama dia sudah terlelap, namun instingnya dengan segera memberitahunya atas adanya gangguan. Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Don Cavallone itu untuk mencapai keadaan waspada, walaupun dia sama sekali tidak mengubah posisi tidurnya. Dino menajamkan pendengarannya, berusaha untuk menandai apa yang telah mengganggunya.
Dia tidak bisa merasakan adanya keinginan untuk membunuh dan hal itu membuatnya sedikit lega.
Suara langkah kaki kecil yang berjalan di atas lantai berkarpet tebal dapat terdengar dan, tak lama kemudian, tempat tidur Dino sedikit menurun karena adanya tambahan berat badan yang menaikinya.
"...Paman Dino?" Suara bisikan Viero akhirnya terdengar dan Dino mendesah pelan, lega bahwa bukan pembunuh bayaran yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Hmm?" dia merespon panggilan anak kecil itu, bergerak agar dia bisa melihat sosok Viero.
Apa yang Dino lihat membuat napasnya serasa tercekat di tenggorokan. Mata hazel Viero terlihat sembab dan basah oleh air mata yang tertahan dan anak itu benar-benar terlihat kacau. Dino dapat segera menebak apa yang sudah terjadi.
"Mimpi buruk?" tanyanya lembut seraya bangkit ke posisi duduk dan mengelus pipi Viero.
Viero mengangguk pelan dan bergerak mendekati Dino, dengan senang hati menerima pelukan yang diberikan oleh pria berambut pirang itu. "Aku kangen rumah..." bisik Viero lirih.
Dino tersenyum tipis. "Aku tahu. Terkadang aku juga kangen rumah saat aku harus bekerja ke luar negeri dalam waktu yang lama." Dia berkomentar ringan. "Apa mimpimu yang membuatmu kangen rumah, hm?"
Dino dapat merasakan Viero mengangguk di pelukannya. Mengelus rambut hitam lembut anak itu, dia terdiam untuk beberapa saat sebelum berkata, "Boleh aku tahu apa yang kau lihat di mimpimu?"
"Aku... bermimpi soal Ayah." Viero membalas dengan suara rendah.
"Ayah? Maksudmu Kyouya di masa depan?" Dino mengklarifikasi dan Viero pun mengangguk sekali lagi. "Hm. Memangnya ada apa dengan Ayahmu? Kenapa bisa menjadi sebuah mimpi buruk?"
Kali ini, keheningan menjawab pertanyaan Dino. Pria berambut pirang itu memang tak bisa melihat wajah anak kecil itu, tapi dari gerak tubuhnya yang terlihat tak nyaman, dia dapat menduga bahwa ini adalah salah satu dari banyak rahasia yang tak bisa dia ungkapkan kepada siapapun.
"Tak bisa menjawabnya?" dia bertanya lembut dan hanya mengangguk saat Viero menggumamkan suatu konfirmasi. "Kalau begitu, bisa kau ceritakan mengenai keluargamu? Mungkin kau akan merasa sedikit lega setelah menceritakannya."
Viero terdiam sesaat sebelum dia membetulkan posisinya untuk bersandar dengan lebih nyaman di pelukan Dino. "Mm. Aku punya seorang adik," dia memulai dan Dino merasa dia harus mendengarkan cerita Viero dengan seksama. "Adik perempuan. Namanya Delythia. Dia dua tahun lebih muda dariku dan sangat manis."
"Nampaknya kau menyayangi adikmu itu, ya, Viero." Dino berkomentar lembut.
"Mmhm! Sangat sayang! Walaupun begitu, Ayah jauh lebih sayang kepada Lythia. Papa sering berkata bahwa Ayah sangat pro-tek-tif kepada Lythia tapi biasanya Ayah selalu menyangkalnya." Viero tertawa kecil. "Aku biasanya bermain bersama Lythia dan terkadang... kami tidur bersama," perkataan Viero diakhiri dengan sebuah kuap yang sangat besar.
Tertawa, Dino mengelus rambut Viero lagi sebelum berkata, "Kau mengantuk. Mau tidur di sini?"
"Boleh?" Viero mendongak untuk memandang Dino dengan tatapan antusias dan penuh harapan.
"Tentu," Dino menjawab dengan ringan. Dia kemudian merebahkan diri di atas ranjangnya lagi, membuat tubuh kecil Viero yang masih di pelukannya ikut turun. "Aku akan menjaga agar mimpi burukmu tidak datang lagi."
Viero memberikan sebuah senyuman yang nampak mengantuk ke arah Dino dan dia mengusap matanya pelan sebelum mencari posisi yang nyaman di atas ranjang besar milik Dino itu. Setelahnya, dia menarik selimut hingga menutupi dirinya dan memejamkan mata.
Tidak butuh waktu lama bagi anak kecil itu untuk kembali terlelap ke alam mimpi, kali ini merasa aman karena kehangatan tubuh Dino yang memeluknya.
Dino tersenyum menatap wajah tertidur Viero. Melihat wajah anak kecil ini dari dekat, dia sekali lagi dibuat takjub dengan kemiripan yang dia dapat antara Viero dan Hibari. Biasanya, kemiripan itu tidak terlalu nampak karena senyuman lebar yang hampir selalu hadir di wajah Viero saat dia terjaga, tapi bila sedang terlelap seperti ini, wajah tenang dan damai Viero benar-benar mirip dengan wajah Hibari.
Hal itu membuat dada Dino sedikit sakit. Dia benar-benar merindukan Hibari saat ini. Sayang dia tahu kalau tidak akan mungkin dia bisa bertemu dengan pria berambut hitam itu selama Hibari masih menjalankan misinya.
Sebuah helaan napas pelan dapat terdengar dari Dino dan dia berbisik, "Cepatlah pulang, Kyouya," sebelum memejamkan matanya dan, sekali lagi, membiarkan kantuk mengambil alih atas tubuhnya. Kali ini, tidurnya tidak terganggu hingga pagi kembali menjelang.
-O-
Gerah. Sesak. Panas.
Viero merintih pelan sebelum membuka matanya yang entah kenapa terasa sangat berat. Napasnya tidak teratur dan terengah, peluh membasahi dahi dan bajunya. Mata hazel anak kecil itu nampak tidak fokus dan semburat merah hadir di wajahnya.
"Paman... Dino?" suara Viero terdengar sangat lemah saat dia melihat wajah khawatir Dino yang menunggu di sisi ranjang. "Apa-? Aku merasa... pusing," lanjutnya dalam sebuah gumaman.
Dino tersenyum kecil walaupun kekhawatiran masih jelas terlihat di wajahnya. "Kau demam, Viero. Mungkin karena itu kau merasa pusing." Ujarnya dengan nada lembut.
"Demam...?" Setelah Dino mengatakan hal itu, barulah Viero menyadari adanya sebuah kain basah yang hangat tertempel di dahinya, sebuah cara tradisional untuk menurunkan suhu tubuh. "Aku tak suka sakit." Viero melanjutkan dengan nada merajuk. Bibirnya tertarik ke bawah, membentuk suatu ekspresi cemberut.
"Tidak ada orang yang suka jatuh sakit." Dino menanggapi seraya tertawa kecil. "Apa kau mau makan sesuatu? Agar bisa minum obat setelahnya."
Membayangkan soal makanan saja sebetulnya sudah membuat Viero merasa mual, tapi dia tahu Dino hanya akan semakin khawatir jika dia benar-benar tidak makan apapun. Lagipula, dia juga tidak mau berlama-lama sakit seperti ini.
"Bubur... mungkin tak apa. Sedikit saja," bisiknya walaupun kelopak matanya yang terasa sangat berat perlahan-lahan mulai tertutup lagi. Sebelum kantuk bisa benar-benar menghampirinya, Viero dengan segera membuka matanya. Dia tidak mau tertidur lagi.
Segera setelah dia mendengar jawaban dari Viero, Dino meminta tolong kepada Romario untuk membawakan bubur hangat yang sudah dimasakan oleh Chef keluarga Cavallone sebelumnya. Tangan Kanan Dino itu hanya mengangguk dan, tanpa kata-kata, berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Dino hanya berdua dengan Viero yang sedang demam.
Sang Don Cavallone duduk di tepi ranjang dan menggantikan kain basah di dahi Viero. Mata hazelnya benar-benar terlihat khawatir saat dia memandang sosok anak kecil yang terbaring lemah itu.
"Apa karena kecapekan kemarin, ya..." dia bergumam pelan pada dirinya sendiri, mencoba untuk menerka penyebab penurunan kondisi kesehatan Viero yang terhitung sangat tiba-tiba.
"Aku harap besok demammu sudah turun, Viero." Lanjutnya dalam bisikan seraya mengusap peluh yang hadir di kening Viero.
Tidak ada respon apapun dari anak kecil itu. Dia hanya terus memandang Dino dengan sepasang manik hazel yang terlihat tidak fokus. Walaupun dia sedang demam, tapi Viero merasa kedinginan dan dia menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Ah, hey, Viero! Kau akan semakin sulit bernapas jika kau menutupi kepalamu seperti itu!" Dino menarik selimut itu, tidak sepenuhnya dari tubuh Viero, tapi setidaknya sekarang kepala anak itu tidak tertutupi lagi.
Usaha Dino dibalas dengan sebuah tatapan tajam, yang bahkan mampu membuat Dino menelan ludah, dari seorang anak kecil yang sedang demam. "Aku kedinginan, Paman Dino!" ujar Viero dengan nada merajuk.
Dino menghela napas. "Itu karena demammu tinggi. Memutus aliran udara yang bisa kau dapatkan tidak ada gunanya." Dia mencoba menjelaskan.
"Kalau aku memang demam, harusnya aku merasa panas, kan? Bukan dingin. Berarti aku tidak demam." Viero terdengar begitu yakin saat dia mengatakan hal itu, membuat Dino tertawa kecil.
"Bukan begitu. Kalau demammu tinggi, kau memang justru akan merasa dingin. Itu suatu cara bagi tubuhmu untuk mencapai keadaan setimbang." Dia berhenti sejenak. "Setidaknya, itu yang kudengar."
Viero mendengus dan Dino takjub seorang anak kecil bisa menghasilkan suara yang terdengar sangat merendahkan seperti itu. Sayangnya, sebelum dia bisa mengeluarkan protes lain, pintu kamarnya terbuka dan Romario berjalan masuk, sebuah nampan berisi mangkuk bubur, segelas air putih dan sebotol obat di tangannya.
Dino mengambil mangkuk bubur itu dengan sebuah ucapan, "Grazie," yang pelan kepada Romario. Setelahnya, dia mengalihkan perhatiannya ke arah Viero. "Kusuapi."
Viero tidak berkata apa-apa, hanya bergerak sedikit untuk bangkit ke posisi duduk di atas tempat tidur itu. Dia masih merasa sangat pusing, tapi setidaknya dia bisa melakukan hal itu—walaupun dengan kesulitan.
Rasa khawatir tumbuh semakin besar di diri Dino saat dia melihat kondisi Viero yang jelas-jelas sangat lemah, tapi dia tidak berkata apa-apa, hanya menyuapi anak itu dalam diam.
Hanya setengah mangkuk dan Viero sudah memalingkan wajahnya, menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti, "Sudah."
Dino berhenti menyuapi Viero, walaupun dia masih merasa sebaiknya Viero makan sedikit lebih banyak lagi. Walaupun begitu, Dino tahu memaksa Viero untuk menghabiskan buburnya bukanlah ide yang bagus. Bukan tidak mungkin anak itu justru akan muntah jika dipaksa.
Setelahnya, Dino memberikan air dan obat kepada Viero. Dia mengawasi saat anak itu meminum obatnya sebelum kembali merebahkan diri di atas ranjang, demam membuatnya memilih untuk beristirahat lagi.
Dino mengusap peluh di dahi Viero dengan khawatir. Saat ini, tidak ada apapun yang bisa dia lakukan selain berharap kondisi Viero akan membaik esok hari.
Membungkuk, Dino mencium kening Viero. "Sogni d'oro, Bambino."
-O-
Dua hari telah berlalu, tapi kondisi Viero masih belum membaik. Mereka sudah ke rumah sakit setelah demam Viero masih terus meningkat keesokan harinya, namun nampaknya para dokter yang ada di sana pun tidak bisa mengetahui secara pasti penyebab menurunnya kondisi tubuh Viero.
Dino tidak bisa melakukan apa-apa, hanya mengawasi dan menjaga anak kecil itu dengan khawatir. Demam yang tinggi membuat Viero sering mendapat mimpi buruk dan mengigau, sebagian besar tentang rumahnya dan hal itu membuat Dino merasa bersalah.
Viero, pada dasarnya, adalah seorang anak kecil yang berada di tempat asing. Bukan tidak mungkin anak itu rindu atas rumahnya dan bukankah seorang anak kecil yang sedang sakit akan memilih berada di lingkungan yang dia kenal?
Dino menghela nafas. Rasa khawatir membuatnya tidak bisa fokus ke pekerjaan yang ada di depannya. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya yang nyaman dan memejamkan matanya. "Ternyata seperti ini susahnya menjaga anak," gumamnya setengah becanda.
Romario yang mendengar gumaman itu tertawa kecil. "Oh, ini hanya sebagian kecil dari kesulitan yang akan anda dapatkan saat mengurus anak, Boss. Percaya padaku." Timpalnya.
Sebuah senyum tipis hadir di wajah Dino dan dia membuka matanya untuk menatap ke arah Tangan Kanannya itu. "Kau merasakan kesulitan yang sama saat menangani Anthonio, anakmu?"
"Anthonio tidak terlalu sulit," Romario menjawab. Ada jeda yang dia gunakan untuk menghisap batang rokoknya dan menghembuskan asap abu-abu ke ruangan sebelum dia melanjutkan. "Seorang anak kecil yang sangat sulit kuurus ternyata nantinya akan tumbuh menjadi seorang Don Cavallone yang sangat kompeten."
Wajah Dino memerah mendengar perkataan Romario dan dia baru saja akan memprotes saat telepon yang berada di meja kerjanya berdering. Dino mengangkat alis. Tidak banyak orang yang memiliki akses langsung untuk menghubungi Dino di nomor itu, jadi dia tahu siapapun yang meneleponnya saat ini memiliki berita yang sangat penting.
Dino mengangkat telepon itu. "Ya?"
Suara Tsuna membalas sapaannya dan Dino baru saja akan tersenyum saat perkataan Tsuna yang terdengar terbata-bata masuk ke telinganya. Mata hazel Dino melebar dan untuk sesaat dia tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya.
"Tunggu, Tsuna, aku tak—bisa kau ulangi perkataanmu tadi?"
Sawada Tsunayoshi menelan ludah. Dia bisa mendengar ketakutan dan kekhawatiran di dalam suara Dino, tapi dia mengulangi perkataannya.
"Hibari-san telah selesai menjalankan misinya. Dia sedang berada di ruang perawatan Vongola saat ini. Kondisinya cukup parah. ... D-dia koma dan kami tidak tahu kapan dia akan terbangun."
-O-
