Tentang Masa Depan, Natal dan Keajaiban
~Bagian Keenam~
sebuah fanfiksi dari Katekyou Hitman Reborn (c) Akira Amano
Pairing: D18
Perhatian: Shounen-ai, BL, OC yang memegang peranan penting, hints character death.
Summary: Kehadiran seorang anak kecil dari masa depan mengubah pandangan Hibari tentang kehidupan
Suara derap langkah yang cepat dapat terdengar memenuhi koridor Vongola Mansion di Jepang saat Don Cavallone beserta sepuluh orang anak buah kepercayaannya berjalan menuju ke ruang perawatan khusus yang dibangun secara rahasia di tempat itu.
Wajah Dino terlihat sangat pucat, kedua alisnya bertaut karena khawatir dan dia tidak memperlambat langkahnya sampai dia berada di depan Tsuna yang sedang menunggu di luar sebuah kamar yang tertutup. Gokudera dan Yamamoto pun hadir menemani sang Don Vongola itu.
"Tsuna—" Dino memanggil, suaranya terdengar sedikit aneh, seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Dia menatap ke arah Don yang lebih muda darinya itu dengan mata nyalang dan dipenuhi dengan kekhawatiran. "—bagaimana...?"
Tsuna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jelas-jelas hanya dia tunjukkan agar pria yang sudah dia anggap sebagai kakak itu tidak terlalu khawatir, sebelum berjalan menghampiri Dino. Mata cokelat Tsuna yang hangat mengamati penampilan kakaknya itu dan dia merasa sedikit bersalah telah memberitahukan kabar buruk ini kepada Dino. Walaupun, Tsuna tahu Dino akan sangat marah kepadanya jika dia merahasiakan hal sebesar ini.
"Para dokter sudah melakukan apa yang mereka bisa dan Ryouhei-niisan juga sudah membantu dengan menggunakan Sun Flame-nya. Walaupun begitu," Tsuna menelan ludah sebelum melanjutkan perkataannya lagi, "Hibari-san masih ... berada dalam keadaan koma saat ini. Tidak ada satu orang pun yang tahu kapan dia akan sadar dan—jika dia tidak sadar juga ...," ia terdiam, tidak mampu melanjutkan perkataannya.
Mata Dino terpejam saat dia mendengar perkataan Tsuna. Oh, Tuhan, dia tidak bisa membayangkan jika Hibari tidak pernah tersadar. Bahkan saat ini pun ia sudah merindukan sepasang manik gelap yang selalu menatap ke arahnya dengan sinar arogansi itu.
Mengatur emosinya, butuh waktu beberapa saat sebelum Dino bisa menemukan suaranya lagi untuk bertanya, "Apa aku dan Viero bisa melihatnya di—" mata Dino menatap pintu kayu kokoh yang masih tertutup itu dengan pandangan khawatir, seolah dapat melihat sosok kekasihnya yang tertidur di dalam sana. "—dalam? Dia sudah boleh dijenguk?"
Tsuna tersenyum. "Ya. Jika hanya oleh kalian berdua. Dokter bilang sebaiknya tidak ada terlalu banyak orang di dalam sana."
Dino menghela napas lega sebelum dia akhirnya menemukan sebuah senyuman getir untuk Tsuna sambil mengucapkan, "Terima kasih," dan berjalan masuk ke dalam ruangan setelah menggendong Viero yang sedari tadi menggenggam tangannya.
Anak kecil itu masih demam dan sebetulnya Dino sangat tidak ingin membawanya ikut serta, namun dia bersikukuh. Dino akhirnya menyadari bahwa anak seorang Hibari Kyouya memiliki sifat keras kepala yang bahkan akan melebihi Ayahnya itu. Sudah jelas Dino akhirnya kalah melawan argumen Viero dan, setelah membuat Viero berjanji untuk tinggal di kamar tamu untuk beristirahat apabila dia lelah, Dino pun akhirnya setuju untuk membawa Viero ikut serta. Lagipula, anak itu memiliki hak untuk melihat Ayahnya yang sedang sakit.
Menginjakkan kaki untuk pertama kali di dalam ruangan itu, hal pertama yang menginvasi indera Dino adalah bau alkohol yang digunakan untuk mensterilkan berbagai peralatan yang digunakan di dalam ruangan. Selanjutnya, suara detik jam dan bunyi konstan yang menunjukkan ritme jantung Hibari menyusul, menyusup masuk ke dalam telinganya dan membuat Dino merasa sesak untuk beberapa saat.
Dino tidak pernah suka rumah sakit ataupun bau bahan-bahan steril. Semua itu hanya memberikan kenangan-kenangan buruk baginya dan dia tahu Hibari juga tidak menyukainya. Sayang sekali untuk kali ini pria berambut hitam itu tidak akan bisa menyatakan keberatannya, karena dia sendirilah yang membutuhkannya.
Nyaris tanpa disadarinya, kedua kaki Dino telah membawanya sampai ke sisi ranjang dan dia menatap sosok Hibari yang terlelap dan dipenuhi dengan berbagai kabel dan selang untuk membantu mempertahankan hidupnya dengan suatu perasaan getir.
Hibari pasti akan sangat marah jika dia bisa melihat semua ini. Dia pasti akan berkata tubuhnya tidak selemah itu sehingga harus membutuhkan bantuan mesin hanya untuk bekerja.
Sayang sekali tidak ada satu pun kata-kata tajam yang bisa dikeluarkan oleh Hibari saat ini.
"... Ayah terlihat kesakitan."
Bisikan lembut Viero membuat Dino tersenyum getir. Dia memperhatikan wajah Hibari dan mendapati bahwa perkataan anak kecil itu benar. Bahkan dalam keadaan koma kedua alis Hibari bertaut, seolah-olah dia sedang berada dalam keadaan tidak nyaman.
Hal ini membuat Dino semakin khawatir.
"Kau benar, Viero. Apa mungkin operasinya tidak berjalan dengan lancar?" dia bergumam, setengah kepada dirinya sendiri.
"Bukan," tanpa Dino duga, Viero menjawab perkataannya sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Ayah ... masih kesakitan. Ada ... racun di dalam ... tubuh Ayah yang belum ... dikeluarkan." Anak kecil itu mencoba menjelaskan walaupun dengan terbata-bata karena demam yang masih dia derita.
Dino mengalihkan perhatiannya ke arah Viero, keterkejutan nampak jelas di wajahnya. "Racun...? Darimana kau tahu soal itu, Viero? Apa kau yakin? Apa—apa Kyouya—maksudku, Ayahmu, juga mengalami hal ini?"
Viero tidak menjawab pertanyaan Dino untuk beberapa saat, namun dia menolehkan wajahnya untuk memberikan sebuah senyuman ke arah pria berambut pirang itu. "Kurasa Paman Dino seharusnya berbicara dengan Paman Tsuna terlebih dahulu. Aku bisa menjaga Ayah di sini." Ujarnya.
Dino terlihat tidak yakin untuk beberapa saat, karena dia merasa meninggalkan Viero sendirian di ruangan ini bukanlah ide yang bagus. Seolah mengetahui keraguan Dino, Viero tersenyum. "Tidak apa-apa, kok, Paman Dino. Aku akan baik-baik saja. Paman Dino pasti ingin tahu apa yang telah terjadi kepada Ayah, kan?"
"... Tidak ada kemungkinan aku mengetahui hal itu darimu?" Dino mencoba bertanya sambil tersenyum lemah
Viero tertawa kecil. "Tidak boleh. Kau tahu peraturannya, Paman Dino. Aku tidak boleh memberitahukan apapun mengenai masa depan kepadamu. Lagipula, Paman Tsuna akan bisa memberikan jawaban bagimu."
Sebuah helaan napas yang berat keluar dari bibir Dino, tapi pria itu tahu Viero hanya mengatakan hal yang sebenarnya. "Baiklah, baiklah ..." dia tersenyum dan mengacak rambut Viero dengan sayang. "Kau ikut atau ingin tetap di sini, Viero?"
"Aku tetap di sini saja, Paman Dino." Anak kecil itu menjawab sambil tersenyum. "Aku ... ingin menemani Ayah." Mata Viero tidak menatap Dino secara langsung saat dia mengatakan hal itu dan Dino tahu kalau anak kecil itu hanya berkata setengah jujur.
Walaupun demikian, Dino sadar ada beberapa rahasia yang tidak bisa diberitahukan ke orang lain dan dia menganggap bahwa ini adalah salah satunya. Pria berambut pirang itu tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Akan kuminta Romario untuk berjaga-jaga di depan kamar, walaupun mungkin tidak perlu ..." bagian terakhirnya diutarakan dalam sebuah gumaman untuk dirinya sendiri.
Melihat tingkah Dino, Viero hanya bisa tertawa kecil. "Sudahlah ... Paman Dino pergi saja. Aku dan Ayah ... kami akan baik-baik saja."
Dino masih terlihat ragu, tapi tatapan mata Viero seperti memaksanya untuk meninggalkan dia dan Hibari di dalam ruangan itu, sehingga Dino menurut. Dia menghela napas pelan sebelum mengacak rambut Viero dengan sayang. "Jaga dia sebentar, ya, Viero," ujarnya seraya mengecup kening anak kecil itu.
Setelah melihat Viero mengangguk, barulah Dino berjalan keluar dari ruangan itu. Tsuna, Yamamoto dan Gokudera serta para anak buah Dino sendiri dengan segera menghampiri pria berambut pirang itu. Ekspresi wajah mereka terlihat khawatir.
Dino memberikan seulas senyuman lemah ke arah mereka sebelum mengalihkan perhatiannya pada Tsuna. "Tsuna, bisa kita bicara berdua?" nada suara Dino masih terdengar sedikit berat, mungkin karena benaknya masih dipenuhi kekhawatiran mengenai Hibari.
Tsuna dengan segera mengangguk. Dia bisa menebak apa yang ingin Dino bicarakan. Di sisinya, Gokudera seperti hendak mengatakan sesuatu—kemungkinan besar untuk menyuarakan keberatannya dalam meninggalkan Tsuna sendirian—namun sebuah tanda dari Yamamoto membuatnya terdiam.
Dino dapat melihat Tsuna melemparkan sebuah senyuman terima kasih ke arah Yamamoto dan tak bisa menahan suatu senyuman kecil yang terkembang di wajahnya. Sampai kapanpun, Yamamoto tidak akan pernah berubah. Dia tetap satu-satunya orang yang dapat mendinginkan situasi apapun dengan sangat mudah. Tentu saja, hal itu hanya berlaku selama tak ada orang yang membuatnya emosi dengan mencelakakan teman-teman terpentingnya.
Terkadang, melihat sifat seperti itu di tengah dunia mafia yang sangat gelap ini sangatlah menyenangkan.
Suara omelan Gokudera kepada Yamamoto masih terdengar samar saat Dino melangkah masuk ke dalam ruang kerja Tsuna mengikuti pemuda—ah, sudah bukan pemuda, tapi pria—yang ia anggap sebagai adik sendiri itu.
Dino menutup pintu kayu besar itu di belakangnya dan saat dia berbalik, Tsuna sudah mengambil tempat duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Bukan di belakang meja kerjanya, karena saat ini mereka tidak akan membicarakan soal pekerjaan. Dino paham bahwa Tsuna telah menganggapnya sebagai bagian dari keluarganya.
Sang Don Vongola duduk dengan posisi tubuh condong ke depan sementara tangannya bertaut di pangkuannya. Dino tersenyum tipis melihat sosok Tsuna dan dia berjalan mendekati pria itu, meletakkan tangannya di pundak Tsuna sebagai suatu gestur penenangan.
Tsuna mengangkat wajahnya saat dia merasakan tekanan di pundaknya dan memberikan sebuah senyuman yang tercampur dengan suatu penyesalan ke arah Dino. Sebuah helaan napas yang dalam lolos dari bibir Tsuna, namun setelahnya ia duduk dengan lebih tegak. Ekspresi wajahnya berubah. Ia siap menjawab pertanyaan dari Dino yang bahkan telah bisa Tsuna ketahui sebelum pria itu mengutarakannya.
Melihat bahwa Tsuna telah dapat menenangkan diri, Dino menyengir sebelum mengambil tempat duduk di hadapan pria yang lebih muda darinya itu. Kemudian, dia terdiam. Dino hanya duduk di sana dengan tenang, kedua tangannya bertaut di pangkuannya dan mata beriris hazelnya menatap Tsuna. Walaupun tak ada kata-kata yang terucap, tapi ekspetasi Dino agar Tsuna segera memulai penjelasannya dapat terasa dengan jelas.
Tsuna menghela napas lagi sebelum mengangguk kecil, seolah untuk meyakinkan dirinya sendiri, dan memulai penjelasannya dengan, "Aku minta maaf, Dino-san. Tadinya aku tak menyangka misi ini akan mengakibatkan Hibari-san terluka dengan parah. Lagipula, pada mulanya tugas Hibari-san hanyalah melakukan pemeriksaan dan pengawasan, sama sekali bukan hal yang berbahaya."
"Tidak perlu meminta maaf, Tsuna. Aku tahu kau tak akan mencelakakan satu orang pun anggota keluargamu." Dino menanggapi dengan nada yang hangat. Dia sungguh-sungguh tidak menyalahkan Tsuna atau siapa pun atas kecelakaan ini. ... Kecuali mungkin dirinya sendiri.
"Terima kasih," Tsuna tersenyum lega kepada pria yang lebih tua darinya itu sebelum kembali melanjutkan penjelasannya. Raut wajah Tsuna berubah serius. "Sebetulnya ... beberapa minggu yang lalu kami mendapat, ah, kabar mengenai kemungkinan adanya penyusup di lembaga penelitian gabungan antara Vongola dan Foundation. Alasan penyusupan diduga adalah untuk mendapatkan seluruh informasi mengenai percobaan mesin waktu yang sedang kami teliti," penjelasan Tsuna terhenti sejenak saat dia mengamati reaksi Dino terhadap berita ini. Lagipula, Dino sendiri tahu besarnya bahaya yang dapat terjadi jika informasi mengenai mesin waktu itu benar-benar jatuh ke tangan musuh. Tak ada satu pun diantara mereka yang ingin mengulang pertarungan dengan Byakuran.
Rahang Dino mengeras dan kedua tangannya pun terkepal erat. Untuk sesaat, Dino memejamkan matanya. Tsuna memberikan beberapa saat bagi Dino untuk menenangkan diri setelah semua memori yang sampai saat ini pun, Tsuna tahu, masih membingungkan bagi pria berambut pirang itu kembali berputar di benaknya.
Sebuah embusan napas yang sedikit bergetar dan anggukan kecil dari Dino, Tsuna pun kembali melanjutkan penjelasannya. "Karena penelitian ini merupakan penelitian gabungan antara Vongola dan Fondation, jadi aku merasa bahwa Hibari-san adalah orang yang paling tepat untuk menjalankan misi ini. Selaku pendiri sekaligus pemimpin Fondation, keterlibatannya di dalam penelitian ini tidak akan mengundang kecurigaan. Aku berharap hal ini tidak akan membuat penyusup itu menjadi waspada dan lolos sebelum kami sempat mengidentifikasinya,"
"Aku harus mengakui bahwa Hibari-san selalu membuatku terkejut," sebuah senyuman getir hadir di wajah Tsuna. "hanya dalam waktu tiga hari, dia sudah dapat mengidentifikasi penyusup itu," Tsuna beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah meja kerjanya untuk mengambil sebuah folder berwarna merah dengan tulisan: Classified terpampang jelas di depannya. "Cassandra Piroza. Anggota keluarga Corvino yang saat ini sedang dalam ... ketidaksetujuan dengan Vongola."
Tsuna memberikan folder itu kepada Dino. Dia tidak perlu melihat data-data yang ada di dalamnya. Semua data itu telah tersimpan di dalam kepalanya. Sang Don Vongola kembali duduk di kursinya dan melanjutkan penjelasannya sementara Dino membaca isi folder yang baru saja dia terima.
"Seorang perempuan dengan keberanian yang sangat besar. Mata-mata sekaligus pembunuh profesional dan ... juga seorang pengguna mist flame," Tsuna dapat melihat alis Dino yang terangkat sebagai reaksi atas perkataan itu dan tersenyum kecil. Tentu saja Dino tahu apa artinya itu. Lagipula, Hibari tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya kepada pengguna mist flame.
"Setelah mendapatkan informasi itu, Hibari-san berkata bahwa dia akan menangkap Cassandra," raut wajah Tsuna berubah murung dan Dino tahu bahwa perintah itu tidak turun dari Tsuna. Kemungkinan besar, Hibari sendirilah yang merasa harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Sendirian. Suatu rasa kesal terhadap Hibari muncul di diri Dino, tapi kekesalan itu tak bertahan lama. Bayangan diri Hibari yang masih terbaring lemah membuat kekesalan Dino menguap begitu saja. Pria berambut pirang itu kembali memfokuskan dirinya untuk menyimak penjelasan Tsuna.
"... pertarungan di antara mereka tak bisa dielakkan," suara Tsuna terdengar semakin dalam. "Pertarungan itu menyebabkan satu laboratorium penelitian di Foundation hancur total dan beberapa orang terluka. Kerugian yang terjadi tidak terlalu besar dan dapat diperbaiki dengan mudah, hanya saja ... nampaknya Cassandra lebih tangguh dari apa yang kami—atau Hibari-san—perkirakan," Tsuna menghela napas lelah. "Nampaknya, box weapon Cassandra mengambil bentuk seekor ular kobra dan bisa dari ular itu nyaris sama mematikannya seperti bisa ular kobra sebenarnya. Hanya saja, racun ini dibuat agar bekerja secara lambat, kemungkinan besar untuk memberikan ... kematian yang perlahan dan menyakitkan bagi korbannya,"
Tsuna tak bisa menatap ke arah Dino, namun kemampuan intuisinya membuatnya dapat merasakan rasa terkejut, khawatir dan, yang paling menyakitkan, ketakutan yang muncul dalam diri pria yang lebih tua itu. Tak ingin terlarut dalam suasana tidak mengenakkan ini, Don Vongola itu segera melanjutkan penjelasannya, "Shamal dan Ryouhei-niisan sudah melakukan apa yang mereka bisa, dan Hibari-san sudah melewati masa kritisnya. Aku yakin, Hibari-san akan segera terjaga. Dia bukan tipe orang yang akan mengalah begitu saja kepada kematian, kan?"
Dino tersenyum, menghormati usaha Tsuna untuk mengurangi kekhawatirannya walaupun bahkan ia pun dapat mendengar ketidakyakinan di dalam nada suara Tsuna. Walaupun demikian, Dino tahu hanya tenggelam dalam kekhawatiran tidak akan berguna banyak. Kondisi Hibari tidak akan berubah jika Dino hanya mengkhawatirkannya tanpa melakukan apa-apa. Saat ini, yang bisa Dino lakukan adalah memastikan Hibari mendapatkan perawatan terbaik hingga ia dapat sembuh dengan lebih cepat.
Mengangguk kepada dirinya sendiri, Dino telah mengambil keputusan. Ia meletakkan folder merah yang Tsuna berikan, setelah menghapal isinya, di atas meja. Kemudian, pria berambut pirang itu tersenyum kepada Tsuna. "Kau benar," komentarnya akhirnya. "Kyouya tidak akan mengalah bahkan kepada kematian sekalipun. Kita hanya perlu membantunya berjuang dengan memberikan perawatan terbaik untuknya," dan berharap hal itu sudah cukup baik.
Dino menelan ludah. "Kurasa sebaiknya aku kembali ke kamar Kyouya sekarang, jika kau tidak keberatan?"
"Ah, tentu saja tidak," Tsuna dengan segera beranjak dari kursinya saat Dino berdiri. Ia mencoba memberikan senyuman tulus ke arah Dino. "Aku berjanji Vongola akan melakukan semua yang kami bisa untuk merawat Hibari-san. Lagipula, Hibari-san adalah bagian keluarga kami yang penting."
Dino terkekeh. "Ya, aku tahu. Kyouya pasti kesal jika mendengar kau mengatakan hal itu, tapi aku bersyukur ia menjadi bagian dari keluarga Vongola." Ujarnya tulus.
Tsuna hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Dino. Ia bisa mengetahui besarnya kepercayaan yang Dino tempatkan kepadanya dan, sebisa mungkin, Tsuna berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan itu. "Aku sudah menyiapkan kamar untukmu dan anak buahmu serta Viero, Dino-san," pria berambut coklat itu mengumumkan seraya mengantarkan Dino menuju ke pintu. "jika kau akan menginap."
Tatapan yang Dino berikan kepada Tsuna sebagai respon dari perkataannya membuat pria yang lebih muda itu bersemu malu. Tentu saja Dino akan menginap. Tsuna sebetulnya mengetahui hal itu. Hanya saja, ia merasa kesopanan mengharuskannya menambahkan kalimat itu. Sekali lagi, Dino tertawa.
"Kalian orang Asia memang terkadang terlalu sopan!" cengiran Dino saat mengatakan hal itu menunjukkan bahwa ia tak merasa itu hal yang buruk.
"Masih lebih baik daripada orang-orang Itali yang tak bisa mengerti batas daerah personal, terkadang." Tsuna menjawab, juga dengan senyuman di wajahnya.
Perjalanan kedua pria itu kembali menuju ke ruangan tempat Hibari dirawat jauh lebih ringan daripada saat mereka meninggalkan ruangan Hibari. Sedikit beban kekhawatiran Dino telah terangkat. Setidaknya, dengan mengetahui penyebab pasti kondisi Hibari, mendapatkan obat untuk penyembuhan akan menjadi lebih mudah.
Dino hanya berharap tidak akan ada hal buruk yang terjadi selama masa perawatan Hibari.
.O.
Beberapa menit sebelum percakapan Dino dan Tsuna, Viero yang berada di dalam ruang perawatan Hibari menatap pintu besar yang membatasi ruangan itu dengan koridor mansion Vongola, memastikan tidak ada seorang pun yang hendak memasuki ruangan. Setelah puas dengan kesunyian yang ia dapatkan setelah menajamkan telinganya untuk beberapa saat, Viero memutar tubuhnya kembali ke arah tempat tidur di mana ayahnya terbaring lemah.
Rasanya aneh sekali melihat ayahnya yang sangat lemah seperti ini. Bagi Viero, sosok Hibari adalah sosok seseorang yang sangat mengagumkan. Sosok idola yang ditakuti sekaligus dihormati olehnya. Hibari adalah pelaksana aturan di masa Viero. Sosok orang tua yang tegas dan tak segan menghukum putranya itu apabila Viero melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh kedua orang tuanya. Walaupun demikian, Hibari juga selalu menemani Viero berlatih dan ia selalu menyempatkan waktu untuk membacakan Viero cerita pengantar tidur. Karena itulah, Hibari selalu terlihat kuat dan besar di mata Viero.
Melihat Hibari terbaring seperti ini terasa sangat asing dan mengingatkan Viero akan kenangan buruk yang ia harap dapat ia lupakan. Namun, justru karena itulah Viero sengaja dikirim ke masa lampau oleh Papanya. Untuk mengubah keadaan sehingga Viero di dunia ini, nantinya, tidak akan merasakan kesedihan seperti yang telah Viero rasakan.
Anak kecil itu berjalan mendekati ranjang Hibari dan naik—dengan agak susah payah—untuk duduk di sisi ranjang, berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengganggu selang-selang dan kabel-kabel yang terpasang dengan rumit di seluruh tubuh Hibari. Setelahnya, Viero merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna kuning dan kalung rantai dengan bandul berupa cincin berbatu kuning sebagai matanya.
Box weapon dan sun ring. Dibuat khusus untuknya dan telah dimodifikasi sehingga bahkan kekuatan api Viero yang masih terbilang lemah pun akan dapat membuka kotak tersebut. Tentu saja, Viero tetap harus berkonsentrasi penuh untuk bahkan menghasilkan sun flame yang akan dialirkan ke kotak di tangannya itu.
Bocah berambut hitam itu mengeluarkan bandul cincin dari kalung rantainya dan menyelipkannya di jari telunjuknya. Kemudian, Viero memejamkan matanya. Memfokuskan diri untuk mengingat perkataan papanya saat beliau mengajarkan Viero cara untuk menghasilkan api miliknya sendiri untuk pertama kali.
Apa yang kau butuhkan, adalah keinginan kuat untuk melindungi seseorang, Viero, suara papanya yang dalam dan hangat dapat Viero bayangkan dengan jelas sekarang, seolah pria itu benar-benar ada di sisinya dan menuntunnya melakukan tugasnya. Selama kau memiliki keinginan itu, maka kau akan dengan mudah menemukan sumber kekuatan di dalam dirimu. Fokuslah kepada sumber kekuatan itu. Bayangkan sebuah lilin kecil yang menyala di tengah kegelapan. Dekati lilin itu. Lalu, perlahan, buatlah agar api di puncak lilin itu berkobar dengan semakin kuat. Saat kau berhasil melakukannya ... kau akan melihat bahwa bahkan kau pun dapat mengeluarkan apimu sendiri.
Mudah bagi Viero untuk membayangkan lilin kecil yang tersembunyi di dalam dirinya, namun membuat api di kepala lilin itu berkobar dengan semakin besar adalah bagian yang tersulit. Keinginan yang kuat adalah kuncinya, Viero. Itulah yang selalu dikatakan oleh papanya. Dan kali ini, keinginan Viero untuk menyelamatkan ayahnya benar-benar kuat. Matanya terpejam dengan sangat erat, seolah hal itu akan dapat membantunya memfokuskan pikirannya. Lalu, tiba-tiba saja, api di kepala lilin itu seolah tersiram oleh bensin—berkobar dengan sangat kuat sampai-sampai Viero tersentak dan membuka matanya segera.
Dengan takjub, bocah itu melihat ke arah cincin di tangannya yang sekarang diselimuti oleh api berwarna kuning. Api itu masih terlihat tidak stabil dan, tidak mau kesempatannya menghilang, Viero segera mendekatkan cincinnya ke kotak senjata di tangannya—seperti yang papanya contohkan. Kemudian, kotak itu terbuka. Dari dalamnya, seekor kupu-kupu kuning terbang, menari di langit bebas untuk sesaat untuk merayakan kebebasannya, sebelum mendarat di pundak Viero.
Viero masih belum bisa percaya ia telah berhasil membuka kotak senjata miliknya sendiri dan suatu rasa bangga yang besar meluap di dalam dirinya. Papa pasti akan senang mendengar hal ini dan ayah—ayah. Satu kata itu mengingatkan Viero atas masa kini. Fokusnya kembali terarah ke sosok Hibari yang ada di hadapannya dan ia, tak tahu harus bagaimana, berkata kepada kupu-kupu yang masih hinggap di pundaknya,
"Tolong selamatkan ayah! Keluarkan racun yang ada di dalam tubuhnya! Kumohon!"
Untuk sesaat, Viero takut ia tidak mampu melakukan ini karena kupu-kupu itu hanya diam di pundaknya. Namun, kemudian, hewan kecil yang tak nyata itu terbang perlahan, meninggalkan tempat beristirahatnya, menuju ke arah Hibari. Viero memerhatikan, dengan penuh ketakjuban, saat kupu-kupu itu mendarat turun di dada Hibari—di titik tepat di mana jantungnya berada—kemudian kupu-kupu itu mulai menghisap cairan tidak berwarna dari dalam tubuh Hibari, bagaikan seekor kupu-kupu biasa yang sedang menghisap nektar dari bunga-bunga.
Proses ini berlangsung untuk beberapa lama, dan Viero hanya bisa terpaku di tempatnya. Matanya tak sekalipun lepas dari kupu-kupu yang sedang menyelamatkan nyawa ayahnya itu. Viero dapat merasakan kelelahan mulai menguasai dirinya, karena menggunakan flame-nya selama ini adalah kali pertama baginya, namun bersikeras untuk tidak membiarkan kelelahan itu mengalahkannya. Tidak selama belum semua racun telah dikeluarkan dari tubuh Hibari.
Akhirnya—setelah sekitar lima belas menit berselang—kupu-kupu itu seolah telah memenuhi jatah minumnya dan terbang kembali ke pundak Viero, meninggalkan Hibari, dan menghilang sebelum sempat menyentuh pundak anak kecil itu. Viero menghela napas lega, karena ia pun sudah dalam batas kemampuannya untuk memunculkan hewan kecil itu. Hal terakhir yang Viero lihat sebelum tubuhnya lunglai dan kehilangan kesadaran adalah mata gelap Hibari yang perlahan terbuka.
.O.
