Tentang Masa Depan, Natal dan Keajaiban

~Bagian Ketujuh~

sebuah fanfiksi dari Katekyou Hitman Reborn (c) Akira Amano

Pairing: D18

Perhatian: Shounen-ai, BL, OC yang memegang peranan penting, hints character death.

Summary: Kehadiran seorang anak kecil dari masa depan mengubah pandangan Hibari tentang kehidupan

A/N: Selamat tahun baru 2013! Ini adalah chapter kedua terakhir untuk cerita ini. Chapter selanjutnya adalah chapter terakhir yang, sayangnya, masih dalam proses pengetikan. Terima kasih untuk dukungan yang diberikan kepada cerita ini. Saya akan berusaha menyelesaikan chapter berikutnya secepat mungkin. :)


Dino Cavallone terduduk di sisi ranjang Viero. Kedua sikunya diletakkan di atas lututnya dan tubuhnya condong ke depan; Jemarinya yang bertaut menopang dagunya sementara mata hazelnya lekat menatap sosok bocah yang tertidur di atas ranjang dengan penuh perhitungan.

Sudah dua puluh menit berlalu semenjak Dino menemukan Viero tak sadarkan diri di ranjang Hibari. Pertama kali ia melihat sosok kecil itu terbaring lemah, jantung Dino seolah berhenti untuk sesaat dan tubuhnya terpatri kaku di tempat akibat ketakutan yang menguasai dirinya secara tiba-tiba. Saat itu, yang ada di pikirannya hanyalah bahwa ia tidak bisa kehilangan Viero. Tidak saat Hibari pun masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang putih itu.

Begitu kuatnya ketakutan yang melanda diri Dino, sampai-sampai ia tidak menyadari sepasang mata gelap yang menatap ke arahnya dalam diam—mengamati dan mencermati seluruh gestur tubuh pria berambut pirang itu—sampai suara tarikan napas tajam dari Tsuna seolah membawanya kembali ke masa kini dan kedua tungkainya telah membawanya ke sisi ranjang Hibari, bahkan tanpa ia sadari. Napas Dino tercekat saat mata hazelnya bertumbukan dengan kedua bola mata gelap Hibari. Bola mata beriris hitam gelap yang sempat Dino kira tak akan pernah ia lihat lagi.

"Kyou—" Dino menelan ludah, tangannya terulur ke arah pria berambut hitam yang hanya memandang Dino tanpa kata-kata. "Kyouya," suatu nada lega terdengar jelas dalam satu kata itu. "Kau ... tersadar. Bagaimana bisa...?"

Hibari tidak menjawab pertanyaan Dino secara verbal, namun bola matanya bergulir ke arah box weapon yang tergeletak di dekat tubuh Viero dan saat Dino mengikuti arah pandangan Hibari, matanya terbelalak. Belum pernah ia melihat box weapon seperti itu sebelumnya. Kotak tersebut berwarna kuning cerah dengan hiasan berupa batu-batu berwarna ungu, kuning, oranye dan indigo di keempat sisinya. Keempat batu yang menunjukkan flame berbeda. Suatu indikasi bahwa kotak senjata itu akan dapat dibuka oleh salah satu dari keempat flame tersebut dan, setahu Dino, belum ada teknologi apapun yang dapat membuat kotak senjata seperti itu di masa ini. Satu-satunya kesimpulan yang bisa Dino ambil adalah bahwa kotak senjata itu berasal dari masa depan dan sengaja diberikan kepada Viero sebelum ia kembali ke masa kini.

"Apa Viero menggunakan kotak senjata ini untuk menolongmu, Hibari-san?" suara Tsuna terdengar dari sisi Dino dan pria yang lebih tua itu sedikit terlonjak. Ia bahkan tidak menyadari saat Tsuna berjalan mendekatinya.

Sekali lagi, Hibari tidak memberikan jawaban secara vokal atas pertanyaan Tsuna. Tatapan matanya sekarang berubah menjadi sedikit kesal, seolah berkata, "Tentu saja, idiot," dan Dino tak bisa menahan senyuman yang muncul di wajahnya. Nampaknya, terlepas dari kenyataan bahwa ia sudah sangat dekat dengan kematian, Hibari Kyouya tetap tidak akan berubah. Hal itu membuat kekhawatiran Dino berkurang dengan drastis.

Tsuna, nampaknya berpikiran sama, terlihat sedikit menyesali pertanyaan bodohnya, namun ia segera menutupi kecanggungannya dengan berkata, "Aku akan memanggil Shamal ke sini dan memintanya memeriksamu," bola mata Tsuna bergulir ke arah Dino. "mungkin sebaiknya Viero dipindahkan ke kamarnya, Dino-san."

Dino hanya bisa mengangguk secara otomatis. Pikirannya masih tercerai-berai saat ini. Begitu banyak pertanyaan hadir di benaknya, namun semua itu seolah terpendam di dalam kelegaan yang membuncah dan menutupi segala emosi lain yang Dino rasakan saat ini. Dino mendengar suara pintu yang ditutup, tanda bahwa Tsuna telah undur diri dan sekarang benar-benar hanya mereka bertiga yang ada di dalam ruangan itu, namun ia masih bergeming. Sampai akhirnya Hibari memutar bola matanya pelan dan perlahan mengulurkan tangannya untuk menyentuh jemari Dino.

Sentuhan jemari Hibari yang dingin itu akhirnya memecah Dino dari kelumpuhannya dan kedua lutut pria berambut pirang itu tiba-tiba saja terasa lemas, tak mampu menopang berat tubuhnya, sehingga ia terduduk di lantai yang dingin, pandangannya sedikit buram saat menatap Hibari—akibat kumpulan air yang menggenang namun tak terjatuh di matanya. Don Cavallone itu membuka mulutnya, tak ada kata yang keluar, dan menutupnya lagi. Memutuskan untuk menarik napas dalam-dalam, Dino akhirnya dapat menenangkan diri. Perlahan.

Saat Dino merasa dirinya sudah cukup tenang, pria berambut pirang itu perlahan berdiri, hanya untuk duduk di sisi ranjang Hibari, memastikan bahwa ia tidak mengganggu Viero yang masih tak sadarkan diri di kaki ranjang. "... Kurasa sebaiknya aku membawa Viero ke kamarnya dulu," manik hazel Dino menatap sosok sang bocah dengan khawatir saat ia berbisik. "aku harap dia tidak apa-apa."

Hibari masih tidak berkata apa-apa, namun matanya terpejam untuk sesaat dan raut wajahnya terlihat lelah. Dino tersenyum lemah. Tentu saja. Walaupun Hibari sudah sadar, bukan berarti kondisi pria berambut hitam itu sudah pulih sepenuhnya. Don Cavallone itu merunduk untuk memberikan sebuah kecupan kecil di kening Hibari. Kelopak mata Hibari sedikit terbuka saat ia merasakan sentuhan lembut bibir Dino dan bola mata hitam pekatnya sekali lagi beradu dengan manik hazel Dino.

"Istirahatlah dahulu. Aku akan mengunjungimu lagi nanti, Kyouya," dengan kata-kata itu, Dino beranjak dari ranjang Hibari. Pria berambut pirang itu dengan lembut menggendong Viero. Kekhawatiran sekali lagi menyusupi dirinya saat bocah itu tak menunjukkan respon apapun. Hanya suara napas Viero yang berat dan suhu tubuhnya yang masih sedikit lebih tinggi dari normal yang meyakinkan Dino ia hanya tertidur.

Dino dengan segera membawa Viero ke kamarnya, mengucapkan beberapa kata perintah kepada Romario yang ditemuinya di tengah perjalanan untuk membawakan obat dan segelas air putih ke dalam kamar, dan membaringkan Viero di atas tempat tidur dengan nyaman. Dino tak bergerak seinci pun menjauh dari Viero. Pria berambut pirang itu hanya duduk di sisi tempat tidur dan memerhatikan si anak kecil yang tertidur pulas.

Dua puluh menit setelahnya, dan Dino masih menatap Viero dengan penuh perhitungan, walaupun kedua tangannya terkepal erat dalam suatu gestur berdoa bahkan tanpa ia sadari. Kekhawatiran berlomba dengan kecurigaan atas apa yang telah dilakukan Viero untuk menyembuhkan Hibari. Tidak ada sedikitpun keraguan di dalam diri Dino bahwa Vierolah yang telah menyembuhkan Hibari. Namun, pertanyaan yang sampai saat ini masih menggelayuti benak Dino adalah dengan apa dan mengapa Viero bisa menyembuhkan Hibari secepat itu, seolah anak kecil itu telah mengetahui dengan pasti apa yang harus ia lakukan.

Suara ketukan pelan di pintu mengalihkan perhatian Dino. Pria berambut pirang itu mengangkat kepalanya saat pintu kayu tersebut mengayun terbuka dan Romario masuk ke dalam kamar. Pria itu membawakan segelas air putih dan sebotol obat, yang Dino duga sebagai aspirin, di atas sebuah nampan di tangannya. Seulas senyuman tipis hadir di wajah Dino sebagai jawaban atas senyuman yang ada di wajah Romario saat tangan kanannya itu berjalan mendekatinya dan meletakkan nampan di meja kecil yang ada di sisi tempat tidur Viero.

Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat sebelum Romario akhirnya memecah keheningan itu. "Dokter Shamal akan ke sini setelah selesai memeriksa Hibari, Boss." Ujarnya.

Dino mengangguk, menunjukkan bahwa ia mendengarkan kata-kata Romario walaupun masih tak ada kata-kata yang ia utarakan.

Romario melirik bossnya yang terdiam dari sudut matanya, dalam hati bertanya-tanya apa yang ada di pikiran pria berambut pirang itu. Posisinya yang berada di bawah Dino membuatnya menahan lidahnya untuk mengutarakan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Lagipula, Romario tahu bahwa Dino tidak akan segan bercerita kepadanya jika ia membutuhkan saran mengenai masalah apapun yang ia hadapi.

"Ada yang Anda butuhkan, Boss?" Salah satu pertanyaan yang sekaligus menyiratkan bahwa Romario akan undur diri jika Dino memilih untuk sendirian saat ini.

Dino masih terdiam walaupun ia jelas mendengar pertanyaan Romario, sebelum akhirnya ia menarik napas panjang dan berkata dengan pelan, "Apa kau pikir terlalu egois bagiku untuk berharap bahwa Viero benar-benar anakku?"

Jika Romario terkejut dengan pertanyaan itu, ia tidak menunjukkannya. "Kurasa harapan akan selalu ada di dalam diri semua orang, Boss. Lagipula, Viero benar-benar anak yang baik. Tak heran jika kau berharap seperti itu."

Bibir Dino membiaskan senyum tipis. Ia menyandarkan punggung ke kursinya. "Kau benar, Roma, tapi … aku tak bisa menyingkirkan pemikiran anak ini sengaja dikirim ke masa lalu hanya untuk menyembuhkan Kyouya. Kurasa, seseorang di masa depan ingin mengubah masa lalunya sendiri." Apa yang tidak Dino katakan adalah bahwa ia menduga seseorang yang ia maksud adalah dirinya sendiri.

"… Kalau benar demikian, berarti kau perlu berterimakasih kepada siapapun yang mengatur kedatangan Viero ke masa ini. Bersabarlah sedikit, Boss. Natal hanya tinggal dua hari lagi."

Natal. Hari di mana Viero akan kembali ke masanya. Dino hampir melupakan hal itu karena keadaan Hibari yang tiba-tiba memburuk. Sang Don Cavallone kembali memfokuskan perhatiannya ke arah bocah yang masih tertidur, memasukkan ke dalam ingatan seluruh detail yang membentuk wajah Viero. Ah, Dino yakin ia akan merindukan bocah ini setelah Viero kembali ke masanya.

"Roma, tolong awasi Viero untukku. Kurasa sudah waktunya aku dan Kyouya membicarakan masalah ini." Dino beranjak dari kursinya dan berjalan ke luar ruangan setelah mendapat jawaban persetujuan dari Romario.

xXXx

Hibari nampaknya telah menunggu kedatangan Dino di kamarnya. Sang Guardian Vongola terduduk di atas ranjang, tubuhnya ditopang dengan bantal agar tetap tegak karena bagaimanapun juga kekuatannya belum pulih sepenuhnya, dan bola mata beriris hitam kelamnya dengan segera bergulir ke arah Dino saat ia memasuki ruangan.

"Kau terlihat jauh lebih baik sekarang, Kyouya," Kelegaan terdengar jelas dari nada suara Dino. Ia kemudian berjalan menghampiri Hibari sebelum mengambil tempat di kursi yang tersedia di sisi tempat tidur pasien. "Shamal sudah selesai memeriksamu?"

"Tidak ada gunanya memeriksaku. Kondisi tubuhku sudah stabil. Aku tak tahu mengapa Sawada bersikeras menahanku di sini." Hibari mendengus kesal, kedua tangannya terlipat di dada. Di mata Dino, ia terlihat sedang merajuk.

"Jangan berkata seperti itu. Tsuna hanya mengkhawatirkan keadaanmu. Kau berada dalam kondisi koma selama dua hari. Aku tak yakin kau benar-benar sudah tidak apa-apa," Dino menghela napas pelan, karena ia tahu HIbari tidak akan mengacuhkan perkataannya.

"Kalau bukan karena Viero … aku tak tahu apa yang akan kulakukan."

Hibari terdiam mendengar kesedihan yang menyusup ke dalam perkataan Dino. Sungguh, terkadang sang Don Cavallone terlalu melankolis, Hibari tak habis pikir bagaimana pria selemah Dino bisa memimpin keluarga mafia terbesar ketiga di dunia. Walaupun Hibari juga tahu Dino bisa menjadi sangat berbahaya saat ia serius mempertahankan keluarga Cavallone tercintanya.

Hibari kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil box weapon Viero yang diletakkan di meja kecil di sisi tempat tidurnya. Rasa ingin tahu telah mendorongnya untuk melakukan berbagai pengujian sederhana kepada box weapon yang telah menyelamatkan nyawanya.

"Kotak senjata ini dirancang untuk merespon hanya flame Viero," Hibari memulai penjelasannya dengan tenang. "Aku tak tahu pasti bagaimana pemodelan mekanis kotak senjata ini, tapi dari apa yang kulihat, nampaknya kotak senjata ini tidak terbatas dengan satu jenis flame. Spesifikasi dari kotak senjata ini disesuaikan untuk satu orang pengguna, alih-alih satu jenis flame, seperti menggunakan detektor sidik jari. Harus kuakui, teknologi Fondation saat ini bahkan belum mampu membuat kotak senjata seperti ini."

"Jika Viero sengaja membawa kotak senjata ini saat dia datang ke masa ini … berarti dia benar-benar dikirim untuk mengubah masa lalu," Dino menyimpulkan. Hibari tidak menyanggah teorinya, karena itu ia kemudian melanjutkan, "Dari apa yang kudengar, Viero datang ke masa ini atas perintah ayahnya—seseorang yang paham dengan baik konsep ruang dan waktu serta konsekuensi yang akan terjadi jika ada perubahan drastis di masa lalu. Walaupun demikian, ayah Viero tetap membiarkannya menyembuhkanmu—dengan begitu, dia telah mengubah seluruh rangkaian aliran waktu. Menurutmu, mengapa ia melakukan hal itu?"

Hibari mengesah pelan. "Kau tahu pasti apa pendapatku tentang hal itu, Cavallone. Kau memikirkan hal yang sama denganku."

Bibir Dino tertarik membentuk seulas senyum samar. "Kau akhirnya mengakui kemungkinan aku adalah ayah Viero?"

"Aku tak pernah membantah kemungkinan itu dari awal," Hibari hampir memutar bola matanya. "Tapi, kejadian ini memperkuat kecurigaanku. Aku hanya tahu satu orang bodoh yang akan berani mengubah aliran waktu dan masa depannya sendiri hanya demi menyelamatkanku."

Dino mendengar pernyataan yang tak disuarakan oleh Hibari. Ia mengulum senyum simpul sebelum raut wajahnya kembali serius. "Kalau teori kita benar … menurutmu apa yang terjadi di masa depan?"

"Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu tanpa data lengkap, tapi kurasa sesuatu yang sangat buruk, hingga satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah dengan mengubah masa lalu sepenuhnya."

"Kurasa aku bisa menebak apa yang terjadi," Dino tertawa getir. "Kalau aku benar-benar akan kehilangan dirimu, aku pun memilih untuk memutar kembali aliran waktu dan mengubah segalanya dari awal, Kyouya."

" … Kau memang sangat bodoh, Cavallone." Walaupun demikian, Hibari tahu ia akan melakukan hal yang sama. Ia tahu mereka berdua tidak akan dapat bertahan hidup di dunia tanpa didampingi oleh yang lainnya.

xXXx

Keesokan harinya, Hibari sudah cukup kuat untuk turun dari tempat tidur—tentu saja, tak ada seorang pun yang mengetahui hal ini sampai Hibari sendiri masuk ke dalam ruangan Dino secara tiba-tiba. Sang Awan Vongola terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, namun mata Dino yang sudah terlatih masih dapat menangkap tanda-tanda kelelahan di balik topeng dingin Hibari.

"Kau memang akan selalu memaksakan diri, Kyouya," Dino hanya bisa menggerutu karena ia tahu Hibari tidak akan mendengarkan perintah untuk beristirahat.

Hibari tidak mengacuhkan pertanyaan Dino, alih-alih ia mengambil tempat di sofa yang ada di dalam ruangan dan menatap ke arah Don Cavallone dengan tajam. "Bagaimana keadaan Viero?" Terjemahan: kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Kuda Bodoh, sekarang aku ingin tahu mengenai Viero dan kau akan menjawab semua pertanyaanku.

"Sudah jauh lebih baik. Shamal memeriksanya dan kondisi tubuhnya sudah stabil. Kurasa sebentar lagi ia akan bangun. Apa kau mau menemuinya?"

Hibari tidak menjawab Dino secara verbal. Ia hanya berdiri dan berjalan cepat kea rah kamar pribadi Dino yang terhubung dari kantornya. Ia berhenti sebelum membuka pintu, menoleh untuk memberikan Dino tatapan, "Sedang apa kau di sana? Cepat bergerak atau aku akan membuatmu menyesal."

Dino terkekeh. Yap, Hibari benar-benar sudah sehat sekarang. "Kalau Romario memarahiku karena pekerjaanku tidak selesai, kau yang akan bertanggungjawab, Kyouya." Hibari mendengus pelan, karena mereka berdua sama-sama tahu hal itu tak akan terjadi.

Saat mereka masuk ke dalam kamar Dino, Viero masih tertidur dengan lelap. Dino dan Hibari melangkah pelan ke sisi ranjang. Hibari kemudian duduk di tepian tempat tidur dan hanya menatap ke arah Viero. Dino berdiri di sisi Hibari, kedua iris hazelnya lembut dan bibirnya membentuk senyum melihat ekspresi Hibari saat ini.

"Viero pasti senang melihatmu di sini."

"… Hn. Kudengar dia demam saat aku menjalankan misi." Pernyataan itu terdengar seperti pertanyaan tersirat di telinga Dino.

"Ah, ya. Tapi demamnya hilang saat kau sadar, Kyouya," Dino menautkan kedua alisnya. "Mungkin demamnya sejak awal berhubungan dengan kondisimu? Viero tidak akan terlahirkan kalau kau tidak bertahan."

Hibari hanya mengangguk menanggapi perkataan Dino. Ia sudah memperhitungkan kemungkinan itu sebelumnya. Pria berambut kelam itu mengulurkan tangan untuk mengusap helaian surai hitam yang sangat mirip dengan miliknya. Hibari tidak akan mengatakan apapun secara lugas, namun ia sesungguhnya lega Viero tidak menghilang.

Nampaknya tidur Viero sedikit terganggu dengan elusan yang Hibari berikan, karena kedua kelopak mata bocah itu perlahan terangkat dan sepasang manik sewarna dengan langit malam bertemu pandang dengan iris kelam Hibari. Kantuk yang semula terlihat jelas di mata Viero segera menghilang saat ia menjerit senang dan melompat untuk memeluk Hibari.

"Ayah! Kau sudah sadar! Syukurlah!"

Tidak ada jeda yang terbuang sebelum Hibari melingkarkan kedua lengannya dengan aman di tubuh Viero untuk membalas pelukan bocah itu. Dino sendiri cukup terkejut melihatnya, tapi ia tidak mengatakan apapun bahkan saat Hibari berbisik pelan di telinga Viero, membuat kedua manik hitam sang bocah membulat sebelum butiran air mata berbondong memenuhi pelupuknya.

HIbari hanya mengatakan. "Terima kasih," tapi kalimat sederhana itu telah mampu mewakili apa yang Dino sendiri rasakan.

xXXx