Tentang Masa Depan, Natal dan Keajaiban

~Bagian Terakhir~

sebuah fanfiksi dari Katekyou Hitman Reborn (c) Akira Amano

Pairing:D18

Perhatian:Shounen-ai, BL, OC yang memegang peranan penting, hints character death.

Summary: Kehadiran seorang anak kecil dari masa depan mengubah pandangan Hibari tentang kehidupan

A/N: Akhirnya chapter terakhir ini selesai saya tulis! Dengan ini, TMDNK secara resmi berakhir. Setelah lebih dari satu tahun masa penulisan, ini pertama kalinya saya berhasil menamatkan sebuah cerita multichapter. Terima kasih untuk para pembaca yang telah memberikan alert/fav/reviews. Kalau bukan karena kalian, cerita ini tidak akan berhasil saya selesaikan. Selamat menikmati bagian terakhir dari cerita ini.


Dua hari berlalu dengan cepat saat kau menikmati tiap detiknya. Hal ini Dino sadari saat ia menatap pantulan dirinya dari cermin satu tubuh yang ada di kamarnya. Setelan jas semiformal berwarna hitam melapisi tubuhnya, dilengkapi dengan celana bahan yang senada. Hanya saja, kali ini Dino memutuskan untuk melewati dasi yang biasanya selalu terbentuk rapi di kerahnya. Lagipula, ia hanya akan menghadiri makan malam bersama Tsuna dan para guardian-nya untuk memeringati malam Natal. Tsuna pasti akan memaklumi jika Dino tidak berpakaian formal.

Dua hari. Hanya dua hari berlalu semenjak Hibari tersadar dari kondisi komanya. Dua hari sejak keadaan Viero kembali normal dan mereka berdua telah melakukan sparring kemarin, seolah kondisi mereka yang sempat membuat Dino khawatir setengah mati sebelumnya bukan apa-apa. Seulas senyum getir terbentuk di wajah Dino. Walaupun secara kepribadian Viero tidak terlalu mirip dengan Hibari, namun nampaknya bocah itu memang memiliki ikatan darah dengan sang penguasa Namimori.

Dino menghela napas pelan. Malam ini adalah malam Natal, yang berarti besok Viero harus kembali ke masanya. Besok, akhirnya Dino dan Hibari akan dapat bertemu dengan sosok misterius dari orang yang dipanggil 'Papa' oleh Viero. Jemari Dino merapikan pinggiran jasnya tanpa sadar, kekalutan perlahan menghampiri benaknya. Bagaimana jika ternyata dugaannya salah? Bagaimana jika ternyata papa Viero bukanlah ia dari masa depan? Dino benar-benar tidak ingin membayangkan kemungkinan itu.

"Berencana bersembunyi di sini seharian, Cavallone?"

Suara berat yang sudah sangat Dino kenal menelusup ke dalam telinganya. Seperti suatu reaksi spontan, senyum di wajah Dino pun terkembang. Dari cermin yang ada di hadapannya, Dino bisa melihat pantulan diri Hibari Kyouya yang baru saja memasuki ruangan. Hibari mengenakan pakaian yang sama seperti Dino, hanya saja, surai hitam legamnya entah bagaimana membuatnya nampak lebih elegan dalam balutan busana semiformal.

"Datang untuk menjemputku turun, Kyouya? Kau baik sekali."

"Jangan bermimpi," Hibari melangkah pelan mendekati Dino yang kini telah berbalik untuk berhadapan dengannya. Jemarinya yang ramping terulur untuk merapikan lipatan kerah kemeja Dino. Pandangan mata Hibari tenang saat ia melanjutkan, "Kalau kau memang berencana untuk bersembunyi di sini dan meninggalkanku bersama kerumunan herbivora itu, aku akan membunuhmu."

Dino tertawa renyah. "Untunglah aku telah berencana untuk turun sebentar lagi. Mana Viero?"

"Oh, aku yakin dia ada di bawah, bersosialisasi dengan yang lain seperti dialah penyelenggara acara. Aku tak tahu darimana dia belajar melakukan hal itu."

"Bukan dari Ayahnya, itu yang pasti." Karena tidak mungkin Hibari akan mengajari siapapun cara untuk bersosialisasi. Tidak sekarang dan tidak juga di masa depan.

Sudut bibir Hibari tertarik membentuk suatu senyum samar. "Tentu. Tapi, sesenang apapun Viero menjadi pusat perhatian para tamu, tetap saja dia menanyakanmu. Segeralah turun, Cavallone."

"Kita bisa turun bersama, Kyouya." Dino menyengir lebar seraya melingkarkan kedua lengannya di pinggang Hibari.

Hibari tidak menanggapi perkataan Dino secara verbal. Ia hanya melepaskan diri dari pelukan longgar Dino dan berbalik berjalan keluar dari ruangan. Ia tahu Dino akan segera mengikutinya. Lagipula, sang pria berambut pirang tidak akan pernah bisa tidak mengejar sosok Hibari.

xXXx

"Paman Dino!" Viero berlari menuju ke arah Dino dan Hibari saat mereka berdua melangkah ke dalam ruang makan utama markas Vongola di Jepang. Teriakan nyaring bocah itu menangkap perhatian para tamu yang terdiri dari teman-teman terdekat serta guardians Sang Don Vongola.

"Hei, Viero. Apa kau menikmati acaranya?" Dino mengangkat sang bocah berambut pirang ke gendongannya. Ia tersenyum lebar melihat binar keceriaan di dua kolam abu-abu yang balik menatapnya.

"Ya! Oh, Paman Tsuna bilang kita akan membuka kado natal malam ini, Paman Dino! Aku sudah tak sabar!"

"... Membuka kado natal?" Nada suara Hibari saat mengatakan hal itu membuat kalimat pertanyaan yang seharusnya sederhana menjadi sangat mengancam. Dino tersenyum maklum. Acara tambahan ini akan membuat Hibari terpaksa berbaur dengan keramaian lebih lama dari yang seharusnya. Tentu hal itu membuat Hibari kesal.

"Ah, Paman Tsuna juga bilang kita bisa melakukannya bertiga saja, Ayah!" Viero memberikan Hibari sebuah senyum lebar. "Paman Tsuna takut Ayah akan membunuhnya kalau tidak begitu."

Dino mendengus, tapi ia berhasil menahan tawa yang sudah ingin lepas dari bibirnya. Viero mungkin adalah satu-satunya orang yang bisa menggoda Hibari seperti itu tanpa mendapatkan hukuman yang sangat mengerikan. Dino sendiri tahu ia pasti akan mendapatkan suatu ciuman manis dari tonfa kesayangan Hibari jika kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Karena itu ia secara bijak memilih untuk bungkam.

Hibari memberikan Dino sebuah tatapan tajam, tapi ia menahan diri dari melakukan kekerasan. Lagipula, ia tidak akan mau melibatkan Viero ke dalam pertengkaran mereka dan ada banyak cara bagi HIbari untuk menghukum Dino nantinya. Sang Guardian Awan Vongola hanya mengacak rambut Viero dengan sayang sebelum berjalan meninggalkan mereka berdua setelah berkata, "Panggil aku setelah kalian selesai dengan para herbivore itu."

Belum sempat Viero mengeluh sikap dingin ayahnya, Hibari sudah terlanjur menghilang dari pandangan mereka. Untuk seseorang yang mengaku tidak suka dengan keramaian, jelas sekali Hibari tidak pernah malu memanfaatkan keramaian untuk menyamarkan keberadaan dirinya.

Dino dan Viero saling bertukar tatap. Sorot pandangan mereka sama-sama memancarkan kegelian atas sifat Hibari yang memang sangat khas dirinya. Seperti mengikuti suatu tanda tak terlihat, mereka berdua kemudian tertawa pada saat yang bersamaan. Tawa yang renyah dan tulus, suatu refleksi kegembiraan yang membuncah di dalam diri mereka.

"Yah, kalau begitu, ayo kita bergabung dengan yang lainnya, Viero."

"Unn!"

xXXx

Makan malam berlangsung dengan ramai, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya karena saat seluruh Guardian Vongola berkumpul, tidak mungkin suasana khidmat akan didapatkan. Dino dan Viero menikmati saat-saat itu, bercengkerama dan bertukar canda bersama orang-orang yang telah dianggap keluarga oleh mereka. Namun, tetap saja tanpa adanya Hibari, kegembiraan mereka terasa kurang. Karena itulah, baik Dino maupun Viero sangat menunggu saat makan malam berakhir.

Tsuna hanya tersenyum memaklumi melihat kelakuan mereka berdua, sebelum sang Don Vongola menutup acara makan malam itu lebih cepat dari biasanya. Dino dan Viero tidak membutuhkan perintah setelah itu. Mereka dengan segera mengundurkan diri dari ruangan dan berjalan menuju ke kamar yang ditempati oleh Dino selama ia tinggal di Jepang.

Hibari sudah menunggu di dalam ruangan. Penampilannya yang tenang terlihat sedikit aneh dengan tumpukan kado natal yang dibungkus dengan kertas berwarna cerah yang ada di meja di hadapannya. Hibari sama sekali tidak memedulikan hal itu. Ia hanya menolehkan kepala ke arah pintu saat Dino dan Viero menghambur masuk, senyum cerah yang terlihat identic terpasang di wajah keduanya.

"Ayah!" Versi kecil dirinya sendiri berseru. Viero tidak memperlambat kecepatannya hingga ia melompat ke pelukan Hibari yang masih duduk dengan tenang. Orang lain yang berani melakukan hal itu sudah pasti akan mendapatkan ciuman dari tonfa kesayangan HIbari, tapi Viero adalah pengecualian. Cengiran di wajah bocah itu mengembang saat ia menatap Hibari. "Maaf, kami lama. Paman Tsuna akhirnya mengizinkan kami keluar duluan sementara yang lain masih berkumpul di bawah. Aku sudah tidak sabar melihat kado yang ayah belikan untukku!"

"Jangan terlalu bersemangat. Kau bisa jadi justru akan kecewa setelahnya." Hibari mengelus rambut Viero dengan pelan. "Duduklah, kurasa tradisi mengharuskan seseorang di antara kita untuk membagikan kado-kado tersebut."

"Ah, benar!" Viero segera membalik tubuhnya. Cengirannya tetap tertinggal di wajah saat ia bertemu pandang dengan Dino. "Kalau begitu, sekarang paman Dino yang akan membagikan kadonya!"

Dino, yang sedari tadi memperhatikan Hibari dan Viero dengan tenang dari kursi yang ada di hadapan pasangan ayah dan anak itu mengangkat alisnya skeptis. "Kenapa harus aku?"

"Tentu saja karena paman Dino yang paling tua! Sesuai dengan tradisi, kado harus dibagikan oleh orang yang usianya paling tua, kecuali jika ada acara khusus!" Viero menjelaskan seraya menyamankan diri di pangkuan Hibari.

"Hey, apa kau menyindirku secara tidak langsung, Viero?"

"Menyindir? Tidak, paman Dino. Aku hanya mengatakan kenyataan."

Wajah polos Viero saat mengatakan hal itu membuat Dino mengerang pelan. Bocah itu sama sekali tidak tahu bahwa Dino benar-benar merasa sedikit tersindir dengan omongannya. Walaupun pada kenyataannya ia memang yang paling tua di antara mereka, tapi tetap saja Dino tidak mau fakta itu dikemukakan dengan terlalu lantang.

"Ah, baiklah, baiklah. Karena Kyouya pasti akan memarahiku jika aku tidak menuruti perkataanmu," Dino mengambil kado-kado yang ada di atas meja dan membacakan nama yang tertera di sana.

"Dari Viero, untuk Ayah,"

Hibari menerima kado kecil yang Dino ulurkan kepadanya, tersenyum tipis ke Viero yang menyengir lebar saat mendengar namanya disebutkan.

"Untuk Viero, dari … tidak ada namanya, pasti dari Kyouya."

"Terima kasih!"

"Kemudian, untuk Viero, dari Dino~"

Dino terus membagikan kado-kado yang ada seperti itu sampai akhirnya mereka bertiga masing-masing telah memegang dua sampai tiga kado di tangan. Viero mendapatkan empat, masing-masing dua dari Hibari dan Dino. Bocah itu terlihat sangat senang karenanya.

"Boleh aku buka hadiah ini sekarang?"

"Tentu saja! Kado-kado itu sudah jadi milikmu sekarang. Kau boleh membukanya kapanpun kau mau."

Setelah mendapat persetujuan dari Dino, Viero dengan segera merobek kertas yang membungkus hadiah yang ia dapat. Dino tertawa kecil melihat kelakuannya, sementara Hibari hanya mengangkat alisnya tanpa berkata apa-apa, walaupun bibir tipisnya juga membiaskan senyum tipis. Viero merobek kertas pembungkus dengan antusias, seolah ia tidak mau ada sedetik pun yang terbuang hingga ia bisa melihat hadiah yang diberikan kepadanya.

Saat ia berhasil membuka kado pertama dari Hibari, kedua matanya terbelalak. Di kotak panjang yang ada di pangkuannya sekarang adalah sepasang tonfa baru yang masih terlihat mengilap. Viero mengambil kedua tonfa itu perlahan, dengan perhatian yang sedikit berlebihan agar tidak menjatuhkannya. Ia melompat turun dari pangkuan Hibari dan menggenggam senjata barunya dalam kuda-kuda bertahan. Panjang kedua tonfa tersebut sangat pas dengan jarak jangkauannya. Berat senjata itu lebih ringan dari senjata yang biasa Viero gunakan, ia yakin gerakannya akan bertambah cepat saat menggunakannya.

Kedua mata Viero berbinar penuh kebahagiaan. Dengan hati-hati, ia meletakkan senjata barunya ke atas meja sebelum kembali melompat untuk memeluk Hibari. "Terima kasih, Ayah! Aku sangat senang!"

"Pergunakan senjata itu dengan baik." Hibari berpesan, membalas pelukan anaknya singkat.

"Tentu! Nah, selanjutnya!"

Tidak butuh waktu lama bagi Viero untuk membuka semua hadiah yang ia dapatkan dengan antusias yang meluap. Pada akhirnya, selain sepasang tonfa baru, ia juga mendapatkan satu buah sun box weapon (pemberian dari Dino, yang berkeras tidak mau memberitahu apa yang akan terjadi jika Viero membuka boks itu), satu kimono tradisional untuk anak-anak (HIbari memberikannya atas saran dari Kusakabe) dan sebuah kotak musik yang memainkan lullaby tradisional Itali saat dibuka.

Viero sangat senang dengan hadiah-hadiah yang ia dapatkan, ia tidak menyadari bahwa baik Hibari maupun Dino sama sekali belum membuka kado milik mereka hingga akhirnya Dino memutuskan mereka harus segera beristirahat karena malam sudah terlalu larut dan esok, mereka harus berpisah.

xXXx

Bukan hanya Dino yang merasa gugup keesokan harinya, saat mereka tiba di ruang penelitian dan pengembangan teknologi di bawah tanah markas utama Vongola. Tsuna yang berdiri di sampingnya juga nampak gugup. Don Vongola itu berkali-kali meremas tangannya dan berjingkat kecil, seolah tidak bisa membiarkan dirinya diam. Dino tersenyum lemah saat tatapannya bertumbuk dengan Tsuna, menyiratkan pengertiannya.

Berlawanan dengan Dino, Viero justru sama sekali tidak merasa gugup. Ia justru menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Reborn dan Hibari, sementara Gianini dan Spanner sibuk mengawasi monitor yang menunjukkan data kinerja mesin waktu yang berada di tengah-tengah ruangan. Detik jarum jam dinding terdengar memekakkan saat mereka menunggu kedatangan tamu mereka dari masa depan.

Tepat saat jarum panjang menyentuh angka dua belas, suara alunan melodi yang menandakan pergantian jam teredam oleh suara deru mesin yang sedikit kasar. Semua perhatian dengan segera teralihkan ke tengah ruangan, dimana mesin waktu yang telah mengantarkan Viero sekali lagi menunjukkan reaksi kinerja tinggi.

Dino menahan napasnya. Ia tidak bisa memperlambat degup jantungnya yang seolah hendak berpacu keluar dari rongga dadanya. Kemudian, mesin itu berhenti—secara tiba-tiba. Dino mengembuskan napasnya yang tertahan. Suara desing mesin pelan dapat terdengar, lalu pintu mesin terbuka dan seorang pria berambut pirang berusia sekitar 50an melangkah keluar dari mesin tersebut, dengan seorang anak kecil yang cantik di gendongannya.

Pria itu berhenti beberapa langkah kemudian, menatap ke arah gerombolan yang menyambutnya sambil mengedip pelan. Kemudian, bibirnya mengulas senyum. "Wah, wah, sambutan yang meriah sekali. Aku tak menyangka kau akan mengundang orang sebanyak ini untuk menjemputku, Oliviero."

"Kakak!" Anak kecil yang ada di gendongan pria itu melompat turun lalu berlari ke arah Viero yang menangkapnya di dalam pelukan.

Dino tiba-tiba merasa kakinya melemas. Karena lega, senang atau perasaan lain, ia tidak benar-benar tahu. Sejujurnya, ia sama sekali tidak tahu apa reaksi yang seharusnya ia tunjukkan saat sosok dirinya sendiri dari masa depan kini berdiri di hadapannya, tersenyum ramah seolah mereka adalah teman baik. Pria ini—Dino Cavallone yang beberapa tahun lebih tua darinya—adalah papa dari Viero. Seseorang yang menikah dengan Hibari Kyouya di masa depan dan memiliki anak bersamanya.

Terima kasih, Tuhan, karena kini Dino tidak perlu membunuh siapapun dalam kecemburuan.

Dino-dari-masa-depan kemudian berjalan mendekati Hibari. Ia berhenti hanya beberapa langkah di hadapan pria itu. Tatapannya dipenuhi oleh kerinduan dan kelegaan saat iris hazel-nya bertemu dengan abu gelap Hibari. Dino dapat melihat tangan Dino-di-masa-depan terkepal erat, seolah untuk menahan diri agar tidak merengkuh Hibari ke dalam pelukan.

"Kau selamat. Ollie datang tepat waktu, rupanya. Syukurlah."

Bukan hanya Dino yang mendengar kesedihan di dalam nada suara dirinya-dari-masa-depan, namun mereka semua setuju tanpa kata-kata untuk mengabaikan airmata yang terlihat menggenang di pelupuk mata beriris hazelnya.

xXXx

Dino duduk dalam diam di kamar yang sedang ia tempati, memandang ke luar jendela besar yang menampakkan pemandangan kota yang dihiasi oleh langit senja. Ia membiarkan kegelapan perlahan menguasai kamarnya, terlalu larut dalam pemikirannya untuk beranjak dan menyalakan lampu.

Sudah tiga jam semenjak Viero kembali ke masa depan. Tiga jam yang nyaris tidak nyata bagi Dino. Bertemu dengan dirinya dari masa depan, bermain dengan Delythia—anak kedua mereka, sekaligus adik Viero, kemudian mendengarkan alasan Viero dikirim ke masa kini. Semua itu terasa sedikit berlebihan bagi Dino, tapi setidaknya ia bersyukur karena kini semua pertanyaan yang menggelayuti pikirannya hilang sudah.

"Hh," Helaan napas pelan lolos dari bibirnya. Dino menyandarkan tubuh di kursinya, memejamkan mata saat perkataan Dino-dari-masa-depan kembali terputar di benaknya.

"Seperti yang sudah kalian duga, Ollie memang kukirim untuk mengubah masa depan—tepatnya, untuk menyelamatkanmu, Kyouya," senyuman Dino telah kembali seperti biasanya. Ia duduk dengan tenang di hadapan mereka, Delythia bermain dengan Viero di pangkuannya. "Di masaku, tidak ada satu orang pun yang bisa menyelamatkanmu setelah kau jatuh koma. Butuh waktu yang lama, namun kau memang akhirnya tersadar. Hanya saja, racun berbahaya yang tertinggal di tubuhmu tidak dapat dihilangkan. Racun itu menggerogotimu dari dalam, memperlemah kinerja organmu—seperti penyakit degeneratif yang menyerang dengan cepat. Sayangnya, tidak ada satu orang pun yang bisa melakukan apa-apa terhadap hal itu."

"Kau mulai melakukan penelitian untuk menemukan box weapon yang mungkin dapat digunakan untuk menyembuhkanmu melalui Foundation. Butuh waktu beberapa tahun sampai akhirnya kau mendapatkan sepotong informasi yang mungkin bermanfaat, namun masih butuh banyak waktu sampai penelitian itu rampung. Saat itu, Viero berusia satu tahun. Tahun-tahun berikutnya, kau menghabiskan waktu untuk penelitian, walaupun kau tetap menjalankan beberapa misi yang Tsuna berikan untukmu."

Tsuna sedikit meringis saat itu, sulit memercayai ia akan tetap mengirim Hibari untuk menjalankan misi walaupun mengetahui kondisinya. Dino-dari-masa-depan tersenyum memaklumi.

"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Tsuna. Kyouya sendiri tidak akan tinggal diam jika kau memberikan pengecualian kepadanya. Untuk beberapa tahun setelah itu, tidak ada masalah dalam hidup kami. Delythia hadir saat Viero berusia tiga tahun dan kami sangat bahagia. Sayangnya, dua tahun kemudian, keadaan Kyouya menurun drastis. Dia ambruk saat sedang berlatih dan sejak saat itu, tidak sanggup untuk beranjak dari tempat tidur sama sekali."

Napas Dino tercekat. Secara tidak sadar, tangannya telah bergerak untuk menggenggam tangan Hibari yang terletak di dekatnya. Hibari, untuk sekali ini, tidak berkata apapun.

"Kyouya meninggal saat usia Ollie 5 tahun, hanya beberapa bulan yang lalu. Kami—kami sangat terpukul karenanya. Terutama Ollie," Dino-dari-masa-depan mengelus rambut Viero yang masih bermain dengan Delythia. Senyuman yang terkembang di wajahnya berubah menjadi melankolis. "Dia terus menangis, membuat adiknya ikut menangis. Aku tidak bisa kondisiku lebih baik darinya, namun aku berhasil bertahan dan melanjutkan penelitian yang telah Kyouya mulai sebelumnya. Ironis sekali, penelitian itu selesai hanya sebulan setelah kematian Kyouya. Jika ia bisa bertahan sedikit lebih lama … mungkin ia masih akan hidup."

Keheningan yang berat menggelayuti mereka. Bahkan Delythia dan Viero pun terdiam setelahnya, mendeteksi kesedihan yang kental di dalam suara papa mereka. Kemudian Delythia memeluk Dino-dari-masa-depan dan mencium pipinya. Kesedihan itu lenyap seketika, tergantikan oleh suara tawa Dino-dari-masa-depan. Ia membalas ciuman anaknya kemudian kembali memberikan perhatian kepada para pendengarnya.

"Ah, maaf, maaf. Aku terlalu terbawa suasana. Padahal, sekarang hal itu tidak akan pernah terjadi," Dino-dari-masa-depan menatap Hibari dengan lembut. "Yah, aku tahu bahwa tindakanku ini akan mengubah seluruh aliran waktu dan mungkin saja bukan keputusan terbaik, tapi setidaknya … aku lega Ollie berhasil menyelamatkanmu. Selanjutnya, aku hanya dapat berdoa kepada Tuhan agar kalian tidak mengalami kesedihan yang kurasakan."

Sekarang, sendirian dan dengan waktu untuk mencerna kembali semua yang telah diceritakan kepadanya, Dino sendiri tak bisa membayangkan menempatkan diri di posisi dirinya di masa depan. Melihat Hibari meninggal di hadapannya tanpa bisa melakukan apapun pastilah sangat menyakitkan. Mungkin, jika bukan karena keberadaan Viero dan Delythia, Dino akan melakukan tindakan bodoh yang bisa membalaskan kematian Hibari namun juga merenggut nyawanya.

Tanpa sadar, Dino menundukkan kepala dalam posisi berdoa, berharap perkataan dirinya dari masa depan benar: bahwa ia tidak akan pernah merasakan kesedihan yang sama.

"Untuk apa memikirkan hal yang tak akan terjadi, Cavallone?"

Suara berat Hibari yang telah sangat Dino kenal menyentaknya dari renungannya. Dino mengerjap saat cahaya lampu tiba-tiba memenuhi ruangan, membuat pupilnya berkontraksi secara tiba-tiba. Sayup, Dino dapat mendengar suara langkah kaki Hibari yang tenang mendekat ke arahnya, kemudian Hibari dengan santainya duduk di atas meja kerja Dino, menatap ke arahnya dengan pandangan tenang.

Dino mengulum senyum. "Aku tak bisa menghentikannya, Kyouya. Aku hanya … tidak bisa membayangkan jika aku benar-benar akan kehilangan dirimu seperti itu."

"Aku tidak berminat untuk meninggalkanmu. Setidaknya, tidak untuk saat ini. Lagipula, bukankah Dino sendiri telah mengatakannya? Dia sengaja melakukan hal yang paling tabu dan mengubah masa depan hanya agar kau tidak perlu merasakan kesedihan yang sama. Aku percaya kau sudah berterimakasih kepadanya. Itu sudah cukup."

"Tapi bagaimana kalau semuanya sia-sia? Bagaimana kalau akhirnya masa depan tidak berubah?"

"Kalau begitu, kita hanya harus menikmati saat ini."

Kemudian, Hibari menarik kepala Dino mendekat. Bibir mereka bersentuhan sebelum Dino sempat memikirkan kata-kata balasan. Dino memejamkan mata secara otomatis, menikmati gerakan lembut bibir Hibari di atas bibirnya. Mulut Dino membuka, seiring dengan lepasnya desahan pelan. Lidah Hibari menyelusup ke dalam tanpa ragu, menjelajahi setiap inci dari mulut Dino yang telah ia hafal. Saat Hibari akhirnya memutuskan untuk melepaskan Dino, ia menyeringai melihat wajah Dino yang sedikit terdisorientasi.

"Kau mau tahu satu hal yang menarik, Cavallone?" Hibari memberikan sebuah ciuman lagi di bibir Dino sebelum melanjutkan perkataannya, "Sebelum dia kembali ke masanya … Dino memberitahuku bahwa aku harus menyiapkan jawaban. Apa hal itu berhubungan dengan hadiah natal yang kau berikan kepadaku?"

"Kau sudah membukanya?" Dino mengangkat wajahnya, menatap Hibari dengan dua mata yang melebar tak percaya.

Sebagai jawaban, Hibari hanya mengangkat tangan kirinya. Di jari manisnya, terpasang sebuah cincin bertahtakan cloud stone dengan kemurnian tertinggi yang pernah Hibari temukan setelah cincin Vongolanya. Mungkin, di mata orang lain, cincin tersebut hanyalah sebuah senjata yang bisa Hibari gunakan, tapi ia tahu lebih baik. Dino tahu lebih baik.

"Aku belum mendengar pertanyaanmu."

Senyum Dino adalah yang tercerah yang pernah Hibari lihat. Kemudian si pirang memeluk Hibari dengan sangat erat, perwujudan dari rasa bahagianya. Dino merunduk, menempatkan bibir tepat di sebelah kuping Hibari, lalu berbisik,

"Hibari Kyouya … maukah kau menikahiku?"

End.