Title : The Runaway (Chapter 3)

Disclaimer : Fandomnya punya Hidekazu Himaruya, zombienya punya saya 8D

Summary : Ketika manusia terancam punah karena serangan para zombie, bagaimana dengan mereka yang masih hidup menyelamatkan dunia ini?

Warning(s) : Miss Typo


"Anu.. sebelum aku menjelaskan sesuatu yang sangat penting.. Kalau kalian tidak keberatan.. Bagaimana jika kalian mengenalkan diri dulu, fiih?"

"Oh.. baiklah.. u-um.. namaku Arthur Kirkland dari England, ini teman bodohku, Alfred F. Jones dari America"

"Arthuurr.. aku tidak bodoh! Aku ini Hero! Hero tidak mungkin bodoh!"

"Kalau kau tidak bodoh, lalu kenapa ulangan matematika mu itu selalu dibawah 7 ?"

"Itu.. karena aku payah di matematika!"

"Nah! Payah itu sama saja dengan bodoh!"

"Aku tidak bodoh!"

"Bodoh!"

"Tidak bodoh!"

"Bodoh!"

"Tidak bodoh!"

"Bodooh!"

"Tidak bodooohh!"

"Lupakan! Ngomong-ngomong, Mix.. kenapa kau mencari orang sepertiku?"

"Fiihh.. karena kau bisa membaca sihir… benarkan?"

"Arthur memang sering membaca sihir, tapi sering gagal! Aku ingat dulu ia pernah mencoba mengutuk ku, tapi ia malah mengutuk dirinya sendiri. Aku juga ingat waktu Arthur bertengkar habis-habisan dengan Francis. Ia lalu mencoba menyihirnya menjadi kodok, tapi sihirnya malah mengenaiku dan membuatku mempunyai ekor dan telinga anjing selama 1 bulan! Lalu lalu aku juga ingat wak—uuummmmppphhhhh!" kata-kata Alfred terpotong ketika kedua tangan Arthur menutup mulutnya dengan erat dan sedikit menyakitkan

"Hiraukan kata-kata si bodoh ini, Mix! Kau tadi lihat sendiri kan aku sukses memusnahkan zombie didepan ku dengan sihir ku itu?"

"U-umm… iya, fiihh…"

"Ha! Bukankah itu berarti aku bisa membaca sihir?"

"Bisa sih bisa.. tapi—"

"Diam kau, Al!"

Satu pukulan dari Arthur tepat mengenai jidat Alfred

"Aduh!"

"Hiraukan saja dia, Mix! Lalu.. memang kenapa kalau aku bisa membaca sihir? Ada hubungan apa antara sihir dengan ku?"

"Yang jelas bukan hubungan cint—"

Satu pukulan dari Arthur tepat mengenai jidat Alfred lagi

"Aduhh!"

"Sekali lagi kau mengatakan sesuatu yang mengganggu ku, awas kau!"

"Fiihh.. dunia sedang membutuhkan mu, Arthur.."

Alfred dan Arthur kaget seketika

"Membutuhkan….ku?"

"Membutuhkan…..dia?"

"B-bagaimana bisa?" serentak, mereka berdua mengatakan kata-kata yang sama di waktu yang sama

"Ceritanya panjang, fih.. tapi ini sangat penting! Dan aku ingin kalian mendengarkannya dengan baik-baik.."

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat ceritakan, Mix!" ingin mendengar cerita yang akan diceritakan oleh Mix dengan baik, Alfred pun duduk disebelah Arthur

"Ini semua… berawal ketika seorang profesor gila dari Russia memutuskan untuk membuat sebuah ramuan yang dapat membuat manusia bisa lebih kuat lagi, fihh.."

"Profesor gila?"

"Iya… ia mempunyai penyakit gangguan mental ringan. Tapi biarpun begitu, kepintarannya sangat diakui oleh orang-orang Russia. Itu mengapa ia dijuluki si Profesor Gila. Nama aslinya adalah Frederick Van Frankestein.

Setelah berbulan-bulan menulis resep ramuan tersebut, akhirnya ramuan itu telah ia buat, dan ia menguji ramuan itu kepada asistennya…"

"Lalu.. apa yang terjadi?"

"Ramuannya gagal.. dan kegagalan tersebut mengakibatkan sesuatu yang sangat fatal.."

"Fatal…?"

"Iya.. Asistennya mati, tapi Frederick mengira ia hanya pingsan. Akhirnya ia menunggu-nunggu asistennya untuk siuman, tapi saat itu tidak pernah datang hingga suatu hari, Frederick menyadari asistennya sudah bau busuk dan agak membusuk. Itulah saat Frederick sadar bahwa asistennya sudah mati. Dan ramuan tersebut pun dinyatakan gagal total. Namun, suatu hari diruangan mayat, disana hanya ada Frederick dan mayat asistennya saja dan, tiba-tiba sang asisten siuman, tapi…."

Hening

"…Ia sudah bukan manusia lagi… ia sudah menjadi zombie…"

Mata Alfred dan Arthur pun agak melebar, ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya

"Frederick pun kaget, tapi ia juga senang karena ternyata asistennya belum mati.. itu dalam pikirannya, sama sekali tidak ada kecurigaan kalau asistennya itu sudah menjadi zombie. Lalu, sebelum Frederick dapat mengatakan satu kata, sang asisten langsung menyerangnya. Ia menggigit lehernya dan menghisap darahnya, dan pada akhirnya.. Frederick pun mati… tapi sebelum mati, ia melepaskan dirinya dari serangan asisten dan mencoba menyerangnya dengan beberapa pisau yang ada diruangan mayat tersebut. Berkali-kali ia melempar pisau dan bahkan mencabik-cabik zombie asistennya dengan pisau, tapi ia belum juga mati. Dan itu pasti efek ramuan yang gagal tersebut. Setelah mati pun, Frederick bangkit kembali….. dan menjadi zombie… bersama dengan asistennya… karena dari gigitan tersebut.. asistennya sudah menularkan efek ramuan yang gagal itu kepada Frederick.."

"Lalu, mereka berdua membunuh semua manusia yang mereka lihat, juga menularkan efek ramuan itu?" tebak Arthur

"Benar sekali, fiihh.. sekarang ramuan itu sudah menjadi racun yang berada disetiap tubuh zombie. Satu gigitan saja, sudah dapat menular keseluruh tubuh. Dengan kata lain, menginfeksi.."

"L-lalu orang yang ditular atau diinfeksinya menjadi zombie?" Alfred mulai ketakutan, badannya mendekat ke Arthur

"Geseran dikit, bodoh!"

"Iya… Lalu, aku dan pemilik ku yang bernama Merlin berusaha menghentikan semua ini. Kami membuat sebuah mantra untuk memutar kembali waktu dan menghentikan Frederick agar ia tidak membuat ramuannya itu. Setelah 6 minggu memproses mantra itu, akhirnya mantra sudah siap untuk dibaca. Tapi…." Kepala Mix mulai menunduk

"Tapi kenapa, Mix?"

"Saat Merlin akan membaca mantra itu… puluhan zombie mendobrak pintu, jendela, bahkan atap rumah kami. Dan mereka pun menyerang kami…"

"B-bagaimana dengan Merlin?"

"Merlin mati… tapi, sebelum mati ia mengatakan pesan terakhirnya padaku. 'Mix.. Carilah seorang manusia yang belum terinfeksi dan pastikan ia dapat membaca sebuah sihir dan menguasainya… Mintalah ia untuk membaca sihirku dan menyelamatkan dunia ini… Tolonglah Mix.. Hanya kau.. dan ia… harapan terakhir semua manusia…' Itulah pesan terakhirnya, fiihh…"

"Aku mengerti… Pasti orang yang dimaksud Merlin adalah Arthur!" kata Alfred sambil menepuk pundak Arthur

Sementara Arthur hanya terdiam

"Jadi, kau memintaku untuk membaca mantra itu sekarang?"

"Kalau aku hafal mantranya.. sudah pasti sekarang, fiihh.. Tapi, mantranya terlalu panjang untuk ku hafal. Jadi, kita harus pergi ke rumah Merlin, dan segera membacanya."

"Rumah Merlin ada dimana?"

"Di sebuah hutan di Kanada. Aku kurang tahu ada di kota mana, tapi yang jelas aku dan Merlin tinggal di Kanada,"

"Kanada… Al! Kita ada di Amerika, rumahnya pasti tidak jauh dari sini!"

"Oi.. kita memang ada di Amerika. Tapi Amerika itu besar, Kanada lebih besar! Pasti tidak akan ditemukan secepat itu."

"Tidak jika kita tidak mencobanya, kan?"

"Arthur.. kau bersemangat sekali…"

"Karena aku sudah muak dengan semua ini! Aku muak dengan para zombie-zombie itu! Aku tidak mau berhadapan lagi dengan mereka! Aku ingin dunia ini kembali seperti semula lagi! Lagipula.. yang akan membaca mantra itu adalah aku. Aku ingin sekali membaca mantra itu secepatnya dan mengembalikan dunia ini seperti dulu lagi!" semangat Arthur membara

"Fiihh.. Arthur, semangat dan niatmu memang bagus. Tapi, justru kau akan selalu berhadapan dengan para zombie-zombie karena kita akan keluar dari bangunan ini dan di luar ada beratus-ratus bahkan mungkin beribu-ribu zombie menunggu kita,"

"E-eh? Beribu-ribu? Mix! Jangan buat aku takut!" Alfred mengambil gerakan mundur

"Sialan!" hanya itu yang bisa Arthur ucapkan

"Arthur… aku tahu, pasti kau belum terbiasa untuk berhadapan dengan para zombie itu. Tapi cepat atau lambat kau akan terbiasa, kok, fiihh! Lagipula, siap atau tidak, terbiasa atau tidak, kita akan segera berhadapan dengan mereka cepat atau lambat karena sepertinya pintu depan sudah mulai rusak, fiihh…"

Kedua mata Alfred dan Arthur terbelalak mendengar kata-kata Mix

Dengan cepat mereka pun berlari menuju ruang awal

Mereka pun kaget dan ketakutan

"SIALAAANN!"

Setengah bagian pintu sudah rusak, kayunya dicabik-cabik oleh para zombie dan mengakibatkan tangan mereka rusak dan berdarah, tapi mereka tidak peduli. Mereka tetap mencabik-cabik pintu yang sudah penuh dengan bercak darah tangan mereka

"Arthur! Arthur! Cepat gunakan sihir mu lagi!"

Arthur mengorek saku celananya

"Sialan! Tertinggal di dapur! Al! Kau cegah mereka! Aku akan mengambil tongkat sihirku!" kata Arthur sebelum berlari menuju dapur dan meninggalkan Alfred sendiri bersama dengan para zombie

"….Mama….." Alfred hampir saja menangis ketakutan, tapi ia ingat salah satu dari puluhan motto-nya

Hero never cry of fears

Ia pun langsung memberanikan diri

Bergegas mencari sebuah barang keras dan menemukan sebuah sekop bergagang panjang dan langsung mengambilnya

Ketika melihat zombie-zombie itu, Alfred kembali ketakutan

Ia pun memejamkan matanya dan menuju ke arah zombie-zombie tersebut dengan gerakan cepat

"HYAAAAAHHH! GYAAAAAHHH! HAAAAAAAAHH! HIAATT!"

Pukulan-pukulan keras dari sekop Alfred tepat mengenai beberapa zombie, sementara Alfred tetap memejamkan matanya sambil memukul

Sementara itu di dapur, Arthur lupa letak dimana ia menaruh tongkat sihirnya

"Miix! Pintunya hampir terbuka! Zombie nya hampir masuk kedalam! Alfred sedang mencegah mereka! Dan aku lupa menaruh tongkat sihir ku! Bantu aku!" kata Arthur sambil mengobrak-abrik hampir seluruh isi dapur, gerakannya semakin cepat ketika ia mendengar teriakan Alfred dari ruang awal

Mix pun dengan cepat membantu Arthur

"Sialaaann! Dimana tongkat sihir bodoh itu?"

"AGYAAAAAAHH! ARTHUR! ZOMBIENYA SEMAKIN BANYAAAKK!"

Teriakan Alfred yang sangat besar membuat Arthur dan Mix kaget

"Nanti saja mencarinya, Arthur! Alfred butuh bantuan!" kata Mix sambil terbang menuju ruang awal sambil membawa kantong berisi paku

Arthur pun mencari sebuah barang untuk dijadikan senjata dan menemukan pisau cincang koki yang cukup besar lalu mengambilnya dan berlari menuju ruang awal

"BRING IT ON, BLOODY HELL!" Arthur berteriak dengan nada maniak, matanya melebar ketika ia melihat Alfred penuh dengan bercak darah di sekop, baju, celana, rambut, bahkan wajahnya

Alfred kaget melihat apa yang Arthur bawa

"Sepertinya, koki asal Inggris akan mencincang menu hari ini.." batinnya

"Minggir!" kata Arthur sambil mendorong Alfred

"Kami bukan bagian dari menu kalian, sialan!" Arthur pun mengayunkan pisaunya dan mengenai beberapa zombie tepat di wajahnya

Wajah zombie-zombie yang terkena serangan Arthur pun semakin penuh dengan darah karena tergores-gores bahkan tercabik-cabik pisau Arthur

Alfred yang melihatnya memasang ekspresi 'sadis-sekali'

"Al! Bantu aku, bodoh!" teriakan Arthur membuat Alfred berkeringat tapi dengan cepat (dan sedikit bergemetar) Alfred memukul beberapa zombie dengan sekopnya sementara Mix melemparkan paku-paku dari atas

"Cih! Kenapa mereka tidak ada habisnya?" wajah Arthur mulai berlumuran darah zombie

"Jangan tanya pada ku! Tanya pada mereka! Lagipula, bukannya tadi kau ke dapur untuk mengambil tongkat mainan mu itu?" gerakan Alfred mulai lambat karena kelelahan dan mengakibatkan sebuah cakaran dari salah satu zombie mengenai pipinya

"Aagh!" Alfred mengambil langkah mundur, tapi karena kakinya bergemetar, ia pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh

"Alfred!" konsentrasi Arthur beralih pada Alfred yang terjatuh dan tidak menyadari kedatangan zombie berbadan besar yang langsung mendorong zombie-zombie lainnya dan menghancurkan seluruh pintu serta halangan-halangannya; lemari-lemari kecil

Arthur yang berada di depan lemari-lemari tersebut pun terdorong dan terjatuh di sebelah Alfred

"Aaah…!" rintih Arthur

"A-Arthur..!"

"Fiiiihh..!"

"Aakh!"

Ketakutan Alfred, Arthur, dan Mix bertambah berkali lipat ketika mereka melihat zombie yang besar berdiri di depan mereka diikuti zombie-zombie yang lebih kecil dibelakangnya

Dan mereka mulai pasrah

~To Be Continued~


saya gaada ide bagus buat nama pemiliknya Mix, jadinya pake Merlin aje dah! #gak original
Maaf ya kalo cerita Frederick Van Frenkesteinnya kurang jelas, kalo ada pertanyaan tanya aja! Saya bukan zombie kok! #BLETAK
Jangan marah ya saya tinggalin cliffhanger X'DD #minta dihajar