Title : The Runaway (Chapter 5)
Disclaimer : Fandomnya punya Hidekazu Himaruya, zombienya punya saya 8D
Summary : Ketika manusia terancam punah akibat serangan para zombie, bagaimana dengan mereka yang masih hidup menyelamatkan dunia ini?
Warning(s) : Miss typo
Setelah lukanya sudah diobati dengan obat penyembuh luka, Arthur menutupi luka itu dengan sebuah kapas yang diberi sedikit obat lalu memberinya pelekat perban untuk menempelkannya
"Nah…" Ia tersenyum kecil
"Lebih baik, kan?"
Tak lama kemudian, ia menguap. Menandakan ia sudah mengantuk, dan ia pun tertidur disebelah Alfred
Pagi menjelang. Hanya saja, pagi ini bukanlah pagi yang indah. Langit berwarna gelap namun tidak menurunkan setetes air hujan satupun, dan tentu saja; tidak ada burung yang berkicauan
Namun, keempat manusia yang masih hidup sudah terbangun dari tidur mereka, kecuali
"Bodoh! Bangun!" Arthur mengguncang tubuh Alfred yang sedang mendengkur, sesekali ia memukul pahanya untuk membangunkannya
"Nggg… 1 jam lagi, Ma…." hanya itu jawaban Alfred dan ia kembali mendengkur
"MAMA?" kepala Arthur mulai memanas setelah mendengar dirinya dipanggil 'Mama' oleh Alfred walaupun ia hanya mengigau
"BODOOOHH ! BANGUN KAUUUU ! ATAU AKAN KUGUNAKAN SIHIR KU UNTUK MEMBANGUNKANMU !" Arthur berteriak tepat didepan telinga Alfred, membuat remaja Amerika tersebut spontan membuka matanya lebar-lebar dan terbangun, berhadapan dengan wajah Arthur yang seketika memerah
Dan mereka saling bertatapan
"Ohonhon~ Kalian ini.. Pagi pagi sudah—" kata-kata Francis terpotong oleh pukulan keras dari Arthur ke kepalanya
Arthur tidak berkata apa-apa dan langsung pergi mengambil makanan yang tersisa. Sementara Alfred hanya memandang Francis sambil cemberut
"….qu'est-ce?"
"Kau menganggu terus.."
"Ohonhon.. Kau akan mendapatkan waktu mu nanti, mon cher~"
"Yang jadi masalahnya, kapan waktu ku akan datang?"
"Secepatnya…" Francis tersenyum dan pergi keluar bangunan untuk melihat-lihat lingkungan ketika ia melihat Arthur datang membawa beberapa roti sisa kemarin malam
"…Makan…" kata Arthur dengan wajahnya yang agak memerah sambil memberi Alfred roti tersebut
"Kau tidak makan?"
"..Aku…B-belum…"
"Kalau begitu, kenapa kau juga tidak makan?" Alfred tersenyum, membuat Arthur memalingkan wajahnya yang sudah lebih merah dari sebelumnya
"N-nanti saja…"
"Kalau begitu, aku juga tidak mau makan!"
"Bodoh! Jadi, kau akan makan kalau aku juga makan?"
"Iyap!"
Arthur terdiam, tapi kemudian ia duduk disebelah Alfred, dan mengambil roti yang didepannya dan memakannya
Alfred hanya melihatnya sambil tersenyum, membuat remaja Inggris itu agak grogi
"Oi.. makan!"
"Ah! I-iya iya… Ahahaha…" Alfred tertawa kecil, tidak menyadari pipinya ikut memerah. Ia pun ikut mengambil roti dan memakannya juga
Keheningan mendatangi mereka cukup lama. Keduanya ingin sekali berbicara namun tidak tahu topik apa yang bagus untuk dibicarakan
"….Nggg…Matthew dimana?" kata Alfred memecahkan keheningan mereka
"Ia sedang mengecek ruangan lain.."
"Sendirian?"
"Ia ditemani Kumakanji dan Mix.."
"Oh.."
Dan hening kembali
"Ya ampun.. memang susah sekali ya berbicara panjang dengan Arthur…"
"Bicara! Bicara! Cepat bicara sesuatu, Kirkland! Apa saja! Hmmmm… Al? Kau suka teh? Akh! Bodoh! Tentu saja tidak! Dia 'kan suka kopi!"
"Ngg…Al—"
"Akh! Luka ku! Terobati sendiri!" Alfred memotong perkataan Arthur ketika ia tidak sengaja meraba luka di pipinya, dan ternyata luka itu telah tertutupi oleh sebuah kapas dengan perban pelekat
"B-bodoh! Itu aku yang mengobati tau!" seketika wajah Arthur sangat memerah dan Arthur cepat-cepat menutup mulutnya
'Oops…!'
"A-Arthur.. kau…" sebelum Alfred dapat melanjutkan perkataannya, Arthur berlari pergi ke ruangan lain
"A-Arthur! T-Tunggu dulu! Aduh! Dia itu kenapa sih?" ketika Alfred akan berlari menuju ruang yang dimasuki Arthur, seseorang memanggilnya dari arah dapur
"…Alfred!"
"M-Matt? Ada apa?" Alfred kaget ketika ia melihat Matthew membawa sebuah senapan besar
"Waw! Kau menemukan itu dimana?"
"…Mix bilang, kita akan berangkat sekarang. Dan.. Aku menemukan senapan ini di sebuah kantor polisi dengan Francis, aku sudah memegang ini sejak kemarin. Kau tidak melihatnya ya? Ngomong-ngomong, dimana Francis dan Arthur?"
"Je suis ici, mon cher~!" kata Francis sambil memasuki ruangan
"Aku tadi hanya mengecek lingkungan saja, aku melihat beberapa zombie sedang berjalan ke arah barat. Jadi, kurasa disini sudah kurang aman. Karena aku yakin, beberapa dari mereka akan berjalan kearah sini,"
"Kalau begitu kita harus cepat pergi dari bangunan tua ini.." Arthur keluar dari ruangan yang ia masuki tadi. Ia membawa kapak besar dan sebuah gergaji pemotong
Tanpa berkata apa-apa, ia menyodorkan gergaji pemotong itu ke Alfred
"E-eh? Untukku?"
"Bodoh, memang untuk siapa lagi? Lagipula, kau yakin akan melawan para zombie dengan sekop yang kemarin kau pakai?" wajah Arthur memerah
"….kalau begitu terima kasih! Wow…ini pakai bahan bakar apa?" Alfred menerimanya dengan semangat, ia pun mencari tombol on, dan segera mengkliknya
RRRRRRRRRRRm…..! RRRRRRRRRRRmm….!
Suara gergaji terdengar sangat besar, membuat semuanya kaget dan Alfred cepat-cepat mematikan mesin itu
"Berisik juga ya…"
"…..Tapi kurasa itu ampuh sekali untuk membunuh zombie, iya 'kan?"
"Oui,"
"….bodoh…."
Keheningan aneh mendatangi keempat orang yang berasal dari negara yang berbeda itu. Mereka hanya melihat satu sama lain, tidak terkecuali Arthur yang memandang Alfred dan sebaliknya. Sesekali mereka melihat ke arah lain dan kembali memandang, hingga mereka tersenyum malu dan pipi mereka memerah
"E-Eeehh… Apa sih yang lucu? Jangan tersenyum kayak begitu dong!"
"Si bodoh ini kalau senyum seperti itu lucu juga ya…?"
Keheningan aneh tersebut pun dipecahkan oleh Mix yang dari tadi memandang aneh mereka berempat
"Sekarang bukan saatnya diam seperti ini, fiihh! Ada sesuatu yang penting yang ingin aku sampaikan sebelum kita berangkat!"
"A-Ah! A-Apa itu, Mix?" Arthur mengalihkan pandangannya menuju Mix yang sudah agak cemberut, tiga orang sisanya melakukan hal yang sama
"Zombie-zombie ini…bermacam-macam, fiih.."
"Hah? Bermacam-macam?" Alfred melongo
"Iya..mereka mempunyai jenis yang berbeda-beda. Aku ingin kalian dengarkan baik-baik, fiih!"
Semuanya mendekat Mix
"Ini adalah beberapa zombie yang pasti akan kalian temui diluar sana nanti;
Yang pertama adalah zombie biasa, zombie ini yang paling banyak jumlahnya dibanding yang lainnya. Zombie ini adalah yang Alfred dan Arthur lawan kemarin. Mereka hanya menggigit dan mencakar, tapi mereka dapat berlari. Mereka, bisa dibilang zombie tingkat terbawah."
Alfred dan Arthur menelan ludah, tingkat terbawah saja sudah seseram itu, bagaimana dengan tingkat paling atas?
"Yang kedua adalah..aku memanggilnya Loust, zombie ini paling banyak di daerah perpustakaan dan bagian-bagian sekolah. Jika kalian bertemu zombie ini, berharaplah kalian tidak memiliki bercak darah sama sekali. Karena ia tidak akan menyerang orang atau mahluk yang tidak ada bercak darahnya. Karena penciumannya hanya sensitif pada darah, jadi ia tidak akan mengira kalian adalah mangsanya sekalipun kalian bergerak. Tapi, jika kalian memiliki bercak darah walaupun sekecil sebuah penghapus pensil, sebaiknya kalian lari sekencang mungkin dan bersembunyi. Karena ia akan menjadi sangat ganas dan mengejar dan bila tertangkap, jangan harap kalian selamat." Suara Mix tiba-tiba saja sangat serius, membuat semuanya meneteskan keringat dari kening mereka masing-masing karena ketakutan
"Ciri-ciri zombie ini adalah berlumuran darah dari mulut hingga tangan juga di baju-baju, jika kalian perhatikan mereka memiliki bibir yang hancur. Mereka juga berbau darah sangat menusuk, jadi jika kalian mencium bau yang sangat menusuk, sebaiknya kalian menjauh. Itu jika kalian memiliki bercak darah,"
Alfred dan Arthur kembali menelan ludah dan berharap mereka tidak bertemu dengan Loust karena baju mereka memiliki banyak bercak darah. Itu belum dihitung dengan luka Alfred
"Yang ketiga adalah Sneeker, zombie ini banyak mengumpat di atap-atap ruangan. Jadi kuharap kalian memastikan atap-atap ruangan yang kalian masuki aman dari Sneeker. Sneeker juga sering muncul dari atap bangunan, ia tidak berjalan melainkan merayap atau melompat. Ia melompat dari atap bangunan ke atap bangunan yang lainnya, ia juga bisa merayap dan memanjat dinding dengan cepat, dan bila ia melihat mangsanya, ia akan menerkamnya dari atas dan menyerangnya. Ciri-cirinya adalah berkulit hitam tidak terlalu pekat namun cukup membuatnya menyaru di atap ruangan yang gelap, beberapa dari mereka juga memakai sebuah jaket panjang yang menutupi setengah wajah mereka dan membuat mata mereka tidak terlihat. Ciri-ciri atap ruangan yang ditempati Sneeker adalah terdapat sebuah bercak tangan yang sedikit berdarah pada dinding-dindingnya, menandakan Sneeker merayap keatas melalui dinding tersebut,"
Alfred mulai bergidik dan mendongak ke atas; melihat apakah di atap ruangan ini ada Sneeker?
"Yang keempat adalah Deon, zombie ini membuat kalian akan sangat berhati-hati kalau membuka sebuah pintu. Karena Deon sering berdiri terdiam menunggu mangsanya didepan pintu. Jika kalian membuka pintu, dan tiba-tiba mendengar sebuah suara tawaan seorang anak kecil, itu pasti adalah Deon yang senang akhirnya ia bertemu dengan mangsanya. Semua Deon adalah perempuan, dan mereka masih anak-anak berumur 14 tahunan, jadi kalian akan mudah mengetahui tawaannya. Bila berhadapan dengan Deon, sebaiknya kalian kembali menutup pintu yang kalian buka, karena ia akan mengejar dan menarik tangan kalian masuk ke ruangan, lalu ia akan bermain dengan kalian."
"Eh? Bermain? Maksudmu bermain?" Alfred kembali melongo
"Bermain sebuah permainan yang sangat menyakitkan tubuh kalian hingga kalian mati secara perlahan dan memangsa kalian, fiih. Dan masalahnya, aku masih belum tahu ciri-ciri pintu yang dimasuki oleh Deon jadi kuharap kalian berhati-hati ketika membuka pintu,"
Semuanya semakin ketakutan, jantung mereka berdebar-debar
"Yang kelima adalah Witch, zombie ini termasuk zombie yang sangat berbahaya karena ia sangat pintar mengelabui mangsanya. Jika kalian mendengar suara tangisan, sebaiknya kalian menjauh karena aku sangat yakin itu adalah Witch yang sedang memancing mangsanya. Semua Witch berjenis kelamin perempuan, jadi kalian akan mudah mengetahui yang mana tangisan Witch yang mana yang bukan. Tangisan Witch pun sedikit histeris, sehingga kalian akan mengasihani tangisannya dan menghampirinya. Dan bila kalian sudah beberapa meter darinya, ia akan menunjukkan dirinya yang asli, yaitu seorang zombie yang sangat ganas dan lapar. Ia menghentikan tangisannya dan mulai mengeluarkan sebuah suara menyeramkan dan akan berlari menuju kalian dan menyerang kalian dengan cakarnya yang sangat panjang dan sangat tajam. Dan bila kalian berlari ia akan mengejar. Jangan diremehkan, Witch adalah zombie tercepat dalam urusan mengejar jadi sebaiknya kalian harus langsung menyerangnya sebelum ia yang menyerang kalian. Ciri-cirinya adalah bermata merah, berambut putih dan tidak terlalu panjang, memiliki kuku yang tajam dan panjang. Zombie ini bisa kalian temukan dimana saja jadi berhati-hatilah!"
Francis bergidik, perempuan yang ini pasti tidak cantik seperti yang biasa ia temui beberapa minggu lalu sebelum kemunculan para zombie
"Yang keenam adalah Abock, zombie ini biasanya banyak di restoran atau dapur. Mereka adalah satu-satunya zombie yang tidak mengejar melainkan melempar sebuah pisau ke arah mangsanya. Tapi jangan diremehkan, lemparan mereka tidak pernah meleset kecuali jika kalian langsung berlindung dibalik dinding. Ciri-cirinya adalah terdapat banyak pisau menancap di beberapa bagian tubuhnya seperti kedua pundak, kedua lengan, kepala, punggung, dan lain-lain. Jadi kurasa dapur atau restoran bukanlah tempat yang bagus untuk bersembunyi,
Dan yang terakhir adalah….." tiba-tiba saja wajah Mix menjadi agak khawatir, membuat yang lainnya bingung
"Namanya Tanker, dan aku sangat berharap kita tidak akan bertemu dengannya."
"…Tidak bertemu dengannya? Memang ia kenapa?"
"Ia adalah zombie terkuat dari yang lain, zombie ini memangsa zombie yang lainnya juga. Karena itu mereka tidak pernah bersama zombie yang lain karena mereka pasti akan dimangsa oleh Tanker. Tapi… untuk mengalahkan Tanker, dibutuhkan kerja sama yang sangat bagus. Karena jika kalian asal menyerang, ia takkan mati. Satu orang bukanlah jumlah yang pas untuk mengalahkan seorang Tanker, 2-3 bahkan 5 orang sekalipun jika tidak ada kerja sama pasti tidak akan bisa mematikan Tanker. Zombie ini pun.. sekali pukul dapat menyebabkan patah tulang dibagian yang dipukul, ia juga tidak mencakar atau mencabik seperti zombie lainnya. Ia hanya memukul dan melempar barang terdekat ke arah mangsanya atau jika kalian terlalu dekat, ia bisa langsung mengangkat kalian dengan tangannya yang besar dan memakan kalian hidup-hidup, fiihh. Untungnya, zombie ini lebih sedikit jumlahnya daripada yang lain, sehingga kemungkinan bertemu dengannya kurang lebih 49%. Tapi tetap kalian harus berhati-hati! Karena zombie ini biasanya mengumpat di bangunan yang sepi yang tidak ada zombie lain, fiih! Kalian juga harus memasang mata baik-baik jika kalian sedang melawan kerumunan zombie karena biasanya Tanker akan muncul entah dari mana dan berlari mendorong zombie yang lain lalu menyerang kalian. Aku juga belum tahu ciri-ciri kedatangannya jadi kalian harus selalu siaga, fiih!"
Semuanya kembali menelan ludah namun mengangguk pelan
"Satu lagi! Setiap zombie memiliki titik kelemahan di tempat yang sama, yaitu di bagian hati atau jantung, dan kepala atau leher mereka. Jadi jika kalian bertemu dengan zombie, kalian harus menusuk atau memutuskan kepala mereka! Jika tidak, mereka akan tetap hidup sekalipun kalian sudah memutuskan kedua tangan dan kaki mereka. Dan Arthur, sihir Petrava bukanlah sihir yang bisa selalu digunakan kapan saja. Sihir ini hanya bisa dipakai 3 kali selama 6 jam, jadi sebaiknya kau mencari sihir lain yang menurutmu ampuh mengalahkan zombie-zombie yang akan kau temui nanti, fiih."
Arthur mengangguk pelan, tangannya menggenggam erat sebuah kapak besar
"Tenang saja, Mix. Aku akan mengalahkan mereka dengan ini.."
"Dan aku akan melindungi Arthur apapun yang terjadi! Protect the Hero!" kata Alfred penuh semangat walaupun sebenarnya ia agak ketakutan dan khawatir
Kata-kata Alfred membuat wajah Arthur memerah, ia memalingkan wajahnya sebentar untuk menyembunyikan senyuman kecil dan wajahnya yang merah sesaat lalu kembali melihat ke arah Mix
"Oui! Kurasa semuanya siap, non? Aku tidak betah berdiam disini lebih lama lagi,"
"….iya, sebaiknya kita harus pergi sekarang. Semakin cepat semakin baik.."
"Yosh! Ayo kita keluar dari sini!"
"Oke..!"
"Fiih!"
Mereka pun akhirnya keluar dari bangunan tua tersebut dan berjalan menuju sebuah arah
Dimana puluhan dan mungkin ratusan zombie menunggu mereka dengan sangat lapar
Dan tentunya, keempat remaja ini siap membunuh mereka
Atau dibunuh mereka
