Tittle : The Runaway (Chapter 9)
Disclaimer : Fandomnya punya Hidekazu Himaruya, zombienya punya saya 8D
Summary : Ketika manusia terancam punah oleh serangan zombie, bagaimana dengan mereka yang masih hidup menyelamatkan dunia ini?
Warning(s) : Yang jelas disini ada Miss Typo
Mata Alfred terbuka lebar ketika tiba-tiba ia mendengar suara tangisan seseorang.
'Ada yang menangis..' batinnya. 'Bukankah ini berarti masih ada yang hidup disekitar sini? Berarti aku tidak sendiri, berarti aku masih akan selamat!'
Dengan segera, Alfred berdiri dan menghampiri asal suara tersebut. Suara itu terdengar cukup jelas, menandakan asal suara tidak jauh dari tempatnya bersembunyi tadi.
Alfred menelan ludah ketika ia mengetahui suara tersebut berasal dari sebuah ruangan yang tertutup pintu. 'Mungkin saja ia bersembunyi disini dari para zombie' kiranya dan langsung membuka pintu dengan penuh harapan.
Ruangan tersebut sangat gelap, dan tercium bau yang tidak enak. Ia berkeringat dingin ketika suara tangisan tersebut tiba-tiba berhenti.
Dan diganti dengan suara erangan menyeramkan.
Mata Alfred melebar dan ia mengambil beberapa langkah mundur. Ia telah membuat kesalahan besar.
Oh sial..
"Grrraa.."
Lari Alfred..
"Hhggrr.."
Alfred.. Lari!
Dua pasang mata berwarna merah mulai terlihat dari kegelapan. Dan Alfred kembali tidak bisa bergerak. Kata-kata Mix terulang di benaknya.
"..Bila kalian sudah beberapa meter darinya, ia akan menghentikan tangisannya dan mulai mengeluarkan suara menyeramkan dan berlari menuju kalian dan menyerang kalian.."
Gigi-gigi tajam yang berlumuran darah mulai terlihat. Merah darahnya semerah mata yang sedang menatapnya. Helai-helai rambut putih kemerahan terlihat, dan erangannya semakin membesar.
Seorang Witch.
Alfred F. Jones! Lari! LARI!
Ketika Alfred hendak melakukan apa yang dalam dirinya katakan. Ia kembali teringat kata-kata Mix.
"..Dan bila kalian berlari ia akan mengejar. Jangan diremehkan, Witch adalah zombie tercepat dalam urusan mengejar jadi sebaiknya kalian harus langsung menyerangnya sebelum ia yang menyerang kalian.."
Menyerang Witch? Alfred tidak tahu apakah ia dapat mengalahkan Witch seperti ia mengalahkan Sneeker. Melihat kondisinya sedang sangat lemah seperti ini.
Ia juga tidak tahu apakah ia dapat berlari cukup cepat untuk menghindar dari Witch. Melihat kakinya yang berdiri saja sekarang sudah mulai tidak kuat.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Alfred! Alfred! Alfred F. Jones!" Arthur terus berteriak. Memanggil nama yang sama sejak beberapa menit yang lalu. Kakinya terus berlari, walaupun ia sudah mulai kelelahan. Kapaknya ia seret, karena terlalu lelah untuk mengangkatnya seperti biasanya. Ia sudah tidak tahu lagi harus kemana, ia sangat khawatir.
Teman-temannya dibelakangnya, berlari namun tidak secepat Arthur. Mereka melihat ke berbagai arah, berharap dapat melihat Alfred dan segera beristirahat karena mereka sudah sangat lelah.
"Arthur, tenangkan dirimu! Istirahatlah sebentar! Semuanya kelelahan!" teriak Ludwig dari belakang.
"Kalian istirahat saja disini! Aku akan mencari Alfred sampai ketemu! Aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan si bodoh itu!" Arthur mulai terengah-engah. Nafasnya mulai tidak teratur, keringatnya bercucuran dari keningnya.
"Kau pikir kita akan membiarkanmu pergi begitu saja? Jangan bertindak sembrono begitu!" Ludwig mempercepat larinya, dan menghalangi Arthur. Nafasnya terengah-engah, namun wajahnya menunjukan emosi.
"Dan kau pikir aku akan membiarkan Alfred sendirian disini? Jangan berpikir 'Ayolah, tidak apa-apa mengorbankan satu orang saja'! Manusia hampir punah karena kegilaan zombie-zombie ini! Jangan pernah meremehkan satu nyawa! Apalagi ini Alfred! Dia kuat dan kita membutuhkannya! Aku tidak bisa membiarkannya sendirian karena ia ceroboh dan bodoh dan—" kata-kata Arthur terhenti ketika kepalanya dipukul oleh Francis yang sekarang sudah berada disebelah Ludwig. Ia mengeram.
"Francis, jangan bilang kau berpihak padanya—"
"Aku berpihak pada Ludwig," Francis menjawab dengan nafas yang juga terengah, namun serius. "Semuanya berpihak pada Ludwig, Artie,"
Arthur mengepal tangannya. "Francis—"
"Tapi bukan berarti aku tidak peduli pada Alfred," Francis kembali memotong perkataan Arthur.
"Bukan berarti juga, semuanya tidak peduli pada Alfred. Kata siapa Ludwig meremehkan satu nyawa? Ketika kau mengatakan satu nyawa, pasti yang kau maksud adalah nyawa Alfred bukan? Kau tidak memikirkan nyawamu yang juga berarti 'satu nyawa'. Itu berarti, kau juga jangan meremehkan nyawamu. Kau pasti mengatakan 'Aku masih kuat untuk mencari Alfred,' padahal nyatanya, kau kelelahan dan lemah. Bila kami membiarkanmu pergi sendirian begitu, itu berarti kami mengorbankan satu lagi nyawa."
Arthur menatap Francis dengan ekspresi sedikit bingung. Francis menghela nafas.
"Oke, aku tahu kau pasti tidak mengerti yang aku katakan tadi, iya 'kan? Aku juga bingung karena aku kelelahan dan jadi susah untuk mengatakan hal yang mudah dimengerti seorang Arthur. Tapi yang jelas, jangan paksakan dirimu, Artie. Aku tahu kau kelelahan karena aku juga begitu. Kita semua kelelahan! Dan aku tahu kau pasti akan bilang 'Aku tidak lelah' karena kau itu sering memaksakan dirimu. Terkadang kau tidak bisa melihat kondisimu sendiri, itu salah satu sifat jelekmu,"
"Aku tidak mengatakan 'Aku tidak lelah',"
"Tapi aku tahu kau akan mengatakan itu ketika salah satu dari kami bilang 'Arthur, kau kelelahan, istirahatlah sebentar'."
Arthur menghela nafas, "Tapi..Alfred—"
"Ayolah, Artie! Kita sudah kenal Alfie lebih dari lima tahun! Aku tahu dia kuat! Kau tadi juga mengatakan itu bukan? Kau lihat sendiri 'kan bangkai Sneeker di kamar kecil tadi? Mengalahkan zombie yang seperti itu, apakah itu bukan bukti kalau Alfie kuat? Dan kalaupun ia memang bodoh, ya, sebodohnya Alfred ia takkan mencari bahaya. Apalagi kalau ketika kondisinya lemah,"
Arthur terdiam, harus ia akui, Francis memang benar, tapi itu bukan berarti ia sudah tidak khawatir lagi dengan Alfred. "Alfred..Ia.."
"Hush, sekarang tatap wajahku," Francis memegang kedua bahu Arthur.
Arthur kesal dan bingung di waktu yang bersamaan, "Menatap wajahmu? ! Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bermesra-mesraan seperti itu? Bukan berarti aku ingin bermesraan denganmu, kodok!"
"Diam dan lakukan sajalah!" suara Francis kembali serius. Arthur menghela nafas sepanjang ia mengambil nafas kembali beberapa detik kemudian, sebelum ia menatap wajah Francis yang berbercak darah.
"Sekarang apa?" tanya Arthur, tidak merasa nyaman dengan situasi yang aneh seperti sekarang.
"Tatap mataku, bayangkan itu adalah mata Alfred,"
Arthur mendecak, namun ia melakukan apa yang Francis katakan. Ia benci mengakuinya, tapi Francis memiliki warna mata hampir sebiru yang Alfred punya. Dan itu membuatnya berhasil membayangkan mata yang sedang ia tatap adalah mata milik Alfred. Setelah beberapa detik, ia mulai merasa membaik.
"Sekarang tutup matamu. Tenang saja, aku tidak akan menciummu,"
Arthur hampir saja menampar Francis saat itu juga, namun ia mulai menutup matanya.
"Pikirkan Alfie. Pikirkan Alfred, pikirkan Alfred, tersenyum padamu, mengatakan ia baik-baik saja dan ia takkan pergi meninggalkanmu,"
Arthur mulai membayangkan Alfred seperti yang Francis katakan. Tersenyum padanya, menandakan ia baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu Arthur khawatirkan dengannya. Arthur kembali merasa membaik, nafasnya kembali normal, dan wajahnya mulai tenang.
Francis tersenyum lega, "Sekarang, tarik nafas, perlahan.."
Arthur menarik nafasnya perlahan
"Dan keluarkan, lebih perlahan.."
Arthur menghela nafasnya, perlahan
"Terus lakukan itu sampai kau merasa jauh lebih membaik,"
Arthur kembali mengulangnya, sampai ia benar-benar merasa tenang
"Sekarang, coba buka matamu, perlahan.."
Arthur membuka matanya, lebih lambat dari ketika ia mengambil dan mengeluarkan nafas.
Semuanya terlihat sangat jelas, seperti ketika ia baru bangun dari tidurnya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali dan melihat Francis tersenyum lelah kepadanya.
"Bagaimana? Merasa baikkan?"
Arthur tersenyum kecil, "Ya, terima kasih, Francis,"
Senyum Francis membesar, "De rien, mon cher,"
Ludwig menghela nafas, ia melihat Matthew dan Vash sedang duduk beristirahat. Matthew terlihat sangat lelah, sedangkan Vash hanya menggerak-gerakkan kakinya. "Jadi sekarang kita bisa beristirahat, ja?" ia duduk bersandar pada dinding.
Arthur mengangguk, "Ya. Tapi itu bukan berarti aku sudah tidak khawatir lagi dengan Alfred,"
Francis tertawa kecil, "Bukan kau saja yang khawatir dengan Alfred, Artie," ia duduk di sebelah Ludwig, juga bersandar pada dinding. Arthur ikut duduk disebelahnya dan beristirahat.
Suasana begitu tenang, sebelum Arthur menyadari sesuatu, matanya terbelalak. "Tunggu..!"
"Ada apa?"
"Dimana Mix? !"
Kini Alfred sedang berhadapan di depan Witch yang sudah berdiri namun membungkuk. Alfred bertanya-tanya mengapa ia belum bergerak dan mengapa Witch ini belum menyerangnya juga.
Namun pertanyaan itu hilang ketika Witch mengayunkan tangannya, menyerang wajah Alfred dengan kukunya yang tajam. Alfred segera mundur dan melindungi wajahnya dengan lengan kirinya di waktu yang bersamaan. Serangan Witch tadi tidak berhasil mengenai wajah Alfred, namun berhasil menggores dan membuat luka dalam di lengan kirinya. Alfred merintih kesakitan, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh, mendarat di punggungnya yang masih sakit akibat serangan Sneeker beberapa puluh menit yang lalu. Ia hampir berteriak.
Witch mengerang keras, ia kembali mengayunkan tangannya ke arah Alfred yang sedang meronta kesakitan seperti cacing yang diberi garam. Alfred sudah benar-benar lemas, ia hanya bisa bernafas dan melihat Witch dengan wajah menyeramkan dan cakarnya yang siap merobek tubuhnya lalu memangsanya.
Seharusnya.. Aku mendengarkan perkataannya.. Perkataan Arthur..
Aku memang bodoh.. Dan orang bodoh.. Memang cepat mati..
Maafkan aku Arthur..
Alfred memejamkan matanya perlahan.
Jadi ini ya.. Rasanya sebelum mati.. ah, sudahlah!
HeroEagle50 has logged off
"LEXERIAMUS!"
Sebuah suara tidak asing membangunkan Alfred yang telah lemas dan jatuh pingsan saat ia bertemu dengan Witch tadi. Alfred membuka matanya perlahan, pandangannya tiba-tiba saja menjadi terang, membuatnya harus mengedipkan matanya berkali-kali akibat silaunya lampu yang sekarang berada tepat di depan matanya. Ia melihat dua bayangan didekat sinar lampu. Salah satu bayangan tersebut seperti memiliki telinga yang panjang, seperti kelinci. Dan yang satunya seperti memiliki rambut yang lumayan berantakan.
"Alfred..? Alfred? Kau sudah sadar, fiih?"
"Alfred! Oi! Bangun kau, pemalas!"
"Dia lemas, fiih. Lihat saja, wajah dan badannya sudah babak belur begitu,"
"..Dan malas. Lihat saja, membuka matanya saja seperti seorang Putri yang baru bangun dari tidurnya yang selama 100 tahun!"
"Itu tidak sopan, fiih! Lagipula, mana ada Putri yang tidur selama 100 tahun!"
"Aku akan membuat ceritanya nanti! Cerita awesome dengan fenomena Putri yang tidur selama 100 tahun!"
"D-dimana..?" Alfred bertanya, namun hampir tidak dapat terdengar.
"Huh?"
"Apa.. Aku sudah.. mati?"
"Iya, kau sudah mati dengan tragis. Berlumurah darah dan tubuhmu tercincang habis. Selamat datang di surga!"
"Gilbert!"
"Apa?"
"Belum pernah dengar yang namanya 'kesopanan' ya, fiih?"
"Ayolaah! Disaat seperti ini masih ada yang namanya kesopanan? Tidak awesome!"
"Gil..bert..?"
"Kenapa lagi, Al..fred..?"
"Matthew.. mengkhawatirkanmu.."
Hening.
"Tidurlah kembali,"
"Syukurlah kau masih hidup, Alfred.. Aku tidak ingin memberi Arthur berita buruk, fiih.."
"Ooh, jadi si alis tebal itu masih hidup? Sudah kuduga. Bila sisi hati kanan masih berdetak, sisi kiri pun akan selalu berdetak,"
"...Apa maksudnya itu, fiih?"
"Hanya sebuah kata-kata cinta yang awesome buatanku. Hanya aku dan orang-orang tertentu yang mengerti,"
"Terserah kau sajalah, fiih.."
Alfred hanya dapat tersenyum kecil, dan kembali memejamkan matanya.
Setidaknya ia mempunyai kabar bagus untuk Matthew.
Daann.. sekali lagi, updet lemot lagi, dan miss typo bertebaran lagi.. #gelindingan
Jangan bunuh saya! Saya emang suka FrUK, tapi disini itu Francisnya lagi nenangin Arthur doang kok! #terus
Oh, btw HeroEagle50 itu usernamenya Alfred di game zombie onlinenya, biasanya kalau dia kalah alias mati di game itu, dan dia emang udah pengen log out, dia selalu nulis di chatboxnya 'HeroEagle50 has logged off' walaupun nanti pas dia log out otomatis ada tulisannya (?) (ibarat chat di fb gitu deh! #heh)
Bagi yang membaca fic abal ini, please revieeeww #nangis(?)
Saya pengen tau siapa aja yang baca, biar saya ngapdetnya rada cepet QwQ
Please please please please pleaaseeeee #udah
Yosh, kalau ada yang ndak ngerti tanya aja, mungkin jawabannya nanti di chapter berikutnya 8D
(termasuk kenapa si Gil bisa-bisanya nongol dan udah kenal sama Mix)
(dan apa itu sihir 'Lexeriamus')
(dan kemana Witchnya pergi)
(dan Arthur lagi ngapain)
(dan-#disumpelscone)
Maafkan bila ada kesalahan, saya ngantuk.. #jder
