Disclaimer: Hidekaz Himaruya – Hetalia: Axis Powers

Genre: Crime/Romance

Warning: T+, Alternative Universe, Human Names Used, Typo(s), Out of Characters, Fan-Service, etc.


Sial! Kenapa jadi begini?!

"Alfie?" ujar Arthur sembari mengetuk pintu kamar. "Alfie kau baik-baik saja, kan?"

"A-aku baik-baik saja, kok," jawab Alfred dari balik pintu.

"Yakin? Boleh aku masuk?"

Alfred terdiam sejenak, lalu mendesah pelan. Ia membuka pintu.

.

.

"... kau ini mudah ditebak, Alfie. Katakan apa yang sebenarnya terjadi."

Alfred tak berani menatap mata Ayahnya. "Sudah kubilang aku baik-baik saja, Dad."

"Oh, ya? Bagaimana kau menjelaskan bekas kemerahan di lehermu, dan ..." Arthur menutup mulutnya, "... menaramu berdiri."

"Gyah~, jangan lihat!"

"Hhh~ ya sudah kalau tetap tak ingin bercerita. Tapi, kalau kau butuh tempat untuk bersandar, aku selalu ada untukmu, dan selalu siap untuk mendengarkanmu."

Dad, jangan bicara seperti itu. Dan, oh, jangan memandangku dengan tatapan yang tak kumengerti.

"... iya. Terimakasih, Dad."

"Terimakasih kembali, Alfie," ujar Arthur lembut sembari mengecup kening Alfred.


[05.45 PM]

Ludwig mengencangkan syalnya, menatap kosong pada pemandangan alam di sekitarnya. Barisan pohon ek dan mapple yang berdiri tegak, jalan perbukitan yang naik-turun serta warna langit yang kemerahan begitu indah untuk dinimkati pada sore hari. Namun, pria itu hanya memandang semua itu sebagai bentang alam yang biasa. Tak ada yang menarik bahkan bisa dikatakan hanya begitu-begitu saja. Dari kejauhan terlihat sedikit awan gelap yang sepertinya menuju kemari. Ia tak begitu mempedulikannya. Paling hanya akan terjadi hujan dan itu tak akan mengganggu jalan pesta. Semoga.

"Ah, Mr. Beilschmidt," ujar sedikit Lili sedikit kaget. "Sedang apa Anda di sini?"

Ludwig berbalik. "Lili. Aku hanya ingin bersantai saja di atas balkon. Lagipula, lihat ... ini indah bukan?"

Bohong.

Lili berjalan mendekat, lalu tersenyum. "Iya. Dulu sewaktu aku dan Kakak masih tinggal di sini, kami sering berada di atas balkon untuk menikmati pemandangan."

"Kau dan Vash memang sangat dekat, yah?"

Lili mengangguk. "Kakak selalu ada untukku. Ketika Kak Roderick meninggal, Kakaklah yang membuatku untuk terus kuat."

"Maaf, aku tak bermaksud membicarakan hal ini, tapi aku masih merasa sedikit aneh dengan penyebab kematian Roderick."

"Soal rem mobilnya yang blong itu?"

"Iya, untuk orang yang perfeksionis seperti dia, rasanya aneh kalau ia bepergian dengan mobil seperti itu."

Lili kembali tersenyum. "Jadi maksud Anda ada orang yang menyabotase mobil Kak Roderick, begitu?"

"Aku tidak bermaksud menuduh hanya saja sedikit aneh."

"Aku mengerti. Padahal Kak Roderick itu orang yang baik, tapi kalau itu benar, jahat sekali orang yang melakukannya."

"Kau tidak apa-apa?" tanya Ludwig sedikit khawatir.

"Ya, aku tidak apa-apa." Lili menatap iris biru safir Ludwig. Tersenyum. "Anda tidak perlu khawatir semuanya akan baik-baik saja."

Ludwig mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu?"

"Aku tahu Anda sebenarnya tak menyukai Kak Roderick, kan? Lalu, Anda harus mengalah pada Kakak Anda, Gilbert, yang mencintai Kak Eliza padahal Anda juga menyukainya, kan?"

Gadis ini ...

"Di lain pihak Kakak Anda sempat menyimpan dendam pada Mr. Honda karena, umm... rahasia," Lili berbalik. " Sepertinya aku bicara terlalu banyak. Sampai nanti, Mr. Beilschmidt."

Ludwig berdiri terpaku di tempatnya melihat Lili pergi dari hadapannya. Panas. Hatinya terasa panas ketika mendengar semua ucapan Lili. Selama ini ia pikir Lili hanya gadis polos biasa yang selalu berlindung di balik punggung Kakaknya, Vash. Tapi itu salah, Ludwig melihat sisi lain Lili yang tak pernah ia duga. Gadis itu cukup berani untuk membicarakan hal kelewat pribadi seperti itu. Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, dan jangan sampai gadis itu bicara pada orang lain. Tidak boleh.

.

.

[Gilbert's Room]

"Aiyaa, Gilbert apa tak bisa diundur saja tanggal pernikahan kalian, aru?" Yao masih bersikukuh untuk merubah tanggal penikahan Gilbert dan Elizavetha. "Ayolah, aru."

"Tidak bisa Wang-shifu. Undangan sudah dibagikan dan pestanya akan diadakan lusa."

"Tapi itu bukan tanggal yang bagus, aru."

"Wang-shifu ini bagaimana, sih? Gak awesome, deh. Wang-shifu sendiri, kan, yang mengatakan kalau lusa itu tanggal yang bagus."

Yao menepuk dahinya. "Sudah kubilang berkali-kali, aku tidak pernah bilang begitu. Sekarang aku mau lihat surat yang pernah kukirimkan pada Elizavetha."

"Mana kutahu. Bukan aku yang menyimpannya."

"Aiyaa, kau ini buat susah saja, aru."

Yao bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar kamar. Ini membuatnya lelah saja. Di usianya yang sudah lebih dari 65 tahun, Yao harus selalu berjalan-jalan kadang membuat punggungnya terasa sakit. Apalagi kalau mengingat perjalanan ketika menuju ke rumah ini yang sangat melelahkan. Mobil-mobil harus di parkir di bawah karena memang jalannya sudah mulai rusak. Melewati jalan setapak yang sudah tertutupi karena lama tak dirawat. Rencananya besok akan datang beberapa orang yang akan membersikannya untuk dilewati tamu-tamu.

Elizavetha baru ingat tadi pagi soal jalan setapak itu dan baru menghubungi petugas kebersihan untuk membersihkannya. Beruntunglah listrik masih berfungsi namun untuk jaringan internet sepertinya akan sedikit terhambat karena faktor lingkungan. Jadi jangan harap bisa berinternet ria cepat dengan kondisi alam seperti ini.

Lalu, ada sebuah jembatan kayu yang menurut Yao cukup berbahaya untuk dilewati karena sudah lumayan tua. Tapi itu jalan penghubung satu-satunya untuk dapat mencapai rumah ini setelah melewati jalan setapak itu. Di bawah jembatan terdapat sungai yang cukup deras yang airnya berasal dari bendungan sebelah utara. Kalau hujan besar biasanya pintu bendungan akan dibuka agar tidak meluap dan tinggi air bisa sampai sama rata dengan jembatan itu.

Yao hanya bisa geleng-geleng kepala. Kenapa Elizavetha menginginkan tempat terpencil ini menjadi tempat pernikahannya. Di tambah, jarak gereja yang lumayan jauh dari rumah ini. Buat repot saja. Duh.

-0o0o0-

Alfred mengunci pintu kamarnya sebelum ia berjalan turun untuk makan malam. Arthur sudah memanggilnya dari 15 menit yang lalu. Alfred sengaja keluar paling akhir agar tidak berpapasan dengan Ivan. Matanya awas melihat sekitar, dirasa cukup aman ia berjalan dan mulai menuruni tangga.

"Al," panggil Ivan.

"Gyah~," teriak Alfred saking kagetnya, kakinya menginjak anak tangga yang salah, dan hampir terpeleset. Tapi tangan Ivan dengan cekatan bisa menggapai tangan Alfred, menarik tubuh pemuda itu namun sayang kacamata Alfred terjatuh. "A-apa yang kau lakukan, bodoh!?"

Sial! Kacamataku jatuh, pandanganku buram.

"Aku tidak melalukan apapun. Kau saja yang tidak berhati-hati, Al."

"Aku?! Jadi kau menyalahkanku? Kau yang membuatku kaget, Ivan!"

"Oh, maaf kalau begitu, da," ujar Ivan sambil tersenyum.

"Argh, sudahlah aku tidak peduli. Ambilkan kacamataku!"

Ivan mengangkat bahunya, lalu melepaskan pegangannya dari tubuh Alfred. Tadinya Ivan mau saja mengambilkan kacamata itu, tapi sebuah pikiran jahil melintas di kepalanya. Ivan menginjak kacamata itu dengan sengaja.

Krek!

"Wah, maaf, aku tidak sengaja menginjaknya, da."

Bagus, kacamataku pasti patah dan kacanya pun pecah. Sialan kau Ivan! Kau pasti sengaja menginjaknya. Sengaja, kan!

"Kau masih marah, da?" tanya Ivan tanpa merasa bersalah.

"Tanpa menjawab pun kau sudah bisa menebaknya, kan?!"

"Aku kan tidak sengaja. Nanti kuganti saat kita pulang nanti, da"

Alfred menatap tajam Ivan. "Kau ini gila atau apa, sih?! Pandanganku buram dan aku harus menunggu sampai pulang?"

"Da."

"Argh! Ivan, kau ini - ..." kata-kata Alfred langsung terhenti ketika tangannya dipegang erat oleh Ivan.

"Dengan begini aku bisa jadi mata keduamu, kan, da?"

"Le-lepas!"

Alfred menarik tangannya dari genggaman Ivan, lalu pergi meninggalkan pemuda Rusia itu. Tapi yang ada Alfred malah menabrak patung kuda yang ada di bawah. Alfred memegangi kepalanya yang terasa sakit.

"Tuh, lihat kan. Sudah jangan keras kepala, biar Ivan yang menuntunmu, da."

Sial, sial, sial!

Semua pandangan tertuju pada Ivan dan Alfred. Ada yang tersenyum menyiratkan arti, ada yang memutar bola matanya tanda kesal, dan ada juga yang menatap tajam. Ivan menarik bangku dan menyilakan Alfred untuk duduk, lalu Ivan duduk di sebelahnya. Ivan tak ambil pusing dengan orang-orang di sekitar yang memperhatikannya. Selama itu tak menganggu dirinya, Ivan akan diam saja.


Seusai makan malam, mereka memilih kembali ke kamar masing-masing. Membiarkan dua maid yang ada di rumah ini membereskan sisanya. Suasana di dalam rumah pun terasa sepi dan seperti tak ada seorang pun di sini. Entah apa yang mereka lakukan di kamar mereka, tapi satu hal yang pasti, bahaya mulai mendekat, dan akan membuat pesta pernikahan Gilbert dan Elizavetha terganggu.

Sementara itu di kamar Gilbert, Elizavetha sedang menghabiskan malamnya bersama calon istrinya itu. Banyak hal yang mereka bicarakan. Mulai dari ketidaksabaran Elizavetha mengenakan gaun pengantinnya, mengucapkan janji setia di altar di depan pendeta, dan tentu saja... hidup bahagia dengan Gilbert.

Gilbert turun dari atas tempat tidurnya menuju perapian. Ia menyalakan perapian untuk menambah kehangatan suasana. Yah, walau mungkin Gilbert tak seromantis Francis, tapi setidaknya ia tahu selera Elizavetha. Lilin-lilin kecil yang terpasang di setiap sudut, ia nyalakan dan mematikan lampu di dekat tempat tidur. Pria albino itu tersenyum. Elizavetha pun membalas dengan senyum dengan manisnya.

"Aku bisa membaca pikiranmu, Gil," ujar Elizavetha dengan kedipan manja.

Gilbert mengelus dagunya mantap. "Kau selalu bisa membaca pikiranku, Liz. Tak apa, kan, kita melakukannya?"

"Oh, Gil, kau mencuri start malam pertama kita."

"Anggap saja ini hanya pemanasan. Malam pertama kita nanti akan lebih membuatmu senang nanti."

"Aku menunggu. Lakukanlah yang terbaik, Gil."

Tanpa menunggu lama, Gilbert sudah berada di atas tempat tidur bersama wanita tercintanya. Matanya melirik ke arah dada Elizavetha. Besar, kencang, dan berisi. Untuk wanita seusianya, tubuh Elizavetha masih terlihat sehat, dan segar. Gilbert menekankan keningnya di kening Elizavetha. Gilbert menutup matanya dan mengelus leher serta bahu Elizavetha.

"Liz, aku mencintaimu."

Elizavetha mencium Gilbert. Tanpa keraguan. Tanpa pendahuluan.

Gilbert terkejut. Matanya terbuka seketika. "Liz... oh, ya, ampun kau aggresif juga ternyata."

"Kumohon, Gil. Sekarang... lakukan sekarang."

Gilbert meremas bahu Elizavetha dengan lembut, lalu menariknya dan mencium Elizavetha dengan sangat bergairah. Elizavetha mengerang dan membalas ciuman itu. Saat menjelajah mulut Elizavetha lebih dalam, Gilbert menurunkan tangan kirinya mengelus punggung Elizavetha, sedangkan tangan kanannya menangkup dada Nic. Meremasnya lembut.

Sambil terus mendesah menuntut lebih, Elizavetha menyelipkan kedua tangannya ke balik kaos Gilbert dan membelai dada Gilbert yang berbidang. Elizavetha mengangkat kaos itu hingga ke leher Gilbert. Keduanya pun melepas ciuman mereka untuk mengambil napas. Iris ruby Gilbert menatap Elizavetha penuh arti. Ia tersenyum.

Gilbert mengangkat kedua tangannya dan Elizavetha membantu melepas kaos yang dikenakan Gilbert. Ketika Elizavetha menurunkan kepalanya dan mencium dada Gilbert, Gilbert mengerang dengan penuh hasrat. Gilbert membaringkan tubuh Elizavetha di atas tempat tidur, lalu membuka satu per satu kancing bajunya, kemudian melepaskan branya dengan kecepatan yang mengagumkan.

Kesesese, I'm so awesome on it.

Elizavetha berbaring di bawah Gilbet, menekankan tubuhnya saat merasakan bagian tubuh Gilbert yang mengeras. Napas Gilbert memburu, keringat membasahi alis dan bawah bibirnya, iris ruby-nya menatap dada Elizavetha yang polos.

Elizavetha gemetar saat Gilbert menundukan kepalanya. Pada saat bibir menyentuh, menghisap, menggigit puncak dadanya, Elizavetha mengerang merasakan kenikmatan yang menderanya. Seluruh tubuh Elizavetha begitu sensitif, sangat mendambakan kepuasan yang sudah lama tak ia rasakan. Dulu ia dan Roderick jarang sekali melakukannya. Hanya beberapa kali dan kurang begitu memuaskan. Gilbert masih menciumi satu puncak dada Elizavetha sementara ujung jarinya mengelus puncak lainnya.

"Ahh~ Gil..." Elizavetha mengerang.

"Hmm?"

"Puaskan aku sekarang... sekarang..."

"Dengan senang hati."


"Hhh, dengan begini semuanya tak akan ada yang tahu. Sialan! Lelaki itu ternyata bertukar kamar dengan pria tua ini."

Ia mengelap keringat yang sedikit mengucur dari pelipisnya. Awalnya ia tak mengira kalau sasarannya akan bisa lolos, padahal ia sudah merencanakan hal ini dengan matang. Kalau sudah begini ia harus mengatur ulang kembali rencananya. Tapi satu hal yang ia khawatirkan, apakah ia punya cukup waktu atau tidak. Mengingat waktu yang tak banyak.

Rambut pirangnya sedikit ia rapihkan. Ia tak ingin terlihat berantakan atau terlihat tak seperti biasanya. Sebab ada satu orang yang mengenalnya lebih dalam di banding yang lain. Dan jika orang itu sedikit saja tahu ada yang berubah darinya, bisa-bisa perbuatannya terbongkar.

Perlahan ia melangkah keluar dari kamar pria tua yang sudah tak bernyawa itu dan menguncinya kembali. Tak ada yang mengetahui mengenai rahasia dari semua kamar yang ada di rumah ini. Hanya mendiang Rodderick dan tentu saja dirinya. Pada mulanya ia juga tak tahu, tapi karena sebuah ketidaksengajaan, akhirnya ia mengetahui tentang hal-hal tersembuyi di rumah ini.

Rumah yang seharusnya penuh cinta dan ditinggali oleh orang-orang yang bahagia harus menjadi saksi sebuah cinta yang tak pernah ia setujui. Bagaimanapun orang itu, orang yang menjadi sasarannya harus mati, dan tak ada yang berhak untuk tinggal di rumah ini. Tak ada.


Pagi pun menjelang. Di luar angin bertiup cukup kencang dan rintik-rintik air hujan jatuh membasahi bumi. Langit gelap masih menutupi dan bunyi petir yang menggelegar sesekali rintik-rintik pun berubah menjadi hujan lebat disetai angin kencang dari arah barat.

Alfred masih bergelung di dalam selimutnya. Matanya masih ingin menutup untuk beberapa menit lagi. Bahkan suara ketukan dari luar pintunya pun tak ia hiraukan. Satu hal yang Alfred tak suka adalah tidurnya diganggu oleh siapapun atau apapun itu. Tak peduli Ayah atau bahkan Ivan sekalipun, ia tetap tak suka.

Matanya terbuka perlahan dengan malas. Ayolah, ini masih pagi kenapa sudah sibuk mengganggu orang lain, sih. Alfred menguap lebar lalu mengembuskan napas berat. Membuat kesal saja.

"Iya, iya, tunggu sebentar." Pandangannya memang masih tak begitu jelas, tapi Alfred masih bisa melihat benda dalam jarak dekat. "Ada ap-..."

Blam!

Alfred kembali menutup pintunya dan kali ini matanya benar-benar terbuka lebar. Orang menyebalkan itu mendatanginya lagi. Sungguh, demi apapun itu, tak bisakah sehari saja tak menganggunya atau mati suri saja sampai acara pernikahan ini berakhir.

"Al, Dad menyuruhmu turun untuk sarapan, da."

Dad? Sejak kapan Arthur menjadi Ayahmu, Ivan!

"Pergilah, kau duluan saja. Aku menyusul dan kau tak berhak memanggil Arthur itu Ayahmu tahu!

"Kenapa?"

"Dia itu Ayahku dan hanya aku yang berhak memanggilnya begitu. Kau bukan apa-apaku, bukan siapa-siapaku lagi, dan kita sudah tidak ada hubungan lagi!"

"Kalau begitu apa arti ciuman kita kemarin, da?"

Seketika wajah Alfred memerah sampai ke telinga. Ia mengingat kembali kejadian saat Ivan menciumnya dan hampir... hampir tidur dengan pemuda itu. Ini hanya sekedar seks, Al. Oh, hentikan kata-kata menjijikan itu dan sekarang jadi teringat lagi di kepala Alfred. Alfred tak mau lagi termakan oleh harapan palsu Ivan. Tak mau lagi.

"... pergilah Ivan. Jangan pernah bicara lagi denganku. Aku... aku membencimu. Sangat. Sangat membencimu."

Ivan terdiam sejenak, lalu berkata, "Lakukanlah sesukamu, Alfred."

Alfred? Dia tak pernah memanggil nama kecilku dengan lengkap. Tapi... oh, ya, Tuhan, apa yang sudah kukatakan tadi?! Bodoh! Kau bodoh sekali, Alfred!

Alfred membuka pintunya dan tak melihat sosok Ivan di sekitar lorong. Sepi. Dia sudah pergi. Kata-kata Alfred yang terakhir itu benar-benar membuat Ivan pergi. Sedikit kesal Alfred pada dirinya sendiri. Tapi, bukankah ini yang ia inginkan. Ivan menjauh dari dirinya dan berhenti menganggunya. Ini kan yang Alfred inginkan. Iya, kan?

Ivan...

-0o0o0-

Lee memegang sebuah nampan berisi makanan. Tadi pagi Yao, Kakak tertuanya, tak ikut sarapan dan yang lainnya mengira mungkin pria itu sengaja melewatkannya. Tapi sudah menjelang siang, Yao belum keluar dari kamarnya juga. Ini sedikit membuat Lee khawatir walau wajahnya tak menunjukan hal itu.

Gilbert yang baru saja menaiki tangga melihat Lee berdiri di depan pintu kamarnya. Alisnya terangkat sebelah. "Lee? Apa yang kau lakukan di depan kamarku?"

Lee menoleh ke arah Gilbert. "Mengantarkan makanan untuk Gege."

"Loh, memangnya kau tidak tahu? Aku dan Wang-shifu bertukar kamar kemarin. Beliau sekarang ada di kamar nomer 11."

"Begitu. Terimakasih."

"Terimakasih kembali dan mari kuantar."

Mereka berdua pun menuruni tangga sebelah kiri dan bergerak menuju tangga sebelah kanan. Lee mengetuk beberapa kali pintu kamar itu. Tapi sama sekali tak ada jawaban. Ia melihat ke arah Gilbert.

"Apa?" tanya Gilbert sembari mengerutkan dahinya.

"Gege benar ada di sini, kan?"

"Iya, mungkin beliau masih tidur."

Lee menggeleng pelan. "Gege bukan tipe pemalas. Aku jadi khawatir."

"Jadi?"

"Aku ingin masuk."

Gilbert mencoba untuk membuka pintunya, namun terkunci. "Tidak bisa. tunggu sebentar aku akan panggil yang lainnya."

Lee mengangguk. Beberapa menit kemudian Gilbert datang dengan yang lainnya. Awalnya mereka tak yakin akan mendobrak pintu kamar ini, sebab bisa saja memang Yao sedang terlelap tidur. Tapi, karena Lee yang meminta dan Elizavetha sudah mengijinkan, mereka pun mendobrak pintu itu.

Dobrakkan pertama tak berhasil. Begitu pula dengan dobrakkan yang kedua, ketiga dan keempat. Mereka pun mencoba kembali dan pada dobrakkan ketujuh pun pintu berhasil terbuka, lalu roboh.

"Kyaaa~!" jerit Lili dan Elizavetha hampir bersamaan melihat keadaan kamar yang tampak berantakan dan kondisi Yao yang mengenaskan.

Gilbert segera membalikan tubuh Elizavetha menghadap dadanya, begitu juga yang dilakukan Vash terhadap Lili. Vash tak ingin kejadian mengerikan ini dilihat oleh adik tersayangnya. Alfred menutup mulutnya sedangkan Ivan yang berada di sampingnya tampak biasa saja. Padahal reaksi yang lainnya tampak terkejut bahkan takut.

Bantal-bantal kecil yang seharusnya di letakan di atas kursi panjang untuk membaca terlihat sudah rusak. Seperti habis dicabik-cabik oleh sesuatu. Sprei tempat tidur yang bersimbah darah sudah tak pada tempatnya lagi. Tubuh Yao berada di atas tempat tidur dengan sebuah bantal di atas perutnya dan sebuah pisau tertancap di kerongkongan Yao. Lalu sebuah lubang di kepalanya seperti luka bekas tembakan.

Semua mata pun langsung melihat ke arah Vash yang masih mendekap Adiknya. Vash menggeleng keras dan siap bersumpah demi apapun itu bahwa, bukan dia yang melakukan semua ini. Bukan.


"Bagaimana ia bisa tewas?" Arthur masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya beberapa menit lalu. "Kuncinya saja masih ada di atas meja."

"Ya, aku juga melihat kunci kamarnya masih ada di atas meja," tambah Kiku.

"Lalu bagaimana pintunya bisa terkunci sedangkan setiap kunci untuk setiap kamar itu hanya ada satu, tak ada cadangannya," komentar waras Gilbert yang tidak seperti biasanya. "Waktu kita tiba di sini pun semuanya melihat sendiri kunci kamar yang diberikan pada masing-masing penerima kamar, bukan."

"Berarti ini sebuah bunuh diri?" pertanyaan tak jelas keluar dari mulut Francis.

"Itu kan tidak mungkin, kau lihat sendiri kan kondisi mayatnya, bloody wanker!?"

"Lalu kau mau bilang Houdini yang melakukan semua ini, Arthie, atau makhluk-makhluk tak kasat mata? Seperti itu?"

"Kau mau mengejekku, heh, bloody frog!?"

"Hentikan!" seru Ludwig. "Teman kita ditemukan tewas dan kalian masih sempat-sempatnya bertengkar?"

"Uhm!" Ivan berdehem kecil. "Begini seperti yang kalian tahu, tadi aku sempat memeriksa mayat Mr. Wang, da. Aku menemukan fakta-fakta yang mungkin bisa membuat kita sedikit mengerti dengan keaadan ini. Pada dua jam pertama biasanya mayat sudah mulai kaku dan mayat Mr. Wang sudah dalam keadaan kaku, lalu suhu tubuhnya sudah tidak hangat lagi. Itu berarti beliau tewas sekitar lima sampai delapan jam yang lalu. Darah tidak menyembur keluar dan malah mengalir dari sela-sela luka. Itu karena pisau yang tertancap di kerongkongannya tidak dicabut."

"Apa maksudnya?" tanya Alfred.

"Oh, kau bilang kau tak mau berbicara lagi denganku, Alfred."

Alfred terdiam.

Ivan mendesah. "Oh, baiklah, da. Saat kau menikam seseorang lalu mencabut pisau atau benda tajam lainnya yang kau gunakan itu kau mencabut lagi, otomatis darah akan menyembur keluar. Banyak atau tidaknya darah yang keluar, itu tergantung di mana kau menusukan senjatamu. Kalau kau menusukkannya di bagian yang penuh dengan pembuluh darah dan mencabut senjatamu lagi, maka darah akan menyembur keluar. Berbeda halnya dengan membiarkan senjata itu tidak kau cabut, maka darah yang keluar tidak akan menyembur melainkan merembes lewat sela-sela luka. Mengerti, da?"

Elizavetha menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menarik napas. "Lalu... luka bekas tembakan itu? Aku sama sekali tak mendengar adanya suara tembakan. Menggunakan peredam kah?"

"Umm, soal itu..."

"Bukan aku yang melakukannya." Vash segera memotong ucapan Ivan. "Aku berani bersumpah."

"Pertanyaannya sekarang, apa ia terbunuh, bunuh diri atau ... dibunuh, da?"

Semua terdiam saat mendengar kata terakhir yang Ivan ucapkan. Ketiganya bisa jadi kemungkinan yang mungkin benar. Bisa saja dikatakan bunuh diri karena kunci kamarnya saja ada di dalam kamarnya tanpa tersentuh sedikit pun. Tapi ini terlalu aneh untuk dikatakan bunuh diri dilihat dari keadaan korbannya. Terbunuh? Oleh sebab apa? Kecerobohan kah?

Lalu, dibunuh. Oleh siapa dan atas dasar motif apa?

"Tapi satu hal yang kuyakini ialah, Mr. Wang pasti dibunuh. Oleh siapa, aku pun tak tahu. Untuk sementara biarkan saja keadaan kamarnya seperti apa adanya, saat semua ini selesai biarkan pihak yang berwajib melakukan tugasnya, da."

Hujan di luar semakin deras dan meminta polisi untuk datang kemari pun tak mungkin. Hujan besar seperti ini pasti akan menyebabkan jembatan kayu itu berbahaya untuk dilewati. Lagipula mereka tak mungkin membiarkan pesta pernikahan besok batal karena peristiwa tak terduga ini.

Lalu sekarang apa?

...

[Bersambung]


Alexandra B: Wah, makasih udah review, saya senang. Makasih (lagi?) buat pujiannya. Sebenarnya saya buat FF RusAme juga gara-gara saya jadi suka sama pair manis ini. Jadi mungkin tar ada sedikit ke-OOC-an di sini. Maklum anak baru penggemar RusAme. Jadi tar kalau ada yang kurang sreg, bilang (ketik) ajah, da :3

Terus gimana saya mau kirim PM kalau pass-nya Ms. B (kemungkinan) lupa. Tapi kalau udah ingat bisa PM saya, kok. Saya tunggu, da :P


[A/N]

Oke, rate-nya mulai chapter depan saya naikin (?) jadi M, soalnya bagian, yah, begitulah, saya selipin di FF ini. Maaf, kalau kurang gereget. Saya masih pemula soal 'beginituan' dan masih rada takut sebenarnya mah. Tapi, ya sudahlah. Sampai ketemu di chapter depan.

Kuroneko Lind