Teman Abadi

Chapter 3

Teman Abadi Zaky UzuMo version

Mianhae, aku ga bermaksud jiplak, coppas, dan kawan kawannya buat FF ini.. Zaky udah minta izin sama yang empunya FF aslinya.. ini bukan sequel atau praquel, aku cuma mau coba bikin FF "Teman Abadi" milik Cie eonnie dengan versi ku sendiri. Dan pastinya dengan cerita yang sedikit ku bedakan dan beberapa pergeseran karakter.

Jadi, DON'T LIKE DON'T READ ! \(^O^)/

.

.

Pair : KyuHyuk, KiHyuk

Genre : readerdeul aja yang tentuin setelah baca, ne? ^.^)V

Warning : typo(s), alur kecepetan DKL (Dan Kesalahan Lainnya)

Summary :

Saat hidup tak sesuai dengan kata hati mu, menghindar bukan lah jalan terbaik. Dan berpura pura menjalaninya akan jauh lebih payah lagi. Saat kau merasa sedih, itu saat yang tepat untuk mengingat rasa senang dan kegembiraan.

"Karna kau tak akan mengatakan gelap saat kau tak mengenal cahaya."

Happy reding chingu! ^o^/

.

.

.

.

.

.

Author POV

Hari hari tanpa Kyuhyun sudah tak lagi membebani perasaan Eunhyuk. Ya berterima kasihlah pada namja bernama lengkap Kim Kibum yang membawa Eunhyuk dalam dekapan hangat mentari dan tetap menemaninya di bawah lembutnya sinar bulan.

Tak seperti Kyuhyun yang hanya merengkuhnya dalam dingin bekunya siang dan gelap hampa senyapnya malam.

Senyum manis dan gummy smile khas Lee Hyukjae sudah mulai dipamerkan sang pemilik dengan santai dan tanpa beban. Meski masih belum berusaha mencari teman lain selain Kibum, namun adaptasi dan sosialisasi Eunhyuk sudah cukup membuat tatapan sebelah mata teman teman sekelasnya menghilang.

Eunhyuk juga sudah mulai berbaur sedikit demi sedikit dengan beberapa siswa siswa yang lain. Sesekali tawa renyah mereka disambut senyum manis Eunhyuk. Yaa memang ekspresi Eunhyuk sudah mulai keluar dengan sendirinya secara alami. Tak lagi menjadi namja beku bak es di belahan bumi kutub selatan dan utara sana.

Senyum hangat dan terkadang tawa lembutnya yang biasanya hanya dinikmati Kibum seorang kini mulai dirasakan oleh orang lain di sekitar namja manis bermarga Lee itu. Dan jangan lupakan luapan perasaan senang dan banyaknya ucapan terima kasih dari umma Eunhyuk pada Kibum atas perubahan besar Eunhyuk.

Senyum menawan Kibum ikut merekah tak kala melihat perubahan positif Eunhyuk. Tenang hatinya sedikit terusik saat memorinya mengingat potret Eunhyuk yang mengusap kasar lelehan beningnya dan juga rintik rintik yang dibiarkan jatuh mulus dari manik coklat namja manis yang awalnya kelam itu.

Memang pernah terlintas di benaknya untuk menanyakan langsung tentang perihal tersebut. Namun di sisi lain Kibum merasa lebih baik menunggu agar Eunhyuk yang menceritakannya sendiri. Tetapi lambat laun Eunhyuk malah seolah mengabaikan semua kejadian sebelum dirinya disambut cukup baik seperti sekarang ini. Dan hal itu sedikit mengusik Kibum untuk mencari tau akar permasalahannya.

Sedikit ide terbersit untuk bertanya pada umma Eunhyuk lebih dulu agar saat bicara dengan Eunhyuk, Kibum tak perlu memutar otak dua kali untuk mempersiapkan pertanyaan dan kata katanya. Bersyukurlah karna Dewi Fortuna berbaik hati menjadwalkan acara menginap rutin Kibum saat ini. Ya, memang setiap akhir pekan sepulang sekolah Kibum akan langsung menginap di rumah Eunhyuk dan pulang pada Minggu siangnya. Yah, itu artinya kau tak perlu menunggu sampai rasa penasaran mu menyurut atau bertambah luas kan, Kim Kibum?

x.x.x

tok tok tok

ketukan di pintu rumah minimalis namja bermaga Lee itu dijawab dengan bunyi deritan kecil yang menandakan terbukanya sang pintu perlahan dengan menampakan sosok yang masih tetap terlihat cantik diusia senjanya itu.

"Aku pulang, umma!" ucap Eunhyuk saat matanya menangkap sosok sang umma tersayangnya. Umma hanya tersenyum sambil mengusap lembut kepala Eunhyuk.

"Umma, malam ini Kibummie akan menginap lagi di sini." lanjut Eunhyuk sambil menatap sang umma yang masih tersenyum.

"Ne, kalau begitu cepat kau ajak Kibum-ah masuk. Umma akan membuatkan makan malam untuk kalian." tatapan lembut umma tak hanya terarah pada Eunhyuk, senyum lembutnya ikut terukir karna kehadiran Kibum yang sudah seperti anaknya sendiri.

"Gomawo, ahjumma." jawab Kibum dengan senyum tipisnya. Kibum melihat senyum dikulum umma Eunhyuk menatap heran pada yeoja yang berusia sejajar dengan ummanya itu.

Senyum dikulum umma Eunhyuk berubah menjadi senyum hangat khas seorang umma pada anaknya. Diusapnya surai lembut Kibum penuh sayang, "Panggil saja aku umma, Kibum-ah."

Senyum hangat itu masih terlihat di mata Kibum, "Kau sudah ku anggap seperti anak ku sendiri. Jadi panggil saja aku umma, ne?"

Kibum terdiam mendengar ucapan umma Eunhyuk. Hatinya terasa menghangat saat kata kata tulus itu masuk ke indra pendengarannya. Melihat Kibum yang hanya terdiam membuat umma Eunhyuk menyentuh pelan pundak Kibum.

"Waeyo Kibum-ah?" suara lembut umma Eunhyuk membuat Kibum keluar dari alam fikirannya.

Senyum Kibum merekah lebih indah dari biasanya seiring dengan semakin meluasnya kehagatan di relung hatinya, "Anniyo, umma. Aku sangat senang kau menganggap ku sebagai anak mu. Gomawo, umma."

Eunhyuk tersenyum senang melihat ke dua orang tersayangnya hanyut dalam kebahagiaan. Perlahan tangannya merengkuh lembut tubuh sang umma dan menarik pelan tangan Kibum, sebagai isyarat untuk ikut memeluk ummanya.

x.x

Kibum POV

Senang. Ya, aku sangat senang melihat perubahan besar pada diri Eunhyuk. Kini Hyukkie tak lagi murung, tak lagi berdiam diri dan menjadi "Ice Prince" di kelas. Hanya dengan melihatnya tersenyum manis seperti itu sudah membuat ku sangat senang. Hanya karna Hyukkie sudah bisa bersosialisali dan berinteraksi dengan cukup baik di sekolah benar benar membuat ku ikut bahagia.

Ah, aku ingat saat umma Hyukkie tersenyum penuh haru melihat perubahan Eunhyuk. Ahjumma bahkan berterimakasih pada ku dan memeluk ku erat. Aku merasakan kehangatan dan kelembutannya saat itu. Ya, kehangatan dan kelembutan seorang umma yang cukup ku rindukan karna umma yang sibuk membantu appa. Yah, meski umma dan appa masih punya waktu luang untuk ku dari mengurus pekerjaannya tapi tetap saja aku merindukan mereka.

Melihat gummy smile manis Eunhyukkie benar benar menyenangkan. Ah, tunggu! Sebersit ingatan terlintas di otak ku saat melihat Hyukkie menangis sambil menatap langit. Rasa sesak yang terlupakan selama akhir akhir ini kembali ku rasa saat mengingat butir bening yang menetes lembut di pipi chubby Hyukkie.

Kenapa kau menangis saat itu, Hyukkie?

Aku sungguh tak tau apa yang membuat Hyukkie sangat murung saat itu. Manik coklatnya yang menjadi jauh lebih kelam, kalimat kalimatnya yang lebih singkat, dan sorot mata penuh kehilangannya saat itu benar benar membuat dada ku sakit. Aku tak mengerti kenapa, tapi sungguh terasa sakit saat melihat lelehan bening itu menunjukan segala kepedihan dan rasa sepi kehilangannya.

Apa yang salah, Hyukkie? Kenapa kau menatap kosong saat berbicara dengan ku saat itu? Apakah aku melakukan hal yang salah? Apa aku membuat mu lebih sedih?

Apa yang hilang dari mu, Hyukkie? Kenapa kau sampai menangis seperti itu?

Tok tok tok

Ah, sepertinya terlalu banyak yang ku pikirkan sampai tak sadar jika kami sudah sampai di depan rumah minimalis Hyukkie. Mungkin aku akan terus berkutat sendiri dengan fikiran ku jika tak mendengar ketukan pintu Hyukkie tadi.

Tak lama kemudian bunyi pintu berderit terdengar dan muncul lah sosok umma Hyukkie yang masih terlihat cantik meski beberapa kerutan tipis mulai menghiasi paras senjanya.

"Aku pulang, umma!"

Nada semangat Eunhyuk saat matanya menangkap sosok sang umma tersayangnya membuat ahjumma tersenyum lembut sambil mengusap kepala Eunhyuk penuh sayang. Aku tersenyum tipis melihatnya. Ah, sungguh keluarga yang bahagia meski tak sempurna kan? Ya, aku tau appa Hyukkie sudah tiada karna sedikit banyak ahjumma menceritakannya pada ku saat aku berfikir ke mana kah appa namja manis yang menjadi teman dekat dan sahabat baik ku ini?

"Umma, malam ini Kibummie akan menginap lagi di sini." lanjut Eunhyuk sambil menatap ahjumma yang masih tersenyum.

"Ne, kalau begitu cepat kau ajak Kibum-ah masuk. Umma akan membuatkan makan malam untuk kalian."

Aku merasakan tatapan lembut penuh aura keibuan itu tak hanya terarah pada Hyukkie seorang. Perlahan, ku rasa tatapan lembut itu mengalir bersama perasaan nyaman ku. Ya, aku memang sangat nyaman berada di sini. Setiap akhir pekan adalah hari yang sangat ku tunggu karna itu artinya aku akan menginap di rumah Hyukkie dan merasakan suasana kekeluargaan yang sangat nyaman.

"Gomawo, ahjumma." jawab ku sambil tersenyum tipis.

Aku sedikit heran melihat senyum dikulum di wajah ahjumma. Lalu senyum dikulum ahjumma berubah menjadi senyum hangat dan lembut khas seorang umma pada anaknya. Kembali ku rasakan perasaan hangat yang menjalar dalam batin ku. Dan kini bisa ku rasakan ahjumma mengusap lembut rambut ku.

"Panggil saja aku umma, Kibum-ah."

Aku tak menyangka ahjumma akan berkata seperti itu. Mata ku memandang tak percaya pada ahjumma. Tapi aku tetap melihat senyum hangat ahjumma yang sama seperti tadi, memancarkan aura keibuan dan kasih sayang yang begitu besar.

"Kau sudah ku anggap seperti anak ku sendiri. Jadi panggil saja aku umma, ne?"

Aku terdiam mendengar ucapan ahjumma. Hati ku terasa menghangat saat kata kata tulus itu masuk ke indra pendengaran ku. Benarkah begitu, ahjumma?

Puk!

Aku terbangun dari fikiran fikiran ku saat umma menyentuh lembut pundak ku. Ku tatap wajah yang memancarkan aura keibuan yang sangat itu tak percaya. Ya, aku sangat tak percaya jika ahjumma menganggap ku sebagai anaknya juga.

"Waeyo Kibum-ah?"

Suara lembut ahjumma membuat ku keluar sepenuhnya dari alam fikiran ku. Senyum ku terkembang penuh rasa bahagia yang meluap luap melihat sorot mata tulus ahjumma. Semakin lama semakin hangat ku rasakan dalam relung hati ku, "Anniyo, umma. Aku sangat senang kau menganggap ku sebagai anak mu. Gomawo, umma."

Sungguh aku tak tau harus berbuat dan berkata kata apa sekarang..

Ku lihat senyum manis terlukis di paras manis Hyukkie. Dan pelan tangan Hyukkie menarik tangan ku, mengajak ku untuk ikut memeluk ahjumma, ah salah maksud ku.. umma..

x.x

Setelah mengerjakan tugas tugas sekolah, umma memanggil aku dan Hyukkie untuk makan malam bersama. Benar benar saat yang tepat karna aku dan Hyukkie memang sudah lapar dan menunggu masakan umma. Ah, aku sungguh senang dan sudah mulai terbiasa memanggil ahjumma dengan panggilan umma.

Makan malam kami lewati seperti biasanya. Tak banyak pembicaraan yang terjadi karna tentu kami menjunjung tinggi sopan santun agar tak berbicara di meja makan. Aku dan Hyukkie ikut membantu umma merapikan meja makan. Setelah selesai aku dan Hyukkie kembali ke kamar untuk mengistirahatkan diri melepas penat dan letih.

Di dalam kamar Hyukkie pun tak terlalu banyak pembicaraan yang muncul. Hanya dentingan jam yang mengisi detik detik kosong diantara kami. Sedikit ku rasakan manik mata Hyukkie menelusuri beberapa sudut ruang kamarnya yang tak terlalu luas ini. Sorot matanya sedikit khawatir dan, rindu?

Yaa aku memang masih sering memperhatikan Hyukkie. Mata ku seolah tak pernah lepas dari gerak geriknya. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 22.30. Mata ku mencari cari keberadaan Eunhyuk. Dan ku lihat dia sudah terlelap dalam mimpinya. Aku tersenyum kecil melihat wajah manis Hyukkie saat tidur. Perlahan ku usap pipi chubby-nya dengan jari telunjuk ku.

'Lembut..' aku tersenyum entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Merasa cukup memandangi wajah manis namja Lee di samping ku ini, aku pun segera membaringkan tubuh ku di sampingnya. Berniat ikut menyusulnya menjelajahi apa yang biasa orang orang sebut alam mimpi.

Krieettt~

Baru beberapa menit aku memejamkan mata mencoba menjejaki alam mimpi, telinga ku menangkap bunyi pintu terbuka perlahan. Bisa ku lihat sosok umma di sana, berdiri di ambang pintu kamar Hyukkie.

"Umma?" panggil ku sambil mengusap sedikit mata ku yang terasa sedikit berat.

"Kau belum tidur, Kibum-ah?" tanya umma lembut pada ku sambil tersenyum dengan aura keibuannya.

"Anniyo, umma. Aku sedikit sulit tidur.." ucap ku sedikit berbohong. Ya, aku tak mau kehilangan kesempatan berbicara dengan umma dan mencari tau kenapa Hyukkie bersedih waktu itu kan?

Tangan lembut umma mengusap kepala ku penuh kasih sayang, "Apa kau mau segelas air, Kibum-ah?"

Kata kata umma yang lembut mengingatkan ku pada umma ku sendiri. Ya, umma ku juga sangat baik dan perhatian pada ku. Sungguh aku sangat menyayangi ke dua umma ku ini.

"Ne, umma.." aku bangun dan berjalan mendekati umma yang duduk di pinggir kasur Hyukkie. Aku melihat lagi senyum lembut itu terukir di parasnya. Sungguh senyum indah Hyukkie pasti warisan dari ummanya.

Aku dan umma berjalan keluar kamar Hyukkie dan berhenti di dapur. Segera umma mengambilkan ku segelas air putih. Aku duduk di kursi meja makan dan langsung menerima segelas air putih tadi lalu meminumnya beberapa teguk.

"Nah, jadi apa yang ingin kau bicarakan, Kibum-ah?"

Aku sedikit terkejut mendengar ucapan umma. Tak ku sangka sifat sensitif dan kepekaan Hyukkie yang mengagumkan itu berasal dari ummanya. Aku tersenyum tipis, "Aku hanya ingin bertanya sedikit, umma.."

"Apa yang ingin kau tanyakan, Kibum-ah?"

Suara lembut umma membuat ku kembali melanjutkan tujuan ku, "Begini, umma. Apa umma pernah melihat sesuatu yang aneh dari Hyukkie?"

Umma tampak berfikir dan mengingat ingat sejenak, "Ne, sebenarnya ada sesuatu pada Hyukkie yang ingin ku ceritakan pada mu, Kibum-ah.."

Ku lihat umma menatap ku lekat, meminta kepercayaan pada ku melalui sorot matanya. Mengerti, aku pun mengangguk pasti mengiyakan tatapan umma.

"Sebenarnya Hyukkie memiliki 'seseorang' yang sangat berarti baginya." Sorot mata umma berubah muram. Aku menatap bingung pada umma. Apa maksudnya 'seseorang' yang berarti bagi Hyukkie?

"Tapi, 'seseorang' itu tak ada.."

Dan aku semakin bingung dengan ucapan umma. Bukan kah tadi umma sendiri yang bilang Eunhyuk memiliki seseorang yang berarti baginya? Tapi kenapa umma malah menyangkalnya dengan mengatakan orang itu tidak ada? Perlahan otak ku merespon kata kata umma. Apakah..

"Maksud umma, Hyukkie.." aku takut takut melanjutkan kata kata ku. Namun umma langsung menyambut kalimat rumpang ku dengan pernyataan yang tak terduga..

"Teman khayalan. Seseorang yang sangat berarti baginya hanya bayangan.."

DEG!

Aku sungguh terkejut dengan apa yang baru ku dengar. Namun mata dan nada lirih umma tak bisa menyangkal kenyataan yang ku dengar.

"Terkadang Hyukkie menceritakan tentang Kyuhyun, nama namja yang 'menemani' Hyukkie selama ini. Lambat laun aku merasa penasaran pada namja yang diceritakan oleh Eunhyukkie dan mencari taunya sendiri."

"Dan yang ku temukan adalah.."

"Hyukkie yang berbicara sendiri seolah olah dia sedang berbicara dengan seseorang. Dan dia menyebut nyebut nama Kyuhyun. Seakan namja bernama Kyuhyun itu benar benar ada.."

Aku tertohok pada pendengaran ku sendiri. Aku sungguh tak habis pikir tentang apa yang dialami oleh Hyukkie. Oh, Hyukkie.. apa kau begitu kesepian sampai menciptakan teman mu sendiri?

"Dan beberapa hari setelah bertemu dengan mu Hyukkie juga menceritakan tentang dirimu. Ku pikir ini sama dengan Kyuhyun. Tapi dia membawa mu ke hadapan ku. Aku melihat mu, kau nyata. Tak seperti Kyuhyun-nya.."

Aku terdiam mendengar semua penuturan umma. Benar benar tak ku sangka bahwa Hyukkie yang begitu pendiam dan tertutup bisa menciptakan dunianya sendiri. Itu kah sebabnya dia hanya berdiam diri di kelas tanpa berniat membuka pembicaraan atau sekedar menyapa teman teman sekelasnya?

Karna Hyukkie sudah memiliki dan tenggelam dengan dunianya sendiri? Karna dia merasa hanya membutuhkan Kyuhyun-nya? Teman khayalannya?

"Tapi beberapa hari kemudian aku melihatnya menangis sambil memukul dan meremas gulingnya. Merintih menangis pilu memohon pada Kyuhyun-nya agar tak meninggalkannya."

Ku lihat umma sedikit menunduk dan mengusap genangan yang ada di pelupuk matanya dan melanjutkan kata katanya, "Dan esoknya, ku lihat senyumnya semakin hambar. Aku sangat khawatir terjadi sesuatu padanya.."

Aku tertegun dalam perasaaan ku yang berkecamuk sendiri. 'Jadi saat itu kau menangis karna ini, Hyukkie?'

Sesak. Sangat sesak. Sangat sangat sesak ku rasakan dalam dada ku. Aku merasa dihimpit empat buah batu besar di setiap sisi ku. Oksigen terasa sulit melewati tenggorokan ku seolah aku terkubur jauh dalam tanah. Seakan pepohonan imbun hijau tak lagi memproduksi sumber nafas manusia.

"Dan kemudian sepulang sekolah aku melihatnya menangis sesak pilu di kamarnya. Kembali memanggil dan berulang kali menyebut nama Kyuhyun-nya. Bahkan sampai saat dia tertidur nama Kyuhyun masih terucap dari bibirnya."

Seluruh kecamuk perasaan ku tak dapat dijelaskan dengan kata kata. Terlalu rumit, jauh lebih rumit dari gumpalan benang jahit kusut. Semakin ku coba berfikir dan ku ingat kejadian kejadian itu semakin meranah luas pula sesak sakit bagai teriris pisau sembilu dan tersiram asin garam lautan.

Oh, Hyukkie.. tekad ku untuk membawa mu kembali dalam cahaya semakin bulat. Tak akan ku biarkan kau kembali direngkuh kelamnya buaian rayu rembulan malam.

x.x.x

Setelah aku mendengar semuanya dari umma aku kembali ke kamar Hyukkie. Sesampainya di sana ku tatap lekat namja manis yang masih terlelap dalam mimpinya.

Hyukkie, apa kau benar benar kesepian sampai kau terlelap dalam dunia mu sendiri? Sampai kau sibuk dan larut bersama Kyuhyun mu itu? Hyukkie, tau kah kau kalau aku juga pernah merasakan kesepian seperti mu? Ya, walau pun tak sedalam rasa sepi mu, namun sedikit banyak aku tau seperti apa kosongnya hati saat tak ada satu pun orang di sisi mu.

Hyukkie..

Kibum POV end

Author POV

Namja penerus marga Kim itu masih menatap dalam sang Lee muda sambil bergelut dengan kecamuk fikirannya. Perlahan dilangkahkannya kaki kakinya ke tempat Eunhyuk terlelap, berniat ikut beristirahat, melepas lelah fikirannya atas apa yang baru dia ketahui.

Memang namja Kim itu tak menyangka jika beban sepi dan kesendirian yang Eunhyuk terima sampai membuatnya memilih menciptakan temannya sendiri. Matanya masih menatap lekat namja yang sedari awal sudah mengusik perhatiannya itu.

'Kenapa kau tak pernah menceritakan apa pun tentangnya pada ku, Hyukkie?' helaan nafas keluar dari bibir Kibum saat otaknya kembali memutar kejadian saat umma mengatakan tentang Hyukkie dan 'teman'-nya.

Kibum semakin mengantuk, matanya mulai sedikit memerah dan berat. Pelan pelan di tariknya selimut Eunhyuk. Ya, mereka memang tidur seranjang. Karna Kibum tak mau umma repot repot membelikannya kasur baru yang hanya akan digunakannya seminggu sekali saat menginap di rumah Eunhyuk.

Sedikit melirik ke arah meja nakas di samping tempat tidur Eunhyuk, matanya menangkap selembar kertas di bawah segelas air yang tadi di bawa Kibum. Digapainya selembar kertas itu dan dibacanya perlahan rentetan huruf yang merangkai kalimat singkat di lembar tipis putih itu.

Terimakasih.

Ku harap kau bisa menjaga Hyukkie untuk ku.

-Kyuhyun-

Manik obsidian Kibum membulat kaget membaca nama yang tertera pada selembar pesan itu.

"Kyuhyun.." gumaman kecil tercipta bersamaan dengan senyum penuh keyakinan yang terlukis mantap di bibir Kibum.

'Ya, aku pasti akan menjaganya."

.

.

.

Ku harap kau bisa menepati janji mu..

TBC or END ?

Hehehe.. diluar perkiraan Zaky, ternyata selesai cepet chap 3nya XDa

Ayo, ayo~ RnR yaa~ ^^/

Okee jadi FF ini mau dilanjut apa end aja minna-san, readerdeul ?

Buat yang nunggu FF ini tayang di FFn mungkin besok ku tayanginnya karna masalah jaringan menghalangi

Nana : jangan, Kyu itu jatah ku(?)#lhoXD

ne, krna Kyu msh berusaha menjauh dari hyuk~ mohon pendapat'a di chap ini, ne? ^^

LonelyKim : jinnjayo eon? Ky ga nyangka klo kata"nya sampe bgtu~ XDa

lanjut, yaa~ tunggu ide Ky ngalir ne, eon~ ^^a

.

.

.

.

.

Salam manis,

ZUM