Jeng Jeng~
Author comeback dengan chapter 2.. *nyalain petasan.
huwaaah, saya ga nyangka kalau FF saya bakal banyak yang review :))
Padahal nih FF banyak typo dan hang diksi yang bertebaran :P saya ucapkan terima kasih banyak sama yang udah me-review Scary Sunbae.. oh ya, maaf dengan chapter pertama yang tidak disertakan garis pemisahnya, hehehe
Warning buat chapter ini : author ga tau ini rate-nya apa kalo kalian bilang Jung Daehyun pervert di chapter pertama~ haha #Zelo robot mode on.
OK.
Let's Reading
Chapter 2.
Zelo menghentikan langkahnya. Mematung. Sosok yang telah merampas ciuman pertamanya kemarin, kini tengah berdiri tak jauh dari tempatnya.
Zelo hendak berbalik namun –lagi-lagi ia kalah cepat dengan sosok itu –Jung Daehyun. Daehyun kini tengah menggenggam lengan Zelo dengan kuat. Memaksanya untuk tetap berada di sana.
"Kenapa buru-buru, hmm?" lengan Daehyun perlahan menyentuh pundak Zelo.
Zelo tertunduk. Wajahnya mendadak bersemu merah. Entahlah. Semenjak ciuman itu, Zelo merasa malu bila berdekatan dengan Daehyun. Daehyun meraih dagu Zelo. Ia tersenyum melihat wajah namja manisnya yang kini benar-benar sangat merah.
"Kau terlihat sangat manis kalau seperti ini"
BLUSH~
Cukup, Jung Daehyun! Kau membuat Zelo semakin mirip dengan udang rebus. Tak berniat untuk menghentikan aksinya menggoda Zelo, kini tatapan Daehyun pada Zelo benar-benar membuatnya meleleh. Tubuh Zelo bergetar. Ia sangat gugup dipandangi Daehyun seperti ini. Ya. Sebenarnya Zelo beruntung sekali karena namja setampan Daehyun bisa jatuh cinta padanya. Andaikan Daehyun adalah namja baik-baik dan berprestasi di sekolah, sudah dipastikan sejak awal Daehyun menyatakan cintanya, Zelo pasti akan menerimanya dengan senang hati.
"Hentikan, Dae!" suara mengintrupsi itu sontak membuat keduanya menoleh. Yoo Youngjae –Sahabat Daehyun kini tengah berdiri manis di belakang tubuh Daehyun. Berbeda dengan Yongguk dan Daehyun, Youngjae adalah satu-satunya dari ketiga orang itu yang berperilaku baik. Tutur bicaranya halus –kecuali pada Daehyun dan Yongguk dan wajahnya sangat berkharisma.
Yoo Youngjae memukul kepala Daehyun dengan majalah yang dibawanya.
"Ya! Itu sakit!" Pekik Daehyun sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kau tidak lihat, eoh? Dia itu ketakutan, dasar Jung Babo" kembali majalah di tangan Youngjae mendarat, namun kali ini pada lengan Daehyun. Beberapa kali. Membuat Daehyun harus menjaga jarak dari Youngjae.
"Bersabarlah sedikit dengannya! Jung itu memang sedikit bodoh" Youngjae mengelus kepala Zelo –yang sedari tadi hanya melongo- dengan lembut. Zelo hanya mengangguk patuh. Ia masih tidak percaya dengan penglihatannya barusan. Bayangkan saja, seorang Jung Daehyun yang keras dan dingin itu bisa takut –atau setidaknya ia tidak membalas perlakuan dari sosok manis ini –Yoo Youngjae?
"Dia itu memang menyebalkan. Kalau bukan temanku, sudah kubunuh orang itu sejak dulu" Youngjae berusaha mencairkan suasana yang sedikit kaku dengan Zelo. Dan sukses membuat Daehyun menatapnya dengan tatapan mematikan.
Zelo tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Percayalah padaku! Dia benar-benar serius dengan ucapannya... Dia mencintaimu!" terdengar berbisik pada akhir kalimatnya, Youngjae sukses membuat wajah keduanya –Zelo dan Daehyun memerah sempurna.
"YA! Pergilah Youngjae-ah! Kau benar-benar..."
"Aku tak akan membiarkannya melakukan hal yang aneh-aneh lagi padamu! Panggil aku bila dia melakukannya lagi!" Youngjae menjulurkan lidahnya pada Daehyun sebelum bergegas meninggalkan mereka berdua –lagi.
Zelo segera mengambil langkah seribu sebelum Daehyun mulai tersadar kembali dari keterpakuannya pada sosok Youngjae. Oh, tidak. Lagi-lagi gerakannya tidak secepat Daehyun. Daehyun menarik pinggang Zelo dan memeluknya.
"Kau selalu pergi diam-diam. Apa kau ingin aku menghukummu seperti kemarin?"
Zelo bergidik ngeri. Sepertinya perkataan Youngjae barusan tidak berpengaruh sama sekali terhadapnya dan Daehyun.
"H-Hyung. Bisakah kau melepaskanku? Aku hanya ingin ke toilet." Zelo berusaha mendorong tubuh Daehyun dengan sedikit tenaganya. Ia hampir lupa tujuannya izin keluar kelas pada jam pelajaran Kim Seonsaengnim adalah karena ia ingin pergi ke toilet.
Toilet?
Daehyun menyeringai. Pikiran kotor sekejap mendominasi di dalam otaknya. Ia melepaskan dekapan posesifnya pada Zelo dan membiarkannya pergi.
.
Zelo menekan tombol kecil pada closet-nya sembari merapikan ujung seragamnya yang sedikit terangkat. Menepuk-nepuk celananya yang sedikit basah dan berjalan keluar.
DEG
'Mati kau, Zelo!'
Seharusnya ia sadar kalau Daehyun tidak akan melepaskannya begitu saja dengan alasan konyol seperti itu. Seringaian menakutkan tercetak sempurna pada wajah Daehyun. Sepertinya Daehyun akan menghabisinya sekarang juga.
Daehyun dengan kasar mendorong tubuh Zelo kembali masuk ke dalam kamar toilet. Membuat Zelo otomatis terduduk manis di atas closet –yang tertutup itu. Zelo menelan salivanya berat. Daehyun benar-benar menyeramkan saat ini. Tangan kanannya terulur untuk mengunci kamar toilet tanpa mengalihkan tatapan 'lapar'nya pada Zelo.
"H-hyu...mmph."
Zelo sempat melawan sebelum Daehyun dengan tiba-tiba menciumnya dengan kasar. Tenaganya tak cukup kuat untuk melawan Daehyun yang mungkin sudah hilang akal saat ini. Lumatan demi lumatan dilayangkan Daehyun di atas bibir Zelo. Lengan kekarnya menekan tengkuk Zelo demi memperdalam ciuman mereka.
Mata Zelo terpejam. Tak tahu harus melakukan apa. Ini adalah ciuman keduanya setelah kemarin Daehyun juga merenggut ciuman pertamanya. Pasrah. Zelo mencengkram kuat kerah seragam Daehyun, sementara Daehyun tengah memutarkan kepalanya ke kanan dan ke kiri demi menikmati setiap jengkal dari bibir Zelo.
"Eunghh..hh.." Zelo melenguh saat dirasakan oksigen di dalam tubuhnya semakin menipis. Daehyun yang melihat wajah pucat Zelo terpaska harus menghentikan aktifitasnya sesaat.
Zelo menghirup oksigen bebas di sekitarnya dengan segera. Matanya masih terpejam. Tubuhnya lemas, beruntung lengan Daehyun masih melingkar pada lehernya. Daehyun menelan ludahnya dengan susah payah. Pemandangan di depannya sungguh membuatnya tidak tahan lagi. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum memutuskan untuk kembali menerjang bibir namja manis-nya itu.
Mulut Zelo yang tengah terbuka saat itu memudahkan Daehyun untuk dengan segera memasukan lidahnya ke dalam rongga hangat Zelo. Menjelajahi setiap sudutnya dan berhenti sejenak untuk bermain-main dengan lidah Zelo. Zelo tak henti-hentinya mengeluarkan desahan alamiah dari bibirnya.
Ciuman Daehyun turun ke area leher Zelo. Dijilatinya dengan penuh nafsu leher putih itu oleh Daehyun.
"Ahh..hh.. Hyungg.." Zelo mendesah hebat atas perlakuan namja yang belum resmi menjadi kekasihnya itu.
Daehyun menggigit kecil leher Zelo beberapa kali. Menciptakan beberapa bercak merah di sana. Zelo hanya dapat menjambak kasar rambut Daehyun. Seakan lupa keberadaannya saat ini, Daehyun mulai membuka paksa kancing seragam Zelo.
Satu..
Dua..
"Hyungg!" Zelo menahan jemari Daehyun sebelum Daehyun kembali membuka kancing seragamnya untuk ketiga kalinya
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Zelo mengisyaratkan Daehyun untuk tidak melakukannya lebih dari ini. Sudut mata Zelo mengeluarkan cairan bening. Zelo menangis? Bagaimana tidak? Hey, ini pelecehan kau tahu?
Daehyun menegakan tubuhnya. Memandang cemas pada sosok yang terkulai lemas di hadapannya. Apa yang telah ia perbuat? Ia membuat Zelo kembali mengeluarkan air mata dari irisnya yang cantik itu.
"Ma-maafkan aku!" kesadaran Daehyun benar-benar sudah kembali saat ini. Dengan segera ia memasang kembali dua kancing seragam Zelo yang barusan ia buka dengan paksa. Ia memeluk tubuh Zelo dengan erat.
"Maafkan aku, Zelo!"
Daehyun membantu Zelo untuk berdiri dan keluar dari kamar toilet, kemudian bergegas merapikan penampilannya –dan Zelo yang cukup berantakan itu. Daehyun menghapus jejak air di pipi Zelo.
"Uljima! Maaf, a-aku tadi sedikit lepas kendali. Maafkan aku!" Daehyun mencoba menenangkan Zelo. Ia sangat menyesal membuat Zelo kembali menangis. Sungguh. Ia benar-benar tidak bisa melihat Zelo menangis. Hatinya seakan hancur melihat Zelo mengeluarkan air mata.
Zelo terdiam menatap lantai. Tubuhnya masih terasa panas akibat perlakuan Daehyun beberapa menit yang lalu. Jemarinya mencengram kuat ujung kemejanya. Kesal? Sepertinya tidak. Entahlah. Ia sama sekali tidak merasa kesal walau Daehyun telah melakukan hal sekotor ini terhadapnya. Apa mungkin hatinya sudah mulai terbuka untuk Daehyun?
"Gwaenchanayo, Hyung"
Zelo melangkah girang keluar dari ruang kelasnya. Dua buah buku kini tengah bertengger manis dalam genggamannya. Senang? Ya. Zelo sangat senang hari ini. Moon Jongup sahabatnya kini sudah kembali masuk sekolah. Setelah lebih dari seminggu meninggalkan sekolah karena harus menjenguk neneknya yang sakit di Jepang, Jongup akhirnya kembali mengisi bangku kosong di sebelah Zelo.
Zelo hanya dapat mengendus pasrah saat Jongup menyuruhnya mengembalikan buku yang dipinjamnya ke perpusatakaan. Zelo paham betul sahabatnya itu masih sangat lelah. Bahkah Jongup sempat tertidur saat pelajaran Matematika.
Zelo menatap lapangan basket yang sedikit ramai saat ini.
DEG
Zelo segera menenggelamkan kepalanya saat siluet 'orang itu' tertangkap oleh indera penglihatannya. Ya. Orang itu adalah Jung Daehyun. Zelo hampir lupa kalau hari ini kelas Daehyun ada pelajaran olahraga. Eh? Sejak kapan Zelo mengingat jadwal pelajaran seorang Jung Daehyun?
Beruntunglah Daehyun masih dapat menangkap bayangan Zelo yang sudah hampir berbelok itu dengan cermat. Dengan gerakan three point, Daehyun melempar bola basket di tangannya sampai memasuki ring, lalu bergegas menghampiri –mengejar Zelo.
"Hey!"
Zelo terlonjak kaget saat dengan tiba-tiba telapak Daehyun menyentuh pundaknya. Daehyun menautkan kedua alisnya, bingung atas reaksi berlebihan dari Zelo. Daehyun tak mempermasalahkan hal itu, dan kini senyum kembali mengembang di wajahnya.
"Aku tahu kau melihatku bermain basket. Kenapa tidak menoleh?" Daehyun menyelidiki.
Lama tak ada jawaban. Daehyun hanya melihat Zelo memainkan bibirnya. Terlihat sekali bahwa Zelo tengah gugup saat ini. Entah pergi kemana semua keberaniannya tempo hari. Memang dasar Jung tidak peka. Daehyun hanya melambaikan telapaknya di hadapan Zelo.
"A-aku...tidak lihat Hyung." bohong Zelo. Wajahnya masih belum mau terangkat.
Daehyun tersenyum. Mulai memahami rupanya. Dan berpikir mungkin ini efek perbuatannya kemarin.
"Ayolah, BabyZel! Aku hanya lepas kendali kemarin!" Daehyun mengangkat wajah Zelo untuk menatapnya.
Zelo mengembungkan pipinya. Sangat lucu. Seketika keberaniannya muncul kembali saat melihat Daehyun tersenyum sangat lembut. Kedua tangannya yang memegang buku besar itupun terangkat dan mulai menghantamkannya pada lengan Daehyun dengan sangat tidak berperikemanusiaan.
"YA! Kenapa kau memukulku? Mencontoh Youngjae babo itu, eoh?" Daehyun memekik kesal sambil menahan tangan Zelo yang tak henti-henti memukulinya.
"Kau benar-benar orang jahat! Kenapa kau bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa? Aku membencimu, Hyung!" bibir Zelo bergetar dan matanya berkaca-kaca.
Tidak. Jangan menangis.
"Aish. Hentikan! Aku tidak mau melihatmu menangis. Baiklah, baiklah! Aku akan melakukan apapun untukmu! Kumohon jangan menangis." mohon Daehyun dengan wajah yang memelas.
Zelo tersenyum penuh kemenangan. Ia kini baru menyadari bahwa Daehyun benar-benar takut melihatnya menangis.
"Lepaskan aku! Aku mau mengembalikan buku ini ke perpustakaan."
Daehyun menurut. Ia hendak berbicara namun Zelo lebih dulu membungkam mulutnya dengan buku besar di tangannya.
"Dan jangan ikuti aku!"
.
Jam makan siang.
Zelo terpaksa menarik Jongup –yang masih setengah sadar itu ke kantin karena sejak istirahat pertama –ceritanya istirahatnya dua kali- Jongup sama sekali tidak makan apa-apa. Ia takut sahabatnya itu jatuh sakit.
"YA! Jonguppie~ Jangan tidur lagi! Ayo cepat makan!" Zelo menguncang-guncangkan bahu Jongup –yang duduk di depannya dengan sangat keras. Jongup mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya kembali melahap roti di tangannya. Namun tak berapa lama, kepala Jongup sudah bersandar manis kembali di atas meja
"Aishh..kau ini!"
Zelo hendak memarahi Jongup lagi ketika seseorang tiba-tiba melompat ke atas mejanya.
"YA, Hyung! Apa yang kau lakukan?" kini omelannya justru tumpah pada sosok Jung Daehyun yang sedang tersenyum tolol –sambil berjongkok di atas meja.
Daehyun tak mengubris. Tangannya justru terulur pada kotak susu di sebelahnya.
TAK'
"Ya! Sakit~" teriak Daehyun saat Zelo memukul tangannya.
"Itu milikku, Hyung!" Zelo menjauhkan kotak susu miliknya dari jangkauan Daehyun.
Daehyun mengerucutkan bibirnya sambil mengelus jemarinya yang terasa perih.
"Aku kan hanya ingin minta."
Jujur. Ia ingin tertawa terbahak-bahak saat ini juga. Melihat pose Jung Daehyun yang menggelikan itu sungguh membuat perutnya serasa tergelitik.
Zelo menjulurkan lidahnya. Benar-benar mirip dengan Youngjae pikir Daehyun. Atau jangan-jangan Youngjae telah meracuni otak namja manis-nya itu? Entahlah.
Zelo segera meminum susu dari dalam kotak itu sampai habis sebelum Daehyun kembali ingin merebutnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Daehyun sehingga namja itu justru terlihat menyeringai. Dan sialnya seringaiannya itu biasanya adalah sebuah pertanda buruk.
Benar saja.
Daehyun menarik tengkuk Zelo dan dengan sigap langsung menempelkan bibirnya pada bibir Zelo. Daehyun menyedot seluruh cairan putih di dalam mulut Zelo sampai benar-benar habis. Pipi Zelo yang semula menggembung bahkan sudah kembali seperti semula. Daehyun melepaskan tautan bibirnya setelah sebelumnya mengecup kilat bibir Zelo.
Zelo mengejapkan matanya beberapa kali. Otaknya sepertinya belum menangkap dengan jelas tentang apa yang baru saja terjadi.
"Padahal, aku hanya ingin meminumnya dengan normal. Tetapi kau memaksaku melakukannya!" bisik Daehyun tepat di telinga Zelo.
Daehyun melompat turun dan pergi meninggalkan Zelo dengan pipi yang tengah memerah hebat. Bagaimana tidak? Adegan tadi disaksikan oleh puluhan pasang mata. Zelo menenggelamkan kepalanya di atas meja.
'Daehyun sialah!'
TBC-
