Annyeong Readers!

Ah, jongmal mianhae! *deep bow. Maafkan author tidak bertanggung jawab ini~ sedikit curcol, kemarin-kemarin author sedang sibuk. Author jadi panitia Pensi di sekolah. FF ini jadi saya abaikan~ mianhae ne..

Gomawo yang masih mau menunggu~

Kira-kira masih ada yang inget FF ini gak ya?

Let's reading!

.

.

Chapter 3.

Zelo menuntun sepeda birunya yang terparkir di pojok rumah bercat putih itu menuju gerbang depan. Seperti biasa, ia akan ke sekolah naik sepeda. Namun, manik beningnya tiba-tiba mengeras saat menatap keluar pagar rumahnya. Seseorang tengah memarkirkan motornya tepat di depan pagar kayu rumah Zelo. Zelo menghentikan langkah kakinya.

'Sedang apa dia di sini?'

Zelo mengeratkan genggamannya pada stang sepeda biru itu.

"Ya! Kenapa diam? Cepat naik!" suara khas namja di balik helm full-face itu mengintrupsi Zelo untuk segera naik ke motornya. Zelo memutar bola matanya malas.

"Shireo! Aku tidak mau." Namja manis itu justru melanjutkan kegiatan menuntun sepedanya tanpa menghiraukan perintah orang itu.

"Letakkan di sana, atau aku akan menyayat ban sepedamu!" ancam namja di atas motor hitamnya itu.

Ancaman. Selalu ancaman yang dikeluarkannya. Dasar bodoh.

"Sampai kapan kau mau terus mengganggu hidupku, Sunbae-nim?" kali ini Zelo berkata agak formal.

"Aku hitung sampai tiga, kalau kau tidak mau naik-"

"Arasseo! Aku tahu." Dengan kesal, Zelo meninggalkan sepeda birunya di pekarangan kecil rumahnya dan naik ke atas motor orang menyebalkan itu. Sunbae-nya itu memang benar-benar tidak bisa ditentang.

"Pegangan!"

"Andwae."

"Ck." Orang itu menarik paksa lengan Zelo untuk memeluk pinggangnya dari belakang.

"Ya! Daehyun hyung!" kesalnya, tapi tangannya tetap melingkar di pinggang Daehyun.

.

"Hyung, kenapa kau berbelok? Itu bukan jalan menuju sekolah." Pekik Zelo saat Daehyun memutar arah kemudinya. Daehyun tersenyum di balik helm-nya.

"Aku tidak bilang kita akan ke sekolah 'kan?"

"Ya! Kau mengajakku membolos, eoh? Cepat putar balik!" Zelo memukul pelan bahu Daehyun dengan kesal.

"Aku mau mengajakmu bersenang-senang!" jawab Daehyun datar sambil terus fokus menatap jalanan. –menghindari kemungkinan terburuk yang akan menimpanya dan Zelo saat berkendara.

"YA! JUNG DAEHYUN! Apa yang ingin kau lakukan?"

"JANGAN TERIAK DI KUPINGKU?"

"Turunkan aku!" rengek Zelo tidak mau diam dan membuat namja di depannya kesulitan mengendalikan kemudinya.

"Ya! bisa diam tidak? Aku tidak akan macam-macam! Memangnya apa yang kau pikirkan?"

"Memangnya aku percaya? Setelah kau pernah melakukan hal yang..." Zelo menelan kalimat terakhir yang ingin ia ucapkan. Wajahnya tiba-tiba memanas.

"Ini masih terlalu pagi untuk 'itu', BabyZel!" mengerti, Daehyun menampakkan senyum jahilnya.

CIUUTT~

"AWW.. SAKIT~ Ara, ara! Aku janji tidak akan macam-macam denganmu!" Daehyun memekik kesakitan saat jemari lentik Zelo mencubit daging di lengan kanannya.

Zelo melepaskan cubitannya saat laju motor Daehyun sedikit oleng. Hey, itu bunuh diri namanya! Namja manis itu mem-poutkan bibirnya lucu. Berpikir kalau setelah ini ia akan melaporkan Daehyun ke polisi dengan tuduhan penculikan anak di bawah umur.

Daehyun menegakkan standar motornya dan melepaskan helm full-face itu dari kepalanya. Ditatapnya namja manis di sampingnya yang tengah menatap takjub pemandangan di hadapannya dengan mulut menganga. Daehyun tersenyum.

"Aku yakin sebentar lagi serangga akan bersarang di mulutmu, Zelo-ya." Daehyun berjalan meninggalkan Zelo –yang masih menganga, mendekati objek pemandangan yang menjadi pusat perhatian namja bersurai kebiruan itu.

"H-Hyung~" sadar, Zelo mengekor di belakang Daehyun.

"AH~ tempat ini tidak berubah sedikit pun." Monolog Daehyun sambil merentangkan tangannya dan menatap genangan air danau di depannya.

Indah memang. Pemandangan di tempat ini, dengan danau sebagai objek pemikat utama, dan pepohonan rindang yang tumbuh di sekitar danau. Jangan lupakan burung-burung kecil dengan kicauan merdunya yang terbang dan hinggap dari satu dahan ke dahan yang lain, juga suara desiran air danau yang disapu angin, menambah apik pemandangan tempat –yang entah apa namanya ini.

"Hyung, bagaimana kau bisa tahu tempat seperti ini?" Zelo menatap heran namja yang berdiri di sampingnya.

"Ini tempat favoritku dengan Youngjae dan Yongguk."

"Oh."

Zelo kembali menatap hamparan air danau di depannya.

"Apa kau sudah sarapan?" Kini Daehyun yang menatap namja manis di sampingnya. Zelo menggeleng ringan tanpa menolehkan kepalanya.

"Kau tunggu di sini! Aku akan belikan sarapan untuk kita." Daehyun mengelus surai Zelo dan melangkah pergi.

Zelo menatap punggung Daehyun saat namja itu melangkah semakin jauh. Daehyun-nya lagi-lagi bersikap normal.

.

Daehyun melemparkan sebungkus roti dan botol air mineral ke pangkuan Zelo, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Zelo. Duduk di atas rumput yang sedikit basah karena embun pagi.

Daehyun membuka bungkusan rotinya dan melahapnya dengan rakus. Zelo terkikik di sebelahnya –juga dengan melahap rotinya.

"Kau sudah tidak makan berapa lama, Hyung?" ledek Zelo.

"Aku lapar."

Daehyun melahap potongan terakhir rotinya. Lengannya terulur untuk mengambil botol air mineral dan meneguknya sampai setengah.

"Ah~" Daehyun mengelus perut datarnya yang baru saja diisi, lalu menatap namja manis di sebelahnya yang tengah menatap lurus ke depan.

"Luruskan kakimu! Aku mau tidur." Daehyun menekan lutut Zelo ke bawah –meluruskannya. Zelo hanya memekik sekali saat Daehyun merebahkan kepala di atas pahanya.

Daehyun memejamkan matanya dan mulai menyamankan posisinya. Hembusan angin sedikit mengacak helai poni yang menutupi dahinya. Zelo menatap lekat pada namja di pangkuannya.

'Kau tampan, Hyung~'

Zelo tersenyum. Ingin sekali ia menyentuh kulit wajah Daehyun dengan jemari lentiknya saat ini, seperti Daehyun yang selalu menyentuhnya kapan pun dia mau. Ingin sekali Zelo mengelus surai coklat namja bermarga Jung itu, seperti Daehyun yang selalu mengelus rambutnya di saat dia menginginkannya. Apa ini artinya Zelo sudah jatuh cinta pada sunbae-nya itu? Sunbae yang pernah ia tolak dulu. Apa ia menyesal?

'Hyung, apa kau benar mencintaiku?'

"Hyung, kakiku kesemutan!" rengek Zelo setelah lama Daehyun tidur di atas pahanya.

Tubuh Daehyun bergerak, lalu bangkit untuk mendudukkan tubuhnya. Daehyun mengucak matanya dan menatap Zelo sekilas. Namja berkulit tan itu kemudian kembali merebahkan tubuhnya, namun kali ini di samping Zelo. Tangan kanannya ia gunakan sebagai bantalan kepala.

"Zel.." Daehyun mengguman namja Zelo dengan lembut.

"Eh?" Zelo menoleh. Menatap ke dalam iris namja yang kini tengah melayangkan pandangannya ke atas langit biru.

Daehyun melirik ke arah Zelo lalu tersenyum sambil menepuk-nepuk tempat di sampingnya.

"Berbaringlah!"

Wajah Zelo memanas, namun kali ini ia menuruti perkataan sang sunbae. Zelo berbaring di sebelah Daehyun. Kedua tangannya ia letakkan di depan dada. Zelo tersenyum.

"Kalau sedang di sini, kalian melakukan apa?" tanya Zelo tanpa memandang orang yang dituju.

"Banyak."

Daehyun menarik napas panjang. Sudut bibirnya terangkat, melengkungkan sebuah senyuman.

"Biasanya kami ke sini untuk melepas penat. Terkadang kami melakukan perlombaan makan, memancing, melempar batu paling jauh, mendengarkan musik."

Zelo tertawa menatap Daehyun, "Hyung pasti tidak pernah menang!"

"Aku selalu menang dalam perlombaan makan! Dan Youngjae yang selalu jadi pecundangnya." Jawab Daenyun dengan angkuh.

"Apa kau menghukumnya?"

"Tentu saja. Youngjae harus menggendongku keliling."

"Memangnya hyung berani menghukum Youngjae Hyung?" ledek Zelo.

"T-tentu saja! Apa yang kau pikirkan?"

Zelo tertawa renyah. Wajah Daehyun memerah. Daehyun tahu Zelo pasti sedang menertawainya. 'Sialan'.

"Hyung aku bosan! Ayo kita main!"

"Main?" Daehyun menampakkan seringaian yang sedikit samar sambil menoleh ke arah Zelo. Zelo mengangguk tanpa menoleh ke arah Daehyun.

Detik berikutnya Daehyun berguling ke atas tubuh Zelo. Membuat Zelo berhenti bernapas untuk beberapa saat sambil mengerjap lucu. Zelo kaget.

"Ayo kita main!" seringaian kini nampak jelas di wajah tampan Daehyun.

"YA!" Zelo mendorong tubuh Daehyun dan menarik tubuhnya menjauhi namja bermata indah itu. Zelo menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya kini memerah.

'Dasar pervert'

"Batu, kertas, gunting!"

"YEIY!" Zelo berteriak keras.

Daehyun baru saja mengepalkan tangannya sebagai simbol batu, sedangkan ia mengeluarkan bentuk kertas dengan telapaknya. Itu artinya, Zelo berhak menampar pipi Daehyun. Hal yang sejak lama ingin ia lakukan terhadap namja yang selalu semena-mena itu.

"AH, Jinjja?" Daehyun merutuki nasib sial yang menimpanya.

"Haha, ini akan sakit, Hyung!" Zelo mengusap kedua telapak tanganya sambil tersenyum licik.

'Akhirnya aku bisa melakukan hal ini padamu, Sunbae-nim'

PLAKKK~

"AKH! Kenapa keras sekali, eoh? Kau membenciku ya?" omel Daehyun sambil mengelus pipinya yang terasa panas.

Zelo tertawa puas melihat reaksi kesal dari sang sunbae.

"Ahaha, mianhae, Hyung! Aku kelepasan." Zelo mengusap sudut matanya yang mengeluarkan cairan bening.

"Ayo lakukan lagi! Kali ini aku akan menang!"

"Batu, kertas, gunting!"

"HUWAAA!"

"YES!"

"Kenapa kau lakukan ini padaku, eoh?" Daehyun menatap ngeri pada sosok manis yang kini tengah tertawa di hadapannya.

"Ayolah, Hyung! Ini hanya permainan! Kajja, kemarikan hidungmu!"

"AAAAAAAAAAAWWW!"

Zelo melepaskan jemarinya dari hidung Daehyun. Zelo tertawa melihat hidung Daehyun yang kini benar-benar merah. Daehyun mengusap hidungnya yang sakit dengan bibir mengerucut.

"Demi Tuhan, aku benci padamu, Zelo-ya!"

"Haha, ayo main lagi!"

"Aku akan balas sepuluh kali lipat dari ini. Lihat saja!"

"Batu, kertas, gunting!"

.

"YEEEESSSSSSSSSSS! YES, YES, YES.."

Zelo meneguk saliva-nya dengan berat. Pelipisnya tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin. Berlebihan, tapi itu sungguh terjadi.

'Mati aku.'

Daehyun masih heboh merayakan selebrasi-nya. Akhirnya ia bisa balas dendam juga. Balas dendam pada namja manis yang berhasil membuat hidungnya memerah bagai tomat cherry seperti ini.

"Hyung, jangan keras-keras!" rengek Zelo.

"Mana bisa begitu!"

"Hyung~"

"Kau yang mulai! Sekarang giliranku!" Daehyun tersenyum sambil mengusap kedua telapak tangannya –seperti gaya Zelo tadi.

"Kalau takut, pejamkan saja matamu!" Daehyun menyeringai sambil meremas jemarinya. Membuat pose seseram mungkin.

Zelo memejamkan matanya. Menunggu Daehyun yang sebentar lagi akan mendaratkan tamparan di pipinya. Daehyun tersenyum melihat sikap ketakutan Zelo.

"Bersiaplah BabyZel!"

Zelo semakin merapatkan matanya. Daehyun pasti akan membalasnya lebih keras, pikirnya.

.

CHUP~

.

Kelopak mata Zelo terbuka perlahan. Matanya mengerjap lucu. Bukan rasa sakit yang membuat pipinya memerah saat ini. Tapi Daehyun.

Daehyun mencium pipinya dengan lembut. Bahkan belum mau melepaskan kecupannya di pipi Zelo.

"A-apa yang kau lakukan, Hyung?"

Daehyun perlahan melepaskan ciumannya di pipi Zelo. Wajahnya belum menjauh. Ia membisikan sesuatu di telinga Zelo yang membuat pipi Zelo semakin merona merah.

"Aku mencintaimu."

Zelo merasakan tangannya basah. Ia menoleh ke atas langit yang sedikit gelap itu. Gerimis. Tangannya semakin meremas jaket Daehyun.

Tes.

Tes.

Makin deras. Daehyun menepikan motornya di sebuah pertokoan yang sudah tidak beroperasi.

'ZZRRAAAASSSSS...'

.

Daehyun membuka helmnya sambil mendesah. Ia melirik Zelo di sampingnya. Seragam dan rambut Zelo sedikit basah, namun bibirnya melengkungkan sebuah senyuman. Daehyun tahu Zelo suka hujan. Zelo menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk membuatnya tetap hangat. Daehyun juga tahu kalau Zelo tidak suka dingin.

Daehyun melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya pada bahu Zelo. Zelo yang sedikit terkejut menatap heran pada Daehyun. Tak lama kemudian, Zelo tersenyum.

"Gomawo."

Daehyun mengangguk lalu menatap lurus pada rintikan air hujan yang membuyarkan pandangannya. Daehyun memasukkan jemarinya pada saku celananya. Sejujurnya, ia juga kedinginan. Angin berhembus sangat kencang.

Lama dalam diam. Suasana riuh air hujan yang menghantam tanah menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Zelo melirik pada Daehyun yang sedang menggosok-gosoknya telapak tangannya.

"Kau kedinginan, Hyung?" tanya Zelo cemas.

"A-ani! A-aku hanya bosan." Daehyun berjalan ke belakang, lalu duduk bersender pada tembok pertokoan itu. Zelo mengikuti. Ia berjongkok di samping Daehyun, setelah sebelumnya melepaskan jaket Daehyun dari tubuhnya. Zelo menyodorkannya pada sang pemilik.

"Kita bisa pakai berdua."

Daehyun tersenyum ramah. Lalu menarik tangan Zelo untuk duduk di sampingnya. Daehyun menyelimuti bagian depan tubuhnya dan Zelo dengan jaketnya.

.

"Rambutmu masih basah." Daehyun membelai lembut surai kebiruan Zelo. Zelo hanya bisa menunduk karena kini wajah Daehyun benar-benar dekat sekali dengan wajahnya.

"Zelo-ya" kini jemari Daehyun malah mengelus pipi Zelo dengan lembut.

"Hmm?".

"Apa kau masih kedinginan?".

Zelo menatap ke dalam iris Daehyun yang kini tengah menatap matanya dengan intens.

"Hmm.."

Zelo hanya dapat melihat wajah Daehyun yang semakin mendekat ke arahnya. Iris beningnya mengikuti gerakan bibir Daehyun. Wajah Daehyun merendah dan matanya terpejam. Zelo memejamkan matanya.

.

'CUP~'

.

.

.

"Ya! Kenapa kau membolos?" bentak Jongup saat Zelo baru saja meletakan tasnya di atas meja.

"A-aku tidak enak badan." Elak Zelo sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi.

"Kebetulan sekali karena Daehyun-Sunbae juga tidak masuk kemarin." Jongup melipat tangannya di depan dada, "Kau sudah berani berbohong padaku, huh?".

"Bu-bukan begitu, Jonguppie. Maafkan aku!" Zelo menunduk bersalah.

"Apa Daehyun melakukan sesuatu padamu?".

"T-tidak.".

"Apa yang kalian lakukan?".

"Moon~"

"Sudahlah! Aku tahu, kau sudah mulai menyukai sunbae mesum itu 'kan?" Zelo melirik pada Jongup. Jongup menghembuskan napasnya ke udara.

"Dengar! Aku hanya tidak ingin dia menyakitimu." Jongup mengelus surai Zelo dengan lembut.

"Semua orang tahu kalau Daehyun bukan orang baik-baik."

"Daehyun hyung tidak seperti itu.." Zelo menepis lembut belaian tangan Jongup, "Dia baik padaku."

Telapak tangan Jongup mengepal. Namun kemudian ia membuang napas pasrah dan tersenyum. Jongup memang tidak pernah bisa benar-benar marah pada Zelo.

"Terserah padamu sajalah!" Jongup menarik Zelo ke dalam dekapannya. Zelo membalas pelukan Jongup.

"Aku percaya padamu."

.

"Aku percaya padamu."

Telapak tangan Daehyun mengepal kuat. Daehyun menarik langkahnya keluar dari kelas itu. Wajahnya terlihat dingin dan datar.

"Sudah kuduga bocah ingusan itu menyukaimu." Gumamnya.

Daehyun berjalan dengan gusar. Entah sudah berapa bahu yang ia tabrak. Ia tidak peduli. Bukankah ini memang Daehyun? Bukankah Jung Daehyun memang seperti ini?

Langkahnya terhenti di taman belakang sekolah. Bel masuk sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Bisa dipastikan Daehyun membolos pelajaran hari ini. Daehyun menjatuhkan tubuhnya di bawah Pohon Kenari besar dan mengeluarkan i-pod dari dalam saku celananya.

Daehyun menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar itu sambil mendengarkan musik lewat headsetnya. Matanya terpejam.

"Ya!" Youngjae memukul kepala Daehyun, membuat Daehyun tersadar dari tidur paginya. Daehyun mengerang kesal.

"Setiap hari bolos, kau itu niat sekolah atau tidak sih?" namja manis itu kembali memukul kepala Daehyun.

"YA!" Daehyun menepis kasar tangan Youngjae tanpa menatapnya.

"Kau kenapa?" Yongguk menatap tajam pada Daehyun.

"Ch." Daehyun kembali memejamkan matanya.

Tangan Yongguk terulur menarik headset dari kuping Daehyun. Yongguk selalu dapat membaca sikap Daehyun yang seperti ini. Daehyun tidak akan sekasar itu pada Youngjae kalau tidak sedang kesal. Yongguk tahu itu.

"Kau kenapa?" ulang Yongguk yang tadi sempat diberi deathglare oleh Daehyun karena telah merampas i-podnya.

"Kalian yang kenapa? Kalian mau ikut membolos denganku?" ujar Daehyun dengan santai.

Youngjae menatap Yongguk dengan tatapan bertanya. Yongguk meraih kerah Daehyun dan membawanya berdiri. Menyudutkannya pada batang pohon besar di belakang Daehyun.

"A-apa ada masalah dengan Zelo?" Youngaje bertanya sedikit takut. Sebenarnya ia lebih takut kalau Daehyun dipukuli oleh Yongguk.

Moon Jongup baru saja keluar dari toilet saat tiba-tiba seseorang menarik kerahnya dan menghantamkan punggungnya ke tembok. Jongup berdecih saat melihat si pelaku. Jung Daehyun. Meski Jongup adalah teman Zelo, tapi Jongup tahu, Daehyun tidak pernah menyukainya. Begitu pun Jongup yang sejak awal membenci Daehyun. Sikap sok berkuasa dan semena-mena Daehyun, apalagi saat tahu Daehyun mengincar sahabatnya.

"Wae, Sunbae-nim?" Jongup memandang rendah pada sosok yang lebih tua di depannya.

Daehyun tidak menjawab. Matanya berkilat menatap iris Jongup.

"Ch. Apa kau tidak tahu caranya memperlakukan hoobae dengan baik, uh? Atau jangan-jangan kau juga sering seperti ini pada Zel~"

BUG.

Jongup terjatuh dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.

"Jangan pernah dekati Zelo lagi!" ancam Daehyun dengan tatapan dingin. Jongup terkikik merendahkan.

"Kenapa? Zelo itu teman 'dekat'ku, Hyung!".

Daehyun berjongkok dan meraih kerah seragam Jongup –lagi.

"He's mine!"

"Bukankah Zelo sudah menolakmu?" Daehyun semakin mengeratkan genggamannya pada kerah Jongup.

"Bukankah Sunbae hanya main-main?"

BUG.

Lagi. Tinju Daehyun melayang pada wajah Jongup. Jongup lagi-lagi tersungkur di lantai dengan luka lebam di pelipisnya.

"Aku mencintai Zelo!"

Zelo hampir saja terjatuh saat lengannya tiba-tiba di tarik seseorang.

"Daehyun Hyung?" Zelo menatap heran pada namja yang masih menarik lengannya itu.

"Ki-kita mau ke mana?"

.

BLAM.

Daehyun menutup pintu kayu itu dengan keras. Bau obat-obatan yang menyengat memudahkan Zelo untuk mengetahui apa nama ruangan ini. Ruang kesehatan. Untuk apa Daehyun membawanya ke sini?

"H-hyung mau apa?" Zelo melepaskan tangannya dari genggaman Daehyun.

Jung Daehyun menatap intens pada namja bersurai biru di hadapannya. Tatapan dingin yang sulit untuk Zelo artikan. Daehyun melangkah mendekati tubuh bergetar Zelo. Semakin Daehyun mendekat, Zelo juga semakin melangkah mundur. Zelo berhenti saat kakinya menabrak tempat tidur di belakangnya.

"Dae~"

Zelo menunduk saat wajah Daehyun mulai mendekat. Mata Zelo terpejam kuat dengan jemari yang meremas ujung seragamnya.

Hanya tinggal beberapa senti lagi Bibir tebal Daehyun dapat meraih bibir namja manis itu. Bahkan keduanya dapat merasakan hembusan napas yang menyentuh kulit wajah mereka. Namun Daehyun menariknya. Dan menggeser tubuhnya sedikit ke belakang.

'Jangan mempermainkan Zelo!' -Jongup

Zelo membuka perlahan matanya. Dilihatnya Daehyun sudah melangkah pergi keluar dari pintu kayu itu.

'Aku tidak main-main. Aku mencintainya. Dan seperti ini caraku mendapatkannya.'-Daehyun.

"Bagaimana kalau Jongup benar-benar mau mengambil Zelo darimu?" tanya Youngjae terus terang.

Daehyun melemparkan kerikil pada hamparan air danau di depannya.

"Kau mencintainya 'kan?" tanya Youngjae lagi. Kali ini membuat Daehyun menoleh ke arahnya.

"Kau mau menyerah hanya karena hal seperti ini? Ch..! Pecundang!" Yongguk yang tengah berbaring di samping Youngjae menimpali.

Daehyun meremas kerikil dalam genggamannya.

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Nyatakan cintamu pada Zelo, secepatnya!" Youngjae memberi penekanan di akhir kalimatnya,

"Kau mau Jongup mengambilnya darimu?"

Daehyun menggeleng cepat.

"Kumohon untuk kali ini dengan cara yang sedikit normal!" Youngjae merebahkan tubuhnya di samping Yongguk. Yongguk terkikik.

"Jangan berharap banyak pada orang itu, Yoo~"

"Sialan!"

Daehyun melemparkan rumput kering pada kedua sahabatnya itu.

"Yaish.." Jung Daehyun ikut merebahkan tubuhnya di atas rumput. Matanya menerawang jauh ke atas langit.

'Cara normal itu seperti apa?'

TBC.

Emm, sepertinya next chapter adalah chapter terakhir deh. Hehe..

Review Juseyo? (^_^)