Well, seperti yang saya bilang, ini adalah chapter terakhir 'Scary Sunbae'. Author ucapin makasih banyak buat yang udah setia menjadi pembaca dan pereview FF tidak berkelas ini..
Author Cuma mau bilang kalau author tidak bisa mendapatkan feel di chapter terakhir ini. Entahlah. Author minta maaf yang sebesar-besarnya kalau readers kurang puas dengan ff saya. Saya pernah bilang kalau saya itu author ini baru kan? Wkwk..
Oke deh..
Let's Reading and always Ship Daelo Couple! Ppai ppai!
.
Chapter 3.
"Huwaa~ Jongup.. tolong aku!" teriakan Zelo menggema di lorong koridor lantai dasar.
"YA! Kenapa kau lari, dasar bodoh!" suara Jung Daehyun yang berada beberapa meter di belakangnya pun tak kalah keras.
"Shireo, Hyung! Aku tidak mau bertemu denganmu!"
BUG
"AWW.."
Zelo terjatuh. Begitu pun sosok yang baru saja di tabrak atau mungkin menabraknya.
"Mian- ah, Youngjae Hyung! Tolong aku!" Zelo segera bersembunyi di belakang namja manis yang masih memekik kesakitan itu dengan perasaan lega.
Youngjae menatap heran pada Zelo yang meringkuk di punggungnya.
"Zelo!" teriakan Daehyun sontak membuat keduanya menoleh. Youngjae membulatkan matanya.
"Jadi dia yang membuatmu ketakutan seperti ini, Zelo-ya?" Youngaje bangkit dan merentangkan tangannya –melindungi Zelo.
"Stop di sana, Jung Babo! Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Zelo dengan otak mesummu itu."
"Y-Ya! Apa yang kau katakan, Youngjae-ah? A-aku hanya-."
"Berhenti kataku!" teriak Youngjae saat Daehyun hendak melangkahkan kakinya.
Daehyun menatap Youngjae dengan tatapan horror.
"Zelo-ya, kembali ke kelasmu!" ujar Youngjae yang langsung di-iyakan oleh Zelo. Zelo berlari menjauh dengan perasaan lega bercampur...cemas?. Cemas kalau-kalau Youngjae membuat Daehyun babak belur. Ah. Setidakknya ucapan Youngjae waktu itu benar adanya. Youngjae menolongnya menjauhkan Daehyun darinya. Memangnya Daehyun mau apa?
"Ya! Kenapa kau menyuruhnya pergi? Aku hanya ingin mengobrol sebentar dengannya!" Daehyun menghampiri Youngjae dengan wajah kesalnya.
"Aku tidak percaya!"
"Aish.. kau ini temanku atau bukan sih?"
"Sebelum otakmu bersih dari pikiran-pikiran mesum, aku tidak mau menganggapmu sebagai temanku, Jung Daehyun!"
"YA! Apa kau tidak mendukungku untuk mendekati Zelo?" Daehyun mengerang.
"Aku bilang 'kan dengan cara yang normal! Kau tidak lihat dia ketakutan?"
"Aish.. Aku tidak mengerti maksudmu!" Daehyun berkacak pinggang.
"Eumm.." Youngjae mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas dagunya,
"Bagaimana dengan kencan?"
"Kencan?" Daehyun mengerutkan keningnya.
"Kau bisa menyatakan cintamu pada saat kencan. Itu baru romantis~" Youngjae tersenyum simpul,
"Bagaimana?" Youngjae menggerak-gerakkan alisnya naik turun.
"Mendekatinya saja tidak boleh, bagaimana bisa kencan!" Daehyun meninggalkan Youngjae dengan wajah memerah.
"Y-YA!"
"Jadi...Kapan kau akan menembaknya lagi?" ujar namja manis bersurai coklat sambil mengaduk minuman hangatnya.
"K-kau bertanya padaku, Yoo Youngjae?" Daehyun yang hendak memakan potongan terakhir dari roti isinya menoleh pada sosok manis itu.
Youngjae mendesis kesal sambil berguman tidak jelas seperti, 'Tentu saja itu untukmu, dasar bodoh!'
"A-aku tidak tahu." jawaban Daehyun sontak membuat Youngjae bertambah kesal. Youngaje meletakan cangkirnya di atas meja, menatap sekilas pada Yongguk yang juga berada di sana saat ini, lalu kembali fokus pada namja bodoh di depannya.
"Kau terlihat seperti hanya main-main saja dengannya, Daehyun-ah!"
Bahkan seorang Bang Yongguk yang seperti tidak terlalu mencampuri urusan percintaan Daehyun sampai berkata seperti itu. Daehyun menunduk, iris coklatnya bergerak tidak tentu, menandakan ia sedang gusar.
"Aku butuh waktu."
"Kau hanya trauma, dasar bodoh!"
"Youngjae!" Yongguk menepuk bahu Youngaje –menyuruhnya diam.
"Aish! Mianhae." Youngjae melipat kedua tangannya sambil membalik arah duduknya membelakangi Daehyun. Youngjae kesal? Tentu saja. Ia jadi gemas sekali dengan sahabatnya itu.
"Apa sulitnya menyatakan cinta?" tanya Youngjae tanpa membalikkan tubuhnya.
"Tentu saja sulit! Kau kan tidak pernah menyatakan cinta pada siapa pun. Makanya bisa bilang begitu. Apalagi aku pernah ditolak." Kesal Daehyun. Dari tadi perkataan Youngjae sama sekali tidak membantunya, justru semakin memojokkannya.
"Kau pengecut!" Youngjae membalikan tubuhnya sembari menatap Daehyun dengan tatapan merendahkan.
"YA! Apa yang kau katakan?" Daehyun melayangkan tangannya hendak memukul Youngjae, namun Yongguk menahannya. Membuat Youngjae tersenyum penuh kemenangan sambil menjulurkan lidahnya.
"Hajima! Kalian membuatku muak! Berhentilah kekanak-kanakan." Yongguk menghempaskan tangan Daehyun kasar lalu menatap bergantian pada Daehyun dan Youngjae.
"Sudahlah...Aku mau bertemu Hime!"
PUK!
"YA!" Yongguk memekik saat Youngjae tiba-tiba memukul kepalanya.
"Enak saja main kabur!" cibir Youngjae.
"Kau pasti tidak akan dapat pacar kalau terus kasar seperti ini, Youngjae-ah!" Yongguk kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursinya.
Perkataan Yongguk barusan membuat wajah Youngjae memerah. Antara kesal dan malu. Hey, Youngjae itu cukup cantik untuk sekedar menggaet para junior, kau tahu? (ingat mereka bertiga sudah kelas tiga).
"Kalau terus seperti ini, Zelo pasti akan berpikir kalau kau itu hanya seorang namja mesum yang ingin mengganggunya." Youngjae menatap tajam pada Daehyun. Daehyun mengela napas pasrah.
"Arasseo~ Akan kucoba.". Daehyun bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah ia kembali membalikan tubuhnya.
"T-tapi... Ba-bagaimana kalau dia menolakku lagi?" tanya Daehyun cemas.
"Yaish, Kalau belum dicoba mana tahu?" omel Youngjae.
"Tapi.."
"JUNG DAEHYUN!"
"Huwaa~"
Daehyun mengambil langkah seribu saat kedua sahabatnya itu mengangkat sebelah sepatu mereka di udara.
Daehyun tersenyum sambil membungkukkan tubuhnya pada namja cantik di depannya.
"Terimakasih, Hime-ah! Ternyata kau lebih membantu daripada mayat hidup yang mengaku sebagai kekasihmu itu."
Namja cantik itu tersenyum ramah lalu mencubit kedua pipi Daehyun. Sangat kencang.
"Aww...aww.. Ampun, Himchan-ah!"
"Beraninya kau mengatainya seperti itu." namja cantik yang dipanggil Himchan itu masih setia menyungggingkan senyum manisnya, namun jemarinya juga masih setia menarik erat kedua belah pipi Daehyun. Daehyun meringis kesakitan.
"Nde, maafkan aku! Hentikan!AKH.. nanti bungaku jadi rusak."
Himchan akhirnya mengalah. Ia melirik pada bucket bunga Lily di tangan Daehyun. Bucket bunga yang ia rangkai sedemikian rupa agar terlihat cantik. Sayang juga kalau sampai rusak. Ia sudah susah payah membuatnya.
"Sana cepat pergi! Aku tidak tanggung jawab kalau Zelo kembali menolakmu karena melalaikan janji kencan pertama kalian."
Daehyun mengelus pipinya yang terasa panas sambil cemberut.
"Aku membencimu!" Daehyun mengikat bucket bunga Lily-nya di jok belakang motornya. Terdengar tawa renyah dari bibir namja cantik itu.
"Nah, Hime-ah, kalau begitu aku pergi dulu ya~"
"Nde, hati-hati!" Himchan melambaikan tangannya pada Daehyun. Daehyun berlalu dari depan toko bunga milik keluarga Himchan.
"Kau akan mati kalau Yongguk mendengarmu memanggilku Hime!" teriak Himchan agar Daehyun dapat mendengar kalimat –ancaman-nya.
.
Zelo bersenandung riang menatap pemandangan yang disuguhkan oleh Cafee tempatnya kencan dengan Daehyun. Ia memilih tempat outdoor agar dapat merasakan segarnya udara sore hari. Ia melirik arloji berwarna biru muda di lengan kirinya dan tersenyum. Zelo datang lebih cepat dua puluh menit dari waktu perjanjian mereka. Wajahnya bersemu merah. Betapa malunya ia kalau Daehyun sampai tahu ia datang secepat ini. Dilihat dari sudut mana pun bisa dipastikan bahwa Zelo begitu senang menerima tawaran kencan dari Daehyun. Namun Zelo sangat berharap kalau Daehyun akan datang terlambat, agar Daehyun tidak meledeknya karena datang lebih dulu.
Zelo sengaja belum memesan apa pun, ia takut minumannya akan mencair sebelum Daehyun datang. Dan itu artinya Zelo sudah datang lama sekali sebelum Daehyun. Ia sadar betul siapa itu Jung Daehyun. Namja yang selalu sukses membuat pipinya yang putih mulus itu berubah warna menjadi merah muda. Bukan Daehyun namanya kalau dia tidak menggodanya.
Daehyun memacu kendaraan roda duanya dengan kecepatan maksimum. Ia tidak mau sampai datang terlambat ke acara kencan pertamanya dengan Zelo. Setengah mati ia meyakinkan Zelo untuk mau kencan dengannya. Anggukan kepala Zelo waktu itu membuat Daehyun semakin meninggikan kecepatannya.
Bagaimana penampilan Zelo nanti? Apa yang harus ia ucapkan pertama kali saat bertemu Zelo nanti? Bagaimana memulai pembicaraan dengannya nanti? Apakah Zelo mau menerimanya sebagai kekasihnya? Ah, jangan-jangan Zelo malah tidak datang karena takut.
Daehyun menggeleng kuat untuk pikirannya yang terakhir.
'Akan kubunuh kau kalau sampai tidak datang, Zelo-ya!'
Daehyun terkikik. Ia mengancamnya lagi. Betapa seringnya ia mengancam namja manis itu. Zelo. Zelo. Zelo. Daehyun terus tersenyum sambil membayangkan wajah Zelo. Wajah Zelo yang manis. Wajah Zelo saat tersenyum. Wajah Zelo saat sedang bersemu. Wajah Zelo yang cemberut saat sedang digoda olehnya. Wajah Zelo yang...
TIINNNN...
.
CIITTTTTT..
.
BRUGH..
.
.
.
Darah.
Daehyun melihat darah di telapak tangannya. Darah segar yang baru saja mengalir dari kepalanya. Daehyun melihat banyak orang yang tiba-tiba mengerumuninya layaknya kawanan semut. Kepalanya sakit. Sakit sekali sampai ia tidak dapat merasakan denyut jantungnya sendiri.
Ia ingat... Wajah Zelo yang sedang... menangis...
"Aku mau pulang." Zelo membuang napas kasar sambil merapatkan jaketnya.
"Dasar pembohong!"
Cukup. Sudah cukup lama Zelo menunggunya di sini. Zelo menghentakkan kakinya kesal, meninggalkan area Cafee yang semakin lama justru semakin ramai. Ini sudah hampir malam. Langit sudah setengah gelap dan Zelo belum juga menemukan batang hidung Daehyun di tempat ini.
Kaki jenjangnya baru saja melangkah keluar dari bangunan bernuansa romantis itu saat tiba-tiba ponselnya berdering.
'Mau membatalkan janji, eoh?'
Zelo mengambil ponselnya dari dalam saku jaket. Keningnya berkerut saat melihat nomor asing tertera di layar ponselnya.
"Yeo- "
"Zelo-ya, ini aku Youngjae! Dae-Daehyun..."
.
.
.
"Hyung!"
"Zelo." Youngjae memeluk erat tubuh namja tinggi itu sambil terisak. Membuat tangis Zelo kembali pecah.
.
Hening di sertai isakan memilukan mendominasi lorong rumah sakit.
.
Yongguk menatap nanar pada kedua namja manis yang sedang berpelukan itu. Mencoba setegar mungkin agar tidak ikut meneteskan air mata. Bahkan Himchan yang sedang memeluk erat lengan kekarnya itu juga ikut terisak. Yongguk mengelus lembut surai coklat Himchan.
"Hyung~" Zelo melepaskan dekapannya pada Youngjae.
"Hiks..hiks.."
"Hiks.. Ini salahku.. Hiks, ini semua salahku!" Zelo meremas jaket Youngjae erat. Kepalanya menunduk, membuat Youngjae dapat dengan jelas melihat tetesan air mata Zelo yang turun dari dagunya.
"Ani! Ini semua salah Jung Babo itu! Dasar bodoh! Dasar Daehyun bodoh!" bentak Yongguk entah pada siapa. Himchan dapat merasakan kalau bahu Yongguk bergetar.
.
Kepala Daehyun diperban di bagian dahi. Lehernya diberi penyanggah. Kaki kanannya berbalut gips yang tebal. Tangan dan wajahnya lecet-lecet. Daehyun koma.
Langkahnya melemas saat mendekati tubuh tak berdaya Daehyun. Air mata yang mengering di pipinya tertimpa air mata baru. Zelo menggigit bibirnya. Menahan isakan yang ia pikir akan mengganggu Daehyun.
Tangan Zelo bergerak hendak menyentuh wajah pucat Daehyun. Namun ia kembali menariknya. Ia terlalu takut. Takut membuat Daehyun-nya kesakitan.
"Hyung. Irreona!" ujarnya pelan. Telapaknya kini meremas ujung selimut Daehyun kuat.
"Jebal~Hiks.."
.
.
Zelo membawa seikat bunga Lily sambil tersenyum, walau tak dipungkiri masih terdapat raut kesedihan pada senyum manisnya itu. Jongup mengelus surai kebiruan Zelo lembut. Mencoba menguatkan sahabatnya itu.
Mereka berjalan beriringan memasuki sebuah ruangan bernuansa putih dengan bau khas rumah sakit tempat Daehyun di rawat.
"Hyung, aku bawakan bunga Lily untukmu! Aku juga mengajak Jongup bersamaku." Zelo meletakan bunga yang ia bawa itu ke dalam vas yang diletakkan di meja dekat tempat tidur Daehyun. Kemudian ia duduk di bangku yang di tarik Jongup ke samping tempat tidur Daehyun sambil mengumam terimakasih pada sahabatnya itu.
"Hyung~ Aku tahu kau tidak menyukai Jongup. Tapi dia sahabatku! Kau benar-benar jahat!" Zelo menggenggam tangan Daehyun erat. Jongup tersenyum.
"Daehyun Hyung, aku juga tidak menyukaimu! Karena kau selalu mengganggu Zelo." Jongup menimpali dengan nada yang dibuat sok kesal.
"Aku tidak habis pikir kalau ternyata caramu itu justru membuat Zelo tertarik padamu!"
Zelo tersenyum. Rona merah terlihat samar di pipinya saat Jongup mengatakan hal tersebut.
"Kau..Licik sekali!" Jongup merangkul bahu Zelo,
"Haah~ makanya kau cepat sadar! Kau mau aku merebut Zelo darimu?"
Ini sudah hari ketiga semenjak Daehyun dinyatakan koma. Sudah tiga hari pula Zelo mengunjungi kamar rawat Daehyun setiap pulang sekolah. Hari ini Zelo mengajak Jongup lagi. Berbeda dengan saat pertama kali mereka pergi bersama, mereka menggunakan transportasi umum untuk sampai ke rumah sakit. Namun untuk kali ini, Yongguk yang sedang berbaik hati mengizinkan mereka untuk naik ke mobilnya. Sebenarnya Youngjae yang memaksa Yongguk. Ckck, dasar pelit!
"Berbanggalah karena kalian adalah hoobae pertama yang menaiki mobiku!" ujar namja bersuara bas itu dengan nada angkuhnya.
Setengah mati Jongup dan Zelo menahan untuk tidak memutar bola mata mereka, berbeda sekali dengan Youngjae yang dengan santainya mendesis jijik pada Yongguk.
.
"JUNG, AKU DATANG!" teriak Youngjae saat memasuki kamar rawat Daehyun.
"YA! kau mau membuat Daehyun jantungan, huh?" pekik Yongguk sambil menutup kupingnya.
"Jung, Aku bersama Zelo~ apa kau tidak merindukannya?" bisik Youngjae tepat di telinga Daehyun. Zelo tersenyum tipis.
"Kau tahu, Yongguk baru saja mengahabiskan tiga potong cheesecake. Howaaah.. keren sekali." Kali ini Yongguk yang tersenyum tipis.
"Jung, Kau jelek sekali kalau seperti ini!"
Youngjae terus berbicara sendiri dengan tubuh tak berdaya Daehyun. Senyum dan tawa mengiringi setiap kata yang ia lontarkan. Tapi siapa pun yang berada di sana pasti dapat dengan jelas melihat bahu Youngjae yang sedang bergetar.
Air mata Zelo tumpah.
.
'aku merindukanmu, Daehyun Hyung!'
Hari ke lima.
Belum ada tanda-tanda Daehyun akan siuman. Zelo meremas ujung seragamnya. Ia menangis.
"Irreona, Daehyun Hyung!" lirihnya.
"Aku merindukanmu.",
"Aku rindu senyummu.",
"Aku rindu... kau menciumku.", Zelo mendekatkan wajahnya pada wajah Daehyun.
"Bolehkah?"
Mata Zelo terpejam. Perlahan bibirnya menyentuh dinding masker oksigen yang menutupi bibir tebal Daehyun. Dingin.
Cukup lama. Mata Zelo terbuka. Kecewa. Apa ini yang Daehyun rasakan saat ia tidak membalas ciumannya? Zelo melepaskan bibirnya dari masker okesigen Daehyun.
"Hyung, cium aku!" air mata Zelo menetes di pipi Daehyun.
.
Jari telunjuk Daehyun bergerak. Gerakan yang sangat lemah dan tidak kasat mata. Zelo tidak melihatnya.
"Hyung." Zelo meremas kerah Daehyun.
"Kumohon cium aku!"
.
Jemari Daehyun kembali bergerak. Kali ini menyenggol perut Zelo. Zelo melirik tangan Daehyun yang dipasangi jarum infus itu dengan alis yang bertautan.
"H-Hyung?"
.
Zelo menatap nanar pada jemari itu. Apa tadi Daehyun benar menyentuhnya? Bahkan jemari itu terlihat sangat lemah.
Hening.
Hanya suara dari mesin yang menampilkan garis naik-turun di samping Daehyun yang mendominasi di seluruh ruangan bernuansa putih ini.
"Aku merindukanmu!"
Zelo membaringkan kepalanya di atas ranjang Daehyun. Nampaknya Zelo kelelahan. Jam yang berdetak di ruangan itu menunjukkan pukul 10 malam.
JDERRR...
Zelo terlonjak kaget saat mendengar suara petir yang menyambar. Matanya mengerjap lucu sambil memandang keluar jendela. Hujan. Zelo tersenyum. Setidaknya ia bisa tersenyum saat ini.
"Hyung, di luar hujan!" bisik Zelo tepat di depan telinga Daehyun.
"Aku kedinginan~" Zelo menempelkan bibirnya pada daun telinga Daehyun.
.
Lagi. Jemari Daehyun bergerak. Dan menyentuh tubuh Zelo. Zelo memundurkan tubuhnya bingung.
'Hyung, apa kau mendengarku?'
"Daehyunnie hyung?" Zelo mengelus pipi Daehyun sambil terus mengamati jemari Daehyun.
Tidak ada respon.
"H-hyung, A-aku kedinginan.."
Bola mata Zelo membulat sempurna. Jemari Daehyun kembali bergerak. Daehyun meresponnya. Bagaimana bisa? Apa yang sedang dipikirkan Daehyun?
"H-Hyung, k-kau tahu caranya menghangatkan tubuhku 'kan?"
Jemari Daehyun bergerak semakin kuat.
"Daehyunnie Hyung, bibirku sangat dingin.."
Kelopak mata Daehyun bergerak lirih. Terlihat begitu kesulitan Daehyun membuka kelopak matanya yang telah terpejam lima hari itu. Iris Zelo memanas. Zelo bahagia Daehyun bisa meresponnya. Zelo tersenyum simpul.
'Dasar namja mesum!'
"Keajaiban. Daehyun tidak mengalami gegar otak! Hanya luka luar pada bagian kepalanya. Namun patah tulang yang dideritanya cukup parah. Akan membutuhkan waktu lama untuk pemulihan."
Kelopak itu terbuka dan menampakkan iris Daehyun yang terlihat sayu. Daehyun bergumam tidak jelas.
"H-hyung? A-akan kupanggil dokter!" Zelo hendak berlari keluar sebelum tangan Daehyun tiba-tiba menggenggem pergelangan tangannya. Daehyun melepas masker oksigennya.
"YA! Apa yang kaulakukan, Hyung?"
Zelo dapat melihat seringaian lemah dari namja di hadapannya.
"Kaubilang ingin dicium?" ujar Daehyun pelan. Wajah Zelo memanas. Benar dugaannya.
'Dasar mesum!'
Zelo memajukan wajahnya mendekati wajah Daehyun. Lengan Daehyun terulur meraih tengkuk Zelo. Zelo menumpukan kedua telapaknya di samping kanan dan kiri kepala Daehyun. Bibir mereka bertemu.
Daehyun melumat bibir namja manis di atasnya. Dan Zelo...dia membalasnya. Daehyun tersenyum di sela ciumannya. Semakin menekan tengkuk Zelo, menuntut lebih. Zelo mendesah. Sengaja?
Kalau saja Daehyun tidak dalam keadaan seperti ini, bisa dipastikan malam ini Zelo akan menjadi milik Daehyun sepenuhnya.
FIN.
*DZIGGG~
.
.
"Kau mengganti warna rambutmu?".
"Eum.." Zelo mengangguk malu.
"Kau terlihat semakin cantik, Zelo-ya." namja di depan Zelo membelai lembut surai merah muda Zelo.
Wajah Zelo memerah mendengar pujian dari sang kekasih. Kekasih?
"Kau mau pesan apa?"
"Sama sepertimu, Tuan Jung."
Namja tampan itu tersenyum lalu melambaikan tangannya ke udara –memanggil pelayan.
"Dua Cheesecake dan dua Coffee Late."
.
BUG
"YA! Moon Jongup, kau mau apa?" Youngjae menendang uluh hati Jongup. Jongup memekik sambil memegangi dadanya.
"AKH, Apa yang kaulakukan, chagi? Aku hanya ingin menciummu, memangnya salah?"
Mendengar penuturan dari sang kekasih membuat pipi Youngjae memerah.
"Mian. Aku hanya reflek." Youngjae memainkan kedua telunjuknya dengan bibir yang mengerucut.
"Kau kasar sekali."
Bibir Youngjae semakin mengerucut dan semakin menenggelamkan kepalanya. Jongup menarik dagu Youngjae untuk menatapnya.
"Tapi aku menyukainya."
Jongup menempelkan bibirnya pada bibir Youngjae. Melumatnya. Berbagi kehangatan di tengah dinginnya malam lewat sebuah ciuman sederhana.
.
.
Zelo memakan cheesecake-nya dengan lahap. Ia baru menyadari betapa lezatnya makanan yang digilai oleh sang kekasih. Daehyun tersenyum melihat pipi namja manisnya yang tengah terisi penuh oleh kue. Begitu menggemaskan.
"Zelo-ya, ada krim di bibimu."
"Eh?" Zelo mengusap sudut bibirnya.
"Bukan di situ."
Tangan Daehyun tiba-tiba terulur menarik dagu namja bersurai merah muda itu.
.
CHUP~
"Tapi di sini." Ujar Daehyun tepat di depan bibir Zelo.
Daehyun kembali duduk di bangkunya, sedangkan sang namja manis masih terpaku dengan wajah yang merona merah.
'Mesum'
.
REAL FIN~
Wkwk..
Akhirnya ya Allah! Nih FF kelar juga.. hehe, makasih, makasih, makasih! Makasih buat semuanya~ *deep bow sambil lap ingus..
Doakan author kembali dengan FF Daelo berikutnya.. Saranghae juseyo~
