It's All Because Moonkyu Chapter 2

.

.

"One.. Two.. Three.. Four... Luhan, beri jarak untuk Jongin! Yixing mana keseimbanganmu? Yifan bisakah kau fokus? Sehun kau memblok Chanyeol lagi! Kyu.. KYUNGSOO! Semua berhenti!" Seketika member M berhenti melakukan gerakan dance. Mereka menatap Kyungsoo yang terengah-engah.

Pelatih mendekati Kyungsoo dengan wajah marahnya.

"Sudah berapa kali kau kubentak Kyungsoo?" Kyungsoo diam. dia hanya bisa menundukkan kepalanya. "TIDAKKAH KAU LELAH MENDENGARKAN BENTAKANKU? JIKA KAU LELAH, BERHENTILAH MEMBUAT KESALAHAN!"

Hening. Ruangan yang tadinya hening kini berubah menjadi mencekam.

"Wo.. wo.. ada apa ini?" tiba-tiba seorang namja yang sudah cukup berumur masuk kedalam ruang latihan dengan senyuman yang mengembang.

"S Sooman sajangnim."

"Apa yang kau lakukan pada anak didikmu tuan Kim?" Sooman mendekati sang pelatih.

"Maaf ada anak didikku yang sepertinya membutuhkan pelatihan khusus sajangnim." Kyungsoo semakin menunduk dalam.

"Mati kau." Kyungsoo menoleh ke arah kanannya. Kai tengah mengembangkan smirk mematikkannya pada Kyungsoo.

"Kau pelatih dance terhebat di SM Teddy Kim. Aku yakin kau bisa melatihnya hingga dia menjadi dancer yang hebat. Tapi mungkin untuk kali ini biar aku yang mendidiknya. Siapa anak itu?" Pelatih Kim menunjuk Kyungsoo.

"Hei bocah kecil ikut aku!" Sooman memberikan isyarat pada Kyungsoo untuk mengikutinya.

Blam..

"Baiklah sepertinya pengacau sudah pergi, jadi sekarang lanjutkan latihan kalian!"

.

"Duduklah." Kini Sooman dan Kyungsoo telah berada di taman belakang kantor SM entertaiment. Mereka duduk disalah satu bangku yang letaknya tepat di bawah sebuah pohon maple besar.

"Apa yang mengganggu pikiranmu?" Kyungsoo tetap bungkam. Ia tak berani mengadahkan wajahnya sejak keluar dari ruang latihan.

"Tidak apa-apa. Ceritakan saja padaku." Kyungsoo mulai berani mengangkat wajahnya.

"Tidak ada yang mengganggu pikiranku sajangnim."

"Lalu kenapa kau tidak menyimak ucapan pelatih dengan baik?"

"Aku menyimaknya dengan baik hanya saja gerakannya terlalu sulit. Lagi pula aku trainee dan langsung diberikan materi dance sesulit itu."

"Dengar bocah. Tidak penting kau trainee baru atau lama, yang penting adalah terus mencoba dan tidak putus asa. Jangan takut akan sebuah kesalahan. Jika pelatih Kim berteriak padamu, itu berarti dia memperhatikanmu dan menginginkan kau bisa melalukan hal yang dia ajarkan."

"Tapi sajangnim tidak mengerti! Pelatih Kim sangat kejam padaku. Pernah suatu hari aku menguap kecil saat latihan dan aku langsung dibentak. Bukankah itu berlebihan?" Kyungsoo mendongakkan kepalanya. menatap daun-daun pohon maple yang menyuning.

"Dasar bodoh! tentu saja dia marah. Itu berarti dia tahu kau sedang tidak fokus saat itu. hei, coba kau bayangkan saat kau sudah debut nanti. kau sedang menari bersama member lain dan tiba-tiba kau menguap tentu saja itu akan mempermalukan dirimu. Dia melakukan hal itu untuk melindungimu."

"Tapi tetap saja aku kurang nyaman."

Sooman berfikir sejenak.

"Kalau begitu cari saja pelatih baru."

"Mwo?! Itu tidak mungkin pelatih Kim adalah pelatih terhebat di SM jangan ganti dia."

"Seseorang yang hebat sekalipun pasti punya kelemahan. Dan kelemahan pelatih Kim adalah melatih dirimu. Aku tidak bilang aku akan mengganti pelatih Kim. Hanya saja kau perlu melakukan latihan intensive dengan pelatih lain."

"Em.. terserah Sajangnim saja." Kyungsoo kembali menatap dedaunan pohon maple diatas sana.

"Kau suka daun maple?" tanya Sooman yang juga menatap dedaunan orange itu.

"Mereka indah." Ucap Kyungsoo singkat yang membuat Sooman kembali tersenyum

"Jika kau mau melihat sedikit lebih jauh, maka kau akan menemukan sebuah keindahan yang lebih indah dari keindahan itu sendiri."

Kyungsoo menatap Sooman dengan heran. Tiba-tiba ia ingat sesuatu.

"Ya Tuhan apa yang aku lakukan. Mianhae Sooman sajangnim aku lancang padamu. mianhae, mianhae." Kyungsoo berdiri lalu membungkukkan tubuh berkali-kali dihadapan Sooman.

"Tidak apa-apa. Aku lebih suka dianggap teman oleh kalian dari pada seorang atasan. Ah... sepertinya sudah cukup lama kita berbincang. Tuan mata bulat harus kembali latihan. Kajja."

.

"Tuan Kim aku kembalikan anak didikmu."

"Maaf merepotkan anda sajangnim." Pelatih Kim membungkkukan badannya.

"Gwenchana. Ini juga tugasku."

"Khamsahamnida sajangnim." Ucap Kyungsoo sambil menyunggingkan senyumnya.

"Sama-sama kecil. Oh iya dari tadi kita berbincang, tapi aku tidak tahu siapa namamu." Dan seketika Kyungsoo baru ingat bahwa dari tadi dia belum menyebutkan nama.

"Kyungsoo imnida."

"Kyungsoo. nama yang bagus. Sampai jumpa lain hari Kyungsoo. dan ah.. Jongin, aku punya tugas khusus untukmu. Latih si kecil segala hal tentang dance. Tidak apa penolakan. Gomawo Kkamjong~"

"APA?! SAJANGNIM KENAPA AKU?!" tidak berbeda dengan Jongin, Kyungsoopun ikut terkejut dengan keputusan Sooman yang terkesan mendadak

"Hei kau tidak dengar ucapan sajangnim tadi? 'tidak ada penolakan.'" Ucap pelatih Kim yang semakin membuat Jongin kesal.

.

Latihan telah berakhir sejak beberapa menit yang lalu. Member M pun telah kembali ke dorm. meninggalkan Kyungsoo dan Jongin yang masih terengah di dalah ruang latihan.

Jongin berdiri dari posisi tidurnya lalu berjalan kearah pintu.

"Ya! kau mau kemana? Kita belum latihan sama sekali." Kyungsoo meraih tangan Jongin agar namja tan itu tidak melanjutkan niatnya untuk keluar dari ruangan itu.

"Latihannya kapan-kapan saja. aku ada urusan lain." Ucap Jongin sambil menghempaskan tangan Kyungsoo.

"Tapi.."

Blam..

.

Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang tengah mempersiapkan diri untuk pulang selepas melakukan GYM yang melelahkan. Ya GYM.

"Annyeong hyung." Sapa namja itu pada sang instuktur GYM yang masih setia menunggunya.

"Akhirnya kau datang juga Jongin. Kukira kau akan bolos hari ini."

"Tidak mungkin hyung. Sudahlah ayo kita mulai latihannya."

Dan mereka hanyut dalam suasana pelatihan yang cukup melelahkan.

"Jongin kenapa kau tiba-tiba jadi rajin GYM begini?" tanya sang instruktur saat mereka tengah melakukan gerkan sit up.

"Memang tidak boleh?"

"Hanya sedikit heran. Saat kita bertemu di gedung SM beberapa waktu yang lalu, kau bilang tidak tertarik dengan GYM. 'aku suka tubuhku yang seperti ini.' Begitu katamu." Jongin menghentikan gerakan sit upnya lalu menatap sang instruktur dengan tatapan aneh.

"Memang aku berbicara dengan gaya banci seperti itu?"

"Em.. tidak."

"Kalau begitu diam!"

"Hah. Kau ini ketus sekali. akukan hanya bertanya. Mungkin saja kan kau melakukan ini untuk seseorang?"

"Aku bilang diam."

"Jadi benar? Wow siapa yang berani merebut hati seorang kkamjong? Jeng.. jeng.. jeng.. masih menjadi misteri!"

"Aku bilang diam!"

.

Namja mungil itu kini tengah menunggu seseorang yang tengah mengusik pikirannya beberapa jam ini. Bukan, dia bukan sedang jatuh cinta dia hanya sedang menunggu orang yang melupakan tanggung jawabnya.

"Masih menunggu, Kyungsoo?" tanya namja yang juga tak kalah kecil dari namja yang dipanggil Kyungsoo.

"Tentu saja. harusnya dia tidak meninggalkanku tadi sore." Kyungsoo mengerucutkan bibirnya saat mengingat namja yang tengah ia tunggu.

"Mungkin dia ada urusan yang lebih penting. Ini minum dulu." Moonkyu menyerahkan secangkir coklat panas pada Kyungsoo.

"Gomawo."

"Aku pulang." Pandangan Kyungsoo langsung tertuju pada pintu masuk. Disana telah berdiri seorang Kim Jongin yang menatap Kyungsoo dan Moonkyu dengan tatapan marah.

"Kenapa kau baru pulang? aku sudah menunggumu dari tadi. Ayo kita mulai latihannya." Seru Kyungsoo dengan semangatnya.

"Ini sudah malam aku mau istirahat." Jongin berjalan menuju kamarnya. Tapi sebelum itu terjadi, Kyungsoo sudah memegang tangannya erat.

"Tidak bisa! Aku sudah menunggumu sejak tadi sore. Jadi tidak ada penolakan lagi Kim Jongin!" Jongin menghela nafas kasar saat menyadari seberapa keras kepalanya Kyungsoo.

"Baiklah. Tapi sebelumnya, Moonkyu hyung lebih baik kau pergi saja. aku tidak mau latihan kami terganggu." Ucap Jongin sambil menarik tangan Moonkyu agar menjauhi ruang tengah.

"Kenapa begitu? Aku hanya ingin melihat."

"Aku bilang kau mengganggu ya mengganggu."

Blam..

Tanpa Moonkyu sadari kini ia sudah ada didalam kamarnya akibar didorong-dorong Jongin tadi.

"Baiklah kita mulai latihannya." Jongin menatap Kyungsoo malas dari bawah hingga ujung rambut. Sementara Kyungsoo memamerkan senyum lima jarinya pada Jongin.

"Kita mulai dari mana?" tanya Kyungsoo.

"Kulihat tadi saat latihan kau tidak bisa berputar."

"eh?" Kyungsoo memiringkan kepalanya atas jawaban Jongin. Ia merasa bisa melakukan gerakan berputar saat latihan tadi.

Tanpa Kyungsoo sadari, kini Jongin sudah berada dibelakang tubuhnya. Namja berkulit tan itu melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Kyungsoo.

"Kkau mau apa?" Kyungsoo menatap tangan Jongin yang melingkar dipinggangnya dengan tatapan horor.

"Membantumu... berputar!" Jongin lalu memutar Kyungsoo bak gangsing(?).

"AAAA!"

Brak..

"argt!" dan sepertinya latihan dance kali ini berakhir dengan terbenturnya lutut Kyungsoo pada meja.

"YA! apa yang kau lakukan eoh?! Aish.. Appo." Kyungsoo memegangi lutut kanannya yang terasa sakit.

"Kan aku sudah bilang, aku lelah dan kau memaksaku. Nikmati hasilnya kecil! Dan kau harus tahu satu hal. Aku tidak suka dipaksa." Jongin berjalan menuju kamarnya tanpa mengidahkan teriakan Kyungsoo yang terus memanggilnya.

.

"Aku butuh penjelasan dari kalian bertiga." Namja paruh baya itu menatap ketiga anak didiknya dengan serius.

"Apa yang harus kami jelaskan sajangnim?" tanya seorang namja yang paling tinggi dari kedua teman lainnya.

"Apa yang terjadi diantara Jongin dan Kyungsoo?" tanya namja paruh baya itu lagi.

"Maksud anda?" tanya seorang namja yang paling imut diantara semua orang didalam ruangan itu.

"Hubungan mereka. mengapa mereka terlihat tidak akrab?"

"Ah itu. Sajangnim tidak perlu khawatir dengan hubungan mereka. mereka hanya perlu beradaptasi." Ucap seorang namja sambil menunjukkan angel smilenya.

"Tapi sepertinya tidak seperti itu Joonmyeon hyung. Kalau aku lihat baik-baik, hubungan mereka memang kurang baik dari awal." Namja imut itu menyangkal pendapat dari namja bernama Joonmyeon.

"Benarkah?" tanya Sooman sambil menatap Namja manis yang baru saja berbicara.

"Ne. mereka memang kurang akrab sejak Kyungsoo memulai trainee."

"Apa kau tahu alasannya Jino?" Kini namja yang paling tinggi bernama Yifan itu mulai tertarik dengan urusan Kyungsoo Jongin.

"Sepertinya masalah 'hati'" jawab Jino dengan nada sedikit tak yakin.

"Masalah hati?" ulang ketiga namja lainnya secara kompak.

"Apa ini ada hubungannya dengan Moonkyu?" tanya Yifan.

"Yeah.. sepertinya begitu. Jongin sedikit cemburu dengan kedekatan antara Kyungsoo dan Moonkyu, makanya dia jadi benci sama Kyungsoo."

"Kalau dipikir lagi kedekatan Kyungsoo dengan Moonkyu memang sedikit tidak wajar sih. Bukan masalah Kyungsoo tapi Moonkyu." Joonmyeon mengingat-ingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu saat Moonkyu membangunkan Kyungsoo dengan mencium keningnya.

"Kalau menurut penggelihatanku, Moonkyu seperti menyukai Kyungsoo. bukankah begitu?" ucap Sooman sambil mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat ia melihat Moonkyu dan Kyungsoo makan satu cup ice cream bersama di taman belakang.

"Cinta segitiga itu rumit." Jino menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil terus berfikir.

"Tapi sajangnim kenapa tiba-tiba anda menanyakan itu?" Joonmyeon menatap Sooman dengan sedikit heran.

"Ya sebenarnya aku sedikit khawatir pada mereka. selama aku menjadi CEO SM Entertaiment, belum pernah ada masalah seperti ini. Para trainee SM tidak pernah memiliki masalah pribadi dengan trainee SM lainnya. Haish.. padahal mereka akan segera debut dalam satu grup. Bagaimana kalau media tau bahwa SM Entertaiment memiliki artist yang bahkan tidak bisa mengakrabkan diri dengan artist SM lainnya?" Sooman mengacak rambutnya frustasi.

"Lalu apa yang akan sajangnim lakukan setelah ini?" tanya Yifan.

"Ini keputusan berat tapi, menurutku ini yang terbaik."

"Keputusan apa itu?" tanya ketiga member M.

"Akan aku beri tahu saat waktunya."

.

"Maaf kami datang terlambat." Member M menunduk dalam pada sang pelatih yang sepertinya sudah mengering karena menunggu mereka.

"Ya sudah tidak apa-apa. Lakukan pemanasan dulu lalu kita mulai latihannya." Pelatih berjalan kearah alat pemutar musik di sudut ruangan untuk mengatur lagu apa yang akan mengiringi latihan mereka hari ini. Tanpa sengaja, tatapan tertuju pada Kyungsoo yang melakukan gerakan pemanasan dengan gerakan aneh dan jangan lupakan raut kesakitan diwajahnya.

"Kyungsoo, gwenchanayo?" Kyungsoo terlihat terkejut saat melihat pelatih Kim yang sudah berada di sebelahnya.

"Nan Gwenchana. Jangan khawatir pelatih Kim." Pelatih Kim menatap kaki Kyungsoo sejenak.

"Lompat!"

"Apa?"

"Aku bilang lompat!" Kyungsoo mulai berkeringat dingin saat mendengar teriakan pelatih Kim. Ia tidak mau mendengar teriakan menyakitkan dari pelatih Kim maka dari itu ia menuruti perintah dari pelatih terKiller se SM itu.

Kyungsoo melompat kecil lalu memandang pelatih Kim dengan tatapan 'bagaimana?'

"Lebih tinggi!" Kyungsoo melompat lebih tinggi lagi dan itu membuat lututnya terasa sangat nyeri.

"Lebih tinggi lagi!" ucap pelatih Kim sambil terus menatap Kyungsoo dengan tatapan ganasnya(?)

"Tapi pelatih.."

"Kubilang lebih tinggi lagi!" Kyungsoo memandang pelatih Kim dengan ragu lalu mengalihkan pandangannya pada lutut kanannya yang semakin terasa sakit.

Kyungsoo kembali mempersiapkan diri untuk melompat lebih tinggi. Tanpa Kyungsoo dan pelatih Kim sadari, sedari tadi Jongin tengah mengamati mereka sambil terus merenggangkan otot-otot tubuhnya.

Kyungsoo melompat lebih tinggi dari sebelumnya dan..

Brugh..

Tubuhnya terhempas ke lantai latihan yang dingin dengan tidak mulus. Ia meringis sambil memegangi lututnya yang terasa hampir remuk sekarang.

Jongin sedikit tersentak saat melihat Kyungsoo jatuh dengan sangat kasar dilantai. Dilihat dari sudut manapun, sudah sangat terlihat bahwa posisi jatuh Kyungsoo pasti sangat menyakitkan.

Pelatih Kim berjongkok didepan Kyungsoo lalu menggulung celana Kyungsoo hingga diatas lutut.

"Sejak kapan ini?" Pelatih Kim menunjuk luka lebam berwarna kebiruan di lutut Kyungsoo. Kyungsoo terlihat terkejut dengan luka itu. bagaimana mungkin ia tidak tahu bahwa kegiatan latihannya bersama Jongin tadi malam akan menghasilkan luka lebam besar seperti itu.

"Aku tanya sejak kapan luka ini?"

"Aku tidak tahu." Jawab Kyungsoo sambil menundukkan wajahnya dalam. Pelatih Kim menghela nafas pendek. Lalu menatap Jongin yang kini berdiri di belakangnya.

"Kau mau bilang sesuatu, Kim Jongin? Katakan saja, aku tahu kau ada hubungannya dengan luka ini." Tanya pelatih Kim sambil menatap Jongin dengan tatapan dingin. Tatapan terdingin yang pernah ia perlihatkan selama ia bekerja sebagai pelatih trainee SM.

Jongin menunduk dalam. Ia sedikit melirik Kyungsoo yang terlihat menahan sakitnya.

"Katakan padaku Kim Jongin!" teriakan pelatih Kim langsung membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian member M lainnya dan juga seorang pria paruh baya. Ya, Sooman lagi.

"Mianhae." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Kim Jongin.

"Katakan apa yang terjadi Kyungsoo." tanya Pelatih Kim tanpa menoleh pada Kyungsoo sedikit pun. Ia masih menatap Jongin yang tak bergerak sama sekali.

"Tidak terjadi.."

"Baiklah biar namja tan ini yang menjelaskan." Potong Pelatih Kim saat mengetahui Kyungsoo akan menyelamatkan Jongin saat ini.

"Maaf, tadi malam. Saat aku pulang dari rumah temanku, Kyungsoo memaksaku untuk mengajarinya menari. Aku kesal jadi aku membuatnya terjatuh. Mianhae."

"Kau tahu apa yang telah kau perbuat Kim Jongin? Sebagai pelatih, kau telah gagal melaksanakan tugasmu. Kau membiarkan anak didik pertamamu cidera saat berlatih? Dan, apa-apaan itu? kau sendiri yang membuatnya cidera!" Pelatih kim berdecih pelan sambil memikirkan sesuatu. Dan saat berfikir itulah, tatapannya bertemu dengan tatapan Sooman yang tengah berdiri di pintu masuk. Agar lama mereka bertatapan sampai akhirnya Sooman memutuskan pergi dari ruang trainee karna tugasnya telah selesai.

Pelatih Kim menatap Jongin.

"Kau dihukum. Pergi ke ruang latihan sebelah, berlatihlah sendiri. Dan jangan lupa ajak Kyungsoo bersamamu. Latih dia selama 3 bulan. Jika kau berhasil melatihnya, kau akan kumaafkan tapi jika kau gagal." Pelatih Kim memberi jeda untuk kalimat selanjutnya.

"Debutmu akan diundur atau lebih parahnya, kau akan didepak keluar dari SM."

.

"Kau puas sekarang?!" Jongin berteriak didepan Kyungsoo yang kini hanya terdiam sambil menundukkan kepala. Mereka ada di taman belakang sekarang. Ditemani angin yang bertiup manis dan daun-daun maple berwarna orange yang berguguran.

"Kenapa kau menyalahkanku? Seharusnya aku yang marah padamu. karna kau, sekarang aku harus cidera seperti ini!"

"Ini salahmu! Kalau kau hebat dalam dance, aku tidak akan pernah jadi pelatihmu!"

"Kenapa kau selalu menyalahkanku? Jelas-jelas ini salahmu. Dasar bodoh!"

"Kau bilang apa? Bodoh? harusnya kau lihat kecermin dan berfikir siapa yang bodoh disini. gerakan semudah itu kau tak bisa, terbentur sedikit langsung cidera. Dasar Yeoja!"

"Aku bukan yeoja, dasar bodoh! tidak bisakah kau bedakan mana yang namja mana yang yeoja?"

"Tidak untukmu. Kecuali kalau aku sudah melihat buktinya. Bahkan aku tidak pernah melihat 'itu'mu tegang saat bangun tidur!"

Blush...

Dan seketika wajah kedua namja itu memerah. Kyungsoo sungguh merutuku juniornya yang kecil hingga tidak terlihat menonjol saat bangun tidur dengan celana tidur kebesarannya. Sedangkan Jongin merutuki dirinya yang sudah berkata kelewatan. Yah kelewatan!

"Wah ternyata Jongin memperhatikan Kyungsoo sampai ke 'itu'nya ya.." suara lain terdengar diantara kedunya.

"DIAM!"

Krik...

Kedua namja itu kembali terdiam saat menyadari siapa yang telah mereka bentak. Sooman.

"Hei tidak sopan membentak orang yang lebih tua!" Sooman mendudukkan dirinya diantara Kyungsoo dan Kai. ia menatap Kyungsoo dan Jongin bergantian.

"Ini." Sooman memberikan kotak P3K pada Jongin. Sementara Jongin menatap kotak itu dengan tatapan heran.

"Kenapa kau memberikannya padaku?" tanya Jongin tapi tetap menerima kotak P3K itu.

"Karna kau yang telah membuat Kyungsoo cidera, paling tidak kau memberikan pertolongan pertama padanya."

"Ah tidak usah sajangnim aku..." Kyungsoo berusaha menolak secara halus, tetapi sepertinya Sooman tetap bersikeras untuk menyururh Jongin mengobati Kyungsoo.

"Kau mau menolak? Cidera sekecil apapun, jika tidak segera diobati makan akan semakin parah. Dan jika cideranya sudah parah, kau tidak akan pernah bisa debut. Arraseo? Jadi, Jongin obati dia sekarang!" Jongin akhirnya beranjak dari duduknya lalu berjongkok didepan Kyungsoo untuk mengobati lutut Kyungsoo.

"Akh! Pelan pelan bodoh!"

"Ini sudah pelan-pelan!"

Sooman tersenyum simpul melihat 'kedekatan' keduanya. Walaupun mereka berdua tidak pernah akur, tetapi Sooman selalu merasa mereka berdua memiliki kedekatan khusus dibalik kebencian mereka.

"Kalian pasangan yang serasi." Seketika pandangan Jongin dan Kyungsoo mengarah pada Sooman yang tak henti-hentinya tersenyum.

"Serasi?" desis Jongin dan Kyungsoo bersamaan.

"Kalau kalian jadi sepasang kekasih, aku yakin akan benyak orang yang cemburu melihat kedekatan kalian yang begitu alami."

"Kedekatan? Alami?" dan lagi-lagi mereka menatap Sooman dengan tatapan horor.

"Berhenti menatapku seperti itu! Jongin cepat obati Kyungsoo lalu mulailah berlatih. Aku ada urursan lain. Sampai jumpa." Jongin dan Kyungsoo menatap kepergian Sooman. Lalu sekejap kemudian saling menatap. Mereka berbicara lewat mata mereka lalu sekedetik kemudian..

"Tidak tidak tidak!" ketiga kata itu muncul dari kedua bibir sekses mereka.

.

One week later...

Ruangan latihan itu terdengar bising walaupun jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kedua namja itu tengah serius berlatih dengan iringan lagu Mirotic milik sunbae mereka, DBSK.

"Aish! Aku bingung denganmu. Sudah 25 kali aku mengajarkan gerakan itu padamu hari ini. Kenapa kau tidak mengerti juga?" Namja berkulit tan itu menatap namja lainnya dengan bingung. Ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melatih namja didepannya saharian ini, tetapi sepertinya usahanya itu sia-sia belaka.

"Harusnya aku yang bingung padamu! kenapa kau selalu memarahiku? Padahal aku sudah melakukannya dengan baik!"

"Kau bilang apa? Melakukannya dengan baik? Kau pikir aku buta sampai tidak melihat seberapa buruknya dancemu?!" Namja tan itu mulai kehabisan kesabaran. Tubuhnya lelah begitu pula dengan batinnya.

"Tapi aku melakukannya dengan lumayan. Aku sudah bisa menghafal semuanya gerakannya!"

"Dance tidak hanya cukup menghafalkan gerakan. Tapi juga penghayatan. Gerakanmu terlalu kaku, tatapan matamu tidak fokus. Tidak bisakah kau merasakannya sendiri?"

"Aku hanya tidak suka gerakannya! Terlalu erotis. Tidak bisakah kita mempelajari gerakan yang lebih sederhana?" tanya Kyungsoo sambil menatap Jongin yang kini telah duduk dan menyandarkan dirinya pada dinding bergambarkan awan. Namja tampan itu menatap Kyungsoo dalam.

"Kau tahu kita akan diorbitkan seperti apa?" Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan bingung. Ia tidak tahu kemana arah pembicaraan namja tan itu.

"Apa maksudmu?"

"Kau tidak akan tahu bagaimana image M saat debut nanti. mungkin akan sexy seperti DBSK, atau Shinee yang fasionable dan manis, atau bahkan seperti Super Junior yang imagenya bisa berganti-ganti sesuai lagu mereka. kau tidak bisa menentukan mau seperti apa grupmu nanti. sebagai seorang artis kau tidak bisa berperilaku seenaknya sendiri. Kau harus bisa menyesuaikan dirimu. Jangan manja! Tidak perduli sesulit apapun gerakannya, tidak peduli berapa waktu yang mereka berikan padamu untuk berlatih, tidak perduli dimana kau ditempatkan nantinya, kau harus tetap bisa melakukannya dengan baik."

Kyungsoo diam saat dia menyadari seberapa manjanya dia selama ini. Ia hanya diam dan tidak bicara lagi.

"Kau mengerti sekarang? Hah! Aku tidak yakin kau bisa mengerti. Disini bukan hanya kau yang menderita. Tidakkah kau pikirkan bagaimana nasibku jika kau tidak berhasil? Semua usahaku selama 5 tahun ini akan sia-sia. Sedangkan kau akan baik-baik saja jika kau gagal. Sudahlah terserah kau saja! aku tidak peduli lagi!" Jongin memutiskan untuk menutup matanya dan tidur. ia tidak mempedulikan Kyungsoo yang menatapnya dengan penuh penyesalan.

Kyungsoo langsung berjalan ke arah alat pemutar musik lalu memutar kembali musik Mirotic. Ia kembali mengulang semua gerakan yang telah Jongin ajarkan padanya. Ia berusaha untuk fokus dan melemaskan otot-ototnya agar menciptakan gerakan yang sempurna menurut Jongin sempurna. Walaupun beberapa kali ia melakukan kesalahan tapi ia tetap berusaha melakukan yang terbaik.

'Ini demi Jongin.'

Tanpa Kyungsoo sadari, sedari tadi Jongin telah memperhatikan usahanya denan senyuman manis yang mengmbang di bibirnya yang tak kalah seksi dari Kyungsoo. sesekali ia tersentak saat melihat Kyungsoo yang hampir jatuh. Tapi ia tetap diam dan terus menatap Kyungsoo tanpa membantunya sama sekali.

"Jongin... ayo bangun. Aku sudah sedikit bisa sekarang. Kau tidak mau melihatnya?" Kyungsoo menusuk-nusuk pipi Jongin dengan jarinya. Berharap namja itu akan bangun dari tidur-pura-puranya-.

Tapi sepertinya Jongin masih ingin mengerjai namja bermata bulat itu. terbukti dengan Jongin yang tetap memejamkan matanya.

"Jongin kau tidak mati kan?"

"Bodoh mana mungkin aku mati semudah itu." Jongin menunjukkan smirknya pada Kyungsoo tanpa membuka mata.

"YA! kau mengerjaiku? Cepat buka matamu!"

"Nyanyikan sebuah lagu untukku, baru aku akan bangun." Kyungsoo mendengus kesal. Ia menatap Jongin sebentar lalu menyambar tasnya. Ia memilih untuk pulang saja saat ini.

"Kau mau pulang? kau tidak mau menunjukkan hasil kerja kerasmu padaku?" seketika tubuh Kyungsoo berhenti berjalan. Ia menatap Jongin yang masih memejamkan matanya dengan kesal.

"Hah! Kau mau aku menyanyi apa?" Jongin tersenyum kecil saat melihat Kyungsoo sudah duduk di sebelahnya.

"Terserah kau saja." Kyungsoo kembali mendengus kesal. Ia menarik nafasnya lalu mulai bernyanyi.

Missing You – Fly to the sky

Kyungsoo menyayikannya dengan penghayatan penuh. Bahkan ia tidak menyadari bahwa Jongin sudah menatapnya dalam dari tadi.

"Berhenti." Kyungsoo tidak menghiraukan ucapan Jongin. Ia tetap bernyanyi.

"Kubilang berhenti!"

Bruk..

Tak ada suara nyanyian Kyungsoo lagi setelah itu. tubuh Kyungsoo yang kecil didorong oleh Jongin hingga kini terbaring dilantai dan Jongin yang menindihnya.

Kyungsoo menatap Jongin tak percaya. Pasalnya, Jongin yang dikenalnya sebagai namja dingin kini terlihat sangat menyedihkan dengan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.

Tes..

Setetes air matanya kini menetes mengenai kulit wajah Kyungsoo. tangisan itu berbeda dengan tangisan Jongin sebelumnya. Tangisan ini terlihat sangat menyakitkan.

"Jangan pernah nyanyikan lagu itu lagi!"

Hening membuat suasana diantara mereka semakin dingin. Sampai akhirnya Jongin beranjak dari tubuh Kyungsoo.

"Sekarang tunjukkan gerakan yang ingin kau perlihatkan." Dan kembali, Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan tak percaya.

'apa dia benar-benar punya kepribadian ganda?'

Dan sesaat kemudian, ruangan itu kembali dipenuhi oleh musik, teriakan dan bentakan.

.

.

TBC

.

A/N: makin gak jelas ya? mian deh. Abis pikiranku juga buntu.

Gomawo yang udah mau baca syukur-syukur mau review. Sekali lagi Gomawo *bow*

Last..

Mind To Review? ^^