It's All Because Moonkyu 4
.
WARNING! Typo(s), buat mual, mbosenin, dan lain-lain.
.
Kyungsoo berlari kencang di koridor SM Entertaiment. Tidak perduli berapa dan siapa orang-orang yang telah ia tabrak tadi.
"Hosh.. Hosh..." Kyungsoo berhenti disebuah lorong yang sepi. hanya ada dia disana hingga memungkinkan Kyungsoo untuk menangis keras tanpa menjadi pusat perhatian.
"Wae. Kenapa selalu aku?" Kyungsoo menyandarkan tubuhnya pada dinding yang dingin. Wajahnya yang basah karena air mata dan keringat tertutup dengan kedua tangannya sendiri.
Drrt.. Drrt..
Tiba-tiba ponsel Kyungsoo bergetar. Namja bermata bulat itu mengambil smart phonenya.
"Yeoboseo." Kyungsoo berusaha meredam tangisnya saat mengangkat telepon dari sang umma.
'Chagi, bisakah kau pulang ke Gyeonggi sekarang?' Kyungsoo sedikit khawatir kala mendengar suara ummanya yang bergetar di seberang sana.
"Wae umma?" Namja bermata bulat itu segera menghilangkan pikiran negatif dari otaknya.
"Appamu Kyung. Dia meninggal." Kyungsoo terdiam saat mendengar ucapan ummanya. Otaknya masih belum merespon apapun sekarang.
"Nde? Katakan sekali lagi. Aku tidak dengar tadi."
"Appamu meninggal tadi pagi pukul 5. Maaf umma tidak bisa menjaga appamu. Pulanglah sayang. Berikan penghormatan terakhirmu padanya.' Semua sudah jelas sekarang.
Tubuh kecil itu merosot karena merasakan bebannya terlalu banyak. Seketika tangis Kyungsoo pecah. Tangisan yang diselingi oleh tawa pilunya.
"Hah! Apa-apaan ini?" Kyungsoo merasa dunianya dipermainkan. Semua kesedihan kini datang padanya dalam waktu yang sama. Kenapa harus sekarang?
"Kyungsoo!" Kyungsoo tak sedikitpun bergerak dari duduknya. Menghiraukan Yixing yang kini semakin dekat berlari kearahnya. "Gwenchana?" tanyanya dengan aksen changsa yang lumayan kental. Namja berdimple itu mulai khawatir saat melihat air mata dan tubuh Kyungsoo yang bergetar. Dengan lembut, Yixing menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya. Mengusap punggung kecil Kyungsoo dengan penuh kasih sayang. Walau ia belum terlalu dekat dengan namja bermata bulat itu, tapi Yixing merasa harus menenangkan Kyungsoo sekarang.
"Jangan pikirkan Jongin. Dia mungkin hanya terbawa emosi." Walau dengan bahasa Korea yang belum terlalu fasih, Yixing berusaha berbicara sebaik mungkin pada Kyungsoo. sementara namja di dalam dekapannya hanya menggeleng kecil.
"Bukan jongin tapi Appa." Yixing sedikit tersentak saat mendangar perkataan Kyungsoo. 'Appa'.
"Ada apa dengan ayahmu?" Kini Yixing telah menatap Kyungsoo yang sebenarnya masih saja menunduk.
"Appaku meninggal ge." Yixing diam. mencoba mencerna apa yang dikatakan Kyungsoo. 'Meninggal' sebuah kata yang menakutkan bagi Yixing.
"A-apa? Kau bercanda? Bukankah baru kemarin appamu datang untuk menghadiri rapat huh?" Kyungsoo menggeleng pelan.
"Dia pamanku. Ayahku sudah lama di rawat di Rumah Sakit."
Yixing diam. dia hanya menatap Kyungsoo yang mencoba menyetabilkan deru nafasnya. Pikiran namja manis itu kini teralih pada appanya yang sudah tiada belasan tahun yang lalu. Saat Yixing bahkan belum bisa bicara 'R' dan 'S' dengan baik. Dia tidak tahu apa-apa saat itu. yang dia lihat hanyalah Umma dan Halmonienya yang menangis menatap sebuah foto ditengah puluhan bunga. Baru setelah beberapa tahun, Yixing sadar. Dia sudah tidak punya Appa lagi. Dia tidak akan bertemu dengan appanya lagi. Dia tidak akan melihat appa dan ummanya bercanda lagi. Yang ada dia hanya ,melihat ummanya bekerja keras sedangkan halmonienya sakit-sakitan di rumah. Dia ingat bagaimana hebatnya ummanya menjaga dan membesarkannya tanpa sosok appa.
Yixing kembali memeluk Kyungsoo yang masih menangis walau telah mencoba untuk berhenti.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Masih banyak orang yang menyayangimu. Kau harus kuat OK?" Yixing menenangkan Kyungsoo lagi. Walaupun pada kenyataannya dia juga menangis sekarang.
"Aku sayang appaku ge." Kyungsoo balas memeluk Yixing saat merasakan namja yang lebih tua itu juga menangis sekarang.
"Aku juga sayang appaku. Tapi bukan berarti kau bisa menangis terus bukan? kau juga harus menjaga ibumu, dan semua orang yang mencintaimu. Tidak apa-apa jika kau kehilangan satu hal yang berharga bagimu, bukankah pada ahirnya akan ada hal yang tak kalah berharga yang akan menggantikannya? Sudah jangan menangis." Yixing mengusap air mata Kyungsoo yang sudah membuat anak sungai di pipinya.
"Gege juga jangan menangis. Appa gege juga pasti sudah nyaman disana." Kyungsoo kini yang mengusap air mata Yixing.
"Aku tidak akan menangis kalau kau berhenti menangis." Kyungsoo mengangguk kecil lalu memeluk tubuh Yixing erat.
Kedua namja manis itu kini larut dalam dunia mereka. mereka sama. Tidak memiliki salah seorang yang telah 'menciptakan' mereka. tapi paling tidak, sekarang mereka saling memiliki bukan? mereka akan melengkapi satu sama lain bukan? dan itu adalah hal yang membuat 'calon' umma exo menjadi dekat. Melalui sebuah kesedihan.
.
Kini Kyungsoo tengah duduk dengan balutan kemeja hitam di seberang umma dan kakaknya. Ia hanya diam saat beberapa temannya datang dan mengucapkan turut berbela sungkawa atas kematian appanya. Ada rasa bersalah di benaknya karena tidak menemani appanya untuk terakhir kali. Rasanya dia sudah gagal menjadi seorang anak yang baik.
Namja bermata bulat itu tetap saja menunduk. bahkan saat member EXO lainnya telah datang dan kini memberikan penghormatan terakhir untuk tuan Do. Seluruh member beserta Sunghwan datang bermaksud untuk menghibur Kyungsoo. tapi saat mereka melihat kondisi Kyungsoo yang tidak memungkinkan, mereka memilih untuk menunggu waktu yang lebih tepat.
"Kyungsoo-ya." kini Kyungsoo mendongak saat suara besar itu memanggil namanya. Sang harabojie kini tengah memberikan isyarat padanya untuk ikut.
Kini Kyungsoo dan kakeknya telah berada di atap gedung. Suasana hening menyelimuti mereka.
"Berhentilah dari SM." Kyungsoo membulatkan matanya saat mendengar perkataan kakeknya. Seingatnya, dari dulu kakenya itu sangat setuju dengan cita-citanya menjadi seorang penyanyi.
"Kenapa?"
"Kau harus menggantikanku di perusahaan Kyungsoo. kau satu-satunya orang yang bisa ku percaya." Tuan Jung (ini kakeknya Kyungsoo dari ibu) melemparkan tatapan seriusnya pada Kyungsoo. "Kau sudah lihat ayahmu sudah meninggal. Dan anakku satu-satunya hanya ibumu. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan posisiku selain kau."
Kyungsoo diam. dia berfikir lagi. Sudah hampir satu tahun dia trainee di SM. Selama ini, dia selalu bekerja keras untuk mengejar ketinggalannya dari trainee lainnya. Dan kini, haruskah dia melepas seluruh pengorbanannya?
"Tidak bisakah hyung saja yang menggantikannya? Dia lebih pantas untuk hal ini harabojie."
"Dia sudah memutuskan untuk jadi arsitek Kyungsoo. harabojie tidak bisa menghentikan niatnya."
"Tapi aku juga ingin jadi penyanyi! Tidak bisakah kau mengerti?!"
"Kyungsoo! jaga bicaramu di depanku!" Kyungsoo diam. tangannya mengepal erat hingga memutih.
"Maaf aku mengganggu urusan kalian. Tapi, anda tidak bisa memaksakan kehendak Kyungsoo tuan Jung." Pandangan kakek dan cucuk itu kini teralih pada seorang namja berpipi chuby di pintu atap.
"Siapa kau? Tidak kah orang tuamu mengajarkan sopan santun terhadap urusan orang lain?" namja berpipi chuby itu hanya mengendikkan bahunya.
"Kyungsoo bukan orang lain bagiku. Benarkah Kyungsoo?" Kyungsoo diam sesaat. Lalu mengangguk mantap setelah mendapatkan isyarat kedipan mata.
"Ini bukan urusanmu anak muda. Ayo Kyungsoo kita pergi." Tuan Jung hampir saja menarik tangan Kyungsoo jika saja si pipi chuby tidak menahannya.
"Ini urusanku juga tuan. Jika tidak ada Kyungsoo, grup kami tidak akan pernah berjalan. Dan jika grup itu tidak berjalan, maka usaha kami semua sia-sia. Ini bukan hanya demi Kyungsoo tapi demi mereka." Namja itu menunjuk ke arah atap yang lebih tinggi dari atap yang di pijak Kyungsoo dan kakeknya.
"Annyeong harabojie. Senang bertemu denganmu." Chanyeol melambaikan tangannya pada tuan Jung yang sepertinya sedikit terkejut. Bukankah itu berarti seluruh pembicaraanya dengan Kyungsoo terdengar oleh ke-12 orang itu?
"Aku Kim Minseok. Orang tertua diantara kami. Kau mau menghancurkan masa depan kami semua hanya untuk seorang Kyungsoo? kami juga bekerja tak kalah keras denganmu yang membangun perusahaan."
"Jika kau tahu bagaimana rasanya. Maka kau juga tahu bagaimana perasaanku jika perusahaan itu terbengkalai bukan? maka dari itu, relakan Kyungsoo untukku." Tuan Jung kembali menyeret Kyungsoo untuk pergi dari atap itu. meninggalkan ke 12 orang yang kini tengah mendesah kecil.
"Kau hebat Minseok hyung!" Minseok tersenyum manis saat mendengar pujian dari seorang namja berwajah kotak.
"Gomawo Jongdae-ah."
.
"Kau mau apa?" Kyungsoo terdiam dengan pertanyaan kakeknya. Dia tidak mengerti apa yang di maksud kakeknya kali ini.
"Apa yang mau kau lakukan sekarang?" ulang tuan Jung.
"Aku." Kyungsoo sedikit berfikir. Mencari kata yang tepat agar tidak menyakiti hati sang kakek. "Aku ingin tetap bernyanyi. Dan berjuang bersama mereka. Harabojie, aku mohon." Kyungsoo membungkukkan tubuhnya 90 derajat di hadapan sang kakek.
.
"Terserah apa maumu. Tapi saat kau sudah tidak laku lagi nantinya, kembalilah padaku dan ambil alih perusahaan." Kyungsoo diam. bahkan sampai sang kakek sudah tak terlihat di tikungan depan.
"HARABOJIE KHAMSAHAMNIDA!" tanpa menunggu lama, Kyungsoo langsung berlari lagi.
.
"Bodohnya dirimu hyung." Minseok hanya tersenyum kecut saat mendapat umpatan tak sopan dari Jongin. Mungkin namja berkulit tan itu adalah satu-satunya orang yang tidak menyukai tindakannya terhadap Kyungsoo beberapa menit yang lalu.
"Ini demi kau juga Jongin. Apa kau tidak lelah trainee selama ini? Jika Kyungsoo keluar, SM akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mencari pengganti Kyungsoo."
"Ada Moonkyu hyung. Atau Jino hyung. Kenapa bukan mereka saja? Kyungsoo tidak ada secuilpun dari kemampuan mereka berdua." Jongin turun dari atap yang tinggi itu. berjalan ke arah pintu masuk gedung tanpa menghiraukan hyung-hyungnya.
Jongin hampir saja menggenggam knop pintu itu sebelum pintu itu akhirnya terbuka dengan keras. Memperlihatkan seorang namja bermata bulat yang tengah mengatur nafasnya. Jongin diam. Dia terus menatap namja di depannya tanpa memasang ekspresi apapun.
"Jongin." Namja itu diam sejenak sebelum akhirnya menerjang tubuh Jongin dan mendekapnya erat. "Aku tidak akan keluar dari EXO."
Jongin membulatkan matanya saat merasakan tubuh Kyungsoo semakin mempererat pelukannya. Dalam benak namja tan itu, Kyungsoo adalah orang terbodoh yang pernah dia temui. Kenapa namja bernama Kyungsoo itu memeluknya dengan keadaan mereka yang masih saling membenci? Dan kenapa dengan polosnya Kyungsoo mengatakan tidak akan keluar dari EXO padahal Jongin sangat menginginkan hal sebaliknya terjadi.
Jongin mendorong tubuh Kyungsoo pelan. Tidak mau membuat namja manis itu terjatuh dan lebih parahnya terdorong ke tangga yang sedikit curam.
"Jangan bodoh. Aku bahkan tidak menginginkanmu." Kyungsoo menatap Jongin heran. Dia pikir, hubungan mereka sudah membaik sekarang. Kyungsoo bahkan sudah melupakan kejadian dimana Jongin membohonginya. Tapi kenapa pihak yang menyakiti malah bersikap dingin sekarang?
"Kyungsoo hyung." Pandangan Kyungsoo beralih pada Sehun yang baru saja meloncat dari atap tinggi. Namja berkulit putih itu langsung memeluk Kyungsoo erat.
"Sehun-ah." Dalam sekejap mata, Kyungsoo langsung melupakan Jongin dan memeluk Sehun dengan riang.
"Kau tidak akan di seret paksa lagi kan?" Kyungsoo menggeleng dengan pertanyaan Yifan yang sudah ada di belakang sehun dengan member lainnya.
"Ah... akhirnya kita tidak perlu khawatir lagi akan trainee lebih lama." Baekhyun mendesah senang sambil merentangkan tangannya tinggi-tinggi. Bahkan sampai mengenai Chanyeol yang ada disebelahnya.
"Jangan mengeluh Byunbaek. Kau bahkan belum ada satu tahun trainee." Ucap Chanyeol sambil menurunkan tangan Baekhyung ke tempatnya semula (?)
"Memang kenapa? Bukankah lebih cepat trainee lebih baik? Bukankah begitu Jongdae?" Jongdae hanya mengangkat bahunya sekilas menanggapi Baekhyun yang beberapa bulan lebih tua darinya.
"Aku lega usahaku tidak sia-sia selama ini." Kyungsoo tidak dapat membendung perasaan senangnya.
Tanpa mereka sadari, Jongin sudah pergi dari tempat itu beberapa menit yang lalu.
.
"Apa ada hal yang baru tentang mereka berdua?" Namja paruh baya itu bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di depannya.
"Ada. Mereka makin menjauh." Jawab namja berpipi chuby yang biasa kita kenal Minseok.
Keempat tetua EXO kini tengah berada di dalam ruang CEO Lee Sooman. Seperti saat-saat sebelumnya, mereka membicarakan Debut, Latihan, keadaan dorm, dan tentu saja couple pemeran utama di cerita ini.
"Wae? Apa ini ada kaitannya lagi dengan Moonkyu?"
"Tentu. Jongin selalu menyalahkan Kyungsoo atas mengundurkan dirinya Moonkyu. Hhh.. kadang aku kasihan dengan mereka berdua." Luhan memandang langit-langit kantor itu dengan tatapan ingin tahu. Ia hanya sedikit merasa aneh dengan keputusan Moonkyu yang sangat mendadak. Bahkan beberapa saat yang lalu, Moonkyu pernah bilang dia tidak tahan untuk trainee lagi, tapi sekarang...
"Sejujurnya, penyebab Moonkyu keluar memang ada hubungannya dengan Kyungsoo." Pandangan keempat namja muda itu kini beralih pada Sooman. "Orang Tua Kyungsoo sempat menekan Moonkyu beberapa bulan yang lalu. Mungkin mereka merasa Moonkyu mengancam karir Kyungsoo kedepan."
"MWO?!"
"S-Sajangnim mengapa tidak bilang dari awal?"
"Bilang dari awal apanya? Ini pertemua pertama kita setelah pengunduran diri Moonkyu bodoh."
"Hhh..."
"Wae Joonmyeon?" tanya Sooman saat pada akhirnya Joonmyeon mendesah kecil.
"Kenapa kalau kita rapat seperti ini selalu berakhir dengan gosip?"
Hening...
"Jadi apa yang harus kita lakukan? Sebentar lagi debut, dan hubungan mereka masih tidak baik-baik saja." ucap Kris.
"Biarkan saja dulu. Sampai ada perkembangan, baru kita cari cara lainnya. Kalian boleh pergi."
Keempat member itu mendesah lega saat mendengar keputusan final Sooman. 'Kalian boleh pergi'
"Aaa tunggu." Sooman mendekati keempat member EXO yang sudah ada di depan pintu itu. Ia menjabat satu persatu member EXO dengan senyuman tulus di wajahnya yang keriput.
"Senang bekerja sama dengan kalian selama ini. mulai hari ini, aku bukan CEO lagi."
.
Waktu debut semakin dekat. Member EXO semakin giat berlatih untuk mempersiapkan mini album debut mereka. terkadang, hanya ada 2-3 untuk mereka beristirahat lalu mulai berlatih kembali.
Untuk Jongin, Chanyeol, Suho dan member-member trainee lama, ini bukanlah sebuah masalah. Karna mereka sudah sejak lama menjalaninya. Berbeda dengan Kyungsoo, Jongdae dan Baekhyun yang harus berlatih ekstra keras. Belum lagi dengan posisi mereka sebagai Main dan Lead vokal. Hal ini semakin membuat mereka semakin sibuk.
Seperti kali ini. waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang dan kedua belas namja itu masih sibuk dengan urusan latihan mereka. terhitung sudah 4 jam mereka berlatih tanpa istirahat sama sekali.
Kehikmatan(?) latihan itu terpecahkan kala Sunghwan masuk kedalam ruang latihan dengan menggunakan T-shirt putih beserta celana jeans pendek. Dia memegang sebuah gulungan kertas di tangannya.
"EXO-K. Bisa kita bicara senbentar?" member EXO-K bertanya-tanya dalam hati. Mengapa hanya mereka mengapa EXO-M tidak?
Kini member EXO-K telah berada di lorong bersama Sunghwan selaku manager.
"Ganti baju bau kalian. Kita akan pergi setelah ini." hanya itu yang diucapkan Sunghwan. Setelahnya dia pergi meninggalkan EXO-K yang semakin bertanya-tanya. Namun mereka tetap melaksanakan perintah sang manager.
.
Kyungsoo pov.
Kami sampai di sebuah tempat yang terbilang tidak terlalu besar. Hanya saja terlihat sejuk dengan banyak pohon di sekitarnya. Di depan gedung, sebuah papan kecil tertempel di sebelah gerbang besi yang tidak terlalu tinggi. Tulisan di papan itu 'Gyeonggu Orphanage'.
"Ayo masuk." Ucap manager hyung yang berhasil menghancurkan lamunanku. Entah mengapa saat sampai di tempat ini, aku jadi teringat sesuatu. Tapi ingatan itu hilang lagi dalam sekejap.
"Kita mau apa hyung?" tanya Sehun saat kami sudah berada di dalam gedung panti asuhan ini. aku memandang kesekitar. Di tembok-tembok gedung, terlihat beberapa lukisan pohon, pelangi, awan atau sejenisnya. Di sisi lain, terdapat sebuah papan besar berisikan gambar-gambar lucu yang sebenarnya tidak terlihat jelas bentuk apa itu.
Kami terus berjalan dan sampai di sebuah ruangan luas. Disana, terlihat beberapa anak tengah bermain dengan mobil-mobilan atau menggambar dengan kertas buram yang mungkin sudah disediakan pihak panti asuhan. Tapi bukan itu saja yang akau pikirkan. Yang aku mau tanyakan sekarang adalah, untuk apa kita kesini.
"Ayo hibur mereka. Buat mereka bersenang-senang hari ini." ucap manager hyung yang setelah itu langsung mendekati salah seorang anak kecil di pojok ruangan.
"APPA!" pandanganku kini teralih lagi. Di sana. Beberapa meter dari sini, seorang namja kecil tengah memeluk kaki Jongin dengan erat. Namja kecil itu bagai baru saja menemukan orang yang dirindukannya.
"Appa?" aku menatap Baekhyun hyung yang baru saja menggumamkan kata 'appa'. Mungkin dia heran mengapa namja kecil itu memanggil Jongin 'appa'.
Tunggu!
A-Appa?
Apa Jongin sudah punya anak? Tapi kalau dilihat lagi, namja kecil itu tidak mirip Jongin. Kulitnya saja putih bersih.
Ku beranikan diri untuk mendekati mereka. aku terlalu penasaran saat ini.
"K-Kau siapa?" sayup-sayup aku mendengar Jongin bertanya pada namja kecil itu.
"Appa tidak mengenalku?" namja kecil itu mengerjap lucu pada Jongin lalu melepaskan pelukannya. Jongin menggeleng pelan sambil mensejajarkan tubuhnya dengan namja kecil itu.
"Hyunsoo?" panggilku. Aku sebenarnya tidak yakin. Tapi tatapan matanya mirip dengan Hyunsoo. Anak yang beberapa bulan lalu bermain bersamaku di taman.
"Eomma!" namja itu kini berlari kecil kearahku. Hanya berlari tanpa sebuah pelukan hangat yang tadi dia berikan pada Jongin.
Aku mensejajarkan tinggi badanku dengannya.
"Kenapa tidak memeluk eomma?" tanyaku. Seketika senyumannya merekah kembali. dia langsung menerjangku dalam sebuah pelukan erat.
"Aku pikil eomma akan melupakanku cepelti appa." Aku menatap Jongin yang juga menatapku sekarang. Mungkin dia memang sudah lupa dengan Hyunsoo. Kejadian 8 bulan yang lalu itukan hanya permainan baginya.
"Bukan begitu. Tapi kau salah memanggilnya. Bukankah dia itu anjing peliharaan?" seketika tawa kecil keluar dari bibir manisnya.
"Tidak bisa begitu! Kenapa aku jadi anjing lagi? Aku appanya." Tiba-tiba Jongin sudah ada di depanku dan mendekap tubuh Hyunsoo erat.
"Hei berapa kali aku harus bilang? Kau itu tugasnya hanya menggonggong. Kembalikan anakku!" aku menarik Hyunsoo dari pelukannya.
"Tidak bisa! Aku juga appanya!" Jongin kembali menarik tangan Hyunsoo.
"Memang kau pernah membuatnya?"
"Memang kau pernah melahirkannya?"
"Appa eomma sakit."
"DIA PUNYAKU!"
"DIA PUNYAKU DASAR HITAM!"
"APPA EOMMA APPO!"
Kyungsoo pov end
.
Author pov.
"Mianhae Hyunsoo." Ucap Kyungsoo sambil mengobati beberapa luka di lengan Hyunsoo. Luka-luka yang di dapat karena tidak sengaja tercakar oleh Kyungsoo dan Jongin saat berebut Hyunsoo tadi.
"Gwenchana eomma. Soo tidak apa-apa kok." Ucap Hyunsoo sambil tersenyum pada Kyungsoo. Sementara itu, Jongin tengah memandang keduanya dengan tatapan intens.
"Nah sekarang sudah selesai. Ayo main." Hyunsoo mengangguk cepat lalu berlari mengikuti Kyungsoo. Jongin hanya bisa berjalan mengikuti mereka dari belakang.
.
Waktu semakin cepat berlalu. Permainan kecil mereka bertiga sebagai sebuah keluarga kecil juga hampir berakhir. sang manager sudah menyuruh seluruh membernya untuk pulang.
"Hyunsoo, appa mau tanya sesuatu sama Hyunsoo." Ucap Jongin sebelum pulang. sementara, Hyunsoo hanya diam sambil menatap 'appa'nya.
"Jongin kita harus pulang." ucap Kyungsoo yang ada di sampingnya. Jongin tidak peduli dengan Kyungsoo. dia masih terus memandangi Hyunsoo.
"Kemana Jongmin?" tanya Jongin. Setelah pertanyaan itu, Hyunsoo terlihat murung. Di menundukkan kepalanya. beberapa saat kemudian, isakan kecil terdengar jelas.
"Hyunsoo kenapa?" Kyungsoo langsung memeluk tubuh kecil Hyunsoo dan itu malah membuat tangis sang namja kecil semakin pecah.
"Jongmin cudah pelgi. Jongmin tidak akan kecini lagi." Kyungsoo dan Jongin bertatapan. Mungkin Jongmin sudah diadopsi. Begitulah pikir mereka.
"Tapi Hyunsoo kan bisa main kerumahnya. Hyunsoo tahu rumahnya kan?" tanya Jongin yang kini juga itu mengusap rambut Hyunsoo.
Namja kecil itu mengangguk kecil. Beberapa saat kemudian, jarinya terangkat. Menunjuk ke sebuah tempat abstrak diatas sana.
Mata Jongin dan Kyungsoo langsung membulat sempurna saat menatap jari Hyunsoo yang menunjuk langit.
"Hyunsoo tidak bica beltemu Jongmin lagi. Dia cudah bahagia cama olang tuanya di culga. Hiks.. padahal Jongmin sudah janji cama Hyunsoo tidak akan ninggalin Hyunsoo. Hiks.. Jongmin jahat. Hue.." Kyungsoo langsung memeluk Hyunsoo lagi. Kali ini lebih erat dari sebelumnya. Dia bisa merasakan apa yang Hyunsoo rasakan sekarang. Kehilangan seseorang yang berharga baginya.
"Stt.. jangan nangis. Jongmin tidak akan senang melihat Hyunsoo menangis." Kyungsoo mengusap punggung Hyunsoo lembut. Sangat lembut bahkan sampai tangan Kyungsoo sendiri ikut bergetar.
"Jongmin tertablak mobil waktu main cama Soo kemalin. Hiks.. Soo yang calah. Soo yang gak bica jagain Jongmin. Mianhae appa, eomma."
"Tidak tidak. Hyunsoo tidak salah. Tuhan hanya terlalu sayang sama Jongmin jadi mengambilnya. Jongmin sudah bahagia bersama orang tuanya, jadi Hyunsoo juga jangan sedih ya." ucap Kai sembari memeluk Kyungsoo dan Hyunsoo. Bagaikan sebuah keluarga kecil yang baru saja dipertemukan kembali. Ya, walaupun dengan jumlah yang tidak sama seperti dulu. Tapi paling tidak mereka telah bertemu dan tahu bagaimana keadaan masing masing.
"Jongin, Kyungsoo. Kita harus segera pulang." Ucapan manager membuat Jongin maupun Kyungsoo melepaskan pelukan mereka dari Hyunsoo yang masih terisak pelan.
"Hyung, tidak bisakah kita pulang lebih malam lagi?" Bujuk Kyungsoo. namja bermata bulat itu masih ingin menemani Hyunsoo untuk beberapa jam kedepan. Paling tidak sampai Hyunsoo menceritakan secara detail kejadian kecelakaan Jongmin.
Sunghwan menggeleng pelan. Dia tahu bagaimana perasaan Kyungsoo, tapi disisi lain, dia juga harus melaksanakan tugas sebagai seorang manager yang baik.
Kyungsoo terlihat kecewa. Dia berusaha untuk tidak merengek lebih dari ini. namja manis itu kini telah menatap Hyunsoo lagi. Ia mengusap rambut lembut Hyunsoo dengan penuh kasih sayang.
"Eomma harus pulang. Jaga dirimu ya." sebuah kecupan ringan mendarat di dahi Hyunsoo. "Eomma menyayangimu."
"Anjing Hyunsoo juga harus pulang. mulai sekarang jangan sedih lagi." Hyunsoo menatap kedua 'orang tuanya' yang berjalan semakin menjauh.
"Appa, eomma!" Hyunsoo berlari mendekati Jongin dan Kyungsoo yang hampir masuk kedalam van. Tangan kecil itu berusaha merogoh saku celananya. Mencoba mencari sesuatu yang sedikit bersuara berisik.
Jongin maupun Kyungsoo hanya bisa memberikan tatapan 'tunggu' pada managernya.
"Ini untuk appa." Hyunsoo menyerahkan benda itu pada Kai. "ini untuk Eomma." Lalu beralih memberikan benda yang sama pada Kyungsoo. "Itu dali Jongmin. Dia bilang, dia ingin olang tuanya memakai itu cuatu caat nanti. Tapi kan Jongmin tidak pelnah beltemu dengan meleka, jadi Hyunsoo belikan saja sama Appa dan eomma."
Jongin menatap dalam benda yang diberikan Hyunsoo. Sebuah kalung. Bukan kalung bagus apalagi mahal. Hanya sebuah tali berbandul pembuka minuman kaleng yang bahkan sudah hampir berkarat. Benda yang mungkin saja dianggap sampah oleh banyak orang.
Jongin langsung menggendong Hyunsoo setelah puas menatap kalung kusam itu.
"Hyunsoo sayang appa kan?" Hyunsoo sedikit berfikir lalu mengangguk kecil. "Jangan berbuat nakal, belajar yang rajin, dan selalu baik dengan siapapun. Appa akan kembali lagi lain waktu." Kai melemparkan sebuah senyuman tulus pada namja kecil itu.
"Apa dengan eomma juga?" Kai mengangguk. "Dengan ahjussi-ahjussi juga?" Kai kembali mengangguk. "Yakso?"
Kyungsoo masih terus menatap kedua namja didepannya. dia hanya diam. mungkin sedikit tidak percaya dengan apa yang dilakukan Jongin pada Hyunsoo
"Yakso." Jongin mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking kecil Hyunsoo. "Sekarang kembalilah. Teman-temanmu pasti sudah menunggu." Jongin menurunkan Hyunsoo.
"Ne appa. Jangan lupa janjimu ne. dan jangan lupa jaga eomma!" ucap Hyunsoo sambil berlari menjauh. Memasuki gedung panti asuhan lagi.
"Masuklah." Jongin dan Kyungsoo langsung sadar bahwa member K yang lain sudah menunggu mereka sedari tadi. Saat mereka masuk kedalam van, hanya ada 2 bangku terdepan yang kosong. Terpaksa, Jongin bersebelahan dengan Kyungsoo kali ini.
"Dramanya mengharukan." Goda Baekhyun yang duduk tepat di belakang mereka.
"Apa yang kalian lakukan pada anak kecil itu? apa kalian mengenalnya?" tanya Chanyeol.
Jongin maupun Kyungsoo hanya diam dalam pikiran masing masing. dalam benak mereka tidak ada satupun perintah untuk menjawab pertanyaan duo happy virus itu.
"Sudahlah jangan ganggu mereka hyung." Ucap Sehun yang merupakan satu-satunya orang yang tahu siapa Hyunsoo sebenarnya.
.
EXO-K sudah sampai di dorm mereka. Dengan cepat, keenam namja itu segera masuk ke dalam kamar masing masing. Suho dengan Sehun, Baekhyun dengan Chanyeol, dan Jongin dengan Kyungsoo. mereka melupakan sang manager yang masih berada di ruang tengah.
Di kamar pertama yang ditempati Sehun dan Suho terasa biasa saja. keduanya sudah larut dalam mimpi indah mereka.
Dari dalam Baekyeol room masih terdengar suara gelak tawa sambil sesekali teriakan kesakitan. Entah apa yang tengah mereka lakukan. Mungkin bermain sebuah game untuk mencairkan pikiran mereka yang beku seharian ini.
DI kamar terakhir, kamar Kyungsoo dan Jongin. Ruangan itu gelap dan dingin. Salahkan penghangat ruangan yang rusak dan fentilasi udara yang terlampau besar. Belum lagi dengan keadaan kedua namja yang menghuni kamar itu tengah tidur di lantai. Tidur dengan batas tempat tidur queen size di antara mereka. Tanpa bantal, ataupun selimut, mereka berusaha menyamankan diri di lantai kamar yang dingin.
Pikiran mereka memang sedikit terganggu. Sudah jelas-jelas ada sebuah tempat tidur yang cukup besar untuk mereka berdua, tapi kedunya tetap saja tidur di lantai selama 8 bulan terakhir. Tentu dengan tubuh yang kram setiap bangun tidurnya.
Mereka melakukan semua ini hanya untuk saling menghindar. Mereka tidak mau untuk saling mengenal lebih dalam lagi.
"DINGIN!" Seru kedua namja itu yang dengan bersamaan berdiri dari tidur mereka. untuk sesaat, suasana menjadi sangat canggung.
"Kau mau tidur di kasur?" tanya Jongin lirih. Fine! Mungkin ini percakapan 'intim' keduanya untuk pertama kali setelah keluarnya Moonkyu. "Aku akan tidur di ruang tengah."
"Andwe. Biar aku yang yang tidur di ruang tengah. Kau tidur disini saja." Ucap Kyungsoo tak kalah lirih sambil bersiap keluar kamar.
"Jangan! Kalau kau sakit bagaimana? Di ruang tengah lebih dingin dari pada ini."
"Kalau kau juga sakit bagaimana?"
Suasana kembali hening. 10 menit mereka habiskan untuk diam dan saling pandang.
Jongin berjalan pelan ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya disana. Ini pertama kalinya dia berbaring di tempat tidur itu setelah 8 bulan mereka menempati kamar bernuansa dingin itu.
"Tidur sama-sama saja." Jongin menepuk tempat di sebelahnya. Membuat Kyungsoo yang tadi diam kini memekik kecil.
"Jangan salah paham. Aku hanya tidak mau kau sakit. Cepatlah tidur!" ucapan Jongin terdengar sangat ketus tapi juga tulus.
Dengan sedikit ragu, Kyungsoo membaringkan tubuhnya di samping Jongin. Sesekali, namja bermata bulat itu terus mencuri pandang pada namja disebelahnya. Tapi Jongin tidak menggubris dan terus berusaha tidur.
Kyungsoo menghela nafas kecil. Lalu menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya juga Jongin.
"Jaljayo Jongin-ssi"
.
"Ah! Mereka tidur bersama." Pekik seorang namja manis saat mengintip kegiatan Kaisoo dari lubang kunci.
"Baekhyun. Gantian!" Seorang namja lain yang kini lebih tinggi dari Baekhyun –namja manis- mencoba mencari celah untuk melihat apa yang dikatakan Baekhyun.
"Aku duluan!" Sedangkan seorang namja albino berusaha mencari celah diantara kedua hyungnya.
"Ssst.. kalian terlalu berisik!"
"HYUNG DIAM!" namja kecil yang tadi berusaha menenangkan dongsaeng-dongsaengya itu kini kanya bisa mendesah pasrah.
"Kenapa aku selalu dibully?"
.
.
TBC
.
A/N : Entahlah! Aku baru sadar kalo udah buat chapter 4 berbulan-bulan yang lalu. Yah mungkin sedikit ragu dengan cerita yang ada di chapter ini. Terlihat aneh kan ya? Agak gak nyambung sama kehidupan mereka sekarang #tepokjidat
Please jangan bunuh saya! Saya Cuma melakukan yang terbaik disela-sela UAS yang sepertinya membuat saya mual tiap kali liat soalnya. ini tidak di baca ulang. gak sempet! maaf kalo kependekan ya :'(
Hafyuh~ ya sudah. Ini hasil saya, ada kekurangan saya minta maaf karna kesempurnaan hanya milik Tuhan semata. *Ciye bijak
Mind to Review? ^^
