RECKLESS

.

Remake from Anne Stuart's novel RECKLESS

.

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Kim Heechul

Eric (Shinhwa)

.

Historical Romance

.

Genderswitch

.

Viscount Jung Yunho dikenal sebagai perayu ulung. Berkat wajahnya yang tampan dan sikapnya yang memikat, Yunho tak pernah gagal menggoda wanita... sampai ia bertemu Kim Jaejoong.

.

.

CHAPTER 2

.

.

Jung Yunho menunduk menatap gaun indah Miss Kwon yang sangat bodoh, merasa sangat bosan sambil mengucapkan hal-hal yang tepat. Biasanya godaan tak berbahaya adalah cara yang bagus untuk menghabiskan malam yang panjang. Ia hanya akan mendapat ciuman dari Miss Kwon, dan walaupun ciuman sudah sejak lama kehilangan pesona, Yunho mendengar dari sumber terpercaya bahwa Miss Kwon sangat pintar dalam hal itu. Mungkin Yunho akan melihat apakah ia bisa mengajarkan hal baru kepada wanita itu.

Ia lebih suka mengajari Kim Jaejoong yang gugup dan sangat nikmat, walaupun dia tidak tahu kenapa. Pakaian wanita itu mengerikan, sikapnya sama sekali tidak bersahabat, dan setiap kali Yunho kebetulan menatapnya, wanita itu bersikap seolah-olah Yunho melakukan semacam kejahatan. Ya, reputasinya memang mengerikan, tapi menurut pengalamannya, sebagian besar menganggap hal itu menggoda.

Namun, yang menarik baginya adalah hal-hal lain selain itu. Karena Miss Kim Jaejoong yang terhormat tidak dapat mengalihkan pandangan darinya, kenyataan yang dianggap menggelikan bagi Yunho. Walaupun wanita itu tidak menyukainya, Yunho tahu wanita itu mengamatinya ketika mengira tak ada orang yang memperhatikan.

Yunho sudah terbiasa dengan wanita-wanita yang mengamatinya dengan tatapan memuji, bahkan mendamba. Ia kaya raya, pewaris gelar, dan memiliki wajah tampan, semua berkat orangtuanya.

Namun, ia bukan pemuda paling tampan di masyarakat. Ia juga bukan yang paling kaya, dan dia hanya seorang viscount, bukan duke, atau bahkan marquess, walaupun gelar itu akan menjadi miliknya setelah ayahnya meninggal dunia. Dan seperti yang bisa dibuktikan oleh Miss Kim yang terhormat, Yunho sama sekali bukan pemuda yang paling memesona. Ia berlidah tajam dan tak pernah mau menghadapi orang bodoh dengan sabar.

Namun, Kim Jaejoong terus mengamatinya sementara Yunho berdansa dengan wanita cantik terbaru, mengamati Yunho tertawa dengan teman-temannya, mengamati Yunho yang terkadang bersikap buruk. Dan Yunho ingin tahu alasannya.

Satu kemungkinan, dan itu kemungkinan yang paling disukainya, adalah wanita itu merencanakan pembunuhan atas dirinya. Dia memang pantas menerimanya, tapi dia ragu wanita itu berpikir demikian. Sebenarnya dia tahu betul kenapa wanita itu mengamatinya, dan alasannya sama seperti alasan separuh wanita di masyarakat, tua dan muda, sudah menikah atau masih lajang, sederhana atau cantik, mengamatinya. Kim Jaejoong berpikir dirinya jatuh cinta pada Yunho.

Bila Jaejoong membiarkan dirinya bercakap-cakap dengan Yunho, Yunho akan dengan senang hati menjelaskan bahwa hal itu tidaklah mungkin. Masyarakat mungkin berpikir bahwa wanita itu murni dan romantis serta pria itu kotor dan budak nafsu. Namun, Yunho dengan gembira menyadari sebaliknya.

Jaejoong menginginkannya. Wanita itu memang menginginkan bunga, pujian, dan ranjang pernikahan, tapi dia juga menginginkan tangan Yunho menyentuh tubuhnya yang kaku, melepaskan pakaian jelek itu darinya.

Dan Yunho akan menurut dengan senang hati, hanya saja dia tak pernah menyentuh perawan dari keluarga baik-baik. Gagasan mendapati dirinya terbelenggu pada makhluk yang suka memberengut dan tidak menyenangkan seperti Kim Jaejoong terasa mengerikan.

Jaejoong terpaksa harus mengamati Yunho secara diam-diam dan mendesah. Dan Yunho terpaksa harus menahan desakan untuk melihat apakah dia bisa membuat bibir tegas itu melembut, serta apakah dia bisa membuat wanita itu menempelkan bibir di tubuhnya. Yunho bersedia bertaruh bahwa ia bisa membuat wanita itu menempelkan bibir di mana pun yang diinginkannya.

Ia mendengar derai tawa Lady Han dari seberang ruangan, dan ia tersenyum nakal. Mungkin ia harus puas dengan sepupu Miss Kim yang cantik, yang bisa didapatkannya dengan mudah. Dan saat kembali ke London, ia mungkin sudah melupakan Kim Jaejoong dan matanya yang penuh damba.

Karena Yunho tak bisa bermain-main dengan perawan bila memang ia menghargai kebebasannya. Namun, ia bisa mendapat sepupu Miss Kim, dan itu sudah lebih dari cukup.

"My dear boy, aku mencarimu ke mana-mana." Suara sepupunya yang berlogat kental menyapa Yunho ketika dia selesai berdansa dan menyerahkan Miss Kwon serta dadanya yang mengesankan kepada pasangan dansa berikutnya.

Yunho melirik Eric de Giverney. Eric adalah sepupu ayahnya yang berasal dari Prancis, dan usianya lebih mendekati usia pria tua itu daripada usia Yunho. Yunho menyadari ia suka bergaul dengan pria itu.

Salah satu alasannya, orangtuanya tidak menyukai Eric, alasan yang selalu bagus. Alasan lainnya, Eric memiliki selera yang nyaris mengejutkan. Walaupun Yunho yang menjadi sponsor supaya sepupunya dapat memasuki masyarakat Inggris, Eric-lah yang memastikan Yunho menempati posisi tertinggi di Heavenly Host, terlepas dari kenyataan bahwa ayahnya, yang dulu ikut serta dalam pesta-pesta itu, kini membenci kelompok itu.

Berbeda dengan ayah Yunho, yang sepertinya melupakan masa mudanya sendiri yang buruk, Eric mendukung segala perbuatan nakal Yunho. Setidaknya bersama Eric, Yunho tak pernah merasa bosan.

"Tidak ada kegiatan seru di sini, akhirnya?" kata Eric. "Mari kita lihat apakah kita bisa mencari sesuatu untuk menghibur kita di Le Rise."

Le Rise adalah tempat yang memiliki reputasi paling buruk dan paling berani, tempat kedua setelah pesta Heavenly Host. Taruhan dalam permainan judinya sangat tinggi dan kadang-kadang sangat mengejutkan, serta anggur-anggurnya lumayan dan hiburan-hiburan lainnya sangat menggoda. Nyaris mustahil masuk ke situ bila tidak berasal dari kalangan tertinggi. Yunho salah satu anggota pertama, tentu saja, dan Eric diizinkan masuk sebagai tamunya.

"Kalau kita tidak bisa melakukannya, kita sudah berubah menjadi menyedihkan dan payah," kata Yunho dalam bahasa Prancis yang sempurna.

Eric tertawa. Membuat Yunho bertanya-tanya apakah ia mungkin baru saja menyampaikan kenyataan yang mengerikan.

.

.

Jaejoong sedikit tak percaya dia kini berada di desa Sussex, tepatnya di Hensley Court, kediaman Choi Seunghyun, penyelenggara Heavenly Host yang sebentar lagi dimulai. Para Biarawan Gila akan berkumpul untuk mengadakan pesta liar, dan Jaejoong akan ikut serta.

Hanya sebagai pengamat, tentu saja.

"Sangat sederhana, Sayang," kata Heechul ringan sementara mereka menikmati teh siang yang disediakan pelayan Seunghyun yang luar biasa. "Jubah biarawan akan menutupi seluruh tubuhmu, dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan tubuhmu jangkung, jadi semua orang akan berpikir kau pria. Kau tak perlu mengucapkan sepatah kata pun –sumpahmu untuk tetap diam ditandai dengan jubahmu yang berwarna cokelat, dan statusmu sebagai pengamat ditandai dengan pita putih di lengan jubahmu. Kau bebas berkeliaran di tempat ini, walaupun kau tidak boleh mendekati Portal of Venus. Kau boleh pergi ke mana saja, kecuali pintu yang terkunci, tapi itu biasanya ditandai dengan syal pria yang diikat di bagian luar pintu. Selama pasangan atau kelompok orang di dalam ruangan itu tidak ingin diganggu."

"Kelompok?"

"Sayang," kata Heechul sabar, "jangan khawatir –ada banyak anggota yang suka kalau ada orang yang menonton kegiatan mereka. Aku jamin kau lebih mungkin menjadi pengamat daripada diundang berpartisipasi."

"Kau membuatku tenang," kata Jaejoong dengan nada hampa.

Heechul mengamati Jaejoong. Heechul mengenakan jubah biarawati, seragam yang terbuat dari sutra dan dijahit sesuai ukurannya. Dia belum mengenakan penutup kepala, dan dengan rambut hitam ikal serta mata cerah, dia memang terlihat seperti religius muda yang sangat nakal.

"Kau harus melepaskan pakaian itu. Pakaianmu terlalu menonjol di balik jubah." Heechul berjalan menghampiri Jaejoong, dan Jaejoong mendekap diri erat-erat.

"Jangan konyol." Ia tidak akan melepaskan apapun tanpa perlawanan.

"Sebagian besar wanita tidak mengenakan apa-apa di balik kostum mereka, Jae. Ini malam musim semi yang hangat dan pakaian itu bisa membuatmu sesak napas, terutama karena kau juga menutupi kepala."

"Aku hanya telanjang saat mandi, dan kalau boleh memilih, aku juga pasti berpakaian saat mandi," kata Jaejoong keras kepala.

"Gadis menjengkelkan," kata Heechul dengan nada sayang. "Junsu, ambilkan gaun hitam itu. Setidaknya gaun itu bisa menutupi tubuhmu tanpa terlihat senonoh."

Jaejoong menatap sutra hitam tipis yang tersampir di lengan Junsu. "Tidak."

"Satu-satunya cara agar orang percaya kau pria adalah jika kau melepaskan korsetmu. Percayalah padaku, kau tak akan percaya betapa bebasnya perasaanmu ketika hanya mengenakan pakaian dalam. Tak ada orang yang mengintip ke balik jubahmu."

"Baiklah," kata Jaejoong pasrah. Pelayan Heechul mulai melepaskan gaun jeleknya, berkutat cepat dengan kancing-kancing yang sering membuat Jaejoong sendiri kesulitan melepaskannya, dan gaun jelek itu pun jatuh ke lantai.

Heechul mengamati Jaejoong dengan seksama. "Sayangku, kau punya payudara yang sangat indah. Kenapa kau mengikatnya seperti itu?"

Jaejoong menutupi dada dengan lengan. "Mengganggu," katanya sebal.

"Lepaskan juga kerangka rokmu, Sayang. Kerangka itu bisa membongkar identitasmu lebih cepat daripada payudaramu."

"Bisakah kita berhenti membahas payudaraku?" pinta Jaejoong dengan wajah merah padam.

Heechul ragu sejenak. "Sayangku, aku benar-benar berpikiran ini bukan gagasan yang bagus. Kau terlalu polos..."

Kalau ada satu hal yang dibenci Jaejoong, itu adalah dibilang polos. Ia sudah sangat tergoda untuk membatalkan niat, tapi ia membenci sifat penakut sebesar ia benci dianggap gadis polos. Ia wanita, ilmuwan, dan tak ada yang perlu dihindarinya untuk mempelajari sesuatu.

Ia ingin tahu apa yang dilakukan pria dan wanita. Itu rasa penasaran yang sangat masuk akal, tanpa ada kemungkinan bahaya. Para Biarawan Gila adalah orang-orang bertopeng yang melakukan tindakan-tindakan tak senonoh. Resiko terbesar yang dihadapinya adalah malam yang membosankan.

Jaejoong melepaskan kerangka rok, berdiri dalam balutan pakaian dalam putih, celana dalam, stoking, dan garter. "Ini sudah cukup," katanya tegas.

Heechul menggeleng. "Tidak, Sayang. Lepaskan semuanya."

Jaejoong meragukannya, tapi melakukan seperti yang disuruh, melepaskan semua pakaian. Setelah mengenakan gaun sutra hitam milik Heechul, ia mulai memakai jubah yang terbuat dari kain tebal berwarna cokelat. Ia lalu menarik tudung yang lebar dan bernapas lega. Lengan jubahnya cukup panjang untuk menyembunyikan tangannya yang halus, wajahnya menghilang ke balik bayang-bayang tudung. Ia bisa melakukan apa yang diinginkannya tanpa perlu takut diketahui.

Heechul menghampiri sambil membawa secarik kain putih dan mengikatkannya di sekeliling lengan jubah. "Jangan lupa ini, Sayang. Ini jaminan keamananmu."

"Apa yang terjadi kalau aku kehilangan kain ini?"

"Tidak terlalu mengerikan. Kalau kau kehilangan pita itu dan seseorang mencegatmu, tolak saja. Mereka terikat sumpah untuk mengikuti keinginanmu."

"Sumpah?" kata Junsu sambil mendengus kesal.

"Semacam itulah," kata Heechul. Dia menatap Jaejoong. "Apakah kau siap? Sekarang belum terlambat untuk berubah pikiran. Sudah hampir gelap, dan begitu matahari terbenam, kita harus sudah tiba di biara."

"Aku tak akan berubah pikiran, Chullie. Selama tak ada orang yang mencegat atau menuntut apapun dariku, aku pasti baik-baik saja."

"Percayalah padaku, Sayang, tak ada seorang pun yang akan melakukannya. Ada sedikit peraturan di Heavenly Host, selain 'Lakukan Apa Pun Yang Kauinginkan', tapi satu hal yang harus dipatuhi adalah semua kegiatan harus disetujui semua pihak. Tak ada seorang pun yang akan menyentuhmu, Sayang. Aku berjanji."

Jaejoong menunduk menatap pita putih cerah yang diikat Heechul di lengannya. "Aku akan baik-baik saja, Chullie. Jangan khawatir. Aku sangat yakin," katanya. Dan bertanya-tanya apakah ia berbohong.

.

.

Yunho berdiri di sisi kerumunan, mengamati upacara. Ia tidak repot-repot mengenakan jubah atau hiasan-hiasan konyol lain yang suka dikenakan di Heavenly Host. Ia lebih suka dosa-dosanya terlihat jelas –gagasan bersembunyi di balik jubah dan kata sandi rahasia haram baginya.

Ia datang demi seks, dalam berbagai variasi, dia datang untuk membebaskan diri dan melepaskan kendali. Ia datang untuk semboyan yang terpatri di lengkung batu yang mengarah ke kebun luar ini: Lakukanlah Apa Pun Yang Kauinginkan. Ia berniat melakukannya.

Seunghyun ada di panggung, seulas senyum ironis tersungging di wajahnya yang anggun sementara dia memberi peringatan kepada orang-orang yang berkumpul. Dia terlihat lebih pucat daripada biasanya, lebih lemah, dan Yunho mendadak menyadari dengan sedih bahwa penyakit Seunghyun semakin parah.

Ia bisa melihat Lady Han di sisi lain kerumunan. Wanita itu terlihat menarik, seperti biasa, dalam seragamnya. Dia pasti salah seorang wanita tercantik, dan sudah menyatakan dengan jelas bahwa dia bersedia tidur dengan Yunho. Yang harus dilakukan Yunho adalah mengangguk ke arah wanita itu dan wanita itu pun akan berbaring terlentang, atau berlutut, dalam hitungan menit.

Sesuatu menghentikan Yunho. Walaupun wanita itu menggodanya dengan lirikan-lirikan tak bersemangat dan sentuhan-sentuhan santai, dia membuat Yunho merasa dia tidak mendapat kesenangan nyata dalam kegiatan itu. Bahkan para courtesan mahal yang biasanya Yunho ajak bersenang-senang menunjukkan semangat yang lebih besar.

Tidak, Yunho lebih memilih meniduri sepupu wanita itu yang kaku dan masih perawan, Kim Jaejoong. Malah, fantasi itu akhir-akhir ini mengganggu mimpinya. Kemarin ia menghabiskan malam sendirian, setengah tertidur, dan merasa tubuhnya berhasrat saat memikirkan mulut seseorang. Mulut sepupu Heechul yang resmi dan serius. Ia ingin melepaskan gaun jelek itu dari tubuh Jaejoong yang panjang, ingin–

Suara Senghyun meninggi, sebelum kemudian pria itu mengakhiri upacara dan menghilang ke balik bayang-bayang. Lady Han ada di barisan ketiga, dan Yunho tahu ia harus membuat keputusan. Han Heechul cantik, bersedia, dan Yunho belum pernah mencicipinya. Ia pastilah bodoh kalau berpikir dua kali.

Ketika wanita itu bergerak, Yunho menyadari ada pria jangkung yang mengikutinya. Dia mengerutkan kening. Apakah wanita itu sudah memilih pasangannya selama satu jam berikut, atau selama tiga hari ke depan?

Lalu Yunho melihat pita putih di lengan jubah pria itu. Seorang pengamat. Yunho tidak bermasalah dengan hal itu –ia sadar ada beberapa wanita yang menyukai penonton.

Namun, ia terkejut ketika melihat mereka berpisah, dan bertanya-tanya apakah ia salah. Tadinya ia sangat yakin mereka datang bersama, tapi Heechul menghilang ke dalam kegelapan, menjauh darinya, dan Yunho bertanya-tanya apakah wanita itu pergi mencari Seunghyun. Tak akan ada kenikmatan dalam hubungan itu, bagi mereka berdua, tapi itu sama sekali bukan urusan Yunho.

Si biarawanlah yang mendadak terasa menarik baginya.

Walaupun Yunho menganggap diri berpikiran terbuka menyangkut kenikmatan, ia menyadari seleranya terbatas pada wanita. Mengabaikan Seunghyun yang selalu mencelanya karena kurang berimajinasi ketika memilih pasangan.

"Kenapa ragu, my boy?" Eric menghampirinya, seragam biarawannya terbuka dan menampilkan dadanya yang kekar. Eric menyukai kelompok, sementara Yunho lebih menyukai satu orang wanita dalam satu kali kegiatan.

Yunho menyunggingkan senyum yang memesona. "Sasaranku sudah pergi bersama orang lain. Kurasa aku akan mencari di tempat lain," katanya ringan, matanya masih terpaku pada si biarawan baru. Dari cara biarawan itu berjalan, Yunho tahu bahwa dia masih muda, dan dia berjalan ke arah kebun yang dihiasi patung-patung yang sangat eksplisit. Dari bahu biarawan yang kaku, Yunho tahu dia belum pernah melihat atau berpikir tentang apa yang terjadi di antara patung-patung itu, dan–

Seulas senyum pelan tersungging di mulutnya. "Aku yakin aku baru saja menemukan inspirasiku."

Eric mengikuti arah pandangnya. "Kau mengubah kebiasaanmu, Yun. Kupikir kau tidak menyukai jenismu sendiri."

"Dia wanita," kata Yunho singkat, mengamati wanita itu bergerak menjauh, memasuki Taman Kenikmatan. Wanita belum menjerit atau jatuh pingsan –mungkin Yunho meremehkannya. Wanita itu pastilah lebih berpengalaman daripada yang ia duga.

"Ah, aku mengerti. Dan kau sudah memilihnya? Bersenang-senanglah kalau begitu. Kalau dia mau, bergabunglah dengan kami."

Satu-satunya jawaban Yunho adalah senyum samar. Dia mulai berjalan menyusul wanita itu, bergerak tanpa suara di balik bayang-bayang sehingga tidak mengejutkannya, tapi mendapati wanita itu sedang menatap patung yang indah dan seronok berjudul Rape of the Sabines. Patung pria Romawi yang sedang bercinta dengan istri barunya di punggung kuda.

Si biarawan muda membeku. Yunho bisa merasakan kekhawatiran di bahu wanita itu dan ia terkekeh. Domba polos yang malang.

Wanita itu berjalan ke kebun yang diterangi obor, menjauh dari kerumunan orang. Heavenly Host kini berpencar, dalam pasangan, dalam kelompok, dan kadang suara-suara memanggil wanita itu, mengajaknya melepaskan pita putih serta bergabung dengan mereka, entah untuk menonton atau ikut berpartisipasi, tapi wanita itu menggelengkan kepalanya yang tertutup dan terus berjalan.

Seberapa banyak yang yang diceritakan Heechul kepadanya? Apakah wanita itu tahu dia tidak boleh berjalan melewati Portal of Venus? Begitu seorang anggota memilih melewati lubang yang dihias dengan indah itu, dia langsung bisa diajak bermain, kecuali dia sudah diambil orang lain.

Apa pula yang dilakukannya di sini? Yunho tak bisa memikirkan alasan apa pun seorang perawan tua dari keluarga baik-baik dan tidak menyenangkan mau datang mengamati kalangan atas bersikap gila-gilaan. Ia juga tidak bisa membayangkan kenapa Han Heechul setuju mengajaknya.

Yunho berjalan menyusul wanita muda petualang itu, mengabaikan undangan-undangan yang dilemparkan kepadanya. Wanita itu semakin mendekati Portal, dan dia mungkin tidak tahu apa arti gerbang aneh yang mengarah ke kebun belakang itu.

Ia mendapati Jaejoong berhenti di samping patung lain, patung wanita muda yang menempelkan mulut di tubuh sesuatu yang sepertinya adalah raksasa. Yunho mencoba untuk menebak reaksi wanita itu, lalu menyadari bahwa ia semakin mendekat. Cukup dekat untuk melihat pita putih itu terlepas. Cukup dekat untuk merasakan bahwa wanita itu berharap dia berada ratusan kilometer dari situ.

Apa yang dipikirkan Heechul dengan mengajak wanita itu ke sini, pikir Yunho lagi, anehnya merasa kesal. Meninggalkan wanita itu di tangan perayu-perayu seperti dirinya?

Heechul tahu Yunho tak kenal ampun. Ia sudah berusaha keras mengabaikan undangan marah dan terselubung di mata perawan kecil itu, undangan yang diulurkannya tanpa sadar. Namun sekarang setelah dia menyerahkan diri pada Yunho, Yunho tidak bisa menolak, bukan?

"Jung Yunho!" seseorang berseru. "Bergabunglah dengan kami." Yunho memberi isyarat menolak, tapi terlambat.

Wanita itu berbalik mendengar nama Yunho dan membeku. Apa yang diharapkannya? Pikir Yunho agak kesal. Wanita itu pasti tahu Yunho ada di sana –di mana lagi seorang gentleman muda berada ketika para Biarawan Gila sedang berkumpul?

Yunho nyaris bisa mendengar wanita itu terkesiap dari tempatnya berdiri, yang berjarak tiga puluh langkah dari wanita itu. Lalu dalam kepanikannya, wanita itu membuat kesalahan fatal. Dia menerobos semak-semak di pintu masuk Portal of Venus, melewati batas yang membuatnya tidak bisa memilih lagi. Kim Jaejoong tidak bisa mundur lagi. Dahan-dahan pohon tersangkut di jubahnya, menahannya, sehingga ketika dia menghilang ke dalam kebun, pita putihnya tertinggal, tergantung di semak-semak.

Saat Yunho tiba di Portal, wanita itu sudah tak terlihat. Ia memungut pita itu, membiarkan kain satin itu membelai jemarinya.

Lalu ia menyusul wanita itu berjalan melewati gerbang sambil tersenyum.

.

.

.

To be continues

Annyeong~ i'm back with second chapter^^

Terimakasih untuk para reader khususnya Misscelyunjae, ShinJiWoo920202, OliYunjae, sachan, dan Haru3173 yang menyempatkan review di chap kemarin, aku sempet cemas ga ada yang akan baca, huks ;(

Untuk ff ini aku ga nulis perbab kok, ada bagian2 yg aku skip dan sampai chap ini baru selesai 3 bab. Total bab? Ada deh, keke~

.

Sekali lagi gomawo^^

Review?