RECKLESS

.

Remake from Anne Stuart's novel RECKLESS

.

Kim Jaejoong

Jung Yunho

.

Historical Romance

.

Genderswitch

.

Viscount Jung Yunho dikenal sebagai perayu ulung. Berkat wajahnya yang tampan dan sikapnya yang memikat, Yunho tak pernah gagal menggoda wanita... sampai ia bertemu Kim Jaejoong.

.

.

CHAPTER 3

.

.

Sialan, pikir Jaejoong berapi-api. Ketika pertama kali menyetujui gagasan gila itu, ia mengira tak akan bertemu dengan Jung Yunho di antara begitu banyak orang –atau kalaupun bertemu Yunho, pria itu pasti mengenakan jubah yang sama dan Jaejoong pasti tak bisa mengenalinya.

Namun, tidak semua pria dan wanita mengenakan pakaian religius. Dari lirikan sekilas yang gugup, Jaejoong melihat Yunho mengenakan celana panjang sederhana, kemeja putih longgar, dan jas panjang tanpa lengan. Sejenak ia bertanya-tanya kenapa pria itu berpakaian begitu santai, lalu menyadari bahwa itu supaya pria itu bisa melepaskan pakaian dengan mudah dan cepat, tanpa bantuan pelayan.

Jaejoong bahkan tak mau berpikir tentang sang viscount tampan melepaskan pakaian. Gagasan Jung Yunho telanjang membuat Jaejoong tak bisa bernafas, dan ia sudah cukup gelisah dengan hanya berada di situ. Ia kembali menoleh ke belakang. Pria itu sendirian, terlalu dekat, dan menatap lurus ke arahnya.

Yunho tak mungkin tahu siapa Jaejoong sebenarnya –penyamarannya sangat bagus. Dan Heechul pernah memberitahunya bahwa Yunho tidak pernah ambil bagian dalam praktek aneh percintaan pria, jadi Yunho tak mungkin menatap ke arahnya. Benar, bukan?

Namun, Yunho terus berjalan kearahnya, dan Jaejoong panik, bergerak semakin jauh ke dalam kegelapan. Obor-obor ditempatkan agak berjauhan, bulanlah yang menyediakan cahaya remang-remang. Sebuah biara menjulang di hadapannya, berbentuk bulan sabit dan terbuat dari batu kapur berwarna putih, dan di belakang pilar-pilar ia mengira melihat kolam yang besar serta dangkal.

Sejenak ia menarik nafas lega. Tempat itu damai, aman, indah di bawah sinar bulan, tersembunyi dari kegilaan di belakang sana, tempat perlindungan...

"Sialan, tapi aku tahu kalau sabar menunggu, aku akan menemukan seseorang yang masih muda dan segar," suara manis terdengar di telinga Jaejoong, dan ia melompat, panik, siap kabur.

Namun, sebelum Jaejoong bisa bergerak, tangan berat pria itu mencengkram lengannya. "Kau pemalu, ya?" Pria tua itu terkekeh. "Well, aku menyukai pemuda pemalu di ranjangku. Kau orang baru di sini..."

Jaeoong menggeleng-geleng keras, berusaha menarik diri, tapi jemari besar pria itu mengencang. Heechul menjamin tak ada seorang pun yang akan dipaksa, bahwa pita putihnya adalah jaminan keamanan. Jaejoong mencoba berputar dalam cengkraman pria itu untuk menunjukkan pitanya, tapi pita itu sudah hilang.

"Tidak perlu malu," kata pria itu, suaranya agak tidak jelas, dan Jaejoong menyadari pria itu mabuk berat. "Aku tak akan menyakitimu. Aku akan membiarkan kau yang –"

"Tidak boleh berburu tanpa izin, Dongwook." Suara yang tidak asing serta bernada mengejek menyela perlawanan Jaejoong, dan Jaejoong membeku.

"Aku melihatnya lebih dulu, Yunho," desis Dongwook. "Dia melewati Portal of Venus –itu membuatnya bisa dimiliki siapa pun. Di samping itu, aku tahu benar kau hanya tertarik pada perempuan jalang."

Istilah baru bagi Jaejoong, tapi ia yakin istilah itu sangat kasar. Ia mendongak menatap wajah Yunho dari balik tudung. Yunho terlihat seperti biasa, seolah-olah itu pesta resmi dan dia bosan setengah mati. "Mungkin aku mulai memperluas wawasan," katanya dengan suara malas. "Aku sedang mencari hal baru dan biarawan muda ini sempurna."

Kekagetan menerjang diri Jaejoong sementara Yunho mengangkat tangan dan secarik pita putih melilit di jemarinya yang panjang dan anggun.

Respon Dongwook sangat kasar, tapi cengkraman di lengan Jaejoong mengendur, lalu dia melepaskan Jaejoong. "Baiklah. Aku menerima pengakuan atas minatmu tadi, dan menerima tanda yang kaupegang itu. Gentleman harus mengikuti aturan yang ada..." dia setengah menggerutu pada diri sendiri sebelum berjalan pergi dan menghilang di semak-semak.

Jaejoong tahu tidak ada isyarat universal untuk mengucapkan terima kasih, jadi ia berharap anggukan yang anggun sudah cukup. Mata pria itu berkilat-kilat di bawah cahaya bulan, tapi tak ada tanda-tanda kebingungan atau keraguan di wajahnya. Hanya ekspresi sinis dan sopan seperti biasa.

Jaejoong berbalik, tapi Yunho menangkap tangannya. "Kurasa tidak, Biarawan Muda," katanya lembut.

Jaejoong menggeleng sambil mencoba menarik tangan, tapi Yunho malah mengikutinya. "Apakah Lady Han tidak memperingatkanmu tentang Portal of Venus? Ya, aku tahu kau datang bersamanya. Kurasa kau salah satu seorang kekasihnya. Apakah kau tahu kenapa dia meninggalkanmu di tengah Biarawan Gila?"

Jaejoong menarik lebih keras, masih sambil melangkah mundur, tapi Yunho mengikutinya, cengkramannya tegas tapi tidak menyakitkan seperti cengkraman Dongwook tadi.

"Tidak ada jawaban?" gumam Yunho. "Well, tidak apa-apa. Kita ada di sini sekarang, dan selku ada di dekat sini."

Jaejoong kini menyentak-nyentakkan lengan dengan keras sambil menggeleng-geleng, tapi Yunho hanya tertawa. Tawa yang memesona dan menjengkelkan. "Oh, tidak Biarawan Muda. Bukan sel penjara. Aku tidak berniat menahanmu, walaupun aku dengan senang hati mengajarimu bentuk penahanan lain yang lebih menyenangkan. Tidak, maksudku sel biarawan pribadiku. Aku mengeluarkan banyak uang untuk memastikan sel itu sedikit lebih mewah dari sel biasa, dan sangat pribadi di antara rombongan pendosa ini. Kau pasti menyukainya."

Jaejoong berhasil melepaskan diri, tapi Yunho kembali menangkapnya, menarik Jaejoong ke tubuhnya yang keras dan kuat, sebelah tangannya merangkul pinggang Jaejoong, menahan Jaejoong dengan sangat mudah. "Apakah kau akan bicara, atau apakah sumpah untuk tetap diam ini berlaku selamanya? Bukan berarti aku tidak menikmati permainan ini, tapi cepat atau lambat aku akan tidur denganmu, dan kau tahu itu. Kalau tidak, kau tak akan berada di sini."

Jaejoong bisa melepaskan tudung dan mengumumkan siapa dirinya, kemudian Yunho akan melepasnya, merasa ngeri dengan kesalahannya sendiri. Yunho tidak tertarik pada Kim Jaejoong yang sederhana dan masih perawan –Yunho ada di situ untuk mencari teman bermain yang berpengalaman.

Namun, kalau begitu semua orang akan tahu. Yunho pasti tak akan diam saja, dan semua orang di London pasti merasa berita itu menggelikan. Jaejoong tak akan pernah bisa menampakkan muka lagi di kota.

Itu memang bukan nasib yang buruk, tapi ia tak bisa meninggalkan Heechul. Tidak, pilihan terbaiknya adalah mengikuti Yunho, tidak berkata apa-apa, dan menunggu peluang lain untuk kabur.

Jaejoong menenangkan diri dan cengkraman Yunho mengendur. Yunho melepaskannya dan Jaejoong mendadak menyesal. Rasanya menyenangkan didekap pria itu.

"Kau memutuskan untuk bersikap patuh?" kata Yunho. "Misterius sekali. Entah kau sudah bersumpah untuk tetap diam, Biarawan Muda, atau aku mengenalmu. Itu, atau mungkin suaramu akan menunjukkan latar belakangmu yang bukan dari bangsawan. Kujamin, aku sangat demokratis selama menyangkut seks. Tapi jangan khawatir, aku bisa memikirkan hal-hal lain yang lebih baik yang bisa dilakukan mulutmu."

Yunho mengulurkan tangan dan Jaejoong mengejutkan diri sendiri dengan menerimanya.

"Tanganmu sangat halus," kata Yunho. "Kurasa aku akan sangat menikmati tiga hari ke depan."

Tiga hari? Demi Tuhan, apa yang bisa dilakukan pria itu dengan seseorang selama tiga hari penuh?

Aku memang bodoh mencoba melakukannya, pikir Jaejoong, dan merasa mual karena tersiksa. Ia tak bisa membuang-buang waktu untuk mengomeli diri sendiri sekarang –hal itu harus menunggu sampai ia kembali ke kamarnya yang aman. Untuk sementara ini ia harus berkonsentrasi melarikan diri dari Yunho dan orang-orang tak bermoral lainnya yang berkeliaran mencari korban di tempat itu.

"Sudah siap?" gumam Yunho, suaranya terdengar mengejek, seolah-olah tahu benar Jaejoong tidak seperti yang terlihat. Well, tentu saja –Yunho tahu Jaejoong hanya menyamar sebagai biarawan, dan pria itu hanya ikut bermain.

Namun, kenapa Yunho tidak menuntut ingin melihat wajah Jaejoong? Yunho tak berusaha melepaskan tudung Jaejoong, syukurlah, tapi tidakkah itu agak aneh? Apakah Yunho tidak ingin tahu seperti apa rupa orang yang akan ditidurinya? Ternyata tidak, dan Jaejoong hanya bisa merasa beruntung. Masih ada kemungkinan ia bisa melarikan diri, kabur sebelum Yunho menyadari identitasnya.

Yunho masih memegang tangannya. Jaejoong hanya mengangguk dan membiarkan pria itu menuntunnya ke arah biara.

.

.

Bulan sudah muncul. Jaejoong bisa mendengar musik di kejauhan. Ada orkestra kecil di panggung, dan musiknya, musik yang sederhana serta agak meliuk-liuk, menyelinap ke dalam otaknya. Ia bisa melihat Yunho dengan sangat jelas dari balik tudung, dan ia menelan ludah dengan gugup.

Yunho memegang tangannya. Rasanya meresahkan –ia tidak ingat pernah memegang tangan seorang pria selain ketika mereka sedang berdansa. Ketika masih kecil, ayahnya tak pernah mau repot-repot memegang tangannya dan semua pelayan yang menjaganya wanita.

Yunho tidak mengenakan sarung tangan. Jaejoong juga tidak. Itu kejutan lain –Jaejoong hampir tak pernah menyentuh siapa pun tanpa lapisan sarung tangan kulit di antara mereka, ketika ia berusaha berdansa. Ia tak pernah menyukai sarung tangan, kecuali untuk berkuda atau berkebun. Sarung tangan membuat telapak tangannya gatal.

Namun, tiba-tiba saja ia menyadari kegunaan sarung tangan pada acara-acara sosial. Ada sesuatu yang begitu... intim ketika kulit bersentuhan dengan kulit. Jemari Yunho yang hangat dan kuat menggenggam jemarinya yang lemah.

Jaejoong membiarkan dirinya melirik Yunho dari balik tudung. Ia bisa melihat menara biara di belakang Yunho, dan sejenak menara-menara itu anehnya terlihat seperti tanduk iblis. Ia mengerjap, lalu ingin tertawa. Khayalannya semakin konyol. Jung Yunho hanya manusia biasa. Pria manja, nakal, terlalu tampan, tapi manusia biasa. Kedatangannya ke situ tak berarti Jaejoong telah menjual jiwanya kepada iblis.

Apakah ia harus mencoba berbicara? Kalau ia bisa berbicara dengan suara rendah, mungkin hal itu bisa meyakinkan Yunho bahwa Jaejoong seorang pria. Yunho tak mungkin tahu siapa Jaejoong sebenarnya –Miss Kim yang terhormat sama sekali tak mungkin bermain-main dengan Biarawan Gila di Heavenly Host.

Bukannya ia sudah bermain-main, ia tak berminat melakukannya. Itu hanya untuk memuaskan rasa penasarannya yang konyol. Sungguh, apakah imajinasi saja tidak cukup? Dan siapa yang menyangka ia akan bertemu dengan Jung Yunho?

Dirinya sendiri.

Kenyataan menerjang dirinya. Jaejoong tahu benar pria itu akan ada di situ, memuaskan hasrat. Ia datang untuk bertemu dengan Yunho, mengamatinya, kalau mungkin, di balik samaran. Ia ingin melihat Yunho dalam keadaan telanjang, panas karena gairah, sehingga bisa mengingat hal itu selamanya.

Jaejoong menarik tangan perlahan, hanya untuk melihat seberapa awas pria itu, tapi jemari Yunho mengencang dengan cepat, tidak sampai terasa menyakitkan, nyaris. Jaejoong menduga pria itu tahu bagaimana menilai kekuatannya sendiri. Untunglah Yunho tidak menyadari bahwa tangan yang lebih kecil dan lebih lembut dalam genggamannya adalah tangan wanita.

Mereka ada di jalan buntu. Tanah membukit di sekeliling mereka, membuat mereka berada di daerah melengkung, dinding-dinding batu menjulang di sekeliling, dan hanya ada satu pintu di puri yang kokoh itu.

Tidak ada jalan keluar, pikir Jaejoong tiba-tiba panik. Ia yakin Yunho pasti merasakan ketegangan di tubuhnya. Cengkraman Yunho mengencang, dan Jaejoong tahu ia tak mungkin menyingkirkan kewaspadaan Yunho.

Ia menarik nafas untuk menenangkan diri. Yunho tidak tahu siapa dirinya. Begitu Jaejoong menjelaskan semua, Yunho akan melepaskannya. Jaejoong berharap bisa kabur tanpa perlu mengatakan apa-apa, tapi ia akan kabur, apa pun resikonya.

Ia tak bergerak, dan Yunho tidak mencoba memaksanya, sepertinya puas berlama-lama di udara malam yang sejuk. Sinar bulan menyinari wajah Yunho, seakan menegaskan ketampanannya yang berbahaya, dan sejenak Jaejoong kembali ke mimpinya ketika Yunho memeluknya, menciumnya, membelai tubuhnya sampai Jaejoong terbangun sendirian dengan tubuh bergetar.

Kenangan itu membuatnya malu, walaupun terasa menggoda. Namun, khayalannya sendiri yang membuatnya menyentuh diri sendiri. Sentuhan Yunho sama sekali terlarang.

Ketakutan akhirnya menerjang diri Jaejoong. "Aku tidak seperti yang kaupikirkan," katanya dengan suara rendah dan serak dalam upaya terakhir untuk menipu Yunho.

Yunho terlihat geli, tidak terkejut. "Dia bicara!" katanya dengan nada heran. "Dan bagaimana kau tahu apa yang aku pikirkan? Tenanglah, Nak, aku sangat yakin kau bukan biarawan yang bersumpah untuk tetap diam. Aku senang kau memutuskan untuk bicara –kita bisa bernegosiasi."

"Negosiasi?" Kata itu mengejutkan Jaejoong. "Apa yang harus kita negosiasikan?"

"Astaga, syarat-syarat penyerahan dirimu."

Rasa takut kini berpacu di tubuh Jaejoong, mengancam menguasai diri. "Aku menyerah," katanya dengan cepat. "Sekarang lepaskan aku."

"Kurasa kau tidak memahami arti menyerah, sayangku. Tidak ada penyerahan sejati sampai kau memuaskanku. Tidak ada penyerahan sampai kau memohon sentuhanku, ciumanku."

Kepanikan menghujam diri Jaejoong dengan kuat dan ia berusaha membebaskan diri. Namun cengkraman Yunho terlalu kuat. Cengkraman itu kini terasa menyakitkan, sedikit.

"Kau tidak mengerti," kata Jaejoong terengah, suaranya agak melengking karena panik. "Aku bukan pria."

"Kau tidak mengerti," tiru Yunho. "Aku tak pernah berpikir kau pria. Aku hanya menggauli wanita."

Bahasa kasar Yunho yang disengaja membuat Jaejoong mengernyit. Ia mengenal kata itu walaupun beberapa kata lain tidak dikenalnya. Itu kata paling sulit yang diajarkan Junsu kepadanya. Kenyataan bahwa Yunho mengatakannya membuatnya terkejut.

Tekad Jaejoong semakin kuat. "Bukan wanita ini," katanya tegas. Tak ada yang akan dipaksa, Heechul berjanji kepadanya. Yang harus dilakukannya adalah berkata tidak dan Yunho akan melepaskannya. "Kita akan kembali dan mencarikan seseorang yang lebih bersedia untukmu. Sedangkan menyangkut diriku, jawabannya tidak."

Kalau Jaejoong berharap Yunho terlihat kecewa, ia sendiri yang merasa kecewa. "Terlambat untuk itu, sayangku. Begitu berjalan melewati Portal of Venus, kau sudah menunjukkan kesediaan untuk menerima pria pertama yang menginginkanmu. Bersyukurlah aku berhasil menjauhkanmu dari Dongwook. Dia tidak tekenal baik dalam kegiatannya, dan dia bisa menyakitimu."

"Dan kau tidak akan menyakitiku?"

Seulas senyum samar tersungging di mulut Yunho yang anggun. "Hanya sebentar, dan aku akan berusaha membuatnya tidak terlalu menyakitkan. Kehilangan keperawanan selalu agak menyakitkan, atau begitulah yang kudengar, tapi kurasa aku bisa membuatmu melupakannya dengan cepat."

Demi Tuhan. "Apa yang membuatmu berpikir aku masih perawan?" protes Jaejoong dengan suara rendah. "Ini sama sekali bukan tempat yang cocok untuk orang-orang yang tidak berpengalaman."

"Itulah sebabnya kau sangat menarik," kata Yunho. "Dan aku mengetahuinya dari caramu berjalan, caramu tersentak ketika kau menyentuhmu, ketika aku memberitahumu apa yang akan kita lakukan bersama. Hanya perawan yang bisa setakut itu. Sedangkan tentang alasanmu berada di sini, aku sama sekali tidak tahu. Aku berusaha menebak-nebaknya sampai sekarang."

"Kegilaan sesaat," kata Jaejoong. "Aku sudah sadar sekarang." Ia menarik tangannya, tahu itu sia-sia, tapi tetap melawan.

"Maaf," kata Yunho, sama sekali tidak terdengar menyesal. "Kita sudah melangkah terlalu jauh."

Jaejoong bisa melepaskan tudung, membuat pria itu terkejut dan melepaskannya. Namun, ia masih menunda, berharap ada cara lain untuk melarikan diri dari kekacauan itu tanpa membongkar identitasnya.

Jaejoong mengangkat tangannya yang bebas untuk menarik tudung menutupi wajah. "Tentang Portal of Venus yang kausebut-sebut itu, itu kesalahan. Teman... temanku yang mengajakku ke sini baru akan menunjukkannya kepadaku ketika dia... dia teralihkan. Bagaimana aku bisa tahu apa Portal of Venus itu?"

"Aku menyesal Lady Han tak sempat menunjukkannya kepadamu," kata Yunho dengan suara yang ditarik-tarik, membuat Jaejoong terkejut. Yunho tahu Jaejoong datang bersama Heechul. Well, tak ada yang luar biasa dalam hal itu –mereka berdiri bersama selama upacara Latin yang konyol itu. "Tapi itu sama sekali bukan alasan. Yang harus kau lakukan adalah melihat. Portal of Venus," katanya sabar, "adalah gerbang bulat ke arah kebun pertama, dikelilingi semak-semak. Gerbang itu menyerupai..."

"Oh, menjijikkan sekali!" seru Jaejoong, membuat Yunho tak perlu melanjutkan kata-katanya.

"Justru sebaliknya, aku merasa gerbang itu sangat... hmm... menggairahkan. Tapi aku yakin aku pernah berkata bahwa aku hanya tertarik pada wanita, bukan?"

Tak ada jalan lain, pikir Jaejoong putus asa. Di mana Heechul ketika aku membutuhkannya? Pergi bersenang-senang dengan orang lain, melupakan sepupunya yang idiot.

"Ya, kau pernah mengatakannya," kata Jaejoong tenang, tak lagi berusaha menyamarkan suara. "Tapi Viscount Yunho terkenal dengan seleranya yang luar biasa. Wanita-wanita simpanannya adalah wanita tercantik di dunia."

"Nah, bagaimana kau bisa tahu tentang simpanan-simpananku?" gumam Yunho geli.

Jaejoong mengabaikan pertanyaan itu. "Kau tidak mungkin merendahkan standarmu sampai mau... mau meniduri seseorang yang tidak bersedia, perawan tua sederhana."

Yunho mengamati sosok Jaejoong tanpa berkata apa-apa selama beberapa saat, dan Jaejoong mendapat kesan pria itu tak hanya bisa melihat menembus tudungnya, tapi juga menembus kekurangan serta kelemahan Jaejoong. "Kata yang benar adalah menggauli," katanya sengaja. "Dan kau tak akan tidak bersedia." Ada ketegasan dalam suaranya, seolah-olah dia mengetahui mimpi-mimpi Jaejoong yang mengerikan. "Kau sangat meremehkan pesonamu."

Cengkramannya mengencang, dan dia menarik Jaejoong ke arahnya dengan perlahan. Jaejoong berusaha meletakkan tangan di antara mereka, tapi terlambat melawan Yunho, dan Yunho langsung mendekap Jaejoong di tubuhnya yang kuat serta keras. Jaejoong bisa merasakannya, seperti dalam mimpi, dan ia ingin menangis. Begitu dekat, begitu dekat dan menggoda, dan yang harus dilakukannya adalah melepaskan tudungnya serta Yunho akan melepasnya dengan perasaan terkejut, ngeri, mungkin juga jijik memikirkan kesalahan yang nyaris dilakukannya.

Namun, Jaejoong tak bisa melepaskan tangan –tangannya terperangkap di antara tubuh mereka. Yunho berhasil menahannya hanya dengan satu lengan, dan tangannya terangkat ke wajah Jaejoong yang tersembunyi.

"Kau tidak ingin melakukannya," kata Jaejoong putus asa.

"Tentu saja aku ingin melakukannya. Aku sudah ingin melakukannya sejak lama, Miss Kim." Dan dia mendorong tudung itu dari kepala Jaejoong, menangkap dagu Jaejoong yang keras kepala dengan tangannya yang kuat, serta mencium Jaejoong.

.

.

.

To be continues

Halo, halo, apdetan datang. Semoga ini ga kelamaan ya ^^

Wah, ternyata masih ada yang mau baca, hihi.. daku senang *peluk reader satu2*

Aku coba jawab pertanyaannya ya... Di sini peran Jaejoong memang cuma sebagai pendamping Heechul, dia ga punya gelar bangsawan apa pun. Sebenernya dia juga cantik, cuma dia terlalu merendahkan diri dan ga suka bersolek, ditambah sikapnya yang kaku dan secara terang-terangan menjauhi pria, jadilah ga ada pria yang nglamar dia. Gitu chingu, hehe #poor umma

Silahkan bertanya kalau ada yang masih kurang jelas :)

Special thanks to:

park xena, Misscelyunjae, Haru3173, ShinJiWoo920202, ky0k0, Tutup Botol, dan Guest.

.

Mind to review?