RECKLESS
.
Remake from Anne Stuart's novel RECKLESS
.
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Kim Heechul
Choi Siwon
.
Historical Romance
.
Genderswitch
.
Viscount Jung Yunho dikenal sebagai perayu ulung. Berkat wajahnya yang tampan dan sikapnya yang memikat, Yunho tak pernah gagal menggoda wanita... sampai ia bertemu Kim Jaejoong.
.
.
CHAPTER 4
.
.
Untuk ukuran ciuman pertama, ciuman itu tidak buruk, pikir Yunho tenang. Kim Jaejoong membeku ketika mulut Yunho menyentuh mulutnya, terlalu terkejut untuk bergerak, dan Yunho memaksakan keuntungannya, menarik Jaejoong lebih dekat ke tubuhnya, memeluk wanita itu sehingga Jaejoong tak bisa kabur dengan mudah, dan terus berusaha merayu mulut Jaejoong lebih dulu. Yunho mengangkat tangan ke kacamata Jaejoong, melepaskannya, dan sengaja menjatuhkannya ke tanah sebelum wanita itu menyadari apa yang dilakukannya.
Jaejoong mungkin bisa merasakan gairah Yunho dari balik seragam biarawannya yang konyol, walaupun Jaejoong tidak tahu apa itu. Sangat mengagumkan –sudah lama sekali Yunho tidak merasa sesenang itu pada awal permainan. Biasanya ia ingin pasangannya tanpa sehelai kain pun sebelum ia tiba pada tahap berbahaya itu, bukti lebih jauh bahwa ia terlalu tertarik pada Kim Jaejoong.
Wanita itu melawan, hanya sedikit. Yunho menjauhkan mulut dari mulut Jaejoong, sedikit saja, dan menunduk menatap mata Jaejoong yang terbelalak kaget, kini tanpa dihalangi kacamata terkutuk itu. Jaejoong bahkan sepertinya tak sadar Yunho melepaskan kacamatanya.
"Akan lebih mudah kalau kau memejamkan mata," kata Yunho dengan nada praktis. Ia terkejut ketika Jaejoong menurut, dan ia pun mencium Jaejoong lagi.
Jaejoong tak melawan lagi. Bibirnya yang tadinya kaku dan ketakutan, sekarang melembut, dan Yunho menyapukan bibirnya di bibir Jaejoong, sekali, dua kali, ingin bersenandung karena senang.
Yunho kembali mengangkat kepala. "Buka mulutmu untukku."
Mata Jaejoong terbuka lagi. "Kenapa?"
"Karena aku ingin menciummu seperti itu."
"Aku tidak tahu apa maksudmu. Kau harus membiarkanku–"
Yunho menutup mulut Jaejoong lagi dengan mulutnya sebelum Jaejoong mengucapkan kata terkutuk itu dan mencicipi Jaejoong sepenuhnya. Jaejoong membeku lagi, tapi Yunho tahu cara berciuman, cara mendapatkan respons yang diinginkannya. Tubuh Jaejoong pertama-tama melembut, lalu rahang dan mulutnya menerima Yunho.
Yunho menginginkan lebih. Ia pernah berkata kepada diri sendiri bahwa penyerahan saja sudah cukup, tapi ia salah. Ia menginginkan, membutuhkan partisipasi.
"Balas ciumanku," bisik Yunho, suaranya sendiri terdengar serak.
Mata Jaejoong melebar. Dalam kegelapan, rambutnya yang merah serta lebat terlihat hitam, dan dia mendongak menatap Yunho dengan tatapan memohon. Jangan minta aku melepasmu, pikir Yunho.
"Aku tidak... tahu caranya."
Seulas senyum perlahan tersungging di mulut Yunho sementara kelegaan membanjiri dirinya. "Akan kutunjukkan kepadamu," katanya, kembali menguasai mulut Jaejoong, mencoba mengendalikan besarnya gairahnya terhadap Jaejoong. Ia mencium Jaejoong dengan perlahan, jauh lebih perlahan dari yang diinginkannya, tapi setelah sesaat ia pun menyesuaikan diri, sapuan lidahnya yang pelan dan malas di mulut Jaejoong, gigitan-gigitan kecil yang lembut, penempatan mulutnya di mulut Jaejoong.
Sentuhan akhir dan ragu lidah Jaejoong di lidahnya.
Ia bisa merasakan perubahan di tubuh Jaejoong, ketika tubuh wanita itu melembut, menempel di tubuhnya, dan Yunho ingin mendorong Jaejoong ke dinding, menguasainya di sana.
Yunho tak bisa melakukannya. Biasanya ia tak berbaik hati, tapi pengalaman Jaejoong seharusnya dilakukan di tempat tidur. Persetan, pengalaman pertama Jaejoong seharusnya dilakukan di tempat tidur suaminya, tapi Yunho tak akan membiarkannya.
Tangan Jaejoong yang terperangkap di antara tubuh mereka, perlahan-lahan mulai bergerak, meluncur menaiki dada Yunho dan akhirnya mencengkram bahu Yunho. Yunho merasa tersesat dalam rasa Jaejoong.
Dan ia ingin, butuh mendengar suara yang dikeluarkan Jaejoong ketika mencapai puncak.
Yunho menuntun Jaejoong, dengan perlahan, dengan hati-hati, ke pintu ruang persembunyiannya. Ia berbalik, bersandar di pintu itu sehingga terbuka, lalu menarik Jaejoong ke dalam bersamanya sementara pintu berat itu berayun tertutup dengan bunyi keras dan memuaskan.
.
.
Indra-indra Jaejoong menerjangnya, rangkaian rasa dan sentuhan yang nikmat, suara dan bau dalam kegelapan remang-remang. Ia tahu seharusnya tidak membiarkan semua itu terjadi, tapi selama sesaat ia tidak bisa menolak. Ini Yunho, pria dalam mimpinya yang tak kenal malu, perayu wanita tanpa perasaan yang menghantui dirinya.
Dan sekarang pria itu, Viscount Yunho, sedang menciumnya, Kim Jaejoong yang bertubuh jangkung dan kikuk, padahal ada lusinan wanita cantik yang pasti akan dengan senang hati menghangatkan ranjang pria itu. Namun, pria itu mengikuti Jaejoong, entah bagaimana berhasil mengetahui identitasnya. Walaupun tahu Jaejoong adalah Jaejoong yang sederhana dan sudah bisa dianggap perawan tua, pria itu masih mengejarnya, dan sekarang sedang menciumnya dengan penuh perhatian sehingga Yunho pasti menyukainya, setidaknya sedikit.
Ia merasa Yunho bergerak, memutarnya, merasa mereka berdua menjauh dari langit yang diterangi bulan dan udara malam yang dingin. Ia merasa pusing, dan dengan ragu-ragu, ia mengangkat tangan untuk memegang Yunho, sementara kegelapan menyelimuti mereka. Ia bisa mendengar bunyi pintu tertutup, lalu bunyi aneh itu menembus kabut kerinduan yang menyelimutinya. Nyaris seperti bunyi kunci yang diputar.
Ketakutan menjalari dirinya, dan ia menarik mulut dari mulut Yunho sambil mendorong pria itu. Kali ini Yunho melepasnya, bergerak menjauh dalam kegelapan, dan Jaejoong mendadak merasa panik. Ia benci tempat gelap serta tertutup, dan sejenak ia merasa terperangkap, sesak nafas.
Lalu seberkas cahaya menerangi kegelapan ketika Yunho menyalakan salah satu lilin, lalu lilin-lilin lain, menyediakan cahaya yang menyenangkan dalam gelap. Sekarang Jaejoong bisa melihat ruangan itu dengan sangat jelas, kepanikannya terbit lagi, kali ini dikarenakan bahaya yang nyata, bukan khayalan.
Ruangan itu berukuran kecil, berdinding batu putih. Perapian terlihat di salah satu sisinya, siap dinyalakan. Ada meja kokoh yang menyimpan kandelir, sebotol anggur, dan dua gelas. Sehelai karpet tebal menutupi lantai sementara karpet-karpet dinding berlukiskan adegan erotis tergantung di dinding.
Dan di situ juga ada tempat tidur. Bagaimana Jaejoong bisa meragukannya? Ranjang itu ditempatkan di dekat dinding, dengan seprai beledu dan selimut bulu. Tempat tidur untuk aktivitas-aktivitas sensual, bukan untuk tidur.
Yunho menatapnya dari seberang ruangan kecil itu, tak bergerak dan tidak berbicara, tapi Jaejoong tetap merasa pria itu seperti pemangsa yang sedang menunggu.
Jaejoong berbalik, mencari pintu. Kenapa dia tidak kabur ketika masih ada kesempatan? Ia bisa mengejutkan Yunho ketika pria itu menciumnya, tapi ia malah luluh seperti orang bodoh yang dimabuk cinta, dan sekarang sudah terlambat.
Atau mungkin belum. Ia berlari ke arah pintu kayu, dan merasa lega ketika Yunho tak bergerak sementara tangannya menemukan kenop pintu. Yunho membiarkannya pergi. Jaejoong memutar kenop, namun kenop itu tak bergerak. Ia menyentak, tapi pintu itu tetap bergeming.
Ia terkurung. Dengan pria impiannya, perayu wanita paling buruk di seluruh penjuru Inggris.
"Sialan," kata Jaejoong lemah. Dan ia pun meluncur ke lantai, punggungnya disandarkan di dinding, merasa seperti mangsa yang tersudut.
.
.
.
Ketika Heechul terbangun, matahari pagi sudah mengintip dari jendela. Ia duduk dengan cepat, dan mulai mengingat sedikit demi sedikit apa yang terjadi. Semalam ia tak sempat berpesta karena Seunghyun jatuh pingsan –penyakitnya semakin parah, dan ia menghabiskan malam menjaga teman lamanya itu sebelum kemudian tidur di kamarnya, meninggalkan Seunghyun di tangan seorang pendeta yang merupakan teman pria itu. Pendeta yang tak punya simpati, cerewet dan menjengkelkan.
Hari masih pagi ketika Heechul berjalan menyusuri koridor sepi di Hensley Court. Seseorang berdiri di luar pintu kamar Seunghyun, dan dalam keremangan koridor, Heechul mengira orang itu Daesung, pelayan kepercayaan Seunghyun. Namun Daesung bertubuh pendek, sementara sosok pria itu terlihat jangkung dan tegap.
Pria itu menjauh dari pintu, keluar dari balik bayang-bayang, dan Heechul menguatkan diri menghadapi perang.
"Dia sudah tidur," kata Choi Siwon.
"Aku tidak berniat membangunkannya. Aku ingin menemaninya sementara dia tidur." Heechul menjaga suara agar tetap tenang dan masuk akal.
Siwon mengamati pakaian Heechul yang sederhana, lalu terangkat melihat hiasan di pipinya. Ada tatapan aneh di mata pria itu, kemungkinan besar rasa jijik, walaupun Heechul tidak yakin.
"Apa? Aku sedang tidak berniat berdebat denganmu."
"Kenapa kau mengacaukan wajahmu dengan semua cat itu?"
Heechul tertawa, suaranya terdengar pahit. "Setelah itu kau akan berkata aku gadis cantik yang tidak memerlukan riasan ini."
"Tidak," kata Siwon, suaranya terkendali. "Aku sama sekali tidak akan memberitahumu betapa cantik dirimu. Kau tidak membutuhkan pujian kosong dariku."
"Kosong?" ulang Heechul dengan nada mengejek.
"Dan kau sama sekali bukan gadis."
Heechul terdiam sejenak, lalu tertawa. "Aku memang bukan seorang gadis. Baiklah, apa yang akan kita perdebatkan?"
"Kurasa kita sepakat tentang satu hal, dan itu adalah kekhawatiran pada Seunghyun. Aku menginginkan yang terbaik baginya."
"Sebagai salah seorang teman lamanya, aku juga menginginkan hal sama. Kenapa pendeta selalu bicara bertele-tele? Katakan apa yang ingin kau katakan supaya aku bisa duduk menemaninya."
"Itulah yang ingin kukatakan. Kurasa sebaiknya kau tidak duduk di sampingnya, atau berada di dekatnya. Aku yakin hal terbaik yang bisa kaulakukan untuk Seunghyun adalah pergi ke taman bermain terkutuk yang dibangunnya itu, mengumpulkan teman-temanmu yang tak bermoral itu, dan pergi dari tempat ini. Biarkan dia meninggal dengan tenang."
Heechul tertawa hambar. "Menurutmu itu yang diinginkannya? Dialah yang mengusulkan Pesta diadakan di sini. Seunghyun membanggakan kemampuannya sebagai tuan rumah, walaupun dia sendiri tidak hadir. Dua hari lagi Pesta berakhir, semua orang akan pergi, puas, dan gembira, serta acara sosial Seunghyun yang terakhir akan dianggap sebagai keberhasilan."
"Tiga hari penuh menjajakan diri dan berbuat tidak senonoh adalah keberhasilan sosial?"
"Terlambat mengubahnya, Mr. Choi. Kau tak akan bisa menyelamatkan jiwanya, membujuknya mengubah... kesukaannya pada saat-saat terakhir ini."
"Aku tak peduli siapa yang ingin ditidurinya," kata Siwon kering. "Jiwanyalah yang membuatku cemas. Dan tak pernah ada kata terlambat untuk itu."
Heechul menatap Siwon penasaran. "Apakah kau tidak menganggap kesukaannya pada pria membuatnya tidak bisa diampuni?"
"Itu masalah antara Seunghyun dan Tuhan-Nya."
"Bukankah jiwanya juga masalah Seunghyun dan Tuhan-Nya?"
Siwon menunduk menatap Heechul untuk waktu yang lama. "Berbicara denganmu seperti berdebat dengan iblis."
Heechul menyadari ia bisa tertawa. "Oh, kurasa tidak. Bukankah pembicaraan dengan iblis melibatkan godaan?" Ia mendekat, mendongak menatap Siwon. Ia menyadari pria menyukainya ketika ia bergerak mendekat dan mendongak menatap mereka dari bulu matanya yang panjang.
Angin lembut musim semi menggoyang rok Heechul, membuat roknya menggesek kaki pria itu, dan Heechul cepat-cepat melangkah mundur.
"Menurutmu kau tidak sedang menggodaku, Lady Han?" kata pria itu, suaranya datar. "Kau tidak tahu banyak tentang pendeta. Kami pria biasa."
Heechul tidak berkata apa-apa. Sentuhan roknya di kaki pria itu membuatnya gelisah. Rasanya jauh lebih intim daripada berbaring bersama pria telanjang. Aneh, pikir Heechul. "Apa yang kauinginkan Mr. Choi?" Suaranya tenang dan menipu. "Selain membubarkan Heavenly Host lebih awal. Apakah kau ingin aku kembali ke Pesta? Tidak mengganggumu..."
"Tidak!" Kata itu praktis seperti bunyi letusan. "Hal terbaik bagimu adalah kembali ke London kalau kau tidak mau membatalkan pesta gila dan konyol itu. Teman-temanmu yang lain bisa menyusulmu bila mereka sudah selesai."
"Walaupun ingin menuruti saranmu, aku tidak bisa melakukannya. Sepupuku sedang berada di biara. Dia anak yang polos, hanya datang untuk mengamati––"
"Polos?" sela Siwon lagi, dan Heechul melihat dengan jelas amarah dingin di matanya. "Kau mengajak wanita polos ke acara tak senonoh seperti itu? Monster macam apa kau ini?"
"Dia baik-baik saja," kata Heechul kaku. "Tak ada seorang pun yang bisa menyentuhnya."
"Dan kau yakin tentang itu? Walaupun kau tahu pria-pria macam apa yang menyebut diri mereka Biarawan Gila?"
Untuk pertama kalinya keresahan menggelitik Heechul, dan ia hampir menyumpahi pria itu. Yunho juga ada di sana. Dan ada bahaya yang terbaring diam di antara Yunho dan Jaejoong.
Benar, salah satu alasan Heechul memilih Yunho sebagai kekasih berikutnya adalah untuk membantu menghancurkan hubungan antara sepupunya yang polos dan salah satu perayu wanita terburuk di masyarakat. Ia mengenal Jaejoong dengan baik serta bisa menebak fantasi rahasianya, dan cara paling mudah untuk menghancurkan fantasi itu adalah dengan menguasai pria itu sendiri.
Karena fantasi itu harus dihancurkan. Jatuh cinta pada perayu wanita hanya akan mengarah pada hati yang hancur. Jatuh cinta pada seseorang hanya akan mengarah kepada keputusasaan.
Namun, mereka ada di luar sana, dan Heechul tidak ada untuk mengawasi mereka. "Dia baik-baik saja," kata Heechul lagi, mengabaikan ketakutannya sendiri. "Sangat aman."
Dan Heechul bertanya-tanya apakah ia baru saja berbohong.
.
.
.
"Tak ada yang bisa kulakukan untuk pintunya," kata Yunho dengan nada malas. "Pintu itu terkunci secara otomatis. Pelayan datang setiap pagi dan malam membawa makanan. Kurasa kau terkurung di sini sampai besok."
Jaejoong terlihat marah.
"Apakah kau mengambil kacamataku?" tanyanya. "Aku tidak bisa melihat dengan jelas."
"Kacamata? Tentu saja tidak," kata Yunho, pura-pura bersikap tak berdosa sambil mengingat ia sengaja menginjak kacamata itu dengan sepatu bot. "Tak banyak yang perlu kaulihat di sini. Kecuali aku."
Jaejoong tidak terpesona. "Kau tidak bisa menahanku di sini."
"Jangan bersikap menyulitkan, Nak. Tentu saja bisa. Aku baru saja menjelaskannya kepadamu. Pintu tidak akan dibuka sampai besok pagi."
"Menurutmu aku percaya kau tidak punya kunci cadangan yang disimpan di sini? Dan jangan memanggilku 'Nak', aku dua tahun lebih tua darimu."
Yunho melenggang ke ranjang, berbaring dan melipat lengan di belakang kepala, bersiap-siap menikmatinya. Tak perlu terburu-buru memaksa Jaejoong berbaring. Ia bisa mendapatkan apa yang dimiliki Jaejoong dari siapa saja –sifat Jaejoong lah yang membuatnya berbeda. Menarik. Menyenangkan. "Bagaimana kau tahu usiaku?" tanyanya tenang. "Apa yang membuatmu bertanya?"
Wajah Jaejoong merona, lalu dia mengendalikannya. Yunho mengamatinya dengan takjub. Ia mengira wanita tidak mampu mengendalikan respons fisik seperti itu. Hal itu membuatnya lebih penasaran untuk melihat respons tanpa sadar apa lagi yang bisa ditimbulkannya serta cara wanita itu berusaha mengendalikannya.
"Seseorang pasti menyebutnya sambil lalu," kata Jaejoong, berbohong dengan baik.
"Dan kau kebetulan mengingatnya?"
"Aku terkejut mendengar orang yang sudah berumur 28 tahun masih bisa tersesat dalam kegiatan yang tidak senonoh, budak kekacauan liar dan tak bermoral."
Kekacauan liar? Yunho menyukai istilah itu. "Sepupuku Eric tiga puluh tahun lebih tua dariku dan sama tidak bermoralnya. Mungkin lebih tidak bermoral, walaupun aku berharap bisa mencapai levelnya suatu hari nanti."
Jaejoong menolak dipancing. "Tetap saja, aku dua tahun lebih tua darimu, dan menyebutku 'Nak' sangat konyol."
"Jaejoong yang manis," kata Yunho lirih, mengamati Jaejoong mengernyit ketika Yunho menyebut namanya, "kau memang hanya bayi dalam hal sisi gelap dunia ini."
"Aku lebih suka seperti itu."
Yunho mengangkat bahu. "Sayang sekali. Kau ada di sini sekarang, atas kemauanmu sendiri, melangkah dalam kegelapan. Tak ada orang yang memaksamu menghadiri Pesta, mengenakan seragam biarawan. Kau mengambil resiko, dan sekarang kau akan membayarnya. Tapi tak perlu takut begitu. Aku yakin kau akan keluar dari tempat ini sebagai wanita yang lebih sedih tapi lebih bijaksana, tanpa ada ilusi yang mengganggumu lagi."
"Aku tidak punya ilusi tentangmu, Sir," kata Jaejoong galak.
"Tidak?" Yunho menendang sepatu botnya sampai terlepas. "Aku senang mendengarnya. Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan sebelum naik ke tempat tidur?"
Jaejoong lebih terlihat kesal daripada takut. Baguslah. "Kau harus bersikap masuk akal. Aku tidak tahu kenapa kau mendadak berpikir aku bisa dikuasai, tapi kita berdua tahu aku bukan jenis wanita yang kau inginkan. Aku terlalu jangkung, rambutku terlalu merah, kulitku pucat dan... dan..."
"Dan?"
Jaejoong menarik nafas dalam-dalam dan menyerah. "Dan aku tidak... cantik. Kau tak ingin membuang-buang waktu dengan perawan tua yang sederhana dan sudah berumur."
Wanita itu mengucapkannya dengan susah payah. Yunho ingin bangkit, berjalan melintasi ruangan, dan menarik Jaejoong ke dalam pelukannya. Ingin menyentuh kulit putih pucat itu, menyentuh mulut yang indah itu, dan memberitahunya betapa cantik dirinya.
Namun, Jaejoong tak akan memercayainya. Jadi, Yunho tetap di tempat dan mengangkat bahu. "Mungkin aku datang mencari sesuatu yang agak berbeda."
"Aku tidak pantas diributkan, aku jamin."
Yunho yakin wanita itu pantas diributkan. Membuat hadiahnya lebih manis lagi. Ada satu hal yang membuatnya takjub. Jaejoong lebih sibuk meyakinkan Yunho bahwa Yunho tidak menginginkannya, bukannya bahwa Jaejoong tidak tertarik pada Yunho. Yunho bukan orang yang sombong, tapi ia mengenal wanita. Ia mengenal Jaejoong. "Kurasa aku menyukai tantangan," katanya.
Jaejoong menggigit bibir, frustasi. "Apa yang bisa kulakukan supaya kau mau melepasku?"
Yunho menatapnya sementara berbagai bayangan sensual menari-nari di benaknya. "Astaga, aku akan melepasmu, sayangku. Setelah aku mendapatkanmu."
.
.
.
To be continues
Loha~ loha~ ^^/
Adakah yg mengharapkan NC? Maaf di chap ini belum ada, mungkin chap depan, hehe
Ah, ada cast baru aka bang Siwon muncul! Bukan, bukan... dia bukan saingan yunpa koq, tenang aja. Sebenernya aq bingung mau masukin adegan SiChul atau ga, tapi berhubung ke depannya mereka cukup berpengaruh jadi aq masukin aja -_-
Ohya, ada yg bilang ini terlalu buang kata-kata. Benarkah chingu? Padahal aq udah berusaha men-skip bagian-bagian yang ga perlu tanpa mengurangi rasa dari cerita itu sendiri. Tapi oke deh, nanti akan aq coba persingkat lagi :)
Special Thanks to :
Tutup Botol, Redballons9096, tmkazjj, mimi, Misscelyunjae, Haru3173, ShinJiWoo920202, thinseyjshipper, Taeripark, dienha, park xena, ky0k0, Guest, and all readers.
.
Mind to review?
