Iblis. Makhluk yang hanya bisa dilihat oleh beberapa orang. Karena kebodohanku melihat pertarungan dari tiga gadis aneh, aku dapat melihat makhluk-makhluk itu.
…
Sasuke menghela napasnya. Memikirkan mahkluk yang selalu mengejarnya-ngejarnya itu hampir membuatnya gila. Ia melempas tasnnya sembarang kemudian merebahkan diri di tempat tidur. Sepasang netra berwarna hitam miliknya menatap langit-langit kamarnya. Ingatannya memutar ketika pertolongan Naruto beberapa saat yang lalu.
"Apa-apaan semua ini," desahnya. Tak sengaja matanya mengerling pada tasnya. Ia teringat akan sesuatu. Di dorong rasa penasaran, ia membuka tasnya. Matanya membulat ketika mendapati senjata api di dalamnya.
"Dia pikir aku akan menggunakannya?" ia mendengus. "Jepang melarang penggunaan senjata api dan aku terlalu malas membuang energiku untuk hal-hal seperti ini," Ia menghela napasnya lalu bergerak menuju kamar mandi.
"Aku lelah,"
…
"Tuan muda, apa ada lagi yang bisa saya bantu?" pelayan berambut putih itu meletakan cangkir berisikan teh di atas meja kecil tuan mudanya. Ketika ia mendapat gelengan singkat, pelayan itu segera membungkukan tubuhnya lalu meninggalkan ruangan dengan minim penerangan itu.
"Dan… " remaja yang dipanggil tuan muda itu bersuara. Tangannya bergerak mengambil cangkir di depannya lalu mulai menyesap teh hangatnya.
"Aku kesepian, Dan…"
Sesuatu yang pecah terdengar. Pemuda itu melempar cangkirnya. Sebuah senyum terukir di wajahnya. "Kau tidak akan meninggalkanku seperti Ayah 'kan, Dan?" detik berikutnya setelah ia mengucapkan itu, pemuda itu kehilangan kesadarannya.
Sosok tangan terlihat di tengah kegelapan. Bergerak membelai wajah pemuda itu perlahan.
"Tidak akan tuanku. Karena kau dan aku adalah satu,"
….
"Sasuke-kun! Cepat turun! Ada seseorang mencarimu!" Suara teriakan Konan mau tak mau membuat Sasuke keluar dari kamarnya.
"Sia…." Tubuh Sasuke bergerak mundur dengan sendirinya karena terkejut. Di depannya, berdiri gadis cantik berambut merah muda dengan senyuman lebar sedang memandanginya.
"Selamat pagi, Sasuke-kun,"
Sasuke memerhatikan Sakura dari atas sampai ke bawah dan sebaliknya. "Bagai…" Sasuke menahan pertanyaannya kemudian segera menarik tangan Sakura menuju kamarnya.
Konan tersenyum geli. "Dasar anak muda. Tapi bagaimana anak itu bisa mendekati gadis secantik dia?"
…
"Bagaimana kau bisa tahu rumahku?" Sakura melepas paksa genggaman Sasuke. "Itu hal mudah untuk ku ketahui,"
"Lalu untuk apa kau mencariku?"
Sakura menarik sudut bibirnya tersenyum lembut. Seakan gerakan lambat, Sasuke bisa melihat tubuh gadis di depannya bergerak ke arahnya lalu menubruk tubuhnya. Sepasang mata hijau cerah itu berkilat. Surai sebahunya bergoyang pelan. Sontak rona merah segera menjalar di kedua pipi pemuda tujuh belas tahun itu. Sasuke tidak pernah membiarkan gadis manapun memeluknya, apalagi gadis aneh yang baru dikenalnya akhir-akhir ini.
"Selesai," ujar Sakura lalu melepas pelukannya. Sasuke masih terdiam sampai akhirnya merasakan sesuatu melingkar di lehernya.
"A-apa ini?"
"Simbol bahwa kau adalah anggota kami,"
Sasuke menaikan satu alisnya, meminta penjelasan lebih lanjut dari gadis dengan rambut merah muda itu. "Lihat, aku juga memilikinya," Sakura memerlihatkan gelang berwarna biru yang melingkar di pergelangan kakinya.
"Jika kau berkhianat pada organisasi kami, otomatis kalung itu akan memenggal kepalamu," Sakura menambahkan diakhiri senyuman manis di akhir.
Sasuke ingin sekali terjun dari lantai sepuluh sebuah gedung setelah mendengarnya. Bagaimana bisa gadis itu bicara dengan mudahnya dan tersenyum seperti itu.
"Tunggu! Jadi, jika kau berkhianat, kakimu yang akan terpenggal?" Sakura mengangguk mengiyakan.
"Kenapa aku harus di leher sedangkan kau di kaki?!"
Sakura memasang wajah manis yang dibuat-buat dan itu membuat Sasuke semakin kesal saja. "Aku hanya berpikir akan menjadi tontonan menarik saat kepalamu terpenggal,"
Sasuke menahan napasnya. Ini benar-benar gila. Sekarang, ia tidak akan bisa terlepas dari organisasi aneh mereka.
Jigoku Kara no Tenshi
(Hantaa)
Fantasy, Supernatural.
Naruto © Masashi Kishimoto
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Namikaze Naruto, Shimura Sai.
Yamanaka Ino, Naara Shikamaru
Hyuuga Hinata, Inuzuka Kiba
Hyuuga Neji, Sasori, Sabaku Gaara
Shion, Tayuya.
Konan, Yahiko, Nagato.
.
.
Fanfiction ini masih jauh dari kata bagus. Mohon bimbingannya untuk kedepannya. Fanfiction ini saya persembahkan untuk teman saya yang sangat memaksa saya keluar jalur dan mencoba membuat Fanfiction bergenre berbeda.
.
.
Chapter 2 :
Organisasi Malaikat
Bagian II
.
.
.
.
Akasuna Sasori berdiri tenang diujung tiang listrik yang dijejakinya. Kedua netra coklatnya memerhatikan manusia yang ia dengar akan bergabung dengan organisasi tempatnya bernaung. Sasori tidak menampilkan banyak ekpresi. Ekspresinya tenang bahkan terbilang dingin. Seharian ini ia mengawasi Uchiha Sasuke. Melihat apa saja kegiatan calon anggotanya. Namun, tidak ada yang terbilang menarik.
Uchiha Sasuke hanya manusia biasa. Tidak ada yang istimewa dari laki-laki itu, kecuali untuk otaknya. Sasori melompat turun dari atas sana. Berjalan pelan mengikuti Sasuke tanpa takut untuk kentara. Sasori menipiskan aura keberadaannya. Ia semakin mendekati Sasuke, memerhatikan wajah calon anggotanya itu lebih dekat. Sama seperti manusia yang lain. Hanya matanya lebih kelam. Seperti sesuatu terjadi di masa lalunya. Puas memerhatikan Sasuke, Sasori meninggalkan tempat itu dengan satu kedipan mata. Menyisakan hembusan angin kecil di tempatnya menghilang.
Kenapa mereka tidak menghapus ingatannya saja? Kenapa harus merekrutnya sebagai anggota? Dan kenapa Dewa kematian itu menyetujuinya?
….
"Yuhuuu~! Hancur! Hancur!" Sorakan riang terdengar dari arah atas. Seorang pemuda meluncur bebas di langit. Kedua tangannya menggenggam pedang panjang. Menebas dengan cepat iblis-iblis kecil yang melayang di sekelilingnya. Inuzuka Kiba bersiul, kemudian mempercepat gerakannya. Ia berputar cepat, menebas di sana dan di sini. Gerakannya terhenti. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling tapi tidak mendapati satu iblis pun lagi.
"Are? Sudah habis? Membosankan sekali~!"
Kiba menapakan kakinya di tanah. Kedua pedang yang ada di genggamannya menghilang menyisakan percikan cahaya kecil. Pemuda itu mengambil satu per satu kristal hitam hasil misinya itu. Cengiran lebarnya menghilang begitu saja saat tubuhnya merasakan hawa dingin di belakangnya. Kiba menghela napasnya. Ia pasti akan dibekukan lagi oleh Neji setelah ini.
"Bermain-main dengan misimu lagi?" Kiba menoleh, tersenyum takut-takut pada Hyuuga Neji di belakangnya. "Oh ayolah, ketua! Jangan bekukan aku lagi. Cobalah untuk menikmati misimu,"
Neji tetap diam dengan ekspresi dingin. Kiba meringis, ekspresi pimpinannya itu bahkan sudah membuatnya bergidik dingin. Dan benar saja, spontan Kiba melompat mundur ketika tanah yang dipijaknya mendadak menjadi es.
"Dimana Haruno Sakura?" Neji bertanya pada Ino yang baru saja datang di belakangnya.
"Ku pikir masih mengurus anak baru itu," jawab Ino seadanya. Kiba berlari cepat mendekati Ino. "Anak baru? Uchiha Sasuke maksudmu?" Ino memutar bola matanya. Ia sungguh malas menjawab. Kekesalannya pada Kiba belum hilang. Pemuda itu meninggalkannya begitu saja. Ia tahu jika kemampuan khusus Kiba adalah bergerak cepat, tapi meninggalkannya begitu saja menurutnya perbuatan jahat.
Neji tak bertanya lagi. Dirinya memutuskan untuk mencari anggotanya yang lain, termasuk Haruno Sakura. Detik berikutnya pemuda berambut coklat panjang itu sudah menghilang menyisakan butiran es kecil di sana.
Kiba menoleh ke Ino namun gadis itu mengabaikannya. "Aku akan menyusul Neji, aku duluan!" dan berikutnya Ino hanya bisa menggeram kesal ketika ditinggalkan lagi.
…
Sasuke membiarkan gadis aneh berambut merah muda itu merebahkan diri di tempat tidurnya. Ia sudah tidak peduli-walau sebenarnya tidak bisa- dengan apa yang gadis itu lakukan. Sakura mengangkat tangannya, memerhatikan tiap jarinya yang lentik.
"Kau sudah pernah menggunakan senjata yang aku berikan padamu?"
"Tidak dan tidak akan pernah,"
Sakura mendengus kasar. Ia sudah menduga jawaban Sasuke.
"Iva…" Sakura berujar pelan, nyaris berbisik. Senjata api dengan ukiran bintang itu dengan cepat berada di tangan Sakura.
"Mau atau tidak, kau harus menggunakannya," Sakura melirik Sasuke "Senjata ini akan menghilang jika kau memintanya dan datang jika kau memanggilnya," seolah mengerti kebingungan Sasuke, Sakura menjelaskan tanpa komando.
"Sebenarnya kalian ini apa?"
"Kami? Entahlah. Aku sendiri tidak tahu," Sakura menjulurkan tangannya lagi, memerhatikan lekuk jarinya ketika memegang senjata.
"Yang aku tahu kami ada di perbatasan antara roh, malaikat, dan mungkin bagian terkecil kami masih termasuk sebagai manusia,"
Sasuke ikut merebahkan dirinya. "Kalian benar-benar tidak masuk akal,"
"Hmm. Anggota Hantaa punya masa lalu masing-masing juga alasan mengapa bergabung di organisasi ini," Sasuke melihat perubahan raut wajah pada Sakura "…termasuk aku,"
…
Akasuna Sasori menatap bayangannya yang terpantul di genangan air. Pemuda itu berdiri diam di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang.
"Akasuna-senpai!" Ino melangkah lebih dekat dengan laki-laki berambut merah itu. "Apa kau melihat Neji-san , Kiba, atau Hinata?" Gadis pirang itu berusaha untuk bersikap biasa. Sebenarnya, butuh waktu lama bagi Ino untuk berdebat dengan dirinya sendiri. Ia terlalu takut untuk bertanya pada ketua kelompok pertama itu. Dia tidak ramah, itu yang Ino ketahui. Tapi sejauh matanya memandang, hanya Akasuna Sasori yang ia temukan dan itu berarti hanya pemuda itu yang bisa ia tanyai.
Tidak ada jawaban, itu membuat Ino meringis dalam hati. Sasori melirik Ino dengan tatapan datar. "Aku pikir mereka mencari anak baru itu," Ino mengutuk dirinya dalam hati. Bertanya pada Akasuna Sasori adalah keputusan yang salah.
Ino tertawa canggung. Ia membalas tatapan Akasuna itu kikuk. "Ya.. A-aku tahu itu, senpai . Maksudku, kemana mereka pergi…"
"Rumah Uchiha Sasuke," jawab Sasori nyaris seperti bisikan kemudian menghilang begitu Ino berkedip.
Ino menggeram "Kenapa mereka suka sekali meninggalkanku!"
…
Sasuke dan Sakura berjalan beriringan, mengikuti aliran sungai di samping mereka. Sakura hanya diam, merapikan penampilannya yang berantakan karena angina menghempas rambutnya.
"Kenapa kau mengajakku pergi tiba-tiba?"
Sasuke menghela napasnya. "Hanya malas mendengar ocehan Konan-nee,"
Dan baru saja Sasuke menyelesaikan kalimatnya, ia harus dikejutkan karena kehadiran Hyuuga Neji secara tiba-tiba. Di atas pemuda itu, Inuzuka Kiba terbang lebih rendah dan berhenti tepat di samping Sasuke.
"Uchiha Sasuke, benar? Woah.. aku punya saingan! Hei Ketua! Ternyata dia lebih tampan dariku!"
Neji tak menanggapi ucapan tak penting Kiba. Kedua netranya mengerling pada Sakura yang spontan menundukan kepala. "A-ada apa, ketua?"
"Maaf membuatmu terkejut. Aku ketua kelompok kedua, organisasi pertahanan neraka, Hantaa. Hyuuga Neji," suara berat milik Neji masuk ke dalam indra pendengaran Sasuke. Sasuke mendesis pelan. Apa lagi sekarang, batinnya gerah.
Sakura menatap satu per satu rekannya yang mulai berkumpul. Baru saja Ino datang di susul dengan Hinata juga Naruto. Mata gadis itu sempat melebar saat mendapati Akasuna Sasori juga ada di sana. Berdiri dengan ekspresi dinginnya di balik punggung Neji.
Sasori mengepalkan tangannya erat-erat dan itu terlihat oleh Sakura. Pemuda itu maju, mendekati Sasuke dengan pandangan tak bisa Sakura tebak. Sakura mencoba menahan Sasori, walau ia tahu jika terlambat. Sasori memukul wajah Sasuke dengan begitu keras sampai pemuda itu terhuyung ke belakang.
"Sasori-senpai…"
Sontak semua tercengang. Itu terlalu tiba-tiba, bahkan terlalu cepat bagi Kiba sekalipun. Neji menaikan tangannya, memberikan perintah agar semua menjauh. Tak ada yang bisa membantah, Ino, Kiba, dan Hinata hanya bisa menuruti perintah pemimpin kelompoknya. Bergerak mundur beberapa meter dari Sasori dan Sasuke. Sebuah tatapan untuk Hinata dari Neji mengisyaratkan agar gadis itu segera membuat pembatas.
Sakura masih diam tak bergeming. Otaknya masih menerka-nerka ada apa dengan pemimpin kelompok pertama itu. Sebuah tarikan di tangannya membuatnya sadar, ia menoleh dan mendapati Naruto mencoba menariknya agar menjauh.
"Senpai, apa kau tahu sesuatu?" Naruto tak menjawab. Jujur saja, ia juga tak mengerti dengan apa yang terjadi. Netra biru cerahnya memerhatikan Sasori yang melangkah mendekati Sasuke di sana.
"Untuk sekarang, turuti saja apa yang Hyuuga itu perintahkan," Sakura ingin membantah tapi tangannya telah ditarik dengan cepat oleh Naruto.
"Kenapa ada pembatas? Maksudku.. kalian membiarkan mereka bertarung? Tapi Sasuke…" Sakura tak melanjutkan. Tatapan tajam dari Neji membuatnya bungkam dan hanya bisa diam menyaksikan pemuda Uchiha itu terpelanting sekali lagi.
Sasuke meringis menahan sakit. Apa-apaan semua ini, pikirnya kesal. Mata hitamnya menatap pemuda merah yang memukulnya secara tiba-tiba. Jika begini, ia bisa mati sia-sia dengan cara memalukan.
"Kau.. menjadi anggota, Hantaa?" sebuah pertanyaan keluar dari bibir Sasori. Sasori mendengus sinis "Bahkan aku tidak mengeluarkan kekuatanku…" Sasuke mendapati Sasori hilang dari pandangannya. "….kenapa manusia menyedihkan sepertimu masuk dalam organisasi kami?" dan muncul di belakangnya. Sebuah tendangan dari arah belakang membuat Sasuke terperosok. Sasuke memaksakan tubuhnya berdiri. Pemuda itu menatap sinis pemuda merah di depannya. Ia benar-benar muak sekarang.
Sakura terbelalak. Kobaran api muncul di sekitar Sasori. Pemuda merah itu tidak main-main.
"Sasori-senpai ! ini sudah keterlaluan!" serunya dan mencoba untuk mendekati kedua pemuda berbeda warna rambut itu. Namun lagi-lagi tangannya harus ditahan oleh Naruto.
"Tenanglah Sakura-chan, jika ketua sudah keterlaluan, aku yang akan melindungi Sasuke,"
Sasuke mengepalkan tangannya. "Iva…" desisnya sinis.
Semuanya tercengang, ketika Sasuke menarik pelatuk senjatanya dan membiarkan peluru hitam itu meluncur menuju Sasori.
Tsuzuku.
.
.
.
Catatan Kecil :
Oke, jujur saja, saya tidak berpengalaman di genre seperti ini. Bahkan saya berniat untuk tidak melanjutkan fanfiction ini. Tapi, rayuan dari teman saya juga review yang diberikan untuk fanfic ini membuat saya berusaha keras untuk melanjutkannya. ._.
Terima kasih atas reviewnya. Semoga kalian masih bisa menerima karya pertama saya di genre Supernatural/Fantasy ini ._.
Saya minta maaf jika banyak kekurangannya.
Salam sayang,
AkinaJung.
