Aku membuka mataku, menatap kobaran api di sekelilingku. Suara teriakan di luar sana masih dapat ku dengar. Aku ingin berteriak, meminta tolong pada siapapun. Namun, tubuhku terlalu lemah. Aroma arang mulai menusuk ke indra penciumanku. Asap tebal mengepul dari berbagai sisi. Aku terbatuk, merasa jika tidak ada udara bersih lagi di ruangan ini.
Aku hanya bisa terdiam. Hawa panas mulai menusuk kulitku, membakarnya secara perlahan. Aku menangis dalam diam. Menahan semua rasa sakit ini dan tetap merangkak mencari jalan keluar. Sebuah pikiran melintas di benakku.
Seandainya saja aku bisa mengendalikan api ini.
Jigoku Kara no Tenshi
(Hantaa)
Fantasy, Supernatural.
Naruto © Masashi Kishimoto
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Namikaze Naruto, Shimura Sai.
Yamanaka Ino, Naara Shikamaru
Hyuuga Hinata, Inuzuka Kiba
Hyuuga Neji, Sasori, Sabaku Gaara
Shion, Tayuya.
Konan, Yahiko, Nagato.
.
.
Fanfiction ini masih jauh dari kata bagus. Mohon bimbingannya untuk kedepannya. Fanfiction ini saya persembahkan untuk teman saya yang sangat memaksa saya keluar jalur dan mencoba membuat Fanfiction bergenre berbeda.
.
.
Chapter 3 :
Anggota Hantaa #01 : Akasuna Sasori
.
.
4 Tahun yang lalu…
"Hei! Itu si Akasuna!" secara spontan aku mempererat genggamanku pada tali ranselku. Mereka datang lagi, membuatku bergidik takut. Berbagai pikiran menakutkan mulai memenuhi otakku. Aku mulai mencari cara menghindari mereka. Langkah mereka terdengar semakin mendekat sedangkan aku hanya bisa berdiri dengan tubuh gemetar.
Sebuah tepukan di pundakku membuat tubuhku semakin gemetar. Anak-anak itu kembali lagi, mendatangiku dengan segala kenistaan yang mereka perbuat padaku. Senyuman sinis dan tawa mereka terdengar memekik di telingaku. Aku semakin mempererat genggamanku. Mereka menatapku seolah aku adalah sebuah boneka yang siap untuk dijadikan mainan. Aku mulai menebak-nebak apa saja yang akan mereka lakukan padaku hari ini.
Semoga saja tidak mengunciku di kamar mandi sekolah. Aku tidak mau terlambat bekerja lagi hari ini.
"Yo Akasuna, aku ingin tahu berapa uang yang kau bawa hari ini,"
Aku menggeleng, mencoba memberi tahu mereka jika tidak sepeser pun uang ada di sakuku sekarang. Aku selalu terlambat bekerja karena mereka. Gajiku ditahan, aku belum membayar semua administrasi sekolah untuk bulan ini, dan mereka selalu mengambil uangku tiap harinya. Sedangkan aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini.
Mereka mendengus kesal, menarik kerahku lalu mendorongku hingga tersungkur. Satu pukulan aku dapatkan di pipi kananku, membuat kaca mataku terpelanting. Pandanganku memburam, namun aku dapat melihat dengan samar mereka mulai mengepalkan tangan lagi. Pukulan demi pukulan aku terima tapi aku tetap tidak berusaha melawan. Aku membenci diriku yang terlalu pengecut. Mereka selalu memerlakukanku seperti ini. Membuatku semakin membenci diriku yang terlalu takut untuk berbalik melawan mereka. Jika aku tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi mereka, biarkan aku menjadi seorang pengecut yang dapat menghindar dan tak terlihat oleh mereka.
"Hei kalian!" Samar, aku melihat gadis berambut pirang itu datang lagi menolongku. Mendorong secara kasar para bajingan itu agar menjauh dariku. Temari menarik tanganku, meletakan kaca mataku di atasnya. Aku mulai memakai kaca mataku lagi, membiarkan kedua netraku memandang jelas wajah cantik yang telah menolongku.
"Kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak melawan saja?!" selalu kalimat yang sama dengan ekspresi kesal yang sama. Aku berusaha berdiri di bantu olehnya.
"Kau akan bekerja 'kan? Boleh aku melihatmu?" Aku mengangguk antusias dan senyuman di wajahnya kembali muncul. Sabaku Temari, dia gadis paling dikagumi di sekolah ini. Seorang gadis dengan status yang berbanding terbalik denganku. Butuh belasan menit bagiku untuk menyadarkan diri jika ia menganggapku sama seperti manusia lainnya saat pertemuan pertama kami. Gadis ini yang membuatku bertahan di sekolah ini walau dengan siksasaan dan hinaan yang orang-orang berikan.
Hanya untuk melihat senyumnya saja.
…
Temari mengencangkan pelukannya pada pinggangku. Aku tersenyum diam-diam kemudian semakin cepat mengayuh sepeda tua ini. Aku semakin tidak bisa mengontrol senyumku saat kepalanya mulai bersandar di punggungku. Aku bukan seseorang yang pandai menunjukan apa yang aku rasakan, tapi aku sangat senang. Benar-benar senang sekaligus bersyukur dapat mengenalnya.
Jika ada sesuatu yang ia inginkan, aku akan mengorbankan apapun yang kupunya untuk mendapatkannya.
Laju sepedaku melambat, aku memberhentikannya di depan sebuah restaurant cepat saji tempatku bekerja. Sudah cukup lama aku bekerja di sini, tempat ini adalah sumber keuanganku selama ini. Tapi tidak untuk bulan ini. Aku tidak mendapatkan uang sama sekali. Aku sering terlambat dan kinerjaku memburuk karena beberapa luka yang ada di tubuhku. Sebuah karya terkutuk yang dibuat oleh kumpulan orang-orang itu.
"Aku akan duduk dekat dengan meja kasir," aku mengangguk mengiyakan dan segera menuju ruang ganti.
Dari sini aku dapat melihat Temari memakan kentang gorengnya satu per satu. Dia satu-satunya yang berharga dalam hidupku. Seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk melindungiku. Satu-satunya orang yang sudi berada dekat denganku. Aku menyayanginya, lebih dari segalanya.
…
Pukulan kali ini terasa semakin sakit saja. Hari ini tidak dengan tangan kosong, beberapa balok kayu yang entah mereka dapatkan dari mana menyentuh permukaan kulitku dengan kasar. Meninggalkan beberapa luka lecet dan lebam baru di sana. Mereka memakiku, meneriakan kata-kata kotor mereka kepadaku. Tubuhku kembali terperosok. dan kaki-kaki mereka mulai mendarat di tubuhku. Menginjakku seperti sampah.
Mereka membangunkanku secara paksa, menarik kerahku dan menatapku dengan pandangan merendahkan. "Kau menyukai Temari?" aku tidak menjawabnya. Tubuhku kembali bertubrukan dengan tanah.
"Jawab aku!" ia berteriak keras. Menendang keras perutku kemudian ke bagian lainnya. Yang lainnya tertawa, kemudian membungkuk.
"Bagaimana jika gadis itu mendapat perlakuan yang sama denganmu?" spontan tubuhku menegang. Tawa mereka mulai mendominasi indra pendengaranku. Aku berusaha berdiri, mendorong tubuh mereka dengan sisa tenaga yang aku punya.
"Dimana Temari?!" untuk pertama kalinya aku berani berteriak keras. Membentak mereka walau sebenarnya sebagian kecil diriku menjerit ketakutan akan tanggapan yang mereka berikan berikutnya.
Mereka menatapku marah. Menarik tubuhku dengan paksa menuju sebuah gudang. Tubuhku terdorong dan terperosok masuk di gudang itu. Temari duduk di sana dengan tangan dan kaki terikat. Aku dapat melihat dengan jelas air mata mengalir dari kedua matanya saat melihatku. Aku merangkak mencoba mendekatinya, jangan dia kumohon. Aku akan melakukan apapun tapi tolong jangan sakiti dia.
"Kau laki-laki rendah yang mengambil seluruh perhatian guru-guru!" satu pukulan mendarat lagi di tubuhku sebelum tanganku sempat menggapai Temari. "Kau, laki-laki miskin yang seharusnya tak berada di lingkungan kami!" aku meringis keras ketika balok kayu itu menghantam kepalaku.
"Kau laki-laki tak tahu diri yang mencoba mengencani Temari!" Aku menggeleng lemah saat mataku tanpa sengaja melihat Temari menangis dan berusaha berteriak dari bibirnya yang dibekap.
Tolong jangan menangis.
"A-aku akan…" aku berusaha mengeluarkan suaraku yang seakan menghilang. "….aku akan melakukan apapun, tolong… tolong le-lepaskan dia,"
Mereka menyeringai. Menarik paksa Temari untuk mengikuti mereka. Aku berusaha menampilkan senyumku pada gadis itu sebelum dirinya benar-benar hilang dari pandanganku. Pintu kayu gudang ini tertutup dengan kerasnya. Aku bisa menebak mereka mengunciku di gudang ini.
Hawa panas mulai aku rasakan disusul dengan asap yang muncul entah dari mana. Tidak terlalu lama, kedua mataku bisa melihat warna merah mulai mendominasi ruangan ini. Aku tidak bisa menggerakan tubuhku. Api itu mulai membakar tempat ini, menimbulkan bau bakar dan asap yang menusuk keras di penciumanku.
Terlalu panas dan sesak di sini. Sekilas aku mendengar suara Temari meneriakan namaku. Aku tersenyum singkat, mataku mulai menutup dan aku bisa merasakan satu tetes air mata mengalir di sana.
….
Aku membuka mataku yang terasa berat, bau harum langsung tertangkap oleh penciumanku. Bayangan hitam yang kulihat lama-lama berpedar menjadi cahaya putih. Aku mulai dapat melihat dengan jelas, tempat putih yang dikelilingi cahaya sangat terang. Aku terduduk, dikelilingi dengan kobaran api yang membentuk lingkaran. Pikiranku mulai menebak-nebak. Apa aku sudah mati? Apa ini perbatasan dunia?
Sebuah suara yang tidak terlihat pemiliknya terdengar olehku. Mengatakan bahwa aku bisa kembali ke dunia. Spontan aku berdiri, namun dalam satu kedipan mata aku telah berpindah ke tempat lain. Berdiri di depan gadis berambut pirang yang menatapku dengan pandangan heran. Aku tidak peduli dengan semua ketika masuk akalan ini. Temari berdiri di depanku dan itu cukup untukku.
"Temari.." tanpa sadar aku langsung memanggil namanya. Tapi tanggapan yang ia berikan seolah tidak mengenalku. Aku terdiam ketika beranjak pergi melewatiku begitu saja. Aku kembali ke dunia, namun bukan sebagai Akasuna Sasori yang dulu. Semua tentang Akasuna Sasori seolah terhapus. Sebuah bisikan suara terdengar olehku. Memberitahuku bahwa aku bukanlah manusia lagi. Sebuah lingkaran berwarna violet tiba-tiba melingkar di pergelangan tanganku. Dan tanpa bisa aku kendalikan percikap api muncul begitu saja dari jari-jariku.
"Bukankah kau memiliki keinginan untuk mengendalikan mereka?"
Suara itu berbisik lagi. Menyatukan kepingan demi kepingan ingatan yang kupunya termasuk sebuah bisikan yang mengatakan bahwa aku adalah anggota dari sebuah organisasi supernatural, Hantaa.
…
Setelah empat tahun lamanya aku berada di organisasi ini, di sinilah aku berdiri, mengamati manusia yang akan bergabung dengan organisasi kami. Seharian aku mengikutinya, mengamati setiap tindakan yang ia lakukan. Uchiha Sasuke, ia hanya manusia biasa tidak ada yang istimewa darinya. Aku melompat turun dari ujung tiang listrik yang ku jejaki. Mencoba mendekatinya, mengeluarkan kemampuanku untuk menipiskan aura keberadaan agar ia tidak menyadari kehadiranku.
Aku mengamatinya lebih dekat. Ia sama dengan manusia lainnya, namun aku mulai menyadari. Sesuatu terasa hilang darinya. Matanya kelam, aku mulai berpikir jika sesuatu telah terjadi padanya. Masa lalu yang buruk, aku mulai menyimpulkan.
Tidak ada yang perlu ku amati lagi. Namun berbagai pertanyaan tetap ada di pikiranku.
Kenapa mereka tidak menghapus ingatannya saja? Kenapa harus merekrutnya sebagai anggota? Dan kenapa Dewa kematian itu menyetujuinya?
…
Aku melihatnya, Temari berjalan bersama kumpulan manusia-manusia lainnya. Tubuhku spontan bergerak, melangkah untuk mengikutinya. Tanganku terulur mencoba menggapainya tapi segera ku tarik kembali. Aku berdiri diam, membiarkan jarak kami semakin menjauh. Aku menatap bayanganku yang tercetak di genangan air di bawahku. Aku mendengus sinis. Aku bukan siapa-siapa lagi untuknya. Ingatannya tentangku, semua tentang Akasuna Sasori telah terhapus di dunia ini.
"Akasuna-senpai!" Aku menoleh mendapati gadis salah satu anggota kelompok dua bergerak mendekat ke arahku. . "Apa kau melihat Neji-san , Kiba, atau Hinata?" bisa kurasakan nada canggung di pertanyaannya walau ekspresinya seolah telah lama mengenalku. Mereka pasti pergi untuk mencari anak baru itu. Gadis pirang ini menatapku takut-takut seolah memintaku untuk segera menjawabnya.
"Aku pikir mereka mencari anak baru itu," aku menjawabnya seperti yang aku tahu. Ia tertawa canggung, sepertinya ia sudah mengetahui tentang itu. "Ya.. A-aku tahu itu, senpai . Maksudku, kemana mereka pergi…"
Aku mulai memikirkan beberapa jawaban dan salah satunya adalah yang paling memungkinkan. "Rumah Uchiha Sasuke," jawabku kemudian pergi meninggalkannya. Berbincang dengan seseorang yang tidak terlalu dekat denganku membuatku tidak nyaman. Jadi ku putuskan untuk segera pergi, menyusul anggota yang lainnya mengunjungi anggota baru itu.
….
Aku berdiri di salah satu dahan pohon. Di depanku Naruto melompati atap-atap rumah bersama dengan gadis di sampingnya. Aku mulai beranggapan jika mereka menuju tempat dimana Uchiha Sasuke berada dan kuputuskan untuk mengikutinya.
Aku berhenti di balik punggung Hyuuga, pemimpin kelompok kedua itu. Tak sengaja mataku saling bertemu dengan kedua mata hijau Sakura. Ia nampak terkejut akan kehadiranku. Aku tidak pernah berkumpul dengan mereka semua atau sekedar berbincang dan saling menyapa. Setidaknya tidak untuk Sakura. Gadis itu masih bisa kuterima untuk lebih dekat denganku. Aku menatap wajah Uchiha Sasuke cukup lama. Sebuah pemikiran mulai melintas.
Ku kepalkan tanganku, melangkah dengan cepat mendekatinya. Aku memukulnya, membuatnya terpelanting ke belakang.
"Sasori-senpai…"
Aku tidak menanggapi suara keterkejutan Sakura. Begitu juga dengan yang lainnya. Fokusku hanya pada Uchiha Sasuke yang ada di depanku. Lagi, aku memukulnya, membuatnya terhuyung dan terpelanting untuk kedua kalinya.
Uchiha Sasuke, dia mengadah menatapku dengan matanya yang kelam. "Kau.. menjadi anggota, Hantaa?" aku bertanya sinis padanya, menunggu bagaimana tanggapannya. sinis "Bahkan aku tidak mengeluarkan kekuatanku…" aku bergerak dengan cepat dan berdiri di belakangnya. Aku memberikan sebuah tendangan padanya, mencoba membuatnya melakukan sesuatu dan tidak hanya berdiam diri. "….kenapa manusia menyedihkan sepertimu masuk dalam organisasi kami?"
Aku berpikir untuk memancingnya lebih jauh lagi. Kobaran api mulai muncul di sekitarku. Aku tersenyum sinis padanya. Mencoba membuatnya untuk lebih terpancing lagi.
"Sasori-senpai ! ini sudah keterlaluan!"
Sakura mencoba mendekatiku tapi aku tahu Naruto sudah membaca keadaan dan menahan gadis merah muda itu. Aku menarik sudut bibirku, tersenyum miring ketika Sasuke mulai bangkit dan tanpa kuduga memanggil senjatanya.
"Iva.."
Peluru hitam itu menuju ke arahku, namun tak akan mudah melukaiku. Aku membakarnya dengan apiku, melenyapkannya dengan satu kedipan mata. Ada raut terkejut di wajah datarnya. Sebelum ia menarik pelatuknya lagi, aku mengangkat tanganku. Melenyapkan kobaran api di sekelilingku.
"Kau lulus," ujarku singkat. Uchiha itu menatapku dalam diam. Dia tidak menujukan ekspresi yang berbeda namun aku tahu jika ia terkejut. "Kau lulus tapi masih butuh seratus kali latihan untuk membuatku terluka dengan senjata seperti itu,"
Aku memindahkan pandanganku ke arah Hyuuga Neji dan lainnya. Pemimpin kelompok kedua itu membungkukan badannya padaku, membuatku mendengus akan sikapnya. Aku mengangkat tanganku sebagai tanggapan singkat.
Aku memang membenci kekuatanku, mungkin anggota yang lainnya juga. Karena kekuatan kami berhubungan dengan kematian kami. Tapi, Hantaa adalah organisasi yang membuatku dapat melihat Temari sekali lagi dan untuk pertama kalinya aku mengatakan jika aku punya keluarga.
TBC
Catatan Kecil :
Chapter ini sepenuhnya sudut pandang Sasori. Beberapa chapter mungkin akan menceritakan masa lalu anggota Hantaa, namun itu hanya selingan. Untuk chapter selanjutnya akan kembali ke cerita :)
Terima kasih karena mau membaca fanfiction ini :)
