.
Estafet
Yu Gi Oh © Takahashi Kazuki
.
Chapter 3: Acute
(Bukan Berarti Saya Ada Fetish Kaya Gini)
Pairing: Pandora x ? ? ?
Warning: PWP (juga), nista, agak bikin eneg.
By: The Fallen Kuriboh (id: 2139926)
Dari balik topengnya, Pandora tersenyum licik.
Dengan mudahnya ia mendapat mangsa. Sebuah buruan lemah yang terkulai tanpa daya, namun dengan harta tiada ternilai yang tersimpan di balik kungkungannya. Sungguh, sasaran empuk.
Sang rare hunter tersebut menatap ke arah korbannya. Dengan kedua tangan yang terikat dan mulut yang tersumpal seperti itu, dia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan kabur, berontak saja ia tak mampu. Menyedihkan sekali orang ini.
Dengan satu sentakan kasar, Pandora mendorong mainan plastiknya ke dalam lubang kenikmatan sang korban. Sebuah erangan dari mulut yang tersumpal itu menggema di ruangan gelap, bagaikan teriakan binatang yang teraniaya. Tidak sampai di situ saja, Pandora mengaktifkan satu tombol di balik benda keras yang tertancap dalam di liang sempit sana. Aliran vibrasi segera menyebar, mengocok cepat lapisan daging di dalam liang sang korban.
Pria yang terikat di bawah sana itu pun tak kuasa menahan air matanya. Sensasi ini—sensasi nikmat yang bercampur rasa sakit luar biasa ini—ia tidak kuat lagi.
Melihat korbannya yang menggelinjang karena terombang-ambing antara rasa nikmat dan nyeri itu, seringai Pandora makin melebar. Tangan nakalnya meraih sejumput rambut keperakan korbannya. Ia menariknya kasar, mendekatkan wajah mereka berdua.
"Hmm, tubuhmu reaktif juga ya. Tak kusangka di usiamu yang sekarang, yang di bawah ini masih bisa menegang." jemari Pandora mengusap lembut batang kenikmatan sang korban yang makin mengeras di bawah sana, mengocoknya pelan lalu meremasnya dengan kasar. Kontan, sang pria tanpa daya itu melenguh dan mengerang tertahan.
Uh, sumpalan di mulut ini sungguh mengganggu.
"Kau terlihat erotis, pak tua." seringaian Pandora masih tersembunyi di balik topeng.
Dengan risih, sang rare hunter tersebut menarik gulungan kain yang tadinya ia sumpalkan ke mulut sang korban. Napas pria tua itu tersengal. Sungguh, pemandangan yang benar-benar menggelikan sekaligus menyedihkan.
Apa kata Yugi Mutou nanti bila ia melihat kakeknya dalam situasi seperti ini?
"Hei, Sugoroku Mutou… cucumu itu tak akan datang." rabaannya pada tubuh yang terikat itu makin intens saja. "Jadi cepatlah beri tahu di mana kau sembunyikan kartu itu sebelum aku menyiksamu lebih parah lagi."
Ia hanya mendapat sebuah tatapan tajam dan kebisuan sebagai jawaban.
Heh, menggelikan. Sebuah kebencian baru saja terlontar ke arahnya dan yang bisa ia lihat dari matanya hanyalah tatapan ketakutan dari seekor kijang yang tertawan oleh singa. Sekarang ia mengerti mengapa si Yugi Mutou itu terlihat menyedihkan, wajah itu diturunkan oleh kakeknya.
Mereka memiliki ekspresi menjijikkan yang sama persis.
Tak puas akan jawaban yang ia terima, Pandora makin kalap. Diraihnya mainan plastik yang sedari tadi menancap dan bergetar di liang Sugoroku. Pandora menarik benda panjang itu ke luar hingga hampir terlepas seutuhnya dari jepitan liang sempit tersebut. Namun belum sempat Sugoroku menghela napas lega, benda plastik itu kembali menyeruak masuk dengan sebuah sentakan kasar. Sakit, tubuh Sugoroku serasa bagai terkoyak menjadi dua.
"Apa yang kubilang, cepat kau katakan di mana kartu-kartu langka itu kalau kau tidak mau tubuhmu ini hancur."
Gerakan tangan Pandora di bawa sana makin menggila. Tempo yang liar dan vibrasi yang merangsang itu membuat Sugoroku tak sanggup berkata-kata. Hujan makian yang tadinya ingin ia lontarkan hanya lolos sebagai racauan tak jelas dalam verbalnya. Permainan gila ini makin tak terkontrol saja tatkala sebelah tangan Pandora menggerayangi tubuh ringkihnya yang tak berdaya.
Ia ingin menyerah, membeberkan semuanya dan memohon untuk dilepaskan dari sentuhan menjijikkan ini—
—namun ia ingat akan adanya hal yang harus ia lindungi.
Sambil memejamkan matanya erat-erat, kakek Sugoroku berharap akan cucunya yang akan datang menyelamatkannya.
Atau paling tidak, ia berharap untuk tertidur saat ini juga agar ia tak pernah bisa mengingat hinaan menjijikkan yang diberikan oleh Pandora pada pria tua dengan sisa umur singkat ini.
=== Ende ===
.
.
.
Next On…
Sugoroku x ? ? ?
A/N:
Hanjer. Saya ngetik apaan ini 0_0 #pasangmukajelek
Coba hitung ada berapa kata 'menjijikkan' yang saya ketik di sini. Kalikan dengan sepuluh, dan itulah level kejijikan saya pas ngetik ini.
Plis. Sumpah. Ngapain juga saya nge-uke-in mbah-mbah usia lanjut gini? Mana deskripsinya terlalu eksplisit pula. #nahanmuntah #gataulagi
Btw, ini fic kayaknya harus rate M deh. Nggak lucu nanti kalo ada gadis polos buka fanfic ini, terus gara-gara itu dia jadi fujoshi akut yang gemar crackpair serta tambahan fetish-fetish yang expert abis. #sebenernyamalahbagussih #ngomongapakamu
Ya, cukup. Terusss, saya mau ngetag… sapa ya enaknya? #plak
Pingin tag Aya-san gegara butuh asupan humor, tapi kelihatannya dia sibuk. Jadi saya tag…
.::Sora Tsubameki::.
Remaining author(s) and authoress(es):
Are. Key. Take. Tour / Saint-Chimaira (Kuo) / Widzilla / VDE / Reiforriza / Aki Kadaoga / Ryudou Ai
