PAINTER

HUNHAN

ONESHOOT

Warning: typo(s), ooc, boys love, post without plot

"Karena aku akan memberikan segalanya untukmu walaupun aku harus menanggung akibatnya"

"Dimanapun dirimu, aku akan selalu berusaha untuk ada di dekatmu"

.

.

.

Two days later

Pria kecil bermata bulat itu membenahi kaca mata minus berbentuk bulat sempurna yang melorot dari hidung kecilnya. Matanya menyorot tajam ke setiap sisi ruangan. Sebenarnya, ia tidak bermaksud untuk menyorot mereka dengan tatapan tajam setajam belati itu, namun Kyungsoo terlahir dengan keistimewaan itu.

Ah, bisakah kita menyebut itu sebagai keistimewaan?

Bahkan Kyungsoo sendiri menganggap itu sebagai kutukan.

Ia duduk dengan posisi sempurna walaupun sebenarnya ia begitu bosan dan berniat untuk tiduran di sofa empuk itu, namun bagaimanapun juga ia harus menjaga wajahnya di rumah teman ayahnya.

Lagipula mengapa ia dibawa ke rumah teman ayahnya yang jelas-jelas tidak punya hubungan dengan mahasiswa sepertinya?

Ia mengangkat tubuhnya ketika si pemilik rumah memintanya untuk melihat sebuah lukisan yang katanya aneh.

Yah, mungkin teman ayahnya ini butuh bantuan darinya.

Bukan untuk menilai seni lukis tentu saja –yah, walaupun ia adalah anak klub lukis namun Kyungsoo yakin ia tidak dimintai membantu si pemilik rumah dalam bidang itu.

Namun untuk mengetahui sesuatu di balik lukisan aneh itu.

Yah, Kyungsoo memang memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang-orang. Selain tatapan tajam yang selalu mengintimidasi siapapun –termasuk keluarga, sahabat dan kekasihnya, eh bukan, mantan kekasih lebih tepatnya – Kyungsoo dapat mengetahui sesuatu di balik sesuatu hanya dengan menyentuhnya.

Seperti sekarang ini.

Si pemilik rumah membawanya melihat sebuah lukisan mahal bernilai jutaan won yang terpajang indah di dinding rumahnya. Lukisan yang didominasi warna cerah, menggambarkan bagaimana sejuknya pedesaan dipagi hari dengan model seorang perempuan cantik di bagian tengahnya, tersenyum dengan begitu manis.

Biasanya, pelukis akan membuat rambut si model berkibar seperti diterpa angin pagi, namun si pelukis menggambarkan rambut si model dengan begitu rapi.

Kyungsoo dapat merasaka sesuatu yang nyata, bisa di bilang pelukis dari lukisan itu sangat hebat dalam menuangkan perasaan dan membuat lukisannya benar-benar hidup.

Namun, sesuatu yang mengganjalnya.

Entah di sengaja atau tidah, terdapat luka gores kecil di tangannya.

Dan raut wajah si model yang bahagia benar-benar palsu, si pelukis tidak bisa memanipulasi perasaan si model maupun dirinya. Si pelukis benar-benar menggambarkannya seperti foto, tidak ada kepalsuan sama sekali.

Senyum manis yang berkesan mengerikan dan wajah yang menyimpan rasa takut.

"Wah, pelukisnya pasti keren sekali" gumam Kyungsoo

"Benarkah?" tanya si pemilik rumah, Tuan Choi, "Aku punya lagi satu"

"Bisa perlihatkan padaku?" tanya Kyungsoo seraya mengagumi kekayaan Tuan Choi di dalam hatinya.

Ia ditarik ke sisi rumah yang lain. Kyungsoo diajak memasuki ruang makan dan ia ditunjukan dengan gambar pedagang buah yang gemuk tengah memasang tampang datar –mungkin si pelukis ingin memperlihatkan aksen kelelahan dalam ekspresinya namun seperti apa yang Kyungsoo bilang bahwa si pelukis tidak bisa memanipulasi perasaan, maka dari itu bukan aksen kelelahan namun perasaan asli si pria gendut, ketakutan.

Dua lukisan menuliskan ekspresi yang sama.

Dan mata Kyungsoo dapat melihat goresan lagi di lengan bagian atas si pria.

"Hei, kenapa wajahnya seperti Jung?" ayah Kyungsoo tertawa mengamati lukisan itu, "Aku jadi merindukannya"

"Memang si Jung itu kemana?" tanya Kyungsoo pada ayahnya.

Ayahnya berdecak, ucapan Kyungsoo memang terdengar tidak sopan, "Sudah tiada. Entah karena apa, tiba-tiba saja menghilang dan keluarganya hanya mendapati sebuket bunga melati, di dalamnya ada kartu kecil yang menuliskan sebuah alamat tempat dikuburnya teman ayah itu"

Kyungsoo menganggukan kepalanya.

"Ya, tiap bulan penuh–purnama–lukisan-lukisan ini mengeluarkan suara berbisik minta tolong"

"Sejak kapan?"

"Sejak dua-tiga harian ini"

Kyungsoo mengerling kecil, kalimat tuan Choi kurang tepat. Ini artinya lukisan ini baru mengeluarkan suara aneh kemarin dan pria itu sudah menggunakan kata tiap yang berarti seharusnya sudah lebih dari dua-tiga harian. Yah, persetanan dengan tataan bicara tuan Choi yang berwibawa, yang pasti Kyungsoo mendapatkan satu info.

Kyungsoo hanya diam memandangi lukisan itu dengan tatapan mengintimidasi. Kemudian, Kyungsoo mulai membuka sarung tangan hitam yang sedari tadi membungkus tangan putih mulusnya.

Lalu, meletakan tangannya di atas lukisan itu.

Matanya terpejam. Tubuhnya begitu rileks dengan nafas yang teratur.

Kyungsoo berusaha mengetahui apa yang ada dibalik lukisan aneh itu. Kemudian, seperti bioskop lama, potongan-potongan cerita menyusup ke kepalanya.

Ia menggerakan tangannya ke wajah si pria, kemudian ia bisa mengetahui Tuan Jung itu adalah seorang koruptor, sering berjudi dan sering bermain di club malam hingga pagi kembali menyapa. Penyantap tubuh jalan, bisa di bilang begitu.

Kemudian, Kyungsoo bisa melihat pria itu di culik setelah di bius oleh entah siapa dan akhirnya semuanya gelap.

Kyungsoo terus meletakan tangannya di wajah si pria gendut, menunggu ingatan yang terpotong–mugkin karena pingsan–itu kembali memberi jawaban. Kyungsoo benci jika ia harus mempercepat ingatan orang karena itu artinya ia membutuhkan konsentrasi lebih, namun jika ia diam terus dengan layar hitam yang tak kunjung berubah, mau gimana lagi, yang ada Kyungsoo tidur jika ia terlalu bosan dan kehilangan konsentrasinya karena gambaran hitam berdurasi panjang itu.

Yah, melusup ke pikiran orang demi melihat apa yang orang itu lihat memang agak merepotkan.

Hingga akhirnya, Kyungsoo dapat merasakan si pria membuka matanya dan ia di suguhkan oleh pemandangan agak gelap dengan tempat sunyi. Hanya ada penerangan secukupnya sementara di depannya ada beberapa keranjang buah-buahan yang membuat matanya langsung melek.

"Jangan di makan, pak tua. Kau hanya perlu diam" ujar sebuah suara

Pria itu awalnya mengamuk karena ia sadar bahwa ia sedang diculik–disekap– disebuah gudang –yah, pria kaya ini sangat telmi alias telat mikir.

Namun seseorang dengan setelan hitam itu melayangkan sebuah pandangan yang membuat pria itu patuh. Seakan terhipnotis, pria itu menutup mulutnya dan diam. Yah, ia di hipnotis untuk tidak bicara namun Kyungsoo bisa merasakan perasaan si pria untuk mengeluarkan semua sumpah serapahnya.

Juga perasaan ketakutan yang teramat besar.

Karena saat itu si pria langsung melihat seorang pemuda lainnya mendekat dengan sebuah palet berujung begitu lancip dan tajam.

Yang menggores lengan bagian atas pria itu. Kemudian si pria merasakan darahnya mengalir dan tertampung di palet yang pemuda berkemeja putih itu bawa.

Pria itu tidak melihat wajah si pemuda karena tertutup oleh poni pemuda itu, namun Kyungsoo merasa familier dengan bentuk tubuh, cara berjalan dan semua yang melekat pada si pelukis.

Waktu berjalan begitu lama –tidak terlalu lama sih untuk waktu melukis.

Dan detik berikutnya, Kyungsoo bisa merasakan jiwa pria itu tersedot memasuki lukisan. Teriakan-teriakan nista menyapa kedatangan jiwa itu.

Kyungsoo bisa merasakan ketakutan amat sangat dari pria itu.

Hingga tubuhnya gemetar tanpa ia sadari.

Kyungsoo terus menutup matanya kemudian memindahkan tangannya, mencari kira-kira dimana gambar buah-buahan itu.

Kemudian ia kembali melihat apa yang buah-buahan itu lihat. Bagaimanapun juga, buah-buahan adalah makhluk hidup dan Kyungsoo dapat melusup menjadi jiwa untuk makhluk hidup–entah apapun bentuknya–dan benda mati sekaligus.

Ia bisa melihat saat itu seorang pemuda bersetelan hitam menidurkan tubuh si pria.

Kemudian memakannya dengan lahap.

Darah berceceran di mana-mana, daging manusia yang begitu segar dengan aroma begitu menjijikan mendominasi ruangan.

Si pelukis pergi dari tempatnya.

Kyungsoo hanya dapat melihat punggung si pelukis yang entah sangat tidak asing baginya.

Perlahan, ia membuka matanya dan menjauhkan tangannya setelah mendapatkan apa yang ia dapat.

Matanya kembali bertubrukan dengan lukisan yang kini mengeluarkan aura aneh. Si model sedang berteriak minta tolong.

Kyungsoo menjauh, bulu kuduknya meremang. Ketika susunan cerita di balik lukisan itu terpahat rapi di kepalanya.

"Ada apa, Kyungsoo?" ayahnya merangkulnya, membawanya ke pelukan hangat seorang ayah kala tubuhnya limbung dan hampir jatuh. Tuan Do dapat merasakan tubuh anaknya yang bergetar hanya mendekap anaknya, berharap ketakutan yang membuat tubuh kecil itu bergetar dapat segera hilang.

"Bawa aku ke lukisan sebelumnya"

"Kau yakin?"

Kyungsoo menganggukan kepalanya mantap. Dengan senang hati, Tuan Choi menggiring Kyungsoo menemui lukisan sebelumnya, lukisan seorang perempuan di sebuah desa.

Sekali lagi, Kyungsoo meletakan tangannya di lukisan itu dan menutup matanya.

Mulai menyusup untuk mengetahui apa yang terjadi di belakang lukisan itu sebenarnya.

Dan apa yang Kyungsoo dapatkan sama. Sama persis. Tidak ada perbedaan –kecuali modelnya.

Di lukisan dengan model perempuan itu juga Kyungsoo mendapati si model berakhir dengan jiwanya yang tersedot ke dalam lukisan dan raga indah itu di makan oleh sosok bersetelan hitam.

Namun kali ini Kyungsoo tidak membuka matanya, ia menyaksikan bagaimana si pemuda menghabiskan raga perempuan itu.

Kemudian, Kyungsoo mendapati pemuda itu mengeluarkan sayap hitam kemerahan dengan merah pekat semerah darah.

Kemudian menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam, seringaian seram yang memperlihatkan gigi-gigi tajamnya seakan mengatakan

Kaulah selanjutnya, Kyungsoo.

Dan itu berhasil membuat tubuh Kyungsoo merosot jatuh dengan gemetar yang kembali menyelimutinya, kali ini ia lebih gemetaran dari pada sebelumnya.

Tidak, tidak mungkin. Kyungsoo kan hanya menyusup ke dalam ingatan lukisan itu, jadi tidak mungkin pemuda bersetelan hitam itu memaksudkan tatapan tajamnya untuk Kyungsoo.

Tubuh Kyungsoo yang lemas di angkat ke tempat duduk terdekat–sofa empuk yang tadi ia duduki–kemudian seorang pelayan membawakannya segelas air putih untuk menenangkan dirinya.

Kyungsoo menerima minuman itu kemudian mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, mencoba menenangkan dirinya. Ia menetralkan nafasnya yang tadinya sedikit memburu dan dengan begitu getaran di tubuhnya berkurang.

"Bisa ceritakan apa yang kau lihat, Kyungsoo?"

Pemuda kecil itu mulai membenahi kaca matanya, kemudian membuka mulutnya. Merangkai huruf demi huruf demi membentuk kalimat yang menceritakan apa saja yang ia lihat. Mengatakannya secara rinci.

Kemudian berkesimpulan.

Bahwa si model adalah tumbal pelukis.

"Berarti, Sehun itu penipu!" seru Tuan Choi dengan nada lantang dan tangan yang menggebrak meja, "Dia menggunakan jasa iblis untuk kaya? Sialan"

"Sepertinya memang begitu" ujar ayah Kyungsoo, Tuan Do.

Sementara setelah itu, Kyungsoo membeku di tempatnya.

"Maaf.. siapa pelukisnya?"

Tuan Choi terlihat marah dengan wajah yang memerah, mungkin ia sedikit kecewa mengapa bisa ia membeli lukisan jelek seorang penipu, "Sehun, Oh Sehun"

Berbanding terbalik dengan Tuan Choi, Kyungsoo malah memucat hingga putih seputih es seakan ia tidak mengandung darah di dalam tubuhnya.

Sehun. Oh Sehun.

Tentu saja Kyungsoo kenal siapa dia. Pemuda yang meraih omset tinggi hanya karena lukisannya yang mahal sekali, seorang mahasiswa yang satu juga salah satu anggota klub lukis yang ia tempati, dalam arti lain, Sehun adalah temannya.

Sekaligus kekasih sahabatnya, Luhan.

Apakah Luhan sudah tahu tentang ini?

"Aku permisi dulu"

.

.

.

Entah ada apa, Kyungsoo tiba-tiba mengirimkannya pesan singkat dan memintanya segera mendatangi kafe yang tidak jauh dari klub lukis tempat Sehun dan Kyungsoo bermain dengan kanvas mereka.

Luhan menurut saja, sebenarnya ia tidak enah pergi dari rumah Sehun –walaupun pemuda itu sudah minta izin pada Sehun sebelumnya – tapi kata Kyungsoo, ia harus datang karena pemuda itu ingin memberi tahu sesuatu yang penting.

Luhan hanya duduk di salah satu bangku yang tersedia di kafe itu. Menunggu Kyungsoo yang akhirnya datang setelah lima menit berlalu.

Dengan nafas tidak beraturan, Kyungsoo duduk di hadapannya.

"Ada apa?"

"Kau tahu masalah Sehun?" tanya Kyungsoo to the point.

Luhan hanya diam, tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Membatu di depannya melihat Kyungsoo yang sepertinya tahu sesuatu.

"Sudah ku duga" Kyungsoo memerhatikan temannya yang tanpa ekspresi, "Apa kau pernah nyaris sebagai tumbalnya?"

"Jangan bicara terlalu kencang, Kyungsoo"

"Putuskan Sehun" ucap Kyungsoo dengan emosi menggebu, "Putuskan kekasihmu itu sekarang juga atau kau dalam masalah"

"Tidak akan" balas Luhan dingin, "Sehun akan melindungiku"

"Dia–"

"Diam Kyungsoo, kau tidak tahu apa-apa"

"Bagaimana jika kau adalah tumbal selanjutnya?!" bentak Kyungsoo, "Jangan tanya aku tahu dari mana latar belakang kekasihmu itu, yang pasti aku tidak ingin kau kenapa-napa, Luhan. Putuslah dengan Sehun. Dia bukan pria baik-baik"

"Sudah ku bilang kau tidak tahu apa-apa, Kyungie" Luhan tidak mau ambil resiko bertengkar, maka ia lebih baik mendinginkan otaknya sebelum benar-benar terbakar emosi. Ia menutup mulutnya rapat-rapat masalah Sehun.

"Dia memberikan segala nyawanya untukku" ucap Luhan lagi, "Jadi tenang saja"

"Bagaimana bisa?" Kyungsoo berujar dengan tatapan khawatir, "Ayolah, Lu .."

Luhan menggenggam tangan temannya, "Kyung, dia berjanji akan melindungi nyawaku. Percayalah dengan janjinya. Kumohon" suara parau itu menggema.

Luhan merasakan sesuatu di dalam dadanya, bergemuruh tidak enak namun ia tidak bisa memastikan perasaan apa itu.

Feeling buruk, namun entah mengenai apa.

Sampai-sampai, air matanya menetes perlahan.

Apakah ini tentang Sehun?

.

.

.

Malam itu, Sehun mengajak Luhan untuk duduk di pekarangan bagian belakang rumah mewahnya. Sampai sekarang, iblis itu tidak macam-macam dengan Sehun hingga dalam dua hari ini Sehun dapat bernapas lega.

Yah, mungkin ancaman itu hanya sekedar ancaman kosong belaka.

Tangannya meraih pinggang Luhan, kemudian ia menghapus jejak diantara keduanya. Sementara Luhan menyandarkan kepalanya di bahu Sehun dan ia bisa merasakan kenyamanan melusup menenangkan kepalanya yang sedikit pusing.

Jemari Luhan menautkan diri dengan jemari Sehun yang ada di depan perutnya, memainkan jemari kokoh Sehun seraya memandang ke atas, melihat bintang yang hanya sedikit menampakan diri juga bulan purnama yang tidak terlalu terang. Seakan mereka enggan untuk memperlihatkan diri mereka.

"Hunnie .."

"Hm?" Sehun menumpukkan kepalanya di atas kepala Luhan, namun sedetik kemudian ia beralih untuk mencium kening kekasihnya itu, "Ada apa?"

Haruskah ia bilang bahwa Kyungsoo mengetahui sesuatu yang selama ini Sehun rahasiakan? Haruskan ia mengatakan bahwa ia takut?

Haruskah ia jujur bahwa ia sedikit tidak percaya dengan janji pemuda itu yang akan menjaga dirinya kapan saja?

Tidak, perasaan ini hanya sementara, ini hanya karena ia takut.

Itu pasti.

"Tidak ada" ucapnya, kemudian tangannya beralih memeluk pinggang Sehun erat, menaruh wajahnya di dada Sehun kemudian mencium aroma tubuh Sehun yang bercampur dengan harum sabun mandinya, mencari ketenangan.

"Katakan saja apa yang mengganjal di hatimu, Hanie" Sehun mengelus rambut kekasihnya.

"Tidak, ini hanya perasaan sementara. Aku yakin setelah ini perasaannya hilang"

Sehun mengernyitkan keningnya, jemarinya beralih untuk menarik dagu Luhan agar mempertemuka tatapannya dengan kedua lensa bening Luhan.

Dan mengetahui bahwa Luhan sedang ketakutan.

Alih-alih bertanya, Sehun memeluk Luhan dengan erat–sebelumnya, Sehun memindahkan kekasihnya itu ke pangkuannya agar posisi mereka lebih nyaman.

Pemuda itu mengelus rambut kekasihnya yang bertubuh mungil, ia bisa merasakan ketakutan Luhan yang menghantui hati pemuda itu kala Luhan mempererat pelukannya, seakan ia tidak ingin melepaskan pelukan itu selamanya.

Selamanya.

"Aku mencintaimu" Sehun berbisik kecil, "Jangan takut, ingatlah janjiku. Aku rela menyerahkan nyawaku hanya untukmu"

"Jangan" Luhan menggelengkan kepalanya, "Jangan menyerahkan nyawamu untukku, itu artinya kau tega meninggalkanku"

Sehun terkekeh kecil, pemikiran Luhan memang berbeda darinya, seharusnya pemuda itu menanggapi ucapan yang lumayan manis itu dengan tersipu malu.

"Jika kau memang harus pergi karena kutukan itu, aku akan ikut" ucap Luhan, "Aku tidak mau mendengar laranganmu"

"Tapi kehidupanmu masih panjang, Luhan. Masih banyak keluargamu yang menyayangimu, sahabat-sahabatmu .."

"Tapi semuanya tidak ada artinya jika kau tidak ada" suara Luhan agak meninggi di akhir kalimat.

Sehun menghela nafasnya pelan, kemudian mencoba menangkup wajah kekasihnya.

Mata mereka bertemu, terpaku sesaat untuk saling menyalurkan perasaan satu sama lain.

"Dengar, Luhan" ucap Sehun dengan suara rendah yang begitu serius membuat Luhan membeku, "Aku tidak mau kau menyia-nyiakan mereka hanya demi aku. Mereka jauh lebih berharga, Luhan. Berjanjilah padaku bahwa kau akan terus menempuh hidupmu. Kau harus menikah dan buatlah aku bahagia saat di siksa nanti" ujar Sehun parau, nada lirih itu terdengar mengerikan bagi Luhan.

Kalimat Sehun. Seakan mengatakan ucapan selamat tinggal.

"Tidak, aku tidak mau berjanji padamu. Aku tidak akan menikah dengan orang lain selain dirimu"

"Lu .."

"Aku akan mengikutimu, dimanapun dirimu, di neraka sekalipun a.. aku .. ak-u .." Luhan terisak, ia tidak mampu lagi mengucapkan kata yang membuktikan bahwa ia benar-benar tidak mau jauh dari Sehun. Ia tidak bisa mengekspresikan betapa ia menyayangi Sehun. Jemari lentik Luhan mencengkram bahu Sehun, kemudian ia mengalirkan air matanya. Tetesan bening yang membuat Sehun juga terluka.

"Shhhtt.. Luhannie .." Sehun memeluk kekasihnya dengan begitu erat untuk kesekian kalinya, mengecup bibir pemuda itu lama seraya mengayun-ayunkan tubuh Luhan kedepan-kebelakang, "Aku mengerti, aku mengerti"

"Jangan ... hiks .. pernah memintaku untuk .. hiks .. jauh darimu" Luhan memeluk leher Sehun erat, menaruh wajahnya di atas bahu Sehun kemudian menangis di sana, "Jangan meninggalkanku"

"Tapi, aku tidak bisa janji Luhan" Sehun dapat merasakan suaranya bergetar, "Aku tidak bisa .."

"Aku akan selalu ada untukmu"

"Luhan, kau ingat masalah perasaan yang dapat berubah tanpa kau bisa memprediksikannya sebelumnya?"

"Ja-jadi .. jadi .. kau sudah tidak menyayangiku lagi?" Luhan meregangkan pelukannya, kemudian matanya menatap lekat sepasang almond milik Sehun yang menyimpan begitu banyak perasaan.

"Tidak .."

"Lalu?"

"Aku takut kau begitu"

Luhan mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti.

"Aku takut nanti kau menyesal mengikutiku ke neraka, Luhan. Kau harus bahagia di bumi. Tempat terakhirmu bukan di neraka, kau terlalu suci untuk tempat itu"

"Kau tidak berhak memprediksikan tempat terakhirmu maupun diriku, Sehun!"

"Tapi begitulah keadaan sebenarnya. Aku tidak memprediksikannya, Luhan. Itu memang akan terjadi padaku karena mengkhianati iblis, membunuh banyak orang, dan–"

"Ayo kita ke gereja" Luhan menatap lekat kekasihnya, "Mohon ampunlah"

"Tuhan tidak akan mengampuni orang sepertiku"

"Kenapa tidak?"

"Tentu saja, Luhan, aku sudah melakukan banyak kesalahan"

"Jangan samakan dirimu dengan Tuhan, Sehun" tatapan itu kian tajam. Namun di menit setelahnya, tatapan itu begitu lembut. Begitu lemah.

Terlihat begitu tidak berdaya.

"Aku mencintaimu, Oh Sehun. Sangat mencintaimu"

Pemuda mungil itu mendekatkan wajahnya, mengecup kening Sehun lebih lama dari biasanya, kemudian berpindah ke hidung mancung Sehun, menyisakan sensasi geli yang membuat Sehun terkekeh pelan, dan terakhir mengecup bibir Sehun lama.

Sehun membalas kecupan kekasihnya, kemudian ia menekan tengkuk Luhan agar memperdalam ciuman mereka.

Namun, kegiatan mereka terganggu oleh suara bising dari dalam rumahnya.

Luhan menjauhkan diri, kemudian mencoba memanjangkan leher untuk melirik ke dalam. Hingga akhirnya, pemuda itu berdiri kemudian melihat para pelayan mondar-mandir entah kenapa.

Luhan memasuki rumah Sehun, diikuti oleh si pemilik rumah.

Keduanya melihat betapa ricuhnya para pelayan yang lebih dari sepuluh orang itu.

Sehun masuk lebih dalam dengan penuh kesan dingin dan angkuh miliknya, sifat yang selalu ia keluarkan untuk orang umum, kecuali Luhan tentunya, "Ada apa ini?"

"Di luar banyak orang yang bawa obor, Tuan. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Mereka lebih bukan hanya dari kompleks rumah ini, Tuan, mereka–"

Sehun menatap tajam ke celah jendela, melihat begitu banyak manusia di depan rumahnya, suara teriakan-teriakan mereka lolos menambah keributan, "Sudah cukup. Kalian, cepat pulang sebelum rumah ini hangus"

Semua menuruti perintah Sehun, terlihat dari cara mereka berhamburan menuju pintu garasi.

Sementara Sehun menarik Luhan untuk keluar dari pintu belakang, berlari melewati taman belakang rumah Sehun dan membuka pagar kecil yang bersembunyi di balik tumbuhan liar itu.

Di belakang rumah Sehun, terdapat hutan kecil yang menyimpan desa. Siapa tahu saja mereka dapat mengungsi sementara di sana.

Luhan dengan nafas tak beraturan mengikuti langkah Sehun yang tak kunjung lelah. Mereka mulai masuk ke dalam hutan kecil–terlihat dari banyak pohon rindang yang mulai menyapa mereka.

Mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk berlari dan akhirnya menemui sebuah desa kecil yang lebih mirip rumah di tengah hutan dari pada desa.

Pelayannya pernah menceritakan tentang desa terkecil di Korea itu kala si pelayan mengutarakan kekagumannya pada rumah Sehun yang besar dan sekaligus dekat dengan desa yang terkenal kecilnya itu.

Yah, dari sekarang Sehun tidak menganggap kumpulan rumah itu sebagai desa lagi.

"Sehun .. hh .. berhenti .. sebentarh .. hh" ucap Luhan sedikit terbata-bata karena jantungnya yang berdetak keras seakan mampu menghancurkan dadanya dalam sesaat dan karena nafasnya yang tidak teratur.

Melihat kekasihnya yang bahkan sedikit kesusahan untuk berjalan, Sehun menggendong Luhan–kali ini dengan bridal style–kemudian mendudukan Luhan di sebuah tempat duduk panjang yang terbuat dari kayu.

"Kau tidak apa-apa?"

Luhan menggelengkan kepalanya, "Ini hanya karena aku jarang lari lagi" gumam Luhan kemudian pemuda itu menyunggingkan senyum.

Sehun membalas senyuman Luhan dengan senyumannya yang tak kalah manis, kemudian pemuda itu menoleh ke belakang.

Melihat atap rumahnya yang mulai terbakar.

Yah, rumahnya di bakar oleh orang-orang yang .. mungkin mengetahui rahasianya. Tapi, dari mana mereka tahu? Sehun tidak menceritakannya pada siapapun dan ia yakin Luhan juga begitu.

"Atas dasar apa mereka membakar rumahku?"

"Dasar anak tidak tahu diri" tiba-tiba suara berat yang sedikit bergetar itu menyahut. Sehun menoleh ke Luhan yang tengah melirik ke suatu titik.

Melihat sekumpulan orang memandang Sehun dengan penuh amarah.

"Memakan nyawa manusia untuk dipersembahkan pada iblis hanya karena demi uang" kakek itu membuka mulutnya, kemudian pasukan di belakangnya membawa obor dengan api yang berkobar menerangi malam.

"Kau tidak pantas di dunia ini"

Sebelum kumpulan orang itu semakin dekat, Sehun menarik Luhan untuk kembali berlari. Diikuti oleh pasukan kakek yang mungkin pemilik dari perkumpulan rumah –oke, sebut saja desa – tempat mereka beristirahat tadi. Dengan membabi buta mereka melemparkan obor kearah Sehun.

Dengan cepat, Sehun berlari kearah lain, berbelok tajam namun orang-orang itu tetap mengetahui langkahnya –seharusnya mereka kehilangan langkah Sehun, begitulah penuturan di film-film pada umumnya.

Sehun terus menuntun kekasihnya untuk berlari lebih kencang. Berbelok ke sembarang arah.

Hingga akhirnya, Sehun menemukan tumpukan kayu yang cukup tinggi.

Cukup untuk dijadikan tempat sembunyi.

Tangannya meraih Luhan untuk segera bersembunyi di balik tumpukan kayu itu. Sehun langsung merengkuh tubuh Luhan yang sedang mengatur nafasnya karena kelelahan.

"Atur nafasmu perlahan, Luhan .. jangan buru-buru" bisik Sehun kecil.

Luhan mengangguk, badannya lemas, keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Kaki Luhan terasa hampir lepas, rasanya ia tidak bisa merasakan kakinya lagi.

Sehun dengan was-was melirik ke sekeliling.

Kemudian mengintip ke balik tumpukan kayu.

Setelah itu, ia menghela nafasnya lega. Mereka selamat.

"Syukurlah" gumam Sehun. Tangannya terulur untuk meluruskan kaki Luhan, kemudian memijatnya pelan, terbesit rasa bersalah mengajak kekasihnya lari-larian pada pukul sembilan begini.

"Olahraga malam kali ini berbeda, ya?"

Luhan terkekeh, "Yah, lebih melelahkan karena aku tidak bisa langsung tidur"

Sehun ikut tertawa, kemudian pemuda itu meletakan diri di samping Luhan, "Kalau gitu istirahat sebentar di bahuku. Atau kau mau sambil tiduran di pahaku?"

Luhan menggelengkan kepalanya, "Di bahu Sehunnie saja" ucapnya manis. Tanpa pikir panjang, Luhan meletakan kepalanya di bahu Sehun kemudian memeluk lengan Sehun erat seakan lengan Sehun adalah gulingnya.

Perlahan, Luhan larut dalam kenyamanan yang Sehun berikan. Ia menutup matanya, menyerap semua kenyamanan yang mengusir kelelahannya.

Namun, itu tidak bertahan lama. Luhan membuka matanya ketika ia mendengar suara semak-semak terinjak. Ia mendongak, melihat Sehun dengan tatapan awasnya.

"Sudah selesai istirahatnya, Oh Sehun?" suara itu begitu dekat.

Yah, tepat di belakang mereka.

Mereka bertiga hanya terpisahkan oleh tumpukan kayu tempat Sehun bersandar.

Mata Luhan menangkap sosok pemuda berpakaian kumal, compang-camping dengan kulit putih bersih yang begitu pucat, tatapan tajam dan seringaian seram yang memamerkan giginya yang hampir semuanya adalah gigi taring–karena mereka semua terlihat begitu tajam, seperti belati yang diasah.

Luhan dapat melihat pemuda itu, matanya, ada aksen merah di sana.

Tidak, jangan ambil Sehun sekarang.

"Ku rasa harimu berjalan tenang"

"Siapa kau?"

"Minseok" pemuda itu mendekat, menghapus jarak antara dia dan Sehun, kemudian memperlihatkan seringaian lebar yang membuat Sehun membelalakkan matanya.

Sehun sadar, Minseok adalah seorang iblis.

Tangan Sehun menarik Luhan, membawa pemuda itu untuk berdiri di belakangnya, menyelamatkan Luhan.

"Tch, manusia memang bodoh" gumam Minseok, ucapannya hanya di tangkis Sehun dengan tatapan yang tak kalah tajam, "Begini Sehun, mau bagaimanapun juga kau akan tetap harus dibasmi dari bumi. Karena kau melanggar perjanjianmu dengan iblis, bukan dengan manusia yang sama bodohnya denganmu"

Sehun tetap membatu di tempatnya, menunggu penuturan Minseok yang lainnya seraya memikirkan cara untuk kabur.

"Kau tidak akan bisa lari, tidak akan pernah. Kau terkepung, Sehun"

Sehun mengernyitkan keningnya, matanya melirik ke segala penjuru dan ia bisa melihat betapa banyak iblis dengan sayap terbentang luas berjajar mengelilinginya dan Luhan.

"Baiklah .." Sehun membuka suaranya yang sedikit serak, "Kau bisa mengambilku sekarang, tapi bebaskan kekasihku. Aku menggantikan dirinya, seperti apa yang terjadi sebelumnya"

Iblis itu menyeringai, "Baik, sepakat?" kemudian ia menjulurkan tangannya kearah Sehun, dengan berat hati Sehun membalas juluran tangan pemuda itu, artinya Sehun sepakat dengan perjanjiannya.

Sehun melirik ke belakang, ia masih bisa merasakan cengkraman tangan Luhan di tangannya dan ia bisa melihat Luhan yang mati-matian menahan tangisnya.

"Kau sudah bilang .." suara Luhan bergetar parau, "Kau tidak akan pergi .." kemudian air matanya menetes, "Katakan itu sekali lagi .. katakan.. kumohon .. hiks .."

Sehun meremas tangan kekasihnya kuat, kemudian menarik pemuda itu untuk masuk ke dalam degapannya.

"Maafkan aku, aku mencintaimu"

Luhan tidak bisa lagi menahan tangisnya kala Sehun hanya dapat membisikan hal itu kemudian mengecup keningnya lebih lama dari biasanya. Ia bisa merasakan jemari Sehun mengelus belakang kepalanya dan dekapan Sehun yang semakin melonggar.

Sehun benar-benar harus meninggalkan Luhan.

"Setelah ini, kau harus bahagia, berjanjilah padaku"

Luhan menggelengkan kepalanya, namun Sehun tidak punya waktu banyak untuk berdebat, maka pemuda itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah Luhan.

Semuanya akan berlalu seiring waktu berjalan

Ia mengecup sekilas bibir kekasihnya, untuk terakhir kalinya.

Kemudian Luhan di tarik oleh si iblis untuk menjauh dan mendorong Sehun untuk menuju ke tengah kerumunan.

Luhan dapat melihat semuanya dengan jelas, bagaimana para iblis membawa obor di kedua tangannya dan mengepung Sehun yang berdiri dengan begitu rapuh di sana.

"Bisakah kau menghapus ingatannya tentang ini semua?" Luhan bisa mendengar jelas suara Sehun yang mengucapkan kalimat itu. Ia hampir saja menjerit terisak untuk mengatakan jangan hapuskan ingatannya sedikitpun tentang apa yang kini ia lihat, namun ia meredam kembali tingkahnya itu kala mendengar sebuah suara menjawab Sehun.

"Tidak, kami tidak bisa"

Ia bisa melihat Sehun yang berdiri di sana dengan tegap, menghadap kearahnya. Luhan bisa melihat Sehun yang tersenyum padanya sekarang. Seakan mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah ini walaupun kenyataan meneriakan hal lain.

Tentu saja ia tidak akan pernah baik-baik saja.

Hingga akhirnya, ia bisa melihat kerumunan iblis membakarnya.

Melenyapkan senyuman terakhir Sehun.

Hingga menjadi abu yang tak berarti.

Luhan tidak bisa menahannya lagi, ia berteriak, meraung, menangis. Melihat apa yang baru saja terjadi tepat di depan matanya.

Luhan berlari menerobos kerumunan iblis itu, melihat bagaimana tubuh Sehun yang mulai hangus terbakar.

Menyaksikan tubuh kekasihnya yang menjadi abu tertelan api.

Ia hanya dapat berlutut di depan Sehun yang tak berwujud.

Dan malam itu, ia meraung menyumpahi segala takdir yang ada di hidupnya. Menjerit frustasi. Menangis hingga rasanya ia tidak punya tenaga lagi.

Semuanya berakhir kala ia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Dengan pakaian pelayan yang ia yakini tak lain adalah pelayan Sehun.

Dan pemuda itulah yang menuntun tubuhnya yang hampir tumbang untuk pulang.

.

.

.

One week later

Tidak ada satupun yang tahu mengapa Luhan mengurung dirinya selama satu minggu penuh. Makanan yang disediakan para pelayan rumahnya tidak semua ia makan, hanya jika malam, itupun hanya memakan sekitar satu dua suap.

Luhan menutup dirinya. Ibu dan ayahnya sudah mencoba membuka pintunya, bahkan kala ayahnya mendobrak pintunya hingga rusak, ia meraung histeris, marah, menangis.

Ia berhenti menjerit frustasi kala ibu dan ayahnya mempersembahkan kamar lain untuknya.

Luhan sama sekali tidak ingin di ganggu siapapun.

Keadaan Luhan begitu kacau.

Kala sore menyapa, Kyungsoo dengan kaca mata kecilnya, Baekhyun dan Chanyeol dengan keserasian mereka, mendatangi rumah Luhan, mencoba menemui pemuda yang tak lain adalah sahabat mereka itu.

Tangan kecil Kyungsoo yang tertutup oleh sarung tangan hitam mengetuk pelan daun pintu Luhan.

"Luhan? Ini aku .." suara kecil Kyungsoo menyusup ke dalam ruangan.

"Masuk"

Baekhyun dan Chanyeol mengernyitkan kening mereka, "Pakai sihir apa?" bisik Baekhyun.

Jelas saja, kisah tentang Luhan yang sampai siang tadi masih mengurung diri dan tidak membiarkan satupun orang masuk ke kamarnya masih ia percaya dan seharusnya Luhan tidak segampang itu membukakan pintu untuk mereka bertiga –setidaknya ada acara teriak-teriak dulu, lumayan untuk latihan vocal Baekhyun.

Kyungsoo membuka pintu kamar Luhan tanpa banyak bicara, mata bulatnya memandang ke seluruh penjuru ruangan yang begitu berantakan.

Kyungsoo bisa melihatnya, melihat Luhan yang tengah duduk di sisi ranjang seraya tersenyum lebar padanya. Keadaannya berantakan, begitu juga dengan kamarnya. Ada pecahan kaca di beberapa sisi lantai, banyak barang yang pecah dan terletak tidak pada tempatnya.

Benar-benar hancur.

"Ada apa denganmu?"

"Aku sedih" Luhan memaparkan lagi ekspresi sedihnya yang begitu lucu kala Kyungsoo duduk di sebelah kirinya dan Baekhyun yang menempati kanannya sementara Chanyeol menyusuri ruangan Luhan dan mencoba mengumpulkan beling-beling yang bertebaran.

"Sedih kenapa?" tanya Baekhyun

Luhan menaruh kepalanya di bahu Baekhyun kemudian memeluk pemuda itu. Hening menyapa.

Hingga akhirnya dipecahkan oleh isakan tangan Luhan.

"Sehun pergi .. hiks"

"Ya Tuhan, Luhaan .." Kyungsoo memijat keningnya, "Memangnya anak itu pergi ke mana? Ayo kita cari. Hanya karena itu kau seperti ini?"

Isakan Luhan semakin kencang, mata sembab itu kembali menangis, "Dia sudah tidak ada di sini"

"Di luar Korea?" tanya Baekhyun polos seraya mengelus kepala sahabatnya. Ia bisa merasakan Luhan menggeleng di bahunya.

"Dia sudah tidak ada .."

Baekhyun, Kyungsoo dan Chanyeol membeku di tempat mereka kala Luhan dengan suara bergetarnya mengungkapkan bahwa Sehun tidak ada.

Sehun sudah berangkat lebih dulu ke alam baka.

"Luhan" Kyungsoo menarik tangan Luhan, mencoba membuat pemuda itu menatap dirinya, "Aku tahu, kau pasti tertekan karena Sehun meninggal. Tapi.. ayolah, Sehun tidak satu-satunya pria di dunia yang–"

"Sehun memang hanya ada satu, Kyungsoo!" bentak Luhan frustasi, "Kau tidak bisa membayangkan bagaimana diriku melihat Sehun yang di bakar hidup hidup oleh para iblis tepat di depan mataku. Kau tidak pernah dapat merasakan bagaimana rasanya melihat abu kekasihmu sendiri. Kau tidak tahu itu, Kyungsoo!" jerit Luhan.

Namun, detik selanjutnya, Luhan mengatur nafasnya yang memburu kemudian memeluk Kyungsoo erat.

"Maaf .." nada Luhan melemah dan semakin menonjolkan getaran suara Luhan.

Baekhyun memijat tengkuknya, kemudian ia tidak bisa memungkiri bahwa sesak di dadanya membuat air matanya mengalir.

Tentu saja, ia membayangkannya.

Bagaimana jika Chanyeol yang di bakar tepat di depan matanya.

Tidak segampang itu melupakan semuanya. Apalagi mereka tahu, Luhan benar-benar mencintai Sehun bahkan Luhan rela melakukan apapun untuk kekasihnya.

Sebelumnya, Baekhyun tidak pernah mendengar Luhan sedang bertengkar dengan Sehun, namun ia pernah mendengar Luhan yang memamerkan kemesraannya dengan Sehun dengan membandingkan apa yang sering Sehun lakukan yang menurutnya lebih manis dan romantis dibanding apa yang Chanyeol lakukan pada Baekhyun.

"Sudah sudah .. jangan menangis lagi.." Kyungsoo mengelus pundak Luhan.

"Aku tidak tahan lagi .." ucap Luhan frustasi

"Ini hanya sesaat Luhan, bertahanlah" Baekhyun yang dipunggungi Luhan mengelus punggung Luhan dengan jemari lentiknya, berusaha menenangkan sahabatnya itu.

"Mau kubelikan kopi agar pikiranmu membaik?" tawar Chanyeol yang sedari tadi menyimak teman-temannya bicara.

Luhan menatap sahabatnya itu lama dan berhasil membuat Chanyeol bergidik melihat tatapan kosong Luhan seakan pemuda itu tidak memiliki harapan apa-apa lagi.

"Boleh" Luhan menyahut singkat dengan senyum kecil di bibirnya membuat Chanyeol membaik–tidak lagi bergidik ngeri.

"Baekie, ayo temani aku"

Hingga akhirnya, dua sejoli itu keluar dari kamar Luhan dengan Chanyeol yang menempatkan diri di belakang Baekhyun.

Keduanya lenyap ketika pintu Luhan kembali ditutup.

Sementara Luhan hanya menatap kosong hidupnya, tidak ada lagi yang perlu di harapkan. Mimpinya hilang, tidak ada yang ingin ia capai.

"Aku jadi haus karena menangis"

"Tapi menurut berita kau tidak makan dan minum hingga larut malam" ucap Kyungsoo seraya membenahi kasur Luhan yang berantakan, "Kau bisa mati dehidrasi. Besok, kau harus muncul di kelas, ya? Kau tahu, dosen tergalak kita mencarimu"

"Benarkah?"

"Ya, dia menanyakan kabarmu dan menagih tugasmu"

"Ouh.. aku lupa ada tugas"

"Kerjakanlah sekarang" ucap Kyungsoo, kemudian ia terkekeh disahuti oleh tawa kecil Luhan. Kyungsoo merasa membaik ketika ia bisa mendengar suara tawa Luhan.

"Sudah selesai, kok. Aku kan rajin"

"Jangan-jangan kau mengurung diri karena mengerjakan tugas"

"Yah, aku memang menyelesaikan mereka saat aku lelah menangis"

"Jadi, tugasmu sudah selesai semua?"

Luhan menganggukan kepalanya, "Tentu saja"

Kyungsoo tersenyum kecil, "Luhan, masih haus?"

"Tentuuu"

"Tunggu sebentar, ya? Ku ambilkan minum" ucap Kyungsoo. Dari balik kaca matanya, ia bisa melihat Luhan mengangguk dengan senyum kecil di sana.

Ia juga bisa melihat keputus asaan yang begitu besar di mata Luhan, pemuda itu benar-benar terpukul dengan kejadian yang baru menimpanya. Tadinya, Kyungsoo ingin langsung membaca pikiran Luhan agar ia bisa tahu apa saja yang terjadi dengan Luhan dan Sehun, namun melihat Luhan yang sebegitu rapuhnya, Kyungsoo mengurung niatnya.

Ia juga merasa belum siap merasakan apa yang Luhan rasakan.

Pemuda kecil itu menutup pintu Luhan dari luar kemudian segera melangkahkan kakinya untuk menjumpai dapur rumah Luhan.

Tidak terlihat tanda-tanda adanya orang tua Luhan, apakah mereka masih bisa bekerja setelah apa yang Luhan lakukan di dalam sana?

Benar-benar.

Tangan kecil Kyungsoo meraih gelas yang terdapat di rak kecil yang ada di atas kepalanya, kemudian mengisinya dengan air putih. Luhan pasti haus sekali setelah menangis sekian lama.

Terlihat dari matanya yang benar-benar bengkak, suaranya yang serak dan parau, pemuda itu benar-benar kacau fisik bahkan mentalnya.

Kyungsoo cukup prihatin pada temannya itu, bagaimanapun juga ia mengerti bahwa Luhan memiliki perasaan yang begitu sensitive. Terlalu gampang merasakan sedih dan senang, kecewa dan takut, hingga perasaan kelewat sedih, senang, kecewa juga takut.

Ia kembali melangkah ke tangga rumah Luhan yang dilapisi keramik hingga mengeluarkan aksen mewah secara rahasia, kemudian kakinya terus melukiskan langkah hingga ke depan kamar Luhan.

Di belakangnya, menyusul Baekhyun dan Chanyeol yang ternyata sudah membeli empat kopi.

"Aku tidak suka kopi" ucap Kyungsoo seraya melirik ke pemuda paling tinggi dengan telinga paling lebar diantara mereka bertiga sebelum Kyungsoo mengetuk pintu kamar Luhan.

"Tenang, ini kopi susu"

Kyungsoo menghela nafasnya pasrah kala Chanyeol hanya memberikan cengiran khasnya–cengiran yang dapat membuat Baekhyun semakin mencintainya.

Kyungsoo membuka pintu kamar Luhan, masuk lebih dalam ke kamar Luhan.

Tidak ada Luhan yang duduk di sisi ranjang.

"Mungkin dia sedang di kamar mandi" ucap Baekhyun seraya mengedikan bahunya. Mendengar itu, Kyungsoo langsung meletakan air putih yang ia bawakan untuk Luhan di atas meja nakas yang terletak di dekat kasur Luhan dan meraih kopi susu yang disodorkan Baekhyun.

Baekhyun mengunyak cookies yang ia beli dengan begitu berisik, ditambah lagi dengan suaranya yang beradu dengan suara baritone Chanyeol. Yah, mereka memang tidak akan bisa diam ketika di satukan, apalagi di sana ada Kyungsoo yang jadi bahan empun untuk dikerjai dua sejoli itu.

Sementara Kyungsoo yang lebih memilih diam dan memilih pasrah saja di kerjai dua manusia yang tak lain adalah calon orang yang akan ia pukul hingga biru-biru.

Persetanan dengan kedok sahabat, jika mereka membuat Kyungsoo marah, maka mereka harus menanggung konsekuensinya–dapat hajaran dari Kyungsoo atau keseleo karena otot tubuhnya yang diputar Kyungsoo dengan teknik judo andanlannya.

Lagipula, Baekhyun maupun Chanyeol sudah kebal dengan itu.

Dua puluh menit berlalu dan Luhan tidak kunjung kembali.

Tiba-tiba saja, firasat buruk Baekhyun melusup memenuhi otaknya.

"Luhaaan?" teriak Baekhyun dengan khawatir, "Luhanie?" ucapnya seraya mendekati kamar mandi, menggedor-gedor pintu kamar mandi Luhan.

Luhan tidak kunjung memberi jawaban.

Ia mencoba membuka pintunya.

Namun, dikunci.

"LUHAAN?!" teriak Baekhyun dengan penuh khawatir, wajahnya pucat pasti, "Chanyeol cepat dobrak! Cepat!"

"Kalau dia–"

"Chanyeol cepat!" teriak Baekhyun lagi dengan suara bergetar.

Biasanya, firasat dan feelingnya benar. Baekhyun memiliki perasaan yang tajam, menjadikannya memiliki feeling ataupun firasat yang akurat.

Dan firasat jelek yang ia rasakan, pasti menunjukan sesuatu.

Chanyeol mendobrak pintu kamar mandi Luhan, dibantu Baekhyun dan Kyungsoo. Pintu itu tidak mau terbuka, bahkan sampai Chanyeol hampir saja putus asa.

Namun, di menit kelima, dengan kemampuan maksmial yang dikeluarkan Chanyeol, pintu itu terbuka.

Membiarkan ketiganya melihat ke dalam, melihat sahabat mereka yang hanya menampakan tangan sementara tubuhnya tenggelam di bathup.

"Luhan!" Baekhyun menyeru nyaring dengan getaran ditubuhnya dan bibir yang pucat –benar-benar pucat. Pemuda itu menangis kemudian mendekati raga Luhan yang terendam di bathup.

Sementara Kyungsoo membatu di ambang pintu, membiarkan Baekhyun dan Chanyeol menyerbu masuk untuk menyelamatkan Luhan. Tubuhnya tidak bisa bergerak kala rasa bersalah yang begitu besar menggerogotinya, perasaan takut mengubur tubuh kecilnya.

Chanyeol melihatnya dengan seksama, tangan kiri Luhan memiliki luka garis yang begitu dalam dan ia bisa tahu dari lukanya yang masih mengeluarkan darah itu bahwa Luhan mencoba untuk memotong nadinya dengan cutter yang ia jatuhkan tidak jauh dari bathup putihnya.

Darah segar masih mengalir di tangan Luhan. Chanyeol segera melepaskan kemejanya, membiarkan baju kaus putih polosnya untuk menutupi tubuhnya. Ia merobek kemejanya untuk menutup tangan Luhan.

Luhan kehilangan banyak darah, air di bathup Luhan berwarna merah pekat. Tubuh Luhan begitu pucat, bahkan kakinya mulai membiru.

Tubuhnya yang masih ditutupi piyamanya basah, pucat, begitu dingin.

Baekhyun mengeceknya, mencari dentuman nadi di perpotongan leher dengan dagu Luhan, lalu beralih ke tangan kanan Luhan yang tidak terbeset cutter sama sekali.

Dan sebagai hasilnya, Baekhyun menangis kencang.

Luhan sudah tiada.

.

.

.

Kyungsoo menyalahkan dirinya sepenuhnya. Seharusnya ia tidak membawakan Luhan minuman, seharusnya ia menyuruh pelayan untuk membawakan pemuda itu minuman. Seharusnya ia tidak melepas Luhan yang sedang frustasi itu.

Namun, Baekhyun dan Chanyeol tidak menyalahkan Kyungsoo. Kyungsoo benar, ia bermaksud baik untuk memberikan Luhan minum. Maka, keduanya menyimpulkan bahwa ini sudah takdir Luhan yang Luhan tuliskan.

Tangan kecil yang tertutupi sarung tangan yang terbuat dari kulit milik Kyungsoo menyentuh surat milik Luhan yang kemarin ia ambil dari meja belajar Luhan.

Matanya tidak bisa berhenti berair membaca surat Luhan yang mencakup dirinya, Baekhyun, Chanyeol, kedua orang tuanya, dan Sehun.

Luhan mengatakannya, di paragraph terakhir.

Bahwa ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bersama Sehun dan memilih untuk menyusul Sehun secepat mungkin.

"Dan aku berharap untuk bertemu kalian semua di kehidupan baruku"

Kyungsoo melipat lagi surat Luhan, melepaskan kacamatanya kemudian menangis lagi.

Ia bisa merasakan matanya bengkak, namun ia tidak memperdulikannya.

Luhan terlalu baik, ia terlalu cepat pergi dari dunia.

"Sudahlah, Kyung .." Baekhyun datang dengan suara seraknya, mendekap sahabatnya erat.

Semuanya sudah berlalu.

Semuanya demi kebahagiaan Luhan sendiri.

Mereka tidak ada hak untuk mengatur jalan hidup Luhan.

Semoga kau bahagia dan bertemu Sehunmu itu, Luhan.

.

.

.

"Sehunnie .. aku sudah pernah bilang padamu .. aku akan mengikutimu, kemanapun dirimu, ke neraka sekalipun .. aku rela..

Tunggu aku, Sehun

Aku mencintaimu" –Luhan

.

.

.

End

MAAF AKU MUNCUL LAGI DENGAN FF GAJE BUKANNYA LANJUTIN FF YANG SEDANG BERJALAN.

Ehehehe..

Thanks for reading!

Tadinya, ini adalah oneshoot namun sepertinya kalo jadi oneshoot terlalu panjang, jadi aku buat twoshoot dan langsung selese.. wkwk.

Ku tunggu reviewnya.

Dan doakan aku dapat inspirasi lanjutin ff ku, oke /apa.

Thankiss

Salam cupcupmuah

aegyung