.
Estafet
Yu Gi Oh © Takahashi Kazuki
.
Chapter 10: Infraction
Pairing: Otogi x ? ? ?
Warning: abal-abal-galau.
By: Ryudou Ai (id: 1591962)
.
.
.
Otogi mendecak sebal.
Pagi-pagi begini kicauan burung saja sudah sangat merusak mood-nya.
Kesal.
Sebal.
Muak.
Kicauan burung yang tengah bertengger di dahan pohon sana seakan mengingatkannya dengan kicauan si Karita sialan itu. Iya. Karita-sensei. Guru BK yang cerewetnya bahkan melebihi tante-tante girang hobis gosip, dan perlakuannya bahkan lebih menyebalkan daripada tante-tante tadi.
Otogi membelai rambutnya. Untung saja ia ia tidak kehilangan kuncir keramatnya, karena tadi pagi Karita sensei mengancam akan memotong kuncir itu dengan gunting rumput. Melengos sebal, ia melangkah keluar dari kelas hendak pergi ke atap.
"Otogi, Karita-sensei memanggilmu ke ruangan BK."
Sial.
Amat sial. Mengapa si kekar jahanam itu tidak jera-jeranya untuk mengenyahkan kuncir indah miliknya.
"Sudah kukatakan berapa kali? Rambut panjang itu melanggar peraturan, Murid Bodoh," cela Karita-Sensei kepada Otogi ketika pemuda itu masuk ke dalam ruangannya. Cih, kau baru bilang satu kali yaitu tadi pagi, guru bodoh, Otogi mendecak sebal dalam hati. Ditelengkannya kepala ke samping, enggan bertatapan dengan guru BK mengesalkan ini.
"Hei! Kau dengar tidak? Dasar tuli!"
Otogi sedikit mengaduh, merasakan tangan besar itu menjambak kuncir rambutnya dengan amat kuat. Semakin lama semakin kencang. Urat kesabarannya seakan putus tiada sisa, urat-urat Otogi mengencang. Ditampiknya tangan itu dan mencekik pelan leher sang guru.
"Ooh, begitu? Kau bilang aku tuli ya?" ucap Otogi dengan nada menyeramkan, "kau sudah membuat kesabaranku habis, guru sialan. Kaubilang ini melanggar peraturan? Baiklah, akan kutunjukkan apa yang namanya 'melanggar peraturan' itu. Lihat dengan mata kepalamu baik-baik."
Otogi lurus saja menyambar tasnya, lalu mengeluarkan sebuah gunting dari dalam tasnya, "Pelanggaran nomor satu. Lihat, aku membawa benda tajam ke sekolah."
Memang kedengarannya lucu ketika Otogi mengatakan dirinya membawa 'benda tajam' ke sekolah, berupa gunting. Heh, itu biasa digunakan untuk memotong kertas prakarya seperti origami atau sedotan, ya kan? Namun kini lain cerita, Otogi tidak menggunakannya untuk memotong prakarya yang biasa anak SD buat. Ia menggunakannya untuk satu 'prakarya' lain.
Digunting habisnya pakaian yang Karita-sensei kenakan, membuat tubuh kekar dan besar di hadapannya talanjang bulat dalam sedetik. Tangannya meraih sisa-sisa dari kain yang tersobek, lalu mengikat tangan dan kaki Karita-sensei dengan sangat kencang. Tubuh di bawahnya hanya bisa meronta-ronta sebal sembari mengeluarkan setumpuk sumpah-serapah.
"Otogi! Kau—
"Ooh, ini belum apa-apa, Sensei," otogi menyeringai. "Aku yakin sensei pasti pernah nonton film anu kan? Itu looh, anu-anuan. Ya kan? Ya kan? Seperti majalah ini, misalnya," dikeluarkannya setumpuk majalah porno dan gayporn dari dalam tasnya, dipamerkannya halaman demi halaman kepada Karita-sensei, untuk kemudian ia baca dan melihat gambar-gambar yang ada dengan seksama di beberapa halaman, "Pelanggaran nomor dua, membawa buku-buku dan majalah porno ke sekolah."
Itu cukup membuat hasrat birahinya naik dalam beberapa detik.
Karita-sensei tidak menjawab, namun hanya meronta seraya memaki Otogi. Yang dimaki hanya tersenyum, lalu mulai membelai wajah itu perlahan, "Pelanggaran nomor tiga, melakukan hal intim antar hubungan guru dan murid."
Otogi merangkak tepat diatas Karita-sensei, lalu mengecup bibirnya dengan amat ganas, tanpa ada rasa cinta di sana. Sesekali dibelainya tubuh itu. Jari-jarinya menysuri lekuk tubuh Karita-sensei yang amat berotot itu. Itu cukup membuat Karita-sensei merinding, disusul oleh seringaian Otogi.
"Bagaimana, Sensei? Suka?" seringainya jahat, dilanjutkan dengan melumat-lumat bibir itu, terus menyerang hingga lidah mereka saling berperang di dalamnya. Otogi, dengan segenap tenaganya menaklukkan lidah korban di bawahnya, berusaha membawa ke dalam ritmenya, higga terdengar suara berdecak berkali-kali.
"Membosankan…."
Otogi menjauh dari sang sensei, beberapa langkah, kembali meraih tas yang tergeletak tak jauh darinya.
"Brengsek, Lepaskan aku, murid sial!" cela Karita-sensei. Namun ia tahu, Otogi tidak akan mendengarkan perkataannya barusan, seiring seringai jahat—dan mesum—itu semakin lebar mengembang. Kali ini ia mengeluarkan sebuah benda asing, lalu mendekati Karita-sensei dengan penuh aura yang tak bisa diartikan.
"Sensei sudah pasti tahu benda ini, kan?" katanya, menekankan suaranya. Karita-sensei membelalak, matanya membulat ketika Otogi memasukkan benda asing itu ke dalam tubuhnya. Mendorong kuat hingga terasa sakit.
"Pelanggaran ke empat, membawa benda-benda asing dan terlarang ini ke sekolah," cengir Otogi semakin lebar, langsung menghidupkan tombol kontrol yang ada di tangannya. Karita-sensei tersedak, dirasanya benda itu bergetar di dalam tubuhnya, memberikan sensasi nikmat—namun sekaligus tidak nyaman. Di atasnya, Otogi masih terus membelai, lalu mengecup seluruh permukaan tubuh itu, memberi tanda merah di beberapa tempat—bukan menandai Karita-sensei sebagai miliknya, namun lebih berhasrat mempermalukan sang guru dengan banyaknya tanda yang ia torehkan.
"Aaah, Otogi, Ahh-!"
Lenguhan dan erangan semakin terdengar panjang, namun penuh nafsu. Tangan lihai otogi masih membelai, lalu memainkan titik sensitif di bawah sana. Diremas, dan digenggam erat, lalu dipijat dengan begitu kasar.
"Bagaimana? Nikmat bukan?" ujarnya penuh tawa kemenangan.
"Otogi! Aah-! Aahn-!"
Seluruh hasrat panas itu kian membuncah, seakan meledak dalam diri Karita ketika mulut hangat Otogi menggantikan permainan tangan itu. Mengecup, mengisap, sekaligus juga menggigit-gigit kecil milik Karita-sensei. Otogi tertawa kecil ketika melihat milik sang sensei tampah sudah begitu tegak akan rangsangannya, pasti sebentar lagi akan mengucurkan likuid hangat dengan amat kuat.
"It's show time, Karita-sensei, kita lihat seberapa kuat sensei menahannya," selarik kalimat Otogi, penuh nafsu. Karita sensei dapat melihat bagaimana Otogi melepas semua pakaiannya, melemparnya ke sembarang arah, lalu memosisikan dirinya masuk ke dalam tubuh kekar itu. Satu sentakan, dan Otogi masuk dengan begitu lancar, membuat yang di bawah berteriak kesakitan.
"Otogi hentikan!"
Sang pendominasi menyeringai puas. Diliriknya Karita-sensei yang semakin lama semakin menyuarakan erangan-erangan sensual, "Kau suka 'kan, Sensei? Ya, kan?" Otogi bergerak-gerak, keluar masuk, mempercepat ritmenya untuk memasuki tubuh besar itu, ia fokus, mencari titik sensitif dari sang guru BK dan tersenyum sadis ketika Karita-sensei mengerang keras sambil melengkungkan punggung. Ia mulai hantam titik itu berkali-kali, sampai semuanya terasa lemas.
Cairan kental nan hangat itu menyembur, membasahi perut Otogi sekaligus lantai ruangan. Otogi tertawa puas. Dilepaskannya benda asing dan ikatan-ikatan yang membelit pergelangan tangan dan Kaki Karita-Sensei. Perlahan, dilemparkannya balik baju-baju untuk dipakai.
"Bagaimana, Sensei? Apa saya diskors? Sudah berapa pelanggaran saya tadi, ya? Ah, saya memang murid yang nakal dan tidak beradab. Salahkan emosi… dan hormon—ahem."
Karita-sensei tak berbicara apa-apa, namun ia hanya maju selangkah, melayangkan pukulan telak ke pipi Otogi, hingga sang murid jatuh terduduk. Dengan cepat memakai pakaiannya, Karita-sensei berlari keluar. Lari pulang menuju rumahnya tanpa mempedulikan Otogi yang kini duduk di atas meja kerjanya, seraya mengusap pipi sambil tertawa.
"One hit kill, Sensei~!"
=== Ende ===
.
.
.
Next On...
Karita x Zork
A/N:
Hai semuaaaa. Ratu Galau di sini x"D apa kabar? Maaf lama soalnya saya sedang didera dilemma cinta—oops, bukan, masalah :") jadinya ya… gitu-/dukk
Ngomong-ngomong setelah lima tahun menulis, ini karya lemoh pertama saya hahahaha. Jadi maaf gak ngefeels atau apalah ya. Saya ini hanya anak polos(?) yang demen baca lemon tapi gak bisa nulisnya *bangga* *sesat* oh iya, sekaligus ini fanfiksi pertama saya di awal tahun 2014 ini.
Dan… iyaph~ pairnya adalah Otogi/Karita. Sang Guru BK yang di jilid entah berapa sempat menegur Bakura karena rambut doi panjang. Eh tapi bener kan, Karita Sensei guru BK? O_O
Dan terima kasih buat mai special (emak) husband, Ferra Rii yang udah rela saya berodol petuah gimana caranya bikin lemon jadi indah dan mengasyikkan *woii* sampai saya minta rant lemon biar dapet inspirasi. Really Apreciate it mak 8"D maafkan anakmu yang abal ini 8"""D
Daaaaaaaaaan…. Kita sudah tahu siapa yang akan membuat babak akhir kita menjadi indaaaaah~ mari sambut, Widzilla. Ganbatte buat chapter akhir yang begitu bombasti dan menghentak, Mbak! Aku menantikannya.
Selamat berjuang Mbak Wid. *peluk-cium*
Salam. Aya /Ratu Galau.
Last standing author:
Widzilla
