.
Estafet
Yu Gi Oh © Takahashi Kazuki
.
Chapter 11: Nightmare
Pairing: Karita x Zork
Warning: ... (silahkan berdelusi sendiri)
kalo kata Dewi Persik sih ini "Mimpi Manis"
By: Widzilla (id: 1217050)
.
.
.
Kegelapan tengah mewarnai langit malam.
Sunyi senyap, bertabur bintang dan berhiaskan angin lembut menina bobokkan para manusia yang terbaring lelap di tempat tidur mereka.
Namun, sebuah raungan keras terdengar dari sebuah gedung sekolah di Domino City.
Konon, gedung sekolah di malam hari biasanya membukakan pintu bagi makhluk-makhluk dari alam lain. Meramaikan suasana sepi di malam hari. Beberapa orang percaya akan keberadaan makhluk lain yang berjalan-jalan dan melakukan aktifitas mereka di malam hari…
Suara-suara erangan, gesekan, raungan, dan suara-suara basah menggema di sebuah ruang kelas yang gelap. Seseorang menyodok-nyodokkan alat vitalnya pada sang korban yang tengah berbaring di atas meja. Seringai kejam di wajahnya serta auranya yang penuh dengan nafsu dan amarah seakan mengendalikan tubuh sang manusia untuk melakukan hal yang tidak senonoh pada 'makhluk lain'. Air mani dan lendir mengalir di meja tempat tumpuan tubuh besar seorang… monster?
Entah sejak kapan seorang manusia melakukan hal tak senonoh itu pada monster di hadapannya.
Manusia yang dikenal sebagai guru di sekolah tersebut, Karita-sensei. Seorang guru yang kini bertugas berjaga di sekolahan pada jam malam.
Seiring raungan sang monster, ingatan guru itu kembali perlahan mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu seekor monster di hadapannya yang sedang berjalan di lorong sekolah yang gelap.
Pada awalnya ada ketakutan dalam diri dan sorot mata sang guru melihat monster tersebut. Namun perlahan tapi pasti, dia ingat siapa monster itu…
Monster yang pernah muncul dalam game salah satu muridnya. Murid berambut putih albino yang telah membuatnya terjebak dalam permainan bocah bersama Yugi dan kawan-kawan.
Harga dirinya bagai hancur jika mengingatnya. Dirinya, dijadikan sebuah pion permainan.
Dalam ingatannya monster itu berukuran lebih besar entah dua atau tiga kalinya. Namun kini entah mulai dari mana akhirnya ia 'menyiksa' monster yang seukuran dirinya sekarang ini.
Bagaimana tidak amarahnya bergejolak kembali ketika sang monster mencegatnya di lorong sekolah yang gelap dan membuatnya kembali teringat akan hinaan terbesar dalam hidupnya itu.
Suara tawa dan hinaan para muridnya yang tertawa ketika bermain game, dan juga perlakuan Otogi yang sudah merendahkan dirinya. Semua terngiang di kepala Karita-sensei. Kuping dan kepalanya memanas. Otaknya tak lagi bisa berpikir bersih.
Nafsu dan amarah manusia kadang lebih hebat dari apapun.
Kesadarannya kini membawa dirinya kembali, melihat monster tersebut terbaring dan tersiksa di hadapannya. Namun kesadarannya sebagai manusia belum kembali, ia masih terus melakukan penyiksaan tersebut.
"Kau merasakannya, hah…? Hinaan-hinaan yang mereka tujukan padaku…?"
Tubuh monster tersebut menggeliat penuh nafsu seiring mengalirnya cairan sperma di dalam tubuh yang dialirkan oleh Karita.
Penisnya keluar dari lubang dan menyisakan cairan begitu banyak. Tangan kanan sang guru mulai memasuki lubang di mana cairan lembek keluar dari tubuh monster yang mengerang keras.
"Kau yang pernah membuatku terjebak di permainan bodoh itu… murid-murid ingusan yang selalu menghina dan tak menurut padaku…"
Permainan jemari Karita-sensei dalam lubang membuat cairan sang monster keluar lebih banyak dan suara raungan terdengar semakin keras bagai tersiksa. Tanpa ampun, Karita-sensei memasukkan tangannya lebih dalam. Menggerak-gerakkan jemarinya kasar.
Sang monster tak lagi meraung, tenaga yang terdapat dalam tubuh besar itu bagai nyaris habis.
"Kalian manusia… sungguh… tak pernah bisa ditebak…" suara sang monster yang akhirnya berbicara menggema bagai angin berat di ruangan kelas.
Perlahan cairan yang mengalir dari lubang sang monster mengalir hingga membanjiri kakinya. Tak lama justru tubuh sang monster yang lemah tersebut Nampak turut meleleh.
Karita-sensei menarik tubuhnya ke belakang terkejut melihat monster itu meleleh dan berubah menjadi asap, memenuhi ruangan kelas.
Makin lama makin menghilang. Asap tersebut juga semakin menipis.
Pada akhirnya Karita-sensei menyadari apa yang telah ia lakukan tadi. Dengan pikiran kacau ia meninggalkan sekolah buru-buru seiring matahari terbit menyinari bumi.
Yugi duduk di bangkunya dekat jendela, sambil menyapa Honda dan Anzu yang berjalan mendekat.
"Pagi, semuanya… Sudah mengerjakan PR?" tanya Anzu. Yugi dan Honda hanya cengar-cengir menunjukkan buku PR mereka yang nampaknya dijawab ngawur karena kesulitan mencari jawaban. Anzu hanya geleng-geleng.
Tak lama, muncul Jounouchi yang berwajah pucat dan nampak lebih pendiam dari biasanya.
"Jounouchi-kun, kau kelihatan tak sehat… Ada apa?" Yugi mendekati Jounouchi diikuti Anzu dan Honda yang juga nampak khawatir pada temannya itu.
"… Kalian… gak bakal percaya apa yang kualami semalaman…" wajah Jou semakin pucat.
"Semalam… aku baru ingat ketinggalan buku PR yang harus dikumpulkan minggu depan… sedangkan aku belum menulis hasil penelitian kita yang sudah dikerjakan sebelumnya… Jadi aku ke sekolah tadi malam…" Jounouchi terduduk lemas di bangkunya. Ia kembali melanjutkan.
"Lalu… semalam aku… mendengar sesuatu di lorong… Seperti suara monster… meraung keras… semakin keras… semakin keras… Aku sama sekali tak berani mencari apa itu… jadi aku berlari keluar sekolah dan bersembunyi di bawah selimut begitu sampai di rumah… tidak jadi mengambil buku PRku…"
Semua temannya terdiam. "Kamu mimpi kali…"
"NGGAK! SUMPAH!"
Tiba-tiba Bakura masuk kelas sambil celingukan melihat-lihat ke dalam laci mejanya.
"Eh! Ketemuuuu!"
Yugi dan yang lain heran melihat albino tersebut merogoh-rogoh lacinya, tapi akhirnya tampang mereka berubah horror ketika melihat Ryou Bakura mengalungi Sennen Ring di lehernya.
"OPO KUWI LAH DENENG DI LACIMU? DIGONDOL MALING APA? (apa itu kok di lacimu? Dicuri maling apa?)" Yugi tereak-tereak dengan logat Nagoya.
"Ooh, ini kemarin ketinggalan di sekolah… kemaren kucari-cari, ternyata di sini…"
Yugi cs tepok muka mendengar pernyataan polos Ryou. Bisa-bisanya benda sepenting itu ketinggalan di sekolah. Jonouchi jadi mikir, jangan-jangan suara monster yang di dengarnya itu ada hubungannya dengan…
"Selamat pagi, anak-anak…"
Akhirnya keburu masuk kelas. Tapi Jounouchi masih kepikiran aja sampai pulang sekolah…
…
Dan buku PRnya tertinggal kembali di sekolah.
Sembari memencet nomor telepon Yugi, Jounouchi berharap teman-temannya mau menemaninya mengambil buku PR di sekolah.
=== Ende ===
.
.
.
A/N
Akhirnya kelar juga setelah berbulan-bulan =_=; Nyaris terbengkalai karena kegiatan sudah nggak memungkinkan untuk maen-maen lagi… oTL sedih sayaaa. Padahal masih pingin maen di fandom2 tercinta ;;A;;
Ini sebenernya udah kelar agak lama… mau kirim ke chima, tapi kok gak bisa2… sampe akhirnya bisa hubungin kuo, ternyata daku salah ngetik alamat e-mail dooooong =)))
Maafkan saya semuanya… itu salah ngetik garis dan underscore doing plis… pantes gak kekirim =))
Dan sempet 3 kali fic ini hilang, karena komputer bermasalah, saya gak back up di usb gegara itu khusus buat perkuliahan doang oTL
Berlanjut tiap berniat mau ngetik ini fic, computer ngehang dan harus 3 kali dibawa ke reparasi komputer. Makanya jadi kepikiran, ini jangan2 kena kutuk zork ato ratu mesir… #maapkar #duk
Jadi sempet takut juga mau nerusin… =))))
Ini nerusin pas bulan puasa malah. Plis. Puasa. Tolong yah… =))))
PS :
Dengan ini dinyatakan fanfic Estafet TIDAK TAMAT! :)))))))))))
silahkan kembali ke Chapter 1 HAHAHAHAHAHA! :)))))))
