Andromeda
.
.
.
Author : Halllooooooo, minnaaa-saann! (teriak pake toa)
Aku coba baca tulisan-tulisan lama sama tulisan yang 3 bulan terakhir aku ketik, ternyata beda banget! Sekarang terkesan lebih serius, dengan bahasa belibet to the max. Yahh, sekarang sedang mengumpulkan mood untuk bahasa sederhana dengan humor nyelap sana-sini. Susah! Masalahnya 'kan 3 bulan terakhir, aku jarang buat masalah (jangan ditiru dimanapun minna-san berada). Bukan kayak dulu waktu semester satu..
Ah, nggak usah dibanyakin bacotnya! Langsung aja!
.
.
.
Warnings! : AU, OOC, OOT, MISSTYPO(S), TYPO(S), MINI ROMANCE (nggak yakin) KaitoMiku, bahasa alay berantakan.
Disclaimer : Vocaloid and the character belongs to Yamaha. Kalo ada karakter fandom lain nyelap di fanfik ini, karakter itu punya yang empunya. Fanfic ini 100000% milik BakArisa si author nista yang hobi bikin masalah dan menyelesaikan masalah!
Summary : Update chapter 2! Miku trauma! Kaito juga ingat kejadian 2 tahun lalu! Miku dan Kaito akan mengalami musim panas terseru! Apa yang terjadi selanjutnya? *ditampar bolak-balik*/"Siapa yang kau panggil pendek?/"Si cabe narsis cari ribut denganku."/Enjoy it, minna-san! Jangan lupa review-nya!
NOTE :
Hatsune Miku : Andromeda
Shion Kaito : Perseus
Shion Akaito : Finius
Zatsune Zeito : Ares
YohioLOID : Zeus
Aoki Lapis : Aprodhite
DLDR! Happy Reading, minna-san! \(^_^)/
Andromeda
.
.
.
.
Seringai muncul di bibir pemuda berambut biru laut dengan warna mata senada itu.
"Aku menemukan Putri Andromedaku," katanya masih menyeringai. Dia membayangkan jika si penelepon melihat seringainya. Matanya tak bisa lepas dari gadis berambut tosca yang tengah berbaring di tempat tidur UKS di sampingnya.
"Kapan kau bisa bawa dia?"
"Lusa nanti. Aku masih cuti, 'kan?"
"Jika kau ingin kembali ke Olympus secepatnya, aku akan menerimamu."
"Huh,"
"Haha, pokoknya selama sisa masa cutimu, kau harus menemukan wanita pengganti Athena."
"Kenapa tak menyuruh Artemis?"
"Maksudmu SeeU?"
"Siapapun itu," jawab Kaito cuek.
"Dia tak bisa diharapkan," sahutnya. "Kuharap kau kembali ke Olympus dengan wanita baru dan Andromedamu."
"Tentunya, Zeus."
.
.
.
.
(Kaito POV)
.
.
.
"Tentunya, Zeus." ucapku dan sambungan pun diputus. Aku memasukkan ponselku ke dalam saku.
'Miku mau tidak 'ya ikut ke Olympus?' pikirku.
'Keluar kau, bajingan!' kalimat itu bergema di kepalaku. Aku mengacak rambutku frustasi.
'Temukan Kaiko! Kau tak boleh pulang sampai kau menemukan Kaiko, dasar tidak berguna!'
'Ini salahmu maka Kaiko pergi dari rumah! Seharusnya kau sadar diri, kau itu cuma anak pungut di keluarga Shion!'
'Kaiko pergi karena kau menyuruhnya melacur untuk membiayai hidupmu yang sengsara itu!'
Kalimat-kalimat yang waktu itu dilemparkan padaku membuatku frustasi.
Ya, Kaiko, Shion Kaiko lebih tepatnya, adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga Shion. Dia memiliki adik Shion Akaito angkat, musuh terberatku, dan juga aku.
Kaiko pergi entah kemana tanpa kuketahui alasannya. Umur Kaiko saat menghilang dua tahun lalu adalah 23 tahun. Kupikir dia cukup dewasa untuk pergi kemana-mana tanpa memberitahu alasannya pada siapapun. Kupikir tak ada salahnya kalau dia pergi seharian toh dia akan pulang.
Sehari dia tak pulang, aku masih belum khawatir. Mungkin saja 'kan dia menginap di rumah temannya.
Dua hari berselang, bukannya Kaiko yang pulang melainkan aku kedatangan tamu tidak diundang. Keluarga Shion mendatangiku dan memukuliku habis-habisan. Mereka mengguyurku dengan bensin dan itu hampir saja membakarku hidup-hidup kalau saja aku tak kabur saat mereka kebingungan mencari pemantik.
"Sshh," aku meringis. Bekas hantaman kursi di kepalaku begitu sakit dan membawaku kembali ke dunia nyata. Kejadian dua tahun lalu masih membekas di ingatanku..
"..Kaito.." panggil Miku lemah. Aku menengok ke arahnya. "Sekarang jam berapa?"
"Entahlah. Kau merasa baikan?" tanyaku sambil membantunya duduk.
Dia melihat ke arah lengan kemejaku yang terkoyak oleh kukunya.
"Ma-maafkan aku," katanya sambil menunduk.
"Untuk apa?"
"Maafkan aku karena telah melukaimu. Akan kubersihkan lukamu dulu." dia beranjak dari tempat tidur dan mengambil kunci di balik pintu.
Ternyata kunci itu adalah kunci untuk membuka lemari obat. Dia mengambil kotak P3K dan mulai mengobatiku.
"Perasaan aku nggak ada menghantam kepalamu," katanya sambil membersihkan darah di keningku. "Lalu apa yang terjadi pada kursi tunggu UKS?"
"Temanmu menghajarku dengan kursi tunggu itu. A-aduh, pelan-pelan dong," jawabku sambil meringis kala Miku memasangkan kassa untuk melindungi robek di keningku dan meneteskannya dengan obat merah.
"Temanku?"
"Si cewek kuning dengan badan pendek itu."
SREETTT! Tirai pemisah tersibak.
"Siapa yang kau panggil pendek?!" protes Rin sambil melayangkan sepatu ke arah kepalaku. Dengan sigap aku menangkap sepatu itu dan melemparnya ke atas lemari.
"Apa-apaan kau itu?! Lekas ambil!" titah Rin sambil bersedekap.
"Itu sepatumu 'kan? Jadi, kau sendiri yang harus mengambilnya," jawabku cuek. "Ayo Miku, kita makan ice cream. Hari ini kau bebas milih."
"Yatta!" seru Miku sambil meletakkan kotak P3K di lemari dan menguncinya.
Aku keluar dari UKS diikuti Miku.
"Ups, tunggu sebentar." Aku berbalik menuju UKS. Disitu Rin belum beranjak dari tempat tidurnya. Masih bersidekap kesal sambil menggembungkan pipinya.
"Heh, bersihkan ruangan ini. Kau mau dimarahi Ketua Kedisiplinan, hah? Jaa nee."
Rin bengong. "BAKAITO!" teriaknya menggelegar.
.
.
.
(Normal POV)
.
.
.
Kaito kembali ke kelasnya untuk mengambil tas begitu pun dengan Miku.
"Akan kutunggu kau di halaman sekolah." kata Kaito sambil menaiki tangga.
"Oke!" balas Miku sambil berlari ke kelasnya.
Sesampainya di lantai 3, lantai khusus kelas 3, Kaito berjalan menuju kelasnya.
Kaito mendorong pintu kelasnya kasar lalu membereskan peralatan tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas. Diluar, langit telah bersemu merah, menandakan bahwa hari sudah senja.
Kaito menyandang tasnya dan berjalan keluar kelas.
"Perseus,"
Kaito berbalik menatap pemuda berambut merah dengan pandangan sinis.
"Punya masalah dengan kode-ku, Akaito, atau harus kusebut, Finius?" balas Kaito sinis.
Akaito menyandarkan punggungnya pada tembok sambil tertawa sarkastik.
"Punya masalah dengan kode-ku, Akaito?" beonya lalu tertawa. "Tentunya punya, idiot!"
Kaito melengos pergi, mengacuhkan saudaranya, Akaito.
"Kudengar kau telah menemukan Andromeda." kata Akaito lagi.
"Kalau iya, kau mau merebutnya dariku seperti yang ada di mitologi?" balas Kaito sambil terus berjalan. "Kau menginginkan cerita ini seperti mitologi?"
"Nggak juga, tapi aku ingin kau pergi dari sini."
"Apa hakmu?"
"Tidak ada~" jawab Akaito enteng. "Aku hanya tidak suka dengan anak pungut sepertimu."
Kaito berhenti melangkahkan kakinya. "Kalau bicara pikirkan dulu, idiot." Lalu berlari menuruni tangga.
Kalimat itu sangat menohok bagi Akaito, yang notabenenya juga anak angkat di keluarga Shion.
Di bawah tangga Miku sedang menunggunya. "Kenapa lama sekali?"
"Si cabe narsis cari ribut denganku," jawab Kaito. "Bukankah tadi kubilang kita bertemu di halaman?"
"Aku takut,"
Kaito memandang gadis yang sedang berjalan di sampingnya. "Takut dengan apa?"
"Beberapa pembunuh bayaran masih mengincarku."
"Pembunuh bayaran?"
"Iya, waktu itu aku membuat Mikuo-nii hilang lalu keluargaku menunjuk beberapa pembunuh bayaran untuk membunuhku."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Kaito penasaran.
"Aku nggak mau menceritakannya." jawab Miku sambil membuang muka. Ingatan itu terlalu menyakitkan dan menyedihkan untuk diingat.
"Maaf," kata Kaito.
Mereka sampai di loker sepatu dan mulai mengganti sepatu mereka. Kaito menyimpan sepatunya dan menarik laci yang dibuat untuk barang rahasianya. Dia mengeluarkan sebuah jaket tipis berwarna biru dan mengenakannya.
"Sudah selesai belum?" tanya Miku di belakang Kaito.
"Sudah," Kaito menutup lokernya. "Ayo, sebelum toko ice cream itu penuh."
"Un."
Mereka berjalan beriringan bersama menuju toko ice cream yang berada
beberapa blok dari sekolahnya.
.
.
.
Setelah sampai di toko ice cream langganan Kaito, Kaito memilihkan meja dan menyuruh Miku untuk menunggu di sana.
"Hey, kau mau ice cream rasa apa?" tanya Kaito.
"Terserah kau saja." jawab Miku.
"'Kan sudah kubilang hari ini kau bebas memilih,"
"Kalau begitu aku mau ice cream melon."
"Serius?"
"Sebenarnya aku ingin ice cream rasa negi."
Kaito menarik menu di yang tergeletak di samping meja. "Mereka punya ice cream rasa negi-"
"Aku ingin rasa negi!" seru Miku memotong ucapan Kaito.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Kaito berjalan menuju bar ice cream dan menunggu ice cream pesanannya disiapkan. Miku melirik tas Kaito.
"Perseus?" gumam Miku membaca kartu yang menyembul dari tas Kaito.
Kaito kembali dan melihat Miku sedang terbingung-bingung dengan kartu nama yang sengaja digantungkannya pada cepuk alat tulisnya.
"Kau melihat apa?" tanya Kaito kalem sambil meletakkan ice cream pesanan mereka berdua di meja.
"A-ah, bu-bukan apa-apa. Aku nggak sengaja melihat. Sumpah!" Miku terlonjak sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Kau bingung dengan nama itu, 'ya?" tanya Kaito lagi sambil menyodorkan ice cream rasa negi pada Miku. Miku menerima ice cream tersebut dan mulai memakannya.
"Sebenarnya agak bingung sih. Aku tahu siapa Perseus tapi aku nggak tahu kenapa name tag seperti itu ada dalam tasmu."
"Perseus itu kode untuk namaku." jawab Kaito.
"Kode? Kau agen dari Yunani?" tanya Miku polos. Emangnya muka Kaito mirip orang Yunani? Enggak, 'kan? (Author : Nggak! Dia itu lebih cakep dari siapapun!)
"Bukan begitu," Kaito meletakkan sendok ice creamnya. "Aku perlu memakai name tag itu untuk masuk ke dalam Olympus-"
"Olympus?! Gunung rumahnya dewa-dewi dalam mitologi Yunani itu?!" sembur Miku.
"Olympus yang kumaksud adalah sebuah tempat prostitusi mewah untuk orang kaya di Jepang,"
Miku mengigit sendoknya, berpikir.
'Prostitusi..' pikirnya.
"Tempat prostitusi? Maksudmu kau jadi sex slave di tempat itu?!" sembur Miku lagi, kini nyaris berteriak. Untung toko ice cream itu lumayan ribut jadi suara Miku tak begitu kedengaran. Walapun begitu beberapa dari pengunjung mengalihkan pandangan mereka dan menatap sepasang manusia ini.
"Dengarkan aku, aku kerja disitu cuma sebagai pengantar minuman. Mana mau aku jadi sex slave disana. Mengerikan. Lagipula, aku nggak punya keterbelakangan seksual. Aku 1000% normal."
"Lalu kenapa kau harus kerja di tempat seperti itu? Banyak cafe di sekitar sini kekurangan pekerja."
"Itu karena aku harus mencari kakakku."
Kakak? Rupanya mereka berdua punya masalah dengan saudara yang sedikit lebih tua itu, 'ya?
Kaito mengeluarkan semacam GPS berukuran 7 inchi dan memperlihatkannya pada Miku. "Kau lihat titik berwarna merah itu?"
Miku menggangguk.
"Itu adalah sinyal yang mungkin merupakan milik Kaiko, kakakku, dan sinyal itu berasal dari Olympus."
Miku membulatkan mulutnya dan bergumam "oh" sambil mengangguk.
"Miku, kau bilang kau ingin merasakan pulang sore. Memangnya kau nggak takut dimarahi orang tuamu?"
"Orang tuaku tidak tahu dimana aku tinggal. Aku tinggal dengan bibiku yang sekarang pergi ke luar negeri."
Kaito menjentikkan jarinya dan menarik tangan Miku.
"Miku, kumohon jadilah Andromedaku!" kata Kaito sambil menggenggam tangan Miku erat.
Miku blushing.
Dia memikirkan arti perkataan Kaito barusan..
.
.
Loading (10%)...
Loading (35%)...
Loading (75%)...
Buffering (85%)...
Loading (100%)..
Connection Activated!
Data archived!
.
.
'Aku ditembak?!' teriak dalam hatinya. Jantungnya serasa berhenti berdetak dan tubuhnya terasa beku (Author : Itu yang aku rasain waktu ditembak *muka cuek* #curcol).
"A-Andromeda?" tanya Miku malu-malu.
"Iya. Kalau dalam mitologi Yunani, Andromeda itu istri Perseus. Aku Perseus dan kau akan menjadi Andromedaku,"
'Dia serius nembak gue?!' teriaknya lagi, masih dalam hati.
"Ta-ta-ta-ta-tapi 'kan..." gagap Miku saking malunya. Jantungnya berdetak lebih-lebih-lebih kencang lagi. Menurut Miku, wajahnya kini benar-benar merah, bahkan lebih merah daripada rok anak SD. Tapi terkutuklah ketidakpekaan Kaito yang tidak menyadari warna merah pada sekujur pipi Miku itu.
Kaito adalah laki-laki yang tingkat kepekaannya sangat rendah-Hatsune Miku's quote.
"Kita akan menjadi partner yang hebat. Kita akan hancurkan Olympus. Disana telah terjadi pembunuhan besar-besaran dan kita perlu menghentikannya!" seru Kaito.
*suara video kaset di-previous*
Miku berhenti blushing. Jantungnya berdetak normal dan ingin sekali menghilang saat itu. Malu banget. Kelewat malu malah!
"O-oh, partner, 'ya? Kupikir apa..." Miku agak kecewa. Dia mengusap wajahnya.
Beruntung karena Kaito kurang peka, Kaito tidak ambil pusing soal kalimat Miku yang terakhir itu.
"Jadi, kau mau jadi Andromedaku?" tanya Kaito memastikan.
'Hmm, mengusut pembunuhan? Mungkin ini akan menjadi musim panas terseru!' pikirnya.
"Ya!" jawab Miku bersemangat.
"Aku akan berkunjung ke rumahmu besok. Kita akan merencanakan rencana 'penggrebekan' besok."
"Oke, Kapten!"
Mereka menghabiskan ice cream mereka sambil bercanda.
'Musim panas yang seru akan dimulai!' pikir Miku senang.
.
.
.
.
[SKIP TIME.
TIME : 08.30 A.M
PLACE : VOCAVOCA STORE]
.
.
.
Miku sibuk berkeliling di toko serba ada. Dia memilih makanan-makanan apa saja yang bisa lolos untuk masuk ke dalam kulkasnya di rumah. Setelah keranjang belanjaannya penuh, dia pergi ke kasir dan membayarnya. Dia berjalan keluar dari toko serba ada tersebut sambil menenteng kantong belanjaannya dan memakan ice cream batangan rasa negi kesukaannya. Kepalanya sesekali menegok ke belakang, takut dibuntuti.
Di perjalanan pulang, dia bersenandung kecil mengikuti irama yang dikeluarkan oleh earphone yang disambung ke handphone-nya.
Miku berbelok, sebentar lagi dia akan sampai di rumahnya. Di sudut jalan tersebut terlihat dua orang pemuda sedang beradu mulut. Miku melepas sebelah headset-nya lalu menyipitkan mata, berusaha mengenali siapa orang di balik hoodie hitam jaket dan kacamata hitam pada lawannya.
'Kaito dan Akaito-senpai?' gumam Miku.
Miku bingung. Entah apa yang ingin dilakukannya. Haruskan dia melerai dua saudara itu? Atau meninggalkannya begitu saja, mencari jalan pulang yang lain?
Miku menjatuhkan belanjaannya ketika laki-laki berkacamata hitam, Akaito, mengunci lehernya dan belakang. Ada pula pisau yang terarah di perutnya.
"Tahunya main perempuan," ledek Kaito. "Lepaskan dia."
Tak sorot mata khusus dalam mata Kaito. Tatapan datar maksimal.
"Ada syaratnya,"
"Jika itu soal aku mundur dari pencarian Nee-san, maka aku bilang tidak." jawab Kaito.
Ujung pisau itu telah terasa di kulit perut Miku. Miku gemetaran. Matanya memohon pertolongan pada Kaito. Lidahnya kelu. Dia ingin sekali berteriak tapi tak bisa. Suaranya tercekat.
"Lepaskan dia," kata Kaito lagi. "anak pungut."
Amarah Akaito meledak. Dia menghempaskan Miku, membuat kepala gadis berambut toska itu menabrak tembok.
Akaito menggila. Tangannya liar berusaha menusuk Kaito dengan pisau lipatnya tapi beruntung Kaito memiliki refleks yang sangat bagus. Beberapa serangan berhasil dihindarinya mudah.
Miku mengelus kepalanya yang terasa sakit. Kantung belanjaannya tergeletak berantakan karena diinjak Akaito. Melihat Kaito dalam bahaya, Miku segera menarik kantung kresek berwarna abu-abu itu dan membungkuskannya (?) ke kepala Akaito.
Gerakan Akaito yang berusaha menikam Kaito terhenti. Dia sibuk mencari cara untuk mengeluarkan kepalanya dari kantung kresek. Kaito merebut pisau lipat tersebut dan menendang perut Akaito dan menarik tangan Miku untuk menjauh.
Mereka berlari tak tentu arah. Lama mereka berlari. Rasanya jauh sekali. Miku menarik tangan Kaito, memintanya untuk berhenti membimbingnya berlari.
Kaito berhenti ketika tangan gadis itu menarik tangannya. Napas mereka berdua terengah. Kaito memegang kedua lututnya.
"Kaito.. hosh... rumahku.. sudah.. kelewatan!" seru Miku terengah-engah.
"Aku.. tahu.." jawab Kaito juga terengah-engah. "Ayo kita kembali.."
Miku mengangguk sambil balik kanan bersama Kaito.
"Kaito," panggil Miku.
"Apa?" sahut Kaito sambil memandang adik kelasnya itu.
"Kenapa Akaito-senpai mengamuk ketika kau sebut," Miku menelan ludahnya. "anak pungut?"
"Kami berdua diadopsi oleh keluarga Shion berkat Kaiko-nee," jawab Kaito.
"Seperti Kido, Kano, Seto di KagePro, 'ya?"
"Kenapa kita malah ngomongin karakter dari fandom tetangga?"
"Chapter kemarin juga kau menebak mendiang Nekomura-san dengan karakter KagePro!"
Kaito nyengir. Miku mengerucutkan bibirnya. Ceritanya sih, manyun. Tapi entah kenapa orang yang lihat justru menganggap Miku dan Kaito hendak berciuman. Tolong abaikan.
"Jadi, kau dan Akaito-senpai anak angkat di Shion?"
Kaito mengangguk. "Sebenarnya, ayah kami berasal dari keluarga Shion. Ayah kami menikah dengan ibu kami. Beberapa bulan kemudian, ibu kami dikabarkan hamil. Disaat kabar bahagia itu sampai, ibu kami mengaku bahwa keesokan harinya setelah ayah dan ibu kami melakukan 'if you know what I mean', dia diperkosa.
"Sembilan bulan sepuluh hari kemudian, tanggal 17 Februari, kami berdua datang ke dunia ini. Keluarga Shion rupanya telah mendengar bahwa ibuku pernah diperkosa oleh orang lain, merasa malu. Mereka tak menganggap kami berdua sebagai keluarga Shion. Mereka tak jelas anak siapa, kata mereka,"
Miku tersentak. Kejam sekali, pikirnya.
"Saat kami berumur dua tahun, orang tua kami mengalami kecelakaan dan meninggal. Ingat bahwa kami tak dianggap sebagai keluarga Shion? Maka setelah pemakaman orang tua kami, nenek kami membuang kami ke panti asuhan.
"4 tahun kemudian, saat sekolah Kaiko-nee mengadakan bakti sosial ke panti asuhan kami, Kaiko-nee menemukan kami. Dia meminta orang tuanya untuk mengadopsi kami dan orang tuanya menyetujui untuk mengadopsi kami. Maka kami pun kembali ke lingkungan keluarga Shion."
Miku menatap kakak kelas seumurannya itu sedih. Mata blue ocean milik Kaito terlihat menerawang ke masa lalunya.
"Setelah delapan tahun bersama Kaiko-nee juga keluarga Shion, Kaiko-nee mengajak kami berdua untuk tinggal di apartemen yang disewanya. Dia ingin hidup mandiri. Akaito tidak mau ikut dengan Kaiko-nee untuk pindah ke apartemen yang disewa Nee-san. Akaito memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Baa-san. Lagipula, Akaito tidak suka dengan cara hidup Kaiko-nee. Gadis bodoh yang urakan, katanya.
"Aku memutuskan untuk ikut dengan Kaiko-nee karena aku tahu, aku tidak disukai oleh seluruh Shion, kecuali Kaiko-nee, karena aku dan Kaiko-nee memiliki kemampuan yang normal. Akaito berbanding terbalik dengan kami. Dia, berat tapi aku harus mengakuinya, dia itu sangat pintar. Saat TK dia sudah pandai membaca dan menulis kanji. Menyebalkan. Keluarga Shion meyakini bahwa buah dari si pemerkosa itu adalah aku. Bisa dilihat dari kemampuan otakku yang normal dan kemampuanku yang biasa-biasa saja.
"Dua tahun lalu, entah bagaimana caranya, mereka mendapatkan info bahwa Kaiko-nee sedang melacur di Olympus. Mereka memukuliku habis-habisan dan hampir saja membakarku,"
"Kau? Dibakar?" tanya Miku kaget. Matanya membulat dan badannya menggigil, ngeri. Miku membayangkan rasanya dibakar.
"Ya, nyaris saja. Aku bersyukur punya refleks yang bagus dan kecepatan lari luar biasa. Saat mereka kebingungan mencari pemantik untuk membakarku, aku mengambil langkah seribu dengan badan yang dibasahi bensin.
"Selama empat hari aku hidup digorong-gorong bersembunyi dari pembunuh bermarga Shion itu. Di hari kelima aku pulang kembali ke apartemen. Ada sebuah VoiceMail di laptop Nee-san dan aku berhasil melacak darimana sinyal itu. Sinyal itu berasal dari Olympus. Hanya hari itu saja, Nee-san mengirimkan pesan. Setelah VoiceMail itu tak ada kabar lagi. Akaito pun mendapat VoiceMail yang sama dan dia sengaja mengikuti jejakku untuk mencari Nee-san. Dasar penjilat! Dia menginginkan hadiah yang diiming-imingkan oleh keluarga Shion. Dasar busuk!
"Orang dari Olympus mengizinkanku untuk mencari Nee-san di wilayah mereka. Aku tak yakin Nee-san masih hidup. Sudah dua tahun aku mencari dan aku tak bisa menemukannya. Tapi seseorang pernah mendatangiku bahwa aku harus mencari Andromedaku dan aku menemukanmu, Miku."
Miku blushing untuk pertama kalinya untuk hari ini.
"Kau mau 'kan membantuku mencari Nee-san?"
Miku mengangguk. "Untuk balas dendam karena telah merobek kaos kesayanganku."
Kaito tertawa. Melihat Kaito tertawa, Miku juga tertawa.
Lalu dia menatap jalanan di hadapannya, bingung.
"Ngomong-ngomong, Miku. Kita ada dimana?" tanya Kaito sambil celingukan. Pikirannya sama dengan Miku.
Tak ada rumah. Hanya bangunan-bangunan kosong yang usang. Juga kucing-kucing liar dan binatang liar lainnya.
"Rumahku udah kelewatan. Lagi." jawab Miku facepalm. Mereka ngobrol sampe lupa jalan? Dua kali pula. Memalukan.
"Ya sudah. Ayo kita kembali lagi."
Mereka berdua balik kanan dan berjalan menuju rumah Miku. Kini tanpa acara ngobrol panjang-panjang lagi. Mereka kapok. Hanya ada gurauan singkat atau suasana hening yang menemani.
.
.
.
[SKIP TIME.
PLACE : MIKU'S HOUSE]
.
.
.
Miku berjalan ke dapur mengambil beberapa kaleng minuman dingin di kulkas. Lalu dia kembali ke ruang tamu dimana Kaito sedang mengompres bengkak di belakang kepalanya.
Miku menarik tangan Kaito dan perlahan-lahan menyentuh benjol di kepala Kaito.
"Dipukul pakai apa tadi?" tanya Miku.
"Gabungan hantaman kursi si Kuning-Pendek yang kemarin dan balok kayu si Cabe-Narsis. I-ittai, jangan dipegang lama-lama."
Miku mengompres kepala belakang Kaito dengan hati-hati. Perlahan-lahan benjol itu mengempis. Tanpa sengaja Miku melihat sebuah garis kehitaman agak panjang di leher belakang Kaito yang ditutupi syal. Miku menyentuhnya dan Kaito menangkapnya dari belakang. Tangan dingin itu membuat Miku tersentak kaget dan dia melemparkan bungkus es batu-nya.
"Aku nggak sengaja penasaran! Ampuni aku!" seru Miku. Badannya gemetaran. Dia sangat takut.
Kaito melepaskan tangan Miku dan menatap Miku. "Jangan dipegang. Sakit."
Miku mengangguk dan berjalan menuju kursi di seberangnya lalu duduk. Dia membuka satu kaleng minuman dingin itu dan menyesapnya.
"Nah, di Olympus kami, para pekerja, punya batas masing-masing." kata Kaito dengan nada bicara biasa-biasa saja. Dia mengeluarkan selembar karton yang telah digambar dengan denah ruangan di Olympus.
Miku meletakkan minumannya dan mempelajari letak ruangan-ruangan itu.
"Sebagai pelayan aku cuma wilayah disini," Kaito menunjuk sebuah ruangan yang paling besar diantara ruangan-ruangan lain. "Ini ruangan untuk menjamu para orang kaya dengan wanita-wanita. Ruangan-ruangan yang lain, boleh diinjak oleh wanita dan pelayan ruangan. Kalau pelayan minuman, khususnya laki-laki, masuk ke daerah sini, bisa-bisa pelayan tersebut akan ditembak oleh Ares."
"Ares?"
Kaito mengeluarkan sebuah foto. "Zatsune Zeito, nama aslinya."
Miku mengangguk-angguk, paham.
"Ada 50 ruangan untuk melakukan 'itu' dan lebih dari 200 wanita untuk memuaskan orang tua kaya disana. Sebenarnya, aku ingin sekali mencari Kaiko-nee sendirian tapi mengingat ada 500 CCTV di seluruh ruangan, aku nggak mau nyawaku berakhir begitu saja,"
Miku tercengang. 200 wanita penghibur, 500 CCTV, 50 ruangan untuk melakukan 'If You Know What I Mean '.. itu tempat prostitusi raksasa!
"Maka dari itu Miku, aku mengharapkan bantuanmu." sambung Kaito.
"Aku nggak mau jadi sex slave disana," jawab Miku polos yang sukses membuat Kaito menepuk kening sampai tapak tangan merah.
"Sebagai Andromeda kau hanya boleh pergi denganku. Jika kau mau membantuku, aku menjamin keselamatanmu baik fisik dan rohani."
"Jadi, aku akan menjadi pelayan sama sepertimu?"
Kaito mengangagguk. "Betul sekali. Tapi jangakauan wilayahmu untuk mengantarkan minuman jauh lebih luas."
Kaito mengeluarkan sebuah cincin dan menarik tangan Miku. Dia memakaikan cincin dengan hiasan berwarna merah di jari manis Miku.
Miku blushing. Lagi.
"A-a-a-apa-" gagap Miku.
"Ini cincin yang bisa mengirimkan sinyal bahaya. Kalau kau dalam bahaya, kau hanya perlu menekan batunya dan cincin milikku akan berkedip,"
Miku berhenti blushing.. Berapa kali dia dikibulin dengan aksi (nyaris) romantis Kaito sejak mereka berkenalan? Berapa kali?
Miku meniup napasnya dan debar jantungnya kembali normal.
Kaito menekan batu cincin berukuran kecil itu dan cincin yang disembunyikan Kaito di balik syalnya berkedip. Dia menggantung cincin itu sebagai kalung.
"Miku, selama disana kau hanya boleh mengikuti jalan ini," Kaito menggerakkan pensil mekaniknya membentuk sebuah rute perjalanan. "Jangan lewat sini. Disini gudangnya penjahat seks. Bisa-bisa kau diapa-apain." Kaito menggambar tanda 'X' raksasa pada sebuah koridor dengan gambar kotak-kotak yang bisa dipastikan bahwa itu adalah kamar untuk melakukan 'If Know What I Mean '.
"Disana aku harus pakai baju apa?"
Kaito berpikir sebentar lalu menyeringai penuh maksud. "Baju maid seksi berenda plus nekomimi dan ekornya,"
Miku membayang dirinya mengenakan baju seperti yang dikatakan Kaito, plus dengan tampang seduktif menggoda iman dan...
BUAAGGHHH! Miku meninju dan Kaito terpental dari sofa yang didudukinya.
"NGGAK MAU!"
"Aduh.. Aku 'kan cuma bercanda.." Kaito mengusap pipinya sambil kembali ke tempat duduknya. Miku manyun. "Kau punya kemeja putih-"
"Lengan panjang atau pendek?"
"Terserah,"
"Bawahannya?"
"Celana atau rok yang warna hitam. Usahakan di pas di lutut atau di bawah lutut agar penjahat seks di sana nggak menggodamu."
Miku mengangguk. Kaito merapikan denah-denahnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Ngomong-ngomong, apa kau punya foto Kaiko-nee?" tanya Miku meminum kembali minuman kalengnya. Kaito mengangguk dan mengeluarkan sebuah foto wanita berambut biru pendek yang tersenyum.
Miku mengambil foto tersebut.
Jantungnya serasa berhenti berdetak. Manik berwarna gabungan antara hijau dan biru itu membulat.
"Ada apa?" tanya Kaito sambil merebut foto itu dari tangan Miku yang mematung.
Miku mengerjap. Sudah berapa detik dia tak berkedip. Matanya terasa panas.
"Aku pernah ditolong oleh kakakmu, Kaito." gumam Miku yang terdengar oleh telinga Kaito.
"Hah? Kapan? Dimana?" tanya Kaito bertubi-tubi.
"Dua tahun lalu setelah Mikuo-nii hilang di sebuah hotel."
"Bisa ceritakan padaku?"
"Aku nggak mau mengingatnya, terlalu... sakit..." Miku meremas ujung kaosnya.
Kaito tidak memaksa. Dia pun pernah mengalami hal seperti itu.
"Kau tahu, kau orang pertama yang mendengar ceritaku tentang hilangnya Kaiko-nee,"
Miku mendongak. "Apa kau nggak merasa sedih?"
"Beberapa bulan setelah Kaiko-nee hilang, aku belum mau menceritakannya pada siapapun. Kalau dipikir-pikir, bukankah lebih baik menceritakan hal yang mengganjal di hati kita pada orang lain supaya hati kita merasa lega. Aku hanya berpikir begitu.."
Miku merenung. Kaito benar. Nggak ada salahnya dia menceritakan cerita yang sebenarnya, ingatan yang menyakitkan itu, kejadian memilukan dua tahun lalu itu..
Miku menghela napasnya dan menghabiskan minumannya.
.
.
.
Hari menjelang sore, Kaito belum beranjak dari rumah Miku. Dia masih saja sibuk mengurusi 'lorong mana yang aman yang bebas penjahat seks'. Sementara Miku sibuk memainkan gitarnya dan menyanyi.
'Hachigatsu juugonichi no gogo juunijihan kurai koto kenko ga ii~'
Miku bernyanyi salah satu lagu dari belasan judul lagu seri yang kebanyakan dinyanyikan oleh penyanyi dengan nama inisial dua huruf itu. Walaupun ada beberapa lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi software dengan nama yang sama dengan Miku itu.
"Pinjam gitarnya," Kaito merebut gitar dari tangan Miku dan mulai memetiknya.
'Fuyu no nioi.. kaze no koe ni.. mimi o sumasu..
Kikoete kuru.. kimi no koe ga... yasashii uta ga..~'
(Author : Bayangkan Kaito nyanyi lagu Endless Wedge-nya Len)
Miku menaruh kelima jarinya di gitar, menghentikan permainan gitar akustik Kaito.
"Kurasa suaramu nggak cocok untuk menyanyikan lagu sedih dengan nada yang lumayan tinggi seperti itu," komentar Miku.
'Daijoubu daijoubu odokete miseru boku wa' Miku bernyanyi tanpa iringan.
"Chiisana sakasu no na mo naku piero~" Kaito dan Miku menyanyikan lirik yang sama. Kini mereka bernyanyi dengan iringan gitar Kaito.
...
"Hora! Usotsuki piero wa mou kiete inaku natta~"
Kaito menyelesaikan permainan gitarnya dan Miku turun dari atas sofa. Duet yang menyenangkan.
"Aku nggak tahu kalau kita bisa jadi partner nyanyi yang bagus." kata Miku memuji dirinya juga Kaito.
"Untuk ukuran cewek 16 tahun, suaramu lumayan juga." puji Kaito sambil menyimpan gitar Miku dan membereskan denahnya lagi.
"Ho, Miku gitu~" bangga Miku sambil menepuk dada. Mereka berdua tertawa.
"Aku harus pulang-"
"MIKUUU, KENAPA NGGAK MAU BUKA PINTU SIH?!" teriak Rin sambil nyelonong masuk ke rumah Miku. Di belakangnya Len garuk-garuk kepala.
"Rin?" Miku menghampiri sahabatnya itu.
"Oi, oi, aku dan Rin terbawa suasana mendengar duet kalian barusan. Aku nggak tahu kalau kalian punya suara bagus," kata Len. "Walau tak sebagus suaraku~"
"Sombong kau!" balas Kaito sambil menyentil jakun Len yang agak menonjol itu. Len terbatuk sambil memegangi lehernya. Miku mengerucutkan bibirnya, tidak terima dengan kesombongan Len.
"Miku, aku pulang dulu. Rin, Len, Miku, jaa nee~" pamit Kaito sambil melangkah keluar rumah. Terdengar derit pagar Miku dibuka lalu ditutup. Sementara itu...
Rin bengong. Bagaimana Kaito bisa tahu nama pacarnya, Len?
"Len, kenapa dia bisa tahu namamu?" tanya Rin.
"He, aku kerja sambilan di tempat yang sama dengan dia." Len melirik Miku. Miku yang menerima lirikan tersenyum nggak jelas. Ya, Miku tahu kalau saat bekerja di Olympus, Len pun akan jadi partner-nya.
Menyadari lirikan mata Len, Rin berganti menatap Miku. "Kau juga?"
"Eh-oh, aku mau kerja di tempat yang sama." Miku garuk-garuk belakang kupingnya.
Rin menggembungkan pipinya. "Dunia semakin aneh! Apa dunia sedang berkonspirasi melawanku?!"
Len dan Miku tertawa melihat teman/pacar (Len) frustasi.
.
.
.
(Author : Apa aku keterlaluan untuk selalu menuliskan kata SKIP TIME sebanyak lebih dari satu kali? Nggak 'kan?)
.
.
[SKIP TIME
TIME : 05.00 P.M]
.
.
.
Keesokan harinya, di sore hari, Miku dalam perjalanan menuju flat tempat tinggal Kaito. Dia mengenakan sebuah kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, celana panjang yang digulung selutut berwarna hitam dan sepasang sepatu high heels berwarna hitam. Rambut Miku dikuncir satu ke belakang. Oh ya, jangan lupakan topi fedora hitam dan dasi yang disimpul melorot yang melingkari dalam kerah bajunya. Tipe pelayan urakan, hehehe...
Sesampainya di flat pemuda itu, Miku masuk dan meminta izin pada penjaga flat. Miku berjalan menuju kamar flat Kaito yang berada di lantai 2. Pintu berangka 117 itu diketuk beberapa kali namun tak ada jawaban.
Miku mengecek e-mail-nya. Kaito telah berjanji tak akan kemana-mana dan menunggu Miku berkunjung ke flatnya. Miku menekan nomor telepon Kaito dan meneleponnya.. Tak ada jawaban..
Miku kembali ke pos penjaga dan penjaga flat tersebut mengatakan, tak satu pun dari penghuni flat yang ada di gedung itu yang keluar. Mengingat musim panas kali ini sangat-sangat panas.
Miku mendesah.
'Ya sudah, kugunakan cara itu saja..' pikir Miku sambil melangkah kembali menuju gedung flat tersebut.
Dia membaca denah yang di pasang di pintu masuk. 'Kamar 117 berada di atas kamar 107. Mereka semua memiliki balkon. Hmm..'
Miku berlari menuju kamar 107. Miku mengetuk pintu dengan papan kamar berangka '107'.
Seseorang membuka pintunya. Seorang (yang bisa diprediksikan adalah seorang) anak kecil berambut coklat dan mata coklat yang mengenakan t-shirt berwarna biru muda, ditambah jaket tipis berwarna putih tanpa lengan. Kok kayak kenal ya?
"Siapa itu?" tanya orang di dalamnya. Kok kayak kenal ya suaranya?
"Nggak tahu, tante!" jawab bocah itu sambil menutup pintu.
Nggak sopan! Miku menahan pintu dengan kakinya.
"Jangan panggil aku tante, bocah!" seru orang yang di dalamnya.
"A-ano, bolehkan aku ikut ke balkon kalian?" tanya Miku sambil menggaruk kepala belakangnya. Bocah itu memanggil seseorang yang disebut 'Dan-chou' dan kembali lagi.
"Tentu." jawabnya sambil membukakan pintu lebih lebar.
"Arigatou," kata Miku sambil membungkukkan badan. Bocah itu membimbing Miku menuju balkon flat-nya.
Yang namanya Miku, tingkat ke-kepoannya sangat-sangat tinggi. Sambil berjalan menuju balkon Miku mencuri-curi pandang melihat siapa saja yang menghuni flat itu.
Seorang pemuda ber-jersey merah yang tengah ngobrol dengan handphone-nya, seorang cewek berambut cream dengan mata pink yang imut, tiga orang berhoodie dengan warna berbeda dan wanita yang dipanggil 'tante' oleh sang bocah. Kok kayak kenal, 'ya?
"Ini balkonnya." kata bocah itu.
"Ah, arigatou," balas Miku sambil membungkuk lagi. "Tolong sampaikan terima kasihku untuk mereka, 'ya?"
"Hn,"
Miku melempar high heel-nya ke balkon di atasnya. Setelah itu, Miku berdiri di pembatas balkon. Miku adalah wanita dengan penjaga keseimbangan terbaik di sekolahnya. Laki-laki berjersey merah itu terperanjat dari kursinya.
Miku menaruh sebelah tangannya di atas topi fedoranya dan bersiap menari flamingo seperti butler yang majikannya korban sodomi dari fandom anime sebelah.
Oke, salah narasi. Author salah fokus.
Miku menaruh sebelah tangannya di atas topi fedora, agar tidak terbang. Dia menekuk kakinya, mengumpulkan tenaganya pada ancang-ancangnya dan...
BRUKK! Miku berhasil mendarat dengan sempurna pada balkon di atasnya. Tolong catat kerusakan yang disebabkan Miku.
1. Kerusakan penglihatan penghuni kamar 107 karena kicep semua.
'The next of Ka**mi Ta*ga. Atau mungkin Mido**ma Shin**rou versi perempuan?" pikir mereka
2. Miku membuat pegangan itu berlekuk dua, bekas landasan lompat dirinya. Parah...
Miku mengetuk jendela dan pintu di depannya, brutal. Untung kacanya nggak pecah. Jendelanya nggak dikunci.
Ya, Miku melihat Kaito tengah tidur siang di meja belajarnya. Miku melempar sepatu high heel-nya. Kaito terbangun. Dia tidak bisa melihat apa yang tengah duduk dia kusen jendelanya. Terlalu silau.
"Siapa kau?" tanya Kaito sambil mengusap matanya, juga sudut mulutnya.
Miku menyeringai. Lucu juga kalau Kaito baru bangun tidur, pikirnya.
"Aku adalah..." Miku menjeda kalimatnya, "detektif terkenal. Hatsune Miku."
"Hnn, Miku.. kupikir siapa. Masuk, masuk, aku mau siap-siap dulu." Kaito meninggalkan Miku dan pergi ke kamar mandi. Miku mengambil sebelah sepatunya dan mencari sebelah sepatunya lagi yang entah terlempar kemana.
Tunggu, emangnya Kaito nggak penasaran dari mana cewek toska itu bisa berada di balkon flat-nya? Abaikan.
Miku masuk ke dalam kamar Kaito dan duduk di meja belajar Kaito. Disitu ada buku-buku pelajaran menganggur dan deretan novel misteri-detektif pada raknya.
Miku menarik salah satu novel itu dan mulai membacanya.
.
.
.
Kaito telah beres mengenakan seragamnya yang terdiri dari kemeja lengan panjang berwarna putih, dasi hitam, rompi hitam, dan celana panjang berwarna hitam. Di dada rompinya ada sebuah name tag dengan tulisan 'Perseus'. Jangan lupakan syal biru yang tak pernah lepas. Walaupun pakaiannya telah rapi, rambutnya tetap acak-acakan.
"Miku, ayo pergi," kata Kaito sambil mengguncang bahu Miku. "Miku.."
Rupanya Miku ketiduran. Kaito mendesah. Dia memasang headset pada telinga Miku dan menyetel lagu 'Karakuri Burst' dengan volume kencang.
"Aaaa!" Miku terbangun dan melempar novel yang tadi dibacanya (namun berhenti karena mengantuk).
Kaito tertawa sambil menekan tombol 'Stop' pada mp3 playernya. Miku melepas headset di telinganya sambil menggembungkan pipinya, kesal.
"Ayo pergi." kata Kaito lagi sambil menyakui mp3 playernya.
Miku mengangguk. Dia memakai high-heel-nya dan berjalan mengekor di belakang Kaito.
"Oh ya, Miku," Kaito mengunci kamar flat-nya lalu menjejeri langkah Miku. "Walaupun sekarang musim panas, disana itu lumayan dingin lho.."
"Begitukah?" Miku mengurai lengan baju dan celananya. "Jadi, aku harus memakai baju seperti ini?"
"Kau mau dipegang-pegang sama penjahat seks disana?"
Miku bergidik ngeri. "NGGAK MAU!"
"Ini. Pakai ini," Kaito memberikan name tag dengan nama 'Andromeda' pada Miku. Miku memasangnya.
"Oh ya, kenapa aku kayak kenal dengan penghuni kamar 107 itu?" kata Miku sambil membentuk dasinya menjadi dasi kupu-kupu.
"Itu, mungkin cuma perasaanmu saja." jawab Kaito sambil garuk kepala, menyadari lirikan tajam seseorang bersurai hijau dengan hoddie berwarna abu-abu keunguan. Ya, Kaito tahu siapa dia.
.
.
.
.
Miku bengong. Tolong dicatat, bengong.
Tempat prostitusi raksasa yang dipikirkan Miku, jauh dari harapan Miku. Bukan gedung mewah dengan halaman yang dihiasi red carpet seperti yang ada di Las Vegas sana.
"Ayo masuk, Miku! Pegang bajuku. Pokoknya selama disana jangan jauh-jauh dariku." Kaito menarik Miku masuk ke dalam sebuah club odong-odong.
Kaito membawa Miku berjalan semakin dalam ke dalam club odong-odong itu. Kaito mendorong sebuah pintu. Mereka berada di sebuah lift gelap (Miku diberitahu).
Kaito menekan tombol raksasa itu ketika lift berhenti bergerak turun ke bawah.
"Ingat, jangan jauh-jauh dariku." kata Kaito. Miku mengangguk.
Miku berada di sebuah lorong dengan karpet merah dan lampu remang-remang. Kaito masih menggenggam tangan Miku dan menuntunnya menuju ruangan bossnya.
Tanpa mengetuk, Kaito memasuki ruangan itu. Terlihat sebuah meja dengan desain mewah dan kursi berbahan kulit dengan sandaran tinggi. Miku bergidik saat mendengar cekikikan wanita, jangan lupa soal desahannya.
"Zeus," panggil Kaito. Kursi diputar, menampilkan seorang pria dengan rambut pirang pasir dan seorang gadis dengan pakaian minim di pangkuannya.
"Hoho, kau membawa gadis baru?" sahut pria itu. Dia menurunkan gadis itu dari pangkuannya dan berjalan menuju Miku.
"Hmmm," pria itu mengendus-endus Miku, membuat Miku merasa risih juga jijik. "Gadis pendiam, sedikit urakan." Pria itu mengelus kunciran rambut Miku.
Kaito menendang tulang kering pria itu. Pria itu tersungkur dan wanita dengan pakaian minim itu menjerit lebay.
"Dia partner-ku. Jangan sentuh seenaknya, Ketua Hentai!" Kaito mengatai boss-nya habis-habisan. Bawahan yang aneh..
"Kau nggak bawa cewek?" tanya pria itu sambil berdiri dan menepuk-nepuk celananya.
"Sudah kubilang, aku payah dalam berburu. Sudah menjadi tugas SeeU(Artemis) untuk mencari wanita, 'kan?" jawab Kaito.
Pria itu mendengus. "Cepat kerja saja sana! Hari ini saudaramu juga bekerja."
"Dasar penjilat yang satu itu sudah keterlaluan." Kaito balik kanan sambil mencak-mencak marah. Di belakangnya Miku mengekor, Miku melirik pria hentai itu dengan ekor matanya. Miku bergidik saat pria itu melepar kiss-bye padanya.
Makanya, jangan kepo.
.
.
.
Miku menunggu Kaito yang sedang menyimpan pakaian di ruang ganti khusus laki-laki. Di hadapannya banyak sekali sofa-sofa mewah, cekikikan (ingat juga soal desahan) gadis-gadis penghibur, tawa para orang kaya dan sibuknya para pengantar minuman (keras).
"Ayo Miku, kita mulai bekerja."
"Un!"
.
.
.
.
"Silahkan, menikmati minumannya!" ucap Miku sambil meletakkan dua buah gelas berisi cairan berbau menyengat berwarna kecoklatan.
"Terima kasih, manis." kata pria di hadapan Miku sambil menarik dagunya.
Jangan remehkan reflek Kaito yang super cepat. Dengan cepat, Kaito menggetok tangan pria itu dengan baki. Kaito memandang sinis dan ada senyum psikopat di bibirnya. Pria itu segera mencabut tangannya dari dagu Miku dan berurusan lagi dengan wanita sewaannya.
"Huh, sudah berapa kali daguku dipegang seperti itu. Menjijikkan!" keluh Miku sambil menggosok dagunya dengan tissu antiseptic (Author : Lebay lo, Miku! *mata dicolok negi*).
"Untung ada aku. Kalo nggak aku, entah apa yang akan terjadi padamu." balas Kaito sambil berjalan masuk ke dalam bar-nya. Dia mulai meracik minuman lagi.
"Heh, aku minta vodka-nya, sebotol."
Kaito dan Miku menengok ke arah sumber suara. Yap, Akaito adalah pemilik suara itu.
"Dengar tidak?" lanjut Akaito dengan tatapan kesal.
Kaito mengeluarkan sebotol vodka dingin dan menaruhnya di dalam ember stainless steel berwarna perak metalik berisi es batu.
"Tentunya dengar, idiot." jawab Kaito sinis.
Akaito mendecih sambil melenggang pergi ke tempat pemesan vodka tersebut.
"Masalah kalian sepertinya rumit, 'ya?" Miku berkata seolah-olah menebak.
"Begitulah.." jawab Kaito sambil mengelap meja.
"Perseus, ada pesanan minuman di kamar LOVE-001." teriak seseorang, entah darimana.
"Baik!" sahut Kaito sambil membaca pesanan yang masuk ke interkom-nya.
"Miku, tolong antarkan pesanan ini ke kamar LOVE-001," suruh Kaito sambil menyerahkan sebaki minuman keras berbau menyengat pada Miku. "Tahu jalan, 'kan?"
"Sudah hapal saat tour singkat, Perseus." jawab Miku usil.
"Aku nggak bisa masuk ke kawasan LOVE. Kembalilah dengan cepat. Kalau ada bahaya, segera kirimkan sinyal padaku dan simpan ini."
"Apa ini?"
"Stun-gun. Kau tahu cara memakainya, 'kan? Cuma tekan tombol ini." Kaito menunjuk sebuah tombol.
"Baiklah, aku pergi dulu, Perseus." Miku berjalan meninggalkan bar.
"Hati-hati, Andromeda."
Miku terkekeh kecil.
.
.
.
.
Miku berhenti berjalan ketika matanya telah menangkap pintu bertuliskan "001". Dia mengetuk pintu tersebut.
"Permisi," kata Miku sambil mengetuk pintu.
GREB! PRANNGG!
Miku menjatuhkan baki minumannya saat sebuah tangan menariknya dan membekap mulutnya. Miku merasa berat pada pahanya. Seseorang menindih pahanya. Ruangan itu gelap.
"Selamat datang, sayang~" kata orang itu manja. Lampu menyala, meskipun remang-remang. Miku melihat orang yang menindih pahanya barusan. Dia hanya seorang cewek, dengan kimono seksi yang menampilkan dengan mulus buah dada ukuran lumayan besar itu.
"Lepaskan aku!" teriak Miku.
"Eh-eh, aku salah tangkap. Gomen ne~" cewek itu melompat ke sisi kasur.
Rambutnya berwarna biru muda. Ada hiasan berlian di kepalanya.
"Boleh kutahu siapa namamu?" tanya Miku.
"Nama asli atau kode-ku?" sahut cewek itu.
"Keduanya,"
"Nama asliku Tone Rion. Kode-ku Aprodithe. Anata?"
Miku gelagapan. Bagaimana dengan nama aslinya? Miku mendapat sebuah ide.
"Nama asliku Kaiko. Kode-ku Andromeda." jawab Miku.
"Kaiko? Wah,wah, nama asli dan kode-mu mirip dengan Andromeda yang sebelumnya. Kau diambil darimana sama Perseus? Dari jalanan atau teather?"
Oh, jadi mereka mengambil wanita dari jalanan dan teather, pikir Miku.
"Aku teman sekelas, Ka-maksudku, Perseus."
"Oh.. berani juga bocah itu.."
"Oh ya, tadi Tone-san bilang kalau namaku mirip dengan Andromeda yang sebelumnya? Siapa nama Andromeda itu?" tanyaku lagi.
"Kalau tak salah nama Shion Kaiko,"
Miku tersentak. Ternyata benar. Kaiko-nee pernah ada disini, tapi itu masih meragukan mengingat ada klausa 'tak salah' pada kalimat yang ucapkan Tone.
"Tapi sudah tiga bulan dia tak ada disini. Entah kemana dia. Mungkin saja dia sudah dibunuh seperti gadis lain karena dia mencoba kabur. Atau sekarang dia sudah bersuami, 'ya? Haha, malang sekali wanita yang satu itu.." tawa Tone-san.
"Tiga bulan?" kata Miku. "A-aku harus kembali."
Tone menarik tangannya. "Darimana kau bisa masuk ke sini?"
Miku menjelaskan rute jalan keluar. Jalan menuju dunia luar.
"Arigatou," Tone-san berterima kasih sambil membungkuk juga tersenyum pada Miku.
"Douita, Tone-san. Aku hanya membalas kebaikanmu." jawab Miku sambil tersenyum yang sukses membuat Tone kebingungan. "Kebaikan?" ulangnya bertanya.
"Ja-jangan dipikirkan. A-aku harus kembali. Sayounara~"
"Sayounara, Andromeda-sama~"
Miku meninggalkan kamar itu. Tak ada pecahan gelas lagi. Miku segera berlari menuju bar Kaito lagi. Dia mendapatkan sebuah info...
.
.
.
Miku hendak membuka pintu yang menghubungan 'LOVE' dengan hall. Seseorang menahan pintunya yang ternyata adalah Akaito.
"Kau ikut aku," Akaito menggandeng Miku. Tanpa sepengetahuan Miku, Akaito mencabut cincin yang melingkari jari manis Miku dan menyakuinya.
Akaito mendorong Miku masuk ke dalam ruangan berisi peralatan bersih-bersih yang gelap. Lampu menyala.
"Apa yang kau rencanakan bersama si maniak ice cream itu?" tanya Akaito sambil menahan bahu Miku. Pandangannya sinis.
"Apa aku harus memberitahukannya padamu?" Miku balas bertanya, pandangannya pun sama sinisnya.
"Dengar, bocah itu suka cari bahaya. Sudah sepuluh kali dia menyelinap ke dalam ruangan rahasia Zeus dan Ares. Aku tidak ingin dia meninggal.." Akaito berbalik, suaranya merendah.
"Kau peduli dengan Kaito?"
"Tentu. Dia satu-satunya keluarga kandungku."
"Tapi dia bilang kau ikut-ikutan dalam pencarian Kaiko-nee sampai bekerja di tempat ini karena kau ingin hadiah yang akan diberikan keluarga Shion."
"Aku hanya tidak ingin adikku dalam bahaya. Makanya aku menyuruh dia berhenti mencari biar aku bisa menemukan Kaiko sendirian. Aku tahu bagaimana perasaannya saat Kaiko hilang dan dia dipukuli. Ada sebuah benang tipis kasat mata yang menghubungkan kami, sebagai sepasang anak kembar.."
Miku menatap punggung pemuda berambut merah yang merupakan kembaran Kaito itu.
"Ini rahasia kita," Akaito menghadap Miku lagi. "Tolong hentikan Kaito diam-diam, aku sudah tahu dimana Kaiko-nee disembunyikan."
Mata Miku membulat.
"Kenapa belum kau selamatkan?" tanya Miku.
"Aku sedang mengulur waktu, Andromeda."
"Mengulur waktu?"
"Kaiko itu dijaga ketat oleh Ares, makanya aku sedang mencari timing-nya."
"Dimana dia disembunyikan?"
"Sebuah ruangan rahasia di bagian 'LOVSEX'. Temukan cermin. Itu saja."
"Akan kubuat kalian berdua bekerja sama." Miku beranjak dari ruangan itu.
Akaito melongo. Memangnya bisa adik kembarnya itu diajak bekerja sama? Setelah sepuluh tahun mereka bermusuhan? Hmm, patut dipikirkan.
.
.
.
Miku kembali ke bar Kaito.
"Miku! Kenapa lama sekali! Kupikir kau diapa-apain!" seru Kaito khawatir.
"Etto, aku habis dari kamar mandi." ujar Miku berbohong.
"Mana cincinmu?"
"Ada di saku celana," Miku menepuk-nepuk saku celananya, masuh berbohong. "Aku dapat banyak info."
"Apa ada hubungannya dengan Kaiko-nee?"
Miku mengangguk. "Tapi ada satu syarat."
"Apa itu?"
"Berbaikanlah dengan Akaito."
.
.
.
Author'sLine :
Yooo! Chapter 2 selesai!
Gimana, gimana, seru nggak?
Haha, aku sudah berjuang sebaik mungkin. Semoga kalian suka!
Hmm, permasalahan mulai muncul.. Gimana kelanjutannya, 'ya? *dihajar*
Haha, nggak bisa bales review sekarang. Gomen m(_ _)m
Spoiler : Pengalih perhatian! Semua terlibat!
A/N : Aku udah ganti summary. Aku harap review meningkat. Flame diterima dengan lapang dada. Silahkan flame sepedas mungkin di review, saya akan berjuang lebih lagi! Jangan jadi silent readers, itu nggak baik!
Mind to Review?
.
.
.
Shintaro Arisa, out.
