Andromeda chapter 3
Warnings! : AU, OOC, OOT, MISSTYPO(S), TYPO(S), MINI ROMANCE (nggak yakin) KaitoMiku, bahasa alay berantakan.
Disclaimer : Vocaloid and the character belongs to Yamaha. Kalo ada karakter fandom lain nyelap di fanfik ini, karakter itu punya yang empunya. Fanfic ini 100000% milik BakArisa si author nista yang hobi bikin masalah dan menyelesaikan masalah!
Summary : Update chapter 3. Masalah mulai muncul! Miku, Kaito dan Akaito memanggil semuanya! Bad summary! Warning inside! Review, please.
.
.
.
"Berbaikanlah dengan Akaito." kata Miku sambil melipat tangan di depan dada.
Bagai tersengat listrik jutaan volt, Kaito kaget dengan syarat yang diberikan Miku.
"Ti-tidak mau, lebih baik aku mendapatkan info-ku sendiri." jawab Kaito.
"Jangan egois~" kata Miku. "Bukankah lebih gampang mengerjakan sesuatu jika dikerjakan bersama?"
Kaito mendengus lalu menghela napas. "Baiklah, aku akan bekerja sama dengannya."
Miku tersenyum. "Kau tunggu disini."
Miku berlari menuju Akaito yang tengah menghidangkan minuman.
"Akaito-senpai!" panggil Miku. Akaito berbalik dan menghampiri Miku. Miku segera menarik tangan pemuda berambut merah itu kepada adik kembarnya.
Melihat kedatangan Akaito dengan gandengan Miku, Kaito merubah sorot matanya.
"Aku ingin kalian bersalaman," kata Miku.
Tangan mereka tak ada satu pun yang terulur. Miku menarik tangan kanan Akaito dan Kaito lalu menyatukannya. "Begini doang ribet banget sih!"
Mereka berdua membuang muka. Haruskah Kaito menghapus dinding kebenciannya?
Kaito menarik tangannya kembali.
"Jadi, kau punya info sebanyak apa?" tanya Kaito tanpa memandang kakaknya itu.
Akaito menarik telinga adiknya. "Aku sudah tahu dimana Kaiko disembunyikan," bisiknya. Mata Kaito membulat.
"Se-serius? Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Aku menyelinap kesana dibantu Len. Len 'kan pelayan kamar. Dia disekap di bagian 'LOVSEX'. Kudengar hari ini dia akan dibawa keluar. Kaiko-nee, hamil."
Mata Kaito membulat lagi. Hamil?!
"Pagi nanti. Aku akan mengikuti Kaiko. Coba kau alihkan perhatian Zeus dan Ares. Dua bajingan itu selalu memperhatikanku. Dasar homo! Mentang-menatang aku ganteng, aku selalu dibuntuti! Aku 'kan normal!"
Miku tertawa. Tak salah Kaito menyebutnya narsis.
"Sesuai rencana Kaito, ingat itu!"
"Kau pikir, aku sudah mau berbaikan denganmu? Aku ingin kita berkelahi, satu lawan satu. Jika kau menang, aku akan memaafkanmu!"
Akaito menyeringai. "Up to you, Perseus." Akaito kembali ke barnya.
Kaito menatap Miku. "Apa?!" tanya Miku yang masih senyum-senyum melihat kembar beda warna rambut itu (nyaris) baikan.
"Terima kasih karena telah mengajak Akaito berbaikan," jawab Kaito pelan.
Miku melongo. Ternyata dia pun ingin baikan dengan abangnya? Terus kenapa ditahan-tahan selama 10 tahun (atau mungkin kurang)? Terus kenapa make nantangin berantem segala? Ah, Miku tahu..
Kaito terlalu tsundere sama abangnya.
Ya, pasti itu jawabannya. Miku tersenyum.
Saat Miku mengatakan akan membuat Akaito dan Kaito bekerja sama, Akaito tidak menolak. Juga ucapan terima kasih Kaito karena telah membuat dia dan abangnya (nyaris) berbaikan. Yah, Miku tahu kalau dua pemuda kembar itu sangat (terlalu) tsundere untuk meminta maaf.
.
.
.
Pagi menjelang, klub itu mulai kehilangan pengunjungnya. Gadis-gadis mulai kembali ke mess-nya dan para pelayan sibuk beres-beres, tak terkecuali Miku dan Kaito. Coba tebak apa yang ada di bawah mata Miku!
Yap, benar sekali. Kantung mata!
Tapi itu tak menghilangkan niatan Miku untuk membantu Kaito. Yap, Miku membantu Kaito. Kaito sedang mengumpulkan gelas-gelas dan Miku mengelap meja.
Sementara itu, Akaito tengah menyelinap ke dalam ruangan LOVSEX. Untuk menuju ruangan itu, Akaito harus melewati ruangan LOVE. Saat Akaito tengah menyelinap, seseorang dari ruangan bernomor pintu 001, menariknya sambil membekapnya. Siapa lagi kalau bukan Aprodithe, Tone Rion.
"Tolong bantu aku, Finius. Sekali saja." kata Tone sambil berlutut di hadapan Akaito. Akaito cuma memandang Tone bingung.
"Sudah tiga bulan aku disini, aku tak akan dibebaskan oleh Ares. Aku akan dibunuh. Kumohon bawa aku keluar dengan aman,"
"Bagaimana caraku untuk membawamu keluar. Terlalu banyak penjaga juga CCTV."
"Tapi aku ingin keluar! Aku ingin bebas!" Tone terisak. "Aku ingin keluar..."
Tone menangis. Akaito mendelik. "Akan kupikirkan caramu untuk keluar."
"Arigatou.." Tone memeluk kaki Akaito. "Aku tahu kalau kau akan menolongku!"
"Sekarang, tolong lepaskan kakiku. Aku mau mencari cara untuk masuk ke LOVSEX."
Tone duduk di ranjangnya sambil mengusap matanya yang berair. "Percuma. Ruangan itu dikunci oleh Ares. Kau harus mengambilnya."
"Jadi, ruangan itu dikunci?"
"Hu-uh." Tone mengangguk.
Ponsel Akaito bergetar, pertanda sebuah e-mail masuk.
From : AoKaito Ice
To : Akai no ChiliKing
Ada orang berpakaian hitam-hitam bertopeng. Kurasa dia Kaiko-nee dan Zeus. Aku tak bisa mengejarnya, Ares sedang mengunciku. Tolong kejar.
Reply This Message
Akaito segera pergi dari kamar Tone dan berlari menuju pintu belakang. Akaito menaiki tangga dengan kecepatan roket sampai-sampai dia menerobos pintu pembatas di club odong-odong.
Akaito melihat sebuah mobil dengan plat bernomor resmi. Tapi tolong perhatikan kata di bawahnya.
'Zeus was here, desu~'
Terlalu frontal, 'ya?
Akaito mengambil sepeda yang diparkir sembarangan dan mengejar mobil itu. Akaito terus mengejar dan terus mengejar sampai-sampai mobil itu menghilang, ditelan oleh banyaknya kendaraan di jalan besar. Akaito berdiri berjingkat, mencari mobil itu namun tak ditemukan.
Dia mengambil ponselnya dan menelepon saudara kembarnya itu.
"Aku kehilangan dia." kata Akaito setelah panggilan diangkat.
"Bodoh!" umpat Kaito. "Kau harus membayar ini."
Akaito menekan tombol merah pada ponselnya dan langsung menyakui ponselnya. Dia memutar sepedanya lalu mengayuh sepeda 'pinjaman' itu kembali menuju Olympus.
.
.
.
Kaito melempar lap di tangannya ke meja di depannya.
"Sabarlah, Kaito. Mana mungkin dua roda mengalahkan empat roda," bujuk Miku. Kaito mendecih.
"Aku masih ingat di anime Ha**te no Go**ku, karakter utamanya bisa mengejar mobil berkecepatan nyaris 60 km/jam hanya dengan sebuah sepeda!"
GUBRAK! Miku terpleset kulit pisang saat hendak menjitak Kaito. Len pun datang dengan sebuah kantong sampah di tangannya. Dia berjalan melewati Miku yang masih sweatdrop.
"Aneh, kenapa kulit pisangku bisa sampai sini. Arigatou ne, Micchan, udah ngasih tahu dimana tempat tinggal kulit pisangku berserakan. Jaa nee~"
Miku sweatdrop. Len berjalan agak melompat dan tanpa sengaja melompat di atas kulit pisangnya.
GUBRAK! Rasain tuh!
Oke, tolong abaikan paragraf di atas. Itu nggak penting banget.
"Oh ya, Kaito. Kau bilang waktu itu ada kasus pembunuhan besar-besaran disini." ucap Miku sambil duduk di depan bar Kaito.
"Setiap wanita disini punya masa tenggang."
"Maksudnya?"
"Setiap wanita penghibur disini akan diberikan waktu tiga bulan untuk hidup. Setelah tiga bulan, wanita itu tak akan bisa keluar dari Olympus. Zeus dan Ares akan membunuhnya, untuk menutup mulut wanita-wanita itu agar tak memberitahu tempat prostitusi ini."
"Sedang cerita apa kau sama Andromeda yang baru?" tanya seseorang tiba-tiba. Kaito dan Miku melihat ke arah datangnya sumber suara. Yap, Zeito yang memiliki kode Ares-lah yang bersuara.
"Menceritakan apa yang harus diceritakan kepada semua pegawai tentang apa yang ada dan terjadi disini." jawab Kaito datar.
"Hmm,"
Ares pun pergi entah kemana. Siapa peduli?
"Kita pulang Miku. Aku ambil jaket dulu." Kaito melangkahkan kakinya menuju ruang ganti. Miku mengekor di belakangnya.
"Kau ngapain ngikut?" tanya Kaito menyadari kalau Miku ikut masuk ke dalam ruang ganti. Miku menarik telinga Kaito.
"Seseorang telah menatapku sangat tajam di sudut sana." bisik Miku sambil menggerakkan bola matanya sampai ke sudut matanya. Kaito melongok ke arah sudut yang ditunjuk Miku dengan matanya.
"Ng, yang mukanya shota kayak Len itu, 'kan?"
HATCHHIII! Len bersin. 'Kayaknya ada yang ngomongin gue.' batin Len sambil membuang kantong isi kulit pisangnya.
Miku mengangguk. "Itu namanya Oliver. Dia emang agak curigaan sama pekerja baru. Yah, trauma masa lalu. Aku ambil jaket terus kita pulang. Kita sarapan yuk."
Miku mengangguk sambil tersenyum dan menunggu Kaito di luar ruang ganti.
"Kau ngapain disini? Menghalangi pintu?" tanya Zeito galak. Dia menarik dasi Miku. Mungkin Miku telah ketularan refleks Kaito maka jangan salahkan Miku yang telah menggetok tangan pria yang konon pembunuh itu dengan hak sepatunya. Zeito menjatuhkan sebuah kunci. Dengan sigap, Miku menginjak kunci itu untuk menyembunyikannya.
"Kau ini apa-apaan sih? Jangan mentang-mentang kau punya ikatan dengan Perseus maka kau seenaknya padaku ya!" ujar Zeito sambil mendorong kedua bahu Miku ke tembok. Mulutnya mendekat. Napas Zeito terasa di leher Miku. Tangan Zeito liar melonggarkan dasi yang melingkari kerah Miku.
Sebuah tangan menghalangi leher Miku dan tangan itu adalah tangan si pemuda berambut biru, Kaito.
"Jangan. Macam. Macam." kata Kaito penuh penekanan dan ancaman. Zeito tertawa hambar.
"Kau pikir aku mau dengan gadis yang kau temukan di jalanan seperti ini? Murahan sekali!" balas Zeito sinis. "Kembalikan kunciku."
Miku mengangkat kakinya dan menendang kunci itu ke bawah sebuah sofa. "Ups."
Miku melihat kunci memiliki gantungan dengan nama 'LOVSEX'.
Zeito mendecih sambil memandang sinis Kaito dan Miku.
"Ayo pulang." kata Kaito sambil menggandeng tangan Miku.
"Un!"
.
.
.
Miku mengikatkan dasinya di kepala, menyimpulnya menjadi pita.
"HOAAMMM!" entah sudah berapa kali Miku menguap. Jangankan Miku, Kaito juga sudah puluhan kali menguap.
"Makan di rumahku aja, yuk. Bahan makanan di rumahku nganggur semua."
"Bagaimana kalau di flat-ku. Ayo, masak besar-besaran, aku juga perlu mengosongkan kulkasku. Aku mau menyimpan ice cream tapi kulkas masih penuh."
"Boleh aku ikut?" tanya seseorang di belakang mereka. Tunggu, kenapa cerita ini banyak sekali kalimat-kalimat misterius? Ah, abaikan. Kembali ke cerita.
"Akaito!"
"BAkaito!?"
Itu adalah adalah suara milik Miku dan Kaito. Yap, Akaito tiba-tiba nongol di antara mereka berdua.
"Boleh, 'ya? Aku juga lapar. Kulkasku kosong." lanjut Akaito sambil nyengir dan pasang mata bling-bling.
Miku melirik Kaito yang tatapannya tidak setuju. Sementara Akaito matanya udah bling-bling to the max.
"Akaito-san punya info bagus tidak?" tanya Miku.
"Bukannya kau sudah dengar sendiri, kalau dia gagal untuk mengikuti Kaiko-nee."
"Maaf soal itu. Tidak mungkin 'kan dua kaki mengalahkan empat roda. Manusia lawan cheetah saja, manusia kalah."
PLOK! Kaito nepuk jidat.
"Sampe gajah jadi kurus juga, manusia nggak akan menang melawan cheetah, baka!"
"Memang kapan gajah jadi kurus?" Akaito bertanya polos.
Miku dan Akaito tertawa bersama, Kaito bersungut-sungut.
"Tuh 'kan, apa kubilang~ Dua kaki nggak akan pernah bisa mengalahkan empat kaki." kata Miku.
"Kita susun rencana baru." Akaito berubah serius.
"Baiklah, baiklah, kita susun rencana setelah perut kita terisi. Susah berpikir dengan perut kosong." jawab Kaito.
"Oke!" sahut Akaito dan Miku kompak.
Kok rasanya aneh. Kaito seperti ketua mereka. Bukankah yang lebih tua yang biasanya memimpin? What the hell for that . Author sebagai yang anak paling tua suka disebut sebut anggota kerusuhan, kerusakan dan kehancuran rumah yang diketuai oleh adik yang paling bontot. Abaikan.
.
.
.
.
[SKIP TIME
TIME : 06.15 A.M
PLACE : KAITO'S FLAT]
.
.
.
Yah, akhirnya Kaito menyerah dan membiarkan Akaito masuk ke dalam flat-nya. Akaito menepuk-nepuk pundak adiknya.
"Jangan terlalu tsun, Kaito." ucapnya.
BUAGH! Kaito menonjok Akaito.
"Yang tsun itu kau!"
"Kalian berdua itu memang tsundere." Miku menengahi. Sepatunya sudah dilepas.
Bagus Miku! Kau membuat dua orang Shion diam dan kembali mengikuti skenario! *thumbs up*
Akaito dan Kaito diam. Mereka melepas sepatu mereka dan masuk.
"Aku lapar~" kata Miku sambil duduk di sofa.
"Aku juga."
"Ayo masak." Kaito memberikan mereka masing-masing satu apron.
Miku mengambilnya dan memakainya dan berjalan menuju dapur bersama Akaito dan Kaito.
"Hoho, apron membuatku semakin ganteng." kata Akaito kepedean.
"Narsis."
"PeDe lu!"
Ledek Miku dan Kaito kompak. Miku dan Kaito ber-high five ria dan Akaito pundung dipojokan.
"Pundung, nggak ada makanan." Kaito.. mengancam?
Akaito berdiri dan mencuci tangan bersama adik kembarnya dan Miku.
Miku membuka kulkas. "Hmm, ada bahan-bahan buat masak sup miso dan telur."
"Ada cabe nggak?" tanya Akaito ikut nimbrung di kulkas.
"Mana ada, baka!" sahut Kaito.
"Bubuk cabe pasti ada dong."
"Nggak ada."
"Wasabi?"
"Mungkin ada."
Akaito mengulas senyum, irit. Yang penting pedes, batinnya. Walaupun hatinya nggak rela sarapan nggak pake cabe.
"Aku menanak nasi dan bikin jus dari buah yang ada." kata Miku sambil mengambil panci dan beras.
"Aku masak sop miso. Level masakku mungkin akan naik, sedikit.." timpal Kaito mulai mengambil bahan-bahan untuk membuat sop miso.
Akaito membuka kulkas sekali lagi. Tersisa sederet telur di pintu kulkas.
"Hmm, tamagoyaki.."
"Masakan anak-anak." komentar Miku dan Kaito, sekali lagi kompak. Sekali lagi, Akaito pundung. Kaito dan Miku high five lagi dan mengabaikan Akaito.
"Mau sampai kapan Akaito-san pundung? Ayo biar kita cepat susun rencana." bujuk Miku sambil menarik tangan Akaito dan menumpuk telur di tangannya. Akaito tersenyum dan mulai memasak tamagoyaki.
Miku mencuci beras.
Kaito memotong sayuran.
Akaito mengocok telur.
Ketiganya bergelut dengan bahan masakan masing-masing.
"Nee, apa kau ketahui ke tentang LOVSEX?" tanya Kaito mencairkan suasana, masih memotong sayuran.
"Ruangan itu dikunci oleh Zeito dan Zeito yang menyembunyikannya." jawab Akaito sambil menyalakan kompor dan memanaskan minyak.
"Aku pernah lihat ada sebuah brankas kecil di dalam loker Zeito dan brankas itu menggunakan Fingerprint Scanner." ujar Kaito sambil mencuci sayurannya.
"Eh, tadi aku melihat Ares membawa kunci. Itu lho, kunci yang aku tendang ke sofa itu." celetuk Miku.
"Mungkin itu kuncinya!" seru Kaito sambil memandang Miku. "Kau tahu kode lokernya nggak, Akaito?"
Akaito mengorek telinganya. Jorok. Lagi masak padahal. Pasalnya, Kaito memanggil nama kecilnya tanpa plesetan apapun atau panggilan 'Baka' seperti biasanya.
Miku menggetok tangan Akaito dengan sendok nasi sambil memberikan tatapan 'Cuci tangan sana!'
Akaito mencuci tangannya lagi sambil senyum-senyum sendiri. Itu bukan ilusi, pikirnya. Sebagai kakak (kembar) harga dirinya seperti kembali.
"Heh, denger nggak? Kau tahu kunci loker Zeito?"
Akaito tersentak, pikiran bahagianya pecah. Dia menggeleng. "Tapi aku bisa cari tahu. Tenang aja,"
"Nah, untuk mengambil sidik jarinya, aku hanya butuh serbuk fotokopi dan pengalih perhatian." lanjut Miku.
"Memang kau tahu caranya?" Akaito terkesan meragukan Miku.
"Ckckck," decak Miku sambil menggerakkan telunjuknya ke kiri ke kanan di depan wajah Akaito yang konon ganteng itu. "Itu mainan anak-anak tahu."
Akaito mendecih. Dia kena skakmat lagi. Baru juga beberapa menit tinggal di flat Kaito, dia udah mati kutu nyaris sebanyak tiga kali. "Lanjutkan memasak. Rapat strategi diundur untuk sementara."
"Ha'i!"
.
.
.
"Itadakimasu!" seru Miku, Kaito, dan Akaito kompak. Mereka mulai menyumpit nasi dan lauk sederhananya.
"Ehm, sup miso-nya enak."
"Nggak pedes."
Kaito menarik mangkuk sup Akaito. "Kalo nggak mau jangan dimakan. Sayang nanti dimakan percuma."
Akaito menarik kembali mangkuk sup-nya. "Iya, iya, aku makan.. nggak pake cabe.."
Miku tertawa pelan.
Mereka meneruskan acara makan mereka.
Ketiganya menatap sisa makanan yang masih tersedia di dalam panci.
"Ng, sisanya masih sangat banyak."
"Kita kelewatan masaknya."
"Terus bakal dikemanain?"
Mereka bertiga berpikir.
"Oh ya, untuk mendapatkan sidik jari Ares, aku butuh pengalih perhatian. Skala besar." kata Miku, mengalihkan topik pembicaraan.
"Maksudmu pengalih perhatian yang bisa menarik perhatian semua orang di Olympus? Kita butuh Captivating Eye." jawab Kaito polos (lagi).
"Kau pikir ini fandom apa?" Miku mengelus dada, sabar. Kaito kebanyakan nonton anime, entah darimana.
Kaito nyengir.
"Jadi, pengalih perhatian skala besar.." Kaito bermonolog bermaksud berpikir.
Akaito tak sengaja menyenggol panci dengan bokongnya yang konon sekseh itu, menciptakan suara tabrakan antara aluminium dan lantai yang ramai. Tak cukup sekali, suara kelontangan itu semakin ramai.
"Kita buat band!" seru Miku sambil menjetikkan jari.
"Dengan lampu sorot yang menyorot Ares dan Zeus." lanjut Kaito.
Miku dan Kaito bertos lagi dan Akaito mengelus bokongnya yang rupanya sudah mencium lantai empat kali.
Miku berdehem, mengumumkan rencana yang sudah dipikirkannya. "Baiklah rencana begini, aku akan menyelinap masuk ke dalam ruang ganti. Sebelum itu, salah seorang dari kita harus mencari kode lokernya. Siapa yang bisa melakukan itu?"
Mata Kaito dan Miku melirik ke arah si pemuda merah. Yang ditatap justru pasang wajah datar. Nggak peka suasana.
"Akaito-" Miku menelan kalimatnya ketika tangan Kaito menutup mulut Miku.
"Kau yang cari tahu kode lokernya." potong Kaito.
"Kok aku?"
"Alasan pertama, kau nggak dicurigai Ares. Alasan kedua, Ares nggak curiga sama elu.."
"Kenapa harus mengulang pernyataan yang sama dengan kalimat berbeda?" tanya Miku pada Kaito. "Biar banyak word-nya." jawab Kaito dengan wajah watados. Miku nepuk kening keras.
"Hmm, baiklah." jawab Akaito pasrah. "Lalu band-nya gimana?"
"Aku bisa main gitar atau bass." Kaito menjawab.
"Berarti kita butuh 2 sampai 3 orang lagi." sambung Miku.
"Gimana kalau kita ambil lagu dari Va***' I*e? Cukup tuh buat narik perhatian. Apalagi waktu bagian si penyanyi shota-nya nyanyi, uh, bikin greget." Akaito nimbrung. Miku dan Kaito mengangguk.
"Berarti dua orang lagi."
"Alat musiknya emang ada? Udah gitu 'kan kita nanganin dua manusia, emang cukup satu vokalis menggoda dua orang?"
"Alat musik untuk nge-band ada di Olympus tinggal di pindahkan saja ke ruang tengah." jawab Akaito.
"Berarti kita butuh tiga orang lagi." Kaito berkata sambil berjalan mondar-mandir bak setrikaan.
"Of course." Miku mengiyakan dengan jawaban bahasa Inggris. Sok-sok-an (author : *mata dicolok negi).
Miku menjentikkan jari. "Aku bisa ajak Rin. Rin pasti mau soalnya Len pacarnya. Len juga penyanyi di Olympus."
"Aku bisa ajak Gakupo."
Kaito dan Miku melotot waktu Akaito mengucapkan salah satu anggota genk-nya.
"Gakupo-senpai?"
"Si samurai ungu banci terong itu?" Aduh ledekan Kaito pada Gakupo itu lengkap banget..
"Dia cukup jago main alat musik." balas Akaito.. membela anggota genknya.
"Hubungi mereka." Kaito mulai memerintah.
Akaito dan Miku mengambil ponsel masing-masing, menghubungi kawan masing-masing.
"Rin? Hari ini sibuk nggak?..."
"..."
"Kita ketemu di taman kota, jam setengah lima sore. Jaa nee~"
...
"Po, lu sibuk nggak?
"..."
"Ye, sewot amat sih.. Yang jelaskan lu bukan anggota teletubbies warna ijo atau karakter panda bisa kungfu, baka."
"..."
"Pokoknya jam setengah lima sore nanti, kita ketemu di taman kota. Bye!"
"Jadi, gimana?" tanya Kaito sambil bergantian memandang Miku dan Akaito.
"Rin setuju dan nggak curiga."
"Si Hentai itu juga setuju tapi agak curiga. Disangkanya gue homo, ngajak ketemuan di taman kota sore-sore."
"Masalah band terselesaikan. Sekarang kita perlu ahli lighting." kata Miku.
"Eh, kalo nggak salah ada adik kelas yang jago service lampu di atas." ucap Kaito.
"Kenal nggak?"
"Kalo nggak salah namanya Kagene Rei. Anak kelas 1-C yang pendiam luar biasa." jawab Kaito.
"Kita sogok aja dia pake makanan." Miku melirik sup miso dan tamagoyaki yang tersisa.
"Oke, ayo kita coba." Akaito mengambil mangkuk dan baki bersih.
.
.
.
.
TOK! TOK! TOK!
Kaito mengetuk pintu dengan nomor '201'. Miku masih sabar membawa nampan yang berisi makanan itu.
Pintu terbuka, menampilkan pemuda berambut hitam acak-acakan dengan mata kuning seperti kucing. Mata pemuda itu membelalak.
"Hai!" sapa Miku.
Apa salah gue?! Cowok bermata kucing itu masang tampang kayak gitu.
Ada tiga orang kakak kelas di depannya. Satu tukang onar. Satu musuh si tukang onar. Satu lagi pengurus UKS.
"A-a-ada apa?" tanya pemuda itu.
"Pertama-tama, kita kenalan dulu. Aku Hatsune Miku, ini Shion Kaito, ini Shion Akaito. Aku kelas 2-A, mereka 3-D dan 3-C." Miku memperkenalkan dirinya dan dua orang di belakangnya.
"A-aku Kagene Rei, kelas 1-C."
"Nah, begini Kagene-kun. Kita bertiga butuh bantuanmu."
"Bantuan? Oh ya, senpai masuk dulu." Rei membuka pintunya lebih lebar, mempersilahkan ketiga kakak kelasnya masuk.
Miku meletakkan baki makanan di meja dan duduk bersama Kaito dan Akaito.
"Ini buat Kagene-kun. Kami masak kelebihan." kata Miku.
Rei menatap makanan-makanan itu berbinar. Perbaikan gizi, pikirnya.
"Arigatou," Rei berterima kasih sambil membungkuk. Rei membawa makanan itu ke dapur dan kembali lagi. "Mangkuk dan bakinya nanti kukembalikan."
"Jangan permasalahkan soal itu. Tenang saja," balas Kaito.
"Jadi, begini Kagene-kun. Kami butuh pertolonganmu." Akaito angkat bicara.
"Pertolongan apa?"
"Kau cukup jago soal listrik, 'kan?" Kaito bertanya.
"Ng, lumayan sih. Kalau lampu atau elektronik lainnya, aku sedikit-banyak bisa mengerjakan."
"Kalo gitu jam setengah lima nanti, kami tunggu di taman kota. Oke? Kita benar-benar butuh pertolongan Kagene-kun."
Miku, Kaito dan Akaito berdiri. "Kami harus pulang. Kami tunggu jam setengah lima sore di taman kota. Kami permisi dulu, Kagene-kun."
"Ah, iya. Aku akan datang kesana."
Miku, Kaito, dan Kaito pulang.
Setelah sampai kembali di flat Kaito, mereka bertiga dengan kompak menghempas diri ke sofa.
"Aku harus pulang." kata Miku sambil merenganggangkan badan.
"Aku juga."
"Pulanglah. Nanti malam kita harus bekerja keras."
Miku mengambil sepatunya dan memakainya. Akaito memakai juga sepatunya.
"Kami pulang dulu~" pamit Miku sambil membuka pintu flat.
"Miku, tunggu!" Kaito menarik tangan Miku.
Miku berhenti melangkah dan mendekatkan kupingnya ketika Kaito telah mengisyaratkan kupingnya untuk mendekat.
"Terima kasih buat segalanya." bisik Kaito.
Miku tersenyum. "Sudah seharusnya ini semua berakhir."
Kaito balas tersenyum.
"Ayo, Hatsune-san! Mau sampai kapan kalian berduaan disitu. Bikin sensi aja!"
Kaito dan Miku tertawa. "Jaa nee~"
"Jaa!" balas Kaito.
Setelah itu, di halaman gedung flat.
"Arigatou, Hatsune-san!"
"Douita, Akaito-san!"
"Ah, panggil aku Akaito saja. Seperti kau memanggil Kaito.
"Oke. Kalau begitu panggil aku Miku."
"Baiklah. Aku mau pulang. Ngantuk nih! Jaa nee~"
"Jaa!"
Mereka pun mengambil jalan yang berbeda dan pulang ke rumah masing-masing.
.
.
.
[SKIP TIME
PLACE : TOWN PARK
TIME : 04.31 P.M]
.
.
.
Rin mangap. Gakupo mangap. Len yang baru dateng ngeluarin kumbang tanduk yang nggak sengaja nyungsep di mulut pacarnya. Ewwww..
Di depan Rin dan Gakupo ada Kaito, Akaito, Rin, dan adik kelas mereka, Rei.
Yang bikin mangap itu, sejak kapan Kaito dan Akaito bisa bersama tanpa ada perkelahian?
"Sejak kapan..." ucapan Rin terpotong ketika Miku memberikannya sebuah jeruk.
"Terima kasih karena sudah mau datang kesini, hahaha, maaf ya' udah motong libur musim panas kalian." ucap Miku.
"Sebenarnya ada alasan apa kalian mengumpulkan kami disini? Dan siapa dia?" tanya Gakupo sambil menunjuk Rei.
"Dia Kagene Rei, anak 1-C. Dia masuk ke dalam kelompok ini." Kaito memperkenalkan Rei.
"Hajimemashite ne, senpai." ucap Rei sambil membungkuk takut.
"Akan aku lanjutkan," sambung Miku. "Kami bertiga sedang terlibat dalam kasus pembunuhan dan penculikan."
Miku benar-benar mendramatisir keadaan.
"Kalian agen?" tanya Rin sementara Len cekikikan di belakangnya. Len disikut Rin.
"Semacam itulah." Akaito nimbrung, terbawa plot drama Miku.
"Kami harus mencari korban penculikan dan butuh pengalih perhatian. Aku kepikiran sebuah ide untuk membuat band untuk mengalihkan perhatian 500 orang lebih yang kemungkinan adalah tersangka penculikan." Miku menjelaskan lebih lanjut. Mukanya serius. Tapi dalam hati dia ketawa guling-guling melihat Rin, Gakupo, dan Rei mangap lantaran kaget.
"Jadi, kami akan menjadi band untuk mengalihkan perhatian?" Rin bertanya dengan wajah shock-nya.
Miku mengangguk.
"Band-nya akan terdiri dari Rin, Len, Gakupo-senpai, dan Kaito. Rei akan jadi ahli lighting. Aku dan Akaito akan mencari korban penculikan. Yah, kurang lebih seperti itu formasinya." lanjut Miku.
"Tapi kalian punya target khusus yang harus benar-benar kalian alihkan perhatiannya." Kaito menyodorkan foto Zeito dan Yohio.
Rin mengambil kedua foto itu, memperhatikannya dan mengoper foto itu pada Gakupo.
"Kagene-kun, kau harus mengarahkan lampu-lampu sorot pada kedua orang itu. Rin, Len, kalian harus membuat kedua orang itu teralihkan pandangannya dari ruang ganti dan jalan menuju ruangan rahasia itu."
"Eh, jadi seriusan kami jadi band untuk mengalihkan perhatian?" Rin bertanya, masih shock.
Miku mengangguk. "Please, Rin. Kami benar-benar butuh bantuanmu."
"Oh ya, sebenarnya aku punya trik yang lebih bagus," timpal Kaito. Dia mengeluarkan benda mirip granat. "Gas air mata."
Miku dan yang lainnya mangap. Rasanya sedang mirip dengan invasi yang dilakukan teroris. "Hei, ini lebih sederhana. Aku bisa menyiapkan jalan rahasia untuk perjalanan pulang kalian tanpa harus takut pulang bercucuran air mata. Ventilasi udaranya juga bisa di-set ulang dengan komputer. Juga CCTV-nya."
"Terus kami harus nyanyi lagu macam apa?" tanya Rin lagi.
"Kalian tahu Va**n' I*e, 'kan?"
Rin dan Gakupo mengangguk.
"Kalian boleh ngambil lagu-lagu mereka atau dari band atau idol grup lainnya juga boleh." ujar Miku.
"Sekarang kalian pikirkanlah apa yang ingin kalian nyanyikan disana. Kami beri kalian waktu 10 menit buat diskusi." kata Akaito.
10 menit kemudian...
"Kalau Kaito-senpai mau nyanyi lagu Haitoku no Kioku nggak?" tanya Rin pada Kaito.
"Lost Memory, 'ya? Boleh deh. Aku tahu chord bass-nya."
"Kalau gitu, ayo kita kesana. Kita persiapkan segalanya."
"Kita nggak perlu kostum?" Rin menarik tangan Miku.
Miku berbalik dan melihat kostum teman-temannya.
'Tipikal musim panas.' pikir Miku.
"Nggak usah deh, kalian udah keren kok. Ayo jalan!"
Miku memimpin jalan menuju Olympus.
.
.
.
[PLACE : OLYMPUS]
.
.
.
Rin menarik tangan baju Miku dan Len bersamaan.
"Miku, Len, ini tempat apaan sih? Kok remang-remang?"
"Ini tempat rahasia."
Lain Rin, lain lagi Gakupo. Dia sih asyik cuci mata liat cewek-cewek dengan baju ketat yang menonjolkan kelebihan tubuhnya. Semua cewek yang berpapasan dengan mereka disiulin, membuat cewek-cewek itu ketawa kecil sambil mengedipkan mata padanya.
"Kau hobi main di tempat beginian, kenapa nggak pernah ngajakin?" tanyanya pada Gakupo.
"Heh, males gue ngajakin pendekar hentai kayak elu ke tempat beginian."
.
.
.
Kaito sedang beradu mulut bersama Zeus untuk mengizinkan mereka mengadakan pertunjukan sementara Miku dan yang lainnya sedang nge-set panggung.
Miku mengangkut gitar.
Rei mengatur lampu sorot.
Rin soundcheck dengan microphone-nya.
Gakupo nyetem bass.
Kaito keluar dengan senyum penuh kemenangan, diikuti Ares (Zeito) dan Zeus (Yohio) yang bersungut-sungut kalah bicara sama pemuda berusia 16 tahun.
Miku mengumpulkan teman-temannya lagi, menjelaskan kembali rencana mereka.
"Apa kalian siap?" seru Miku.
"Yosh!" sahut yang lainnya. Mereka berpencar. Masuk ke pos masing-masing. Kaito dengan bass-nya. Rin Len dengan microphone-nya (khusus Len, dia juga megang bass) dan Gakupo pada drum. Rei sudah sedia dengan lampu sorotnya. Dia memincingkan matanya mengawasi orang bernama Zeito dan Yohio yang sudah berada di depan panggung bersama gadis-gadisnya.
"One! Two! One two three four!" seru Rin.
Lampu disorotkan pada Kaito dan kawan-kawan. Drum ditabuh untuk mengambil irama, diikuti bass yang mulai mengambil intro lagu.
Benar saja, tak sampai intro lagu selesai, seluruh manusia yang ada di Olympus sudah berkumpul di depan stage.
'Sepia iro ni somaru mioboe no aru joukei~'
'Taikutsu na sora miagete wa tameiki majiri no gogo~'
Itu sinyal bagi Miku. Miku memperhatikan sekitarnya. Oke, tak ada yang melihatnya. Dia menyelinap ke dalam ruang ganti. Dia menggeser angka-angka untuk membuka loker Kaito. Setelah lokernya terbuka, dia masuk dan bersembunyi.
'Kodoku otshitsubusare kurutte shimai sou~'
'Ubawareta kioku mo uso mo shinjitsu mo~'
Akaito masuk ke ruang ganti. Di belakangnya, Ares mengikuti. Rei yang diam di penyangga besi lampu, menyorot Ares dan Zeus. Lampu sorot pun mengikuti Ares.
Akaito berpura-pura mencari sesuatu di lokernya. Matanya terpaku pada loker Ares. Ares menggeser angka-angka untuk membuka lokernya.
"Apa-apaan sih Perseus-idiot itu. Buat acara nge-band segala. Personil band-nya harus kubersihkan."
CLAK! Lokernya terbuka. Penutup loker itu ditarik dan kodenya pembukanya belum berubah.
'1952!' teriak Akaito dalam hati.
"Apa yang kau lihat?!" Ares menutup lokernya dengan bantingan. "Tidak ada!" seru Akaito.
Entah apa yang diambilnya, Akaito mengetuk loker Kaito. Ares mendengar ketukan itu (gile, pendengarannya tajam amat) berniat kembali ke ruang ganti namun dihalangi Rin yang kini mengalungkan tangannya di leher Ares dengan gerak-gerik menggoda. Jangan lupakan soal lampu sorot yang semuanya teralihkan pada Ares itu. Semua mata teralih menuju Ares.
"Nando demo anata no namae yobu kara~" Rin bernyanyi sambil mengelus-elus dada Ares seduktif. Entah apa yang merasuki gadis itu sampai bisa bertindak separah itu. "Omoidashite hoshikute koe, karete mo~"
Rin melempar kiss-bye dan kembali ke panggung. Len memutar bola matanya, cemburu (author : cie, cie, cie)
"Huh, bagus Rin~" gumam Miku sambil membuka loker. Akaito membisiknya.
"1952," bisik Akaito. "Aku tunggu di depan."
Akaito berjalan keluar dan Miku membuka loker Akaito.
CLAK! Lokernya terbuka. Benar saja, disitu ada sebuah brankas dengan fingerprints scanner. Miku mengeluarkan serbuk fotokopi dan menaburkannya di atas scanner. Dengan tangannya yang terlapisi sarung tangan karet, dia menyapukan serbuk fotokopi itu.
Bingo! Sebuah sidik jari terlihat. Dengan buku jari telunjuknya yang dibungkus selotip, dia menekan sidik jari itu. Jantungnya berdetak kencang, takut gagal.
Lampu keamanannya berubah hijau. Brankas terbuka. Disitu ada lima buah kunci.
Miku mengambil kelima kunci itu, menutup brankasnya, lalu menutup lokernya. Dia berjalan keluar dari ruang ganti. Akaito berdiri di samping pintu.
Miku menarik tangan Akaito dan meletakkan kelima kunci itu. Akaito tersenyum dan berlari masuk menuju LOVE dengan kecepatan tinggi. Ini harus berakhir. Dia cuma butuh waktu 15 menit sampai lagu kelima berhenti dinyanyikan.
Apa dia akan berhasil?
.
.
.
Miku mengintip lewat celah pintu, tak ada yang melihat ke tempatnya. Miku berjalan mengendap keluar.
Dia merasakan ada benda dingin menyentuh sudut keningnya. Dia melihat siapa yang menaruh moncong pistol itu pada keningnya lewat ekor matanya.
"Mi..kuo-nii?" kata itu meluncur. Ingatan itu muncul lagi.
"Menjadi slave disini, Miku?"
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
[EXTRA STORY : JEALOUS]
"Jadi, aku harus 'bertingkah' dengan pria-pria ini?!" seru Rin.
"Yah, kalau mereka melakukan hal-hal diluar rencana~" jawab Len. "Aku janji, kalau kamu berhasil mengalihkan perhatiannya, kita bakalan kencan lagi."
Rin berpikir. "Baiklah.."
Satu jam setelah itu, Len manyun. Orang yang menyuruh Rin bertingkah dengan Zeito, justru manyun. Nggak terima pacarnya bertingakah seduktif dengan pria yang notabene-nya sudah berumur lebih dari 30 tahun itu. Oh hell, seminggu dia pacaran dengan Rin dan dia belum pernah menerima perlakuan sepeti itu!
Len is on fire, minna!
He is jealous!
[EXTRA STORY END]
.
.
.
Mind to Review?
.
.
.
Shintaro Arisa, out~
