.

.

Kuroko No Basket is not my own. It's written by Noburo Takagi-sensei.

Kurono No Basket!Manga and Light Novel is not my own as well. It's written by Fujimaki Tadatoshi-sensei.

But this fic is my own fic, with Tangled Disney plot-story

Hope you like it!

.

.

Kadal kecil berjalan asik di depan jendelaku, lalu mencari tempat persembunyian, begitu aku membuka jendela tersebut.

"Yah, kurasa pascal tidak bersembunyi disini~." Kataku, menggurau. Sebenarnya aku tahu, kalau kadal itu, sebut saja pascal, temanku, bersembunyi di balik pot, di sudut jendelaku.

Rambutku menyusuri keluar jendela dan menangkap kaki pascal. Lalu menariknya. "Kena kau!"

"22 poin untukku! Mau main lagi?"

Wajahnya cemberut kesal. Kurasa ia bosan.

"Baiklah, apa yang mau kau lakukan?"

Ia terlihat senang mendengar ucapanku. Langsung, ia menunjuk kearah luar menggunakan ekornya, dengan antusias.

"...ntahlah, kurasa tidak. Aku suka disini, dan kau pun juga."

Ia melirik kearahku dengan tatapan mengejek, seakan-akan ia hendak mengatakan "dasar payah!" kearahku.

"Ayolah Pascal, disini tidak begitu buruk kok." Aku menaruh pascal di tanganku mengajaknya masuk ke dalam.

Aku berlarian, dan sekarang mendapati diriku berada diatas kayu-kayu penyangga atap menara.

Aku melemparkan beberapa rambutku yang panjang untuk menangkap tuas diujung sana, dan turun ke lantai bawah. Serius. Aku malas menggunakan tangga. Dan juga tangga tidak setinggi itu.

Aku bersenandung senang. "Seven a.m., the usual morning line up."

"Start on the chores, and sweep till the floor's all clean." kuambil sapu, dan mulai menyapu lantai yang berdebu.

"Polish and wax, do laundry and mop and shine up.

Sweep again and by then it's, like, 7:15."

Aku pergi ke ruanganku, untuk mengambil buku yang dibelikan Aida-san. Dua atau tiga selebihnya untuk dibaca. "And so I'll read a book, or maybe two or three."

"I'll add a few new paintings to my gallery.

I'll play guitar and knit and cook and basically.

Just wonder when will my life begin?

Then after lunch it's puzzles and darts and baking.

Papier-mache, a bit of ballet and chess.

Pottery and ventriloquy, candle-making.

Then I'll stretch, maybe sketch. Take a climb, sew a dress.

And I'll reread books, if I have time to spare.

I'll paint the walls some more, im sure there's room somewhere.

And then I'll brush and brush and brush and brush my hair.

Stuck in the same place I've always been.

And I'll keep wondering and wondering and wodering and wondering.

When will my life, begin?

Tomorrow night.

The lights will appear

Just like they do

On my birthday, each year

What is it like

Out there where they glow

Now that im older.

Mother might just let me go"

ヽ(´ω`*)

Sedangkan ditempat lain.

Tiga orang pemuda, yang satu berambut blond keemasan, satunya biru gelap, dan yang satu lagi merah gelap.

Sepertinya mereka pencuri. Karena kalau tidak mereka tidak perlu bertamu lewat atas atap.

Mereka menyelinap dengan sangat lincah dari atap ke atap yang lainnya. Terlihat...pro.

"Whoa, ini keren sekali ssu!"

"Woi, Coppie, cepetan, keburu ketauan!" Teriak pemuda dengan surai biru gelap itu. Sebut saja Aomine.

"Tunggu ssu! Oke, aku udah biasa liat ini. Dan, ini semakin membuatku gila! Aku ingin mempunyai istana ssu!"

"Kita lakukan pekerjaan ini. Dan kau bisa beli istanamu sendiri." Aomine menyeringai kesal, lalu menarik kerah bajuku kasar.

Menit berikutnya, pemuda dengan surai blond turun dari atas atap dengan ikatan tali dipinggangnya, sedang Aomine dibantu temannya yang berambut merah, Kagami yang urusan mengulurkan tali dan menariknya.

Dan tidak diragukan lagi. Mereka pencuri professional.

Saat pemuda blond itu, coppie, menyentuh mahkota yang dikawal penjaga yang bejibun minta ampun. Salah satu penjaga itu bersin. Biasanya pertanda buruk, dan biasanya kalau di film sang pencuri akan terlihat kaget dan lain-lain akhirnya ditangkap pengawal.

Tapi berbeda dengan coppie. "Demam flu?" Tanyanya polos.

"Yea" reflek si pengawal menjawab, tidak sadar. Detik berikutnya baru ia sadar, kalau seseorang telah mencuri mahkota kerajaan!

"Bisakah kau membayangkan aku di istana ku sendiri ssu? Karena aku bisa membayangkannya sekarang!"

( ´・ω・`)

"Hari ini, hari besar Pascal! Aku akan menanyakan hal itu padanya!" Seruku pada Pascal.

"Rapunzel!" Terdengar suara teriakan wanita dari bawah sana. Tidak salah lagi, pasti Aida-san.

"Turunkan rambutmu!"

Aku menarik nafasku pelan. "Tepat pada waktunya!"

Pascal tersenyum senang, "ya ya, aku tau. Pergilah, jangan sampai ia melihatmu."

"Aku datang!" Seruku, sambil mengikatkan rambutku, yang panjangnya astaga, sampe tumpeh-tumpeh(?), sehingga terjuntai jatuh ke bawah.

Begitu Aida-san menarik rambutku, aku menarik rambutku seakan-akan aku menarik katrol sumur. Meskipun aku tak tau seperti apa sumur yang sebenarnya.

Tubuh Aida-san cukup berat. Butuh usaha keras untuk menariknya keatas. Tapi detik berlalu, dan akhirnya pun ia sudah diatas. Sungguh, makan sapi kah dia diluar sana? Berat sekali tubuhnya! Kalau Aida-san kambing, mungkin sekarang sudah di kurbankan.

Sayangnya dia bukan kambing. Sayangnya.

"Aida-san, aku tau kau anti-mainstream. Tapi tolong. Buat pintu untukmu masuk kesini."

"Ah itu tidak bisa! bagaimana kalau ada pencuri masuk?"

Aku mengerutkan dahi, curiga. "Memang pencuri tidak bisa manjat sampai jendela?"

"Kalau di tempat ini takkan ada yang berani. Ngomong-ngomong, kau hebat bisa mengangkatku setiap hari seperti itu tanpa ada kesalahan sedikit pun. Kau kelihatan lelah sayang."

Dalam hati aku merutukinya. 'Siapa yang tidak lelah kalau disuruh mengangkat kambing segendut kau' batinku.

Ingin kuucapkan tapi tak tega, karena dia yang selalu merawatku selama ini.

Aida pergi ke kaca dekat jendela. "Aida-san, kau tau besok adalah hari spesial?" Tanyaku tepat dibelakangnya.

"Oh! Rapunzel," ia menarikku berdiri di sebelahnya, lalu merangkul pundakku, "kau tahu apa yang aku lihat? Aku melihat gadis yang cantik, kuat, dan percaya diri. Oh lihat kau disitu juga!" Lalu ia tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang ia tertawakan.

Kurasa ia benar mengenai dunia diluar sana itu jahat. Lihat saja, pikirannya saja sudah tak waras sekarang.

"Aku hanya bercanda, berhentilah berpikir terlalu serius sayang." Lanjutnya, masih tertawa.

Kalian lihat kan? Aida-san sudah tidak waras.

"Eer—jadi, Aida-san, tadi aku bilang, kalau besok—"

"Rapunzel, aku merasa tidak enak badan. Bisakah kau menyanyikan lagu itu untukku sayang? Setelah itu kita bicara."

"Oh, okay!" Seruku dengan antusias.

Aku menyiapkan kursi besar untuknya, lalu berlari mengambil kursi kecil untukku dan memberikannya sisir.

Aku menyanyikan lagu favoritnya dengan tempo yang cepat. Rambutku, mulai bercahaya. Ia terlihat gelagapan melihatku seperti ini. "Rapunzel!" Serunya.

"Jadi, Aida-san, tadi aku mengatakan kalau besok adalah hari spesial dan kau tidak meresponku. Jadi aku akan memberitahuku, besok hari ulang tahunku!" Seruku penuh antusias, sambil memeluk lengan kiri, Aida-san.

"Tidak, tidak. Tidak mungkin. Aku sangat ingat, ulang tahunmu itu tahun lalu."

'Ulang tahunmu juga tahun lalu, dan tahun ini kau juga akan mengalaminya. Kalau bukan begitu bukan ulang tahun namanya.' Batinku kesal.

Aku hanya tersenyum lebar, "itulah hal yang menarik mengenai ulang tahun, Aida-san!"

Lalu senyuman itu leleh digantikan dengan tatapan sedih memelas kearahnya. "Aida-san, aku akan berumur 18, jadi aku ingin meminta..." aku menghela nafasku. "Apa yang aku dambakan saat ulang tahunku kali ini."

"Sebenarnya aku sudah mendambakannya bertahun-tahun yang lalu sih..." Gumamku.

"Rapunzel, tolong hentikan gumaman blah-blah-blah-mu itu. Itu sangat mengganggu!—aku hanya bercanda, kau imut, aku sayang padamu."

Aku menghela nafas sekali lagi. Aku melihat, Pascal merayap di dekat tungku api, dan menyuruhku untuk terus mengatakan hal itu pada Aida-san. Seakan-akan ia mengatakan "sekarang, atau tidak selamanya."

Aku menghirup nafasku perlahan, lalu membuangnya. "Aku ingin melihat cahaya yang beterbangan!"

Aida-san mengejang. "Apa?"

"Aku berharap kau mau mengajakku untuk melihat cahaya yang beterbangan." Aku membuka gorden diatas tungku. Disana, aku melukis, diriku duduk diatas rumput hijau, ditemani pohon-pohon rindang, sambil menatap kearah langit biru malam yang cerah dengan kerlipan-kerlipan cahaya terbang menghiasi langit.

"Oh, maksudmu, bintang~"

"Bukan! Maksudku, aku selalu melihat bintang setiap malam. Tapi yang satu ini berbeda. Mereka selalu muncul setiap saat hari ulang tahun ku, Aida-san! Aku merasakan bahwa...itu ditujukan padaku, dan aku uh—ingin melihatnya secara langsung bukan dari jendela saja. Aku harus tau, apa itu sebenarnya."

Aida-san pergi kearah jendela, tidak tertarik mendengar kalimatku sama-sekali. "Kau ingin pergi keluar?"

Ia tertawa kecut. "Tidak boleh."


ah:'3 kayaknya ini bakal update lama:'3 karena gue ori dari filmnya dan tambahan-tambahan lainnya~

ya itu aja sih dari gue hari ini:'3

Happy reading, see you next chapter!