NO REGRET
Author : Na U-Young
Genre : Romance, Yaoi, Hurt-Comfort, Straight, Slice Of Life, Drama
Rate : M-NC
Status : Chapter 1 of ...
Main cast : Wu Yi Fan / Kris 23 y/o
Huang Zi Tao 20 y/o
Jung Nana (OC) 22 y/o
Other Cast : Kim Jaejong as Jung Jaejong 36 y/o
Jung Yunho 36 y/o
Warning : UNDERAGE NOT ALLOWED (Dibawah umur tidak diperbolehkan karna mengandung cerita yang Mature. Dont like dont read, no bash, no flame, no war, Typo.
Sinopsis : Kisah cinta segi tiga yang rumit, berawal dari persahabatan hingga tumbuh benih-benih cinta di antara Kris, Nana dan Tao. Namun masih ada saja yang belum menyadari dan tidak mengerti siapa sebenarnya yang mereka cintai hingga konflik rasa penghianatan, keegoisan yang ditanamkan pada pikiran realistis yang menjadikan kesengsaraan bagi ketiganya hingga harus ada satu pihak yang mengalah. Apakah mereka akan bahagia dengan rasa penyesalan atau bahagia tanpa penyesalan seumur hidup.
Chapter Sebelumnya
"YAK! MWOYAA... Tao... kenapa kamu pegang-pegang wajahku. Aiisshh..." Kris yang merasa malu segera menyingkirkan tangan Tao di keningnya.
"Ah... Ge... mian aku lancang, aku hanya membantumu meringankan jidat mu yang memar. Aiih... dasar tidak tahu terimakasih." Kesal Tao dan segera mendekati Nana dan langsung menggandeng lengan Nana hendak mengajaknya pulang.
"YA... YA... Tao pelan-pelan. Aiih... Oppa kami duluan ne." Pamit Nana pada Kris karna Tao dengan seenaknya menarik Nana untuk meninggalkan Kris sendirian. Entah apa yang ada dipikiran Tao. Kenapa ia berani melakukan acara usap-mengusap jidat Kris. Aiih... Ppaboya! Gerutu Tao.
"Tao... Kenapa kau masih menyembunyikan perasaanmu padaku. Seandainya kau berani jujur, maka aku akan jujur padamu. Aku... aku... mencintaimu Huang Zi Tao."
.
.
.
.
.
CHAPTER 2
Sepanjang perjalanan Tao dan Nana hanya diam saja, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Sepertinya mereka larut dalam pemikiran masing-masing. Ada sedikit hal yang mengusik pikiran mereka hingga satu per satu pertanyaan tertulis di benak masing-masing.
"Hnn... mengapa aku seceroboh ini melakukan sesuatu yang memalukan di hadapan seorang yeoja, iisshh...! Entah mengapa tubuhku bergerak begitu saja. seharusnya aku bisa menjaga jarak dengan Kris. Aku tidak ingin cinta yang bertepuk sebelah tangan, tidak ingin berharap. Ia berhak bahagia, begitupun denganku aku juga ingin bahagia. Maka aku akan melakukan hal yang sama. Mencoba mencintai seorang yeoja... dan balas dendam." Tao membatin seraya memfokuskan dirinya pada jalanan yang tidak terlalu ramai karna telah memasuki kawasan perumahan Jung Nana yang beberapa menit lagi akan sampai.
"Jja... kita sampai Jung Nana... hey!" Tao mengerutkan alisnya saat melihat Jung Nana larut dalam lamunannya.
"Yak! Jung... kau tidak ingin masuk ke rumah eoh?" bentak Tao pada Nana karna merasa tidak dihiraukan. Namun hal itu mampu membuat Nana menolehkan wajahnya ke arah Tao.
"Apa Kris dan Kau memiliki hubungan khusus?"
"..."
"Apa kau mencintai Kris? Aku ingin tau Tao, aku merasa kalian menyimpan sesuatu yang tidak aku ketahui." Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Nana, alis Tao hanya mengkerut bingung. Mengapa ia menanyakan hal seintim itu.
"..." Tidak ada jawaban dari Tao hingga Nana membrondong berbagai pertanyaan itu berulang kali yang membuat otaknya blank. Tao hanya bisa memandang wajah Nana lekat sembari melihat pergerakan bibir Nana yang terus komat-kamit, sampai-sampai ia tidak tahu harus menjawab apa. Hingga dengan tanpa sadar ia bertindak tidak sesuai dengan hati serta pikirannya.
"Tao.. akau hanya ingin tahu..." ujar Nana sekali lagi.
"Jawablah pertanyaanku Ta.. eummphh... yak! Tao... aahh.. eumpphh... nggh..." Tiba-tiba Tao membekap mulut Nana dengan ciuman serta lumatan yang sedikit memaksa. Ia tidak tahu harus menjawab apa, mungkin dengan cara ini semuanya akan berubah. Kecewa dan sakit hati mungkin akan tersembuhkan.
Tao memutuskan ciumannya yang lumayan kasar pada Nana dan perlahan mencekram pundak Nana erat, menatap lekat pada kedua bola mata Nana yang berwarna cokelat. Lalu iapun tersenyum...
"Tidak. Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kris. Jung Nana..."
"Benarkah?"
"Tentu saja karna aku..."
"..."
"Menyukaimu..."
DEG...
BLUSHH...
Mendengar pengungkapan yang dituturkan Tao. Seketika membuat detak jantung dan nafasnya terhenti. Apa maksudnya? Mengapa Tao tiba-tiba...
"Jung Nana... mau kah kau menjadi kekasihku..."
"Mwo! Maksud mu kita berpacaran?"
"Hmm..." Tao tersenyum dan mengangkukkan kepalanya, menanti jawaban dari bibir tipis yeoja manis dihadapannya. Mencoba mencintai orang yang dicintai oleh orang yang kita cintai, apa itu salah? Tao berusaha bersikap normal, bukan... ia ingin menjadi orang yang normal pada umumnya bukan mencintai orang yang sesama jenis dengan dirinya. Hingga sempat terlintas dibenaknya mengapa orang itu bisa jatuh cinta dengan seorang Jung Nana. Yang lebih membuatnya penasaran adalah dari sisi mana yang dapat memenangkan hati seorang Kris hingga Kris begitu mengagung-agungkan nama Jung Nana dihadapannya hingga membuat darahnya berbuih mendidih.
.
.
.
.
Di sebuah apartement mewah milik keluarga Wu.
"Zi Tao... hnn... aku merindukan segala yang ada di dirimu, merindukan senyuman manjamu, sikap kekanak-kanakanmu, merindukan sentuhanmu, merindukan bibir ini yang pernah kau kecup, aku merindukan disaat tubuh kita bersatu. Aku merindukan segalanya Tao.. Mungkin aku bodoh telah mengatakan hal yang seharusnya tidak aku katakan. Karna aku hanya ingin menguji seberapa besar perasaanmu padaku. Namun kau salah paham dan tidak mau mengerti. Mengapa kau menutup mata dan hatimu..." Batin Kris seraya merebahkan tubuhnya pada sofa putih yang berada di ruang tamu. Ia menghela nafas pelan dan menutupkan kedua matanya dengan tangan kirinya sambil mengingat kembali kenangan manis itu. Lalu, meronggoh saku celananya untuk mencari sesuatu yang selalu dibawanya. Tersenyum miris saat menemukan benda yang dicarinya, lalu ia memandang benda yang di anggapnya kenangan bersejarah baginya dan Tao sejak malam itu.
Flash Back On
DUK... DUK...
Suara dentuman bola basket terdengar menggema di sebuah lapangan basket berukuran sedang di daerah sungai han. Terlihat seorang laki-laki tampan yang bergerak lincah men dribble bola dan memasukannya kedalam keranjang.
"Kris... ayo pulang... apa kau tidak lelah? Hari sudah semakin gelap, mana disini sekali. Hey.. kau dengar tidak!"
DUK... DUK...
SRAKK..
"Ooow... kaki ku... Tao... tolong kaki ku kram... iiissh..." Kris meringis saat ia sedang asik menggiring bolanya memutari lapangan basket dan hendak memasukkannya lagi dalam keranjang. Tiba-tiba ia menjerit kesakitan pada kakinya.
"Krriiss!" Tao yang melihat Kris mengaduh kesakitan langsung berlari dan berjongkok sambil mengusap pelan kakinya untuk mengurangi nyeri.
"Sakit... Tao.. huu.."
"Makanya sudah berulang kali aku menyuruhmu untuk berhenti. Kau sih... selalu mementingkan kesenangan sendiri. Sedangkan aku tersiksa. Kau puas eoh?"
"Aaw... ya.. ya... Tao.. sakit kenapa kau malah meremas kaki ku..." Protes Kris karna kakinya yang sudah mulai baikan karna usapan Tao kini malah bertambah sakit karna remasan gemas sahabat tercintanya.
"Hnn... kau menyebalkan, aku pulang saja Kris."
GREEP..
Saat Tao berdiri dan hendak berbalik ke arah sepedanya yang berada di ujung lapangan. Tiba-tiba Kris menggenggam tangannya dan merogoh sesuatu dari kantongnya. Tao hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Kris tanpa bertanya.
TAK..
"Sudah... Sekarang kau boleh pulang. Ppali... pulang sana..." Ucap Kris ketus setelah berhasil memasang sesuatu di lengan Tao.
"Kris... gelang ini..."
"Iya... aku memberikan gelang ini untuk mu. Bukannya kau mengincarnya? Ah ya... aku juga membelikan gelang yang sama denganmu untuk ku.." Kris menunjukkan gelang dilengan kirinya yang tersenyum sambil memandangi gelang barunya.
"Maksudnya apa ini Kris" Tanya Tao, ia bingung pasti ada maksud dibalik perlakuan Kris.
"Aku ingin kita selamanya bersama. Bersahabatpun aku tidak masalah. Karna aku menyukai teman sepertimu Tao ah... kau sahabat istimewa..." Kris lalu berdiri dan memegang pundak kanan Tao dan tersenyum penuh arti.
"Bagaimana...?" Tanya Kris.
"Baiklah Krisku yang tampan..." Jawab Tao dan langsung merangkul tubuh Kris yang lebih besar dari ukuran tubuhnya, menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Kris, menghirup aroma maskulin yang menguar ditubuh Kris yang entah kali ini membuatnya sangat tenang dan damai. Kris pun membalas pelukkan Tao dan menyandarkan dagunya pada pepotongan leher dan pundak Tao. Ia senang, tentu saja...
.
.
.
Hari demi hari berlalu kini persahabatan mereka telah terjalin hingga 3 tahun lamanya, segala kekurangan-kelebihan, sifat dan kebiasaan Tao, Kris sudah hafal. Mungkin Tao pun begitu. Kemana-mana selalu bersama, selalu pergi ketempat yang mereka sukai, membeli perhiasaan yang sama seperti piercing, kalung, gelang, baju dengan motif sama, bahkan boneka serigalapun mereka beli dengan bentuk yang serupa. Benar-benar terlihat kompak dan serasi. Hingga Tao merasakan sesuatu yang aneh mengusik pikiran dan hatinya. Entah sejak kapan, dirinya selalu bersikap manja bila bersama Kris. Ia tidak merasa sungkan, begitu juga dengan Kris yang terlihat senang memanjakan Tao. Karna memang usia Kris lebih tua 3 tahun dari Tao dan pantas saja ia bersikap dewasa layaknya seorang kakak pada adiknya. Berpelukan, pegangan tangan dan mencium pipi pun sudah biasa bagi mereka berdua, karna hal itu menunjukkan rasa kepedulian mereka satu sama lain. Saling menyayangi, mungkin bisa lebih dari itu. Kita tidak akan pernah tahu.
.
.
.
"Sepertinya aku benar-benar tidak bisa jauh dari pandaku. Semua yang ia lakukan mebuat hatiku terasa tenang, tawa renyah dan sikap manja... begitu manis bagiku." Kris memejamkan matanya sambil mengingat tiap ekspresi yang sering diperlihatkan Tao saat bersamanya. "Aarrgh... apa-apa-an ini, kenapa aku jadi tidak waras eoh?" Kris menggetok kepalanya berulang kali kenapa pikirannya selalu jatuh pada pesona seorang namja yang jelas-jelas adalah sahabatnya.
.
.
.
"Sudah 3 tahun... aku tidak ingin berlama-lama mengutarakan perasaanku. Tapi bagaimana dengan responnya? Apa ia akan marah dan ketakukan jika orientasi ku berubah? Aargh... ini kan karna dia yang menjadikan aku seperti ini." Runtuk Kris dan mengusak rambutnya kasar.
"Kris... maaf lama menunggu, antriannya panjang sekali. Ini pesananmu, makan lah." Tao datang dengan membawa ice cream untuknya dan kris. Dan mereka menikmati kebersamaan memakan ice cream yang ditaburi dengan tawa canda yang semakin mempererat hubungan keduanya.
"Positif... aku ingin mengatakan perasaan yang sebenarnya pada Kris, tapi apa tidak apa-apa jika aku berterus terang? Apa ia akan marah? Huang Zi Tao beranikanlah dirimu untuk mengatakannya. Itu hal yang mudah bukan, tinggal ucapkan dan selesai." Tao bertarung dengan perasaannya, ia berpikir dan mengolah kata-katanya sedemikian rupa agar tidak menyinggung perasaan Kris.
.
.
.
Kris dan Tao kini masih betah berada didalam mobil audi hitam milik Kris. Mengapa mereka berubah menjadi canngung dan kaku seperti ini. Keringatpun mengucur dari pelipis Kris, rasanya panas-dingin disekujur tubuhnya. Ia ingin mengutarakan yang sebenarnya pada Tao saat ini juga bahwa ia sangat menyukai Tao mungkin bisa dikatakan ia mencintai Tao. Namun, terlintas ide ingin mengerjai Tao terlebih dahulu dan menjebaknya hingga Tao terlebih dahulu mengatakan kalau Tao pun menyukainya. Sejenis jebakanlah...
.
.
"Hmm.. Tao... apa kau mencintaiku?" Tanya Kris yang mulai menggenggam jemari Tao dan menatapnya lekat penuh arti.
"A.. aku?" Bingung Tao harus menjawab apa, ia juga terlihat gugup. Mengapa malah Kris yang menanyakan seperti itu di saat ia juga ingin menutarakannya.
"Jika kau jujur padaku, maka aku akan mengatakan yang sebenarnya."
"..."
"Aku memiliki rahasia yang tidak pernah kau ketahui." Ujar Kris sambil menaik-turunkan alisnya dan tersenyum menyeringai.
"Rahasia?"
"Kalau kau tidak mengatakan, bahwa kau mencintaiku, hmm... maka aku akan menceritakan rahasiaku terlebih dahulu dan mungkin kau akan menyesalinya."
"..." Tao masih terdiam sambil menggigiti bibir bawahnya. Rahasia? Apakah itu menyangkut dirinya?
"Rahasiaku adalah... aku... mencintai..." Kris menggantungkan kalimatnya
"Mencintai?" Tanya Tao semakin gugup.
"YEOJA!"
DUUARRR!
Seperti petir yang menyambar di siang hari. Seketika tubuhnya terasa kebas, serasa nyawa telah hilang meninggalkan raganya. Hatinya berdenyut sakit, yang tadinya ia merasa melayang-layang di udara tiba-tiba dirinya seperti jatuh dan terhempas ke dasar laut. Sungguh sakit dan sangat shock. Apa yang barusan Kris katakan? Yeoja? Mencintai Yeoja? Rahasia terbesar? Apa-apaan ini? Mengapa sebelumnya ia menanyakan apakah aku mencintainya atau tidak?" Batin Tao, ia sungguh tidak mengerti.
"Sejak kapan kau menyukai Yeoja eooh?" Tanya Tao sambil menutupi kegugupannya, ia menahan rasa panas pada wajahnya. Ia akan menangis, namun ia tetap menahannya. Dan ingin mengorek informasi siapa yeoja yang dimaksud.
"Aku mengenalnya sudah sangat lama, tapi aku baru saja memiliki perasaan padanya. Oh ya, namanya Jung Nana teman masa kecilku..." ujar Kris yang merasa menang melihat ekspresi cemburu dan rasa tidak senang yang ditunjukan oleh Tao.
"Tapi... jika kau mengatakan kau mencintaiku... maka aku akan melepaskan Nana. Sehingga kita akan selamanya bersama. Menjadi sepasang kekasih tidak buruk bukan? Bagaimana, apa kau mencintaiku atau tidak Tao-er" ujar Kris sambil membelai pipi mulus Tao dan tersenyum tulus. Tao memejamkan matanya sejenak dan membuka matanya untuk menatap ke dalam mata Kris untuk mencari kejujuran apa yang telah di ungkapkan oleh Kris. Nihil, ia tidak bisa membacanya. Karna hati dan pikirannya sangat kacau.
CHUU...
Tiba-tiba Tao mencium bibir Kris lama dengan sedikit melumat, Kris yang terkejut hanya diam saja menikmati perlakuan oleh Tao. Dan hal itu tidak akan di buang sia-sia begitu saja oleh Kris karna ia beranggapan bahwa Tao sudah memberikan jawabannya dan menerimanya sebagai kekasih seorang Kris. Kris bersorak ria di dalam hatinya. Lalu dengan senang hati ia membalas ciuman Tao dengan sedikit kasar. Di tariknya tengkuk dan pinggang Tao untuk mempersingkat jarak diantaranya.
BRAK...
Dengan gerakan cepat Kris membanting pintu mobilnya dan berlari cepat sambil menggendong tubuh Tao kearah pintu rumahnya. Masih dengan keadaan berciuman yang sangat panas. Kris dengan tidak sabaran melemparkan tubuh Tao di atas kasur Kingnya. Dan segera melepaskan seluruh pakaiannya hingga naked. Lalu ia melepaskan seluruh kain yang melekat pada Tubuh Tao. Hingga mereka sama-sama naked. Kris mengecupi seluruh permukaan wajah Tao dengan penuh nafsu, mengendus-endus permukaan leher Tao dan menghisapnya kuat hingga meninggalkan bercak kemarah-merahan. Lalu turun pada kedua nipple Tao yang mencuat tegang. Dijilatnya dengan gerakan memutar, membasahi nipple coklat itu dengan salivanya dan menggigitnya gemas. Hingga Tao pasrah, meringis dan mendesah sambil meremas rambut Kris menyalurkan rasa nikmat yang mendera bagian dadanya. Dirasa puas pada bagian atas tubuh Tao, iapun turun kebawah dan menggapai sesuatu yang keras, menyentuh dan merasakan bagian itu dengan rakusnya.
"Kriis... jangan disituuh... berhenti, aku tidak sanggup."
"Tenang saja aku akan membuatmu merasakan kenikmatan yang sebenarnya Tao-er." Setelah mengatakan itu Kris langsung memegangi kedua lutut Tao dan melebarkan kakinya hingga terlihat kedutan-kedutan nakal di bagian bawah Tao. Hingga Kris meneguk salivanya berulang kali saat melihat organ berwarna pink itu berkedut lapar. Ia mempersiapkan Tao dengan jari tengahnya yang sudah dilumuri dengan gel pelicin begitu juga dengan benda kesayangan miliknya.
JLEBB...
"Aaarggh... Kris... sakiiit... hentikan..." Tao meringis saat bagian bawahnya terasa sobek akan ukuran Kris yang tidak bisa dibilang kecil itu.
"Tao-er... rileks... aku akan melakukannya dengan pelan... peluklah tubuhku dengan erat saat kau merasakan kesakitan. Tapi aku berjanji kau akan merasakan kenikmatan yang tak pernah kau rasakan." Kris lantas menggerak-gerakkan pinggulnya semakin cepat dan dalam, menghentak-hentakkan pinggulnya pada kenikmatan dunia yang diperolehnya dari tubuh Tao. Ia meng-in out-kan juniornya semakin dalam dan keras, hingga Tao tidak tahan untuk sekedar manahan desahannya. Ia berteriak memanggil nama Kris sambil terisak menangis lalu tersenyum dikala Kris kembali mencumbu perpotongan lehernya. Ia senang sekaligus terluka. Setidaknya Kris telah meninggalkan tanda pada tubuhnya walau itu akan hilang perlahan. Dalam hati, jika ini yang terbaik untuknya dan Kris maka ia akan merelakannya walau ia merasa dendam entah pada Kris atau Jung Nana. Hingga mereka mencapai firdausnya dan mereka mengeluarkan cairan cinta dengan desahan erotis menggema diruang kamar milik Kris yang kini hanya diterangi oleh cahaya bulan.
.
.
.
"Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan, hanya ini. Memberikan tubuhku pada orang yang telah mencuri hatiku. Menjadikan moment ini sebagai kenangan pertama dan terakhir, dan merelakan Kris mencintai orang yang dicintainya. Aku menyerah, aku hanya seorang namja. Aku tidak pantas. Setelah kau mengatakan hal itu, aku yakin hubungan kita hanya sebagai sahabat tidak ada yang bisa melawan kodrat yang diberikan Tuhan. Laki-laki memang pantas mencintai wanita." Batin Tao sambil memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada Kris yang telah lebih dulu memejamkan matanya karena lelah.
.
.
"Tao-er apa jawabanmu sayang? Apa kini kita telah resmi berpacaran?" Tanya Kris sambil membelai rambut lepek Tao karna keringat. Ia menolehkan ke arah bawah dan menatap penuh cinta pada orang yang sedang memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya.
"Hmm... aku akan segera memberikan jawabannya Kris Wu." Ujar Tao, lalu mendongakkan kepala memandang wajah Kris. Tetap Kris namja yang tertampan batinnya. Aah... shit... kenapa aku malah memujinya. Aku harus berpikir realisitis. Batin Tao seraya menggelangkan kepalanya membuang semua hal yang mengganggu pikirannya.
"Hey... Tao... kenapa kau menangis?" Kris panik dan segera menangkup kedua pipi Tao dan mengusap air mata yang tiba-tiba menetes. Tao menangis?
"Aku.. hiks... sangat bahagia Kris. Karna aku bisa merasakan perasaan yang seperti ini. Mencintai orang yang kita cintai. Namun, maafkan aku yang lancang, karna menggodamu untuk melakukan ini. Tapi aku sangat senang. Merasakan kehangatan dari tubuh sahabatnya sendiri... hehe..."
"Ma.. maksudmu apa Tao... sahabat?"
"Iya... aku rela jika kau bersama dengan orang kau cintai. Terlebih orang itu adalah yeoja. Sebagai seorang sahabat aku akan mendukungmu." Tao tersenyum miris, dan segera mendudukan tubuhnya dan menyeka air matanya yang jatuh bercucuran. Bukan ini yang diharapkan. Bukan... tapi apalah daya Kris telah membuat hatinya sakit.
"Hnn... tidak usah khawatir... aku akan mendukungmu... jangan salah sangka aku memberikan tubuh ini untukmu Kris. Aku hanya ingin memberikan ini sebagai tanda selamat. Dan semoga kalian cepat berpacaran."
"Tao... jangan salah sangka... aku... aku hanya mencintai..."
"Pstt... sudahlah Kris. Sangat aneh dan lucu jika kita berpacaran. Aku namja dan kau namja... iishh.. baiklah, aku harus pulang Kris."
"Pulang? Kau tidak bisa pulang dengan keadaan seperti itu. Aku akan mengantarmu."
"Tidak, terimakasih Kris. Aku permisi." Pamit Tao yang langsung memasangkan pakaiannya asal dan berlari sembari meringis menahan perih akibat gesekan dibagian bawahnya meninggalkan Kris mengambang tidak mengerti. Apakah ini penolakkan? Tidak... aiishh... ia sangat menyesal dan meruntuki strategi bodohnya ini. Ternyata Tao menganggapnya dengan serius hingga ia salah paham. Tidakk... bukan ini yang ia mau... Ya Tuhan... dengan cepat Kris pun segera memasang celananya dan berlari mengejar Tao.
.
.
.
GREPP...
Dengan bermodalkan kakinya yang panjang Kris dapat menjangkau lengan Tao dan menahannya untuk berhenti berlari.
"Taaaoo... tunggu..."
"Kenapa Kris? Aku harus pulang..." Tao terus bergerak berusaha melepaskan lengannya yang di genggam Kris.
"Dengar penjelasanku dulu..."
"Apalagi? Eh, Itu taksi... TAKSIII..." saat Taksi itu berhenti dihadapan kedua namja yang sedang bersitegang. Tao dengan kuatnya melepaskan genggaman Kris dan berlari hendak membuka pintu taksi yang sudah berhenti menunggu penumpangnya masuk.
"Aku... mencintaimu Tao... sangat mencintaimu..."
DEG...
Langkah Tao terhenti, ia memejamkan matanya erat dan membiarkan airmatanya terus menetes. Tidak... Kris hanya sedang menghiburnya. Kris pantas dengan yeoja batinnya.
"Aku pamit Kris." Ujar Tao berbalik dan tersenyum perih sambil menatap Kris yang menunjukkan ekspresi yang sulit di artikan. Hingga Krispun ikut meneteskan air matanya sembari memegang dada kirinya yang terasa nyeri.
"Taaoooo...! aku mencintaimu Tao...!" Kris terus berteriak dan mengejar taksi yang membawa tubuh Tao menghilang dikeramaian malam yang belum sepenuhnya sepi. Ia menyesal dan merasa ia adalah orang yang ter-tolol karna telah menyakiti perasaan orang yang dikasihinya di saat ia akan merasakan indahnya jalinan kasih. Semu... harapannya seakan terbang bagaikan abu yang tertiup angin. Hatinya perih... bodoh... sungguh bodoh... hanya mampu berteriak dan menjeduk-jedukkan kepalanya pada sebuah tiang listrik berulang kali hingga memar. Hingga para pejalan kaki menatapnya miris mengira ia adalah orang yang tidak waras. Kasihan...
Flash Back Off
"Tao... aku ingin mendekap tubuhmu lagi Tao... Tao... hiks... maafkan aku yang berbohong ini Tao. Sungguh... aku mencintaimu... maafkan aku..."
.
.
.
REVIEW! FAV & Follow...!
Beri komentar positif & tinggalkan jejak. Supaya aku tau... siapa aja yang minat & dukung FF ini lanjut sampai end. Minimal sampe 8-10 tiap chapter... yang udah review, follow & fav kalian KEREN!... THANK U... #HUG
