_Whatcha Doin' Today
Author : Unicorn Ajol
Cast : Zhang Yixing (Lay) - Wu Yi Fan (Kris) and others.
Rated : T+ (I think it would be M sometimes).
Warning : typo(s), tidak sesuai EYD, genderswitch, dirty talk.
PS : Cerita hanya fiksi belaka, tidak bermaksud menyindir atau menjelekkan pemilik nama di atas. So, jangan dimasukin ke hati ya. This story is mine but Yixing belongs to us^^
...
Chapter 2
Suara klik kamera membuat Lay kembali mengubah posenya, kini ia dalam keadaan duduk dengan menyilangkan kakinya, membuat paha seputih susu itu terlihat dengan jelas, ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menunjukkan wajah datarnya yang cantik.
"Oke Lay, kini ganti pakaianmu." Seseorang yang menjadi fotografer untuk pemotretannya kali ini memberi instruksi pada Lay, dengan mengangguk kecil dan menebarkan senyum manisnya, gadis itu beranjak ke ruang ganti. Di dalam sana, ia hanya melihat cardigan rajut berwarna putih, hanya itu tanpa ada pakaian lainnya. Lay keluar dan menemui sang stylies. "Eonni, mana pakaianku?" tanyanya dengan cepat, ia tidak ingin membuat fotografer menganggapnya tidak profesional karena harus menunggu lama.
"Ada di dalam ruang gantimu Lay," jawab sang stylies.
Lay mengernyitkan dahinya, jangan bilang jika Lay harus melepas bajunya dengan menyisakan bra berenda yang kini ia kenakan dan hanya mengenakan sebuah cardigan untuk menutupi tubuhnya, oh Tuhan, kalau begini bisa-bisa Luhan akan memarahinya dan berusaha menghentikan jadwalnya seperti beberapa bulan lalu ketika Luhan melihat music videonya sebelum Whatcha Doin' Today, tidak, Lay tidak ingin hal itu terjadi lagi.
"Kau hanya akan menggunakan cardigan itu di luar bra yang kau pakai Lay." Dan harapan Lay pupus sudah ketika kalimat pendek itu keluar. Ya Tuhan, selamat tinggal panggungku tersayang. "Oh, aku lupa, kau harus menggunakan short bottom ini."
Dan kini Lay berakhir dengan berusaha mati-matian untuk menutup bagian payudaranya yang terekspos jelas, jika hanya menampakkan bagian atasnya saja mungkin Lay akan memakluminya tapi kini hanya seperempat payudaranya saja yang tertutup dan untungnya payudaranya sudah tidak menampakkan bercak merah hasil kreasi Luhan kemarin. Tapi tetap saja Lay bergidik sendiri merasakan ada banyak pasang mata menatap lapar kearahnya.
"Sekarang kau rebahkan tubuhmu dan aku akan mengambil gambarmu dari atas." Mata Lay terbelalak lebar mendengarnya, ya Tuhan. Lay ingin protes, tapi ia baru sadar jika sekarang ia sedang pemotretan untuk majalah pria dewasa. Salahkan saja managernya yang langsung menyetujui tawaran ini tanpa melihat majalah mana yang akan menjadikannya cover, padahal managernya itu juga tahu watak Luhan seperti apa jika sudah marah. Lay tidak ingin membayangkannya.
"Ayolah, jangan tutupi payudaramu dengan cardigan itu, buka sedikit."
Dasar fotografer pervert!
"Nah, seperti itu Lay, kau sangat cantik." Ya, ya, Lay tahu cantik yang digumamkan fotografer itu berbeda dengan arti cantik sesungguhnya. "Oke selesai, sekarang ganti pakaianmu dengan kemeja denim." Lagi? Bukankah perjanjiannya hanya untuk dua pakaian?
"Hey, setahuku hanya dua pakaian, kenapa aku harus menggantinya lagi?" Lay melayangkan protesnya, tadi pagi sebelum berangkat ke lokasi, managernya mengatakan ia akan pemotretan untuk dua jenis pakaian, tapi bagaimana bisa sekarang menjadi tiga? Tentu saja Lay tidak terima.
"Kau melakukannya untuk tiga pakaian."
"Tapi managerku..."
"Mana managermu? Tidak ada kan? Cepatlah, kau membuang-buang waktuku, sangat tidak profesional." Dan sepertinya fotografer itu berhasil menemukan titik lemah artis baru itu, oh lihat saja, Lay segera berlari ke ruang ganti dengan terburu-buru tanpa menyadari bahwa fotografer itu tersenyum licik kearahnya. Dasar gadis bodoh!
"Aku sudah siap, maafkan atas kelancanganku tadi." Ingat? Lay adalah gadis polos yang penuh dengan kesopanan, ia tidak ingin mengecewakan orang yang bekerja sama dengannya meskipun terkadang ia suka mengumpat dalam hati.
"Tidak masalah, ayo cepatlah, kau harus merebahkan tubuhmu di sini dan busungkan dadamu sedikit." Laki-laki berkulit coklat itu menuntun Lay kearah ranjang yang entah sejak kapan ada di sana. Lalu tangannya mengarah pada kemeja denim yang Lay kenakan. "Buka kancingnya dan menataplah ke kamera." Dan anggap saja Lay bodoh karena membiarkan laki-laki itu membuka kemeja yang ia kenakan.
Setelah menyelesaikan pemotretan yang menyebalkan itu, Lay demi kesopanan yang ia jaga langsung membungkuk dan menggumamkan kata 'terima kasih' dan 'kalian sudah bekerja keras' pada setiap staff yang ia temui, termasuk fotografer pervert itu sebelum masuk kedalam ruang ganti. Dalam benaknya Lay tidak akan pernah lagi menerima tawaran untuk majalah dewasa seperti ini dan ia tidak ingin lagi bertemu fotografer pervert seperti ini. Cukup kali ini saja.
"Lay…" panggilan pelan itu membuat Lay yang sudah mengganti pakaiannya segera menoleh karena kaget, di pintu ruang gantinya lebih tepatnya kini ada di depannya, fotografer pervert yang sedari tadi Lay rutuki berdiri dengan menyilangkan tangannya di depan dada. Gadis itu tidak tahu apakah ada aturan yang memperbolehkan seorang laki-laki masuk ke dalam ruang ganti seorang wanita? Ya Tuhan, apa orang ini tidak memiliki sopan santun? Tidak bisakah ia sekedar mengetuk pintu, bagaimana jika seandainya Lay tengah bertelanjang dada? Ya tentu ia akan senang Lay. Meski mengumpat dalam hati, gadis itu tersenyum kecil—meski sangat terlihat kalau senyum itu begitu dipaksakan.
"Apa kau memiliki waktu luang?"
Eh?!
"Bisakah aku mengajakmu untuk makan siang bersama?"
Lay mengernyitkan dahinya, apakah ini termasuk ajakan kencan? Tapi, tentu saja Lay tidak bisa menerimanya begitu saja, Luhan akan datang menjemputnya hari ini. Lagipula Lay tidak ingin membuat rumor yang aneh-aneh, apalagi bersama seorang fotografer pervert seperti laki-laki ini.
"Ah, maafkan aku fotografer Kim, temanku akan datang menjemputku sebentar lagi," jawab Lay pelan. Lay tentu tidak ingin menyebutkan bahwa yang datang menjemputnya adalah kekasihnya, karena tentu saja sebagai seorang idol yang baru muncul, Lay dilarang memiliki hubungan special dengan siapapun. Dan Lay dengan terpaksa harus menyembunyikan hubungannya dengan Luhan.
Tanggapan Luhan? Selama beberapa hari setelah Lay mengatakan bahwa hubungan mereka harus disembunyikan, laki-laki itu tidak mau menerima panggilan Lay meskipun Lay sudah mengirim berpuluh-puluh pesan dan juga menelponnya setiap saat. Dan yah, Luhan akhirnya luluh setelah Lay menangis dihadapannya dan mengatakan akan mempublikasikan hubungan mereka setelah ia dapat izin dari perusahaan.
"Kekasihmu ya?" gumam fotografer itu sambil menatap Lay yang tengah sibuk membereskan tas hitam miliknya. Lay hanya diam tidak menanggapi perkataan fotografer itu. Sudah banyak laki-laki yang mencoba mendekatinya sejak awal ia memulai debut, dan Lay sudah terbiasa untuk menolak ajakan mereka.
"Maaf fotografer Kim, kurasa aku harus pergi sekarang, temanku sudah menunggu di basement." Lay membungkuk sekilas lalu kembali menggumankan kata 'terima kasih' dan 'kau sudah bekerja keras' pada laki-laki berkulit coklat itu.
"Baiklah, sampai jumpa dilain kesempatan Lay." Lay hanya tersenyum sekilas sebelum meninggalkan ruang ganti itu, membiarkan fotografer itu sendiri di dalam sana. Sampai jumpa dan jangan menyesal nantinya.
…
"Hey Wu…" Suara maskulin itu menginterupsi khayalan Kris ketika matanya disuguhi beberapa foto yang membuat bulu romanya menggigil. "Kau menyuruhku mengambil foto ini untuk kau pandangi? Apa kau gila?" Laki-laki paling tinggi di sana hanya mengendikkan bahunya lalu mengambil memory card dari kamera milik laki-laki lainnya. "Hey, hey, kenapa kau ambil?"
Kris mengacungkan memory card itu lalu mengulum senyum liciknya. "Tentu saja agar kau tidak menjadikan calon kekasihku ini sebagai bahan masturbasimu, Kim Jongin." Jongin yang sadar niat terselubungnya diketahui oleh Kris hanya terkekeh kecil. Apa salahnya menjadikan seorang Lay—oke, Jongin ini adalah fotografer pervert sebelumnya—sebagai bahan khayalannya. Toh, gadis itu memang benar-benar cantik dan memiliki tubuh sexy yang menggiurkan.
"Kenapa kau menjadi seperti ini Kris? Bukankah sewaktu di China kita terbiasa untuk berbagi?" Ooh, jangan berpikiran negatif dulu kawan, Kris dan Jongin berteman sejak lama dan setiap Jongin sedang berkunjung ke China, Kris dengan—sebenarnya tidak—senang hati menampung sahabatnya itu di kamar apartement mewahnya.
"Bodoh!" Kris memukul kepala Jongin dengan kencang, membuat laki-laki tan itu hanya bisa meringis kesakitan. "Kita memang terbiasa berbagi, tapi yang kita bagi hanyalah kamar apartement dan makanan, bukan wanita!"
Jongin mengendikkan bahunya sebelum menyesap kopi hitamnya. "Tidakkah itu sama saja?"
"Tentu saja tidak dude! Lagipula…" Kris menjeda ucapannya untuk menghela nafas pelan. "…Lay kekasih sepupuku, Luhan."
"Luhan?" Jongin mengernyitkan dahinya, sepertinya ia begitu familiar dengan nama Luhan, tapi ia tidak ingat kapan dan dimana ia pernah mendengar nama itu. Apa mungkin Kris pernah menyebutkan nama sepupunya itu dulu sewaktu ia berkunjung ke China? Ah, mungkin saja. Lagipula apa pentingnya nama Luhan itu.
Jongin akan kembali menyesap kopinya ketika ia menyadari sesuatu dari perbincangannya dengan Kris saat ini. "Jangan katakan, kau akan merebut Lay dari sepupumu itu Kris?" dan pertanyaan itu membuat Kris hanya dapat mengendikkan bahunya. Jongin sangat tahu watak sahabat baiknya ini. Kris yang egois dan ambisius akan selalu berusaha memenuhi keinginannya sendiri meskipun harus mengorbankan orang lain, tapi sebenarnya sifat itu tidak pernah keluar selama Jongin berteman dengan Kris sehingga Jongin tidak tahu apa yang tengah direncanakan kepala emas itu.
"Jangan berbuat yang aneh-aneh Kris, atau Lay mungkin saja akan membencimu seumur hidupnya." Jongin memperingati Kris, ia tahu bahwa Kris sekarang benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Air muka dan pancaran mata Kris menjelaskan segalanya, meski pada awalnya Kris hanya ingin 'bermain' dengan gadis itu, tapi Jongin tidak mendapati mata itu berbinar penuh nafsu melainkan berbinar penuh dengan perasaan bernama cinta itu. Yeah, Jongin apa yang tengah kau bicarakan ini?
"Tentu saja tidak Jongin, hanya sedikit, yah, nanti kau akan tahu."
…
Jongin saat itu tengah mengendarai mobilnya dengan santai, pertemuannya dengan Kris harus berakhir karena laki-laki dengan kepala emas itu harus menemui klien dan Jongin setelah menghabiskan cake ke-empatnya segera beranjak dari sana. Matanya berkeliaran memperhatikan para pejalan kaki yang tampak menikmati cuaca cerah hari ini.
Hari ini seharusnya Jongin bisa menghabiskan waktu siangnya bersama sang kekasih, hanya saja kekasih mungilnya itu tengah sibuk dengan pasiennya di rumah sakit, dan merasa bosan harus menemui Kris, Jongin ingin sekali waktu keluar dengan wanita lain, sayangnya yang ia temui malah calon kekasih sahabatnya yang bahkan menolak mentah-mentah ajakan makan siangnya. Yah, si Lay Zhang itu.
Mata Jongin tidak sengaja menangkap bayangan seorang wanita yang tadi menolak tawarannya ketika traffic light di depannya menunjukkan warna merah. Gadis itu tampak menggunakan penyamaran dengan kacamata hitam, syal putih yang melilit lehernya serta topi merah. Tapi, meskipun begitu Jongin dapat dengan jelas mengenali bahwa itu adalah Lay, tentu saja, gadis itu masih mengenakan pakaian yang Jongin lihat di ruang ganti.
Ia tampak merangkul lengan seorang laki-laki berambut merah yang dibalas merangkul pinggang oleh sang pria. Mata Jongin mengikuti langkah mereka hingga mereka menghilang di sebuah restoran pinggir jalan yang bahkan sangat terpencil di daerah itu. "Jadi itu yang bernama Luhan?" gumam Jongin pelan. Pantas saja Lay sangat setia pada kekasihnya, kekasihnya yang bernama Luhan itu benar-benar tampan, lebih tampan dari Kris dan tentu saja tidak lebih tampan dari Jongin.
"Apa aku harus memberitahu Kris tentang keberadaan mereka ya?" Jongin kembali melajukan mobilnya ketika traffic light itu berubah menjadi hijau. "Mungkin tidak."
Jongin mengendikkan bahunya untuk selanjutnya membawa mobilnya melaju ke arah rumah sakit tempat kekasihnya berada. Dan ketika sampai di sana, Jongin di buat menganga dengan keadaan rumah sakit yang benar-benar kacau—sebenarnya hanya di depan ruang UGD saja—banyak perawat yang berlari kesana-kemari dengan membawa obat dan juga sepertinya alat operasi. Jongin tidak tahu dan tidak sedang ingin tahu.
Kembali, matanya menangkap gadis mungilnya yang sepertinya tengah terburu-buru. Gadis bermata bulat itu tampak sibuk dengan pakaian operasinya. Oh, jadi memang sedang akan ada operasi hari ini. "Hai babe, apa yang terjadi?" Gadis itu tampak terkejut mendapati kekasih pervert-nya ada di sini. Jongin berdiri di belakang kekasihnya dengan wajah yang tersenyum jahil.
"Kau membuatku kaget Jongin." Gadis itu tampak tidak terlalu memperdulikan Jongin, ia masih sibuk mengenakan pakaian operasinya. "Aku akan melakukan operasi hari ini, pasienku yang biasanya aku ceritakan, ingat?" Jongin tampak mengingat-ingat dan mengangguk sekilas. "Gadis itu mengalami kontraksi dan mau tidak mau dia harus menjalani operasi kali ini."
"Baiklah, aku mengerti, aku akan menunggumu di ruang kerjamu saja."
"Apa sebaiknya kau tidak pulang Jongin? Kurasa operasi kali ini akan sangat lama." Akhirnya gadis itu berbalik untuk memandang wajah tampan Jongin, ia tahu Jongin sangat benci menunggu dan menunggu ia melakukan operasi merupakan hal terlama yang akan Jongin lakukan.
"Tidak menjadi masalah, pergilah, kalau aku bosan aku bisa menggoda satu dua perawat di sini…" Jongin mengendikkan bahunya dengan santai, membuat sang kekasih hanya terkekeh kecil melihatnya. "Hey, seharusnya kau marah aku berkata begitu, Kyungsoo."
Sekarang giliran gadis bernama Kyungsoo itu yang mengendikkan bahunya dengan santai. "Kau tidak akan berani, jika terjadipun itu bukan masalah bagiku, banyak dokter tampan yang siap menjadi kekasihku," balasnya sambil tersenyum kecil ke arah Jongin yang memasang wajah kesal.
"Yaak! Do Kyungsoo!"
Jongin hanya tertawa kecil melihat Kyungsoo yang membentuk sign hati ke arahnya. Ia tahu kekasihnya itu hanya bercanda mengatakan hal itu, Jongin jadi merasa bersalah sempat menginginkan berkencan dengan wanita lain dan juga menjadikan wanita lain sebagai bahan masturbasinya, sedangkan Kyungsoo, wanitanya itu begitu setia, lagipula Kyungsoo jauh lebih sexy dari siapapun. Terlalu sibuk untuk mengkhayalkan sang kekasih, Jongin sampai tidak sadar ada seseorang yang berlari ke arahnya. Laki-laki dengan hoodie yang menutupi kepalanya itu tampak terlalu terburu-buru hingga tidak sempat mendengarkan gerutuan Jongin yang sudah terjatuh di lantai.
"Sialan! Dia pikir ini jalan miliknya, sembarangan saja." Dan ketika Jongin menoleh laki-laki sialan itu sudah jauh dari tempatnya sekarang, ia hanya melihat wajahnya sekilas, hanya sekilas karena setelahnya laki-laki itu sudah berbelok ke arah ruang operasi. "Huh, untung saja ketampananku tidak hilang." Kurasa otakmu yang hilang Jongin.
….
Sankyu buat yang udah ninggalin review dan udah ngefollow dan ngefavorite^^
