_Whatcha Doin' Today
Author : Jeonghannienoona, maybe last time I had writed my name with Unicorn Ajol, right? That's my past stage name, hahaha
Cast : Zhang Yixing (Lay) - Wu Yi Fan (Kris) and others.
Rated : M for adult.
Warning : typo(s), tidak sesuai EYD, genderswitch, dirty talk.
PS : Cerita hanya fiksi belaka, tidak bermaksud menyindir atau menjelekkan pemilik nama di atas. So, jangan dimasukin ke hati ya. This story is mine but Yixing belongs to us^^
...
Chapter 3
"Maafkan aku sayang, maafkan aku." Laki-laki itu menggenggam tangan pucat yang sejak semalam terkulai lemah itu, ia benar-benar bodoh bisa melupakan gadisnya yang kini berjuang antara hidup dan mati. Bibirnya tidak pernah henti untuk mengucapkan kata maaf sejak semalam, bahkan ia tidak sempat—mungkin tidak ingin—memejamkan matanya walau sejenak, seakan takut jika ia tertidur nanti gadis pucat itu akan hilang.
"Aku berjanji, semua akan selesai sebentar lagi sayang." Laki-laki itu kembali memutar kenangan masa lalunya bersama gadisnya itu. Masih lekat dalam ingatannya, sebelum kecelakaan sialan itu mereka berdua terbiasa menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar taman bermain ataupun hanya sekedar bermain game bersama. Benar-benar menyenangkan dan membuat ia tidak dapat menghapus kenangan itu walau setitik. Dan kenangan itu yang membuat perasaan benci dalam hatinya tumbuh hingga sebesar sekarang.
"Tidak, aku harus melakukannya." Seakan tengah melakukan komunikasi dengan sang kekasih, laki-laki itu menyahut seraya tersenyum. "Kau harus tahu sayang, rencanaku sudah hampir selesai, dan aku berharap tidak akan pernah ada gangguan lagi." Ia kecup sekilas kelopak mata yang seakan tidak pernah lelah untuk tertutup itu, lalu beralih pada bibir merah yang tidak semerah dulu lagi.
Suara klik pintu membuat laki-laki itu segera menoleh, di depannya berdiri seorang dokter muda yang sudah hampir setahun ini merawat gadisnya di Korea. Dan laki-laki itu begitu berterimakasih karena kemarin dokter ini sudah mau menghubunginya disaat yang tepat.
"Tuan…" dokter itu tersenyum kecil sebelum melanjutkan ucapannya, "…saya harus melakukan pemeriksaan pada nona Tao…"
Laki-laki itu hanya mengangguk dan berdiri dari duduknya. Ia biarkan dokter itu memeriksa kekasihnya, ia tidak dapat menghalanginya meskipun ia masih tetap ingin menggenggam tangan kekasihnya itu, jika ia melakukannya, mungkin saja sesuatu yang buruk akan menimpa sang kekasih.
"Tuan, keadaan nona Tao hari ini sudah membaik, tapi saya belum dapat memastikan kapan ia akan siuman, kita hanya perlu menunggu lagi…" jeda sebentar diberikan oleh dokter itu, ia melihat sekilas catatan medis di tangannya. "…reaksi tubuh nona Tao terhadap operasi kemarin juga sangat baik, dapat saya katakan nona Tao tidak menolaknya, tidak seperti operasi sebelumnya."
Mata laki-laki itu melebar, ini pertanda baik. "Terimakasih dokter Do, dan terimakasih sudah merawat Tao selama ini."
"Tidak menjadi masalah tuan, ini sudah menjadi tugas saya sebagai seorang dokter." Dokter itu memeriksa infus yang menyuntik punggung tangan Tao. "Perawat sebentar lagi akan datang mengganti infus nona Tao, mungkin hanya itu yang dapat saya sampaikan. Saya permisi dulu tuan."
Laki-laki itu menggangguk kecil lalu kembali menatap wajah pucat kekasihnya ketika dokter itu meninggalkan ruang rawat kekasihnya, "Kau dengar itu sayang? Cepatlah bangun dan aku akan segera menikahimu." Kembali laki-laki itu mengecup bibir pucat kekasihnya, menekannya pelan dan melumatnya penuh perasaan meskipun kekasihnya itu tidak merespon perlakuannya.
"Kurasa, rencanaku akan aku jalankan sebentar lagi," gumam lelaki itu pelan. Ia kecup lagi tangan kekasihnya tanpa menyadari bahwa setitik bening jatuh dari mata tertutup itu. Meskipun gadis itu dalam keadaan tidak sadar, tapi suara disekitarnya dapat masuk ke dalam pendengarannya, dan ia mendengar segala rencana kekasihnya meskipun ia sedang berada di alam bawah sadarnya.
….
Lay tampak menggerutu pelan, Luhan meninggalkannya sendiri di ruang kerja kekasihnya itu. Dan laki-laki berambut merah itu pergi entah kemana bersama Kris. Ia mengatakan akan menemui klien, tapi sudah satu jam berlalu dan laki-laki itu tidak menghubunginya. Lay kesal? Tentu saja, seharusnya hari ini mereka bisa pergi kencan—meskipun sebenarnya kemarin mereka juga pergi berkencan—menghabiskan waktu berdua walau hanya di dalam kantor sialan ini. Tapi setidaknya bersama Luhan saja sudah sangat menyenangkan bagi Lay.
"Sendirian seperti ini membuatku merindukan mama dan papa, hmmm…" Lay menghela nafas berat. Kedua orang tua Lay meninggal akibat kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu, Lay tidak ingat kejadiannya seperti apa, yang ia tahu saat itu ia masih berumur lima belas tahun dan kecelakaan itu terjadi setelah ia bertemu dengan Luhan yang melanjutkan studinya di Amerika.
Daripada menghabiskan waktunya dengan berdiam diri dan hanya membuat dirinya sedih, Lay memilih untuk melihat-lihat isi ruangan Luhan, meskipun sering berada di kantor Luhan, Lay tidak pernah sekalipun memeriksa atau mengetahui isi ruangan ini—yah apalagi alasannya jika kalau bukan karena setiap Lay ada di ruangan ini, ia hanya akan menghabiskan tenaganya di atas sofa, you know what I mean right?
Mata Lay memicing ketika tidak sengaja ia menemukan kertas yang tampak menyembul dari sebuah laci yang terletak paling bawah di lemari kaca yang sempat mengikatnya dulu—ooh Lay benar-benar malu mengingat kejadian itu. Kertas itu seperti potongan koran yang sudah kusut.
"Itu kertas apa ya?"
Belum sempat Lay menuntaskan rasa penasarannya, pintu ruangan Luhan sudah terbuka dan menampilkan sosok Kris yang tinggi menjulang itu.
"Hey kau gadis mesum."
Mata Lay melotot mendengar panggilan Kris padanya, hey! Lay tidak mesum! Apa-apaan laki-laki emas itu. "Siapa yang kau panggil mesum heh?" Gadis itu melangkah mendekati Kris dengan tangan yang menyilang di dadanya. Dan demi apapun, laki-laki ini benar-benar tinggi membuat Lay dengan mata melotot harus menatapnya sambil mendongak.
"Kau…" Kris menunjuk tepat kearah Lay membuat gadis itu memundurkan langkahnya. "…mesum," lanjutnya pelan. "Gadis mana yang membiarkan tubuhnya terekspos secara terang-terangan di dalam kantor seorang laki-laki, kalau bukan gadis mesum seperti dirimu." Kris menyunggingkan senyum remehnya meski dalam hati, Kris sebenarnya bersorak kegirangan karena gadis di depannya ini.
Entah mengapa ekspresi Lay yang menahan marah mungkin juga malu di depannya ini benar-benar menggemaskan. Wajah itu tampak memerah dan bibir tipisnya yang menggoda itu mengerucut seakan memanggil Kris untuk segera menciumnya. Oh ayolah, hanya diam saja gadis itu mengairahkan apalagi ketika ia bertingkah seperti ini. Bisakah Kris segera membawanya ke atas ranjang?
"Yaaak! Kau laki-laki mesum!"
Pukulan Lay hampir saja mengenai kepala Kris jika saja laki-laki tinggi itu tidak segera menangkapnya. Ia tarik tangan gadis itu lalu menghimpitnya diantara dinding dan tubuh besar miliknya. "Ingin memukulku?" Kris mengangkat tangan Lay yang masih terkepal. "Dengan tangan mungil ini? Jangan harap nona Zhang."
Lay membelalakkan matanya, Kris juga melakukan hal yang sama. Mereka saling melempar tatapan tajam yang jika seandainya tatapan itu adalah tatapan laser mungkin saja kedua orang ini sudah tinggal nama.
"Kita bahkan tidak saling mengenal dan kau menyebutku mesum? Dasar gila!"
Kris terkekeh kecil, ia hanya menggendikkan bahunya pelan sebelum meninggalkan Lay untuk duduk di sofa. "Maaf saja gadis kecil, aku bukannya gila, aku hanya mengatakan apa yang aku ketahui." Karena aku gila akan dirimu Lay.
Lay hanya memandang ke arah Kris yang tampak menyibukkan dirinya dengan melihat-lihat isi ruangan kekasihnya. Merasa tidak penting untuk mengurusi laki-laki itu Lay akhirnya hanya melangkahkan kakinya kearah meja kerja Luhan, mengambil ipad miliknya dan mulai browsing mengenai dirinya. Ooh, jangan mengira Lay ini terlalu percaya diri, gadis itu hanya ingin memantau pemberitaan tentang dirinya. Lay tidak ingin ada berita buruk yang menghancurkan image-nya. Lagipula belakangan ini hubungannya dengan Luhan mulai terdeteksi publik.
"Baby…" Lay mendongak dan mendapati Luhan yang berdiri di dekatnya—entah sejak kapan Luhan masuk—, laki-laki itu tampak tersenyum manis sebelum menghadiahinya kecupan singkat di bibir. "Sangat sibukkah sayang?" Luhan menatap penuh perhatian pada ipad yang dipegang kekasihnya itu.
"Hanya ingin memastikan hubungan kita tidak tersentuh publik Lu."
Luhan tampak mengangguk pelan dan membiarkan gadisnya melakukan kegiatannya. Pandangannya beralih pada Kris yang tampak melayangkan pandangannya kearah mereka berdua. Luhan tersenyum jahil. "Ada apa Kris? Apakah kau iri aku sudah memiliki kekasih dan kau masih melajang?"
"Tentu saja tidak! Bodoh." Kris menatap tajam ke arah Luhan yang tertawa mendengar ucapan Kris. Lalu tatapannya kembali beralih kearah Lay yang juga tertawa. Sialan gadis itu! Kenapa gadis itu harus tertawa? Kris benar-benar terbuai mendengar tawa gadis itu. Yah, terbuai tentu saja, Kris bahkan tidak keberatan jika gadis itu selalu tertawa. "Diamlah Lu, berisik sekali."
Luhan menghentikan tawanya sejenak lalu beranjak duduk di sebelah Kris. Lay yang juga mendapatkan tatapan tajam Kris—walau sebenarnya Kris tidak ingin menatapnya seperti itu—langsung terdiam. Ia hanya mengendikkan bahunya dan kembali pada kegiatannya sebelumnya.
"Pesta penyambutanmu akan diadakan besok Kris."
"Pesta?" Kris mengernyitkan dahinya, Kris sudah hampir seminggu di Korea dan pesta penyambutan yang Luhan katakan ini baru akan diselenggarakan? Dasar gila! "Kenapa kau baru mengadakannya besok? Aku benar-benar rindu berpesta." Kris melayangkan protesnya. Ia tahu, jika sepupunya yang menyebalkan itu sangat membenci keramaian dan pesta-pesta semacam ini, tapi tidakkah Luhan tahu bahwa Kris adalah tipe orang yang gila pesta.
Luhan memutar bola matanya jengah. "Ya, ya, karena aku baru ingin mengadakannya."
"Club mana?"
"Blue Ice Club, yang ada di daerah Gangnam dekat tempat tinggalmu," jawab Luhan lalu mendekat pada Lay sambil memeluk tubuh mungil gadis itu. "Kau juga harus datang sayang, temani aku." Luhan memang sangat membenci pesta, tapi jika Lay datang bersamanya, ia akan sedikit melupakan kegelisahannya akan tempat ramai.
Lay yang mengangguk pelan mengiyakan ajakan Luhan membuat Luhan memekik girang lalu menciumi wajah gadis itu. Eits… Selain Luhan tentu tuan berambut emas yang duduk di sofa itu ikut memekik girang dan tentu saja hanya ia lakukan di dalam hatinya. Kris dapat membayangkan betapa cantiknya gadis itu besok di club. Dan apakah Kris harus menjalankan rencananya besok?
Rencana? Ah, kalian belum tahu? Rencana untuk membuat Lay menjadi miliknya tentu saja. Apakah kini kalian bertanya apakah Kris benar-benar serius? Ah, tentu saja. Lalu untuk apa laki-laki itu menyuruh Jongin sang sahabat yang kebetulan bekerja sama dengan Lay beberapa waktu lalu untuk mengambil foto gadis itu dalam keadaan yang hampir telanjang?
Bersiaplah Lay, besok kau akan menjadi milikku seutuhnya.
….
11 pm; Blue Ice Club, Gangnam District
Riuh musik menggema diseluruh penjuru club, lampu disko yang berkelap-kelip membuat Lay benar-benar merasa asing, meskipun club ini disewa secara private oleh Luhan tapi tetap saja orang yang datang dan masuk kemari lebih banyak tidak Lay kenali, hanya beberapa yang sering bertemu dengannya di kantor kekasihnya itu. "Hai Lu." Suara maskulin yang menyapa telinganya itu membuat Lay menoleh. Ia menatap seorang laki-laki yang tengah berdiri di hadapan kekasihnya, Luhan.
Laki-laki itu tampak melirik ke arah Lay sekilas sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada Luhan. "Bukankah dia Lay Zhang yang terkenal itu?" Laki-laki itu menunjuk ke arah Lay dengan dagunya. "Bagaimana dia bisa berada di pesta ini? Apakah direktur yang baru itu yang mengundangnya? Atau dia kekasihmu Lu?"
Luhan melirik kearah Lay sekilas sebelum terkekeh kecil. "Nanti kau akan tahu Suho."
Laki-laki bernama Suho itu hanya mengenyitkan dahinya sebelum kembali beralih ke arah Lay, memperhatikan gadis itu dalam balutan dress cantiknya. Dan menyeringai dengan licik ketika matanya tidak sengaja menatap kearah dada Lay yang mengembul. "Jaga matamu Suho atau aku akan membuat mata itu tidak ada di tempatnya." Luhan menatap tajam kearah Suho yang hanya dibalas kekehan oleh laki-laki itu.
Mengindahkan peringatan Luhan, Suho menjulurkan tangannya ke arah Lay, "Aku Suho."
Lay hanya tersenyum sekilas sebelum membalas uluran tangan Suho. "Lay."
Tanpa Lay sadari, seseorang jauh disana tengah menyeringai menatap mereka. Permainan akan segera dimulai sayang. Bersiaplah.
...
"Hai mesum…" Kris mengedipkan matanya kearah Lay yang tampak duduk sambil menyilangkan kaki jenjangnya. Dengan liar Kris menikmati pemandangan di depannya, Lay yang dalam balutan gaun hitam sebatas pahanya tampak begitu cantik, rambut panjangnya yang tergerai indah dengan make up tipis itu benar-benar membuat Kris bergetar.
Lay melirik sekilas pada Kris sebelum memanggil pelayan untuk membawakannya minuman membuat Kris mengernyitkan dahinya, tumben sekali gadis ini tidak membalas ucapannya dengan ketus. "Mana Luhan?" Tanya Kris ketika minuman yang di pesan Lay datang. Eih? Gadis itu memesan air putih?
"Tidak tahu." Lay menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia bosan, dan Luhan pergi entah kemana, parahnya lagi clutch yang Lay bawa tadi ada pada Luhan. Lay ingin pulang! Dia benar-benar tidak betah! Dengan kesal Lay meneguk air putih dalam gelasnya dengan cepat. Membuat beberapa tetes air jatuh membasahi dagu gadis itu dan melintas melewati leher dan… ya ampun Kris rasanya ingin menjadi tetes air itu atau kalau bisa ia ingin menjilati jejak air itu.
"Aku bosan," gumam Lay pelan membuat Kris tersenyum senang. Laki-laki itu memanggil pelayan untuk membawakan segelas wine kepadanya. Dan selang beberapa waktu, wine yang dipesan Kris datang. Dengan gerakan mata Kris memerintahkan pelayan itu untuk menyerahkan wine itu kepada Lay.
"Untukmu nona." Lay mengernyitkan dahinya, melirik sekilas pada Kris yang tampak tersenyum. Tumben sekali laki-laki berkepala emas itu bertingkah laku baik, tapi… ah, sudahlah. Tanpa memikirkan kecurigaannya Lay menerima wine yang disodorkan kearahnya oleh pelayan berpakaian putih hitam itu. Menghirup aroma khas wine sebentar sebelum mencicipinya. Ia mengernyit merasakan cairan pekat itu menyentuh lidahnya, rasa wine itu benar-benar tidak cocok dengan dirinya.
"Ughh… Wine benar-benar tidak cocok dengan lidahku." Lay menggerutu kecil tidak memperdulikan Kris yang menyeringai licik di sebelahnya. Laki-laki itu masih mempertahankan seringainya ketika wine dalam gelas kecil itu telah tandas.
"Nanti kau juga akan terbiasa."
"Bagaimana bisa…" Gerutuan Lay berhenti begitu saja ketika ia merasakan perasaan aneh menyelimuti tubuhnya. Entah mengapa tubuhnya menjadi panas, ada sesuatu yang menghantam-hantamnya. Dan ketika matanya tidak sengaja menangkap Kris yang duduk di sebelahnya ia membayangkan betapa nyamannya jika tubuh besar itu merengkuhnya. Tangan besar itu membelainya dan… ah, Lay apa yang kau pikirkan? Mungkin Kris benar jika kau adalah gadis mesum.
Lay beranjak dari duduknya dan pergi ke arah toilet, sepertinya ia harus segera mencuci wajahnya jika tidak ingin bayangan-bayangan aneh itu kembali bermunculan. Dengan langkah terseok-seok karena menahan panas tubuhnya Lay segera membasuh wajahnya. Ia menatap wajahnya yang memerah. Gelombang hasrat benar-benar menghantam dirinya, ia tidak tahan lagi.
Dan ketika Lay sudah tidak dapat menahan hasratnya yang memuncak, sebuah tangan besar mendekapnya dari belakang dan tanpa aba-aba menangkup payudaranya, memberikannya remasan-remasan kecil yang membuat Lay mendesah keras. Itu Kris! Laki-laki berkepala emas itu. "Kris… shhh… ah…." Lay merasakan aliran darahnya mengalir dengan cepat memberikannya sensasi nikmat yang sama ketika tangan Luhan membelainya, bahkan sensasi ini jauh lebih dari yang Luhan berikan.
"Ya sayang," Kris berbisik di telinga Lay sembari salah satu tangannya menjelajah ke pinggang gadis itu. "…teruslah mendesah karena itu benar-benar membuatku senang." Dalam sekejap Kris sudah membalikkan tubuh Lay dan memberikan kecupan-kecupan pada bibir gadis itu, menghisapnya dan merasakan betapa manisnya bibir cherry itu. "Kau manis bunny."
"Le—paskan aah—ku…" Lay berusaha memberontak, akal sehatnya tidak membiarkan dirinya jatuh dalam pusara gairah yang nantinya akan ia sesali. "Ahh—ku… ti—dak… bi—aakh—sa…" Meskipun ia menolak semuanya, tapi tubuhnya benar-benar menikmati apa yang dilakukan tangan laki-laki itu.
Dengan seringainya Kris melepas seluruh belaiannya. Ia hanya menatap Lay yang kini tengah terduduk dengan wajah memerah dan badan menggeliat tidak nyaman. Kris sepertinya ingin bermain-main dengan gadis ini meskipun sebenarnya puncak gairahnya sudah mengeras di bawah sana. "Berhenti kan? Sudah kulakukan?" sahut Kris ketika melihat Lay yang seakan memohon kepadanya. Ah, tentu saja efek obat itu benar-benar bekerja dengan baik.
Obat? Apakah kalian tahu rencana Kris? Ya, ia memberikan obat perangsang pada wine yang tadi diminum oleh Lay dan wallaa… lihatlah obat itu bekerja dengan baik dan tentu saja ini akan mempermudah ia mendapatkan Lay secara utuh. Tapi, reaksi obat yang ia berikan benar-benar cepat bahkan terlalu cepat, tapi ya sudahlah yang penting mala mini ia bisa memiliki gadis cantik di depannya ini dengan mudah. Terlalu licikkah caranya? Memang, tapi ingat, Kris akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang memang harus menjadi miliknya. Dan dalam hal ini, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Lay meskipun dengan cara licik sekalipun.
"Berhentilah memberontak Lay, dan nikmati seluruh sentuhanku." Kris mengangkat tubuh Lay dan mendudukkan gadis itu diatas marmer wastafel. Ia tidak akan khawatir jika kegiatannya ini akan terganggu, karena yah, Kris sudah memerintahkan seorang bodyguard untuk berjaga di depan pintu toilet ini─salah satu rencananya yang lain. Kris melingkarkan kaki Lay dipinggangnya dan Lay yang benar-benar terbawa arus gairah hanya pasrah mengalungkan tangannya pada Kris.
Desahan penuh gairah itu terdengar lamat-lamat ketika Kris berhasil membuka penutup payudara Lay—tentu saja sangat mudah bagi Kris, karena Lay menggunakan dress yang tidak mengharuskan ia menggunakan bra di dalamnya—dan mendaratkan bibir tebalnya pada payudara gadis itu, dengan rakus Kris melahap benda kenyal itu membiarkan hangat mulutnya menyatu dengan kerasnya puncak gadis itu. "Kau panas, sangat panas." Kris bergumam pelan membuat puncak gadis itu semakin mengeras.
Masih dalam keadaan kaki Lay yang melingkar dipinggulnya, Kris membawa gadis itu keluar dari toilet, menyuruh bodyguardnya mengawal mereka sampai di parkiran. Kris tentu saja sudah menyiapkan rencana ini dengan matang, apalagi club yang Luhan pilih ini memiliki toilet yang berdekatan dengan pintu keluar yang mengarah ke parkiran, memudahkan seluruh rencananya.
Kris merebahkan tubuh Lay di kursi belakang, dan masuk setelah menyuruh bodyguardnya memberi tahu Luhan bahwa Lay sudah pulang dengan taxi. Kris tidak dapat menahan hasratnya kali ini, dan keadaan parkiran yang remang disertai kaca mobilnya yang gelap membuat Kris dapat melampiaskan hasratnya. "Bersiaplah sayang, aku akan melahapmu dengan senang hati."
Lay yang bergerak di dalam bawah sadarnya hanya menggangguk, ia sangat menikmati permainan yang Kris lakukan, yang ia butuhkan kini hanyalah Kris untuk berada di dalam tubuhnya. Ia tidak dapat memikirkan hal lain, nafsu dan birahi membuat dirinya benar-benar terbuai. Ia bahkan tidak sadar ketika tangan Kris mulai bergerak untuk melepaskan dress hitam yang Lay gunakan, membuat gadis itu terlentang hanya dengan g-string yang yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Kau indah…" gumam Kris pelan, tangannya perlahan menyusuri lekuk tubuh gadis itu, memandang betapa sintalnya tubuh gadis itu. Kris mengecup bibir gadis itu, memberikan lumatan yang seirama dengan pilinan tangannya pada payudara gadis itu. Sedangkan Lay yang benar-benar menikmati ciumannya mulai menggerakkan tangannya untuk mengelus dada Kris yang masih tertutup kemeja. Lay membuka mulutnya ketika Kris mulai menjulurkan lidahnya meminta dirinya untuk memberikan akses lebih.
"Aaakh…" Lay memekik pelan ketika tangan besar Kris bergerak ke daerah intimnya, laki-laki itu melepas satu-satunya kain yang melekat pada tubuh Lay dan mulai mengelus miliknya. Memberikannya sensasi aneh yang tidak ia dapatkan dari Luhan karena laki-laki itu tidak pernah bertindak sejauh ini. Hal yang dia lakukan bersama Luhan hanya bermain di daerah atas tubuhnya lalu meninggalkan beberapa hickey. Bicara tentang Luhan, bukankah ini menandakan Lay berselingkuh dari kekasihnya itu? Lay bodoh! Lay segera memutus ciuman liarnya dengan Kris, membuat benang saliva yang panjang dari mulut mereka.
"Aku tidak bisa Kris, tidak…" Lay segera terduduk dari posisinya, meskipun panas tubuhnya semakin besar dan gelombang birahi yang semakin tidak terkendali, tapi ia tidak sanggup jika harus mengkhianati Luhan. Dan biarkan ia tetap merasakan birahi yang tidak terbendung ini daripada harus melakukannya dengan orang lain, tidak. Ia tidak ingin.
Kris menatap Lay dengan kecewa, kurang besarkah efek dari obat itu, tapi yang Kris tahu obat itu memiliki dosis yang cukup besar dan mampu membuat seseorang mabuk hingga 'tak sadarkan diri, apakah Kris harus mencekokinya lagi pada Lay agar gadis itu benar-benar tunduk dibawahnya? Tidak! Kris tidak dapat melakukannya lagi, ia hanya perlu menunggu sebentar lagi, efek obat itu benar-benar besar dan Lay tidak akan sanggup menahannya, Ya, sebentar lagi.
Membiarkan Lay duduk di kursi belakang, Kris segera melajukan mobilnya ke apartemen mewahnya. Ia melirik sekilas pada Lay yang meringis pelan ketika dress ketatnya kembali membungkus tubuhnya dan tidak sengaja menyentuh puncak kerasnya, membuat Kris yang memandangnya sekilas benar-benar tergugah untuk menyentuhnya lagi. Dan ia yakin dirinya akan segera berada jauh ke dalam bersama Lay tanpa peduli apa kata gadis itu.
"Ashhh… Panas…" Kris menoleh kearah Lay setelah mendengar pekikan gadis itu, mereka telah sampai di basement apartement Kris, dan Kris masih enggan beranjak dari sana, ia menunggu Lay yang masih mencoba melawan bendungan hasratnya sendiri.
"Masih enggan menerimaku Lay?"
Kris hanya dapat menaikkan alisnya ketika melihat Lay mulai membusungkan dadanya dan mencoba membuka sendiri pakaiannya. Dan ketika pakaian itu terlepas, Kris hanya dapat menelan ludahnya sendiri dan menyaksikan Lay yang kini berusaha melepas penutup tubuh bawahnya. Padahal gadis itu tadi benar-benar bersusah payah mengenakannya. "You're really naughty babe…" Kris menerjang Lay dan segera menangkup bukit gadis itu dalam mulutnya.
"Rasakan dan nikmati aku sayang…"
Tanpa melepas tangkupannya pada gadis itu, Kris membawa gadis itu masuk melalui lift khusus miliknya, ia menempelkan punggung telanjang Lay pada dinginnya dinding lift, membiarkan gadis itu yang hanya mengenakan g-string bertelanjang dada. Begitu tiba di dalam kamar apartementnya Kris segera membawa gadis itu di atas kasur berseprai satin miliknya.
Tanpa membiarkan setiap benda menghalanginya, Kris menggesekkan miliknya yang benar-benar mengeras pada dinding hangat milik Lay, merasakan betapa basahnya milik gadis itu. Dengan tangan yang menangkup dada gadis itu Kris segera bersiap untuk penyatuan tubuh mereka. Ia menggesek pelan sebelum akhirnya perlahan pekikan nyaring Lay terdengar. Masih belum terlalu dalam, tapi rasanya benar-benar sempit.
"Belum sayang, aku masih di depan, belum sepenuhnya masuk." Dan ketika menyelesaikan kalimatnya itu Kris benar-benar membenturkan miliknya jauh ke dalam tubuh Lay, menerobos sekat tipis yang menjadi penghalangnya dan berhasil membuat Lay memekik karena kesakitan. Kris dapat merasakan cairan yang hangat mengalir membasahi miliknya. Gadis ini masih perawan.
Menyesuaikan dirinya dengan keadaan Lay, Kris mulai menggerakkan tubuhnya perlahan, masih amat pelan namun membuatnya benar-benar gila. Gadis ini benar-benar sempit, dan Kris seakan tidak dapat bernafas dengan lega karena sensasi nikmat yang ia rasakan ini. Kris membawa dirinya pada sensasi nikmat ketika gerakannya mulai mendapatkan balasan dari Lay yang mulai menggerakkan pinggulnya.
"Asshh…." Lay mendesah pelan, merasakan dadanya yang ditangkup mulut hangat milik Kris, di bawah, tubuh mereka masih bergerak secara berirama membuatnya dengan cepat memuntahkan puncak orgasme-nya yang pertama. "Akhh…" Lay kembali memekik ketika Kris menarik miliknya keluar, membuat cairan kentalnya yang bercampur dengan darah mengalir. Selang beberapa waktu Kris kembali menanamkan dirinya jauh ke dalam tubuh Lay, membawa Lay harus merasakan puncaknya berkali-kali yang membuat tubuhnya benar-benar lemas. Tapi, Kris bahkan sejak tadi belum sekalipun memuntahkan cairan orgasmenya. Laki-laki itu bahkan semakin cepat menumbuk bagian terjauh tubuhnya.
"Apa kau tengah dalam masa subur Lay?" Lay hanya mengangguk pelan pada Kris tanpa dapat mengeluarkan kata-katanya karena ia terlalu jauh menikmati sensasi dalam tubuhnya. Kris hanya tersenyum melihat wajah Lay yang menggoda, sama seperti ketika pertama kali Kris bertemu Lay diruangan Luhan. Sangat menggairahkan.
Dan setelah tumbukannya yang kesekian, akhirnya Kris mulai merasakan gemuruh menghantam dirinya, dia mendorong miliknya semakin jauh dalam tubuh Lay dan mendesah ketika cairan orgasmenya menyembur dengan deras, membuat Lay dapat merasakan cairan hangat itu mengalir memenuhi rahimnya. Dengan nafas yang terengah-engah, Kris menjatuhkan dirinya di atas tubuh Lay, membuat dirinya semakin jauh tertanam. Kris masih ingin melanjutkannya lagi, namun melihat Lay yang sepertinya kelelahan membuat Kris mengurungkan niatnya.
Kris merebahkan dirinya di sebelah Lay yang mulai jatuh dalam tidurnya, ia tahu pasti kegiatan mereka malam ini sangat melelahkan dan Kris hanya tersenyum melihat Lay yang benar-benar mengalah pada rasa kantuknya. "Terimakasih, sayangku…" Kris mengecup sekilas bibir Lay sebelum akhirnya menyusul Lay tanpa melepaskan penyatuan mereka, membiarkan miliknya terbenam dalam tubuh Lay.
Selepas betapa kenikmatan yang kedua orang ini rasakan, seseorang yang berada jauh dari mereka menggeram marah. Ia menatap seseorang yang seharusnya menjalankan rencananya dengan geram. "Bagaimana mungkin kau kehilangan gadis sialan itu?" Ia menarik kerah orang yang berdiri di depannya sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak ingin tahu bagaimana caranya, kau harus membuat gadis sialan itu memekik dan merasakan sakit yang kini kurasakan."
"Aku mengerti."
….
Maafkan aku, sepertinya cerita ini semakin melantur kemana-mana, dan jujur aja, ini cerita yang udah sejak lama aku buat dan aku biarkan tidak terurus, jadi, jika seandainya nanti ada yang berubah, mungkin karena aku udah lupa jalan cerita yang aku buat di awal.
Oh, peringatan juga, adegan ono *tunjuk yang di atas* mungkin nggak Cuma sekali aja munculnya, entahlah aku masih bingung, hahaha
Makasi juga untuk yang udah nyempatin waktu buat review, mungkin nggak bisa di bales disini ya, mianhamnida, last word, saranghae
