Hari yang cerah untuk pergi ke pantai membangunkan aku hari ini. Tepat pukul 8, bus sekolah akan berangkat dan segera menuju pantai. Sudah sejak pagi juga Satoshi terus menelponku, ia bilang untuk segera pergi ke sekolah. Dari balik suara telepon, aku yakin sekali kalau orang itu sangatlah bersemangat untuk hari ini.

aku memanggul tas yang sudah disiapkan sejak kemarin malam. Tas itu berisi baju, pakaian renang, sun block, dan beberapa perlengkapan mandi. Ini pantai, pasti dengan sangat memaksa Satoshi menarikku ke air, gumamku dalam hati sambil mengayuh sepedanya menuju sekolah.

Terik matahari musim panas menyambut kepergian mereka dari sekolah menuju pantai. beberapa gerombol siswa sedang asyik membicarakan apa yang akan mereka lakukan di pantai nanti. Begitu juga kelompok milikku yang terdiri dari Satoshi, Mayaka dan gadis bermata ungu bulat itu, Eru.

"Akhirnya, kita berangkat! Uuuu aku sudah menunggu hari ini," orang yang pertama teriak itu adalah Satoshi. Ia terus memandangi jalan dari balik jendela bus. Aku yang ada di sebelahnya hanya diam dan tak mau membahas apapun. Baginya, perjalanan ini hanya akan menguras banyak tenaganya. Lebih baik di rumah dan tidur seharian walau panas.

"Mengapa kau tidak terlihat senang begitu, Houtarou? Ayolah ini kan pantai. kapan lagi kau melihat mereka dengan baju renang yang bagus, iya kan?" goda Satoshi.

Telinga milikku mulai panas dengan ocehan demi ocehan Satoshi. "Bisa kau tinggalkan aku sebentar? Kau tau kan apa masalahku kalau sedang naik mobil?" perkataan tadi mengingatkan aku soal perjalanan menuju tempat penginapan beberapa bulan lalu. Ah aku harap bisa melupakannya.

"Oh iya benar juga. Lalu kenapa tadi tidak minum obat saja sebelum berangkat? Bukannya guru sudah bilang ya."

Iya, mereka sudah memberitahunya, tapi itu aku, harga diriku, pasti akan jatuh kalau ketahuan gampang sekali mabuk darat.

Perjalanannya memakan waktu yang agak lama. Selagi dalam perjalanan, anak-anak di bus bernyanyi bersama. Melupakan lamanya perjalanan yang mereka tempuh. Aku setuju kalau mereka mengatakan perjalanan ini membosankan. Yah benar-benar membosankan. Aku harap kami segera sampai tujuan dan setelah itu biarkan aku untuk tidur di kamar hotel.

Akhirnya kami pun sampai tujuan. Semua anak pun segera menuju kamar hotel mereka dan meletakkan barang-barang dan berganti baju. Kali ini pantai akan menjadi daya tarik mereka hingga siang nanti. Aku harap kamar hotelnya cukup nyaman untuk ditiduri.

Di dalam, tiga buah kasur berukuran sedang menyambutku dengan ramah. AC yang menyala di dalam merubah suhu menjadi lebih dingin dibanding di luar. Matahari yang menyilaukan saja yang paling menggangguku saat ini. Aku harap mendung segera datang dan mengusir setiap panas dari kamar ini agar aku bisa tidur.

Aku meletakkan tas di pojok kamar dan segera merebahkan tubuh yang sudah lelah ini ke atas kasur sebelum..

"Hei Houtarou, ayo berenang! Sayang bukan kalau kau hanya ada di kamar hotel saja?" Satoshi mengajakku untuk ke luar. Ia telah siap dengan pakaian renang yang sudah dibawanya. Satu buah celana pendek anti air berwarna hijau muda dengan garis hijau tua melengkung di sisi kanan dan kiri celana itu. Benar-benar cocok dengannya.

Dengan datar aku menolak ajakannya. Berenang hanya akan menghabiskan tenagaku saja. Tapi dia memaksaku untuk tetap keluar. Dia menarikku dari kasur, tentu saja aku meronta-ronta. Akan jadi masalah kalau akhirnya Satoshi menarikku keluar hingga pantai.

"Ayo ayo.. apa kau sebegitunya tidak ingin ke pantai Houtarou?" tanya Satoshi.

"Nanti saja kalau aku ingin. Aku akan menyusul sore nanti," jawabku sambil menaruh kepala dan menghadap bantal. Aku ingin istirahat.

Satoshi yang sudah menyerah pun meninggalkanku sendirian di kamar yang mulai agak dingin dari AC ini. Ya saatnya liburan dimulai.

"Chii-chan, ayo masuk ke airnya. Sejuk lho!" Mayaka melempar air tepat ke arah wajah Eru. Ia pun sambil tertawa ketika melemparnya. Eru yang tak ingin basah karena air sesekali menghindar dari cipratannya. Tapi tampaknya sia-sia saja.

Mereka berdua sudah ada di pantai. Ombak yang tenang, warna air yang biru akibat pantulan mentari dan angin yang bertiup lembut siang itu membuat suasana hati mereka menjadi baik. Sejak pagi, Eru selalu menantikan saat ini ketika ia bisa bermain bersama teman-temannya di luar kota. Ia sangat menunggu hal ini.

Mayaka yang ada di seberangnya heran dengan sikap Eru. Ia lalu bertanya,"Ada apa Chii-chan? Kau kok serius begitu wajahnya? Ada yang sedang kau pikirikan?"

Eru menoleh. "Ah tidak, aku hanya sangat menunggu hari ini. Menyenangkan," katanya sambil tersenyum tipis di balik air yang turun dari wajah serta rambutnya. Ia tampak begitu cantik sekarang.

Tak lama, Satoshi turun dan bergabung dengan mereka berdua. Ia membawa sebuah bola voli di tangan kanannya. Ia mengajak Eru dan Mayaka untuk bermain.

"Loh Oreki mana?" tanya Mayaka.

Satoshi hanya menggeleng dan mengangkat bahunya. "Oreki, kau kan tau sendiri kalau dia habis naik kendaraan darat pasti mabuk. Dia sedang di kamar, istirahat. Katanya dia akan menyusul agak sore.. nah mumpung dia belum datang bagaimana kalau kita main voli di pinggir?"

"Sepertinya menyenangkan,. Ayo Chii-chan!" ajak Mayaka. Ia menarik tangan Eru dan segera berlari ke pinggir pantai. Tampaknya ada sesuatu yang mengganggu pikiran Eru siang ini. Namun, Eru sendiri tidak tahu hal apa yang menganggunya.

Matahari pun mulai tergelincir ke ufuk barat. Sore kini mulai beranjak menjadi malam. Anak-anak pun mulai kembali ke kamar dan segera berganti baju. Sedangkan aku, dengan santai sedang membaca buku di balkon kamar hotel sambil menikmati indahnya matahari tenggelam di sini. Untuk hari ini, aku bersyukur bisa menikmati suasana seperti ini… namun, ada hal yang kurang. Sesuatu yang tidak kudapatkan seperti hari-hari biasanya.

Setelah anak-anak ganti baju, kami pun segera menuju ruang makan dan makan malam di sana. Suara riuh memenuhi ruangan seketika. Siswa pun mulai mengobrol dengan asyik. Mereka saling bertukar pengalaman tadi siang. Ada yang bercerita main voli, semangka atau yang lainnya. Dan ya aku baru ingat ada hal yang terlupa…

"Oh iya, kita tidak melakukan list itu ya?" Satoshi membuka percakapan malam itu. Sedangkan Eru dan Mayaka tampak terkejut. Mereka heran mengapa bisa lupa.

"Oh iya! Kita tidak melakukannya. Aku lupa!"

"Hmm hmm pantas tadi ada yang kurang ya. Aku tidak menyadarinya," kata Eru sambil mengangguk.

Kalian baru menyadarinya ya? Aku sendiri tidak lupa hanya saja malas melakukannya. Sejak tadi siang kan aku tidur di kamar dan tidak beranjak dari sana. Mengusir rasa mual serta pusing akibat perjalanan.

"Kalau begitu besok saja kita lakukan. Malam ini.. sebaiknya kita ngapain ya?" tanya Satoshi.

Mayaka pun membalas dengan tanpa peduli. "Kita tak bisa melakukan apapun kan malam ini. Laki-laki tidak boleh ke penginapan perempuan dan sebaliknya kan. Memangnya mau ngapain kita."

"Kita bisa bikin kasus sendiri bukan? Habis makan malam tentunya, benarkan Hotarou?" ia berkedip ke arahku. Perasaan tidak enak ini pun kembali muncul.

Setelah makan malam, kami pun berkumpul kembali di meja tadi. Acara malam ini bebas namun hanya sampai jam 10, setelah itu kami harus kembali ke kamar dan tidur. Satoshi membuka lembar buku catatannya dan mulai mengoceh.

"Aku sempat berpikir, pasti akan seru kalau ada peristiwa 'penembakan' malam ini," kata Satoshi.

Aku mengangguk, kalau di film-film kemungkinan itu terjadi sangatlah besar namun kalau di dunia nyata? Aku yakin terlalu jarak kemungkinan itu.

"Memangnya kalau ada 'penembakan' kau mau apa Fu-chan?" tanya Mayaka.

"Hmm bagaimana ya, aku hanya penasaran saja. Aku ingin mengamati saja lalu coba menerka-nerka apa yang mereka rasakan."

Aku pun membuka suara. "Mengapa kau tidak coba sendiri saja. Itu akan terasa lebih nyata daripada hanya melihat 'penembakan'," kataku.

"Kau benar sih tapi kalau itu terjadi denganku. Kira-kira apa ya reaksiku nanti?" Satoshi menengadah ke langit-langit. Terlihat kalau ia sedang berpikir.

Eru yang tadi diam ikut membuka suara. "Ano.. maksud kalian 'penembakan' itu apa ya? Apa seperti di film-film Amerika yang main pistol itu?" tanya gadis ini dengan lugu.

Satoshi pun tertawa lepas, Mayaka geleng-geleng sedangkan aku hanya melongo tak percaya. Sebegitu poloskah Nona ini?

"Bukan begitu, Chii-chan. Maksud penembakan itu… hmm seperti kau mengutarakan perasaanmu gitu lho."

Tampaknya Eru masih belum mengerti. "Kau pernah nonton drama yang genre-nya romance kan, Chitanda-san? Di suatu adegan ada seorang laki-laki yang mengajak bertemu perempuan lalu dia mengatakan 'aku menyukaimu', begitu lah kira-kira pengertian 'penembakan'."

Eru pun mengangguk. Ia akhirnya mengerti istilah tersebut.

Setelah mengobrol agak lama, kami pun memutuskan untuk kembali ke kamar tidur. Aku dan Satoshi berpisah jalan dengan mereka berdua. Ketika dalam perjalanan menuju kamar, Satoshi membuka mulutnya.

"Hotarou, kalau kasus 'penembakan' itu terjadi kepadamu. Apakah kau akan menjawab 'ya'?"

"Tergantung kondisi, apa aku memang menyukai gadis itu atau tidak," jawabku tak peduli.

"Hmm begitu." Satoshi berjalan lebih cepat dariku dan berhenti di depanku. Ia membuka tas miliknya dan memperlihatkannya padaku. Ia mengeluarkan sepucuk surat dengan amplop berwarna biru langit. Ia lalu membukanya dan menunjukkan isi surat itu padaku. Di sana tertulis.

Temui aku di pantai malam ini pukul 10.30.

Aku harap kau datang dan kali ini janganlah jadi pengecut

Ttd

IM

Aku cukup terbelalak dengan surat itu. Jadi, ini yang dimaksud Satoshi bertanya ya. Malam ini dia akan mengalami 'penembakan' tepat malam ini. Aku memejamkan mata dan mengkondisikan diriku menjadi dirinya. Apa aku akan menolak ya?

Sementara waktu berhenti di lorong bagi kami berdua. Bulan purnama bersinar dengan terangnya di luar, tengah menunggu pengutaraan cinta di pantai malam ini.