Malam ini memang agak aneh. Khususnya bagiku, malam seperti ini mungkin hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Bukannya aku sangat menantikannya, hanya saja… aku sedikit penasaran dengan Mayaka dan Satoshi malam ini. Aku mulai berpikir.

"Apa sebaiknya aku membuntuti mereka saja ya?" gumamku sambil menatap langit malam dari balik jendela hotel.

Malam ini, bintang begitu banyak muncul di antariksa sana. Ini sangatlah jarang kalau di kota kami. Maka dari itu, aku cukup menikmati pemandangan malam yang gelap dipenuhi bintang.

Beberapa konstelasi bintang pun muncul. Tapi yang paling sering keluar itu berbentuk salib. Aku lupa namanya. Ketiga bintang itu benar-benar indah. Kakak ku pernah bercerita kalau ketiga bintang itu adalah penunjuk arah bagi orang yang sedang kehilangan arah. Malan ini apa aku terlihat seperti kehilangan arah?

Sembari aku mengamati langit, Satoshi beranjak dari tengah ruangan dan duduk di depanku. Ia terlihat agak gelisah.

"Hei, Houtarou. Malam ini kau akan ikut denganku bukan?" ia bermaksud mengajak ku ke tempat yang Mayaka inginkan.

"Kalau aku ikut. Itu akan membuat perasaan Mayaka canggung bukan."

Satoshi terlihat semakin gelisah. "Kalau begitu, bagaimana kalau kau hanya mengamati kami saja dari jauh. 'kan kalau begitu aku jadi tidak terlalu tertekan."

Aku berpikir sebentar sebelum menjawabnya. Sebagian hati kecilku bilang kalau ia penasaran. Namun, di sisi lain, aku tidak ingin beranjak dari tempat yang enak ini. Mengamati binta-bintang sangatlah jarang bagi Oreki Houtarou.

"Ayolah, Houtarou. Kau bisa kan hanya melihatnya dari jauh?" Satoshi merajuk kepadaku.

"Apa untungnya buatku kalau mengintip? Tidak ada bukan?"

"Tentu saja ada!" Satoshi agak menaikkan suaranya sekarang. "Kejadian ini hanya sekali seumur hidup bagimu, Houtarou. Masa kau akan melewatkannya begitu saja."

Aku membenarkan posisi duduk dan menyangkalnya. "Memang ini pengalaman sekali seumur hidup bagiku. Tapi, apa tidak etis kalau aku ikut datang atau sekedar mengintip soal 'penembakan' ini?" kata-kataku mengawang di udara beberapa detik sebelum menghilang dengan suara decak dari Satoshi. Ia agak kecewa. Argumen miliknya bisa aku patahkan dengan mudah kali ini.

"Baik-baik kalau kau tidak mau. Tapi aku akan memberitahukan tempatnya jika kau berubah pikiran. Kau bisa melihatnya di pantai dekat pondok di bawah tiga buah pohon kelapa. Tadi kau bersantai di sana siang hari kan? Kau pasti tahu tempatnya."

Satoshi beranjak dari hadapanku. Ia membuka pintu kamar dan keluar menuju tempat yang Mayaka inginkan. Sementara itu, aku tetap menatap langit malam dengan sesekali menimbang untuk ikut dengannya.

"Ibara-san, kau mau ke mana?" tanya Chitanda dengan penasaran. Ia berada di samping serong kanan Mayaka. Menatapnya dengan mata bulat nan besar itu. Tatapannya mengintimidasi.

"Ah aku hanya keluar sebentar kok, Chii-chan. Aku akan kembali nanti jam 9, ok? Jangan khawatir," Kata Mayaka. Tapi, dari balik kata-katanya itu terdengar nada tak yakin. Entah apa Chitanda merasakannya.

"Unn kalau begitu hati-hati ya! Ini sudah malam soalnya," Chitanda mencoba untuk mempercayai ucapan Mayaka.

Mereka pun berpisah. Mayaka segera keluar bangunan dan menuju sebuah tempat di luar. Ia akan pergi ke pantai.

Chitanda yang melihat itu dari balik jendela, tampaknya sangat penasaran dengan apa yang akan Mayaka lakukan. Ia tidak bisa berdiam diri. Suara 'tuk tuk' dari bunyi sandal serta lantai ruangan bergema di sepanjang lorong. Wajahnya ia palingkan ke kanan dan ke kiri. Ia lalu berlari kecil turun ke lobby. Ia ingin mengikuti Mayaka pergi dan melihat apa yang perempuan itu lakukan.

Aku masih tetap berada di kamar. Sesekali aku melihat ke bawah, mengamati apakah Satoshi sudah melewati pintu lobby dan pergi ke tempat yang sudah dijanjikan itu.

Aku mulai berpikir kembali. Mungkin sebaiknya aku melihat apa yang terjadi. Aku begitu penasaran. Apa ini yang dirasakan oleh Chitanda ya ketika ia memaksaku untuk melakukan sesuatu. Dorongan dalam diriku semakin kuat ketika melihat Mayaka sudah melewati lobby dan pintu depan lima menit setelah Satoshi melewati tempat itu. Namun bukan itu yang membuatku sangat terkejut. Dari balik pintu, muncul sosok berambut panjang sebahu yang tengah berlari kecil melewati pintu depan. Ia terlihat bingung, dia pasti sedang mengikuti seseorang.

Aku pun berdiri seketika.

"Apa yang dilakukan anak itu?!" umpatku dalam hati dan berlari turun ke lobby. Setidaknya aku harus menghentikan.. ah tidak, tampaknya aku dan dia pasti akan mengintip kejadian itu malam ini.

Aku terus memaki sepanjang jalan menuju pintu keluar lobby. Ketika sampai, gadis itu masih tetap di sana. Ia berlari kecil kesana kemari. Ia tidak tahu tujuan kemana akan pergi. Aku berjalan perlahan dan mendekati sosok yang tidak asing lagi bagiku. Dia adalah Chitanda Eru. Ketua klub sastra klasik, teman dari Mayaka dan Satoshi serta orang yang sering kali memaksaku secara tak sadar dengan tatapannya ketika bertemu suatu hal yang menarik.

"Sedang apa kau di sini?" sapaku.

Chitanda tampak terkejut dan berbalik. Kini ia tengah menatapku dengan wajah bingung namun aku yakin selanjutnya dia akan mengatakan, 'aku penasaran'.

"Unn aku hanya sedang mengambil udara segar kok."

Ah tebakanku salah. Lalu, ada apa dengan sikap bohongnya itu? Mudah sekali untuk ketahuan bukan?

"Kau sedang mengikuti Mayaka bukan?" kataku.

"Eh bagaimana bisa?" aku bisa menebak balasan selanjutnya, 'bagaimana bisa kau tahu?' namun aku menahan diri untuk tidak menjawabnya. Ya jangan sampai.

"Tadi tiba-tiba, Ibara-san keluar dari hotel dan menuju pantai. ketika aku mengikutinya, aku kehilangan jejak ia pergi. Jadi, aku hanya berlari ke sana kemari dengan bingung," Ujar Chitanda. Ia lalu menatapku dan melanjutkan, "Kalau kau sendiri sedang apa di sini, Oreki-san?"

Aku terpaku. Berusaha dengan sangat keras kira-kira alibi apa yang bisa kukatakan padanya.

"Aku hanya ingin keluar saja dari kamar. Agak bosan," aku berbohong padanya. Anehnya Chitanda percaya saja dengan alibiku itu.

"Ano.. Oreki-san, kalau kau.. kalau kau tidak sibuk apa kau mau membantuku? Aku penasaran!" kali ini gestur keingintahuannya pun keluar dengan sangat deras. Aku terpojok oleh sikapnya lagi. Ia merangsek maju ke depanku. Matanya kali ini, berkelip dengan kuat. Layaknya bintang jatuh yang tidak sengaja aku lihat beberapa menit lalu. Bintang jatuh ini kini tepat mengenaiku hingga tak kuasa untuk menolongnya…

"Ka-kau mau apa?" aku gugup.

"Aku ingin tahu ke mana Ibara-san pergi."

Keinginannya 11-12 tidak jauh dariku. Aku juga penasaran sebenarnya namun penasaran yang berbeda. Kalau ia ingin tahu ke mana Mayaka pergi, sementara aku ingin tahu apa yang ia dan Satoshi lakukan malam-malam begini.

"Baik, aku akan membantu. Kau bisa ikuti aku tapi tolong jangan berisik."

Aku keluar dari lobi, diikuti oleh Chitanda di belakang yang kelihatannya tampak senang seperti anak kecil yang diajak untuk pergi ke taman bermain.

Kami berdua menyusuri jalan setapak menuju pantai. gelapnya malam sesekali membuatku tersandung akibat batu yang berserakan di bawah. Biasanya ketika malam, pegawai hotel akan memasang obor di sepanjang jalan untuk meneranginya tapi hari ini sepertinya mereka tidak memasangnya.

Suasana senyap serta gelap itu membuatku merasa gugup. Apalagi aku bersama dengan Chitanda. Terkadang aku merasa perasaan aneh ketika berada di sampingnya. Tapi sampai sekarang aku belum mampu menemukan penyebabnya.

Udara malam itu juga hangat. Siapapun yang keluar malam ini pasti akan merasa nyaman dan tenang. Malam ini memang malam yang tepat soal 'penembakan'. Tak kusangka Mayaka bisa memilih malam seperti ini. Kalau 'penembakan' ini terjadi sepertinya akan jadi kali kedua Satoshi mendengar pernyataan Mayaka. Aku jadi sedikit was-was.

Setelah beberapa menit berjalan, kami melihat pondok itu. Di sana ada dua buah siluet manusia. Yang satu siluet berbentuk laki-laki yang sedang membelakangi kami, sementara yang satu lagi siluet perempuan. Ia tengah merengkul kedua tangannya. Terlihat kalau itu gestur gelisah dan bingung. Apa dia sudah memulainya?

Aku memberi isyarat pada Chitanda untuk bersembunyi di balik semak-semak sembari mengamati mereka. Samar-samar aku mendengar percakapan mereka.

"Fu-chan, maaf aku memanggilmu malam-malam begini."

"Tidak apa, lagipula aku agak bosan di kamar. Houtarou dari tadi hanya diam saja sih di pinggir ruangan. Dia lagi sibuk lihat bintang malam ini," kata Satoshi. Ia pun mendongak ke atas dan melihat bintang diikuti dengan Mayaka yang sama-sama tengah melihat bintang.

"Cantiknya," Mayaka bergumam lirih.

"Benar, bintang malam ini begitu cantik."

Setelah itu jeda panjang dan sunyi pun mengawang di antara mereka berdua. Suasana ini begitu canggung. Satoshi yang masih melihat bintang sementara Mayaka yang tengah menunduk malu.

"Ano.." keduanya tak sengaja mengatakan hal yang sama dan dalam sekejap suasana canggung semakin parah di antara mereka berdua. Satoshi mundur sedikit, "Kau mau bilang apa?"

"Tidak-tidak, kau saja duluan," kata Mayaka.

"Kau tadi mengatakannya sepersekian detik lebih cepat dariku, Mayaka. Kau duluan saja."

"Kalau begitu baiklah," Mayaka menarik nafas. "Kau mungkin sudah tahu apa yang akan aku katakan ini. Tapi sekarang, aku ingin memastikannya lagi."

"Dahulu, aku pernah menyatakan perasaanku padamu ketika SMP. Saat itu aku begitu malu dan takut. Malu karena aku menyatakan cinta dan takut kalau kau akan menolaknya. Namun, hari itu kau hanya tersenyum dan bilang, 'aku akan memberikan jawabannya nanti Valentine kelas 10'. Singkat waktu, Valentine pun sudah lewat… tapi mengapa kau tidak memberikan jawabannya seperti yang sudah kau janjikan sebelumnya."

"Aku menunggumu, Fu-chan."

Satoshi terdiam. Ia kini menurunkan pandangannya dari menatap langit malam penuh bintang ke menatap lekat mata Mayaka sambil tersenyum kecil. Ia merilekskan bahunya dan berjalan agak lebih dekat ke arah Mayaka.

"Ada alasan mengapa aku tidak menjawabnya saat itu, Mayaka. Apa kau tahu kehidupanku dulu ketika SMP? Aku terlalu terobsesi pada sesuatu. Aku terobsesi pada kemenangan saat lomba lari dulu, aku terobsesi dengan bagaimana caraku untuk menang melawan Houtarou ketika bermain di arcade setiap pulang sekolah. Jujur, aku menyukai saat itu namun… belakangan aku sadar."

"Kesenangan tersebut begitu semu. Kesenangan yang dibalut dengan obsesi. Aku mulai menyadarinya ketika SMA. Perlahan aku mulai merubah diriku untuk tidak terlalu terobsesi pada sesuatu."

"Lalu, ketika aku takut pada sikap obsesifku, perlahan pula aku mulai jatuh padamu. Aku juga menyukaimu, Mayaka. Namun, aku takut kalau aku akan kembali menjadi obsesif seperti ketika SMP. Aku tidak akan menikmati kehidupanku kelak."

Satoshi menarik nafasnya, "Aku menyukaimu. Selalu. Dari kita bertiga SMP. Namun, untuk saat ini aku ingin mengubur dahulu perasaanku hingga suatu saat… aku bisa mempertanggungjawabkan perasaanku dan tidak menjadi obsesif lagi ketika aku memilikimu."

Jawaban Satoshi begitu panjang dan bermakna sangat dalam. Mayaka yang mendengarnya pun terdiam, tetes air mata turun perlahan melewati pipinya. Chitanda agak bergerak sedikit. Tampaknya ia ingin melompat dari sana dan memeluk Mayaka. Namun, aku dengan gesit menahannya dengan menggenggam tangannya erat-erat agar ia tidak keluar. Momen ini begitu sakral bagi mereka. Kami berdua tidak boleh merusaknya. Satoshi akhirnya berhasil mengatakan perasaan sebenarnya sejak valentine itu. Aku tersenyum. Mulai sekarang kalian berdua akan menempuh pandangan yang baru.

Mayaka pun mengangkat wajahnya dan menatap balik Satoshi dengan lekat. Tak lupa air matanya pun turun dengan deras. Aku yakin, Satoshi tahu kalau itu bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata keharuan karena saat itu Mayaka mengenggam tangan Satoshi dari samping. Ia tampak membisikkan sesuatu hinggat Satoshi terkejut sedikit. Mayaka pun pergi dari tempat itu dengan wajah yang tak bisa aku baca. Sementara itu Satoshi berdiri mematung di sana sambil menatap bintang yang berkelip. Semua rahasianya kini sudah diketahui oleh milyaran bintang. Ia pasti malu.

Aku tersenyum kecil dari balik semak. Setelah itu aku menarik tangan Chitanda untuk segera pergi dari tempat itu.

Aku merasakan kehangatan yang menenangkan dari tangan Chitanda malam itu ketika kami berjalan berdampingan menuju hotel. Dengan tetap tanpa sadar aku menggenggam tangan miliknya, kami pun sampai di hotel dan menatap canggung setelah aku melepaskan pegangan tanganku.