Kata orang, sebuah perjalanan adalah salah satu cara bagimu untuk mengetahui sifat asli dari orang lain. Bukan hanya sifat saja tetapi juga bagaimana kau lebih dekat dan mengerti orang lain.
Mungkin itulah keajaiban dari sebuah perjalanan. Begitu banyak yang kau pelajari dari sana. Sama sepertiku yang baru mempelajarinya kemarin malam.
Bagaimana perjalanan membuat seseorang begitu berani dan lepas dari batas yang mereka buat sendiri. Itu yang kurasakan dari Mayaka malam itu. Ia akhirnya kembali berani menyatakan perasaannya walau hasilnya sama. Satoshi belum bisa menerima perasaan milik Mayaka.
Ya walaupun bukan itu saja sih kejadian unik yang kudapat. Setelah diam-diam aku dan Chitanda mengintip pernyataan cinta Mayaka. Kami berdua lari menuju hotel sambil mengenggam tangan masing-masing. Nafas kami memburu segera setelah berlari dari tempat bersembunyi. Aku ingat wajahku masih panas karena malam itu, maka ketika paginya dengan cepat dan tergesa-gesa setelah bangun, aku membasuh wajah dengan air dingin. Bermaksud untuk menghilangkan perasaan aneh yang sejak malam itu makin menjadi besarnya.
"Apa sebenarnya yang terjadi semalam?" aku mencoba menghilangkan dengan paksa perasaan itu. Namun yang terjadi malah terbalik. Semakin keras ku hilangkan perasaan itu, semakin menjadi pula itu datang.
Setelah menyerah, aku pun keluar dari kamar mandi. Di depanku sekarang, Satoshi dan 2 teman sekamar kami sudah bersiap-siap. Hari ini kami akan pulang. Tapi sebelum pulang, rombongan sekolah akan mengunjungi kuil di atas bukit belakang pantai. mereka bilang kuil itu berumur cukup tua. Kalau tidak salah sudah dibangun sejak seabad yang lalu.
Aku mengambil tas serta jaket yang sudah aku siapkan sebelum masuk kamar mandi tadi. Satoshi memanggilku, "Ayo, kita keluar! Habis ini ke kuil ya? Ah aku sangat menantikannya!"
"Yap, aku juga!" teriak salah satu temanku. Sedangkan yang satu lagi hanya mengangguk setuju.
Aku bergegas mengejar mereka yang sudah berada di pintu kamar hotel dan hendak mengunci pintunya.
Untuk Chitanda, semalam ada pengalaman yang tidak ia mengerti sama sekali. Perasaannya tiba-tiba muncul dengan sangat deras hingga ia terhanyut dan hilang di muara perasaan. Ia tak bisa menjelaskannya meski sudah berkali-kali terlintas dalam pikirannya.
Ini bukanlah yang pertama kali namun perasaan ini muncul lebih besar dibanding saat pertama kalinya ia datang. Jika ia mengingat lagi, perasaan ini selalu memenuhi hatinya. Ia adalah seseorang yang tak terlalu tahu soal masalah hati. Lebih aneh lagi, ia kadang tak tahu kapan harus marah dan senang.
Chitanda adalah gadis yang lugu. Ia belum terlalu mengenal dunia luar namun ia tahu, ketika suatu saat nanti, ia harus mengambil peran dalam kehidupan ini. Ia selalu berpikir ke depan dan tak melihat masa lalu sebagai sebuah masalah, masa lalu adalah sebuah pembelajaran baginya.
Namun, masa lalu, yang tak terlalu jauh itu. Ketika ia pertama kali merasakan hal ini. Tidak bisa ia ubah dengan mudah sebagai pembelajaran.
Ketika ia turun dari kamar hotel yang ada di lantai dua, sayup-sayup terdengar suara dari Satoshi. Chitanda menghentikan langkahnya sebentar. Ia agak canggung kalau nanti bertemu dengan Satoshi. Ia berbalik dan untuk sementara mengurungkan niatnya segera menuju bis yang sudah terparkir di halaman hotel. Tetapi, niatnya itu tidak terlaksana ketika, "Oi, Chii-chan, kita harus segera ke bis! Nanti bisa tertinggal!" Mayaka menarik Chitanda dengan kuat. Chitanda yang tak bisa berbuat banyak hanya meronta dan ikut saja dengan Mayaka.
"I-iya tapi tunggu dulu, Ibara-san," pintanya, suaranya agak tercekik karena Mayaka menarik Chitanda dengan kuat.
Ketika sampai di tempat parkir, sudah ada Satoshi dan Hotarou di sana. Satoshi tengah melambaikan tangannya sementara Hotarou berdiri tak peduli dan membuang tatapannya.
"Apa kejadian semalam mengganggunya?" Gumam Chitanda. Ia mengangkat telapak tangannya. Tangan ini semalam menggenggam tangan Oreki-san… wajahnya perlahan memerah tanpa sadar namun ia buru-buru menghilangkannya kembali ketika sampai di depan kedua orang yang menunggunya.
"Baik, kami siap. Bagi para laki-laki, bisa kalian mengangkat koper-koper kami?" Mayaka menyuruh mereka untuk mengangkat kopernya dan disambut dengan senyuman Satoshi.
"Baik, nona. Oh iya, nona yang satu lagi mau aku bawakan juga kopernya?" tawar Satoshi dengan nada menggoda.
"Tidak-tidak, terima kasih atas tawarannya. Aku bisa sendiri kok, Fukube-san."
Hotarou yang melihat itu segera berteriak pada Satoshi, "Oi, cepat masukkan kopernya. Kau terlalu mengulur waktu."
Satoshi segera menarik gagang koper itu dan menyeretnya menuju bagasi bis. Chitanda pun mengikuti dari belakang dengan wajah kewalahan. Hotarou yang melihat itu segera menuju ke arah Chitanda dan menarik kopernya. Chitanda yang bingung hanya terdiam ketika koper miliknya dibawa pergi oleh Hotarou.
Setelah kopernya dimasukkan. Bis pun berangkat menuju kuil yang berada di bukit belakang pantai. Dengan sinar matahari yang terik dan hembusan AC yang perlahan, perjalanan kami pun berlanjut.
Terik matahari musim panas di tengah siang bolong menyambut kami. Udara serta panasnya benar-benar membakar kulitku. Dengan langkah gontai, aku segera menuju bangku sekitar di bawah pohon dan duduk di sana. Mayaka, Satoshi dan Chitanda tampak tengah mendiskusikan sesuatu dari kejauhan.
"Aku harap mereka tidak ke sini," gumamku penuh harap. Tampaknya doaku tidak dikabulkan saat ini. Beberapa menit setelah itu mereka bertiga mendatangiku dan segera saja menarikku untuk mengikuti mereka entah ke mana.
Aku diseret menuju tempat di bawah rimbunan pohon oak yang tumbuh di samping kanan dan kiri jalanan. Menutupi panasnya matahari serta membuat suasana sekitar menjadi teduh. Aku mengamati sekeliling. Burung-burung di atas pohon tengah berkicau dengan riang di sana seakan menyambut kami yang baru datang.
Pada akhirnya kami pun sampai di sebuah tebing yang dibatasi oleh pagar berwarna merah. Pemandangan dari atas sini sangatlah luar biasa. Di kejauhan aku bisa melihat rimbunan pohon hijau, rumah-rumah masyarakat yang tertata mengikuti alur jalan, lautan luas berwarna biru yang berkilapan terkena sinar matahari dan horizon biru langit yang terbentang luas di ujung lautan itu. Mataku cukup terbelalak dengan pemandangan yang sangat jarang aku lihat itu. Sementara Mayaka dan Chitanda tersenyum juga melihat pemandangan tersebut. Satoshi yang tidak ada di antara kami ternyata tengah menyiapkan kameranya untuk memotret diri kami berempat. Ia pun segera berlari dan berteriak.
"Hei kalian! Ayo bersiap! Kita akan memulai sesi foto untuk klub kita."
Ia berlari dan menabrakku serta memutar tubuhku untuk menghadap ke kamera. Chitanda dan Mayaka pun segera berpose. Mayaka tersenyum nakal ke kamera dengan tangan kanan miliknya ia tangguhkan di dagu. Chitanda tersenyum, kedua tangannya ia lipat di depan dada. Satoshi mengedipkan satu matanya dan taangan kirinya ia kalungkan di bahuku. Sedangkan aku hanya menatap lurus ke depan tanpa membuat pose apapun.
Bunyi kamera pun terdengar. Kamera mulai memotret kami.
Setelah bunyi itu hilang Mayaka dan Satoshi segera mengambil kamera itu dan melihat bagaimana hasilnya. Aku dan Chitanda tetap di tempat dan melihat mereka saja.
"Tampaknya mereka tetap akur yang walau kejadian semalam itu," Chitanda bergumam hingga bisa aku dengar.
"Ya," aku menjawab pendek.
"Hmm, Oreki-san. Maaf soal semalam itu."
"Soal semalam?" aku bingung menanggapinya.
"Soal aku memaksamu untuk mencari Mayaka."
"Ah soal itu? Tidak apa-apa. Aku juga penasaran ke mana perginya Manaka. Jadi, ini bukan seratus persen karenamu juga."
Setelah itu ada jeda di antara kami. Sunyi, namun suara angin berdesir di antara rimbun dedaunan mengisi hati kami. Chitanda lalu berkata lirih.
".. dan juga soal aku menarik tanganku dengan cepat ketika kita bergandengan tangan. Aku.. aku hanya tak mengerti dengan perasaan dan respon yang harus kubuat saat itu," Kata Chitanda dengan wajah memerah dan tertunduk. Tentu saja aku sebagai laki-laki terkena imbas raut wajahnya itu. Aku segera memalingkan wajahku agar tak terlihat ikut memerah.
"Ah tidak apa-apa, aku juga sama sepertimu kok."
