Rain and Confusion

Gemericik air hujan yang menyentuh tanah membuatku terus memejamkan mata. Aku menarik nafas panjang dan meneguk perlahan kopi hangat pagi ini. Setelah melalui field trip selama 3 hari di pantai dan kurang waktu istirahat, akhirnya aku bisa mendapatkannya kembali. Cukup adil untuk mengisi energiku kembali.

Ya perjalanan yang melelahkan, namun aku mendapat sesuatu dari perjalanan itu. Sebuah kenangan yang mungkin tak akan kulupakan, meski aku harap kenangan perjalanan itu tidak pernah ada.

"Waktu itu, mengapa kami berdua tersipu ya?" gumamku sambil duduk meringkuk di atas sofa. Suara dari TV pagi ini menemaniku dengan acara ramalan cuaca. Hari ini akan hujan seharian ya, tambahku.

"Kalau dipikir-pikir lagi mungkin karena aku spontan saja menarik tangannya. Aku tak pernah berpikir hal itu bisa membuat kami tersipu juga sih. Tampaknya aku sudah mulai peduli terhadap orang lain ya."

Aku kembali meneguk kopi itu. Aromanya segera menelusuk ke saluran pernapasanku. Membuat seluruh tubuh ini rileks secara perlahan. Aku harus berterima kasih kepada Kak Tomoe, kopi ini cukup hangat dan menyenangkan. Aku harap hari ini tidak ada hal yang akan menggangguku.

"Tidak… pasti gadis itu akan mengganggu hari tenangku saat ini."

Kalian pasti tahu siapa yang kumaksud. Gadis berambut hitam panjang dengan wajahnya yang cukup lucu dan mata ungu besarnya yang mampu memanipulasi kalian. Chitanda Eru. Gadis yang membuatku tersipu siang itu.

"Andai saja aku tahu kenapa.. aduh! Sial kopinya panas!" umpatku sambil meringis kesakitan.

"Hujan ya? Aku jadi tidak bisa ke luar," gumam Eru dalam hati. Hari ini harusnya ia berada di kuil untuk membantu di sana tapi kalau hujan begini, apa boleh buat, sepertinya Dewa menyuruhnya untuk tinggal di rumah.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, di ruang tamu yang luas dan sepi ini ia merasa kesepian. Rumahnya sangat besar dan yang tinggal di sini tidak lebih dari 7 orang, bagaimana tidak terasa sepi. Ia mengambil keripik kentang dari piring di meja dan memakannya dengan perlahan.

"Hmm enak juga ya. Tehnya mana tehnya," Eru segera mengambil cangkir teh dan menuangkan cairan peka coklat itu ke dalam cangkirnya. Aroma teh perlahan memenuhi udara ruang tamu dan membuat suasana yang ia inginkan akhirnya tercipta sebuah kedamaian. Ia meneguk pelan tehnya sambil menikmati rasa manis dan sepat yang beradu di lidahnya.

"Ngomong-ngomong soal teh. Saat fieldtrip, Oreki-san membelikanku sebotol teh ya. Aku lupa membayar untuk teh itu. Nanti saat bertemu dengannya aku harus membayarnya deh… eh tapi ia bilang kalau tidak usah dibayar. Kenapa ya kira-kira?" wajahnya penuh tanda tanya. Eru terlihat berpikir.

Apa itu sebagai tanda pertemanan ya? Hmm aku agak kikuk soal ini sih, jadi tidak bisa menerjemahkannya deh.

Ia pun terdiam. Suara rintik air hujan berubah menjadi merdu dan membuat Eru segera ke luar dari ruang tamu lalu duduk di pinggir taman. Ia menggerakkan kakinya bergantian. Ia masih terlihat berpikir.

"Tiba-tiba aku jadi ingat saat malam itu bersama Oreki-san. Malam itu kenapa wajahku merasa panas ya? Tidak beres. Apa aku sakit waktu itu? Ah tidak sepertinya. Suhu tubuhku normal kok. Lantas… kenapa wajahku serasa dibakar ya… eh tidak lebih halus dari itu, wajahku hanya merasa tambah hangat saja seperti ketika duduk di pinggir perapian begitu."

Eru mengernyitkan kedua alisnya. Ia masih terus berpikir kira-kira karena apa wajahnya terasa hangat begitu.

"Kalau tidak sadar wajahku menghangat setelah menyadari kalau kami bergandengan tangan ya. Kira-kira karena apa ya?" ia semakin bingung.

Eru segera masuk ke dalam ruang tamu. Mengangkat gagang telepon dan menekan tombol nomor rumah Mayaka. Ia sudah menulis nomor ketiga temannya itu. Satoshi, Mayaka, dan Houtarou. Nada sambung pun segera berbunyi. Hingga dari seberang terdengar suara khas remaja putri.

"Halo, ini kediaman Ibara. Dengan siapa aku berbicara?"

"Ano.. halo, aku Chitanda Eru, bisa bicara dengan Mayaka Ibara-san?"

"Eh Chii-chan. Ini aku Mayaka. Ada apa? Jarang-jarang lho kau menelponku?" tanya Ibara dari balik telepon. Ia lalu meneguk susu coklat panas dari mug miliknya.

"Unn.. aku mau tanya sesuatu sebenarnya. Ibara-san ada waktu tidak?"

"Ada kok. Aku luang saat ini. Ada apa? Kau mau tanya apa?" Mayaka segera mengambil kursi yang berada di sebelah meja telpon dan duduk di sana sambil meringkukkan kedua lututnya.

"Jadi begini, tempo hari lalu, aku merasakan sesuatu yang hangat dari wajahku saat bersama Oreki-san. Aku sampai sekarang tidak tahu apa itu. Mungkin kalau aku bertanya padamu, ada jawabannya," kata Eru dengan agak gugup. Ia meraih cangkir tehnya dan meneguk pelan teh tersebut.

"Merasa hangat bagaimana?"

"Hangat begitu aja sih. Aku kurang bisa menjelaskannya juga…"

Mayaka terdiam sebentar, lalu bertanya,"Apa ketika dekat Oreki akhir-akhir ini kau merasa deg-degan begitu?"

Eru terdiam sebentar. Ia menggenggam erat cangkir tehnya dan terlihat berpikir. Apa aku merasa deg-degan ketika bersama Oreki-san? Ah mungkin sih. Beberapa waktu ini aku sering begitu. Apalagi setelah kejadian festival boneka itu.

"Hmm iya, akhir-akhir ini aku merasa begitu, kenapa ya?"

Mayaka menghela nafas, "Berarti hanya ada satu kemungkinan kalau kau begitu bukan?"

Eru terlihat bersemangat, "Kemungkinannya apa? Aku penasaran!"

Ada jeda beberapa detik sebelum Mayaka menjawab Eru. Ia meneguk coklat panas miliknya lalu menjawab. "Mungkin kau suka dengan Oreki, sepertinya."

Eru agak bingung,"Suka? Maksudmu suka yang seperti apa, Ibara-san?"

"Maksudku menyukai Oreki. Kau memandangnya sebagai seorang laki-laki, dan kau sebagai perempuan. Artinya itu kau ada perasaan dengannya mungkin. Karena tidak mugkin kalau seorang perempuan tidak akan deg-degan ketika bersama dengan orang yang ia sukai. Menurutku sih begitu."

Eru menjawab dari saluran telponnya, "Kalau begitu, kau juga deg-degan ketika bersama satoshi-san?"

Terdengar suara gemuruh dari balik telpon,"Mu-mungkin, a-aku juga kura- eh tidak. Aku juga merasa deg-degan ketika dekat dengan Satoshi. Kalau aku sih memang menyukainya sejak SMP."

Eru terdiam, ia agak bingung dengan perkataan Mayaka dari telpon. "Jadi, maksudmu perasaanku kepada Oreki-san sama dengan perasaanmu kepada Satoshi-san, begitu?"

"Begitulah."

Eru terdiam. Sejak kapan ia menyukai Houtarou?

"Terima kasih, Ibara-san. Telah menjawab telpon dariku, kalau begitu aku permisi dulu," Eru segera menutup telponnya. Mayaka yang berada di rumahnya seketika terdiam dan tertawa lirih.

"Tak kusangka, si Oreki yang bodoh itu bisa ada yang menyukai ya," ia tertawa beberapa detik lalu diam dan tersenyum. Ia segera meninggalkan tempat telpo dan kembali ke ruang tamu untuk menonton acara kesukaannya.